KONSEP DASAR
PARIWISATA
Konsep Dasar dan Asal Kata Pariwisata
Pengertian pariwisata telah lama menjadi perhatian
banyak kalangan, baik dari pakar ekonomi, politik,
administrasi negara ataupun sosiologi. Sampai saat ini,
belum ada kesepakatan secara akademis mengenai apa
itu pariwisata. Namun secara etimologi, kata pariwisata
berasal dari Bahasa Sansekerta yang terdiri atas dua
kata yaitu “pari” dan “wisata”. Pari berarti “banyak” atau
“berkeliling”, sedangkan wisata berarti “pergi” atau
2
“bepergian”. Atas dasar itu, maka kata pariwisata
seharusnya diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan
berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat ke
tempat lain.
Dalam Bahasa Inggris, istilah pariwisata identik dengan
kata “tour”, sedangkan untuk pengertian jamak atau
kata “kepariwisataan” menggunakan kata “tourisme”
atau “tourism” (Yoeti, 1996). Adapun istilah pariwisata
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan
sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan
perjalanan rekreasi. Namun, pada tahun 1959 istilah
pariwisata pertama kali digunakan dalam Musyawarah
Nasional Turisme II di Tretes, Jawa Timur. Istilah itu
kemudian digunakan sebagai pengganti kata Turisme
sebelum kata pariwisata diambil dari Bahasa
Sansekerta.
Pengertian Kegiatan Wisata (Tour)
Kegiatan wisata merupakan suatu kegiatan perjalanan
baik individu maupun grup dari tempat tinggal menuju
3
suatu tempat tertentu untuk mendapatkan pengalaman
di luar aktivitas keseharian dalam waktu yang
sementara. Dari pengertian wisata, terlihat beberapa
komponen penting yang menjadikan proses tersebut
terjadi, yakni komponen: tempat tinggal, perjalanan,
pelaku perjalanan wisata dan tempat tujuan.
Kegiatan wisata umumnya dilakukan bukan di rumah
atau di kediaman si pelaku kegiatan, melainkan di suatu
tempat tujuan tertentu, sehingga kegiatan tersebut
memerlukan proses perjalanan, baik menggunakan
media transportasi darat, laut, udara maupun tidak.
Oleh karena itu, terdapat keterkaitan antara kegiatan
wisata dengan kegiatan perjalanan, yakni kegiatan
wisata termasuk dalam kegiatan perjalanan, tetapi tidak
semua kegiatan perjalanan merupakan kegiatan wisata.
Kalau dilihat dari sisi ekonomi, kegiatan wisata
merupakan kegiatan proses konsumsi terhadap suatu
produk yang dilakukan oleh pelaku wisata dimulai dari
tempat tinggalnya, diperjalanan dan di tempat
tujuannya. Produk yang dikonsumsi tersebut
4
merupakan suatu pengalaman total yang diperoleh oleh
pelaku perjalanan wisata dalam proses konsumsinya
tersebut. Sementara itu, pengalaman berwisata dapat
dibagi menjadi dua yaitu pengalaman yang bersifat
explisit dan pengalaman yang bersifat implisit.
a. Pengalaman eksplisit:
Pengalaman yang diperoleh oleh pelaku wisata dari
sensoriknya atau dari proses penginderaannya
seperti yang terlihat oleh mata, terdengar oleh
telinga, tercium oleh hidung yang terasa oleh lidah
dan badan.
b. Pengalaman implisit:
Pengalaman yang diperoleh oleh pelaku wisata dari
psikisnya, seperti yang terekam oleh otaknya
(kognitif), yang terasa oleh perasaannya (afektif)
atau hasil dari proses keduanya yang dapat
mengakibatkan kecenderungan bertindak atau
berperilaku (psikomotor).
5
Sementara itu, terdapat tiga komponen penting yang
membuat proses konsumsi terhadap suatu pengalaman
berwisata itu terjadi, yaitu:
a. Daya tarik wisata:
Segala sesuatu yang menarik dan menghasilkan
pengalaman kepada pelaku perjalanan wisata, baik
secara pasif maupun aktif, contoh: keindahan pantai,
suasana pegunungan, gerhana, pentas
seni, event olahraga, karnaval, menunggangi kuda,
mendaki gunung, berselancar, bercengkrama dengan
warga , dll.
b. Sarana penunjang wisata:
Segala sesuatu yang dapat memfasilitasi kegiatan
wisata baik yang dapat diindera (tangible) maupun
yang tidak dapat diindera (intangible), contoh: jasa
transportasi, akomodasi, makan-minum, toilet,
pramuwisata (guide), informasi dll.
c. Infrastruktur/prasarana:
Segala sesuatu yang merupakan penunjang utama
terselenggaranya proses kegiatan wisata dan
6
kegiatan non wisata, contoh: jaringan jalan, bandara,
terminal, pelabuhan, air bersih, listrik,
telekomunikasi, dll.
Pengertian Pariwisata (Tours)
Pariwisata adalah perjalanan wisata yang dilakukan
secara berkali-kali atau berkeliling-keliling, baik secara
terencana maupun tidak terencana yang dapat
menghasilkan pengalaman total bagi pelakunya. Dari
pengertian tersebut terlihat bahwa kegiatan wisata
merupakan bagian dari kegiatan pariwisata, karena
kegiatan pariwisata merupakan kegiatan jamak dari
kegiatan wisata itu sendiri.
Pengertian Kepariwisataan (Tourism)
Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang terkait
dengan kegiatan pariwisata beserta dampaknya yang
terjadi, karena adanya kontak/interaksi antara pelaku
perjalanan wisata dengan daya tarik wisata, sarana
penunjang wisata, dan infrastruktur/prasarana yang
7
disediakan oleh warga , swasta, dan pemerintah,
dimulai dari tempat tinggal, pada saat di perjalanan, di
tempat tujuan, sampai kembali lagi ke tempat
tinggalnya.
Dengan demikian, kepariwisataan adalah suatu gejala
yang terjadi karena diakibatkan oleh pergerakan
manusia dari tempat tinggalnya untuk melakukan suatu
kegiatan wisata, baik liburan atau bisnis sampai ia
kembali ke tempat tinggal semula. Gejala tersebut
membentuk suatu sistem kompleks yang di dalamnya
terdapat komponen serta elemen yang saling terkait.
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
PARIWISATA DUNIA
Menurut beberapa ahli, pariwisata telah dimulai sejak
dimulainya peradaban manusia itu sendiri dengan
ditandai oleh adanya pergerakan penduduk yang
melakukan ziarah dan perjalanan agama lainnya. Selain
itu, perjalanan awal juga digerakkan oleh perasaan
lapar, haus, perasaan ingin tahu, perasaan takut, gila
kehormatan dan kekuasaan. World Tourism
Organization (WTO), secara sepintas membagi
perkembangan atau sejarah pariwisata ini ke dalam tiga
10
jaman, yakni: jaman kuno, jaman pertengahan, dan
jaman modern.
Perkembangan Pariwisata di Jaman Kuno
Secara umum, kepariwisataan pada jaman kuno,
ditandai oleh motif perjalanan masih terbatas dan
sederhana yang meliputi: adanya dorongan karena
kebutuhan praktis dalam bidang politik dan
perdagangan; dambaan ingin mengetahui adat istiadat
dan kebiasaan orang lain; dorongan yang berhubungan
dengan keagamaan, seperti melakukan ziarah dan
mengunjungi tempat-tempat ibadah.
Sarana dan fasilitas yang digunakan selama perjalanan
pada zaman kuno juga masih sederhana, yakni
menggunakan alat angkut kuda, onta, atau perahu-
perahu kecil yang menyusuri pantai. Akan tetapi,
perjalanan dengan jalan kaki untuk menempuh jarak
berpuluh-puluh atau beratus-ratus kilometer paling
banyak dilakukan. Contoh perjalanan pada jaman kuno:
seperti yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Arab
11
ke Cina untuk membeli barang berharga, pedagang
Yunani ke Laut Hitam, pedagang Vinisia ke Afrika.
Perjalanan kaum buddhis Cina ke India, kaum muslimin
yang melakukan ibadah haji ke Mekkah atau kaum
Nasrani ke Yerusalem.
Badan atau organisasi yang mengatur jasa-jasa
perjalanan pada jaman ini belum ada. Pengaturan
perjalanan ditentukan secara individu, baik oleh
perorangan atau group. Akomodasi yang digunakan
masih sederhana. Para pelancong membangun tenda-
tenda sendiri atau tinggal di rumah saudagar, pemuka
warga , pemuka agama atau tempat-tempat
beribadah, seperti mesjid dan gereja. Akomodasi yang
dikelola secara komersil pada jaman ini belum ada.
Perkembangan Pariwisata di Jaman Pertengahan
Motivasi dan motif perjalanan pada abad pertengahan
lebih luas dari motivasi dan motif perjalanan pada jaman
kuno. Di samping motif perjalanan untuk keperluan
perdagangan, keagamaan dan dambaan ingin tahu,
12
pada jaman ini telah berkembang motif untuk tujuan
yang berhubungan dengan kepentingan negara dan
motif untuk menambah pengetahuan. Para pedagang
tidak lagi melakukan pertukaran secara barter. Para
pedagang cukup dengan membawa contoh barang yang
ditawarkan melalui pekan-pekan raya perdagangan.
Seperti di St. Denis, Champagne atau Aix-la-Cappalle.
Guna menjaga hubungan antar negara, baik negara
penjajah maupun yang dijajah atau antar negara
merdeka, dilakukan saling kunjungan petugas-petugas
negara.
Pada jaman abad pertengahan telah ada perguruan-
perguruan tinggi seperti Al Azhar di Kairo, di Paris,
Roma, Salamanca, dan sebagainya. Para mahasiswa dari
berbagai negara melakukan kunjungan ke universitas-
universitas ini untuk menambah atau memperdalam
pengetahuan. Dengan semakin banyaknya yang
melakukan perjalanan antar negara, berbagai negara
mulai mengeluarkan peraturan-peraturan guna
13
melindungi kepentingan negara, penduduknya serta
kepentingan para wisatawan.
Pada masa ini, akomodasi yang bersifat komersil mulai
bermunculan walaupun masih sederhana. Demikian
pula restoran-restoran yang menyediakan makanan
untuk keperluan para pelancong. Alat angkut tidak
hanya dengan menunggang kuda, keledai atau onta,
tetapi telah meningkat dengan menambah kereta yang
ditarik kuda atau keledai. Angkutan laut telah
menggunakan kapal-kapal yang lebih besar.
Perkembangan Pariwisata di Jaman Modern
Perkembangan pariwisata pada jaman modern, ditandai
dengan semakin beraneka ragam motif dan keinginan
wisatawan yang harus dipenuhi akibat meningkatnya
budaya; mulai muncul formalitas atau keharusan para
pelancong untuk membawa identitas diri bila
mengunjungi suatu negara mulai diterapkan; di tempat
penginapan yang dikelola secara komersil tumbuh
dengan subur dan fasilitas yang digunakan semakin
14
lengkap; timbulnya revolusi industri di negara-negara
Barat telah menciptakan alat angkut yang sangat
penting dalam perkembangan pariwisata, yakni
ditemukan mesin uap, angkutan kereta api dan kapal
uap, dan menggantikan alat angkut yang menggunakan
binatang; ditemukan alat angkut yang menggunakan
mesin motor, yang jauh lebih cepat dan fleksibel dalam
angkutan melalui darat; digunakannya angkutan udara
yang dapat menempuh jarak jauh dalam waktu yang
lebih cepat; dan sejak permulaan abad modern, ditandai
pula oleh adanya badan atau organisasi yang menyusun
dan mengatur perjalanan.
Sebagai fenomena modern, tonggak-tonggak
bersejarah dalam perjalanan wisata juga dapat ditelusuri
dari perjalanan Marcopolo pada tahun 1254-1324 yang
menjelajahi Eropa sampai Tiongkok dan kembali ke
Venesia. Perjalanan tersebut kemudian disusul
perjalanan Pangeran Henry (1394-1460), Cristophe
Columbus (1451-1506) dan Vasco da Gama (akhir abad
XV). Namun sebagai kegiatan ekonomi pariwisata, baru
15
berkembang pada awal abad XIX dan sebagai industri
internasional pariwisata dimulai tahun 1865 (Crick, 1989;
dan Graburn dan Jafari 1991).
Dewasa ini pariwisata telah menjadi salah satu industri
andalan dalam menghasilkan devisa di berbagai negara
di dunia. Dengan pentingnya peranan pariwisata dalam
pembangunan ekonomi di berbagai negara, pariwisata
sering disebut sebagai “passport to development”, “new
kind of sugar”, tool for regional development, ”invisible
export”, non-polluting industry” dan sebagainya
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
PARIWISATA INDONESA
Dalam sejarah nusantara, diketahui bahwa kebiasaan
mengadakan perjalanan telah dijumpai sejak lama.
Dalam buku Nagara Kartagama, pada abad XIV, Raja
Hayam Wuruk dilaporkan telah mengelilingi Majapahit
dengan diikuti oleh para pejabat negara. Ia menjelajahi
daerah Jawa Timur dengan mengendarai pedati. Pada
awal abad XX, Susuhunan Pakubuwono X dikenal
sebagai raja yang sangat suka mengadakan perjalanan.
18
Hampir setiap tahun beliau mengadakan perjalanan ke
Jawa Tengah sambil memberikan hadiah berupa uang.
Dalam tradisi Kerajaan Mataram, raja atau penguasa
daerah harus melakukan unjuk kesetiaan pada keraton
dua kali setiap tahunnya, sambil membawa para
pejabat, pekerja yang mengangkut logistik dan barang
persembahan untuk raja. Dari sinilah, pariwisata
Indonesia terus berkembang sesuai dengan keadaan
politik, sosial, dan budaya warga . Kemajuan
pariwisata Indonesia tidak terlepas dari usaha yang
dirintis sejak beberapa dekade yang lalu. Menurut Yoeti
(1996), berdasarkan kurun waktu perkembangan,
sejarah pariwisata Indonesia dapat dibagi menjadi tiga
periode penting yaitu: periode penjajahan Belanda,
pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka.
Pariwisata Indonesia Masa Penjajahan Belanda
Kegiatan kepariwisataan dimulai dengan penjelajahan
yang dilakukan pejabat pemerintah, missionaris atau
orang swasta yang akan membuka usaha perkebunan di
19
daerah pedalaman. Para pejabat Belanda yang dikenai
kewajiban untuk menulis laporan pada setiap akhir
perjalanan. Pada laporan itu terdapat keterangan
mengenai peninggalan purbakala, keindahan alam, seni
budaya warga . Pada awal abad ke-19, daerah
Hindia Belanda mulai berkembang menjadi daerah yang
mempunyai daya tarik luar biasa bagi para pengadu
nasib dari negara Belanda.
Mereka berkelana ke nusantara, membuka lahan
perkebunan dalam skala kecil. Perjalanan dari satu
daerah ke daerah lain, dari nusantara ke negara Eropa
menjadi hal yang lumrah, sehingga dibangunlah sarana
dan prasarana yang menjadi penunjang kegiatan
tersebut. Kegiatan kepariwisataan masa penjajahan
Belanda dimulai secara resmi sejak tahun 1910-1912
setelah keluarnya keputusan gubernur jenderal atas
pembentukan Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV)
yang merupakan suatu biro wisata atau tourist bureau
pada masa itu. Saat itu kantor tersebut digunakan pula
oleh maskapai penerbangan swasta Belanda KNILM
20
(Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtfahrt
Maatschapijj). yang memegang monopoli di kawasan
Hindia Belanda.
Pesatnya aktifitas perdagangan Eropa, Asia dan
Indonesia, dapat meningkatkan lalu lintas perjalanan
untuk berbagai kepentingan masing-masing. Guna
memberikan pelayanan yang lebih baik, maka didirikan
suatu cabang Travel Agent di Jalan Majapahit No. 2
Jakarta pada 1926 dengan nama Lissone Lindeman
(LISLIND) yang berpusat di Belanda. Sekarang tempat
tersebut digunakan oleh PT. NITOUR. Tahun 1928
Lislind berganti menjadi NITOUR (Nederlandsche
IndischeTouristen Bureau) yang merupakan bagian dari
KNILM.
Saat itu kegiatan pariwisata lebih banyak didominasi
oleh orang kulit putih, sedangkan bangsa pribumi
sangat sedikit bahkan dapat dikatakan tidak ada.
Perusahaan perjalanan wisata saat itu tidak
berkembang karena NITOUR dan KNILM memegang
monopoli. Pertumbuhan hotel di Indonesia
21
sesungguhnya mulai dikenal pada abad ke-19. Meskipun
terbatas pada beberapa kota seperti di Batavia; Hotel
Des Indes, Hotel der Nederlanden, Hotel Royal, dan
Hotel Rijswijk. Di Surabaya berdiri pula Hotel Sarkies,
Hotel Oranye, di Semarang didirikan Hotel Du pavillion,
kemudian di Medan Hotel de Boer, dan Hotel Astoria, di
Makassar Hotel Grand dan Hotel Staat. Fungsi hotel saat
itu lebih banyak digunakan untuk tamu-tamu dari
penumpang kapal laut dari Eropa. Mengingat belum
adanya kendaraan bermotor untuk membawa tamu-
tamu tersebut dari pelabuhan ke hotel dan sebaliknya,
maka digunakan kereta kuda serupa cikar.
Memasuki abad ke-20, mulailah perkembangan usaha
akomodasi hotel ke kota lainnya seperti Palace Hotel di
Malang, Stier Hotel di Solo, Hotel Van Hangel, Preanger
dan Homann di Bandung, Grand Hotel di Yogyakarta,
Hotel Salak di Bogor. Setelah kendaraan bermotor
digunakan dan jalan raya sudah berkembang, muncul
pula hotel baru di kota lainnya seperti: Hotel Merdeka di
Bukittinggi, Hotel Grand Hotel Lembang di luar kota
22
Bandung, kemudian berdiri pula di Dieng, Lumajang,
Kopeng, Tawang Mangu, Prapat, Malino, Garut,
Sukabumi, disusul oleh kota-kota lainnya.
Pariwisata Indonesia Masa Pendudukan Jepang
Berkobarnya Perang Dunia II yang disusul dengan
pendudukan Jepang ke Indonesia menyebabkan
keadaan pariwisata sangat terlantar. Saat itu dapat
dikatakan sebagai masa kelabu bagi dunia
kepariwisataan Indonesia, karena semuanya porak
poranda. Kesempatan dan keadaan yang tidak menentu
serta keadaan ekonomi yang sangat sulit, kelangkaan
pangan, papan dan sandang, maka tidak
memungkinkan orang untuk berwisata.
Kunjungan wisatawan mancanegara pada masa Jepang
dapat dikatakan tidak ada. Dalam sejarah perjalanan
bangsa Indonesia, masa pendudukan Jepang tercatat
sebagai masa yang pedih dan sulit. Ketakutan,
kegelisahan merajalela, paceklik, perampasan harta
oleh tentara Jepang membuat dunia kepariwisataan
23
nusantara mati. Banyak sarana dan prasarana publik
dijadikan sarana untuk menghalangi masuknya musuh
dalam suatu wilayah. Obyek wisata terbengkalai dan
tidak terurus. Banyak hotel yang diambil alih oleh
Jepang dan diubah fungsi untuk keperluan rumah sakit.
Asrama dan hotel-hotel yang lebih bagus disita untuk
ditempati para perwira Jepang. Data dan informasi
pariwisata dalam masa pendudukan Jepang dapat
dikatakan tidak tersedia.
Pariwisata Indonesia Setelah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka, dunia kepariwisataan
Indonesia mulai merangkak lagi. Menjelang akhir tahun
1946, Bupati Kepala Daerah Wonosobo, mempunyai
inisiatif untuk mengorganisasikan kegiatan perhotelan
di Indonesia dengan menugaskan tiga orang pajabat
setempat, yakni W. Soetanto, Djasman Sastro Hoetomo
dan R. Alwan. Dari mereka kemudian lahir Badan Pusat
Hotel Negara yang merupakan organisasi perhotelan
pertama di Indonesia. Pada tanggal 1 Juli 1947,
24
pemerintah Indonesia mulai menghidupkan kembali
industri-industri di seluruh wilayah Indonesia, salah satu
di dalamnya ada pariwisata.
Sektor pariwisata mulai menunjukkan geliatnya. Hal ini
ditandai dengan Surat Keputusan Wakil Presiden
sebagai Ketua Panitia Pemikir Siasat Ekonomi di
Jogjakarta untuk mendirikan suatu badan yang
mengelola hotel-hotel yang sebelumnya dikuasai
pemerintah kolonial. Badan yang baru dibentuk itu
bernama HONET (Hotel National & Tourism) yang
diketuai oleh R Tjipto Ruslan. Badan tersebut kemudian
mengambil alih hotel-hotel yang terdapat di
Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Cirebon, Sukabumi,
Malang, Sarangan, Purwokerto dan Pekalongan.
Haotel-hotel tersebut diberi nama Hotel Merdeka.
Karena alasan KMB (Konferensi Meja Bundar) pada
tahun 1949, seluruh harta kekayaan milik Belanda harus
dikembalikan kepada pemiliknya. Oleh karena itu
HONET dibubarkan dan selanjutnya berdiri badan
hukum NV HORNET yang merupakan badan satu-
25
satunya yang menjalankan aktivitas di bidang
perhotelan dan pariwisata. Tahun 1952 dengan
Keputusan Presiden Republik Indonesia, dibentuk
Panitia Inter Departemental Urusan Turisme yang
diketuai oleh Nazir St. Tugas panitia tersebut antara lain
menjajagi kemungkinan terbukanya kembali Indonesia
sebagai daerah tujuan wisata.
Pada tahun 1953 beberapa tokoh perhotelan mendirikan
Serikat Gabungan Hotel dan Tourisme Indonesia
(SERGAHTI) yang diketuai oleh A Tambayong, pemilik
Hotel Orient yang berkedudukan di Bandung. Badan
tersebut dibantu oleh S. Saelan (pemilik Hotel Cipayung
di Bogor), dan M Sungkar Alurmei (Direktur Hotel
Pavilion/Majapahit di Jakarta). Dari mereka kemudian
mendirikan cabang dan menetapkan komisaris di
masing-masing daerah di wilayah Indonesia.
Keanggotaan SERGAHTI pada saat itu mencakup
seluruh hotel di Indonesia. Pada tahun 1955 juga berdiri
Yayasan Tourisme Indonesia atau YTI yang nantinya
akan menjadi DEPARI, Dewan Pariwisata Indonesia
26
yang menjadi cikal bakal Departemen Pariwisata dan
Budaya saat ini.
JENIS-JENIS PARIWISATA
Menurut Pendit (1994) terdapat jenis pariwisata yang
telah dikembangkan di dunia dan Indonesia, namun ia
membagi jenis wisata ke dalam 7 bagian yang terperinci,
yakni:
Wisata Budaya
Wisata budaya merupakan perjalanan yang dilakukan
atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan
hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan
atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri,
28
mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat
mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka.
Wisata Maritim atau Bahari
Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah
raga di air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut
seperti memancing, berlayar, dan menyelam. Mereka
juga biasanya sambil melakukan pemotretan, kompetisi
berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman
laut dengan pemandangan indah di bawah permukaan
air. Wisata biasanya juga berupa rekreasi perairan yang
banyak dilakukan di daerah atau negara-negara
maritim.
Wisata Cagar Alam
Wisata jenis ini biasanya banyak diselenggarakan oleh
agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-
usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau
daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah
pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya
29
dilindungi oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini
banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta
alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret
binatang atau marga satwa serta pepohonan atau bunga
beraneka warna yang memang mendapat perlindungan
dari pemerintah dan warga .
Wisata Pertanian (Agrowisata)
Sebagai halnya wista industri, wisata pertanian ini
adalah pengorganisasiaa perjalanan yang dilakukan ke
proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang
pembibitan dan sebagainya. Wisatawan biasanya dapat
mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan
studi maupun hanya melihat-lihat sambil menikmati
segarnya tanaman yang beraneka warna dan suburnya
pembibitan sayur-sayuran dan palawija di sekitar
perkebunan yang dikunjungi.
30
Wisata Konvensi
Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata
konvensi dengan menyediakan fasilitas bangunan
dengan ruangan-ruangan tempat bersidang bagi para
peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau
pertemuan lainnya, baik yang bersifat nasional maupun
internasional. Jerman Barat misalnya memiliki Pusat
Kongres Internasional (International Convention Center)
di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine
International Convention Center) di Manila dan
Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta
untuk tempat penyelenggaraan siding-sidang
pertemuan besar dengan perlengkapan modern.
Wisata Buru
Jenis ini banyak dilakukan di negara-negara yang
memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu
yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh
berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata jenis ini
diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan
31
yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang
bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk
berburu gajah, singa, ziraf dan sebagainya.
Wisata Ziarah
Wisata ini biasanya sangat terakait dengan kegiatan
keagamaan, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan
umat atau kelompok dalam warga . Kegiatan ini
banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke
tempat suci, ke makam orang besar atau pemimpin
yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap
keramat, dan ke tempat pemakaman tokoh sebagai
manusia ajaib penuh legenda.
DEFERENSIASI DAN PENGERTIAN
PARIWISATA DARI BERBAGAI ASPEK
Pariwisata Menurut Letak Geografis
o Pariwisata lokal
Jenis kepariwisataan yang ruang lingkupnya lebih
sempit dan terbatas dalam tempat-tempat tertentu
saja. Misalnya kepariwisataan kota Denpasar,
kepariwisataan kota Bandung.
o Pariwisata nasional
Jenis pariwisata yang dikembangkan dalam wilayah
suatu negara, dimana para pesertanya tidak saja
34
terdiri dari warganegaranya sendiri tetapi juga orang
asing yang terdiam di negara tersebut. Misalnya
kepariwisataan yang ada di daerah-daerah dalam
satu wilayah Indonesia.
o Pariwisata regional
Kegiatan kepariwisataan yang dikembangkan dalam
suatu wilayah tertentu, dapat regional dalam
lingkungan nasional dan dapat pula regional dalam
ruang lingkup internasional. Misalnya kepariwisataan
Bali, Yogyakarta, dan lain-lain.
o Pariwisata regional-internasional
Kegiatan kepariwisataan yang berkembang di suatu
wilayah internasional yang terbatas, tetapi melewati
batas-batas lebih dari dua atau tiga negara dalam
wilayah tersebut. Misalnya kepariwisataan ASEAN. 5
o Pariwisata internasional
Kegiatan kepariwisataan yang terdapat atau
dikembangkan di banyak negara di dunia.
35
Pariwisata Menurut Pengaruhnya terhadap neraca
pembayaran
o Pariwisata aktif (in bound tourism)
Kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala
masuknya wisatawan asing ke suatu negara tertentu.
Hal ini tentu akan mendapatkan masukan devisa bagi
negara yang dikunjungi dengan sendirinya akan
memperkuat posisi neraca pembayaran negara yang
dikunjungi wisatawan.
o Pariwisata pasif (out-going tourism)
Kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala
keluarnya warga negara sendiri bepergian ke luar
negeri sebagai wisatawan. Karena ditinjau dari segi
pemasukan devisa negara, kegiatan ini merugikan
negara asal wisatawan, karena uang yang
dibelanjakan itu terjadi di luar negeri.
36
Pariwisata Menurut alasan/tujuan perjalanan
o Business tourism
Jenis pariwisata dimana pengunjungnya datang
untuk tujuan dinas, usaha dagang atau yang
berhubungan dengan pekerjaannya, kongres,
seminar dan lain-lain
o Vacational tourism
Jenis pariwisata dimana orang-orang yang
melakukan perjalanan wisata terdiri dari orang-orang
yang sedang berlibur, cuti, dan lain-lain
o Educational tourism
Jenis pariwisata dimana pengunjung atau orang
melakukan perjalanan untuk tujuan belajar atau
mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan.
Contohnya: darmawisata (study tour).
o Familiarization tourism
Suatu perjalanan anjangsana yang dimaksudkan
guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang
mempunyai kaitan dengan pekerjaannya.
37
o Scientific tourism
Perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah
untuk memperoleh pengetahuan atau penyelidikan
terhadap sesuatu bidang ilmu pengetahuan.
o Special Mission tourism
Suatu perjalanan wisata yang dilakukan dengan suatu
maksud khusus, misalnya misi kesenian, misi olah
raga, maupun misi lainnya.
o Hunting tourism
Suatu kunjungan wisata yang dimaksudkan untuk
menyelenggarakan perburuan binatang yang
diijinkan oleh penguasa setempat sebagai hiburan
semata-mata.
Pariwisata Menurut Waktu Berkunjung
o Seasonal tourism
Jenis pariwisata yang kegiatannya berlangsung pada
musimmusim tertentu. Contoh: Summer tourism,
winter tourism, dan lain-lain.
38
o Occasional tourism
Jenis pariwisata dimana perjalanan wisatawan
dihubungkan dengan kejadian (occasion) maupun
suatu even. Misalnya Sekaten di Yogyakarta, Nyepi di
Bali, dan lain-lain.
DEFERENSIASI DAN PENGERTIAN
PARIWISATA DARI BERBAGAI ASPEK
Pariwisata Menurut Objeknya
o Cultural tourism
Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk
melakukan perjalanan disebabkan karena adanya
daya tarik dari seni dan budaya suatu tempat atau
daerah.
o Recuperational tourism
Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk
melakukan perjalanan adalah untuk menyembuhkan
40
penyakit, seperti mandi di sumber air panas, mandi
lumpur, dan lain-lain.
o Commercial tourism
Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk
melakukan perjalanan dikaitkan dengan kegiatan
perdagangan nasional dan internasional.
o Sport tourism
Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk
melakukan perjalanan adalah untuk melihat atau
menyaksikan suatu pesta olah raga di suatu tempat
atau negara tertentu.
o Political tourism
Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk
melakukan perjalanan tujuannya melihat atau
menyaksikan suatu peristiwa atau kejadian yang
berhubungan dengan kegiatan suatu negara.
Misalnya menyaksikan peringatan hari kemerdekaan
suatu Negara
41
o Social tourism
Jenis pariwisata dimana dari segi
penyelenggaraannya tidak menekankan untuk
mencari keuntungan, misalnya study tour, picnik, dan
lain-lain.
o Religion tourism
Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk
melakukan perjalanan tujuannya melihat atau
menyaksikan upacara-upacara keagamaan, seperti
upacara Bali Krama di Besakih, haji umroh bagi
agama Islam, dan lain-lain.
o Marine tourism
Kegiatan wisata yang ditunjang oleh sarana dan
prasarana untuk berenang, memancing, menyelam,
dan olah raga lainnya, termasuk sarana dan prasarana
akomodasi, makan dan minum.
42
Menurut jumlah orang yang melakukan perjalanan
o Individual tourism
Seorang wisatawan atau satu keluarga yang
melakukan perjalanan secara bersama.
o Family group tourism
Suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh
serombongan keluarga yang masih mempunyai
hubungan kekerabatan satu sama lain.
o Group tourism
Jenis pariwisata dimana yang melakukan perjalanan
wisata itu terdiri dari banyak orang yang bergabung
dalam satu rombongan yang biasa diorganisasi oleh
sekolah, organisasi, atau tour oprator/travel agent.
Pariwisata Menurut Alat Pengangkutan
o Land tourism
Jenis pariwisata yang dalam kegiatannya
menggunakan transportasi darat, seperti bus, taxi,
dan kereta api.
43
o Sea tourism
o Kegiatan kepariwisataan yang menggunakan
angkutan laut untuk mengunjungi suatu daerah
tujuan wisata.
o Air tourism
Jenis pariwisata yang menggunakan angkutan udara
dari dan ke daerah tujuan wisata.
Pariwisata Menurut Umur
o Youth tourism
Jenis pariwisata yang dikembangkan bagi para
remaja yang suka melakukan perjalanan wisata
dengan harga relatif murah.
o Adult tourism
Kegiatan pariwisata yang diikuti oleh orang-orang
yang berusia lanjut. Biasanya orang yang melakukan
perjalanan adalah para pensiunan.
44
Pariwisata Menurut Jenis Kelamin
o Masculine tourism
Jenis pariwisata yang kegiatannya hanya diikuti oleh
kaum pria saja, seperti safari, hunting, dan adventure.
o Feminime tourism
Jenis pariwisata yang hanya diikuti oleh kaum wanita
saja, seperti rombongan untuk menyaksikan
demontrasi memasak.
Pariwisata Menurut Harga dan Tingkat Sosial
o Delux tourism
Perjalanan wisata yang menggunakan fasilitas
standar mewah, baik alat angkutan, hotel, maupun
atraksinya.
o Middle class tourism
Jenis perjalanan wisata yang diperuntukkan bagi
mereka yang menginginkan fasilitas dengan harga
tidak terlalu mahal, tetapi tidak terlalu jelek
pelayanannya.
45
o Social tourism
Perjalanan wisata yang penyelenggaraannya
dilakukan secara bersama dengan biaya yang
diperhitungkan semurah mungkin dengan fasilitas
cukup memadai selama dalam perjalanan.
PENGERTIAN DAN SYARAT-SYARAT DAYA
TARIK WISATA
Definsi Daya Tarik Wisata
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 10
tahun 2009, daya tarik wisata merupakan segala sesuatu
yang memiliki kunikan, kemudahan dan nilai berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan
wisatawan. Yoeti (1985) menyatakan bahwa daya tarik
wisata atau “tourist attraction” adalah segala sesuatu
48
yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi
suatu daerah tertentu.
Pendit (1994) mendefinisikan daya tarik wisata sebagai
segala sesutu yang menarik dan bernilai untuk
dikunjungi dan dilihat. Menurut Spilane (2002) daya
tarik pariwisata adalah hal-hal yang menarik perhatian
wisatawan yang dimiliki oleh suatu daerah tujuan
wisata. Menurut Karyono (1997) suatu daerah tujuan
wisata harus memiliki tiga syarat daya tarik wisata yaitu
(1) ada sesuatu yang bisa dilihat (something to see), (2)
ada sesuatu yang bisa dikerjakan (something to do), (3)
ada sesuatu yang bisa dibeli (something to buy).
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 9
tahun 1990 tentang kepariwisataan, ada dua jenis objek
wisata dan daya tarik wisata yang umum, yakni 1) Objek
dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
berwujud keadaan alam, flora, dan fauna, 2). Objek dan
daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud
museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah,
seni budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata buru,
49
wisata petualangan, taman rekreasi dan tempat
hiburan.
Menurut Maryani (1991), suatu objek wisata dapat
menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan harus
memenuhi syarat-syarat di bawah ini:
1). What to see, di tempat tersebut harus ada objek
wisata atau atraksi wisata yang berbeda dengan
daya tarik di tempat lain, seperti pemandangan
alam, kegiatan kesenian, atau atraksi wisata;
2). What to do, di tempat tersebut selain ada yang
disaksikan, harus disediakan fasilitas rekreasi yang
dapat membuat wisatawan betah tinggal di tempat
tersebut;
3). What to buy, di tempat tujuan wisata harus tersedia
fasilitas untuk berbelanja terutama barang
souvenier dan kerajinan rakyart sebagai oleh-oleh
untuk dibawa pulang ke tempat asal;
4). What to stay, bagaimana wiatawan akan tinggal
untuk sementara selama dia berlibur di objek
50
wisata. Dengan demikian diperlukan fasilitas
penginapan dan akomodasi lainnya.
Adapun Menurut James J. Spilane (1994) suatu objek
wisata harus meliputi 5 (lima) unsur, yakni:
1) Attractions, sesuatu yang mampu menarik
wisatawan untuk mengunjunginya. Umumnya,
motivasi wisatawan adalah memenuhi atau
memuaskan beberapa kebutuhan. Mereka biasanya
tertarik pada suatu lokasi dengan ciri-ciri khas
tertentu.
2) Facility, sesuatu yang cenderung berorientasi pada
attraction di suatu lokasi, sehingga fasilitas harus
dekat dengan obyeknya. Fasilitas cenderung
mendukung dan berkembang pada saat yang sama
atau sesudah attraction berkembang.
3) Infrasructure, sebuah fasilitas tidak dapat muda
dicapai jika belum ada infrastruktur dasar.
Infrastruktur tersmasuk semua konstruksi di bawah
51
dan di atas tanah dan suatu wilayah atau daerah
yang penting dalam pariwisata.
4) Transportation, biasanya berisi infromasi lokasi
terminal, pelayanan pengangkutan lokal untuk
wisatawan; sistem keamanan untuk mencegah
kriminalitas; tanda lalu lintas dan simbol-simbolnya;
infromasi jadwal keberangkatan atau kedatangan;
adanya tenaga kerja untuk membantu para
penumpang; dan informasi lengkap tentang lokasi,
tarif, jadwal dan rute angkutan lokal.
5) Hospitality (keramahtamahan): terciptanya
kepastian akan jaminan kemanan menjadi sangat
penting khususnya wisatawan asing karena dunia
masih baru baginya. Dalam kaitannya dengan
mewujudkan keramah tamahan ini, tidak lepas dari
organisasi kepariwisataan setempat.
JENIS-JENIS DAYA TARIK WISATA
Daya tarik wisata alam (keindahan)
Keindahan dapat dibagi menjadi dua yaitu keindahan
alami dan keindahan yang diciptakan oleh manusia,
yakni: 1). laut yang terlihat dari pantai; 2). gunung yang
terlihat dari dataran rendah; 3). hewan dengan segala
jenisnya di darat, laut dan udara; 4). tumbuhan dengan
segala jenisnya; 5). manusia dengan segala suku
bangsanya; 6). keindahan gunung dilihat dari sawah; 7).
keindahan danau dilhat dari ketinggian.
54
Daya tarik warisan budaya warga
Daya tarik wisata sosial budaya dan dimanfaatkan dan
dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata
tersebut meliputi museum, peninggalan sejarah,
upacara adat, seni pertunjukkan dan kerajinan
warga atau suku tertentu. Agar warisan budaya
tersebut dapat bernilai dan bermanfaat bagi wisata,
maka terkadang diperlukan komodifikasi.
Daya tarik sejarah
Peristiwa dan peninggalan bersejarah ada hubungannya
dengan pariwisata karena pada umumnya sejarah
bercerita tentang peristiwa di masa lalu, kemudian
peninggalan tersebut dikunjungi, dilihat, dipelajari,
diteliti, dikenang, dan dianalisa orang untuk dijadikan
sumber inspirasi sebagai bahan renungan di masa
depan.
55
Daya tarik wisata minat khusus
Daya tarik wiata minat khusus merupakan jenis wisata
yang baru dikembangkan di Indonesia, wisata ini lebih
diutamakan pada wisatawan yang mempunyai motivasi
khusus dan tertentu. Dengan demikian, para wisatawan
minat khusus umumnya memiliki keahlian terlebih
dahulu sebelum dia berkunjung. Contohnya bertapa,
berburu, mendaki gunung, arung jeram, dan agrowisata.
SISTEM KEPARIWISATAAN
Model Sistem Kepariwisataan
Kepariwisataan (tourism) merupakan suatu konsep yang
kompleks dan membutuhkan keterlibatan antar sektor
atau lingkungan usaha yang lain, seperti agro,
pertambangan, manufaktur, konstruksi, perdagangan,
keuangan, jasa umum, dan yang lainnya. Selain itu, juga
harus ada keterlibatan antar dimensi, laiknya spasial,
bisnis, akademis, sosial budaya, ekonomi dan lain
sebagainya. Bermacam keterlibatan tersebut dapat
dilihat dari sudut pandang sistem yang biasa disebut
58
dengan sistem kepariwisataan. Sistem kepariwisatan
merupakan suatu sistem yang bersifat terbuka karena
sifat atau karakteristiknya yang multi sektor dan multi
dimensi.
Sumber: Leiper, Hanbook Pengantar Pengelolaan
Destinasi Pariwisata (2017)
Gambar di atas menjelaskan bahwa dalam pariwisata
terdapat sistem yang terbuka, terdiri dari tiga
komponen utama manusia dengan unsur pengunjung,
59
kedua adalah komponen industri yang terdiri dari unsur
organisasi dan industri, dan ketiga adalah komponen
spasial atau geografis yang terdiri dari unsur wilayah
wisata, tempat atau rute transit dan tempat tujuan
wisata. Elemen tersebut dipengaruhi oleh lingkungan
eksternal, seperti hukum, ekonomi, lingkungan, politik,
teknologi dan sosial. Wilayah penghasil pelaku wisata
yang biasa disebut dengan TGA (Tourist Generating
Area) adalah wilayah dimana para pelaku wisata berada.
Di wilayah ini sudah terdapat jasa pariwisata dan
perjalanan yang bertindak sebagai penyedia jasa kepada
pelaku wisata untuk membantu melaksanakan kegiatan
pariwisatanya.
Tourist Receiving Area (TRA) atau lebih tepatnya disebut
sebagai wilayah penerima pengunjung (Visitor Receiving
Area/VRA) merupakan tempat tujuan wisata atau biasa
disebut dengan destinasi pariwisata, dimana tempat
tersebut merupakan kegiatan wisata dilakukan oleh
pelaku wisatawan. Batas VRA dapat dianggap sebagai
kawasan perjalanan dari daerah pengunjung melakukan
60
aktivitas pariwisata yang mencakup tempat-tempat
yang biasanya didatangi oleh pengunjung. Beberapa ahli
mengemukakan bahwa akomodasi atau tempat tempat
wisatawan bermalam merupakan pusat dari VRA. Di
wilayah ini terdapat daya tarik wisata, berbagai sarana
penunjang kegiatan wisata dan prasarana yang
disediakan.
Transit Route Region merupakan rute antara yang
memiliki batasan sebagai tempat dimana pengunjung
telah meninggalkan daerah asal, tetapi belum mencapai
tempat tujuan wisata atau biasa disebut sebagai area
transit. Konsep ini merupakan zona antara sebelum
aktivitas wisata utama terjadi, dalam hal ini terdapat
beberapa tempat yang memilih untuk berperan sebagai
daerah transit menuju destinasi pariwisata.
Tourism Industries merupakan keseluruhan usaha yang
langsung terlibat dalam menyediakan barang atau jasa
untuk memfasilitasi kegiatan pengunjung saat berada
diluar dari tempat asalnya. Sementara itu external
environment yang terdiri dari faktor ekonomi, sosial,
61
politik, hukum, teknologi dan lingkungan merupakan
faktor eksternal makro yang mempengaruhi
keberlangsungan semua komponen dari sistem
kepariwisataan yang sudah ada.
MOTIVASI WISATAWAN
Motivasi Wisatawan
Ada beberapa faktor pendorong seseorang untuk
melakukan perjalanan wisata. Salah satunya pendapat
dari Ryan (1991) dan Pitana (2015) yang telah
menyebutkan beberapa faktor wisatawan melakukan
perjalanan, yakni:
1. Escape
Adanya keinginan melepaskan diri dari lingkungan
yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari
pekerjaan sehari-hari.
64
2. Relaxation
Adanya keinginan untuk penyegaran yang juga
berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas
3. Play
Adanya keinginan menikmati kegembiraan melalui
berbagai permainan yang merupakan kemunculan
kembali sifat kekanak-kanakan dan melepaskan diri
sejenak dari semua urusan serius
4. Stregthening family bond
Adanya keinginan untuk mempererat hubungan
kekrabatan, khususnya dalam konteks visiting
friends and reltives. Biasanya wisata ini dilakukan
secara bersama-sama
5. Prestige
Adanya keinginan menunjukkan gengsi dengan
mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas
dan gaya hidup yang merupakan dorongan untuk
meningkatkan status
65
6. Social interaction
Adanya upaya untuk melakukan interaksi sosial
dengan teman sejawat atau dengan warga
lokal yang dikunjungi.
7. Romance
Berupa keinginan untuk bertemu dengan orang-
orang yang bisa memberikan suasana romantis atau
untuk memenuhi kebutuhan seksual
8. Educational opportunities
Adanya keinginan untuk melihat sesuatu yang baru,
mempelajari orang lain dan atau daerah lain atau
mengetahui kebudayaan etnis lain. Hal ini
merupakan pendorong dominan dalam pariwisata.
9. Self fulfillment
Adanya keinginan untuk menemukan diri sendiri,
karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada
saat kita menemukan daerah baru
10. Wish-fulfillment
Adanya keinginan untuk merealisasikan mimpi-
mimpi lama yang dicita-citakan, sehingga
66
terkadang mengorbankan diri dalam bentuk
penghematan supaya bisa melakukan perjalanan.
TIPOLOGI WISATAWAN MELAKUKAN
PERJALANAN
Tipologi Wisatawan
Menurut Cohen (dalam Pitana, 2010) terdapat beberapa
tipe wisatawan di dunia dan Indonesia saat melakukan
perjalanan, yakni:
1. Drifter
Wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang
sama sekali belum diketahuinya dan bepergian dalam
jumlah kecil.
68
2. Eksplorer
Wisatawan yang melakukan perjalanan dengan
mengatur perjalanannya sendiri dan tidak mau
mengikuti rute wisata yang sudah umum, melainkan
mencari hal yang tidak umum. Wisatawan seperti ini
memanfaatkan fasilitas dengan standar lokal dan
tingkat interaksinya dengan warga lokal juga
tinggi.
3. Individual Mass Tourist
Wisatawan yang meyerahkan pengaturan
perjalanannya kepada agen perjalanan dan
mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah
terkenal.
4. Organized Mass Tourist
Wisatawan yang hanya mau mengunjungi daerah
tujuan wisata yang sudah dikenal dengan fasilitas
seperti yang dapat ditemui di tempat tinggalnya dan
perjalanannya selalu dipandu oleh pemandu wisata.
Wisatawan seperti ini terkungkung oleh apa yang
disebut sebagai environment bubble.
69
Adapun Smith (1977) telah melakukan klasifikasi
terhadap wisatawan dengan membedakan wisatawan
atas tujuh kelompok, yakni:
1. Explorer
Wisatawan yang mencari perjalanan baru dan
berinteraksi secara intensif dengan warga lokal
dan bersedia menerima fasilitas seadanya serta
menghargai norma dan nilai- nilai lokal.
2. Elite
Wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata
yang belum dikenal, tetapi dengan pengaturan lebih
dahulu dan bepergian dalam jumlah yang kecil
3. Off-beat
Wisatawan yang mencari atraksi sendiri dan tidak
mau ikut ke tempat yang sudah disediakan.
4. Unusual
Wisatawan yang dalam perjalanan sekali waktu juga
mengambil aktivitas tambahan dengan mengunjungi
tempat-tempat baru atau melakukan aktivitas yang
agak beresiko.
70
5. Incipient mass
Wisatawan yang memerlukan perjalanan secara
individual atau kelompok kecil dan mencari daerah
tujuan wisata yang mempunyai fasilitas standar,
tetapi masih menawarkan keaslian.
6. Mass
Wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata
dengan fasilitas yang sama seperti di daerahnya atau
bepergian ke daerah tujuan wisata dengan
environmental bubble yang sama. Interaksi dengan
warga lokal sangat kecil, kecuali dengan yang
langsung berhubungan dengan usaha pariwisata.
7. Charter
Wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata
dengan lingkungan yang mirip dengan daerah
asalnya dan biasanya hanya untuk bersenang-
senang. Mereka bepergian dalam kelompok besar
dan meminta fasilitas yang berstandar internasional.
71
Adapun Plog (1972) juga telah membagi tipolologi
wisatawan ke dalam tiga kelompok besar, yakni:
1. Allocentric
Wisatawan yang ingin mengunjungi tempat-tempat
yang belum diketahui, bersifat petualangan dan
memanfatkan fasilitas yang disediakan oleh
warga lokal.
2. Psychocentric
Wisatawan yang mau mengunjungi daerah tujuan
wisata yang mempunyai fasilitas dengan standar
yang sama dengan negaranya sendiri. Mereka
melakukan perjalanan wisata dengan program yang
pasti dan memanfaatkan fasilitas wisata dengan
standar internasional
3. Mid-centric
Wisatawan yang berada di antara Allocentric dan
Psychocentric
JENIS WISATAWAN BERDASARKAN DAMPAK
YANG DITIMBULKANNYA
Mwnurut Dama Adhyatma (2008), di samping jenis
wisatawan yang sudah umum di atas, ada beberapa jenis
wisatawan yang secara khusus perlu dijelaskan, yakni:
Family Tourist
Merupakan wisatawan keluarga yang terbagi atas
keluarga kecil dengan anggota orang tua dan anak
maupun keluarga besar yang terdiri dari orang tua, anak,
paman, bibi, kakek, nenek dan yang lainnya. Mereka
74
umumnya melakukan perjalanan di waktu liburan,
sehingga benar-benar ingin menikmati liburannya.
Dampak positif: a). mampu memberikan keuntungan
ekonomi secara langsung kepada hotel dan restoran,
karena perlu kamar yang besar dan makanan yang
banyak; b). wisatawan jenis ini umumnya menggunakan
travel agent untuk mengatur jadwal perjalanan,
sehingga menguntungkan travel agent, sehingga secara
tidak langsung mengurangi pengangguran; c). anak-
anak mereka biasanya menyukai tempat dan atraksi
wisata man made; d). memberikan keuntungan kepada
pengrajin dan penjual sovenier, karena tourist jenis ini
biasanya akan membeli kenang-kenangan untuk dirinya
dan kerabatnya.
Dampak negatif: a). anak-anak biasanya suka bermain
hingga merusak fasilitas- fasilitas yang ada seperti hotel,
objek wisata, dan sebagainya; b). agak sulit untuk
mengelola atau mengatur perjalanannya, karena anak-
anaknya rewel dan dapat merusak atau membatalkan
jadwal perjalanan.
75
Hedonistic Tourist
Wisatawan yang menginginkan kebebasan yang tidak
mereka dapatkan di negara asalnya, misalnya drug, sex,
drunk dan sebagainya. Turis jenis ini umumnya dari
kalangan usia muda dan menyuaki kehidupan malam.
Dampak positif: a). memberikan keuntungan ekonomi
kepada hotel dan restoran; b). memberikan keuntungan
kepada rental mobil atau motor karena turis ini tidak
suka diatur dan ingin kemanapun mereka inginkan; c).
memberi keuntungan kepada bar, night club dan
tempat-tempat night life lainnya.
Dampak negatif: a). memberikan pengaruh buruk
terhadap budaya lokal, khusunya remaja karena masih
sangat labil dan mudah meniru perilaku turis hedonistis
yang suka minm minuman keras, pakain seksi, merokok,
dugem, drugs dan lain-lain; b). prostisusi semakin
meningkat karena adanya permintaan dari turis-turis
hedonistis; c). muncul dan berkembangnya barang-
barang ilegal, seperti obat-obatan terlarang; d). turis ini
76
seringkali merusak fasilitas umum dan menyebabkan
polusi lingkungan.
Backpacker Tourist
Backpacker adalah jenis turis dengan melakukan
aktivitas pariwisata dengan dana terbatas dan dengan
banyak melancong. Oleh Karena itu turis ini biasanya
menggunakan fasilitas berstandar lokal dengan ciri
utama menggendong ransel di punggungnya.
Dampak positif: a). memberikan keuntungan kepada
penginapan dan makanan berstandar lokal, seperti
motel dan bungalow; b). turis jenis ini peduli dan ramah
terhadap lingkungan, karena mereka lebih sering
melakukan perjalanan dengan berjalan kaki atau dengan
sepeda gayung; c). mereka mudah berinteraksi dengan
warga sekitar, sehingga cepat terjadi akulturasi
budaya.
Dampak negatif: a). tidak banyak memberi devisa
negara, karena turis ini sangat hemat dalam berbelanja
dan hanya mengeluarkan uang untuk hal yang penting
saja; b). turis ini juga perlu diwaspadai, karena bisa saja
mereka melakukan tindakan mencuri karena keadaan
ekonomi sangat pas-pasan.
Visiting friends and relative’s tourist
Wisatawan yang mempunyai tujuan tertentu itu
mengunjungi teman dan kerabatnya. Turis jenis ini
biasanya dikelola oleh teman maupun kerabatnya
sendiri mulai tempat tinggal, makan hingga
transportasi.
Dampak positif: a). memberikan keuntungan pada objek
wisata dan atrkasi wisata, karena mereka pasti akan
diajak oleh kerabatnya untuk menikmati waktunya di
tempat tersebut; b). memberi keuntungan kepada
perajin dan penjual sovenier atau oleh-oleh, karena turis
ini biasanya akan membeli kenang-kenangan untuk
keluarga dan temannya.
Dampak negatif: tidak banyak memberikan devisa bagi
negara, karena segala sesuatunya sudah disediakan oleh
teman atau kerabatnya, seperti akomodasi, makanan,
transportasi dan sebagainya.
Exursionist Tourist
Wisatawan yang mengunjugi suatu tempat dalam waktu
yang kurang dari 24 jam, misalnya penumpang kapal
pesiar yang singgah ke suatu daerah atau negara
tertentu.
Dampak positif: a). hanya akan menguntungkan pusat
perbelanjaan dan restoran, karena turis hanya
mempunyai sedikit waktu untuk menikmati tempat
tujuan atau persinggahannya; b). menguntungkan
perajin dan penjual sovenier atau oleh-oleh, karena turis
ini biasanya pasti menyempatkan diri untuk membeli
sovenier khas daerah yang dikunjungi.
Dampak negatif: tidak menguntungkan akomodasi,
tansportasi dan tempat-tempat wisata, karena turis ini
tidak mempunyai banyak waktu untuk menikmati
kunjungannya yang hanya sekedar berkunjung atau
singgah di tempat tersebut.
79
Educational Tourist
Wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan
pendidikan, misalnya untuk belajar maupun studi
banding di suatu sekolah atau universitas.
Dampak positif: a). memberikan keuntungan ekonomi
kepada fasilitas-fasilitas berstandar lokal, seperti kos-
kosan dan makanan lokal; dapat menyebabkan
pertukaran pikiran dan pertukaran kebudayaan; b).
dapat mengembangkan suatu sekolah atau universitas
yang dipilih, sehingga dapat meningkatkan gengsi dan
akreditas seolah tersebut; c). sebagai sarana politik
dalam membina hubungan yang baik antar negara
penerima dengan negara pengirim.
Dampak negatif: a). tidak menguntungkan dalam
bidang ekonomi, karena turis jenis ini lebih memilih
menggunakan fasilitas lokal dari pada memilih fasilitas
mewah dan modern; b). mereka juga bisa saja memberi
pengaruh yang buruk terhadap kebudayaan lokal,
seperti minum minuman keras, free sex, merokok dan
sebagainya.
80
Religious Tourist
Wisatawan yang melakukan perjalanan suci ke tempat-
tempat yang berhubungan dengan agama, misalanya
kegiatan naik haji, tirta yatra, dan sebagainya.
Dampak positif: a). menguntungkan akomodasi,
restoran, tansportasi travel agent; membantu
mengembangkan daerah yang mempunyai tempat
ibadah; mengadakan pertukaran budaya dan
penyebaran ajaran agama; b). turis jenis ini juga
membeli oleh-oleh khas daerah setempat. Dampak
negative: a). turis jenis ini terkadang perlu diwaspadai,
karena mereka bisa menyebarkan ajaran atau aliran
sesat kepada penduduk lokal.
Snowbird Tourist
Wisatawan dari negara yang bermusim dingin yang
melakukan perjalanan ke daerah-daerah tropis. Dampak
positif: a). menguntungkan ekonomi negara yang
beriklim tropis, karena pasti akan banyak tourist dari
negara yang sedang mengalami musim dingin
81
berdatangan dan menikmati liburan; b). memberikan
keuntungan kepada tempat dan atraksi wisata,
terutama yang berhubungan langsung dengan matahari
dan ingin menikmati panas karena di negaranya sedang
mengalami musim dingin; c). memberikan keuntungan
kepada hotel, travel agent, restaurant, perajin dan
penjual sovenier sebagaipenyedia barang dan jasa baik
berupa akomodasi, transportasi maupun penyedia
makanan dan minuman.
Dampak negatif: daerah dingin biasanya lebih sepi dan
kurang diuntungkan, karena turis jenis ini umumnya
menyukai matahari dan ingin menikmati panas karena di
negaranya sedang mengalami musim dingin.
Disable tourist
Disable tourist adalah jenis turis yang mempunyai
kekurangan fisik atau cacat. Dampak positif: a).
memberikan keuntungan ekonomi secara langsung
kepada hotel, restaurant, dan travel agent; b).
memberikan keuntungan kepada tourist attraction
82
terutama yang bersifat natural, karena turis jenis ini
lebih merasa nyaman berada di daerah yang memiliki
keindahan alam. Dampak negatif: pengelolaan tourist
jenis ini lebih sulit dibandingkan dengan turis lain,
karena harus ekstra waspada dan membuat jadwal yang
sesuai dengan fisiknya.
Social tourist
Social tourist adalah jenis turis yang melakukan
perjalanan bukan untuk berlibur, melainkan mencari
sponsor di suatu negara. Dampak positif: a).
memberikan keuntungan kepada hotel atau motel
sebagai tempat peristirahatan para social tourist; b).
menciptakan hubungan yang baik antara negara
penerima dengan pengirim tourist, sehingga dapat
tercipta suasana tolong menolong antar negara.
Dampak negatif: turis jenis ini tidak banyak memberikan
devisa bagi negara, karena tujuannya bukan berlibur
melainkan melakukan aksi sosial atua mencari sponsor
di suatu negara untuk tujuan tertentu.
KARAKTERISTIK WISATAWAN
Beberapa pengelompokan wisatawan berdasarkan
karakteristik perjalanannya dapat dilihat pada table
berikut:
No Karakteristik Pembagian
1
Lama waktu
perjalanan
1-3 hari
4-7 hari
8-28 hari
29-91 hari
92 -365 hari
2
Jarak yang
ditempuh
Dalam kota
Luar kota (satu propinsi)
Luar kota (lain propinsi)
Luar negeri
3
Waktu melakukan
perjalanan
Hari biasa
Akhir pekan/minggu
86
No Karakteristik Pembagian
Non komersial (rumah
tangga/saudara/keluarga)
Laut (cruise/feri)
4 Teman perjalanan
Sendiri
Keluarga
Teman sekolah
Teman kantor
5
Pengorganisasian
perjalanan
Sendiri
Keluarga
Sekolah
Kantor
Biro perjalanan wisata
Sumber: Smith, 1989
Karakteristik sosio demografis wisatawan
No Karakteristik Pembagian
1 Jenis kelamin
Laki – laki
Perempuan
2 Umur
0-14 tahun
15-24 tahun
25-44 tahun
45-64 ahun
>65 tahun
3 Tingkat pendidikan
Tamat SD
SD
SLTP
SMU
Diploma/sarjana(s1)
Pasca sarjana (S2, S3)
87
No Karakteristik Pembagian
4 Kegiatan
Bekerja (PNS/swasta,
profesional dll)
Tidak bekerja (ibu rumah
tangga)
Pelajar/mahasiswa
5 Status perkawinan
Belum menikah
Menikah
Cerai
6
Jumlah anggota
keluarga dan
komposisinya
1 orang
Beberapa orang tanpa anak
dibawah 17 tahun
Beberapa orang dengan
anak di bawah 17 tahun
Tipe keluarga Belum menikah
Menikah, belum punya anak
Menikah anak <6tahun
Menikah, anak usia 6 – 17
tahun
Menikah, anak anak usia 18
– 25 tahun
Menikah, anak usia >25
tahun tidak tinggal dengan
orangtua (empty ness)
Sumber: Smith (1989)
Karakter sosio-demografis juga berkaitan satu dengan
lainnya secara tidak langsung. Misalnya tingkat
pendidikan seseorang dengan pekerjaan dan tingkat
pendapatannya, serta usia dengan status perkawinan
88
dan ukuran keluarga. Pembagian wisatawan
berdasarkankarakteristik sosio – demografisini paling
nyatakaitannya dengan pola berwisata mereka. Jenis
kelamin maupun kelompok umur misalnya berkaitan
dengan pilhan jenis wisata yang dilakukan seaton &
Bennet (1996) jenis pekerjaan seseorang ataupun tipe
keluarga akan berpengaruhpada waktu luang yang
dimiliki orang tersebut, dan terlebih lanjut pada
kemampuannya berwisata. Hal ini digambarkan melalui
tabel berikut:
No
Kelompok Sosio
ekonomi menengah-
bawah
Kelompok sosio-
ekonomi menengah –
atas
1 - Pendidikan yang rendah
- Pendidikan yang
lebih baik
2 - Pendapatan yang kecil
- Memiliki pendapatan
yang besar
- Keahlian menengah
seseorang
- Orang yang
professional
3
- Menunjukkan minat
mereka terhadap
atraksi-atraksi dan
melontarkan beberapa
pertanyaan lebih pasif
- Menduduki jabatan
yang tinggi akan
lebih tertarik untuk
mempelajari
kebudayaan dan
lingkungan.
89
No
Kelompok Sosio
ekonomi menengah-
bawah
Kelompok sosio-
ekonomi menengah –
atas
- Banyak
mengeluarkan
pertanyaan tetapi
cenderung untuk
membanggakan
pengetahuannya dan
agak sulit untuk
ditangani.
4
- Kurang fleksible
terhadap program tour
- Lebih fleksibel dalam
memilih acara tour
5
- Kurang mampu
beradaptasi dalm
keadan darurat
- Lebih cenderung
untuk bersosialisasi
dan berbaur dengan
penduduk setempat
6
- Kurang menyukai
hubungan dengan
warga setempat
dan anggota kelompok
lainnya maupun dengan
pemandu wisata
- Lebih cepat dalam
mengatasi segala
permasalahan yang
muncul.
7
- Biasanya tidak
mengharapkanfasilitas
dan pelayanan kelas
satu tetapi kadang-
kadang mungkin
menunjukkan rasa
pecaya diri
- Membutuhkan
fasilitas yang
berkualitas tinggi
DETERMINASI PERJALANAN WISATA
Pengertian Determinasi Perjalanan Wisata
Determinasi dalam perjalanan wisata merupakan faktor
yang memungkinkan seseorang melakukan perjalanan
wisata ke suatu tempat atau daerah di luar tempat
tinggalnya. Adanya cukup biaya dan cukup waktu serta
faktor lainnya merupakan determinan yang kuat bagi
sesorang untuk melakukan perjalanan wisata. Di bawah
ini ada beberapa hal yang menjadikan seseorang
melakukan wisata, yakni:
Faktor-faktor yang menjadi determinan Perjalanan
Wisata
1. Pengaruh Demografi
Dalam hal ini yang menyangkut demografi adalah
yang berhubungan dengan kependudukan seperti
umur seseorang, keluarga, pendidikan, pekerjaan
dan konsentrasi penduduk di suatu daerah.
Umur
Tingkat umur mempengaruhi keputusan berwisata.
Umumya orang muda cenderung lebih sering dan
berminat berwisata dari pada orang yang sudah
lanjut usia. Hal ini disebabkan karena pertimbangan
akan keadaan fisik yang dapat terganggu saat
mengadakan perjalanan wisata, sehingga mereka
lebih aman dan nyaman tinggal dalam rumah.
Keluarga
Keluarga muda dengan anak-anak yang masih kecil
biasanya lebih jarang melakukan perjalanan wisata.
Jika hal ini dilakukan, maka mereka memilih
perjalanan jarak dekat dengan kendaraan pribadi.
Pendidikan
Golongan warga berpendidikan lebih tinggi
cenderung lebih sering berwisata dari pada mereka
yang berpendidikan lebih rendah. Hal ini ada
hubungannya dengan keinginan unutk menambah
pengalaman melalui kunjungan ke daerah lain,
sebagai suatu ciri orang yang berpendidikan
keinginan tahunya lebih menonjol.
Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang makin sedikit menggunakan
tenaga manusia berpengaruh pula terhadap
kelompok yang akan mengadakan perjalanan wisata.
Penduduk dengan mata pencaharian sebagai petani,
minat dan keinginan berwisata tidak menonjol
karena tenaga dan waktu dipergunakan untuk usaha
pertanian. Lain halnya dengan warga industri,
pengaturan waktu kerja dan libur sudah berpola,
sehingga memungkinkan untuk perjalanan wisata
lebih sering dilakukan.
Konsentrasi penduduk
Di kota-kota besar dengan konsentrasi penduduk
lebih padat karena urbanisasi, maka frekwensi
berwisata dari penduduk kota lebih besar. Hal ini
disebabkan karena kejenuhan akibat tingkat
kebisingan yang tinggi, sehingga mereka ingin
melepaskan diri dari suasana tersebut dengan
berwisata ke tempat lain.
Perubahan kedudukan dan peranan wanita dalam
warga
Dalam warga modern banyak wanita
profesesional dan memegang jabatan penting
dengan penghasilan yang besar, sehingga kaum
wanita tidak hanya datang berwisata dengan
keluarga atas biaya suami. Dengan demikian, akan
semakin banyak wanita dalam jumlah yang bisa
berwisata atas biaya sendiri.
2. Pengaruh Faktor lain
Transportasi
Perkembangan saran transportasi yang sangat pesat
pada abad ke 20 menyebabkan pariwisata makin
maju. Dengan menggunakan angkutan bermotor dan
khusunya pada perang dunia II, banyak dipergunakan
angkutan udara maka perjalanan wisata lebih cepat,
nyaman dan relatif murah dan diatur secara reguler.
Pada tahun 1963 mulai diperkenalkan angkutan
udara dihubungkan dengan paket wisata.
Agen Perjalanan dan Biro Perjalanan Wisata
Agen perjalanan ini bertindak sebagai penyedia jasa
utama seperti usaha penerbangan, perhotelan dan
atraksi wisata. Sedangkan biro perjalanan berfungsi
menyiapkan paket wisata yang terdiri dari
komponen-komponen jasa dalam satu kesatuan
harga.
Promosi pariwisata
Promosi pariwisata sangat penting untuk
memperkenalkan atraksi wisata yang ada di suatu
negara, sehingga calon wisatawan mengetahui
obyek wisata. Promosi pariwisata biasanya dilakukan
oleh agen perjalanan, usaha akomodasi maupun
dilakukan oleh pemerintah yang menangani
pariwisata di daerah tujuan wisata. Perkembangan
sistem komunikasi sangat berperan dalam kegiatan
promosi pariwisata, sehingga aktivitas promosi
meluas melalui berbagai media cepat dilakukan.
DAMPAK PARIWISATA
Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang secara
langsung menyentuh dan melibatkan warga ,
sehingga membawa berbagai dampak terhadap
warga . Bahkan parwisata juga mempunyai energi
dobrak yang luar biasa dan mampu membuat
warga setempat mengalami metamorfosa dalam
berbagai aspeknya.
Dampak Sosial Ekonomi
Dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi
warga lokal dapat dikategoriakan ke dalam
delapan kelompok besar (Cohen, 1984), yakni: 1).
dampak terhadap penerimaan devisa; 2). dampak
terhadap pendapatan warga ; 3). dampak terhadap
kesempatan kerja; 4). dampak terhadap harga-harga; 5).
dampak terhadap distribusi manfaat atau keuntungan;
6). dampak terhadap kepemilikan dan control; 7).
dampak terhadap pembangunan pada umumnya; dan
8). dampak terhadap pendapatan daerah
Dampak Sosial Budaya
Secara teoritik-idealis antara dampak sosial dan dampak
kebudayaan dapat dibedakan, namun Mathieson and
Wall (1982:37) menyebutkan bahwa theres is no clear
distinction between social and cultural phenomena,
sehingga sebagian besar ahli menggabungkan dampak
sosial dan dampak budaya. Douglas (1996)
menyebutkan bahwa berbagai dampak sosial budaya
yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai
dampak pariwisata semata-mata. Sebab, pariwisata
sudah terjalin erat dengan berbagai aktivitas lain yang
mungkin pengaruhnya lebih besar atau sudah
terpengaruh jauh sebelum pariwisata berkembang.
Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokkan dampak
soisla budaya pariwisata ke dalam sepuluh kelompok
besar yakni: 1). dampak terhadap keterkaitan dan
keterlibatan antara warga setempat dengan
warga yang lebih luas termasuk tingkat ekonomi
atau ketergantungannya; 2). dampak terhadap
hubungan antar personal antara anggota warga ;
3). dampak terhadap dasar-dasar
organisasi/kelembagaan sosial; 4). dampak terhadap
migrasi dari sayu daerah ke daerah pariwisata; 5).
dampak terhadap ritme kehidupan sosial warga ;
6). dampak terhadap pola pembagian kerja; 7). dampak
terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial; 8). dampak
terhadap dsitribusi pengaruh dan kekuasaan; 9).
dampak terdap meningkaynya penyimpangan –
penyimpangan social; 10). dampak terhdap bidang
kesenian dan adat isitiadat.
Dampak terhadap eksistensi oraganisasi sosial
tradisional
Pada beberapa daerah, pariwisata dikatakan telah
menghancurkan sifat-sifat kolektivitas warga ,
menurunnya self conformity digeser oleh
indisvidulaisme pragmatis. Namun ini tidak sepenuhnya
benar, dapat dilihat dari kasus Bali. Steven Lansing
(1974) secara meyakinkan menyimpulkan bahwa
solidaritas banjar di daerah-daerah pariwisata di Bali
tidak berubah dibandingkan dengan sebelum
kedatangan wisatawan. Dimana organisasi sosial seperti
desa pekaraman dengan banjarnya, subak, pemaksaan
masih tetep kokoh dengan berbagai sifat ke-Bali-annya.
Dampak pariwisiata terhadap mobilitas sosial
Greenwood (1972) mengatakan bahwa pariwisata
mempunyai dampak yang sangat besar terhadap
mobilitas vertical. Perkembangan ekonomi yang
disebabkan oleh pariwisata menyebabkan tumbuhnya
berbagai kelas menengah baru yang senantiasa ada
dalam situasi kompetisi dengan kelas menengah yang
telah ada sebelumnya. Stratifikasi yang sebelumnya
berdasarkan darah dan keturunan pun beralih kepada
dasar-dasar baru yang lebih mengutamakan aspek-
aspek ekonomi.
Dampak terhadap kesenian, adat istiadat, dan agama
Naya Sujana (1989) menulis bahwa dewasa ini
berangsur-angur budaya Bali menjadi cair dan kemudian
hanyut dalam budaya dunia yang semakin kuat dalam
lalu lintas pariwisata. Secara singkat dikatan bahwa
kebudayaan Bali telah mengalami erosi yang dapat
dilihat dari: 1). munculnya demonstration effect yaitu
adanya kecendrungan penduduk lokal untuk meniru
gaya hidup wisatawan, tanpa mempertimbangkan
kebudayaannya sendiri, misalnya tingkat toleransi yang
semakin tinggi terhadap perilaku menyimpang,
pemujaan terhadap kesenian barat, dan orientasi yang
berlebihan terhadap busana buatan luar negeri; 2).
terjadinya komoditisasi terhadap kebudayaan; 3).
terjadinya penurunan kualitas hasil kesenian; 4).
profanisasi kesenian sakral, kegiatan ritual dan tempat
suci.
Dampak terhadap komodifikasi, otentisitas dan
identitas lokal
Komodifikasi dan authenticity (keaslian) selalu menjadi
topik yang muncul dalam setiap pembicaraan dampak
pariwisata terhadap sosial budaya masyarkat setempat.
McNaught (1982) mengatakan bahwa pariwisata telah
mencabut warga dari bentuk asli budayanya
karena tuntutan wisatawan. Para wisatawan
mengeluhkan bahwa tari-tarian telalu pankag, lamban
dan monoton. Sebagai antipasinya “broker-broker”
kebudayaan yaitu mereka yang bergerak dalam
pariwisata memaksa warga untuk mengubah
pertunjukan tersebut agar sesuasi dengan keinginan
wisatawan. warga dengan cepat kehilangan
keaslian dan identitiasnya, sebagai akibat kecendrungan
warga untuk meniru pola hidup wisatawan dengan
kebudayaan yang di bawanya.











.jpeg)
