Tampilkan postingan dengan label Tarot Indonesia 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarot Indonesia 3. Tampilkan semua postingan

Tarot Indonesia 3

 




Aurobindo, Indra Sen, Haridas Chaud- 

huri, dan Ken Wilber. Psikologi integral mencoba menga- 

itkan berbagai mazhab yang ada ke dalam suatu kesatuan. 

Mereka mencoba membuat sebuah pendekatan holistis 

yang memperhitungkan semua aliran pemikiran yang su- 

dah ada. 

 

 

5.1.6 Positif 

 

Psikologi positif membedakan dirinya dari mazhab lain 

melalui cara pandang terhadap manusia dan kehidupan. 

Psikologi positif melihat sisi baik dari manusia dan me- 

nempatkan misteri di depan perjalanan hidup manusia 

sebagai kekuatan. Kata positif di sini tidak berhubungan 

dengan positivisme, namun  lebih pada bagaimana melihat 

kehidupan dan diri manusia sebagai sesuatu yang baik 

adanya. Tokoh psikologi positif yang terkenal yaitu  Mar- 

tin Seligman dengan konsep Authentic Happiness-nya. 

 

 

5.2 Psikologi Tarot dan Psikologi Simbol 

 

Psikologi tarot yaitu  pendekatan psikologi yang berada 

di bawah psikologi simbol sebab  seorang tarot reader 

bekerja berdasarkan simbol-simbol arkais yang ada da- 

lam tarot. Simbol-simbol ini membawa pesan yang si- 

fatnya nomotetis sekaligus idiosinkratik. Nomotetis, ka- 

rena simbol-simbol arkais ini sebenarnya berulang terus

 

 

 

 

108                                                                                                                                                                                             109


 

sepanjang waktu dan di berbagai tempat dalam pola yang 

sama. Simbol-simbol ini banyak ada  dalam mite. Itu- 

lah sebabnya semua mite dapat dibuatkan kartu tarot- 

nya. Idiosinkratik, sebab  pemaknaannya tidak bersifat 

logosentris. Artinya, sekalipun keluar kartu yang sama 

pada orang yang berbeda, pemaknaannya tidak akan per- 

nah sama. Ini yang membedakan antara kartu tarot de- 

ngan kartu Thematic Apperception Test (TAT), Rorschach, 

dan tes-tes proyeksi dalam psikologi. Mengapa demikian? 

sebab  kartu TAT dan Rorschach bekerja dengan hukum 

psikoanalisis yang berfokus pada nirsadar personal (ido- 

sinkratik), sehingga perlu dibuat panduan (nomotetis). 

Sedangkan kartu tarot bekerja berdasarkan nirsadar 

kolektif (nomotetis) dan pewacanaannya harus bisa me- 

masuki nirsadar personal (idiosinkratik). 

Baik tarot maupun kartu-kartu proyeksi dalam psi- 

kologi sama-sama mempunyai potensi terjebak dalam 

kedangkalan pemaknaan. Hal itu terjadi ketika si konse- 

lor atau pewacana gagal untuk meng-connect-kan dirinya 

dengan klien. Pada titik ini, yang terjadi yaitu  psikologi 

ego yang mencoba mendefinisikan klien sesuai pema- 

haman diri. Situasi inilah yang harus dihindari dengan 

melakukan latihan terus-menerus untuk melatih kepe- 

kaan. 

Dalam psikologi tarot, tugas Anda yaitu  menolong 

sesama melalui sugesti, pengajaran kebijaksanaan, dan 

pemaknaan. Penulis mengasumsikan bahwa Anda yang 

membaca buku ini memiliki minat mempelajari psikologi 

untuk mengombinasikannya dengan tarot. Ukuran keber- 

hasilan dalam mempelajari buku ini yaitu : 

2.   Anda  dapat  menjawab  pertanyaan  apa  itu  tarot 

tanpa terjebak dalam kesalahan pemahaman sep- 

erti: Tarot yaitu  klenik, tarot berhubungan dengan 

kekuatan setan, tarot yaitu  ramalan bohong, dan 

sejenisnya. 

3.   Anda dapat menyadari bahwa hidup manusia me- 

mang fana, namun  dalam kefanaan itu ada ke-Ilahi- an 

yang juga berlangsung, yang dapat dilihat bahwa 

dalam hidup ada  sinkronisasi, serta bagaima- 

na sinkronisasi tersebut berlangsung dalam hidup 

Anda. 

4.   Melihat bahwa tarot yaitu  sebuah media yang ne- 

tral, sebab  tak mengandung ideologi, bias gender, 

rasialisme, nondogmatik, tak melakukan judgment, 

tak membuat orang menjadi kehilangan kehidupan- 

nya akibat kategori bodoh, pintar, superior, dan se- 

bagainya. 

5.   Melihat bahwa tarot dapat membawa pada pema- 

haman yang jernih dan mendalam terhadap kehi- 

dupan masing-masing orang. Sebagai sebuah media 

untuk konseling, tarot memiliki kemampuan akses 

yang jauh lebih mendalam dibanding konseling kon- 

vensional. 

Jadi, secara umum psikologi tarot memang memiliki 

kedekatan dengan psikologi transpersonal. Hal yang 

paling kentara yaitu  psikoanalisis Jung. Namun, pada 

bagian-bagian tertentu, ia memiliki perpotongan juga 

dengan humanistis, behavioris, positif, dan terutama 

sekali psikoanalisis.

1.   Anda dapat melihat tarot sebagai sesuatu yang da- 

pat diakses dan diterapkan dalam kehidupan manu- 

sia, dengan latar apa pun. 

 

 

 

 

110                                                                                                                                                                                             111


 

5.3 Tarot, Psikologi Simbol, dan Pikiran 

Bawah Sadar 

 

Pada tarot, 22 kartu arkana mayor yaitu  arketipe-arke- 

tipe yang eksis pada tataran nirsadar kolektif. Arketipe- 

arketipe ini sebenarnya aktif menyampaikan pesan-pesan 

kehidupan pada manusia. Hal ini dapat dilihat pada ber- 

bagai mite yang bermunculan. Jika ditelaah, ada kemirip- 

an dari berbagai mite itu. Itulah sebabnya mengapa tarot 

banyak yang dibuat berdasarkan mite. Sedangkan kartu- 

kartu yang berada pada arkana minor memiliki kemirip- 

an dengan empat fungsi kepribadian Jung (rasio, emosi, 

intuisi, pengindraan). 

Dalam Kejawen, kita mengenal sedulur papat limo 

pancer. Pancer yang yaitu  diri, atau ego, dapat disejajar- 

kan dengan arkana mayor. Sementara sedulur papat yang 

dalam Kejawen yaitu  empat arah mata angin, dapat di- 

sejajarkan dengan arkana minor yang memiliki empat 

unsur (Swords, Wands, Cups, Pentacles). 

Adanya pola seperti yang telah penulis gambarkan 

tersebut   mengindikasikan   bahwa   penggunaan   kartu 

tarot untuk mencari solusi dari masalah kehidupan bu- 

kanlah suatu game of chance. Penggunaan tarot bukanlah 

memakai  prinsip random, namun  sinkronisasi. Sin- 

kronisasi mendalilkan bahwa segala sesuatu berhubun- 

gan dengan sesuatu lainnya di alam fisik ini sebab  me- 

mang ada koneksi di dimensi nirsadar koletif, yang meru- 

pakan Dimensi Spiritual. Spiritual bukan sekadar dalam 

artian keagamaan, namun  di sini, berarti pula penyatuan 

apa yang transenden dan imanen. Nirsadar kolektif ada- 

lah penghubung manusia dengan semesta dan segala 

kekuatannya. Kekuatan inilah yang mengabulkan doa-doa 

manusia dan menjaga keseimbangan kosmis di dalam- 

nya. Alam bawah sadar dari pewacana tarot dan penanya 

akan berinteraksi melalui nirsadar kolektif sehingga apa 

yang muncul dalam bentuk kartu-kartu yang tercabut bu- 

kanlah hasil kebetulan belaka, namun  jawaban yang dicari 

oleh si penanya. 

Semua solusi yang dicari oleh penanya sebenarnya 

telah dijawab oleh Sang Kekuatan Semesta, namun  masih 

berada di dalam alam bawah sadar si penanya. Melalui 

tarot, alternatif solusi itu dibawa ke atas meja dalam ben- 

tuk simbol-simbol yang muncul di kartu-kartu itu. Simbol- 

simbol itu diinterpretasikan dan dikomunikasikan kepa- 

da kesadaran si penanya yang akhirnya dapat mengerti, 

menerima, dan menjalankannya. Dengan demikian, tarot 

bukanlah ramalan. Sebaliknya, tarot justru bentuk elit dan 

bonafide untuk melakukan pemahaman spiritual yang da- 

pat dilakukan secara mandiri. Perkembangan pemikiran 

dan teknologi membuat manusia cenderung hanya ber- 

pikir linier, ini membuat dalam banyak hal manusia ter- 

putus dengan ketuhanan. Melalui tarot, pengetahuan, ke- 

bijaksanaan, dan kesejatian kebenaran dapat ditemukan. 

Tarot yaitu  suatu sistem simbolis yang menghubungkan 

semua manusia di dunia. 

Pada  dasarnya,  pewacanaan  tarot  yaitu   proyeksi 

dari saat ini ke saat tertentu di masa depan. Mereka yang 

berlatar belakang matematika mungkin lebih mudah 

mengerti penjelasan tersebut, sebab  sama persis se- 

perti memproyeksikan suatu titik koordinat (X,Y) di satu 

bidang ke bidang lainnya di seberang axis X atau axis Y. 

jika  titik koordinat yang baru (X1,Y1) ternyata tidak 

sesuai dengan keinginan, apa yang harus dilakukan? 

Tentu saja kita harus mengubah titik koordinat asal (X,Y) 

sehingga titik koordinat yang diproyeksikan itu (X1,Y1) 

akan jatuh di tempat yang diinginkan. Begitu pula de-

 

 

 

 



 

ngan “ramalan”. jika  ternyata yang diramalkan jelek, 

berarti ada sesuatu yang harus diubah saat ini sehingga 

masa depan yang diramalkan itu akan menjadi baik. Bi- 

asanya yang harus berubah yaitu  si penanya sendiri, 

bukan orang lain atau lingkungannya. jika  si penanya 

mau berubah seperti yang disarankan, otomatis masa de- 

pannya akan menjadi baik. 

Pada titik ini, sebenarnya cara kerja kartu tarot dapat 

dipahami secara rasional. Bahkan apa yang diwacana- 

kan/diramalkan selalu logis dan rasional. Kita manusia 

paska-modern tidak dapat lagi diiming-imingi dengan 

segala takhayul dari masa lalu. Keparanormalan yang 

berselaput takhayul sudah masanya untuk lewat, dan 

tarot sebagai bagian dari keparanormalan sudah sehar- 

usnya menyesuaikan diri. Pewacana tarot yang baik ada- 

lah seorang rasional yang mengandalkan doa/meditasi 

dan pemberian alternatif solusi yang logis dan rasional. 

Dengan demikian, ia tak terjebak dalam empirisme yang 

mematikan kehidupan dan pertumbuhan, tak pula terh- 

anyut dalam takhayul yang menyesatkan. 

Tarot bekerja atas dasar arketipe, sama dengan mite. 

Arketipe-arketipe ini sebenarnya menyampaikan pesan 

bagi kehidupan manusia. Pesan untuk apa? Untuk mem- 

beri isyarat akan “arah” perjalanan individuasi manusia. 

Individuasi inilah yang akan mengangkat manusia untuk 

tak terjebak dalam nihilisme kehidupan. 

Individuasi yaitu  proses menjadi diri, realisasi diri. 

Individuasi yaitu  perwujudan secara berangsur-angsur 

dari tendensi individu untuk mencapai keutuhan psikis, 

di mana ketegangan dari perlawanan-perlawanan kom- 

plementer dan kompensatoris antara kesadaran dan alam 

nirsadar dalam kepribadian seseorang dapat didamaikan 

melalui lambang pemersatu yang integratif dan yang su- 

dah ada dalam psikenya sendiri, yaitu self (Diri)5. 

Dalam psikologi Jungian, setiap manusia melakukan 

perjalanan menuju individuasi dan perjalanan ini hanya 

mungkin terjadi ketika manusia merefleksikan “tanda- 

tanda” yang muncul dalam perjalanan itu. Sayangnya, 

banyak orang sudah tak bisa lagi membaca tanda-tanda 

itu sebab  telah terbatasi oleh hal-hal seperti kemasuk- 

akalan, empirisme, rasionalisme, positivisme, dan sejenis- 

nya. Untuk menangkap makna tanda-tanda itu, manusia 

harus keluar dari kungkungan semua hal itu. Tarot di sini 

yaitu  sebagai sarana untuk membantu manusia keluar 

dari kungkungan itu dan menangkap pesan dari semesta 

bagi kehidupannya.

 

5    Carl Gustav Jung. 1989. Memperkenalkan Psikologi 

Analistis: Pendekatan Terhadap Ketaksadaran (saduran G. 

Cremers). Jakarta: Penerbit Gramedia; hal. 16. 

 

 

 


 

Tarot:  Klenik atau Ilmiah? 

 

“The truth has never been of any real value 

to any human being – 

it is a symbol for mathematicians and philosophers to pursue. 

In human relations kindness and lies are worth a thousand truths.” 

–Graham Greene 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL 

Apakah tarot termasuk klenik? 

Pertanyaan-pertanyaan senada 

pernah dilontarkan sehubungan 

dengan buku Psikologi Tarot yang 

penulis tulis. Pertanyaan tersebut 

umumnya dilontarkan oleh me- 

reka yang memiliki background 

psikologi, sebab  buku tersebut 

memakai  judul Psikologi Ta- 

rot, yang berarti mengombinasi- 

kan antara psikologi sebagai ilmu 

dan pembacaan kartu tarot. 

Lalu,  bagaimana  sebenarnya 

pemahaman kriteria ilmiah menu- 

rut mereka? Ternyata, menurut mereka, kriteria ilmiah 

yaitu  dapat direplikasi dengan hasil yang sama. Ketika 

ditanya lebih jauh: Mengapa kriteria ilmiah seperti yang 

disebutkan? Mereka, secara umum, menjawab: “Begitu- 

lah yang diajarkan waktu kuliah”.


aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pencerahan 

William Wollaston, 

Anthony Collins, 

John Troland, 

Pierre Bayle, Denis 

Diderot, Jean le 

Rond, De la Metrrie, 

Condillac, Helvetius, 

Holbach, Voltaire, 

Montesquieu, De 

Nemours, Quesnay, 

Turgot, Rousseau, 

Thomasius, Ch. 

Wolff, Reimarus, 

Mendelssohn, Less- 

ing, dan lain-lain 

 

 

 

Setiap penjelasan didukung oleh 

sumber primer dan legitimasi untuk 

otoritas. 

 

Immanuel Kant mendefisiniskan se- 

bagai kebebasan memakai  kecer- 

dasan intelektual. 

 

Inilah masa di mana pusat kebenaran 

bergeser dari hati nurani menuju 

pada rasio. 

 

 

 

Rasionalisme 

 

Rene Descartes, 

Baruch de Spinoza, 

Leibniz, Blaise 

Pascal 

Rasionalisme lebih merupakan me- 

tode atau suatu teori yang menem- 

patkan kriteria kebenaran bukan ber- 

dasar sensoris melainkan intelektual 

dan cara berpikir deduktif. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Empirisme 

 

 

 

 

 

 

 

Thomas Hobbes, 

John Locke, George 

Berkeley, David 

Hume 

Empirisme yaitu  teori untuk 

memperoleh pengetahuan yang 

mengedepankan pengalaman sebagai 

sumber munculnya pengetahuan. 

 

Empirisme yaitu  sejumlah cara 

pandang mengenai bagaimana kita 

mengetahui “sesuatu”. 

 

Empirisme merupakan pengembang- 

an dari apa yang dalam filsafat dike- 

nal sebagai epistemologi. 

 

Empirisme menekankan pada peran 

pengalaman dan bukti, khususnya 

yang diperoleh dari persepsi sensoris. 

 

 

 

 

Idealisme 

 

 

 

Kant, Fichte, Schell- 

ing, Hegel, 

Schopenhauer 

Idealisme yaitu  teori filosofis yang 

menekankan pemahaman bahwa titik 

alami yang ultima dari realitas yaitu  

berdasar pada pikiran atau ide. Apa 

yang kita pahami sebagai “dunia riil” 

tak akan bisa dipisahkan dari pikiran, 

kesadaran, maupun persepsi. 

 

 

 

Pemahaman mengenai “ilmiah” semacam itu jelas 

bukan cara memahami secara ilmiah melainkan klenik, 

yaitu mengandalkan kepercayaan buta atas apa yang 

sebenarnya tak dipahami secara mendalam asal usulnya. 

Jika kita mau bicara tentang keilmiahan, kita harus pa- 

ham secara mendalam mengenai semesta pengetahuan, 

terutama apa yang mendasari ilmu pengetahuan, yaitu 

filsafat. Memahami suatu ilmu dan mengklaim pemaham- 

annya ilmiah namun  tanpa tahu dasar filosofisnya, sama 

saja dengan sebuah pemahaman yang muncul dari dasar 

laut. 

Orang yang memahami filsafat akan tahu bahwa ada 

begitu banyak aliran pemikiran yang menjadi dasar pen- 

jelasan keilmiahan suatu fenomena kehidupan. Secara 

garis besar, aliran-aliran tersebut digambarkan sebagai 

berikut: 

 

 

aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas 

 

 

 

 

 

 

 

Renaissance 

 

 

 

 

 

 

Machiavelli, Gior- 

dano Bruno, Francis 

Bacon 

 

Renaissance dapat diartikan “kela- 

hiran kembali”. Secara umum 

sebenarnya merupakan gerakan kul- 

tural yang meliputi berbagai aspek di 

Eropa. Inti dari masa ini yaitu  pem- 

berontakan atau pembacaan secara 

berbeda nilai-nilai kuno (terutama 

Yunani dan Romawi) dibanding apa 

yang sebelumnya telah dimapankan 

di abad pertengahan. Namun, Renais- 

sance menjadi awal dari munculnya 

era pencerahan atau Aufklärung. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

118                                                                                                                                                                                             119


aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas 

 

 

 

 

 

 

 

Materialisme 

 

 

 

 

 

 

 

Feuerbach, Marx 

Filosofi materialisme berpegang bah- 

wa hanya hal yang eksis yang layak 

diperhitungkan, dan ini merupakan 

bentuk lain dari fisikalisme. 

 

Secara mendasar, segala hal dikompo- 

sisi oleh materi dan semua fenomena 

(termasuk kesadaran) yaitu  hasil 

dari interaksi materi. Oleh sebab  itu, 

materi yaitu  satu-satunya substansi. 

Sebagai suatu teori, materialisme 

termasuk dalam klasifikasi ontologi 

monisme. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eksistensial- 

isme 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kierkegaard, 

Nietzche 

Eksistensialisme yaitu  istilah yang 

diterapkan pada pemikiran sejumlah 

filsuf yang muncul antara abad 19 

hingga 20. 

 

Mereka menempatkan manusia se- 

bagai subjek, namun  bukan subjek 

berpikir ala Cartesian melainkan 

subjek yang tampak dalam perilaku- 

nya, perasaannya, serta individualitas 

kehidupannya, yang semua itu meru- 

pakan bagian dari eksistensinya, atau 

“Ada”-nya di dunia. 

 

Filsafat Eksistensialisme dapat dike- 

nali dari konsepnya mengenai mani- 

festasi eksplisit, sikap eksistensial- 

isme manusia, yang umumnya dimulai 

dari disorientasi atau kegundahan 

sebab  perasaan tak bermakna atau 

dunia yang absurd. 

 

Eksistensialis memiliki kredo: Eksis- 

tensi mendahului Esensi. 

 

 

 

aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konservatisme 

dan Anarkisme 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

De Maistre, De Bon- 

ald, Chateaubriand, 

De Lamennais, 

Destutt de Tracy, 

De Volney, Cabanis, 

De Biran, Fourier, 

Saint-Simon, 

Proudhon 

Konservatisme yaitu  istilah yang 

akrab di dunia politik dan sosial. 

Istilah ini berasal dari bahasa Latin 

conservere yang artinya untuk menga- 

mankan atau memelihara. Konser- 

vatisme mengindikasikan adanya 

dukungan pada tradisi dan nilai tra- 

disional, meskipun makna dari nilai 

tersebut telah berubah di berbagai 

negara dan seiring periode waktu. 

 

Anarkisme yaitu  filosofi politik yang 

menyilangkan antara teori dan sikap 

yang muncul sebagai pernyataan 

untuk mereaksi hal yang dianggap 

tidak penting, tidak tepat, atau tidak 

diinginkan. 

 

Tak ada definisi tunggal untuk men- 

jelaskan posisi anarkis, dan apa yang 

menjadi tujuan anarkis yaitu  untuk 

(selalu) menata ulang suatu yang te- 

lah secara familier diterima. 

 

 

 

 

 

 

Positivisme 

 

 

 

 

 

A Comte, JS Mill, 

Spencer 

Positivisme yaitu  filosofi yang ber- 

pegang bahwa pengetahuan autentik 

hanyalah yang diperoleh berdasar 

pengalaman sense yang aktual. 

 

Spekulasi metafisika dihindari. 

Pendekatan positif inilah yang ke- 

mudian menjadi tema berulang sejak 

Yunani Kuno hingga sekarang, dan 

mengambil peran dominan dalam 

pengetahuan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

120                                                                                                                                                                                             121


 

 

aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Strukturalisme 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saussure, 

Levi-Strauss, dan 

lain-lain 

Strukturalisme yaitu  sebuah 

pendekatan untuk human sciences 

yang berusaha menganalisis area 

spesifik (misalnya mitologi) sebagai 

suatu sistem kompleks yang saling 

terhubung antara satu bagian dengan 

bagian lainnya. 

 

Strukturalisme berawal dari analisis 

linguistik yang dilakukan Ferdinand 

de Saussure. Namun, para intelektual 

Prancis kemudian mengembangkan 

penerapannya ke berbagai aplikasi di 

luar linguistik, misalnya antropologi, 

psikoanalisis, teori literasi, dan arsi- 

tektur. 

 

 

 

 

 

 

Post-struk- 

turalisme 

 

 

 

 

 

Lacan, Foucault, 

Derrida, dan lain- 

lain 

Post-strukturalisme merupakan 

perkembangan intelektual hasil per- 

silangan dari filsafat, sosiologi, dan 

teori kritis yang terutama dipelopori 

oleh pemikir-pemikir Prancis di abad 

20. 

 

Gerakan post-strukturalisme sulit 

untuk didefinisikan atau diringkas, 

namun  mungkin secara umum (dan 

reduktif) dapat dipahami sebagai res- 

pons terhadap strukturalisme. 

 

 

Itu semua hanyalah sebagian dari penggambaran semesta 

ilmu pengetahuan dan keilmiahan. Apa yang disebut se- 

bagai “kriteria ilmiah yaitu  dapat direplikasi dengan ha- 

sil sama” sebenarnya disumbang oleh aliran renaissance, 

yang kemudian berlanjut di sebuah era penting, yaitu 

pencerahan, yang kemudian melahirkan aliran-aliran 

semacam: positivisme, rasionalisme, dan empirisme. 

Sementara itu, “keilmiahan” yang dilandasi aliran pe- 

mikiran lain, misalnya eksistensialisme, justru menolak 

keberulangan dan berfokus pada autentisitas. Hal yang 

sama juga terjadi pada post-struktralisme yang menolak 

segala bentuk pusat absolut atau yang menstabilkan. 

Nah, pertanyaannya kemudian yaitu : Lalu, bagaima- 

na yang ilmiah itu? Di sini penulis akan menjawab bahwa 

dari semua aliran filsafat, termasuk yang tak dicantum- 

kan pada tabel, sebenarnya dapat diakui ketika seseorang 

mampu membangun pemikirannya di atas landasan on- 

tologis, epistemologi, dan aksiologi (atau metodologi) 

yang kuat. 

Penulis akan mengambil contoh dengan kartu Ror- 

schach atau kartu bercak tinta yang diajarkan sebagai 

mata kuliah di psikologi. Apakah kartu Rorschach ilmiah? 

Bagaimana jika kemudian seseorang yang tak pernah 

memakai  kartu Rorschach, tak tahu menahu pen- 

jelasan kartu tersebut, lantas diberi kesempatan meng- 

gunakan kartu-kartu tersebut, lalu secara tepat mampu 

membidik kondisi psikis seseorang? Apakah itu ilmiah? 

Jawabannya: Tidak! sebab  dengan demikian orang 

tersebut sebenarnya tidak mempunyai landasan ontolo- 

gis, epistemologi, dan aksiologi yang kuat. Cara seperti itu 

sama dengan peramal tarot yang tak mau pusing dengan 

ontologi, epistemologi, dan aksiologi simbol-simbol da- 

lam kartunya, namun  mampu memakai nya secara jitu 

untuk meramal kondisi kliennya. Jadi, kartu Rorschach 

yang konon ilmiah pun, dapat dikategorikan klenik jika 

penggunanya tidak paham ontologi, epistemologi, dan 

aksiologinya: hanya sebatas piawai memakai nya un- 

tuk menebak secara tepat kondisi klien. 

Sebaliknya, mereka yang paham benar ontologi, epis- 

temologi, dan aksiologi dari kartu-kartu Rorschach, seka- 

ligus piawai memakai nya untuk membidik kondisi 

psikis klien secara jitu, merekalah yang pantas disebut 

orang-orang yang ilmiah. Sebutan itu dapat ditengarai

 

 

 

 

122                                                                                                                                                                                             123

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL  

 

 

sebab  mereka bukan saja paham keilmiahan, namun  juga 

piawai dengan keilmiahannya. Sama juga dengan peng- 

gunaan kartu-kartu tarot untuk konseling psikologi jika 

mereka memahami benar ontologi, epistemologi, dan ak- 

siologinya, mereka pun dapat dikategorikan ilmiah. 

Bagaimanapun, simbol-simbol kartu tarot pernah 

dibahas setidaknya oleh Jung, juga Levi-Strauss. Pemba- 

hasan itu masih dapat dipertemukan lagi dengan aliran 

psikologi transpersonal, bahkan Post-strukturalisme. 

Dalam buku Psikologi Tarot, penulis sudah menunjuk- kan 

mengenai hal itu, dan dalam buku ini kembali penulis 

tunjukkan bagaimana Jungian, strukturalisme, dan post- 

strukturalisme dapat digunakan membahas tarot secara 

ilmiah. 

Sekarang kembali ke tudingan dari orang-orang 

psikologi, yang berkata-kata  bahwa tarot yaitu  klenik. 

Tudingan itu bisa dengan mudah dibalik jika mereka tak 

mampu menjelaskan ontologi, epistemologi, dan aksi- 

ologi dari semua bentuk alat tes psikologi, terutama yang 

berbasis proyeksi semacam kartu Rorschach dan TAT. 

Bab 7 

 

 

Memahami Energi dalam 

Interaksi Sosial 

 

“Condense some daily experience into a glowing symbol and an audience 

is electrified.” –Ralph Waldo Emerson 

 

 

 

 

 

 

 

Pepatah mistis kuno berkata-kata : 

Ke mana kita memusatkan perha- 

tian, ke situlah energi mengalir. 

Dengan demikian, setiap orang 

akan memancarkan energi keluar 

dari dirinya lewat serangkaian 

asumsi dan pandangan hidupnya. 

Jadi, saat dua orang berinteraksi, 

keduanya saling   memancarkan 

energi sehingga terjadi dialektika 

energi antara keduanya. Di sinilah 

sebenarnya urgensi adanya relasi 

positif, seperti banyak dibahas da- 

lam mazhab psikologi positif. 

Psikologi positif sebenarnya 

berusaha membawa individu pada semacam Authentic 

Happiness atau Kebahagiaan Sejati. Sebenarnya semua 

orang menginginkan sebuah tujuan yang sama, yaitu Ke- 

bahagiaan. Hanya saja, orang kerap rancu dalam membe-

 

 

 

 

 

 

124


 

dakan antara kebahagiaan dengan kesenangan atau ke- 

nyamanan, yang sifatnya semu. 

Kebahagiaan sejati hanya dapat diperoleh ketika 

mendapatkan energi yang sifatnya natur. Ini yaitu  ener- 

gi yang menumbuhkan. Sementara hal-hal yang sifatnya 

semu, seperti kesenangan, didapat melalui energi yang 

sering kali tidak bersifat menumbuhkan. 

Dalam relasi, energi-energi yang tidak menumbuhkan 

itu biasanya diperoleh lewat permainan peran. James 

Redfield, dalam Celestine Prophecy dan Celestine Vision, 

menyebut ini dengan istilah “drama pengendalian”. 

 

 

7.1 Konflik  yaitu  Perebutan Energi 

dengan Cara Salah 

 

Sumber konflik tidak masuk akal di dunia manusia sebe- 

narnya terjadi ketika dalam relasi terjadi pemancaran 

energi yang bertujuan mendominasi satu sama lain atau 

yang satu menaklukkan yang lain dan menyedot energi 

dari yang ditaklukkannya. Inilah yang disebut Redfield 

sebagai   “drama pengendalian”. Setidaknya, ada empat 

jenis drama pengendalian, yaitu: 

 

 

1. Tipe aku yang malang 

Drama pengendalian paling pasif yaitu  strategi korban 

atau “Diriku yang Malang”. Dalam drama ini seseorang 

tidak secara langsung bersaing memperebutkan energi, 

melainkan mencari perhatian serta penghargaan dengan 

cara memanipulasi rasa simpati. 

Di satu sisi ia mendapatkan penderitaan, namun  di sisi 

lain ia mampu menarik simpati orang sebab  caranya 

mengolah penderitaan tersebut menjadi sebentuk ko- 

munikasi akan keadaan dirinya. Lewat simpati itulah ia 

mendapatkan penguatan untuk mengompensasi penderi- 

taannya. Namun, cara ini jelas tidak menyelesaikan apa 

yang menjadi masalah sebenarnya. 

Semesta sebagai medan energi akan memberi respons 

dengan menciptakan dunia yang persis seperti dalam 

pandangan orang tersebut, dan dengan cara ini drama Di- 

riku yang Malang menjadi lingkaran setan yang justru di- 

kuatkan oleh orang itu sendiri. Bahkan sering kali orang 

itu pun tidak menyadari keterjebakannya. 

 

 

2. Tipe Dingin dan Berjarak 

Tipe ini sebenarnya pasif, namun  tidak terlalu pasif jika 

dibanding tipe Aku yang Malang. Tipe ini berciri: mengam- 

bil jarak, memisahkan diri, dan menciptakan misteri baik 

lewat penampilan maupun jawaban-jawaban. Dengan 

menciptakan aura misterius dan tidak jelas di sekeliling- 

nya, ia memaksa orang lain mencurahkan energi untuk 

menggali informasi yang biasanya bisa didapatkan tanpa 

perlu berusaha. Dengan cara ini tipe Dingin dan Berjarak 

mendapatkan energi yang ia inginkan dari orang lain. 

 

 

3. Tipe Interogator 

Drama pengendalian yang lebih agresif dan banyak di- 

jumpai di sekeliling yaitu  tipe Interogator. Dalam strate- 

gi manipulasi ini, mereka memakai  kritik untuk 

memperoleh energi dari orang lain. Di hadapan interoga- 

tor, orang akan selalu merasa diawasi sehingga terbatasi 

geraknya. Selanjutnya, interogator mungkin mengang- 

gapnya tidak kompeten, kekanak-kanakan, tidak dewasa, 

bodoh, dan sebagainya. Strategi ini kerap membuat orang 

yang menjadi sasaran kritik atau sekelilingnya menjadi 

tersentak, bahkan tak jarang orang lain memercayai kri- 

tik tersebut dan memberi dukungan dengan ikut-ikutan

 

 

 

126                                                                                                                                                                                             127


 

menghujani kritik yang sama. Persis di titik inilah sang 

interogator memperoleh energi dari orang yang dikri- 

tiknya. 

Sang interogator berniat terus-menerus menghakimi 

kehidupan orang lain sehingga begitu interaksi dimulai, 

orang  lain  dapat  terbawa  mengikuti  cara  pandangnya 

dan akhirnya sang interogator memperoleh energi dari 

caranya mengkritik dan menghakimi orang lain. 

 

 

4. Tipe Intimidator 

Drama pengendalian paling agresif yaitu  Intimidator. 

Orang yang memasuki medan energi seorang intimidator 

akan merasa energinya tersedot habis dan tidak nyaman, 

bahkan merasa terancam atau berada dalam bahaya. In- 

timidator akan melakukan sesuatu yang mengindikasi- 

kan  ia  dapat  marah  atau  mengamuk  dengan  tiba-tiba. 

Ia mungkin bercerita tentang menyakiti orang lain atau 

menunjukkan betapa marah dirinya dengan merusak ba- 

rang atau melempar barang. 

Strategi intimidator membuat perasaan dan energi 

orang lain tersedot sebab  saat merasa terancam orang 

akan benar-benar memfokuskan perhatian pada sang in- 

timidator. Curahan perhatian ini akan menyalurkan ener- 

gi kepada sang intimidator. Bahkan ketika akhirnya orang 

yang terintimidasi tunduk, berusaha memahami dunia le- 

wat cara pandang sang intimidator, maka seketika sang 

intimidator mendapat suntikan energi yang sangat ia bu- 

tuhkan. 

 

 

7.2 Mengatasi Kebutuhan  Energi 

 

Bagaimana  mengatasi  kebutuhan  energi?  Pepatah  sufi 

berkata-kata : Aku mencari Tuhan dan hanya menemukan 

Diriku, Aku mencari Diriku dan hanya menemukan Tuhan. 

Pepatah itu menyiratkan hal yang sama dengan pandang 

an agama mana pun, di mana jalan hidup manusia yaitu  

menuju Tuhan. Namun tunggu dulu, ternyata pencarian 

Tuhan di sini bukan perjalanan menuju tempat nun jauh 

di sana, melainkan berawal dan berakhir pada diri kita 

sendiri. 

Surga bukan dunia pengganti kehidupan saat ini, namun  

ada pada kebahagiaan yang dapat ditemukan manusia di 

dunia ini. Di kebahagiaan, kita akan menemukan ener- 

gi yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Semua 

orang sebenarnya mencari kebahagiaan sejati ini, namun  

sering kali terkecoh oleh ilusi dan tersesat untuk sekadar 

mencari kesenangan, yang dikiranya kebahagiaan. 

Kebahagiaan hanya nyata ketika perasaan itu mampu 

dibagi dengan orang lain. Inilah salah satu ciri kebahagiaan. 

Cara membagi kebahagiaan ini bukanlah semacam men- 

traktir atau mendermakan sesuatu, melainkan membuat 

orang lain merasakan pertumbuhan ketika bersentuhan 

dengan apa yang kita bagi tersebut. Ketika orang mampu 

mencapai titik ini, di situlah ia menemukan Energi Sejati, 

yang memang sesuai dan diperuntukkan untuknya. 

Ciri dari orang-orang seperti ini dapat dikenali lewat 

karya hidupnya. Mungkin saja mereka yaitu  yang sering 

dianggap aneh oleh orang lain, namun  entah bagaimana, 

orang-orang ini mampu membagi sesuatu yang membuat 

orang lain tumbuh. Dalam kehidupan, mereka yaitu  to- 

koh-tokoh besar yang spiritnya tetap ada dan menghidup- 

kan orang lain meski mereka telah tiada. 

Apakah harus menjadi tokoh besar untuk menemukan 

Energi Sejati ini? Jawabnya tidak. Energi ini dapat diper- 

oleh dari peran apa saja, yang memang disadari orang 

sebagai peran yang diperuntukkan untuknya. Peran yang

 

 

 

 

128                                                                                                                                                                                             129

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL  

 

 

membuat ia tak sekadar terjebak dalam kesenangan, 

namun  mampu mencapai kebahagiaan. Peran itu dapat 

berhubungan dengan pekerjaan, profesi, anak, istri, sua- 

mi, atau apa saja. 

Sering kali tidak mudah menemukan peran ini. Dan, 

bagi yang telah menemukannya, melakoni peran tersebut 

juga bukanlah persoalan mudah. Orang-orang mudah ter- 

jebak untuk menjalani peran sebagai Aku yang Malang, 

Dingin dan Berjarak, Interogator, atau Intimidator. Sebe- 

narnya apa yang mereka cari yaitu  kebahagiaan, hanya 

saja mereka terbelokkan untuk sekadar memperoleh ke- 

senangan lewat energi yang diambil dari orang lain mela- 

lui peran-peran tersebut. 

Di sinilah letak peran tarot, yaitu sebagai psikologi 

simbol dalam membantu klien menemukan sumber ener- 

gi yang sehat untuk dirinya. Caranya yaitu  dengan men- 

emukan pathway-nya sendiri. Simbol-simbol dalam kartu 

yang muncul dapat dianalogikan sebagai rambu-rambu 

yang menuntun klien menemukan pathway-nya. Jika su- 

dah menemukan pathway-nya, ia akan menemukan sum- 

ber energi yang luar biasa, yang ternyata bukan dari ma- 

na-mana, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Di situlah 

sebenarnya berlaku pepatah sufi: Aku mencari diriku dan 

hanya menemukan Tuhan, aku mencari Tuhan dan hanya 

menemukan diriku. 

 

 

 

Bab 8 

 

 

Tarot dan Intuisi 

“Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you 

realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you.” 

–Lao Tzu 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berbeda dengan teknik proyeksi dalam psikologi lain 

yang lebih berpusat pada rasionalitas, pewacanaan tarot 

lebih berpusat pada ketajaman intuisi. Jika pada teknik- 

teknik proyeksi yang rasional orang lebih dituntut untuk 

menghafal, maka dalam pewacanaan tarot, untuk mena- 

jamkan intuisi, orang lebih dituntut melalui doa dan/atau 

meditasi. Cara-cara doa dilakukan jika  pewacana atau 

peramal yaitu  seorang agamais (religious), dan cara 

meditasi dilakukan jika  pewacana yaitu  seorang ke- 

batinan (spiritual). Cara doa dan meditasi dapat dilaku- 

kan bersamaan jika  penanya yaitu  seorang “hybrid”, 

yaitu seorang spiritual yang masih belum bisa menerap- 

kan prinsip “non-attachment” terhadap tuntutan agama, 

dan itu sah saja. Mengenai doa/meditasi dan intuisi akan 

kita pahami secara mendalam pada penjelasan-penjela- 

san berikutnya6. 

6    Leonardo Rimba dan Audifax. 2009. Psikologi Tarot. 

Yogyakarta: Pinus Book Publisher.

 

 

 

130


 

Dalam psikologi Jung dikenal prinsip entropi. Penu- 

lis akan mencoba memberikan sedikit gambaran apa itu 

entropi. Bayangkan di depan Anda ada dua mangkuk, 

yang satu air panas dan yang lain berisi air dingin. Ke- tika 

Anda menyatukan kedua isi mangkuk, yang terjadi yaitu  

perpindahan dari panas ke dingin dan sebaliknya. Ada 

semacam energi yang bergerak dari satu tempat ke 

tempat lain. Hampir sama dengan prinsip air atau udara 

yang bergerak: udara mengisi tempat kosong, air berge- 

rak ke tempat lebih rendah. Manusia memiliki energi da- 

lam dirinya, energi yang mengaktifkan kesadarannya dan 

menggerakkannya. Dalam meditasi, terjadi entropi ener- 

gi dalam diri manusia. Perpindahan untuk menurunkan 

energi yang berpusat pada rasionalitas atau kesadaran 

(conscious) menuju unconscious dan beyond conscious. Ke- 

tika sudah mengaktivasi penjelajahan pada unconscious 

dan beyond conscious barulah pesan-pesan simbolis dari 

kartu tarot dapat di-decoding. 

 

 

8.1 Intuisi   dan Pertumbuhan Spiritual 

 

Selama ini, argumen tulisan dengan warna agama umum- 

nya didasarkan pada logika belaka: penalaran berdasar- 

kan prinsip induksi deduksi dan penelusuran arti dari 

ajaran agama. Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, 

meskipun cara itu kurang familier. William James, seorang 

perintis psikologi dari Amerika Serikat, dalam bukunya 

yang berusia satu abad: Varieties of Religious Experience 

(sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia), berusaha 

mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak 

terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia 

sebagai individu, bukan sebagai kelompok angka-angka 

statistik belaka atau pembuat rekor output industri: ma- 

nusia sebagai manusia. 

William James melihat bahwa agama (religi) hanya 

berarti jika  dialami sebagai pengalaman pribadi. Arti- 

nya, ada pengalaman pribadi yang dapat diterangkan 

dengan memakai  simbol-simbol dari agama tertentu 

yang dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipi- 

sahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Agama da- 

lam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka, 

namun  sudah masuk ke dalam kesaksian pribadi tentang 

bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinama- 

kan “Tuhan” telah beraksi secara konkret dalam kehidup- 

an pribadi seorang penganut agama. 

Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argu- 

men yang ada hanya berputar pada agama mana yang pa- 

ling benar. Tentu saja jawabnya tidak ada. Sama saja de- 

ngan bertanya agama mana yang paling salah. Jawabnya 

tetap, tidak ada agama yang salah. Agama yaitu  buatan 

manusia. Konsepsi belaka. “Tuhan” juga yaitu  konsepsi 

belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang diasumsikan 

dialami secara pribadi oleh orang per orang. 

Menurut James, ajaran agama atau religi yaitu  suatu 

wadah dialog antara penganut dan sesuatu yang diper- 

cayainya sebagai “Tuhan”. Harus ada dialog berupa pe- 

ngalaman pribadi. jika  itu tidak ada, yang terjadi ada- 

lah seperti orang buta menuntun orang buta. Hasilnya 

seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa 

juga tidak diketahui. Paling jauh, orang itu hanya akan 

membuka buku lain lagi untuk memperoleh jawabannya, 

atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti. 

Inilah situasi di Indonesia. 

William James di dalam bukunya melihat bahwa ada 

dua macam manusia penghayat keagamaan, yaitu manu-

 

 

 

 

132                                                                                                                                                                                             133


 

sia yang lahir dua kali (twice born) dan manusia yang la- 

hir hanya satu kali (once born). 

Manusia yang lahir dua kali yaitu  manusia yang me- 

ngalami suatu pengalaman religius traumatis: suatu per- 

jumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan pri- 

badi itu dapat diceritakan dengan narasi yang terstruk- 

tur rapi sehingga orang lain dapat mengerti. Narasi dapat 

berupa deskripsi tentang hal-hal yang akhirnya memba- 

wa seseorang hingga mengalami hal traumatis tersebut. 

Dan, setelah hal traumatis berupa pengalaman religius 

yang menggoncangkan itu dialami, subjek akan berubah 

total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang 

percaya penuh bahwa “Tuhan” memang berperan dalam 

hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di hidupnya. 

Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti 

yang dialami oleh sebagian besar dari kita, namun  meru- 

pakan suatu kata penuh makna yang terkait erat dengan 

hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per detik. 

Tuhan hidup di dalam diri si subjek. 

Manusia yang lahir satu kali yaitu  mereka yang tidak 

pernah mengalami pengalaman religius traumatis. Hidup 

berjalan sebagaimana adanya tanpa merasa perlu adanya 

intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadinya, intervensi 

yang benar-benar terasakan bahwa “Tuhan” berbicara 

kepada subjek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa 

diartikan lain. sebab  tidak ada keinginan dan harapan 

bahwa Tuhan perlu hadir secara pribadi, kehidupan sub- 

jek pun akan berjalan seperti itu saja selama hidupnya. 

Memang religius, namun  religius suam-suam kuku saja. 

Tidak ada yang istimewa. Semuanya seperti terstruktur 

dalam buku petunjuk. Hidup seperti apa adanya. Gembira 

bila sedang gembira dan sedih bila sedang sedih. 

Mereka yang mengalami kelahiran dua kali yaitu  

mereka yang hidupnya dapat berubah total setelah ber- 

temu  “Tuhan”.  Mereka  dapat  menjadi  seseorang  yang 

taat beragama meskipun sebelumnya yaitu  seorang 

yang  tidak  percaya.  Mereka  dapat  melakukan  hal-hal 

luar biasa meskipun sebelumnya tidak memiliki tenaga 

dan daya untuk itu. Namun, mereka yang terlahir hanya 

satu kali akan seperti itu selama hidupnya. Pengalaman 

religiusnya bersifat komunal, bukan pengalaman pribadi 

bertemu dengan “Tuhan” dalam suatu ruang dan waktu 

tertentu. 

warga  Indonesia terutama terdiri dari mereka 

yang lahir satu kali saja. Jarang kita bertemu seseorang 

yang asli, yang mengalami sentuhan “Tuhan”. Yang memi- 

liki pengalaman religius traumatis sehingga tidak lagi ter- 

goyahkan imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang diper- 

cayainya yaitu  benar meskipun semua orang lain tidak 

percaya. 

Dan, lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki 

suatu pengalaman religius dalam arti ortodoks konven- 

sional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama yang 

ini atau yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahir- 

an dua kali melalui pengalaman religius traumatis ada- lah 

pengalaman pribadi yang berada di luar jangkauan 

kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan sebagai 

musyrik atau bidah. Namun, itu genuine, asli, dan itulah 

yang berarti besar secara rohaniah sebab  tidak ada lagi 

yang bisa menggoyahkan keyakinan orang itu.

 

 

 

 

 


 

 

Semiotika dan Tarot 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL 

Apa itu semiotika? Apa hubungan semiotika dengan ta- 

rot? 

Kedua hal itu sering ditanyakan dan sejauh ini memang 

belum ada buku dalam bahasa Indonesia yang menjelas- 

kan dengan bangunan pemikiran yang dapat dipertang- 

gungjawabkan keilmiahannya. Bahkan, ada yang salah 

kaprah, namun  menuliskannya dalam sebuah buku dan 

membentuk asosiasi. Oleh sebab  itulah, penulis merasa 

perlu memberi pemahaman mengenai semiotika ber- 

dasarkan literatur yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Semiotika yaitu  ilmu mengenai tanda. Pada awalnya, 

semiotik yaitu  perkembangan dari linguistik. Landasan 

dari  semiotika  yaitu   menempatkan  dalam  perspek- 

tif tanda terhadap segala hal yang terbaca dan menjadi 

pengetahuan manusia. Dan, semua tanda pada dasarnya 

memiliki sifat bertutur selayaknya teks. 

Dua tokoh penting yang mengawali perkembangan 

semiotika yaitu  Ferdinand de Saussure, seorang linguis, 

dan Charles Sanders Pierce, seorang filsuf.


 

Saussure menawarkan sebuah konsep mengenai 

hubungan diadik antara dua bagian model tanda. Ia 

mendefinisikan sebuah tanda akan selalu tersusun dari: 

•    Sebuah Penanda atau “signifier” (signifiant) 

•    Sebuah Petanda atau “signified” (signifié) 

Berikut penjabarannya: 

 

 

 

 

Anda melihat gambar di atas? Gambar apa itu? Apa yang 

ada di benak Anda begitu melihat gambar tersebut? 

Ketika melihat gambar tersebut dan Anda mengingat 

kata “Kucing”, maka itu yaitu  Penanda atau Signifier. Se- 

dangkan ketika melihat gambar tersebut Anda mengingat 

bahwa itu yaitu  seekor binatang yang menjadi musuh 

anjing, suka mencari tikus, suka mencuri ikan di dapur, 

memiliki cakar tajam, suka berjalan di atas genting rumah, 

dan seterusnya, maka itu semua yaitu  Petanda atau Sig- 

nified. Sebuah Petanda selalu merujuk pada makna. 

Namun, ada satu hukum penting di sini yang mung- kin 

kita jalani begitu saja, tanpa disadari. Kata “Kucing” 

menjadi memiliki makna ketika ia berada dalam STRUK- 

TUR. Struktur apa? Struktur yang membedakannya dari 

Anjing, Kelinci, Musang, dan seterusnya. 

Hal itu akan berbeda jika Anda berkata-kata nya seba- 

gai “Cat”. Jika Anda berkata-kata  “Cat”, ia akan memper- 

oleh maknanya sebab  berada dalam struktur yang mem- 

bedakannya dari Mouse, Dog, Snake, dan seterusnya. 

Perhatikan juga bahwa tidak ada alasan mengapa 

orang Inggris menyebut binatang yang suka memburu 

tikus ini sebagai “Cat” sementara orang Indonesia me- 

nyebutnya “Kucing”. Itu menunjukkan bahwa ada unsur 

arbitrer di sini. Namun, apa yang arbitrer tersebut mem- 

peroleh maknanya ketika berada dalam struktur. 

Tarot  pun  demikian.  Gambar-gambar  di  kartu  ada- 

lah sebuah “Penanda”. Ia dapat muncul secara arbitrer, 

tergantung kartu yang tercabut. Namun, meski arbitrer, 

penginterpretasiannya pun tidak sembarangan sebab  

ditempatkan dalam struktur. 

Selain arti kartu, bentuk struktur tersebut juga dapat 

berupa arti tebaran. Sebuah kartu dapat memiliki bebera- 

pa arti, namun  arti yang mana harus diinterpretasikan oleh 

seorang reader. Itu tergantung tebaran, atau jenis kartu- 

kartu lain yang menyertai kemunculan sebuah kartu. 

Nah, itulah prinsip penting yang mempertautkan se- 

miotika dan tarot. Ilmu semiotika sendiri yaitu  sebuah 

ilmu yang berkembang sangat pesat dan sering kali susah 

dikuasai. Selain sebab  memerlukan pemahaman hal-hal 

mendasar secara mendalam, juga sebab  belum selesai 

mempelajari yang satu, sudah muncul metode semiotik 

yang baru. 

Sejarah semiotika sendiri sudah berkembang begitu 

jauh sejak semiotika strukturalisme diperkenalkan oleh 

Saussure dan Pierce. Bahkan, dalam perkembangannya, 

persilangan semiotika dan psikoanalisis memunculkan 

apa yang dikenal dengan nama post-strukturalisme. 

Jacques Lacan, psikoanalisis neofreudian, disebut-sebut 

sebagai post-strukturalisme pertama.

 

 

 

 

138                                                                                                                                                                                             139


 

Oleh sebab  tarot memakai  sistem simbol dan 

alam nirsadar, tarot pun memiliki kedekatan dengan se- 

miotika, baik strukturalisme maupun post-struktural- 

isme. Pada dasarnya simbol merupakan bagian dari tanda 

dan memiliki keterkaitan dengan alam nirsadar (uncon- 

scious). Sejumlah aspek yang sama antara semiotika dan 

pembacaan simbol dalam tarot yaitu : 

1.   Dalam semiotika, meski pelekatan antara penanda 

dan petanda bersifat arbitrer, namun  ia berada dalam 

struktur. Hal yang sama juga terjadi pada ramalan 

tarot. Walaupun ramalan bersifat spontan dan ke- 

luar begitu saja, namun  sebenarnya ia terikat pada 

struktur kartu yang keluar beserta sifat-sifat simbol 

dalam kartu-kartu tersebut. 

2.   Simbol, selalu merupakan representasi. Atau peng- 

ganti, wakil dari sesuatu yang tak bisa dihadirkan 

dalam bahasa. Makna, pada dasarnya selalu terlalu 

luas untuk hadir dalam bahasa. Namun, sesuatu tak 

akan dapat dipahami jika berada di luar bahasa. Oleh 

sebab  itu, agar dirinya terpahami, maka apa pun itu 

harus menyerahkan dirinya kepada baha- sa yang 

sifatnya mereduksi keutuhan dari makna. Ini hukum 

yang berlaku untuk semuanya. Bahkan, Tuhan harus 

menyerahkan “Kebesaran” dirinya ke dalam bahasa 

agar terpahami manusia, yang kon- sekuensinya 

mereduksi Kebesaran dirinya, sebab  tak akan 

pernah ada bahasa yang sanggup memuat 

kebesarannya secara utuh. 

 

 

Prinsip-prinsip ini akan sangat berguna bila dipahami 

oleh seorang tarot reader. Ia akan tahu apa manfaat dan 

batasan kemampuan dari simbol, sehingga tidak over con- 

fident, juga tidak under-estimate. 

Itulah hal-hal prinsip yang mengaitkan antara semi- 

otika dan tarot, yang penting untuk dipahami agar tidak 

terjadi salah kaprah atau ngawur dalam memahami 

keterkaitan antara semiotika dan tarot. Contoh berikut 

yaitu  kasus salah kaprah dalam memahami semiotik. 

Forum Komunikasi Aestetik dan Semiotik Indone- 

sia merupakan suatu komunitas berbasis saintis 

dengan struktur motivasi, skill, dan kepribadian 

yang  berjiwa  aestetik-semiotik.  Berbasis  sain- tis 

artinya walaupun sebagian besar anggota 

aestetik-semiotik  ini  yaitu   para  praktisi  tera- 

pi, metafisika, dan parapsikolog terapan namun  

persepsi dan keilmuan yang digunakan tidak ber- 

sifat mistis melainkan saintis (keilmuan) agar ter- 

cipta teknologi-teknologi edukasi yang berman- 

faat untuk dunia kesehatan, lingkungan, psikologi, 

dan sosial. Dengan latar pendidikan yang beragam 

dari psikolog, dokter, terapis, diviner tarot, magi- 

cian, sport–bela diri, broadcasting, antropolog, 

arkeolog, budayawan, dan lain lain, kami berkum- 

pul untuk menyatukan niat dan langkah kami agar 

bisa berperan aktif dalam membantu dan mem- 

berdayakan warga  melalui berbagai kegia- 

tan personal maupun komunitas. Secara umum 

komunitas ini memang baru dirintis untuk men- 

gumpulkan semua potensi aestetik-semiotik yang 

ada, terutama potensi-potensi muda di wilayah 

DIY–Jateng. Potensi aestetik bisa diekspresikan 

dan dieksplorasi dengan berbagai aktivitas aeste- 

tik seni maupun aestesik terapi seperti kaligrafi

 

 

 

 

140                                                                                                                                                                                             141


 

China–Arab–Jawa, sketsa wajah, handycraft, su- 

lap-ilusi, hypnoselling-therapy, permainan brain 

teaser-op art, olah suara dan musik, bioplasmik, 

hidroterapi, emotinal healing, dan lain-lain. Po- 

tensi semiotik mengarah pada keilmuan dan ke- 

mampuan membaca simbol-simbol alam untuk 

kepentingan konseling kepribadian, kesehatan 

dan karier, asmara, dan lain-lain. 

Kemampuan  semiotik  bisa  dieksplorasi  melalui 

kartu tarot, tulisan tangan, palmistry, aura, facial 

diagnostik,  radiesthesi,  mimpi,  fito  diganostik, 

dan  lain  sebagainya.  Kemudian  adanya  potensi 

diviner pada praktisi semiotik sebenarnya meru- 

pakan perkembangan lanjutan dari kemampuan 

ESP (Extrasensory Perception) di mana potensi ini 

menjelaskan kemampuan seseorang untuk mem- 

bantu memahami alur sebab–akibat dari adanya 

masalah dan solusi dalam kehidupan seseorang. 

Adanya problem psikis–biologis seseorang, baik 

yang bersifat memori (masa lalu), realistis (masa 

kini), maupun futuristis (masa depan) akan dieks- 

plorasi dalam “komunikasi pikiran bawah sadar” 

melalui simbol dan bahasa tubuh untuk segera 

ditemukan solusinya secara tepat dan personal. 

Terlebih saat ini, di mana tekanan ekonomi, so- 

sial,  dan  problem  psikis–biologis  juga  semakin 

kompleks, maka adanya aestetik-semiotik men- 

jadi kebutuhan personal bagi setiap orang untuk 

menjalani dan memaknai hidup agar lebih sukses, 

baik secara personal, sosial, maupun spiritual.7

 

 

7    Retrieved 12 Juni 2011 pukul 17.55 WIB; on- 

line documents: http://www.facebook.com/group. 

php?gid=77546627870 

 

 

Deskripsi di atas diambil dari sebuah akun Facebook suatu 

kelompok. Dalam narasi tersebut terjadi salah kaprah da- 

lam memahami semiotika. Pertama, yaitu pada kalimat: 

 

 

Potensi semiotik mengarah pada keilmuan dan 

kemampuan membaca simbol-simbol alam untuk 

kepentingan konseling kepribadian, kesehatan dan 

karier, asmara, dan lain-lain. 

 

 

Kemampuan semiotik bisa dieksplorasi melalui 

kartu tarot, tulisan tangan, palmistry, aura, facial 

diagnostik, radiesthesi, mimpi, fito diganostik, dan 

lain sebagainya. 

 

Semiotika bukan potensi yang ada dalam diri individu, 

melainkan metode. Di sini terjadi kerancuan dengan 

mempertukarkan antara potensi dan metode. Tentu saja 

keduanya berbeda pengertian. Semiotika yaitu  metode 

membaca tanda, bukan kemampuan. 

 

 

Salah kaprah tersebut semakin parah dalam kalimat beri- 

kut: 

 

 

Kemudian adanya potensi diviner pada praktisi 

semiotik sebenarnya merupakan perkembangan 

lanjutan dari kemampuan ESP (Ekstra Sensoric 

Perception) di mana potensi ini menjelaskan ke- 

mampuan seseorang untuk membantu memahami 

alur sebab–akibat dari adanya masalah dan solusi 

dalam kehidupan seseorang.

 

 

 


TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL  

 

 

Semiotika tidak ada urusannya dengan potensi diviner 

apalagi dengan ESP. Orang yang mampu memakai  se- 

miotik bukan sebab  punya potensi diviner, namun  sebab  

pengetahuannya akan logika sama seperti orang meng- 

gunakan matematika atau statistik. Jadi, kemampuan me- 

mahami alur sebab–akibat bukan diperoleh dari ESP atau 

diviner, melainkan pemahaman akan logika sebab–akibat 

atau pelajaran “logika dasar”. Seperti telah dijelaskan di 

awal, bahwa dalam semiotik, meskipun arbitrer, tanda 

terletak dalam struktur. Nah, struktur itulah yang mem- 

berikan sebuah logika sebab–akibat dalam sebuah inter- 

pretasi. 

Penjelasan pada bab ini hanyalah sebagian kecil dari 

semiotika, namun  penting sebagai dasar pemahaman agar 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Friends, 

Studi Kasus 1 

 

 

 

Mas Leo, Tolong Dong Ditarot....

orang tidak salah kaprah dalam memahami semiotika, 

terutama keterkaitannya dengan tarot. 

Berikut tanya jawab jarak jauh (melalui E-mail) antara 

seorang rekan wanita (Mbak X) dan saya (Leo). Kami be- 

lum pernah berjumpa secara langsung sampai saat ini. She 

lives in another city, while I live in Jakarta.... 

So, here’s the tanya jawab, semoga bermanfaat: 

Mas Leo, 

Tolong dong ditarot.... 

Saya lagi “dekat” dengan seseorang. Tapi orang ini ada- 

lah tipe yang sangat sibuk sekaligus sangat sopan, sangat 

menjaga, sangat hati-hati, dan sangat sangat sangat yang 

lain. Feeling saya berkata-kata  dia juga suka dengan saya. 

Belakangan, saya merasa sudah “dapat” chemistry-nya. 

Tapi kok susah ya.... Maksud saya, inisiatif harus dari saya 

dulu baru dia merespons dengan baik. Ini mungkin ka- 

rena dia sangat menjaga posisi dan jaim atau gengsi. Tapi 

kan jadinya susah kalau begini terus.

 

 

 

 

 

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL 

 

144

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 1  

 

Sebetulnya,  saya  ingin  “menangkap”  hubungan  bis- 

nis dari dia. sebab  dia yaitu  orang yang punya posisi. 

Tapi sebab  dia berkarakter sangat hati-hati, sehingga 

hubungan menjadi lebih ke arah personal. Saya sih suka- 

suka saja. Tapi jadinya kok seperti saya yang terseret- 

seret perasaan. Takutnya saya yang ke-GR-an saja. 

Tolong ditarot dong: 

1.   Bagaimana perkembangan hubungan personal saya 

dengan orang ini? Apakah membawa perkembang- 

an yang baik? 

2.   Bagaimana sih feeling-nya dia kepada saya? Dan ba- 

gaimana ya untuk menyatukan? 

3.   Apakah ada kemungkinan saya “menangkap” bisnis 

dari dia? 

Artinya: Hubungan personal Anda itu berawal dengan ce- 

pat, seperti datang begitu saja tanpa diduga dan MASIH 

bisa membawa perkembangan yang baik jika Anda TIDAK 

memikirkan tentang hal-hal praktis yang harus dilaku- 

kan. Jika masih ingin enjoy seperti pertama kali berjumpa, 

maka akan menjadi baik. Namun, jika sudah memikirkan 

tentang BAGAIMANA membawa hubungan ini ke masa 

depan, especially ketika mempertimbangkan perasaan- 

perasaan “eksklusif” ingin menjadi orang satu-satunya, 

maka akan mulai muncul ganjalan-ganjalan. 

 

 

Pertanyaan Anda: Bagaimana sih feeling-nya dia kepada 

saya? 

Kartu: 5 of Swords - King of Cups - 3 of Cup

Terima kasih sebelumnya, 

Jawaban saya: 

Pertanyaan  Anda:  Bagaimana  perkembangan  hubung- 

an personal saya dengan orang ini? Apakah membawa 

perkembangan yang baik? 

Kartu: Knight of Swords - 2 of Pentacles - 2 of Cups 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: He enjoys and tolerates you, orangnya itu me- 

mang PASIF dan kelihatan tidak memperlihatkan usaha 

apa pun. Dia merasa bahwa dirinya itu SUDAH apa ada- 

nya saja. 

 

Pertanyaan Anda: Dan bagaimana ya untuk menyatu- 

kan? 

 

 

 

 

146                                                                                                                                                                                             147

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 1  

 

Kartu:  XII.  The  Hanged  Man  -  I.  The  Magician  -  2  of 

Wands 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Caranya itu dengan memakai  KEMAUAN. 

Harus diniatkan untuk menyatukan dan diteruskan saja 

one by one, step by step. Jalannya tidak bisa langsung ke 

tujuan, melainkan harus setapak demi setapak, menggu- 

nakan ALL kinds of creativity that you have within you. 

 

Pertanyaan Anda: Apakah ada kemungkinan saya “me- 

nangkap” bisnis dari dia? 

Kartu: 7 of Cups - II. The Empress - VIII. Strength 

Artinya: Tidak. Orangnya itu BANYAK memiliki angan- 

angan sehingga susah untuk dipegang rencananya. Jika 

Anda mau bisa saja dicoba, namun  kelihatannya Anda itu 

BISA “menangkap” bisnis dari tempat lain dengan lebih 

mudah. 

 

Respons dari penanya 

Mas Leo, 

Terima kasih banyak. Kelihatannya tarot Anda banyak ji- 

tunya. Orang ini benar-benar pasif sebab  sangat menya- 

dari posisinya yang tinggi. Jadi, agak-agak jaim juga. Tapi 

oke, dia merespons baik padaku. 

Dan memang urusannya banyak, jadi aku agak kesulit- 

an minta sama dia untuk jadi bagian ekslusif di tempat- 

nya. Selama ini berjalannya bagus. Aku terus berusaha 

menciptakan kesempatan-kesempatan. 

Mengenai peluang bisnis, memang dia tidak terlalu 

agresif untuk itu. Dan mungkin, memang aku bisa menda- 

patkan peluang dari orang lain namun  dengan mempergu- 

nakan pengaruhnya. 

Hal lainnya, orang ini memang SUDAH APA ADANYA. 

Jadi ya sudah begitu itu…. Aku mau tidak mau nurut dia.... 

Makanya aku jadi nggak berkutik. Dan itu bikin aku babak 

belur. 

 

 

Thx u so much.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

148                                                                                                                                                                                             149

 

Studi Kasus 2 

 

Apakah Teman Saya Diguna-guna? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL 

Dear Mas Leo, 

Saya mohon bantuan Mas Leo untuk teman di Ja- karta. 

Teman ini seorang pria, namanya S, yang sedang 

bermasalah dengan seorang wanita yang tadinya man- tan 

pacarnya dan bernama U. Mereka bertengkar hebat sekali 

dan akhirnya putus, namun  tiba-tiba S setiap hari Sabtu 

tidak bisa tidur dan menjadi beringas seperti orang gila. 

Sekarang S tampak seperti orang gila dan kehilangan berat 

badannya hingga 11 kg dalam 2 minggu terakhir ini. Dan 

lucunya hanya terjadi pada hari sabtu. 

Banyak keluarganya berkata-kata  bahwa dia mungkin 

diguna-guna oleh mantan pacarnya. Bahkan saya sendiri 

sempat berbicara dengan U untuk bisa menyelesaikannya 

dengan baik-baik. Namun, ternyata U benar-benar marah 

dan benci sekali dengan S. Dua minggu lalu S menelepon 

saya dan minta bantuan untuk mencarikan orang yang 

bisa melihat, apakah benar dia diguna-guna? 

Saya kenal S ini sudah lama. Selama ini saya pikir S 

yaitu  orang yang biasa memakai logika, bahkan dia me-

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 2  

 

 

nyelesaikan sekolah sarjana dan master degree bidang IT 

di Amerika. 

Saya mohon jika Mas Leo ada waktu, bisa membantu 

teman saya ini? Saya kirimkan foto kedua orang ini. Teri- 

ma kasih Mas. 

 

 

Salam hangat, 

Angel 

 

 

Jawaban saya: 

Terima kasih atas pertanyaan dari Mbak Angel yang akan 

saya jawab dengan memakai  kartu tarot. 

Pertanyaan Anda: Apakah S diguna-guna? 

Kartu: Page of Wands - XII. The Hanged Man - XVIII. The 

Moon 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Ya, teman Anda yang bernama S itu memang di- 

guna-guna, namun  yang mengguna-guna itu BUKAN orang 

lain, melainkan dirinya sendiri. Jadi, di sini terlihat bahwa 

S seperti berusaha untuk memperlihatkan bahwa dirinya 

ini MEMANG cinta buta terhadap U sehingga bisa berperi- 

laku yang gimana gituh, especially tiap hari Sabtu or week- 

end di mana biasanya mereka berbuat yang gimana gituh 

di masa lalu. 

Dengan kelakuannya itu, S berharap akan BISA meng- 

gunakan kemampuan batinnya untuk menarik hati si U 

supaya akhirnya balik kepada dirinya, mengasihani diri- 

nya bla bla bla... yang semuanya sebenarnya hanya delu- 

sion doang alias penipuan kepada dirinya sendiri. 

S seperti berusaha menunjukkan bahwa dirinya SU- 

DAH berkorban dan bisa mengomunikasikan niatnya itu 

secara emosional dengan cara berperilaku seperti orang 

“gila” sampai kurus kering bla bla bla... yang ternyata juga 

tidak ada gunanya. 

Lalu, solusinya bagaimana? 

Kartu: 7 of Cups - IV. The Emperor - Page of Cups 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Teman Anda, si S itu, jika ingin sembuh HARUS 

memakai  his logical mind dan biarkan segalanya yang 

berupa emosi itu mengalir dan mengalir saja sampai 

segalanya habis dan larut. 

sebab  saya ini seorang dukun KLENIK, maka saya sa- 

rankan agar teman Anda S untuk pergi ke laut yang ber- 

sih dan mandi di sana setiap hari Sabtu... kecipak kecipuk 

byur byur byur... dan after that pulang ke rumah lalu tidur.

 

 

 

 

152                                                                                                                                                                                             153

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL  

 

 

Itu saja dilakukan dan dilakukan tiap hari Sabtu sampai 

segala emosinya yang nonproduktif itu habis larut di air 

laut. 

Jika ternyata rumahnya jauh dari laut, dia bisa mandi 

dengan air garam biasa setiap hari Sabtu. Caranya mudah 

saja, yaitu campurkan garam dapur dengan air mandi. 

Pakai air garam itu untuk mandi sampai dia merasa bo- 

san dan capek. Setelah itu baru tidur. 

Nah, acara mandi-mandi dengan air laut atau air ga- 

ram tiap hari Sabtu itu bisa dilakukan sepuas-puasnya 

oleh teman Anda si S ini sampai dia merasa bosan dan 

mau stop mengguna-gunai dirinya sendiri. 

Nobody can help him but himself. Segala garam itu cuma 

sarana saja untuk “melarutkan” segala emosi negatif, 

namun  keputusan untuk menjadi manusia normal yang 

biasa-biasa saja tetap ada di tangannya. He still has to use 

his mind. 

Studi Kasus 3 

 

Saya Sudah Baca Buku Psikologi Tarot…. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hallo Mas Leo, saya sudah baca buku Anda yang berjudul 

Psikologi Tarot, and gotta say it is one of my favourite books 

at the moment. Nice work ^^ 

Well, tidak ada alasan yang emergency tentang why 

I’m sending this E-mail, tapi memang ada alasannya: saya 

mungkin butuh bantuan pembacaan tarot. 

Sebenarnya I read tarot myself, tapi somehow kalau 

persoalan-persoalan yang kaitannya sama diri sendiri, 

saya merasa pembacaannya jadi jauh lebih tidak akurat 

sebab  dipengaruhi banyak sekali faktor-faktor subjektif, 

jadi melalui E-mail ini saya mengharapkan second opi- 

nion. However, sebab  tidak ada yang emergency, nggak 

masalah juga kalau E-mail ini sekadar dianggap time kill- 

er saja. 

Well, baiklah. Mungkin saya cerita saja tentang diri 

saya (saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan, dan 

saya hanya akan menceritakan hal-hal yang—menurut 

saya—relevan). 

Sebelumnya, maaf kalau ada yang dirasa kurang berke- 

nan. Mungkin soal pemilihan kata, mungkin soal bahasa....

 

 

 

154

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 3  

 

 

Saya kebiasaan campur-campur pakai bahasa Indonesia 

dan Inggris, jadi yah... mohon maaf kalau itu menggang- 

gu. 

Oke. Jadi, saya I, 22 tahun, perempuan, sepertinya ko- 

leris-melankolis, mahasiswi kedokteran yang sedang me- 

nempuh pendidikan profesi. I love being in medicine, saya 

tidak bisa membayangkan bidang lain yang lebih cocok 

buat saya selain kedokteran: ilmunya banyak dan selalu 

berubah, dan saya juga menikmati belajar seni berempati 

pada orang lain tanpa getting too far into their own per- 

sonal problem(s). However, selain kuliah, saya punya hobi 

lain: membaca, menulis, dan bermusik (esp. singing). Saya 

ingin melakukan semua interest itu dengan sebaik mung- 

kin. 

Masalahnya,  saya  punya  keterbatasan  waktu,  tena- 

ga, dana, dan mungkin beberapa hal lainnya, sehingga I 

didn’t do them all to the fullest, dan rasanya jadi tidak ter- 

lalu nyaman sebab  kesannya “nanggung”. 

Mama   saya—seorang   akademisi   sejati—selalu   bi- 

lang ke saya kalau saya sebaiknya konsentrasi kuliah dan 

menjalani hobi hanya untuk killing time. Beliau bilang, 

saya toh tidak punya banyak bakat musik ataupun menu- 

lis (ada bakat, tapi sepertinya tidak akan cukup to make 

me a professional in those two fields), jadi sebaiknya ya 

konsentrasi akademis saja. 

“Doktrin” ini tertanam cukup kuat waktu saya masih 

sekolah—dan masih tinggal bersama beliau—and so I 

dropped my seemingly-to-be-unrealistic dreams about be- 

ing a professional musician dan/atau writer. 

However,  seiring  berjalannya  waktu,  setelah  4  ta- 

hun hidup merantau, entah kenapa saya merasa bahwa 

I achieve less in academics, dan somehow I just feel like 

achieving more in music and writing. I’m considering ta- 

king a year off dari kuliah untuk melaksanakan “proyek- 

proyek” musik, menulis, dan beberapa hal lain yang saya 

takut nggak bakal sempat saya lakukan kalau nanti saya 

sudah menyandang title “dokter”. 

Tapi tentu saja mama saya bilang: “Jangan, nggak ada 

alasan buat cuti kuliah. Kamu sudah berjalan di jalan yang 

benar, jangan ‘cari-cari’ yang lain lagi.” Yah... cukup bisa 

dimengerti. Tapi saya toh masih tetap berpikir untuk cuti. 

Hehehe. 

Entahlah. Semakin saya terlibat, saya semakin mencin- 

tai musik dan tulis-menulis. Dan, saat ini, rasanya nggak 

mungkin saja untuk mengurangi aktivitas itu. Kayanya 

saya bakal stres kalau harus jalan lurus tanpa “membe- 

lokkan diri” ke (setidaknya) dua hal itu. 

Yet still, my mother can’t really seem to understand dan 

saya juga cukup mengerti kenapa beliau tidak mengerti 

tapi saya tidak tahu bagaimana cara membuat beliau 

mengerti. Begitulah. 

And so, pertanyaannya yaitu : Apa yang sebaiknya 

saya lakukan dengan keadaan ini? 

Well, begitulah. Mohon pembacaannya. Atas kesedia- 

an Mas Leo untuk membacakan, saya ucapkan banyak 

terima kasih. Wish you luck^^ 

 

Best regards, 

 

 

Jawaban saya: 

Thanks for sooo nice a sharing as well as questions from I, a 

22-year-old woman yang ber-AURA gimana gituh. 

You have a very strong masculine “aura” which is oke- 

oke saja. Semakin lama memang semakin banyak wanita 

yang beraura maskulin, and vice versa.

 

 

 

 

156                                                                                                                                                                                             157

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL  

 

 

Pria  yang  beraura  feminin  juga  makin  lama  makin 

banyak saja which is also oke-oke saja. 

Your question is very general. Dengan latar belakang 

yang sooo... panjang. 

 

 

Pertanyaan Anda: Apa yang sebaiknya saya lakukan 

dengan keadaan ini? 

Kartu: Knight of Cups - IX. The Hermit - XXI. The World 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Sebaiknya Anda teruskan saja apa yang menjadi 

impian Anda itu. Di masa lalu Anda merasa terpanggil 

untuk explore hal-hal yang baru. Jika Anda belum merasa 

tuntas mengenal secara mendalam apa yang ingin Anda 

selami dengan di masa lalu, maka sekarang Anda merasa 

dituntun oleh suatu dorongan dari dalam “Alam Bawah 

Sadar” Anda sendiri yang di sini di-SIMBOL-kan oleh IX. 

The Hermit. Lalu masa depannya gimana? Masa depannya 

itu yaitu  XXI. The World. Artinya, Anda akan memper- 

oleh segalanya. Ya segala macam arts itu PLUS apa yang 

Anda inginkan sebagai bonus juga which may include the 

academic side of your life. 

Studi Kasus 4 

 

Reinkarnasi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanya (T) = Hai Mas Leo yang lucu dan baik. Saya L, kita 

dulu pernah bertemu di bedah buku Psikologi Tarot di 

Gramedia Expo Surabaya, saya juga pernah dibaca kar- 

tunya dengan pertanyaan “tugas di dunia”, juga dibilang 

ma Mas Leo kalau energi saya banyak. Mudah-mudahan 

belum lupa, ya.... 

Jawab (J) = Of course nggak lupa, Mbak L. 

T = Saya mau tanya-tanya ke Mas Leo tentang mata ke- 

tiga, then saya klik compose, ngetik alamat Mas Leo tapi 

kok tiba-tiba saya pengen join di Milis Spiritual Indonesia 

dulu. 

Setelah ingin meneruskan kirim Email-nya lha kok 

ndilalah ada materi tentang mata ketiga di E-mail saya. 

Benar-benar bikin melongo, meski sudah sering ngala- 

min, tapi tetap saja nggak ngerti-ngerti “kok bisa, ya?” 

J = Bisa saja lah, namanya sinkronisasi which is sambung- 

menyambung seolah-olah kebetulan, tapi bukan kebetul- 

an. 

T = Nah, balik ke pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki. 

Saya tertarik banget sama reinkarnasi. Menurut Mas Leo

 

 

 

158

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 4  

 

 

reinkarnasi itu gimana tho, lalu bisa nggak dilihat sebe- 

narnya kita tuh siapa tho dari kartu tarot? 

J = Saya jawab pakai kartu tarot saja yah, saya ini kan du- 

kun tarot, hmmm hmmm hmmm.... 

Pertanyaan Anda: Reinkarnasi itu gimana tho? 

Kartu: Queen of Cups - Ace of Pentacles - 10 of Cups 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Reinkarnasi yaitu  apa yang Anda alami seka- 

rang ini. Segala sesuatu yang Anda rasakan sebagai hal 

yang berharga dalam hidup ini dan merupakan bagian tak 

terpisahkan dari diri Anda, itulah reinkarnasi. Di sini dan 

saat ini saja. You are at the Eternal Present. Dan, penger- 

tian seperti itu tercapai setelah Anda jatuh bangun kare- 

na merasa disakiti bla bla bla... sampe nangis bombay and 

things like that bla bla bla.... Namun, akhirnya Anda akan 

enjoy saja bahkan akan dibutuhkan oleh banyak orang di 

sekeliling Anda. You will give many people joy and happi- 

ness in the future, and in that way you shall also find your 

true fulfillment. Dan, inilah reinkarnasi: diri Anda sendiri 

di sini dan saat ini, dengan masa lalu yang gimana gituh, 

dan masa depan full of happiness yang juga gimana gituh. 

You know that it shall come and you shall also say so what 

gitu lho. Que sera sera, whatever will be will be. The future’s 

NOT ours to see, sebab  kita hanya dapat hidup di sini dan 

saat ini. There is no “future” neither “past”. Yang ada hanya 

the Eternal Present. Segalanya berlangsung saat ini dan 

di sini, bahkan ketika kita melampaui dimensi ruang dan 

waktu, serta CERITANYA melihat masa lalu or masa de- 

pan, both dengan tanda kutip. The “masa lalu” dan the 

“masa depan”. 

 

 

Pertanyaan Anda: Bisa nggak dilihat sebenernya kita tuh 

siapa tho dari kartu tarot? 

Kartu: 9 of Pentacles - Knight of Cups - 6 of Swords 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Jika kita mau melihat siapa kita sebenarnya di 

kehidupan sebelumnya (past lives), kita akan menemu- 

kan banyak interpretasi. Kita maunya jadi apa, maka jadi- 

lah itu. Yang namanya past lives merupakan suatu konsep 

yang gimana gituh, full of jebakan juga, sama saja seperti 

religions. Jika kita percaya, kita akan menemukan segala 

macam yang ingin kita temukan di sana, bahkan dengan 

cara membengkokkan segala sesuatunya. Jika ingin men- 

jadi reinkarnasi dari Cleopatra, ya bisa saja, tidak ada 

orang yang akan keberatan. Jika ingin menjadi reinkar- 

nasi dari Nyi Blorong juga boleh saja, no difference at all

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL  

 

 

daripada reinkarnasi Cleopatra sebab  semuanya mung- 

kin hanya “memori” yang kita sadap dari Alam Semesta 

ini. Kita dapat menyadap apa pun, bahkan informasi yang 

tersembunyi dan menjadikannya sebagai reinkarnasi kita 

di masa lalu, which is a sort of penipuan diri. 

 

 

T = Sementara itu saja yang mau saya tanyain mas, matur 

nuwun sanget ya mas. 

J = You are very welcomed. Well, ngapain dipikirin, sih? Kita 

hidup di sini dan saat ini saja deh.... Aum bhur bhu- vah 

svaha thatsavitur varenyam bla bla bla... aum... aum... 

aum.... And say so what gitu lho! 

Studi Kasus 5 

 

Apa yang Terjadi pada Seseorang Saat dan Setelah Meninggal? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T = Mas Leo, apa yang terjadi pada seseorang saat dan 

setelah meninggal? If you’re gonna use tarot for this, would 

you mind playing at least three games, so that koneksitas 

antar-games-nya bisa lebih terjelaskan? 

J = Wow, kita lihat saja yah, saya akan melakukan games 

simulation memakai  kartu tarot dengan pertanyaan: 

Apa yang terjadi pada seseorang saat dan setelah mening- 

gal? 

Game 1: 

Kartu: 8 of Cups - 5 of Wands - 8 of Wands

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

162

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 5  

 

 

Artinya: Orangnya akan fight terus pada saat dan setelah 

meninggal. Ini yaitu  orang yang merasa bahwa dirinya 

memiliki kekuatan batin yang berasal dari roh-roh, se- 

hingga tidak rela jika harus memble saja ketika ajal da- 

tang. Jadi, secara fisik akan terlihat bahwa orangnya me- 

ronta-ronta terus, dan bahkan berencana untuk maju 

terus pantang mundur sebab  merasa memiliki banyak 

energi simpanan yang dapat dipakai untuk melakukan se- 

suatu di alam nir-ruang dan waktu. He or she is prepared 

untuk menghadapi segala sesuatunya dengan “bekal 

kubur” berupa ilmu sakti mandraguna yang dapat berasal 

dari berbagai lakon keagamaan maupun nonkeagamaan, 

which has no difference whatsoever, sama saja jenisnya 

meskipun disebut dengan nama yang berbeda. 

 

 

Game 2: 

Kartu: 6 of Cups - 10 of Swords - Knight of Wands 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Orangnya akan sibuk sekali berkomunikasi de- 

ngan mereka yang ada di sekililingnya, menceritakan se- 

gala kisahnya di masa lalu, kisah ketika ia kecil bla bla bla.... 

Yang jelas, sudah tidak relevan bagi orang di sekitarnya, 

as well as tidak ada yang peduli. Jadi, ia ini akan memasuki 

alam kematian fisik berbekalkan memori kehidupannya 

di dunia masa lalu yang diceritakannya dengan semangat 

‘45 kepada mereka yang ada di sekelilingnya meskipun 

belum tentu orang lain mengerti, as well as mendengar 

apa yang diceritakannya. Bisa saja orang-orang di seki- 

tarnya  tidak  mendengar  satu  pun  suara,  namun   orang 

yang akan meninggal ini merasa bahwa dirinya meng- 

khotbahi semua orang, khotbah yang may be akan benar- 

benar terasa real setelah putus napasnya. Jadi, ia ini akan 

memasuki alam nir-ruang dan waktu seperti anak panah 

yang terlepas untuk menghayati sebebas-bebasnya imaji- 

nasi apa pun yang ingin diwujudkannya. 

Jika ingin disimpulkan, dari dua games itu kita dapat me- 

lihat bahwa ada “benang merah” yang tidak terlihat oleh 

mata namun  dapat teraba oleh alam pikiran kita. Kita akan 

menyadari bahwa apa pun yang ingin dilihat oleh orang 

yang akan meninggal, akan terlihat olehnya, dan bahkan 

akan tetap terlihat dan dijalani setelah orangnya mening- 

gal. Tentu saja kita tahu bahwa semuanya itu ilusi atau 

hanya berada di dalam pikiran orang itu sendiri, sebab  

ini semua namanya Mind Game, atau permainan pikiran. 

Yang sering diceritakan dalam kisah-kisah “Near Death 

Experience” itu ternyata tidak sama dengan apa yang kita 

lihat melalui dua games simulation ini. Mung- kin sebab  

mereka akhirnya kembali, hidup lagi. Untuk yang 

langsung meninggal dan tidak kembali, kita dapat 

berhipotesis bahwa kemungkinan skenarionya ada ban- 

yak, termasuk yang tiga di atas, meskipun kita juga dapat 

mengasumsikan bahwa ilusi itu tidak akan berjalan ter- 

us-menerus. Ada saat ketika orang yang telah meninggal 

itu sadar bahwa ia telah meninggal dan tidak perlu lagi 

menyibukkan diri dengan ilusi seperti yang biasa dilaku- 

kannya di dunia fisik ini.

 

 

 

 


Warna Ungu: Sejuta Agama Satu Tuhannya. Bersama 

Audifax, Leo menulis buku panduan bagi pembaca tarot 

yang diberi judul Psikologi Tarot. 

Sekarang Leo banyak mengadakan acara temu darat 

di Jawa dan Bali, yang disebutnya sebagai ajang berbagi. 

Ajang pembelajaran bersama demi pencerahan satu dun- 

ia yang konon berawal di tahun 2012 M. 

Studi Kasus 6 

 

Benar Nggak Kiamat 2012? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL 

T = Pada sistem penanggalan di dalam kalender bangsa 

Maya (Maya Calendar), yang merupakan kalender paling 

akurat yang pernah ada di bumi hingga sekarang (per- 

hitungan Maya Calendar dari 3113 SM sampai 2012 M), 

mereka (bangsa Maya) menyatakan pada tahun 2012, 

tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan End of 

Times. Maksud dari End of Times itu sendiri masih diper- 

debatkan oleh para ilmuwan dan arkeolog. Ada yang me- 

nyatakan bahwa maksud dalam kalender tersebut ada- 

lah:

1.   Berhentinya waktu (bumi berhenti berputar) 

2.   Peralihan dari Zaman Pisces ke Aquarius 

3.   Peralihan dari abad silver ke abad keemasan 

4.   End of Times = End of the World as we know it

5.   Akan ada sebuah galactic wave yang besar, yang

menghentikan  semua  kegiatan  di  muka  bumi ini, 

termasuk kemusnahan manusia 

6.   Perubahan dari dimensi 3 ke dimensi 4, bahkan 5 

7.   Kehidupan manusia meningkat dari level dimensi 3 

ke 4, DNA manusia meningkat dari strain 2 ke 12

 

TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 6

 

 

sehingga manusia dapat memakai  telepati bah- 

kan telekinesis 

8.   Ada yang menyatakan tidak akan terjadi apa-apa 

9.   Ada yang menyatakan waktu sudah tidak akan ber- 

laku, jadi waktu tidak linear, namun  dapat berubah- 

ubah sesuai dengan waktu yang kita alami, sebab  

ditemukannya mesin waktu 

10.Ditemukannya mesin waktu dan stargate 

11.Manusia   sudah   dapat   melakukan   transportasi   ke 

galaksi lain melalui stargate 

12.Bangkitnya Mesiah, yang akan menyelamatkan manu- 

sia dari kehancuran 

13.Kebangkitan Isa AS/Yesus 

14. First Contact pertama kali peradaban manusia dengan 

Alien/UFO 

15.Manusia  bergabung  dengan  komunitas  antargalaksi 

pertama kali, manusia = galaxy being. 

Dalam kalender bangsa Maya yang sangat tersohor itu, 

diramalkan bahwa pada periode 1992–2012 bumi akan 

dimurnikan, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini 

akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru. 

J = Nggaklah, nggak kiamat. 

T = Kalo gitu, apa sih arti End of Times di kalender itu 

menurut Anda? 

J = Saya akan menjawabnya dengan memakai  kartu 

tarot, seperti berikut. 

Pertanyaan Anda: Apa arti End of Times di kalender bang- 

sa Maya? 

Kartu: XXI. The World - 2 of Swords - XII. The Hanged 

Man 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Kita diberikan kesempatan untuk memilih. The 

End  of  Times  hanya  istilah  saja  yang  merujuk  bahwa 

pada saat ini, ketika mendekati tahun Masehi 2012, kita 

ternyata memiliki kesempatan untuk memilih. Jika kita 

ingin memilih untuk kembali ke masa lalu yang konon 

gilang-gemilang dengan segala macam agamanya, maka 

kita dapat melakukannya. Jika kita ingin memilih untuk 

maju terus ke masa depan, di mana kita dapat mengguna- 

kan segala kreativitas yang kita miliki untuk menciptakan 

masa depan yang baru, itu juga dapat dilakukan. Segala- 

nya itu merupakan pilihan. 

Simbol yang muncul jelas sekali, yaitu 2 of Swords. 

Simbol 2 of Swords berisikan gambar seorang wanita 

yang  ditutup  matanya  dan  memegang  dua  buah  ped- 

ang di kedua tangannya. Dua pedang itu yaitu  gambar 

pengambilan keputusan yang belum dilakukan. Bisa saja 

pedang itu disabetkan ke arah kiri, atau bisa juga disabet- 

kan ke arah kanan. Choose for that!

 

 

 



Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH