Tampilkan postingan dengan label Berwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berwisata. Tampilkan semua postingan

Berwisata



KONSEP DASAR 

PARIWISATA 

 

Konsep Dasar dan Asal Kata Pariwisata 

Pengertian pariwisata telah lama menjadi perhatian 

banyak kalangan, baik dari pakar ekonomi, politik, 

administrasi negara ataupun sosiologi. Sampai saat ini, 

belum ada kesepakatan secara akademis mengenai apa 

itu pariwisata. Namun secara etimologi, kata pariwisata 

berasal dari Bahasa Sansekerta yang terdiri atas dua 

kata yaitu “pari” dan “wisata”. Pari berarti “banyak” atau 

“berkeliling”, sedangkan wisata berarti “pergi” atau 

 

“bepergian”. Atas dasar itu, maka kata pariwisata 

seharusnya diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan 

berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat ke 

tempat lain.  

Dalam Bahasa Inggris, istilah pariwisata identik dengan 

kata “tour”, sedangkan untuk pengertian jamak atau 

kata “kepariwisataan” menggunakan kata “tourisme” 

atau “tourism” (Yoeti, 1996). Adapun istilah pariwisata 

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan 

sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan 

perjalanan rekreasi. Namun, pada tahun 1959 istilah 

pariwisata pertama kali digunakan dalam Musyawarah 

Nasional Turisme II di Tretes, Jawa Timur. Istilah itu 

kemudian digunakan sebagai pengganti kata Turisme 

sebelum kata pariwisata diambil dari Bahasa 

Sansekerta. 

 

Pengertian Kegiatan Wisata (Tour) 

Kegiatan wisata merupakan suatu kegiatan perjalanan 

baik individu maupun grup dari tempat tinggal menuju 

 

suatu tempat tertentu untuk mendapatkan pengalaman 

di luar aktivitas keseharian dalam waktu yang 

sementara. Dari pengertian wisata, terlihat beberapa 

komponen penting yang menjadikan proses tersebut 

terjadi, yakni komponen: tempat tinggal, perjalanan, 

pelaku perjalanan wisata dan tempat tujuan.  

Kegiatan wisata umumnya dilakukan bukan di rumah 

atau di kediaman si pelaku kegiatan, melainkan di suatu 

tempat tujuan tertentu, sehingga kegiatan tersebut 

memerlukan proses perjalanan, baik menggunakan 

media transportasi darat, laut, udara maupun tidak. 

Oleh karena itu, terdapat keterkaitan antara kegiatan 

wisata dengan kegiatan perjalanan, yakni kegiatan 

wisata termasuk dalam kegiatan perjalanan, tetapi tidak 

semua kegiatan perjalanan merupakan kegiatan wisata.  

Kalau dilihat dari sisi ekonomi, kegiatan wisata 

merupakan kegiatan proses konsumsi terhadap suatu 

produk yang dilakukan oleh pelaku wisata dimulai dari 

tempat tinggalnya, diperjalanan dan di tempat 

tujuannya. Produk yang dikonsumsi tersebut 

 

merupakan suatu pengalaman total yang diperoleh oleh 

pelaku perjalanan wisata dalam proses konsumsinya 

tersebut. Sementara itu, pengalaman berwisata dapat 

dibagi menjadi dua yaitu pengalaman yang bersifat 

explisit dan pengalaman yang bersifat implisit.  

a. Pengalaman eksplisit:  

Pengalaman yang diperoleh oleh pelaku wisata dari 

sensoriknya atau dari proses penginderaannya 

seperti yang terlihat oleh mata, terdengar oleh 

telinga, tercium oleh hidung yang terasa oleh lidah 

dan badan.  

b. Pengalaman implisit:  

Pengalaman yang diperoleh oleh pelaku wisata dari 

psikisnya, seperti yang terekam oleh otaknya 

(kognitif), yang terasa oleh perasaannya (afektif) 

atau hasil dari proses keduanya yang dapat 

mengakibatkan kecenderungan bertindak atau 

berperilaku (psikomotor). 

 

 

Sementara itu, terdapat tiga komponen penting yang 

membuat proses konsumsi terhadap suatu pengalaman 

berwisata itu terjadi, yaitu:  

a. Daya tarik wisata: 

Segala sesuatu yang menarik dan menghasilkan 

pengalaman kepada pelaku perjalanan wisata, baik 

secara pasif maupun aktif, contoh: keindahan pantai, 

suasana pegunungan, gerhana, pentas 

seni, event olahraga, karnaval, menunggangi kuda, 

mendaki gunung, berselancar, bercengkrama dengan 

warga , dll. 

b. Sarana penunjang wisata: 

Segala sesuatu yang dapat memfasilitasi kegiatan 

wisata baik yang dapat diindera (tangible) maupun 

yang tidak dapat diindera (intangible), contoh: jasa 

transportasi, akomodasi, makan-minum, toilet, 

pramuwisata (guide), informasi dll. 

c. Infrastruktur/prasarana:  

Segala sesuatu yang merupakan penunjang utama 

terselenggaranya proses kegiatan wisata dan 

 

kegiatan non wisata, contoh: jaringan jalan, bandara, 

terminal, pelabuhan, air bersih, listrik, 

telekomunikasi, dll. 

 

Pengertian Pariwisata (Tours) 

Pariwisata adalah perjalanan wisata yang dilakukan 

secara berkali-kali atau berkeliling-keliling, baik secara 

terencana maupun tidak terencana yang dapat 

menghasilkan pengalaman total bagi pelakunya. Dari 

pengertian tersebut terlihat bahwa kegiatan wisata 

merupakan bagian dari kegiatan pariwisata, karena 

kegiatan pariwisata merupakan kegiatan jamak dari 

kegiatan wisata itu sendiri.  

 

Pengertian Kepariwisataan (Tourism) 

Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang terkait 

dengan kegiatan pariwisata beserta dampaknya yang 

terjadi, karena adanya kontak/interaksi antara pelaku 

perjalanan wisata dengan daya tarik wisata, sarana 

penunjang wisata, dan infrastruktur/prasarana yang 

 

disediakan oleh warga , swasta, dan pemerintah, 

dimulai dari tempat tinggal, pada saat di perjalanan, di 

tempat tujuan, sampai kembali lagi ke tempat 

tinggalnya. 

Dengan demikian, kepariwisataan adalah suatu gejala 

yang terjadi karena diakibatkan oleh pergerakan 

manusia dari tempat tinggalnya untuk melakukan suatu 

kegiatan wisata, baik liburan atau bisnis sampai ia 

kembali ke tempat tinggal semula. Gejala tersebut 

membentuk suatu sistem kompleks yang di dalamnya 

terdapat komponen serta elemen yang saling terkait. 

 


SEJARAH DAN PERKEMBANGAN 

PARIWISATA DUNIA 

 

Menurut beberapa ahli, pariwisata telah dimulai sejak 

dimulainya peradaban manusia itu sendiri dengan 

ditandai oleh adanya pergerakan penduduk yang 

melakukan ziarah dan perjalanan agama lainnya. Selain 

itu, perjalanan awal juga digerakkan oleh perasaan 

lapar, haus, perasaan ingin tahu, perasaan takut, gila 

kehormatan dan kekuasaan. World Tourism 

Organization (WTO), secara sepintas membagi 

perkembangan atau sejarah pariwisata ini ke dalam tiga 

10 

 

jaman, yakni: jaman kuno, jaman pertengahan, dan 

jaman modern.  

 

Perkembangan Pariwisata di Jaman Kuno 

Secara umum, kepariwisataan pada jaman kuno, 

ditandai oleh motif perjalanan masih terbatas dan 

sederhana yang meliputi: adanya dorongan karena 

kebutuhan praktis dalam bidang politik dan 

perdagangan; dambaan ingin mengetahui adat istiadat 

dan kebiasaan orang lain; dorongan yang berhubungan 

dengan keagamaan, seperti melakukan ziarah dan 

mengunjungi tempat-tempat ibadah.  

Sarana dan fasilitas yang digunakan selama perjalanan 

pada zaman kuno juga masih sederhana, yakni 

menggunakan alat angkut kuda, onta, atau perahu-

perahu kecil yang menyusuri pantai. Akan tetapi, 

perjalanan dengan jalan kaki untuk menempuh jarak 

berpuluh-puluh atau beratus-ratus kilometer paling 

banyak dilakukan. Contoh perjalanan pada jaman kuno: 

seperti yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Arab 

11 

 

ke Cina untuk membeli barang berharga, pedagang 

Yunani ke Laut Hitam, pedagang Vinisia ke Afrika. 

Perjalanan kaum buddhis Cina ke India, kaum muslimin 

yang melakukan ibadah haji ke Mekkah atau kaum 

Nasrani ke Yerusalem.  

Badan atau organisasi yang mengatur jasa-jasa 

perjalanan pada jaman ini belum ada. Pengaturan 

perjalanan ditentukan secara individu, baik oleh 

perorangan atau group. Akomodasi yang digunakan 

masih sederhana. Para pelancong membangun tenda-

tenda sendiri atau tinggal di rumah saudagar, pemuka 

warga , pemuka agama atau tempat-tempat 

beribadah, seperti mesjid dan gereja. Akomodasi yang 

dikelola secara komersil pada jaman ini belum ada.  

 

Perkembangan Pariwisata di Jaman Pertengahan 

Motivasi dan motif perjalanan pada abad pertengahan 

lebih luas dari motivasi dan motif perjalanan pada jaman 

kuno. Di samping motif perjalanan untuk keperluan 

perdagangan, keagamaan dan dambaan ingin tahu, 

12 

 

pada jaman ini telah berkembang motif untuk tujuan 

yang berhubungan dengan kepentingan negara dan 

motif untuk menambah pengetahuan. Para pedagang 

tidak lagi melakukan pertukaran secara barter. Para 

pedagang cukup dengan membawa contoh barang yang 

ditawarkan melalui pekan-pekan raya perdagangan. 

Seperti di St. Denis, Champagne atau Aix-la-Cappalle. 

Guna menjaga hubungan antar negara, baik negara 

penjajah maupun yang dijajah atau antar negara 

merdeka, dilakukan saling kunjungan petugas-petugas 

negara.  

Pada jaman abad pertengahan telah ada perguruan-

perguruan tinggi seperti Al Azhar di Kairo, di Paris, 

Roma, Salamanca, dan sebagainya. Para mahasiswa dari 

berbagai negara melakukan kunjungan ke universitas-

universitas ini untuk menambah atau memperdalam 

pengetahuan. Dengan semakin banyaknya yang 

melakukan perjalanan antar negara, berbagai negara 

mulai mengeluarkan peraturan-peraturan guna 

13 

 

melindungi kepentingan negara, penduduknya serta 

kepentingan para wisatawan.  

Pada masa ini, akomodasi yang bersifat komersil mulai 

bermunculan walaupun masih sederhana. Demikian 

pula restoran-restoran yang menyediakan makanan 

untuk keperluan para pelancong. Alat angkut tidak 

hanya dengan menunggang kuda, keledai atau onta, 

tetapi telah meningkat dengan menambah kereta yang 

ditarik kuda atau keledai. Angkutan laut telah 

menggunakan kapal-kapal yang lebih besar.  

 

Perkembangan Pariwisata di Jaman Modern 

Perkembangan pariwisata pada jaman modern, ditandai 

dengan semakin beraneka ragam motif dan keinginan 

wisatawan yang harus dipenuhi akibat meningkatnya 

budaya; mulai muncul formalitas atau keharusan para 

pelancong untuk membawa identitas diri bila 

mengunjungi suatu negara mulai diterapkan; di tempat 

penginapan yang dikelola secara komersil tumbuh 

dengan subur dan fasilitas yang digunakan semakin 

14 

 

lengkap; timbulnya revolusi industri di negara-negara 

Barat telah menciptakan alat angkut yang sangat 

penting dalam perkembangan pariwisata, yakni 

ditemukan mesin uap, angkutan kereta api dan kapal 

uap, dan menggantikan alat angkut yang menggunakan 

binatang; ditemukan alat angkut yang menggunakan 

mesin motor, yang jauh lebih cepat dan fleksibel dalam 

angkutan melalui darat; digunakannya angkutan udara 

yang dapat menempuh jarak jauh dalam waktu yang 

lebih cepat; dan sejak permulaan abad modern, ditandai 

pula oleh adanya badan atau organisasi yang menyusun 

dan mengatur perjalanan.  

Sebagai fenomena modern, tonggak-tonggak 

bersejarah dalam perjalanan wisata juga dapat ditelusuri 

dari perjalanan Marcopolo pada tahun 1254-1324 yang 

menjelajahi Eropa sampai Tiongkok dan kembali ke 

Venesia. Perjalanan tersebut kemudian disusul 

perjalanan Pangeran Henry (1394-1460), Cristophe 

Columbus (1451-1506) dan Vasco da Gama (akhir abad 

XV). Namun sebagai kegiatan ekonomi pariwisata, baru 

15 

 

berkembang pada awal abad XIX dan sebagai industri 

internasional pariwisata dimulai tahun 1865 (Crick, 1989; 

dan Graburn dan Jafari 1991).  

Dewasa ini pariwisata telah menjadi salah satu industri 

andalan dalam menghasilkan devisa di berbagai negara 

di dunia. Dengan pentingnya peranan pariwisata dalam 

pembangunan ekonomi di berbagai negara, pariwisata 

sering disebut sebagai “passport to development”, “new 

kind of sugar”, tool for regional development, ”invisible 

export”, non-polluting industry” dan sebagainya 



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN 

PARIWISATA INDONESA 

 

Dalam sejarah nusantara, diketahui bahwa kebiasaan 

mengadakan perjalanan telah dijumpai sejak lama. 

Dalam buku Nagara Kartagama, pada abad XIV, Raja 

Hayam Wuruk dilaporkan telah mengelilingi Majapahit 

dengan diikuti oleh para pejabat negara. Ia menjelajahi 

daerah Jawa Timur dengan mengendarai pedati. Pada 

awal abad XX, Susuhunan Pakubuwono X dikenal 

sebagai raja yang sangat suka mengadakan perjalanan. 

18 

 

Hampir setiap tahun beliau mengadakan perjalanan ke 

Jawa Tengah sambil memberikan hadiah berupa uang.  

Dalam tradisi Kerajaan Mataram, raja atau penguasa 

daerah harus melakukan unjuk kesetiaan pada keraton 

dua kali setiap tahunnya, sambil membawa para 

pejabat, pekerja yang mengangkut logistik dan barang 

persembahan untuk raja. Dari sinilah, pariwisata 

Indonesia terus berkembang sesuai dengan keadaan 

politik, sosial, dan budaya warga . Kemajuan 

pariwisata Indonesia tidak terlepas dari usaha yang 

dirintis sejak beberapa dekade yang lalu. Menurut Yoeti 

(1996), berdasarkan kurun waktu perkembangan, 

sejarah pariwisata Indonesia dapat dibagi menjadi tiga 

periode penting yaitu: periode penjajahan Belanda, 

pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka.  

 

Pariwisata Indonesia Masa Penjajahan Belanda  

Kegiatan kepariwisataan dimulai dengan penjelajahan 

yang dilakukan pejabat pemerintah, missionaris atau 

orang swasta yang akan membuka usaha perkebunan di 

19 

 

daerah pedalaman. Para pejabat Belanda yang dikenai 

kewajiban untuk menulis laporan pada setiap akhir 

perjalanan. Pada laporan itu terdapat keterangan 

mengenai peninggalan purbakala, keindahan alam, seni 

budaya warga . Pada awal abad ke-19, daerah 

Hindia Belanda mulai berkembang menjadi daerah yang 

mempunyai daya tarik luar biasa bagi para pengadu 

nasib dari negara Belanda.  

Mereka berkelana ke nusantara, membuka lahan 

perkebunan dalam skala kecil. Perjalanan dari satu 

daerah ke daerah lain, dari nusantara ke negara Eropa 

menjadi hal yang lumrah, sehingga dibangunlah sarana 

dan prasarana yang menjadi penunjang kegiatan 

tersebut. Kegiatan kepariwisataan masa penjajahan 

Belanda dimulai secara resmi sejak tahun 1910-1912 

setelah keluarnya keputusan gubernur jenderal atas 

pembentukan Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV) 

yang merupakan suatu biro wisata atau tourist bureau 

pada masa itu. Saat itu kantor tersebut digunakan pula 

oleh maskapai penerbangan swasta Belanda KNILM 

20 

 

(Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtfahrt 

Maatschapijj). yang memegang monopoli di kawasan 

Hindia Belanda.  

Pesatnya aktifitas perdagangan Eropa, Asia dan 

Indonesia, dapat meningkatkan lalu lintas perjalanan 

untuk berbagai kepentingan masing-masing. Guna 

memberikan pelayanan yang lebih baik, maka didirikan 

suatu cabang Travel Agent di Jalan Majapahit No. 2 

Jakarta pada 1926 dengan nama Lissone Lindeman 

(LISLIND) yang berpusat di Belanda. Sekarang tempat 

tersebut digunakan oleh PT. NITOUR. Tahun 1928 

Lislind berganti menjadi NITOUR (Nederlandsche 

IndischeTouristen Bureau) yang merupakan bagian dari 

KNILM.  

Saat itu kegiatan pariwisata lebih banyak didominasi 

oleh orang kulit putih, sedangkan bangsa pribumi 

sangat sedikit bahkan dapat dikatakan tidak ada. 

Perusahaan perjalanan wisata saat itu tidak 

berkembang karena NITOUR dan KNILM memegang 

monopoli. Pertumbuhan hotel di Indonesia 

21 

 

sesungguhnya mulai dikenal pada abad ke-19. Meskipun 

terbatas pada beberapa kota seperti di Batavia; Hotel 

Des Indes, Hotel der Nederlanden, Hotel Royal, dan 

Hotel Rijswijk. Di Surabaya berdiri pula Hotel Sarkies, 

Hotel Oranye, di Semarang didirikan Hotel Du pavillion, 

kemudian di Medan Hotel de Boer, dan Hotel Astoria, di 

Makassar Hotel Grand dan Hotel Staat. Fungsi hotel saat 

itu lebih banyak digunakan untuk tamu-tamu dari 

penumpang kapal laut dari Eropa. Mengingat belum 

adanya kendaraan bermotor untuk membawa tamu-

tamu tersebut dari pelabuhan ke hotel dan sebaliknya, 

maka digunakan kereta kuda serupa cikar. 

Memasuki abad ke-20, mulailah perkembangan usaha 

akomodasi hotel ke kota lainnya seperti Palace Hotel di 

Malang, Stier Hotel di Solo, Hotel Van Hangel, Preanger 

dan Homann di Bandung, Grand Hotel di Yogyakarta, 

Hotel Salak di Bogor. Setelah kendaraan bermotor 

digunakan dan jalan raya sudah berkembang, muncul 

pula hotel baru di kota lainnya seperti: Hotel Merdeka di 

Bukittinggi, Hotel Grand Hotel Lembang di luar kota 

22 

 

Bandung, kemudian berdiri pula di Dieng, Lumajang, 

Kopeng, Tawang Mangu, Prapat, Malino, Garut, 

Sukabumi, disusul oleh kota-kota lainnya.  

 

Pariwisata Indonesia Masa Pendudukan Jepang  

Berkobarnya Perang Dunia II yang disusul dengan 

pendudukan Jepang ke Indonesia menyebabkan 

keadaan pariwisata sangat terlantar. Saat itu dapat 

dikatakan sebagai masa kelabu bagi dunia 

kepariwisataan Indonesia, karena semuanya porak 

poranda. Kesempatan dan keadaan yang tidak menentu 

serta keadaan ekonomi yang sangat sulit, kelangkaan 

pangan, papan dan sandang, maka tidak 

memungkinkan orang untuk berwisata.  

Kunjungan wisatawan mancanegara pada masa Jepang 

dapat dikatakan tidak ada. Dalam sejarah perjalanan 

bangsa Indonesia, masa pendudukan Jepang tercatat 

sebagai masa yang pedih dan sulit. Ketakutan, 

kegelisahan merajalela, paceklik, perampasan harta 

oleh tentara Jepang membuat dunia kepariwisataan 

23 

 

nusantara mati. Banyak sarana dan prasarana publik 

dijadikan sarana untuk menghalangi masuknya musuh 

dalam suatu wilayah. Obyek wisata terbengkalai dan 

tidak terurus. Banyak hotel yang diambil alih oleh 

Jepang dan diubah fungsi untuk keperluan rumah sakit. 

Asrama dan hotel-hotel yang lebih bagus disita untuk 

ditempati para perwira Jepang. Data dan informasi 

pariwisata dalam masa pendudukan Jepang dapat 

dikatakan tidak tersedia. 

 

Pariwisata Indonesia Setelah Indonesia Merdeka  

Setelah Indonesia merdeka, dunia kepariwisataan 

Indonesia mulai merangkak lagi. Menjelang akhir tahun 

1946, Bupati Kepala Daerah Wonosobo, mempunyai 

inisiatif untuk mengorganisasikan kegiatan perhotelan 

di Indonesia dengan menugaskan tiga orang pajabat 

setempat, yakni W. Soetanto, Djasman Sastro Hoetomo 

dan R. Alwan. Dari mereka kemudian lahir Badan Pusat 

Hotel Negara yang merupakan organisasi perhotelan 

pertama di Indonesia. Pada tanggal 1 Juli 1947, 

24 

 

pemerintah Indonesia mulai menghidupkan kembali 

industri-industri di seluruh wilayah Indonesia, salah satu 

di dalamnya ada pariwisata. 

Sektor pariwisata mulai menunjukkan geliatnya. Hal ini 

ditandai dengan Surat Keputusan Wakil Presiden 

sebagai Ketua Panitia Pemikir Siasat Ekonomi di 

Jogjakarta untuk mendirikan suatu badan yang 

mengelola hotel-hotel yang sebelumnya dikuasai 

pemerintah kolonial. Badan yang baru dibentuk itu 

bernama HONET (Hotel National & Tourism) yang 

diketuai oleh R Tjipto Ruslan. Badan tersebut kemudian 

mengambil alih hotel-hotel yang terdapat di 

Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Cirebon, Sukabumi, 

Malang, Sarangan, Purwokerto dan Pekalongan. 

Haotel-hotel tersebut diberi nama Hotel Merdeka.  

Karena alasan KMB (Konferensi Meja Bundar) pada 

tahun 1949, seluruh harta kekayaan milik Belanda harus 

dikembalikan kepada pemiliknya. Oleh karena itu 

HONET dibubarkan dan selanjutnya berdiri badan 

hukum NV HORNET yang merupakan badan satu-

25 

 

satunya yang menjalankan aktivitas di bidang 

perhotelan dan pariwisata. Tahun 1952 dengan 

Keputusan Presiden Republik Indonesia, dibentuk 

Panitia Inter Departemental Urusan Turisme yang 

diketuai oleh Nazir St. Tugas panitia tersebut antara lain 

menjajagi kemungkinan terbukanya kembali Indonesia 

sebagai daerah tujuan wisata.  

Pada tahun 1953 beberapa tokoh perhotelan mendirikan 

Serikat Gabungan Hotel dan Tourisme Indonesia 

(SERGAHTI) yang diketuai oleh A Tambayong, pemilik 

Hotel Orient yang berkedudukan di Bandung. Badan 

tersebut dibantu oleh S. Saelan (pemilik Hotel Cipayung 

di Bogor), dan M Sungkar Alurmei (Direktur Hotel 

Pavilion/Majapahit di Jakarta). Dari mereka kemudian 

mendirikan cabang dan menetapkan komisaris di 

masing-masing daerah di wilayah Indonesia. 

Keanggotaan SERGAHTI pada saat itu mencakup 

seluruh hotel di Indonesia. Pada tahun 1955 juga berdiri 

Yayasan Tourisme Indonesia atau YTI yang nantinya 

akan menjadi DEPARI, Dewan Pariwisata Indonesia 

26 

 

yang menjadi cikal bakal Departemen Pariwisata dan 

Budaya saat ini. 

 


JENIS-JENIS PARIWISATA 

 

Menurut Pendit (1994) terdapat jenis pariwisata yang 

telah dikembangkan di dunia dan Indonesia, namun ia 

membagi jenis wisata ke dalam 7 bagian yang terperinci, 

yakni:  

 

Wisata Budaya 

Wisata budaya merupakan perjalanan yang dilakukan 

atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan 

hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan 

atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri, 

28 

 

mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat 

mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka. 

 

Wisata Maritim atau Bahari 

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah 

raga di air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut 

seperti memancing, berlayar, dan menyelam. Mereka 

juga biasanya sambil melakukan pemotretan, kompetisi 

berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman 

laut dengan pemandangan indah di bawah permukaan 

air. Wisata biasanya juga berupa rekreasi perairan yang 

banyak dilakukan di daerah atau negara-negara 

maritim. 

 

Wisata Cagar Alam 

Wisata jenis ini biasanya banyak diselenggarakan oleh 

agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-

usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau 

daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah 

pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya 

29 

 

dilindungi oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini 

banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta 

alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret 

binatang atau marga satwa serta pepohonan atau bunga 

beraneka warna yang memang mendapat perlindungan 

dari pemerintah dan warga . 

 

Wisata Pertanian (Agrowisata) 

Sebagai halnya wista industri, wisata pertanian ini 

adalah pengorganisasiaa perjalanan yang dilakukan ke 

proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang 

pembibitan dan sebagainya. Wisatawan biasanya dapat 

mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan 

studi maupun hanya melihat-lihat sambil menikmati 

segarnya tanaman yang beraneka warna dan suburnya 

pembibitan sayur-sayuran dan palawija di sekitar 

perkebunan yang dikunjungi. 

 

 

 

30 

 

Wisata Konvensi 

Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata 

konvensi dengan menyediakan fasilitas bangunan 

dengan ruangan-ruangan tempat bersidang bagi para 

peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau 

pertemuan lainnya, baik yang bersifat nasional maupun 

internasional. Jerman Barat misalnya memiliki Pusat 

Kongres Internasional (International Convention Center) 

di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine 

International Convention Center) di Manila dan 

Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta 

untuk tempat penyelenggaraan siding-sidang 

pertemuan besar dengan perlengkapan modern.  

 

Wisata Buru 

Jenis ini banyak dilakukan di negara-negara yang 

memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu 

yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh 

berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata jenis ini 

diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan 

31 

 

yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang 

bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk 

berburu gajah, singa, ziraf dan sebagainya. 

 

Wisata Ziarah 

Wisata ini biasanya sangat terakait dengan kegiatan 

keagamaan, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan 

umat atau kelompok dalam warga . Kegiatan ini 

banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke 

tempat suci, ke makam orang besar atau pemimpin 

yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap 

keramat, dan ke tempat pemakaman tokoh sebagai 

manusia ajaib penuh legenda. 

 

 

DEFERENSIASI DAN PENGERTIAN 

PARIWISATA DARI BERBAGAI ASPEK 

 

Pariwisata Menurut Letak Geografis 

o Pariwisata lokal 

Jenis kepariwisataan yang ruang lingkupnya lebih 

sempit dan terbatas dalam tempat-tempat tertentu 

saja. Misalnya kepariwisataan kota Denpasar, 

kepariwisataan kota Bandung.  

o Pariwisata nasional  

Jenis pariwisata yang dikembangkan dalam wilayah 

suatu negara, dimana para pesertanya tidak saja 

34 

 

terdiri dari warganegaranya sendiri tetapi juga orang 

asing yang terdiam di negara tersebut. Misalnya 

kepariwisataan yang ada di daerah-daerah dalam 

satu wilayah Indonesia.  

o Pariwisata regional 

Kegiatan kepariwisataan yang dikembangkan dalam 

suatu wilayah tertentu, dapat regional dalam 

lingkungan nasional dan dapat pula regional dalam 

ruang lingkup internasional. Misalnya kepariwisataan 

Bali, Yogyakarta, dan lain-lain.  

o Pariwisata regional-internasional 

Kegiatan kepariwisataan yang berkembang di suatu 

wilayah internasional yang terbatas, tetapi melewati 

batas-batas lebih dari dua atau tiga negara dalam 

wilayah tersebut. Misalnya kepariwisataan ASEAN. 5 

o Pariwisata internasional 

Kegiatan kepariwisataan yang terdapat atau 

dikembangkan di banyak negara di dunia.  

 

 

35 

 

Pariwisata Menurut Pengaruhnya terhadap neraca 

pembayaran  

o Pariwisata aktif (in bound tourism) 

Kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala 

masuknya wisatawan asing ke suatu negara tertentu. 

Hal ini tentu akan mendapatkan masukan devisa bagi 

negara yang dikunjungi dengan sendirinya akan 

memperkuat posisi neraca pembayaran negara yang 

dikunjungi wisatawan. 

o Pariwisata pasif (out-going tourism) 

Kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala 

keluarnya warga negara sendiri bepergian ke luar 

negeri sebagai wisatawan. Karena ditinjau dari segi 

pemasukan devisa negara, kegiatan ini merugikan 

negara asal wisatawan, karena uang yang 

dibelanjakan itu terjadi di luar negeri.  

 

 

 

 

36 

 

Pariwisata Menurut alasan/tujuan perjalanan  

o Business tourism 

Jenis pariwisata dimana pengunjungnya datang 

untuk tujuan dinas, usaha dagang atau yang 

berhubungan dengan pekerjaannya, kongres, 

seminar dan lain-lain  

o Vacational tourism 

Jenis pariwisata dimana orang-orang yang 

melakukan perjalanan wisata terdiri dari orang-orang 

yang sedang berlibur, cuti, dan lain-lain  

o Educational tourism 

Jenis pariwisata dimana pengunjung atau orang 

melakukan perjalanan untuk tujuan belajar atau 

mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan. 

Contohnya: darmawisata (study tour).  

o Familiarization tourism 

Suatu perjalanan anjangsana yang dimaksudkan 

guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang 

mempunyai kaitan dengan pekerjaannya.  

 

37 

 

o Scientific tourism 

Perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah 

untuk memperoleh pengetahuan atau penyelidikan 

terhadap sesuatu bidang ilmu pengetahuan.  

o Special Mission tourism  

Suatu perjalanan wisata yang dilakukan dengan suatu 

maksud khusus, misalnya misi kesenian, misi olah 

raga, maupun misi lainnya.  

o Hunting tourism  

Suatu kunjungan wisata yang dimaksudkan untuk 

menyelenggarakan perburuan binatang yang 

diijinkan oleh penguasa setempat sebagai hiburan 

semata-mata. 

 

Pariwisata Menurut Waktu Berkunjung 

o Seasonal tourism  

Jenis pariwisata yang kegiatannya berlangsung pada 

musimmusim tertentu. Contoh: Summer tourism, 

winter tourism, dan lain-lain.  

 

38 

 

 

o Occasional tourism 

Jenis pariwisata dimana perjalanan wisatawan 

dihubungkan dengan kejadian (occasion) maupun 

suatu even. Misalnya Sekaten di Yogyakarta, Nyepi di 

Bali, dan lain-lain. 

 


DEFERENSIASI DAN PENGERTIAN 

PARIWISATA DARI BERBAGAI ASPEK 

 

Pariwisata Menurut Objeknya 

o Cultural tourism  

Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk 

melakukan perjalanan disebabkan karena adanya 

daya tarik dari seni dan budaya suatu tempat atau 

daerah.  

o Recuperational tourism 

Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk 

melakukan perjalanan adalah untuk menyembuhkan 

40 

 

penyakit, seperti mandi di sumber air panas, mandi 

lumpur, dan lain-lain.  

o Commercial tourism 

Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk 

melakukan perjalanan dikaitkan dengan kegiatan 

perdagangan nasional dan internasional.  

o Sport tourism 

Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk 

melakukan perjalanan adalah untuk melihat atau 

menyaksikan suatu pesta olah raga di suatu tempat 

atau negara tertentu.  

o Political tourism 

Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk 

melakukan perjalanan tujuannya melihat atau 

menyaksikan suatu peristiwa atau kejadian yang 

berhubungan dengan kegiatan suatu negara. 

Misalnya menyaksikan peringatan hari kemerdekaan 

suatu Negara 

 

 

41 

 

o Social tourism 

Jenis pariwisata dimana dari segi 

penyelenggaraannya tidak menekankan untuk 

mencari keuntungan, misalnya study tour, picnik, dan 

lain-lain.  

o Religion tourism 

Jenis pariwisata dimana motivasi wisatawan untuk 

melakukan perjalanan tujuannya melihat atau 

menyaksikan upacara-upacara keagamaan, seperti 

upacara Bali Krama di Besakih, haji umroh bagi 

agama Islam, dan lain-lain.  

o Marine tourism  

Kegiatan wisata yang ditunjang oleh sarana dan 

prasarana untuk berenang, memancing, menyelam, 

dan olah raga lainnya, termasuk sarana dan prasarana 

akomodasi, makan dan minum.  

 

 

 

 

42 

 

Menurut jumlah orang yang melakukan perjalanan 

o Individual tourism 

Seorang wisatawan atau satu keluarga yang 

melakukan perjalanan secara bersama.  

o Family group tourism 

Suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh 

serombongan keluarga yang masih mempunyai 

hubungan kekerabatan satu sama lain. 

o Group tourism  

Jenis pariwisata dimana yang melakukan perjalanan 

wisata itu terdiri dari banyak orang yang bergabung 

dalam satu rombongan yang biasa diorganisasi oleh 

sekolah, organisasi, atau tour oprator/travel agent.  

 

Pariwisata Menurut Alat Pengangkutan 

o Land tourism  

Jenis pariwisata yang dalam kegiatannya 

menggunakan transportasi darat, seperti bus, taxi, 

dan kereta api.  

 

43 

 

o Sea tourism  

o Kegiatan kepariwisataan yang menggunakan 

angkutan laut untuk mengunjungi suatu daerah 

tujuan wisata.  

o Air tourism  

Jenis pariwisata yang menggunakan angkutan udara 

dari dan ke daerah tujuan wisata.  

 

Pariwisata Menurut Umur  

o Youth tourism  

Jenis pariwisata yang dikembangkan bagi para 

remaja yang suka melakukan perjalanan wisata 

dengan harga relatif murah.  

o Adult tourism 

Kegiatan pariwisata yang diikuti oleh orang-orang 

yang berusia lanjut. Biasanya orang yang melakukan 

perjalanan adalah para pensiunan.  

 

 

 

44 

 

Pariwisata Menurut Jenis Kelamin 

o Masculine tourism  

Jenis pariwisata yang kegiatannya hanya diikuti oleh 

kaum pria saja, seperti safari, hunting, dan adventure.  

o Feminime tourism 

Jenis pariwisata yang hanya diikuti oleh kaum wanita 

saja, seperti rombongan untuk menyaksikan 

demontrasi memasak.  

 

Pariwisata Menurut Harga dan Tingkat Sosial 

o Delux tourism  

Perjalanan wisata yang menggunakan fasilitas 

standar mewah, baik alat angkutan, hotel, maupun 

atraksinya.  

o Middle class tourism 

Jenis perjalanan wisata yang diperuntukkan bagi 

mereka yang menginginkan fasilitas dengan harga 

tidak terlalu mahal, tetapi tidak terlalu jelek 

pelayanannya. 

 

45 

 

o Social tourism  

Perjalanan wisata yang penyelenggaraannya 

dilakukan secara bersama dengan biaya yang 

diperhitungkan semurah mungkin dengan fasilitas 

cukup memadai selama dalam perjalanan. 

 


PENGERTIAN DAN SYARAT-SYARAT DAYA 

TARIK WISATA 

 

Definsi Daya Tarik Wisata 

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 10 

tahun 2009, daya tarik wisata merupakan segala sesuatu 

yang memiliki kunikan, kemudahan dan nilai berupa 

keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil 

buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan 

wisatawan. Yoeti (1985) menyatakan bahwa daya tarik 

wisata atau “tourist attraction” adalah segala sesuatu 

48 

 

yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi 

suatu daerah tertentu.  

Pendit (1994) mendefinisikan daya tarik wisata sebagai 

segala sesutu yang menarik dan bernilai untuk 

dikunjungi dan dilihat. Menurut Spilane (2002) daya 

tarik pariwisata adalah hal-hal yang menarik perhatian 

wisatawan yang dimiliki oleh suatu daerah tujuan 

wisata. Menurut Karyono (1997) suatu daerah tujuan 

wisata harus memiliki tiga syarat daya tarik wisata yaitu 

(1) ada sesuatu yang bisa dilihat (something to see), (2) 

ada sesuatu yang bisa dikerjakan (something to do), (3) 

ada sesuatu yang bisa dibeli (something to buy). 

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 9 

tahun 1990 tentang kepariwisataan, ada dua jenis objek 

wisata dan daya tarik wisata yang umum, yakni 1) Objek 

dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa 

berwujud keadaan alam, flora, dan fauna, 2). Objek dan 

daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud 

museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, 

seni budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, 

49 

 

wisata petualangan, taman rekreasi dan tempat 

hiburan. 

Menurut Maryani (1991), suatu objek wisata dapat 

menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan harus 

memenuhi syarat-syarat di bawah ini: 

1). What to see, di tempat tersebut harus ada objek 

wisata atau atraksi wisata yang berbeda dengan 

daya tarik di tempat lain, seperti pemandangan 

alam, kegiatan kesenian, atau atraksi wisata;  

2). What to do, di tempat tersebut selain ada yang 

disaksikan, harus disediakan fasilitas rekreasi yang 

dapat membuat wisatawan betah tinggal di tempat 

tersebut;  

3). What to buy, di tempat tujuan wisata harus tersedia 

fasilitas untuk berbelanja terutama barang 

souvenier dan kerajinan rakyart sebagai oleh-oleh 

untuk dibawa pulang ke tempat asal;  

4). What to stay, bagaimana wiatawan akan tinggal 

untuk sementara selama dia berlibur di objek 

50 

 

wisata. Dengan demikian diperlukan fasilitas 

penginapan dan akomodasi lainnya. 

 

Adapun Menurut James J. Spilane (1994) suatu objek 

wisata harus meliputi 5 (lima) unsur, yakni: 

1) Attractions, sesuatu yang mampu menarik 

wisatawan untuk mengunjunginya. Umumnya, 

motivasi wisatawan adalah memenuhi atau 

memuaskan beberapa kebutuhan. Mereka biasanya 

tertarik pada suatu lokasi dengan ciri-ciri khas 

tertentu. 

2) Facility, sesuatu yang cenderung berorientasi pada 

attraction di suatu lokasi, sehingga fasilitas harus 

dekat dengan obyeknya. Fasilitas cenderung 

mendukung dan berkembang pada saat yang sama 

atau sesudah attraction berkembang.  

3) Infrasructure, sebuah fasilitas tidak dapat muda 

dicapai jika belum ada infrastruktur dasar. 

Infrastruktur tersmasuk semua konstruksi di bawah 

51 

 

dan di atas tanah dan suatu wilayah atau daerah 

yang penting dalam pariwisata. 

4) Transportation, biasanya berisi infromasi lokasi 

terminal, pelayanan pengangkutan lokal untuk 

wisatawan; sistem keamanan untuk mencegah 

kriminalitas; tanda lalu lintas dan simbol-simbolnya; 

infromasi jadwal keberangkatan atau kedatangan; 

adanya tenaga kerja untuk membantu para 

penumpang; dan informasi lengkap tentang lokasi, 

tarif, jadwal dan rute angkutan lokal. 

5) Hospitality (keramahtamahan): terciptanya 

kepastian akan jaminan kemanan menjadi sangat 

penting khususnya wisatawan asing karena dunia 

masih baru baginya. Dalam kaitannya dengan 

mewujudkan keramah tamahan ini, tidak lepas dari 

organisasi kepariwisataan setempat. 

 


JENIS-JENIS DAYA TARIK WISATA 

 

Daya tarik wisata alam (keindahan) 

Keindahan dapat dibagi menjadi dua yaitu keindahan 

alami dan keindahan yang diciptakan oleh manusia, 

yakni: 1). laut yang terlihat dari pantai; 2). gunung yang 

terlihat dari dataran rendah; 3). hewan dengan segala 

jenisnya di darat, laut dan udara; 4). tumbuhan dengan 

segala jenisnya; 5). manusia dengan segala suku 

bangsanya; 6). keindahan gunung dilihat dari sawah; 7). 

keindahan danau dilhat dari ketinggian.  

 

54 

 

Daya tarik warisan budaya warga  

Daya tarik wisata sosial budaya dan dimanfaatkan dan 

dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata 

tersebut meliputi museum, peninggalan sejarah, 

upacara adat, seni pertunjukkan dan kerajinan 

warga  atau suku tertentu. Agar warisan budaya 

tersebut dapat bernilai dan bermanfaat bagi wisata, 

maka terkadang diperlukan komodifikasi. 

 

Daya tarik sejarah 

Peristiwa dan peninggalan bersejarah ada hubungannya 

dengan pariwisata karena pada umumnya sejarah 

bercerita tentang peristiwa di masa lalu, kemudian 

peninggalan tersebut dikunjungi, dilihat, dipelajari, 

diteliti, dikenang, dan dianalisa orang untuk dijadikan 

sumber inspirasi sebagai bahan renungan di masa 

depan. 

 

 

 

55 

 

Daya tarik wisata minat khusus 

Daya tarik wiata minat khusus merupakan jenis wisata 

yang baru dikembangkan di Indonesia, wisata ini lebih 

diutamakan pada wisatawan yang mempunyai motivasi 

khusus dan tertentu. Dengan demikian, para wisatawan 

minat khusus umumnya memiliki keahlian terlebih 

dahulu sebelum dia berkunjung. Contohnya bertapa, 

berburu, mendaki gunung, arung jeram, dan agrowisata. 

 


SISTEM KEPARIWISATAAN 

 

Model Sistem Kepariwisataan 

Kepariwisataan (tourism) merupakan suatu konsep yang 

kompleks dan membutuhkan keterlibatan antar sektor 

atau lingkungan usaha yang lain, seperti agro, 

pertambangan, manufaktur, konstruksi, perdagangan, 

keuangan, jasa umum, dan yang lainnya. Selain itu, juga 

harus ada keterlibatan antar dimensi, laiknya spasial, 

bisnis, akademis, sosial budaya, ekonomi dan lain 

sebagainya. Bermacam keterlibatan tersebut dapat 

dilihat dari sudut pandang sistem yang biasa disebut 

58 

 

dengan sistem kepariwisataan. Sistem kepariwisatan 

merupakan suatu sistem yang bersifat terbuka karena 

sifat atau karakteristiknya yang multi sektor dan multi 

dimensi.  

 

 

Sumber: Leiper, Hanbook Pengantar Pengelolaan 

Destinasi Pariwisata (2017) 

 

Gambar di atas menjelaskan bahwa dalam pariwisata 

terdapat sistem yang terbuka, terdiri dari tiga 

komponen utama manusia dengan unsur pengunjung, 

59 

 

kedua adalah komponen industri yang terdiri dari unsur 

organisasi dan industri, dan ketiga adalah komponen 

spasial atau geografis yang terdiri dari unsur wilayah 

wisata, tempat atau rute transit dan tempat tujuan 

wisata. Elemen tersebut dipengaruhi oleh lingkungan 

eksternal, seperti hukum, ekonomi, lingkungan, politik, 

teknologi dan sosial. Wilayah penghasil pelaku wisata 

yang biasa disebut dengan TGA (Tourist Generating 

Area) adalah wilayah dimana para pelaku wisata berada. 

Di wilayah ini sudah terdapat jasa pariwisata dan 

perjalanan yang bertindak sebagai penyedia jasa kepada 

pelaku wisata untuk membantu melaksanakan kegiatan 

pariwisatanya. 

Tourist Receiving Area (TRA) atau lebih tepatnya disebut 

sebagai wilayah penerima pengunjung (Visitor Receiving 

Area/VRA) merupakan tempat tujuan wisata atau biasa 

disebut dengan destinasi pariwisata, dimana tempat 

tersebut merupakan kegiatan wisata dilakukan oleh 

pelaku wisatawan. Batas VRA dapat dianggap sebagai 

kawasan perjalanan dari daerah pengunjung melakukan 

60 

 

aktivitas pariwisata yang mencakup tempat-tempat 

yang biasanya didatangi oleh pengunjung. Beberapa ahli 

mengemukakan bahwa akomodasi atau tempat tempat 

wisatawan bermalam merupakan pusat dari VRA. Di 

wilayah ini terdapat daya tarik wisata, berbagai sarana 

penunjang kegiatan wisata dan prasarana yang 

disediakan. 

Transit Route Region merupakan rute antara yang 

memiliki batasan sebagai tempat dimana pengunjung 

telah meninggalkan daerah asal, tetapi belum mencapai 

tempat tujuan wisata atau biasa disebut sebagai area 

transit. Konsep ini merupakan zona antara sebelum 

aktivitas wisata utama terjadi, dalam hal ini terdapat 

beberapa tempat yang memilih untuk berperan sebagai 

daerah transit menuju destinasi pariwisata.  

Tourism Industries merupakan keseluruhan usaha yang 

langsung terlibat dalam menyediakan barang atau jasa 

untuk memfasilitasi kegiatan pengunjung saat berada 

diluar dari tempat asalnya. Sementara itu external 

environment yang terdiri dari faktor ekonomi, sosial, 

61 

 

politik, hukum, teknologi dan lingkungan merupakan 

faktor eksternal makro yang mempengaruhi 

keberlangsungan semua komponen dari sistem 

kepariwisataan yang sudah ada. 

 


MOTIVASI WISATAWAN 

 

Motivasi Wisatawan  

Ada beberapa faktor pendorong seseorang untuk 

melakukan perjalanan wisata. Salah satunya pendapat 

dari Ryan (1991) dan Pitana (2015) yang telah 

menyebutkan beberapa faktor wisatawan melakukan 

perjalanan, yakni: 

1. Escape 

Adanya keinginan melepaskan diri dari lingkungan 

yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari 

pekerjaan sehari-hari. 

64 

 

2. Relaxation  

Adanya keinginan untuk penyegaran yang juga 

berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas 

3. Play 

Adanya keinginan menikmati kegembiraan melalui 

berbagai permainan yang merupakan kemunculan 

kembali sifat kekanak-kanakan dan melepaskan diri 

sejenak dari semua urusan serius 

4. Stregthening family bond 

Adanya keinginan untuk mempererat hubungan 

kekrabatan, khususnya dalam konteks visiting 

friends and reltives. Biasanya wisata ini dilakukan 

secara bersama-sama 

5. Prestige 

Adanya keinginan menunjukkan gengsi dengan 

mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas 

dan gaya hidup yang merupakan dorongan untuk 

meningkatkan status 

 

 

65 

 

6. Social interaction 

Adanya upaya untuk melakukan interaksi sosial 

dengan teman sejawat atau dengan warga  

lokal yang dikunjungi. 

7. Romance 

Berupa keinginan untuk bertemu dengan orang-

orang yang bisa memberikan suasana romantis atau 

untuk memenuhi kebutuhan seksual 

8. Educational opportunities 

Adanya keinginan untuk melihat sesuatu yang baru, 

mempelajari orang lain dan atau daerah lain atau 

mengetahui kebudayaan etnis lain. Hal ini 

merupakan pendorong dominan dalam pariwisata. 

9. Self fulfillment 

Adanya keinginan untuk menemukan diri sendiri, 

karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada 

saat kita menemukan daerah baru 

10. Wish-fulfillment 

Adanya keinginan untuk merealisasikan mimpi-

mimpi lama yang dicita-citakan, sehingga 

66 

 

terkadang mengorbankan diri dalam bentuk 

penghematan supaya bisa melakukan perjalanan.  

 


TIPOLOGI WISATAWAN MELAKUKAN 

PERJALANAN 

 

Tipologi Wisatawan 

Menurut Cohen (dalam Pitana, 2010) terdapat beberapa 

tipe wisatawan di dunia dan Indonesia saat melakukan 

perjalanan, yakni: 

1. Drifter 

Wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang 

sama sekali belum diketahuinya dan bepergian dalam 

jumlah kecil. 

 

68 

 

2. Eksplorer 

Wisatawan yang melakukan perjalanan dengan 

mengatur perjalanannya sendiri dan tidak mau 

mengikuti rute wisata yang sudah umum, melainkan 

mencari hal yang tidak umum. Wisatawan seperti ini 

memanfaatkan fasilitas dengan standar lokal dan 

tingkat interaksinya dengan warga  lokal juga 

tinggi. 

3. Individual Mass Tourist 

Wisatawan yang meyerahkan pengaturan 

perjalanannya kepada agen perjalanan dan 

mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah 

terkenal. 

4. Organized Mass Tourist 

Wisatawan yang hanya mau mengunjungi daerah 

tujuan wisata yang sudah dikenal dengan fasilitas 

seperti yang dapat ditemui di tempat tinggalnya dan 

perjalanannya selalu dipandu oleh pemandu wisata. 

Wisatawan seperti ini terkungkung oleh apa yang 

disebut sebagai environment bubble. 

69 

 

Adapun Smith (1977) telah melakukan klasifikasi 

terhadap wisatawan dengan membedakan wisatawan 

atas tujuh kelompok, yakni: 

1. Explorer  

Wisatawan yang mencari perjalanan baru dan 

berinteraksi secara intensif dengan warga  lokal 

dan bersedia menerima fasilitas seadanya serta 

menghargai norma dan nilai- nilai lokal. 

2. Elite  

Wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata 

yang belum dikenal, tetapi dengan pengaturan lebih 

dahulu dan bepergian dalam jumlah yang kecil 

3. Off-beat  

Wisatawan yang mencari atraksi sendiri dan tidak 

mau ikut ke tempat yang sudah disediakan.  

4. Unusual 

Wisatawan yang dalam perjalanan sekali waktu juga 

mengambil aktivitas tambahan dengan mengunjungi 

tempat-tempat baru atau melakukan aktivitas yang 

agak beresiko. 

70 

 

5. Incipient mass 

Wisatawan yang memerlukan perjalanan secara 

individual atau kelompok kecil dan mencari daerah 

tujuan wisata yang mempunyai fasilitas standar, 

tetapi masih menawarkan keaslian. 

6. Mass 

Wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata 

dengan fasilitas yang sama seperti di daerahnya atau 

bepergian ke daerah tujuan wisata dengan 

environmental bubble yang sama. Interaksi dengan 

warga  lokal sangat kecil, kecuali dengan yang 

langsung berhubungan dengan usaha pariwisata. 

7. Charter 

Wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata 

dengan lingkungan yang mirip dengan daerah 

asalnya dan biasanya hanya untuk bersenang-

senang. Mereka bepergian dalam kelompok besar 

dan meminta fasilitas yang berstandar internasional. 

 

71 

 

Adapun Plog (1972) juga telah membagi tipolologi 

wisatawan ke dalam tiga kelompok besar, yakni: 

1. Allocentric 

Wisatawan yang ingin mengunjungi tempat-tempat 

yang belum diketahui, bersifat petualangan dan 

memanfatkan fasilitas yang disediakan oleh 

warga  lokal. 

2. Psychocentric  

Wisatawan yang mau mengunjungi daerah tujuan 

wisata yang mempunyai fasilitas dengan standar 

yang sama dengan negaranya sendiri. Mereka 

melakukan perjalanan wisata dengan program yang 

pasti dan memanfaatkan fasilitas wisata dengan 

standar internasional 

3. Mid-centric  

Wisatawan yang berada di antara Allocentric dan 

Psychocentric 

 

 

 


JENIS WISATAWAN BERDASARKAN DAMPAK 

YANG DITIMBULKANNYA 

 

Mwnurut Dama Adhyatma (2008), di samping jenis 

wisatawan yang sudah umum di atas, ada beberapa jenis 

wisatawan yang secara khusus perlu dijelaskan, yakni: 

Family Tourist 

Merupakan wisatawan keluarga yang terbagi atas 

keluarga kecil dengan anggota orang tua dan anak 

maupun keluarga besar yang terdiri dari orang tua, anak, 

paman, bibi, kakek, nenek dan yang lainnya. Mereka 

74 

 

umumnya melakukan perjalanan di waktu liburan, 

sehingga benar-benar ingin menikmati liburannya. 

Dampak positif: a). mampu memberikan keuntungan 

ekonomi secara langsung kepada hotel dan restoran, 

karena perlu kamar yang besar dan makanan yang 

banyak; b). wisatawan jenis ini umumnya menggunakan 

travel agent untuk mengatur jadwal perjalanan, 

sehingga menguntungkan travel agent, sehingga secara 

tidak langsung mengurangi pengangguran; c). anak-

anak mereka biasanya menyukai tempat dan atraksi 

wisata man made; d). memberikan keuntungan kepada 

pengrajin dan penjual sovenier, karena tourist jenis ini 

biasanya akan membeli kenang-kenangan untuk dirinya 

dan kerabatnya. 

Dampak negatif: a). anak-anak biasanya suka bermain 

hingga merusak fasilitas- fasilitas yang ada seperti hotel, 

objek wisata, dan sebagainya; b). agak sulit untuk 

mengelola atau mengatur perjalanannya, karena anak-

anaknya rewel dan dapat merusak atau membatalkan 

jadwal perjalanan. 

75 

 

Hedonistic Tourist 

Wisatawan yang menginginkan kebebasan yang tidak 

mereka dapatkan di negara asalnya, misalnya drug, sex, 

drunk dan sebagainya. Turis jenis ini umumnya dari 

kalangan usia muda dan menyuaki kehidupan malam. 

Dampak positif: a). memberikan keuntungan ekonomi 

kepada hotel dan restoran; b). memberikan keuntungan 

kepada rental mobil atau motor karena turis ini tidak 

suka diatur dan ingin kemanapun mereka inginkan; c). 

memberi keuntungan kepada bar, night club dan 

tempat-tempat night life lainnya. 

Dampak negatif: a). memberikan pengaruh buruk 

terhadap budaya lokal, khusunya remaja karena masih 

sangat labil dan mudah meniru perilaku turis hedonistis 

yang suka minm minuman keras, pakain seksi, merokok, 

dugem, drugs dan lain-lain; b). prostisusi semakin 

meningkat karena adanya permintaan dari turis-turis 

hedonistis; c). muncul dan berkembangnya barang-

barang ilegal, seperti obat-obatan terlarang; d). turis ini 

76 

 

seringkali merusak fasilitas umum dan menyebabkan 

polusi lingkungan.  

 

Backpacker Tourist 

Backpacker adalah jenis turis dengan melakukan 

aktivitas pariwisata dengan dana terbatas dan dengan 

banyak melancong. Oleh Karena itu turis ini biasanya 

menggunakan fasilitas berstandar lokal dengan ciri 

utama menggendong ransel di punggungnya. 

Dampak positif: a). memberikan keuntungan kepada 

penginapan dan makanan berstandar lokal, seperti 

motel dan bungalow; b). turis jenis ini peduli dan ramah 

terhadap lingkungan, karena mereka lebih sering 

melakukan perjalanan dengan berjalan kaki atau dengan 

sepeda gayung; c). mereka mudah berinteraksi dengan 

warga  sekitar, sehingga cepat terjadi akulturasi 

budaya. 

Dampak negatif: a). tidak banyak memberi devisa 

negara, karena turis ini sangat hemat dalam berbelanja 

dan hanya mengeluarkan uang untuk hal yang penting 

 

saja; b).  turis ini juga perlu diwaspadai, karena bisa saja 

mereka melakukan tindakan mencuri karena keadaan 

ekonomi sangat pas-pasan. 

 

Visiting friends and relative’s tourist 

Wisatawan yang mempunyai tujuan tertentu itu 

mengunjungi teman dan kerabatnya. Turis jenis ini 

biasanya dikelola oleh teman maupun kerabatnya 

sendiri mulai tempat tinggal, makan hingga 

transportasi.  

Dampak positif: a). memberikan keuntungan pada objek 

wisata dan atrkasi wisata, karena mereka pasti akan 

diajak oleh kerabatnya untuk menikmati waktunya di 

tempat tersebut; b). memberi keuntungan kepada 

perajin dan penjual sovenier atau oleh-oleh, karena turis 

ini biasanya akan membeli kenang-kenangan untuk 

keluarga dan temannya. 

Dampak negatif: tidak banyak memberikan devisa bagi 

negara, karena segala sesuatunya sudah disediakan oleh 


 

teman atau kerabatnya, seperti akomodasi, makanan, 

transportasi dan sebagainya. 

 

Exursionist Tourist 

Wisatawan yang mengunjugi suatu tempat dalam waktu 

yang kurang dari 24 jam, misalnya penumpang kapal 

pesiar yang singgah ke suatu daerah atau negara 

tertentu. 

Dampak positif: a). hanya akan menguntungkan pusat 

perbelanjaan dan restoran, karena turis hanya 

mempunyai sedikit waktu untuk menikmati tempat 

tujuan atau persinggahannya; b). menguntungkan 

perajin dan penjual sovenier atau oleh-oleh, karena turis 

ini biasanya pasti menyempatkan diri untuk membeli 

sovenier khas daerah yang dikunjungi. 

Dampak negatif: tidak menguntungkan akomodasi, 

tansportasi dan tempat-tempat wisata, karena turis ini 

tidak mempunyai banyak waktu untuk menikmati 

kunjungannya yang hanya sekedar berkunjung atau 

singgah di tempat tersebut. 

79 

 

Educational Tourist 

Wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan 

pendidikan, misalnya untuk belajar maupun studi 

banding di suatu sekolah atau universitas. 

Dampak positif: a). memberikan keuntungan ekonomi 

kepada fasilitas-fasilitas berstandar lokal, seperti kos-

kosan dan makanan lokal; dapat menyebabkan 

pertukaran pikiran dan pertukaran kebudayaan; b). 

dapat mengembangkan suatu sekolah atau universitas 

yang dipilih, sehingga dapat meningkatkan gengsi dan 

akreditas seolah tersebut; c). sebagai sarana politik 

dalam membina hubungan yang baik antar negara 

penerima dengan negara pengirim. 

Dampak negatif: a). tidak menguntungkan dalam 

bidang ekonomi, karena turis jenis ini lebih memilih 

menggunakan fasilitas lokal dari pada memilih fasilitas 

mewah dan modern; b). mereka juga bisa saja memberi 

pengaruh yang buruk terhadap kebudayaan lokal, 

seperti minum minuman keras, free sex, merokok dan 

sebagainya. 

80 

 

Religious Tourist 

Wisatawan yang melakukan perjalanan suci ke tempat-

tempat yang berhubungan dengan agama, misalanya 

kegiatan naik haji, tirta yatra, dan sebagainya. 

Dampak positif: a). menguntungkan akomodasi, 

restoran, tansportasi travel agent; membantu 

mengembangkan daerah yang mempunyai tempat 

ibadah; mengadakan pertukaran budaya dan 

penyebaran ajaran agama; b). turis jenis ini juga 

membeli oleh-oleh khas daerah setempat. Dampak 

negative: a). turis jenis ini terkadang perlu diwaspadai, 

karena mereka bisa menyebarkan ajaran atau aliran 

sesat kepada penduduk lokal. 

 

Snowbird Tourist 

Wisatawan dari negara yang bermusim dingin yang 

melakukan perjalanan ke daerah-daerah tropis. Dampak 

positif: a). menguntungkan ekonomi negara yang 

beriklim tropis, karena pasti akan banyak tourist dari 

negara yang sedang mengalami musim dingin 

81 

 

berdatangan dan menikmati liburan; b). memberikan 

keuntungan kepada tempat dan atraksi wisata, 

terutama yang berhubungan langsung dengan matahari 

dan ingin menikmati panas karena di negaranya sedang 

mengalami musim dingin; c). memberikan keuntungan 

kepada hotel, travel agent, restaurant, perajin dan 

penjual sovenier sebagaipenyedia barang dan jasa baik 

berupa akomodasi, transportasi maupun penyedia 

makanan dan minuman. 

Dampak negatif: daerah dingin biasanya lebih sepi dan 

kurang diuntungkan, karena turis jenis ini umumnya 

menyukai matahari dan ingin menikmati panas karena di 

negaranya sedang mengalami musim dingin. 

 

Disable tourist 

Disable tourist adalah jenis turis yang mempunyai 

kekurangan fisik atau cacat. Dampak positif: a). 

memberikan keuntungan ekonomi secara langsung 

kepada hotel, restaurant, dan travel agent; b). 

memberikan keuntungan kepada tourist attraction 

82 

 

terutama yang bersifat natural, karena turis jenis ini 

lebih merasa nyaman berada di daerah yang memiliki 

keindahan alam. Dampak negatif: pengelolaan tourist 

jenis ini lebih sulit dibandingkan dengan turis lain, 

karena harus ekstra waspada dan membuat jadwal yang 

sesuai dengan fisiknya. 

 

Social tourist 

Social tourist adalah jenis turis yang melakukan 

perjalanan bukan untuk berlibur, melainkan mencari 

sponsor di suatu negara. Dampak positif: a). 

memberikan keuntungan kepada hotel atau motel 

sebagai tempat peristirahatan para social tourist; b). 

menciptakan hubungan yang baik antara negara 

penerima dengan pengirim tourist, sehingga dapat 

tercipta suasana tolong menolong antar negara. 

Dampak negatif: turis jenis ini tidak banyak memberikan 

devisa bagi negara, karena tujuannya bukan berlibur 

melainkan melakukan aksi sosial atua mencari sponsor 

di suatu negara untuk tujuan tertentu. 


KARAKTERISTIK WISATAWAN 

Beberapa pengelompokan wisatawan berdasarkan 

karakteristik perjalanannya dapat dilihat pada table 

berikut: 

 

No Karakteristik Pembagian 

Lama waktu 

perjalanan 

1-3 hari 

4-7 hari 

8-28 hari 

29-91 hari 

92 -365 hari 

Jarak yang 

ditempuh 

Dalam kota 

Luar kota (satu propinsi) 

Luar kota (lain propinsi) 

Luar negeri 

Waktu melakukan 

perjalanan 

Hari biasa 

Akhir pekan/minggu 

86 

 

No Karakteristik Pembagian 

Non komersial (rumah 

tangga/saudara/keluarga) 

Laut (cruise/feri) 

4 Teman perjalanan  

Sendiri 

Keluarga 

Teman sekolah 

Teman kantor 

Pengorganisasian 

perjalanan 

Sendiri 

Keluarga 

Sekolah 

Kantor 

Biro perjalanan wisata 

Sumber: Smith, 1989 

 

Karakteristik sosio demografis wisatawan 

No Karakteristik Pembagian 

1 Jenis kelamin 

Laki – laki  

Perempuan 

2 Umur 

0-14 tahun 

15-24 tahun 

25-44 tahun 

45-64 ahun 

>65 tahun 

3 Tingkat pendidikan 

Tamat SD 

SD 

SLTP 

SMU 

Diploma/sarjana(s1) 

Pasca sarjana (S2, S3) 

87 

 

No Karakteristik Pembagian 

4 Kegiatan 

Bekerja (PNS/swasta, 

profesional dll) 

Tidak bekerja (ibu rumah 

tangga) 

Pelajar/mahasiswa 

5 Status perkawinan 

Belum menikah 

Menikah 

Cerai 

Jumlah anggota 

keluarga dan 

komposisinya 

1 orang 

Beberapa orang tanpa anak 

dibawah 17 tahun 

Beberapa orang dengan 

anak di bawah 17 tahun 

 Tipe keluarga Belum menikah 

Menikah, belum punya anak 

Menikah anak <6tahun 

Menikah, anak usia 6 – 17 

tahun 

Menikah, anak anak usia 18 

– 25 tahun 

Menikah, anak usia >25 

tahun tidak tinggal dengan 

orangtua (empty ness) 

Sumber: Smith (1989) 

 

Karakter sosio-demografis juga berkaitan satu dengan 

lainnya secara tidak langsung. Misalnya tingkat 

pendidikan seseorang dengan pekerjaan dan tingkat 

pendapatannya, serta usia dengan status perkawinan 

88 

 

dan ukuran keluarga. Pembagian wisatawan 

berdasarkankarakteristik sosio – demografisini paling 

nyatakaitannya dengan pola berwisata mereka. Jenis 

kelamin maupun kelompok umur misalnya berkaitan 

dengan pilhan jenis wisata yang dilakukan seaton & 

Bennet (1996) jenis pekerjaan seseorang ataupun tipe 

keluarga akan berpengaruhpada waktu luang yang 

dimiliki orang tersebut, dan terlebih lanjut pada 

kemampuannya berwisata. Hal ini digambarkan melalui 

tabel berikut: 

 

No 

Kelompok Sosio 

ekonomi menengah-

bawah 

Kelompok sosio-

ekonomi menengah – 

atas 

1 - Pendidikan yang rendah 

- Pendidikan yang 

lebih baik 

2 - Pendapatan yang kecil 

- Memiliki pendapatan 

yang besar 

 

- Keahlian menengah 

seseorang 

- Orang yang 

professional 

- Menunjukkan minat 

mereka terhadap 

atraksi-atraksi dan 

melontarkan beberapa 

pertanyaan lebih pasif 

- Menduduki jabatan 

yang tinggi akan 

lebih tertarik untuk 

mempelajari 

kebudayaan dan 

lingkungan. 

89 

 

No 

Kelompok Sosio 

ekonomi menengah-

bawah 

Kelompok sosio-

ekonomi menengah – 

atas 

- Banyak 

mengeluarkan 

pertanyaan tetapi 

cenderung untuk 

membanggakan 

pengetahuannya dan 

agak sulit untuk 

ditangani. 

- Kurang fleksible 

terhadap program tour 

- Lebih fleksibel dalam 

memilih acara tour 

 

- Kurang mampu 

beradaptasi dalm 

keadan darurat 

- Lebih cenderung 

untuk bersosialisasi 

dan berbaur dengan 

penduduk setempat 

- Kurang menyukai 

hubungan dengan 

warga  setempat 

dan anggota kelompok 

lainnya maupun dengan 

pemandu wisata 

- Lebih cepat dalam 

mengatasi segala 

permasalahan yang 

muncul. 

- Biasanya tidak 

mengharapkanfasilitas 

dan pelayanan kelas 

satu tetapi kadang-

kadang mungkin 

menunjukkan rasa 

pecaya diri 

- Membutuhkan 

fasilitas yang 

berkualitas tinggi 

 


DETERMINASI PERJALANAN WISATA 

 

Pengertian Determinasi Perjalanan Wisata 

Determinasi dalam perjalanan wisata merupakan faktor 

yang memungkinkan seseorang melakukan perjalanan 

wisata ke suatu tempat atau daerah di luar tempat 

tinggalnya. Adanya cukup biaya dan cukup waktu serta 

faktor lainnya merupakan determinan yang kuat bagi 

sesorang untuk melakukan perjalanan wisata. Di bawah 

ini ada beberapa hal yang menjadikan seseorang 

melakukan wisata, yakni: 

 

 

Faktor-faktor yang menjadi determinan Perjalanan 

Wisata 

1. Pengaruh Demografi 

Dalam hal ini yang menyangkut demografi adalah 

yang berhubungan dengan kependudukan seperti 

umur seseorang, keluarga, pendidikan, pekerjaan 

dan konsentrasi penduduk di suatu daerah. 

Umur 

Tingkat umur mempengaruhi keputusan berwisata. 

Umumya orang muda cenderung lebih sering dan 

berminat berwisata dari pada orang yang sudah 

lanjut usia. Hal ini disebabkan karena pertimbangan 

akan keadaan fisik yang dapat terganggu saat 

mengadakan perjalanan wisata, sehingga mereka 

lebih aman dan nyaman tinggal dalam rumah. 

Keluarga 

Keluarga muda dengan anak-anak yang masih kecil 

biasanya lebih jarang melakukan perjalanan wisata. 

Jika hal ini dilakukan, maka mereka memilih 

perjalanan jarak dekat dengan kendaraan pribadi. 


 

Pendidikan 

Golongan warga  berpendidikan lebih tinggi 

cenderung lebih sering berwisata dari pada mereka 

yang berpendidikan lebih rendah. Hal ini ada 

hubungannya dengan keinginan unutk menambah 

pengalaman melalui kunjungan ke daerah lain, 

sebagai suatu ciri orang yang berpendidikan 

keinginan tahunya lebih menonjol. 

Pekerjaan 

Jenis pekerjaan yang makin sedikit menggunakan 

tenaga manusia berpengaruh pula terhadap 

kelompok yang akan mengadakan perjalanan wisata. 

Penduduk dengan mata pencaharian sebagai petani, 

minat dan keinginan berwisata tidak menonjol 

karena tenaga dan waktu dipergunakan untuk usaha 

pertanian. Lain halnya dengan warga  industri, 

pengaturan waktu kerja dan libur sudah berpola, 

sehingga memungkinkan untuk perjalanan wisata 

lebih sering dilakukan. 

 


 

Konsentrasi penduduk 

Di kota-kota besar dengan konsentrasi penduduk 

lebih padat karena urbanisasi, maka frekwensi 

berwisata dari penduduk kota lebih besar. Hal ini 

disebabkan karena kejenuhan akibat tingkat 

kebisingan yang tinggi, sehingga mereka ingin 

melepaskan diri dari suasana tersebut dengan 

berwisata ke tempat lain. 

Perubahan kedudukan dan peranan wanita dalam 

warga  

Dalam warga  modern banyak wanita 

profesesional dan memegang jabatan penting 

dengan penghasilan yang besar, sehingga kaum 

wanita tidak hanya datang berwisata dengan 

keluarga atas biaya suami. Dengan demikian, akan 

semakin banyak wanita dalam jumlah yang bisa 

berwisata atas biaya sendiri. 

 

 

 

 

2. Pengaruh Faktor lain 

Transportasi 

Perkembangan saran transportasi yang sangat pesat 

pada abad ke 20 menyebabkan pariwisata makin 

maju. Dengan menggunakan angkutan bermotor dan 

khusunya pada perang dunia II, banyak dipergunakan 

angkutan udara maka perjalanan wisata lebih cepat, 

nyaman dan relatif murah dan diatur secara reguler. 

Pada tahun 1963 mulai diperkenalkan angkutan 

udara dihubungkan dengan paket wisata. 

Agen Perjalanan dan Biro Perjalanan Wisata 

Agen perjalanan ini bertindak sebagai penyedia jasa 

utama seperti usaha penerbangan, perhotelan dan 

atraksi wisata. Sedangkan biro perjalanan berfungsi 

menyiapkan paket wisata yang terdiri dari 

komponen-komponen jasa dalam satu kesatuan 

harga. 

Promosi pariwisata  

Promosi pariwisata sangat penting untuk 

memperkenalkan atraksi wisata yang ada di suatu 


 

negara, sehingga calon wisatawan mengetahui 

obyek wisata. Promosi pariwisata biasanya dilakukan 

oleh agen perjalanan, usaha akomodasi maupun 

dilakukan oleh pemerintah yang menangani 

pariwisata di daerah tujuan wisata. Perkembangan 

sistem komunikasi sangat berperan dalam kegiatan 

promosi pariwisata, sehingga aktivitas promosi 

meluas melalui berbagai media cepat dilakukan. 

 


DAMPAK PARIWISATA 

 

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang secara 

langsung menyentuh dan melibatkan warga , 

sehingga membawa berbagai dampak terhadap 

warga . Bahkan parwisata juga mempunyai energi 

dobrak yang luar biasa dan mampu membuat 

warga  setempat mengalami metamorfosa dalam 

berbagai aspeknya.  

 

 


 

Dampak Sosial Ekonomi 

Dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi 

warga  lokal dapat dikategoriakan ke dalam 

delapan kelompok besar (Cohen, 1984), yakni: 1). 

dampak terhadap penerimaan devisa; 2). dampak 

terhadap pendapatan warga ; 3). dampak terhadap 

kesempatan kerja; 4). dampak terhadap harga-harga; 5). 

dampak terhadap distribusi manfaat atau keuntungan; 

6). dampak terhadap kepemilikan dan control; 7). 

dampak terhadap pembangunan pada umumnya; dan 

8). dampak terhadap pendapatan daerah 

 

Dampak Sosial Budaya 

Secara teoritik-idealis antara dampak sosial dan dampak 

kebudayaan dapat dibedakan, namun Mathieson and 

Wall (1982:37) menyebutkan bahwa theres is no clear 

distinction between social and cultural phenomena, 

sehingga sebagian besar ahli menggabungkan dampak 

sosial dan dampak budaya. Douglas (1996) 

menyebutkan bahwa berbagai dampak sosial budaya 


 

yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai 

dampak pariwisata semata-mata. Sebab, pariwisata 

sudah terjalin erat dengan berbagai aktivitas lain yang 

mungkin pengaruhnya lebih besar atau sudah 

terpengaruh jauh sebelum pariwisata berkembang. 

Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokkan dampak 

soisla budaya pariwisata ke dalam sepuluh kelompok 

besar yakni: 1). dampak terhadap keterkaitan dan 

keterlibatan antara warga  setempat dengan 

warga  yang lebih luas termasuk tingkat ekonomi 

atau ketergantungannya; 2). dampak terhadap 

hubungan antar personal antara anggota warga ; 

3). dampak terhadap dasar-dasar 

organisasi/kelembagaan sosial; 4). dampak terhadap 

migrasi dari sayu daerah ke daerah pariwisata; 5). 

dampak terhadap ritme kehidupan sosial warga ; 

6). dampak terhadap pola pembagian kerja; 7). dampak 

terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial; 8).  dampak 

terhadap dsitribusi pengaruh dan kekuasaan; 9). 

dampak terdap meningkaynya penyimpangan – 


 

penyimpangan social; 10). dampak terhdap bidang 

kesenian dan adat isitiadat. 

 

Dampak terhadap eksistensi oraganisasi sosial 

tradisional  

Pada beberapa daerah, pariwisata dikatakan telah 

menghancurkan sifat-sifat kolektivitas warga , 

menurunnya self conformity digeser oleh 

indisvidulaisme pragmatis. Namun ini tidak sepenuhnya 

benar, dapat dilihat dari kasus Bali. Steven Lansing 

(1974) secara meyakinkan menyimpulkan bahwa 

solidaritas banjar di daerah-daerah pariwisata di Bali 

tidak berubah dibandingkan dengan sebelum 

kedatangan wisatawan. Dimana organisasi sosial seperti 

desa pekaraman dengan banjarnya, subak, pemaksaan 

masih tetep kokoh dengan berbagai sifat ke-Bali-annya. 

 

Dampak pariwisiata terhadap mobilitas sosial 

Greenwood (1972) mengatakan bahwa pariwisata 

mempunyai dampak yang sangat besar terhadap 


 

mobilitas vertical. Perkembangan ekonomi yang 

disebabkan oleh pariwisata menyebabkan tumbuhnya 

berbagai kelas menengah baru yang senantiasa ada 

dalam situasi kompetisi dengan kelas menengah yang 

telah ada sebelumnya. Stratifikasi yang sebelumnya 

berdasarkan darah dan keturunan pun beralih kepada 

dasar-dasar baru yang lebih mengutamakan aspek-

aspek ekonomi.  

 

Dampak terhadap kesenian, adat istiadat, dan agama 

Naya Sujana (1989) menulis bahwa dewasa ini 

berangsur-angur budaya Bali menjadi cair dan kemudian 

hanyut dalam budaya dunia yang semakin kuat dalam 

lalu lintas pariwisata. Secara singkat dikatan bahwa 

kebudayaan Bali telah mengalami erosi yang dapat 

dilihat dari: 1). munculnya demonstration effect yaitu 

adanya kecendrungan penduduk lokal untuk meniru 

gaya hidup wisatawan, tanpa mempertimbangkan 

kebudayaannya sendiri, misalnya tingkat toleransi yang 

semakin tinggi terhadap perilaku menyimpang, 


 

pemujaan terhadap kesenian barat, dan orientasi yang 

berlebihan terhadap busana buatan luar negeri; 2). 

terjadinya komoditisasi terhadap kebudayaan; 3). 

terjadinya penurunan kualitas hasil kesenian; 4). 

profanisasi kesenian sakral, kegiatan ritual dan tempat 

suci. 

 

Dampak terhadap komodifikasi, otentisitas dan 

identitas lokal 

Komodifikasi dan authenticity (keaslian) selalu menjadi 

topik yang muncul dalam setiap pembicaraan dampak 

pariwisata terhadap sosial budaya masyarkat setempat. 

McNaught (1982) mengatakan bahwa pariwisata telah 

mencabut warga  dari bentuk asli budayanya 

karena tuntutan wisatawan. Para wisatawan 

mengeluhkan bahwa tari-tarian telalu pankag, lamban 

dan monoton. Sebagai antipasinya “broker-broker” 

kebudayaan yaitu mereka yang bergerak dalam 

pariwisata memaksa warga  untuk mengubah 

pertunjukan tersebut agar sesuasi dengan keinginan 


 

wisatawan. warga  dengan cepat kehilangan 

keaslian dan identitiasnya, sebagai akibat kecendrungan 

warga  untuk meniru pola hidup wisatawan dengan 

kebudayaan yang di bawanya. 

 


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH