Aurobindo, Indra Sen, Haridas Chaud-
huri, dan Ken Wilber. Psikologi integral mencoba menga-
itkan berbagai mazhab yang ada ke dalam suatu kesatuan.
Mereka mencoba membuat sebuah pendekatan holistis
yang memperhitungkan semua aliran pemikiran yang su-
dah ada.
5.1.6 Positif
Psikologi positif membedakan dirinya dari mazhab lain
melalui cara pandang terhadap manusia dan kehidupan.
Psikologi positif melihat sisi baik dari manusia dan me-
nempatkan misteri di depan perjalanan hidup manusia
sebagai kekuatan. Kata positif di sini tidak berhubungan
dengan positivisme, namun lebih pada bagaimana melihat
kehidupan dan diri manusia sebagai sesuatu yang baik
adanya. Tokoh psikologi positif yang terkenal yaitu Mar-
tin Seligman dengan konsep Authentic Happiness-nya.
5.2 Psikologi Tarot dan Psikologi Simbol
Psikologi tarot yaitu pendekatan psikologi yang berada
di bawah psikologi simbol sebab seorang tarot reader
bekerja berdasarkan simbol-simbol arkais yang ada da-
lam tarot. Simbol-simbol ini membawa pesan yang si-
fatnya nomotetis sekaligus idiosinkratik. Nomotetis, ka-
rena simbol-simbol arkais ini sebenarnya berulang terus
108 109
sepanjang waktu dan di berbagai tempat dalam pola yang
sama. Simbol-simbol ini banyak ada dalam mite. Itu-
lah sebabnya semua mite dapat dibuatkan kartu tarot-
nya. Idiosinkratik, sebab pemaknaannya tidak bersifat
logosentris. Artinya, sekalipun keluar kartu yang sama
pada orang yang berbeda, pemaknaannya tidak akan per-
nah sama. Ini yang membedakan antara kartu tarot de-
ngan kartu Thematic Apperception Test (TAT), Rorschach,
dan tes-tes proyeksi dalam psikologi. Mengapa demikian?
sebab kartu TAT dan Rorschach bekerja dengan hukum
psikoanalisis yang berfokus pada nirsadar personal (ido-
sinkratik), sehingga perlu dibuat panduan (nomotetis).
Sedangkan kartu tarot bekerja berdasarkan nirsadar
kolektif (nomotetis) dan pewacanaannya harus bisa me-
masuki nirsadar personal (idiosinkratik).
Baik tarot maupun kartu-kartu proyeksi dalam psi-
kologi sama-sama mempunyai potensi terjebak dalam
kedangkalan pemaknaan. Hal itu terjadi ketika si konse-
lor atau pewacana gagal untuk meng-connect-kan dirinya
dengan klien. Pada titik ini, yang terjadi yaitu psikologi
ego yang mencoba mendefinisikan klien sesuai pema-
haman diri. Situasi inilah yang harus dihindari dengan
melakukan latihan terus-menerus untuk melatih kepe-
kaan.
Dalam psikologi tarot, tugas Anda yaitu menolong
sesama melalui sugesti, pengajaran kebijaksanaan, dan
pemaknaan. Penulis mengasumsikan bahwa Anda yang
membaca buku ini memiliki minat mempelajari psikologi
untuk mengombinasikannya dengan tarot. Ukuran keber-
hasilan dalam mempelajari buku ini yaitu :
2. Anda dapat menjawab pertanyaan apa itu tarot
tanpa terjebak dalam kesalahan pemahaman sep-
erti: Tarot yaitu klenik, tarot berhubungan dengan
kekuatan setan, tarot yaitu ramalan bohong, dan
sejenisnya.
3. Anda dapat menyadari bahwa hidup manusia me-
mang fana, namun dalam kefanaan itu ada ke-Ilahi- an
yang juga berlangsung, yang dapat dilihat bahwa
dalam hidup ada sinkronisasi, serta bagaima-
na sinkronisasi tersebut berlangsung dalam hidup
Anda.
4. Melihat bahwa tarot yaitu sebuah media yang ne-
tral, sebab tak mengandung ideologi, bias gender,
rasialisme, nondogmatik, tak melakukan judgment,
tak membuat orang menjadi kehilangan kehidupan-
nya akibat kategori bodoh, pintar, superior, dan se-
bagainya.
5. Melihat bahwa tarot dapat membawa pada pema-
haman yang jernih dan mendalam terhadap kehi-
dupan masing-masing orang. Sebagai sebuah media
untuk konseling, tarot memiliki kemampuan akses
yang jauh lebih mendalam dibanding konseling kon-
vensional.
Jadi, secara umum psikologi tarot memang memiliki
kedekatan dengan psikologi transpersonal. Hal yang
paling kentara yaitu psikoanalisis Jung. Namun, pada
bagian-bagian tertentu, ia memiliki perpotongan juga
dengan humanistis, behavioris, positif, dan terutama
sekali psikoanalisis.
1. Anda dapat melihat tarot sebagai sesuatu yang da-
pat diakses dan diterapkan dalam kehidupan manu-
sia, dengan latar apa pun.
110 111
5.3 Tarot, Psikologi Simbol, dan Pikiran
Bawah Sadar
Pada tarot, 22 kartu arkana mayor yaitu arketipe-arke-
tipe yang eksis pada tataran nirsadar kolektif. Arketipe-
arketipe ini sebenarnya aktif menyampaikan pesan-pesan
kehidupan pada manusia. Hal ini dapat dilihat pada ber-
bagai mite yang bermunculan. Jika ditelaah, ada kemirip-
an dari berbagai mite itu. Itulah sebabnya mengapa tarot
banyak yang dibuat berdasarkan mite. Sedangkan kartu-
kartu yang berada pada arkana minor memiliki kemirip-
an dengan empat fungsi kepribadian Jung (rasio, emosi,
intuisi, pengindraan).
Dalam Kejawen, kita mengenal sedulur papat limo
pancer. Pancer yang yaitu diri, atau ego, dapat disejajar-
kan dengan arkana mayor. Sementara sedulur papat yang
dalam Kejawen yaitu empat arah mata angin, dapat di-
sejajarkan dengan arkana minor yang memiliki empat
unsur (Swords, Wands, Cups, Pentacles).
Adanya pola seperti yang telah penulis gambarkan
tersebut mengindikasikan bahwa penggunaan kartu
tarot untuk mencari solusi dari masalah kehidupan bu-
kanlah suatu game of chance. Penggunaan tarot bukanlah
memakai prinsip random, namun sinkronisasi. Sin-
kronisasi mendalilkan bahwa segala sesuatu berhubun-
gan dengan sesuatu lainnya di alam fisik ini sebab me-
mang ada koneksi di dimensi nirsadar koletif, yang meru-
pakan Dimensi Spiritual. Spiritual bukan sekadar dalam
artian keagamaan, namun di sini, berarti pula penyatuan
apa yang transenden dan imanen. Nirsadar kolektif ada-
lah penghubung manusia dengan semesta dan segala
kekuatannya. Kekuatan inilah yang mengabulkan doa-doa
manusia dan menjaga keseimbangan kosmis di dalam-
nya. Alam bawah sadar dari pewacana tarot dan penanya
akan berinteraksi melalui nirsadar kolektif sehingga apa
yang muncul dalam bentuk kartu-kartu yang tercabut bu-
kanlah hasil kebetulan belaka, namun jawaban yang dicari
oleh si penanya.
Semua solusi yang dicari oleh penanya sebenarnya
telah dijawab oleh Sang Kekuatan Semesta, namun masih
berada di dalam alam bawah sadar si penanya. Melalui
tarot, alternatif solusi itu dibawa ke atas meja dalam ben-
tuk simbol-simbol yang muncul di kartu-kartu itu. Simbol-
simbol itu diinterpretasikan dan dikomunikasikan kepa-
da kesadaran si penanya yang akhirnya dapat mengerti,
menerima, dan menjalankannya. Dengan demikian, tarot
bukanlah ramalan. Sebaliknya, tarot justru bentuk elit dan
bonafide untuk melakukan pemahaman spiritual yang da-
pat dilakukan secara mandiri. Perkembangan pemikiran
dan teknologi membuat manusia cenderung hanya ber-
pikir linier, ini membuat dalam banyak hal manusia ter-
putus dengan ketuhanan. Melalui tarot, pengetahuan, ke-
bijaksanaan, dan kesejatian kebenaran dapat ditemukan.
Tarot yaitu suatu sistem simbolis yang menghubungkan
semua manusia di dunia.
Pada dasarnya, pewacanaan tarot yaitu proyeksi
dari saat ini ke saat tertentu di masa depan. Mereka yang
berlatar belakang matematika mungkin lebih mudah
mengerti penjelasan tersebut, sebab sama persis se-
perti memproyeksikan suatu titik koordinat (X,Y) di satu
bidang ke bidang lainnya di seberang axis X atau axis Y.
jika titik koordinat yang baru (X1,Y1) ternyata tidak
sesuai dengan keinginan, apa yang harus dilakukan?
Tentu saja kita harus mengubah titik koordinat asal (X,Y)
sehingga titik koordinat yang diproyeksikan itu (X1,Y1)
akan jatuh di tempat yang diinginkan. Begitu pula de-
ngan “ramalan”. jika ternyata yang diramalkan jelek,
berarti ada sesuatu yang harus diubah saat ini sehingga
masa depan yang diramalkan itu akan menjadi baik. Bi-
asanya yang harus berubah yaitu si penanya sendiri,
bukan orang lain atau lingkungannya. jika si penanya
mau berubah seperti yang disarankan, otomatis masa de-
pannya akan menjadi baik.
Pada titik ini, sebenarnya cara kerja kartu tarot dapat
dipahami secara rasional. Bahkan apa yang diwacana-
kan/diramalkan selalu logis dan rasional. Kita manusia
paska-modern tidak dapat lagi diiming-imingi dengan
segala takhayul dari masa lalu. Keparanormalan yang
berselaput takhayul sudah masanya untuk lewat, dan
tarot sebagai bagian dari keparanormalan sudah sehar-
usnya menyesuaikan diri. Pewacana tarot yang baik ada-
lah seorang rasional yang mengandalkan doa/meditasi
dan pemberian alternatif solusi yang logis dan rasional.
Dengan demikian, ia tak terjebak dalam empirisme yang
mematikan kehidupan dan pertumbuhan, tak pula terh-
anyut dalam takhayul yang menyesatkan.
Tarot bekerja atas dasar arketipe, sama dengan mite.
Arketipe-arketipe ini sebenarnya menyampaikan pesan
bagi kehidupan manusia. Pesan untuk apa? Untuk mem-
beri isyarat akan “arah” perjalanan individuasi manusia.
Individuasi inilah yang akan mengangkat manusia untuk
tak terjebak dalam nihilisme kehidupan.
Individuasi yaitu proses menjadi diri, realisasi diri.
Individuasi yaitu perwujudan secara berangsur-angsur
dari tendensi individu untuk mencapai keutuhan psikis,
di mana ketegangan dari perlawanan-perlawanan kom-
plementer dan kompensatoris antara kesadaran dan alam
nirsadar dalam kepribadian seseorang dapat didamaikan
melalui lambang pemersatu yang integratif dan yang su-
dah ada dalam psikenya sendiri, yaitu self (Diri)5.
Dalam psikologi Jungian, setiap manusia melakukan
perjalanan menuju individuasi dan perjalanan ini hanya
mungkin terjadi ketika manusia merefleksikan “tanda-
tanda” yang muncul dalam perjalanan itu. Sayangnya,
banyak orang sudah tak bisa lagi membaca tanda-tanda
itu sebab telah terbatasi oleh hal-hal seperti kemasuk-
akalan, empirisme, rasionalisme, positivisme, dan sejenis-
nya. Untuk menangkap makna tanda-tanda itu, manusia
harus keluar dari kungkungan semua hal itu. Tarot di sini
yaitu sebagai sarana untuk membantu manusia keluar
dari kungkungan itu dan menangkap pesan dari semesta
bagi kehidupannya.
5 Carl Gustav Jung. 1989. Memperkenalkan Psikologi
Analistis: Pendekatan Terhadap Ketaksadaran (saduran G.
Cremers). Jakarta: Penerbit Gramedia; hal. 16.
Tarot: Klenik atau Ilmiah?
“The truth has never been of any real value
to any human being –
it is a symbol for mathematicians and philosophers to pursue.
In human relations kindness and lies are worth a thousand truths.”
–Graham Greene
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
Apakah tarot termasuk klenik?
Pertanyaan-pertanyaan senada
pernah dilontarkan sehubungan
dengan buku Psikologi Tarot yang
penulis tulis. Pertanyaan tersebut
umumnya dilontarkan oleh me-
reka yang memiliki background
psikologi, sebab buku tersebut
memakai judul Psikologi Ta-
rot, yang berarti mengombinasi-
kan antara psikologi sebagai ilmu
dan pembacaan kartu tarot.
Lalu, bagaimana sebenarnya
pemahaman kriteria ilmiah menu-
rut mereka? Ternyata, menurut mereka, kriteria ilmiah
yaitu dapat direplikasi dengan hasil yang sama. Ketika
ditanya lebih jauh: Mengapa kriteria ilmiah seperti yang
disebutkan? Mereka, secara umum, menjawab: “Begitu-
lah yang diajarkan waktu kuliah”.
aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas
Pencerahan
William Wollaston,
Anthony Collins,
John Troland,
Pierre Bayle, Denis
Diderot, Jean le
Rond, De la Metrrie,
Condillac, Helvetius,
Holbach, Voltaire,
Montesquieu, De
Nemours, Quesnay,
Turgot, Rousseau,
Thomasius, Ch.
Wolff, Reimarus,
Mendelssohn, Less-
ing, dan lain-lain
Setiap penjelasan didukung oleh
sumber primer dan legitimasi untuk
otoritas.
Immanuel Kant mendefisiniskan se-
bagai kebebasan memakai kecer-
dasan intelektual.
Inilah masa di mana pusat kebenaran
bergeser dari hati nurani menuju
pada rasio.
Rasionalisme
Rene Descartes,
Baruch de Spinoza,
Leibniz, Blaise
Pascal
Rasionalisme lebih merupakan me-
tode atau suatu teori yang menem-
patkan kriteria kebenaran bukan ber-
dasar sensoris melainkan intelektual
dan cara berpikir deduktif.
Empirisme
Thomas Hobbes,
John Locke, George
Berkeley, David
Hume
Empirisme yaitu teori untuk
memperoleh pengetahuan yang
mengedepankan pengalaman sebagai
sumber munculnya pengetahuan.
Empirisme yaitu sejumlah cara
pandang mengenai bagaimana kita
mengetahui “sesuatu”.
Empirisme merupakan pengembang-
an dari apa yang dalam filsafat dike-
nal sebagai epistemologi.
Empirisme menekankan pada peran
pengalaman dan bukti, khususnya
yang diperoleh dari persepsi sensoris.
Idealisme
Kant, Fichte, Schell-
ing, Hegel,
Schopenhauer
Idealisme yaitu teori filosofis yang
menekankan pemahaman bahwa titik
alami yang ultima dari realitas yaitu
berdasar pada pikiran atau ide. Apa
yang kita pahami sebagai “dunia riil”
tak akan bisa dipisahkan dari pikiran,
kesadaran, maupun persepsi.
Pemahaman mengenai “ilmiah” semacam itu jelas
bukan cara memahami secara ilmiah melainkan klenik,
yaitu mengandalkan kepercayaan buta atas apa yang
sebenarnya tak dipahami secara mendalam asal usulnya.
Jika kita mau bicara tentang keilmiahan, kita harus pa-
ham secara mendalam mengenai semesta pengetahuan,
terutama apa yang mendasari ilmu pengetahuan, yaitu
filsafat. Memahami suatu ilmu dan mengklaim pemaham-
annya ilmiah namun tanpa tahu dasar filosofisnya, sama
saja dengan sebuah pemahaman yang muncul dari dasar
laut.
Orang yang memahami filsafat akan tahu bahwa ada
begitu banyak aliran pemikiran yang menjadi dasar pen-
jelasan keilmiahan suatu fenomena kehidupan. Secara
garis besar, aliran-aliran tersebut digambarkan sebagai
berikut:
aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas
Renaissance
Machiavelli, Gior-
dano Bruno, Francis
Bacon
Renaissance dapat diartikan “kela-
hiran kembali”. Secara umum
sebenarnya merupakan gerakan kul-
tural yang meliputi berbagai aspek di
Eropa. Inti dari masa ini yaitu pem-
berontakan atau pembacaan secara
berbeda nilai-nilai kuno (terutama
Yunani dan Romawi) dibanding apa
yang sebelumnya telah dimapankan
di abad pertengahan. Namun, Renais-
sance menjadi awal dari munculnya
era pencerahan atau Aufklärung.
118 119
aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas
Materialisme
Feuerbach, Marx
Filosofi materialisme berpegang bah-
wa hanya hal yang eksis yang layak
diperhitungkan, dan ini merupakan
bentuk lain dari fisikalisme.
Secara mendasar, segala hal dikompo-
sisi oleh materi dan semua fenomena
(termasuk kesadaran) yaitu hasil
dari interaksi materi. Oleh sebab itu,
materi yaitu satu-satunya substansi.
Sebagai suatu teori, materialisme
termasuk dalam klasifikasi ontologi
monisme.
Eksistensial-
isme
Kierkegaard,
Nietzche
Eksistensialisme yaitu istilah yang
diterapkan pada pemikiran sejumlah
filsuf yang muncul antara abad 19
hingga 20.
Mereka menempatkan manusia se-
bagai subjek, namun bukan subjek
berpikir ala Cartesian melainkan
subjek yang tampak dalam perilaku-
nya, perasaannya, serta individualitas
kehidupannya, yang semua itu meru-
pakan bagian dari eksistensinya, atau
“Ada”-nya di dunia.
Filsafat Eksistensialisme dapat dike-
nali dari konsepnya mengenai mani-
festasi eksplisit, sikap eksistensial-
isme manusia, yang umumnya dimulai
dari disorientasi atau kegundahan
sebab perasaan tak bermakna atau
dunia yang absurd.
Eksistensialis memiliki kredo: Eksis-
tensi mendahului Esensi.
aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas
Konservatisme
dan Anarkisme
De Maistre, De Bon-
ald, Chateaubriand,
De Lamennais,
Destutt de Tracy,
De Volney, Cabanis,
De Biran, Fourier,
Saint-Simon,
Proudhon
Konservatisme yaitu istilah yang
akrab di dunia politik dan sosial.
Istilah ini berasal dari bahasa Latin
conservere yang artinya untuk menga-
mankan atau memelihara. Konser-
vatisme mengindikasikan adanya
dukungan pada tradisi dan nilai tra-
disional, meskipun makna dari nilai
tersebut telah berubah di berbagai
negara dan seiring periode waktu.
Anarkisme yaitu filosofi politik yang
menyilangkan antara teori dan sikap
yang muncul sebagai pernyataan
untuk mereaksi hal yang dianggap
tidak penting, tidak tepat, atau tidak
diinginkan.
Tak ada definisi tunggal untuk men-
jelaskan posisi anarkis, dan apa yang
menjadi tujuan anarkis yaitu untuk
(selalu) menata ulang suatu yang te-
lah secara familier diterima.
Positivisme
A Comte, JS Mill,
Spencer
Positivisme yaitu filosofi yang ber-
pegang bahwa pengetahuan autentik
hanyalah yang diperoleh berdasar
pengalaman sense yang aktual.
Spekulasi metafisika dihindari.
Pendekatan positif inilah yang ke-
mudian menjadi tema berulang sejak
Yunani Kuno hingga sekarang, dan
mengambil peran dominan dalam
pengetahuan.
120 121
aliran Nama filsuf Deskripsi ringkas
Strukturalisme
Saussure,
Levi-Strauss, dan
lain-lain
Strukturalisme yaitu sebuah
pendekatan untuk human sciences
yang berusaha menganalisis area
spesifik (misalnya mitologi) sebagai
suatu sistem kompleks yang saling
terhubung antara satu bagian dengan
bagian lainnya.
Strukturalisme berawal dari analisis
linguistik yang dilakukan Ferdinand
de Saussure. Namun, para intelektual
Prancis kemudian mengembangkan
penerapannya ke berbagai aplikasi di
luar linguistik, misalnya antropologi,
psikoanalisis, teori literasi, dan arsi-
tektur.
Post-struk-
turalisme
Lacan, Foucault,
Derrida, dan lain-
lain
Post-strukturalisme merupakan
perkembangan intelektual hasil per-
silangan dari filsafat, sosiologi, dan
teori kritis yang terutama dipelopori
oleh pemikir-pemikir Prancis di abad
20.
Gerakan post-strukturalisme sulit
untuk didefinisikan atau diringkas,
namun mungkin secara umum (dan
reduktif) dapat dipahami sebagai res-
pons terhadap strukturalisme.
Itu semua hanyalah sebagian dari penggambaran semesta
ilmu pengetahuan dan keilmiahan. Apa yang disebut se-
bagai “kriteria ilmiah yaitu dapat direplikasi dengan ha-
sil sama” sebenarnya disumbang oleh aliran renaissance,
yang kemudian berlanjut di sebuah era penting, yaitu
pencerahan, yang kemudian melahirkan aliran-aliran
semacam: positivisme, rasionalisme, dan empirisme.
Sementara itu, “keilmiahan” yang dilandasi aliran pe-
mikiran lain, misalnya eksistensialisme, justru menolak
keberulangan dan berfokus pada autentisitas. Hal yang
sama juga terjadi pada post-struktralisme yang menolak
segala bentuk pusat absolut atau yang menstabilkan.
Nah, pertanyaannya kemudian yaitu : Lalu, bagaima-
na yang ilmiah itu? Di sini penulis akan menjawab bahwa
dari semua aliran filsafat, termasuk yang tak dicantum-
kan pada tabel, sebenarnya dapat diakui ketika seseorang
mampu membangun pemikirannya di atas landasan on-
tologis, epistemologi, dan aksiologi (atau metodologi)
yang kuat.
Penulis akan mengambil contoh dengan kartu Ror-
schach atau kartu bercak tinta yang diajarkan sebagai
mata kuliah di psikologi. Apakah kartu Rorschach ilmiah?
Bagaimana jika kemudian seseorang yang tak pernah
memakai kartu Rorschach, tak tahu menahu pen-
jelasan kartu tersebut, lantas diberi kesempatan meng-
gunakan kartu-kartu tersebut, lalu secara tepat mampu
membidik kondisi psikis seseorang? Apakah itu ilmiah?
Jawabannya: Tidak! sebab dengan demikian orang
tersebut sebenarnya tidak mempunyai landasan ontolo-
gis, epistemologi, dan aksiologi yang kuat. Cara seperti itu
sama dengan peramal tarot yang tak mau pusing dengan
ontologi, epistemologi, dan aksiologi simbol-simbol da-
lam kartunya, namun mampu memakai nya secara jitu
untuk meramal kondisi kliennya. Jadi, kartu Rorschach
yang konon ilmiah pun, dapat dikategorikan klenik jika
penggunanya tidak paham ontologi, epistemologi, dan
aksiologinya: hanya sebatas piawai memakai nya un-
tuk menebak secara tepat kondisi klien.
Sebaliknya, mereka yang paham benar ontologi, epis-
temologi, dan aksiologi dari kartu-kartu Rorschach, seka-
ligus piawai memakai nya untuk membidik kondisi
psikis klien secara jitu, merekalah yang pantas disebut
orang-orang yang ilmiah. Sebutan itu dapat ditengarai
122 123
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
sebab mereka bukan saja paham keilmiahan, namun juga
piawai dengan keilmiahannya. Sama juga dengan peng-
gunaan kartu-kartu tarot untuk konseling psikologi jika
mereka memahami benar ontologi, epistemologi, dan ak-
siologinya, mereka pun dapat dikategorikan ilmiah.
Bagaimanapun, simbol-simbol kartu tarot pernah
dibahas setidaknya oleh Jung, juga Levi-Strauss. Pemba-
hasan itu masih dapat dipertemukan lagi dengan aliran
psikologi transpersonal, bahkan Post-strukturalisme.
Dalam buku Psikologi Tarot, penulis sudah menunjuk- kan
mengenai hal itu, dan dalam buku ini kembali penulis
tunjukkan bagaimana Jungian, strukturalisme, dan post-
strukturalisme dapat digunakan membahas tarot secara
ilmiah.
Sekarang kembali ke tudingan dari orang-orang
psikologi, yang berkata-kata bahwa tarot yaitu klenik.
Tudingan itu bisa dengan mudah dibalik jika mereka tak
mampu menjelaskan ontologi, epistemologi, dan aksi-
ologi dari semua bentuk alat tes psikologi, terutama yang
berbasis proyeksi semacam kartu Rorschach dan TAT.
Bab 7
Memahami Energi dalam
Interaksi Sosial
“Condense some daily experience into a glowing symbol and an audience
is electrified.” –Ralph Waldo Emerson
Pepatah mistis kuno berkata-kata :
Ke mana kita memusatkan perha-
tian, ke situlah energi mengalir.
Dengan demikian, setiap orang
akan memancarkan energi keluar
dari dirinya lewat serangkaian
asumsi dan pandangan hidupnya.
Jadi, saat dua orang berinteraksi,
keduanya saling memancarkan
energi sehingga terjadi dialektika
energi antara keduanya. Di sinilah
sebenarnya urgensi adanya relasi
positif, seperti banyak dibahas da-
lam mazhab psikologi positif.
Psikologi positif sebenarnya
berusaha membawa individu pada semacam Authentic
Happiness atau Kebahagiaan Sejati. Sebenarnya semua
orang menginginkan sebuah tujuan yang sama, yaitu Ke-
bahagiaan. Hanya saja, orang kerap rancu dalam membe-
124
dakan antara kebahagiaan dengan kesenangan atau ke-
nyamanan, yang sifatnya semu.
Kebahagiaan sejati hanya dapat diperoleh ketika
mendapatkan energi yang sifatnya natur. Ini yaitu ener-
gi yang menumbuhkan. Sementara hal-hal yang sifatnya
semu, seperti kesenangan, didapat melalui energi yang
sering kali tidak bersifat menumbuhkan.
Dalam relasi, energi-energi yang tidak menumbuhkan
itu biasanya diperoleh lewat permainan peran. James
Redfield, dalam Celestine Prophecy dan Celestine Vision,
menyebut ini dengan istilah “drama pengendalian”.
7.1 Konflik yaitu Perebutan Energi
dengan Cara Salah
Sumber konflik tidak masuk akal di dunia manusia sebe-
narnya terjadi ketika dalam relasi terjadi pemancaran
energi yang bertujuan mendominasi satu sama lain atau
yang satu menaklukkan yang lain dan menyedot energi
dari yang ditaklukkannya. Inilah yang disebut Redfield
sebagai “drama pengendalian”. Setidaknya, ada empat
jenis drama pengendalian, yaitu:
1. Tipe aku yang malang
Drama pengendalian paling pasif yaitu strategi korban
atau “Diriku yang Malang”. Dalam drama ini seseorang
tidak secara langsung bersaing memperebutkan energi,
melainkan mencari perhatian serta penghargaan dengan
cara memanipulasi rasa simpati.
Di satu sisi ia mendapatkan penderitaan, namun di sisi
lain ia mampu menarik simpati orang sebab caranya
mengolah penderitaan tersebut menjadi sebentuk ko-
munikasi akan keadaan dirinya. Lewat simpati itulah ia
mendapatkan penguatan untuk mengompensasi penderi-
taannya. Namun, cara ini jelas tidak menyelesaikan apa
yang menjadi masalah sebenarnya.
Semesta sebagai medan energi akan memberi respons
dengan menciptakan dunia yang persis seperti dalam
pandangan orang tersebut, dan dengan cara ini drama Di-
riku yang Malang menjadi lingkaran setan yang justru di-
kuatkan oleh orang itu sendiri. Bahkan sering kali orang
itu pun tidak menyadari keterjebakannya.
2. Tipe Dingin dan Berjarak
Tipe ini sebenarnya pasif, namun tidak terlalu pasif jika
dibanding tipe Aku yang Malang. Tipe ini berciri: mengam-
bil jarak, memisahkan diri, dan menciptakan misteri baik
lewat penampilan maupun jawaban-jawaban. Dengan
menciptakan aura misterius dan tidak jelas di sekeliling-
nya, ia memaksa orang lain mencurahkan energi untuk
menggali informasi yang biasanya bisa didapatkan tanpa
perlu berusaha. Dengan cara ini tipe Dingin dan Berjarak
mendapatkan energi yang ia inginkan dari orang lain.
3. Tipe Interogator
Drama pengendalian yang lebih agresif dan banyak di-
jumpai di sekeliling yaitu tipe Interogator. Dalam strate-
gi manipulasi ini, mereka memakai kritik untuk
memperoleh energi dari orang lain. Di hadapan interoga-
tor, orang akan selalu merasa diawasi sehingga terbatasi
geraknya. Selanjutnya, interogator mungkin mengang-
gapnya tidak kompeten, kekanak-kanakan, tidak dewasa,
bodoh, dan sebagainya. Strategi ini kerap membuat orang
yang menjadi sasaran kritik atau sekelilingnya menjadi
tersentak, bahkan tak jarang orang lain memercayai kri-
tik tersebut dan memberi dukungan dengan ikut-ikutan
126 127
menghujani kritik yang sama. Persis di titik inilah sang
interogator memperoleh energi dari orang yang dikri-
tiknya.
Sang interogator berniat terus-menerus menghakimi
kehidupan orang lain sehingga begitu interaksi dimulai,
orang lain dapat terbawa mengikuti cara pandangnya
dan akhirnya sang interogator memperoleh energi dari
caranya mengkritik dan menghakimi orang lain.
4. Tipe Intimidator
Drama pengendalian paling agresif yaitu Intimidator.
Orang yang memasuki medan energi seorang intimidator
akan merasa energinya tersedot habis dan tidak nyaman,
bahkan merasa terancam atau berada dalam bahaya. In-
timidator akan melakukan sesuatu yang mengindikasi-
kan ia dapat marah atau mengamuk dengan tiba-tiba.
Ia mungkin bercerita tentang menyakiti orang lain atau
menunjukkan betapa marah dirinya dengan merusak ba-
rang atau melempar barang.
Strategi intimidator membuat perasaan dan energi
orang lain tersedot sebab saat merasa terancam orang
akan benar-benar memfokuskan perhatian pada sang in-
timidator. Curahan perhatian ini akan menyalurkan ener-
gi kepada sang intimidator. Bahkan ketika akhirnya orang
yang terintimidasi tunduk, berusaha memahami dunia le-
wat cara pandang sang intimidator, maka seketika sang
intimidator mendapat suntikan energi yang sangat ia bu-
tuhkan.
7.2 Mengatasi Kebutuhan Energi
Bagaimana mengatasi kebutuhan energi? Pepatah sufi
berkata-kata : Aku mencari Tuhan dan hanya menemukan
Diriku, Aku mencari Diriku dan hanya menemukan Tuhan.
Pepatah itu menyiratkan hal yang sama dengan pandang
an agama mana pun, di mana jalan hidup manusia yaitu
menuju Tuhan. Namun tunggu dulu, ternyata pencarian
Tuhan di sini bukan perjalanan menuju tempat nun jauh
di sana, melainkan berawal dan berakhir pada diri kita
sendiri.
Surga bukan dunia pengganti kehidupan saat ini, namun
ada pada kebahagiaan yang dapat ditemukan manusia di
dunia ini. Di kebahagiaan, kita akan menemukan ener-
gi yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Semua
orang sebenarnya mencari kebahagiaan sejati ini, namun
sering kali terkecoh oleh ilusi dan tersesat untuk sekadar
mencari kesenangan, yang dikiranya kebahagiaan.
Kebahagiaan hanya nyata ketika perasaan itu mampu
dibagi dengan orang lain. Inilah salah satu ciri kebahagiaan.
Cara membagi kebahagiaan ini bukanlah semacam men-
traktir atau mendermakan sesuatu, melainkan membuat
orang lain merasakan pertumbuhan ketika bersentuhan
dengan apa yang kita bagi tersebut. Ketika orang mampu
mencapai titik ini, di situlah ia menemukan Energi Sejati,
yang memang sesuai dan diperuntukkan untuknya.
Ciri dari orang-orang seperti ini dapat dikenali lewat
karya hidupnya. Mungkin saja mereka yaitu yang sering
dianggap aneh oleh orang lain, namun entah bagaimana,
orang-orang ini mampu membagi sesuatu yang membuat
orang lain tumbuh. Dalam kehidupan, mereka yaitu to-
koh-tokoh besar yang spiritnya tetap ada dan menghidup-
kan orang lain meski mereka telah tiada.
Apakah harus menjadi tokoh besar untuk menemukan
Energi Sejati ini? Jawabnya tidak. Energi ini dapat diper-
oleh dari peran apa saja, yang memang disadari orang
sebagai peran yang diperuntukkan untuknya. Peran yang
128 129
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
membuat ia tak sekadar terjebak dalam kesenangan,
namun mampu mencapai kebahagiaan. Peran itu dapat
berhubungan dengan pekerjaan, profesi, anak, istri, sua-
mi, atau apa saja.
Sering kali tidak mudah menemukan peran ini. Dan,
bagi yang telah menemukannya, melakoni peran tersebut
juga bukanlah persoalan mudah. Orang-orang mudah ter-
jebak untuk menjalani peran sebagai Aku yang Malang,
Dingin dan Berjarak, Interogator, atau Intimidator. Sebe-
narnya apa yang mereka cari yaitu kebahagiaan, hanya
saja mereka terbelokkan untuk sekadar memperoleh ke-
senangan lewat energi yang diambil dari orang lain mela-
lui peran-peran tersebut.
Di sinilah letak peran tarot, yaitu sebagai psikologi
simbol dalam membantu klien menemukan sumber ener-
gi yang sehat untuk dirinya. Caranya yaitu dengan men-
emukan pathway-nya sendiri. Simbol-simbol dalam kartu
yang muncul dapat dianalogikan sebagai rambu-rambu
yang menuntun klien menemukan pathway-nya. Jika su-
dah menemukan pathway-nya, ia akan menemukan sum-
ber energi yang luar biasa, yang ternyata bukan dari ma-
na-mana, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Di situlah
sebenarnya berlaku pepatah sufi: Aku mencari diriku dan
hanya menemukan Tuhan, aku mencari Tuhan dan hanya
menemukan diriku.
Bab 8
Tarot dan Intuisi
“Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you
realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you.”
–Lao Tzu
Berbeda dengan teknik proyeksi dalam psikologi lain
yang lebih berpusat pada rasionalitas, pewacanaan tarot
lebih berpusat pada ketajaman intuisi. Jika pada teknik-
teknik proyeksi yang rasional orang lebih dituntut untuk
menghafal, maka dalam pewacanaan tarot, untuk mena-
jamkan intuisi, orang lebih dituntut melalui doa dan/atau
meditasi. Cara-cara doa dilakukan jika pewacana atau
peramal yaitu seorang agamais (religious), dan cara
meditasi dilakukan jika pewacana yaitu seorang ke-
batinan (spiritual). Cara doa dan meditasi dapat dilaku-
kan bersamaan jika penanya yaitu seorang “hybrid”,
yaitu seorang spiritual yang masih belum bisa menerap-
kan prinsip “non-attachment” terhadap tuntutan agama,
dan itu sah saja. Mengenai doa/meditasi dan intuisi akan
kita pahami secara mendalam pada penjelasan-penjela-
san berikutnya6.
6 Leonardo Rimba dan Audifax. 2009. Psikologi Tarot.
Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
130
Dalam psikologi Jung dikenal prinsip entropi. Penu-
lis akan mencoba memberikan sedikit gambaran apa itu
entropi. Bayangkan di depan Anda ada dua mangkuk,
yang satu air panas dan yang lain berisi air dingin. Ke- tika
Anda menyatukan kedua isi mangkuk, yang terjadi yaitu
perpindahan dari panas ke dingin dan sebaliknya. Ada
semacam energi yang bergerak dari satu tempat ke
tempat lain. Hampir sama dengan prinsip air atau udara
yang bergerak: udara mengisi tempat kosong, air berge-
rak ke tempat lebih rendah. Manusia memiliki energi da-
lam dirinya, energi yang mengaktifkan kesadarannya dan
menggerakkannya. Dalam meditasi, terjadi entropi ener-
gi dalam diri manusia. Perpindahan untuk menurunkan
energi yang berpusat pada rasionalitas atau kesadaran
(conscious) menuju unconscious dan beyond conscious. Ke-
tika sudah mengaktivasi penjelajahan pada unconscious
dan beyond conscious barulah pesan-pesan simbolis dari
kartu tarot dapat di-decoding.
8.1 Intuisi dan Pertumbuhan Spiritual
Selama ini, argumen tulisan dengan warna agama umum-
nya didasarkan pada logika belaka: penalaran berdasar-
kan prinsip induksi deduksi dan penelusuran arti dari
ajaran agama. Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada,
meskipun cara itu kurang familier. William James, seorang
perintis psikologi dari Amerika Serikat, dalam bukunya
yang berusia satu abad: Varieties of Religious Experience
(sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia), berusaha
mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia
sebagai individu, bukan sebagai kelompok angka-angka
statistik belaka atau pembuat rekor output industri: ma-
nusia sebagai manusia.
William James melihat bahwa agama (religi) hanya
berarti jika dialami sebagai pengalaman pribadi. Arti-
nya, ada pengalaman pribadi yang dapat diterangkan
dengan memakai simbol-simbol dari agama tertentu
yang dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipi-
sahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Agama da-
lam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka,
namun sudah masuk ke dalam kesaksian pribadi tentang
bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinama-
kan “Tuhan” telah beraksi secara konkret dalam kehidup-
an pribadi seorang penganut agama.
Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argu-
men yang ada hanya berputar pada agama mana yang pa-
ling benar. Tentu saja jawabnya tidak ada. Sama saja de-
ngan bertanya agama mana yang paling salah. Jawabnya
tetap, tidak ada agama yang salah. Agama yaitu buatan
manusia. Konsepsi belaka. “Tuhan” juga yaitu konsepsi
belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang diasumsikan
dialami secara pribadi oleh orang per orang.
Menurut James, ajaran agama atau religi yaitu suatu
wadah dialog antara penganut dan sesuatu yang diper-
cayainya sebagai “Tuhan”. Harus ada dialog berupa pe-
ngalaman pribadi. jika itu tidak ada, yang terjadi ada-
lah seperti orang buta menuntun orang buta. Hasilnya
seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa
juga tidak diketahui. Paling jauh, orang itu hanya akan
membuka buku lain lagi untuk memperoleh jawabannya,
atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti.
Inilah situasi di Indonesia.
William James di dalam bukunya melihat bahwa ada
dua macam manusia penghayat keagamaan, yaitu manu-
132 133
sia yang lahir dua kali (twice born) dan manusia yang la-
hir hanya satu kali (once born).
Manusia yang lahir dua kali yaitu manusia yang me-
ngalami suatu pengalaman religius traumatis: suatu per-
jumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan pri-
badi itu dapat diceritakan dengan narasi yang terstruk-
tur rapi sehingga orang lain dapat mengerti. Narasi dapat
berupa deskripsi tentang hal-hal yang akhirnya memba-
wa seseorang hingga mengalami hal traumatis tersebut.
Dan, setelah hal traumatis berupa pengalaman religius
yang menggoncangkan itu dialami, subjek akan berubah
total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang
percaya penuh bahwa “Tuhan” memang berperan dalam
hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di hidupnya.
Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti
yang dialami oleh sebagian besar dari kita, namun meru-
pakan suatu kata penuh makna yang terkait erat dengan
hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per detik.
Tuhan hidup di dalam diri si subjek.
Manusia yang lahir satu kali yaitu mereka yang tidak
pernah mengalami pengalaman religius traumatis. Hidup
berjalan sebagaimana adanya tanpa merasa perlu adanya
intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadinya, intervensi
yang benar-benar terasakan bahwa “Tuhan” berbicara
kepada subjek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa
diartikan lain. sebab tidak ada keinginan dan harapan
bahwa Tuhan perlu hadir secara pribadi, kehidupan sub-
jek pun akan berjalan seperti itu saja selama hidupnya.
Memang religius, namun religius suam-suam kuku saja.
Tidak ada yang istimewa. Semuanya seperti terstruktur
dalam buku petunjuk. Hidup seperti apa adanya. Gembira
bila sedang gembira dan sedih bila sedang sedih.
Mereka yang mengalami kelahiran dua kali yaitu
mereka yang hidupnya dapat berubah total setelah ber-
temu “Tuhan”. Mereka dapat menjadi seseorang yang
taat beragama meskipun sebelumnya yaitu seorang
yang tidak percaya. Mereka dapat melakukan hal-hal
luar biasa meskipun sebelumnya tidak memiliki tenaga
dan daya untuk itu. Namun, mereka yang terlahir hanya
satu kali akan seperti itu selama hidupnya. Pengalaman
religiusnya bersifat komunal, bukan pengalaman pribadi
bertemu dengan “Tuhan” dalam suatu ruang dan waktu
tertentu.
warga Indonesia terutama terdiri dari mereka
yang lahir satu kali saja. Jarang kita bertemu seseorang
yang asli, yang mengalami sentuhan “Tuhan”. Yang memi-
liki pengalaman religius traumatis sehingga tidak lagi ter-
goyahkan imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang diper-
cayainya yaitu benar meskipun semua orang lain tidak
percaya.
Dan, lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki
suatu pengalaman religius dalam arti ortodoks konven-
sional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama yang
ini atau yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahir-
an dua kali melalui pengalaman religius traumatis ada- lah
pengalaman pribadi yang berada di luar jangkauan
kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan sebagai
musyrik atau bidah. Namun, itu genuine, asli, dan itulah
yang berarti besar secara rohaniah sebab tidak ada lagi
yang bisa menggoyahkan keyakinan orang itu.
Semiotika dan Tarot
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
Apa itu semiotika? Apa hubungan semiotika dengan ta-
rot?
Kedua hal itu sering ditanyakan dan sejauh ini memang
belum ada buku dalam bahasa Indonesia yang menjelas-
kan dengan bangunan pemikiran yang dapat dipertang-
gungjawabkan keilmiahannya. Bahkan, ada yang salah
kaprah, namun menuliskannya dalam sebuah buku dan
membentuk asosiasi. Oleh sebab itulah, penulis merasa
perlu memberi pemahaman mengenai semiotika ber-
dasarkan literatur yang dapat dipertanggungjawabkan.
Semiotika yaitu ilmu mengenai tanda. Pada awalnya,
semiotik yaitu perkembangan dari linguistik. Landasan
dari semiotika yaitu menempatkan dalam perspek-
tif tanda terhadap segala hal yang terbaca dan menjadi
pengetahuan manusia. Dan, semua tanda pada dasarnya
memiliki sifat bertutur selayaknya teks.
Dua tokoh penting yang mengawali perkembangan
semiotika yaitu Ferdinand de Saussure, seorang linguis,
dan Charles Sanders Pierce, seorang filsuf.
Saussure menawarkan sebuah konsep mengenai
hubungan diadik antara dua bagian model tanda. Ia
mendefinisikan sebuah tanda akan selalu tersusun dari:
• Sebuah Penanda atau “signifier” (signifiant)
• Sebuah Petanda atau “signified” (signifié)
Berikut penjabarannya:
Anda melihat gambar di atas? Gambar apa itu? Apa yang
ada di benak Anda begitu melihat gambar tersebut?
Ketika melihat gambar tersebut dan Anda mengingat
kata “Kucing”, maka itu yaitu Penanda atau Signifier. Se-
dangkan ketika melihat gambar tersebut Anda mengingat
bahwa itu yaitu seekor binatang yang menjadi musuh
anjing, suka mencari tikus, suka mencuri ikan di dapur,
memiliki cakar tajam, suka berjalan di atas genting rumah,
dan seterusnya, maka itu semua yaitu Petanda atau Sig-
nified. Sebuah Petanda selalu merujuk pada makna.
Namun, ada satu hukum penting di sini yang mung- kin
kita jalani begitu saja, tanpa disadari. Kata “Kucing”
menjadi memiliki makna ketika ia berada dalam STRUK-
TUR. Struktur apa? Struktur yang membedakannya dari
Anjing, Kelinci, Musang, dan seterusnya.
Hal itu akan berbeda jika Anda berkata-kata nya seba-
gai “Cat”. Jika Anda berkata-kata “Cat”, ia akan memper-
oleh maknanya sebab berada dalam struktur yang mem-
bedakannya dari Mouse, Dog, Snake, dan seterusnya.
Perhatikan juga bahwa tidak ada alasan mengapa
orang Inggris menyebut binatang yang suka memburu
tikus ini sebagai “Cat” sementara orang Indonesia me-
nyebutnya “Kucing”. Itu menunjukkan bahwa ada unsur
arbitrer di sini. Namun, apa yang arbitrer tersebut mem-
peroleh maknanya ketika berada dalam struktur.
Tarot pun demikian. Gambar-gambar di kartu ada-
lah sebuah “Penanda”. Ia dapat muncul secara arbitrer,
tergantung kartu yang tercabut. Namun, meski arbitrer,
penginterpretasiannya pun tidak sembarangan sebab
ditempatkan dalam struktur.
Selain arti kartu, bentuk struktur tersebut juga dapat
berupa arti tebaran. Sebuah kartu dapat memiliki bebera-
pa arti, namun arti yang mana harus diinterpretasikan oleh
seorang reader. Itu tergantung tebaran, atau jenis kartu-
kartu lain yang menyertai kemunculan sebuah kartu.
Nah, itulah prinsip penting yang mempertautkan se-
miotika dan tarot. Ilmu semiotika sendiri yaitu sebuah
ilmu yang berkembang sangat pesat dan sering kali susah
dikuasai. Selain sebab memerlukan pemahaman hal-hal
mendasar secara mendalam, juga sebab belum selesai
mempelajari yang satu, sudah muncul metode semiotik
yang baru.
Sejarah semiotika sendiri sudah berkembang begitu
jauh sejak semiotika strukturalisme diperkenalkan oleh
Saussure dan Pierce. Bahkan, dalam perkembangannya,
persilangan semiotika dan psikoanalisis memunculkan
apa yang dikenal dengan nama post-strukturalisme.
Jacques Lacan, psikoanalisis neofreudian, disebut-sebut
sebagai post-strukturalisme pertama.
138 139
Oleh sebab tarot memakai sistem simbol dan
alam nirsadar, tarot pun memiliki kedekatan dengan se-
miotika, baik strukturalisme maupun post-struktural-
isme. Pada dasarnya simbol merupakan bagian dari tanda
dan memiliki keterkaitan dengan alam nirsadar (uncon-
scious). Sejumlah aspek yang sama antara semiotika dan
pembacaan simbol dalam tarot yaitu :
1. Dalam semiotika, meski pelekatan antara penanda
dan petanda bersifat arbitrer, namun ia berada dalam
struktur. Hal yang sama juga terjadi pada ramalan
tarot. Walaupun ramalan bersifat spontan dan ke-
luar begitu saja, namun sebenarnya ia terikat pada
struktur kartu yang keluar beserta sifat-sifat simbol
dalam kartu-kartu tersebut.
2. Simbol, selalu merupakan representasi. Atau peng-
ganti, wakil dari sesuatu yang tak bisa dihadirkan
dalam bahasa. Makna, pada dasarnya selalu terlalu
luas untuk hadir dalam bahasa. Namun, sesuatu tak
akan dapat dipahami jika berada di luar bahasa. Oleh
sebab itu, agar dirinya terpahami, maka apa pun itu
harus menyerahkan dirinya kepada baha- sa yang
sifatnya mereduksi keutuhan dari makna. Ini hukum
yang berlaku untuk semuanya. Bahkan, Tuhan harus
menyerahkan “Kebesaran” dirinya ke dalam bahasa
agar terpahami manusia, yang kon- sekuensinya
mereduksi Kebesaran dirinya, sebab tak akan
pernah ada bahasa yang sanggup memuat
kebesarannya secara utuh.
Prinsip-prinsip ini akan sangat berguna bila dipahami
oleh seorang tarot reader. Ia akan tahu apa manfaat dan
batasan kemampuan dari simbol, sehingga tidak over con-
fident, juga tidak under-estimate.
Itulah hal-hal prinsip yang mengaitkan antara semi-
otika dan tarot, yang penting untuk dipahami agar tidak
terjadi salah kaprah atau ngawur dalam memahami
keterkaitan antara semiotika dan tarot. Contoh berikut
yaitu kasus salah kaprah dalam memahami semiotik.
Forum Komunikasi Aestetik dan Semiotik Indone-
sia merupakan suatu komunitas berbasis saintis
dengan struktur motivasi, skill, dan kepribadian
yang berjiwa aestetik-semiotik. Berbasis sain- tis
artinya walaupun sebagian besar anggota
aestetik-semiotik ini yaitu para praktisi tera-
pi, metafisika, dan parapsikolog terapan namun
persepsi dan keilmuan yang digunakan tidak ber-
sifat mistis melainkan saintis (keilmuan) agar ter-
cipta teknologi-teknologi edukasi yang berman-
faat untuk dunia kesehatan, lingkungan, psikologi,
dan sosial. Dengan latar pendidikan yang beragam
dari psikolog, dokter, terapis, diviner tarot, magi-
cian, sport–bela diri, broadcasting, antropolog,
arkeolog, budayawan, dan lain lain, kami berkum-
pul untuk menyatukan niat dan langkah kami agar
bisa berperan aktif dalam membantu dan mem-
berdayakan warga melalui berbagai kegia-
tan personal maupun komunitas. Secara umum
komunitas ini memang baru dirintis untuk men-
gumpulkan semua potensi aestetik-semiotik yang
ada, terutama potensi-potensi muda di wilayah
DIY–Jateng. Potensi aestetik bisa diekspresikan
dan dieksplorasi dengan berbagai aktivitas aeste-
tik seni maupun aestesik terapi seperti kaligrafi
140 141
China–Arab–Jawa, sketsa wajah, handycraft, su-
lap-ilusi, hypnoselling-therapy, permainan brain
teaser-op art, olah suara dan musik, bioplasmik,
hidroterapi, emotinal healing, dan lain-lain. Po-
tensi semiotik mengarah pada keilmuan dan ke-
mampuan membaca simbol-simbol alam untuk
kepentingan konseling kepribadian, kesehatan
dan karier, asmara, dan lain-lain.
Kemampuan semiotik bisa dieksplorasi melalui
kartu tarot, tulisan tangan, palmistry, aura, facial
diagnostik, radiesthesi, mimpi, fito diganostik,
dan lain sebagainya. Kemudian adanya potensi
diviner pada praktisi semiotik sebenarnya meru-
pakan perkembangan lanjutan dari kemampuan
ESP (Extrasensory Perception) di mana potensi ini
menjelaskan kemampuan seseorang untuk mem-
bantu memahami alur sebab–akibat dari adanya
masalah dan solusi dalam kehidupan seseorang.
Adanya problem psikis–biologis seseorang, baik
yang bersifat memori (masa lalu), realistis (masa
kini), maupun futuristis (masa depan) akan dieks-
plorasi dalam “komunikasi pikiran bawah sadar”
melalui simbol dan bahasa tubuh untuk segera
ditemukan solusinya secara tepat dan personal.
Terlebih saat ini, di mana tekanan ekonomi, so-
sial, dan problem psikis–biologis juga semakin
kompleks, maka adanya aestetik-semiotik men-
jadi kebutuhan personal bagi setiap orang untuk
menjalani dan memaknai hidup agar lebih sukses,
baik secara personal, sosial, maupun spiritual.7
7 Retrieved 12 Juni 2011 pukul 17.55 WIB; on-
line documents: http://www.facebook.com/group.
php?gid=77546627870
Deskripsi di atas diambil dari sebuah akun Facebook suatu
kelompok. Dalam narasi tersebut terjadi salah kaprah da-
lam memahami semiotika. Pertama, yaitu pada kalimat:
Potensi semiotik mengarah pada keilmuan dan
kemampuan membaca simbol-simbol alam untuk
kepentingan konseling kepribadian, kesehatan dan
karier, asmara, dan lain-lain.
Kemampuan semiotik bisa dieksplorasi melalui
kartu tarot, tulisan tangan, palmistry, aura, facial
diagnostik, radiesthesi, mimpi, fito diganostik, dan
lain sebagainya.
Semiotika bukan potensi yang ada dalam diri individu,
melainkan metode. Di sini terjadi kerancuan dengan
mempertukarkan antara potensi dan metode. Tentu saja
keduanya berbeda pengertian. Semiotika yaitu metode
membaca tanda, bukan kemampuan.
Salah kaprah tersebut semakin parah dalam kalimat beri-
kut:
Kemudian adanya potensi diviner pada praktisi
semiotik sebenarnya merupakan perkembangan
lanjutan dari kemampuan ESP (Ekstra Sensoric
Perception) di mana potensi ini menjelaskan ke-
mampuan seseorang untuk membantu memahami
alur sebab–akibat dari adanya masalah dan solusi
dalam kehidupan seseorang.
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
Semiotika tidak ada urusannya dengan potensi diviner
apalagi dengan ESP. Orang yang mampu memakai se-
miotik bukan sebab punya potensi diviner, namun sebab
pengetahuannya akan logika sama seperti orang meng-
gunakan matematika atau statistik. Jadi, kemampuan me-
mahami alur sebab–akibat bukan diperoleh dari ESP atau
diviner, melainkan pemahaman akan logika sebab–akibat
atau pelajaran “logika dasar”. Seperti telah dijelaskan di
awal, bahwa dalam semiotik, meskipun arbitrer, tanda
terletak dalam struktur. Nah, struktur itulah yang mem-
berikan sebuah logika sebab–akibat dalam sebuah inter-
pretasi.
Penjelasan pada bab ini hanyalah sebagian kecil dari
semiotika, namun penting sebagai dasar pemahaman agar
Friends,
Studi Kasus 1
Mas Leo, Tolong Dong Ditarot....
orang tidak salah kaprah dalam memahami semiotika,
terutama keterkaitannya dengan tarot.
Berikut tanya jawab jarak jauh (melalui E-mail) antara
seorang rekan wanita (Mbak X) dan saya (Leo). Kami be-
lum pernah berjumpa secara langsung sampai saat ini. She
lives in another city, while I live in Jakarta....
So, here’s the tanya jawab, semoga bermanfaat:
Mas Leo,
Tolong dong ditarot....
Saya lagi “dekat” dengan seseorang. Tapi orang ini ada-
lah tipe yang sangat sibuk sekaligus sangat sopan, sangat
menjaga, sangat hati-hati, dan sangat sangat sangat yang
lain. Feeling saya berkata-kata dia juga suka dengan saya.
Belakangan, saya merasa sudah “dapat” chemistry-nya.
Tapi kok susah ya.... Maksud saya, inisiatif harus dari saya
dulu baru dia merespons dengan baik. Ini mungkin ka-
rena dia sangat menjaga posisi dan jaim atau gengsi. Tapi
kan jadinya susah kalau begini terus.
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
144
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 1
Sebetulnya, saya ingin “menangkap” hubungan bis-
nis dari dia. sebab dia yaitu orang yang punya posisi.
Tapi sebab dia berkarakter sangat hati-hati, sehingga
hubungan menjadi lebih ke arah personal. Saya sih suka-
suka saja. Tapi jadinya kok seperti saya yang terseret-
seret perasaan. Takutnya saya yang ke-GR-an saja.
Tolong ditarot dong:
1. Bagaimana perkembangan hubungan personal saya
dengan orang ini? Apakah membawa perkembang-
an yang baik?
2. Bagaimana sih feeling-nya dia kepada saya? Dan ba-
gaimana ya untuk menyatukan?
3. Apakah ada kemungkinan saya “menangkap” bisnis
dari dia?
Artinya: Hubungan personal Anda itu berawal dengan ce-
pat, seperti datang begitu saja tanpa diduga dan MASIH
bisa membawa perkembangan yang baik jika Anda TIDAK
memikirkan tentang hal-hal praktis yang harus dilaku-
kan. Jika masih ingin enjoy seperti pertama kali berjumpa,
maka akan menjadi baik. Namun, jika sudah memikirkan
tentang BAGAIMANA membawa hubungan ini ke masa
depan, especially ketika mempertimbangkan perasaan-
perasaan “eksklusif” ingin menjadi orang satu-satunya,
maka akan mulai muncul ganjalan-ganjalan.
Pertanyaan Anda: Bagaimana sih feeling-nya dia kepada
saya?
Kartu: 5 of Swords - King of Cups - 3 of Cup
Terima kasih sebelumnya,
X
Jawaban saya:
Pertanyaan Anda: Bagaimana perkembangan hubung-
an personal saya dengan orang ini? Apakah membawa
perkembangan yang baik?
Kartu: Knight of Swords - 2 of Pentacles - 2 of Cups
Artinya: He enjoys and tolerates you, orangnya itu me-
mang PASIF dan kelihatan tidak memperlihatkan usaha
apa pun. Dia merasa bahwa dirinya itu SUDAH apa ada-
nya saja.
Pertanyaan Anda: Dan bagaimana ya untuk menyatu-
kan?
146 147
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 1
Kartu: XII. The Hanged Man - I. The Magician - 2 of
Wands
Artinya: Caranya itu dengan memakai KEMAUAN.
Harus diniatkan untuk menyatukan dan diteruskan saja
one by one, step by step. Jalannya tidak bisa langsung ke
tujuan, melainkan harus setapak demi setapak, menggu-
nakan ALL kinds of creativity that you have within you.
Pertanyaan Anda: Apakah ada kemungkinan saya “me-
nangkap” bisnis dari dia?
Kartu: 7 of Cups - II. The Empress - VIII. Strength
Artinya: Tidak. Orangnya itu BANYAK memiliki angan-
angan sehingga susah untuk dipegang rencananya. Jika
Anda mau bisa saja dicoba, namun kelihatannya Anda itu
BISA “menangkap” bisnis dari tempat lain dengan lebih
mudah.
Respons dari penanya
Mas Leo,
Terima kasih banyak. Kelihatannya tarot Anda banyak ji-
tunya. Orang ini benar-benar pasif sebab sangat menya-
dari posisinya yang tinggi. Jadi, agak-agak jaim juga. Tapi
oke, dia merespons baik padaku.
Dan memang urusannya banyak, jadi aku agak kesulit-
an minta sama dia untuk jadi bagian ekslusif di tempat-
nya. Selama ini berjalannya bagus. Aku terus berusaha
menciptakan kesempatan-kesempatan.
Mengenai peluang bisnis, memang dia tidak terlalu
agresif untuk itu. Dan mungkin, memang aku bisa menda-
patkan peluang dari orang lain namun dengan mempergu-
nakan pengaruhnya.
Hal lainnya, orang ini memang SUDAH APA ADANYA.
Jadi ya sudah begitu itu…. Aku mau tidak mau nurut dia....
Makanya aku jadi nggak berkutik. Dan itu bikin aku babak
belur.
Thx u so much.
148 149
Studi Kasus 2
Apakah Teman Saya Diguna-guna?
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
Dear Mas Leo,
Saya mohon bantuan Mas Leo untuk teman di Ja- karta.
Teman ini seorang pria, namanya S, yang sedang
bermasalah dengan seorang wanita yang tadinya man- tan
pacarnya dan bernama U. Mereka bertengkar hebat sekali
dan akhirnya putus, namun tiba-tiba S setiap hari Sabtu
tidak bisa tidur dan menjadi beringas seperti orang gila.
Sekarang S tampak seperti orang gila dan kehilangan berat
badannya hingga 11 kg dalam 2 minggu terakhir ini. Dan
lucunya hanya terjadi pada hari sabtu.
Banyak keluarganya berkata-kata bahwa dia mungkin
diguna-guna oleh mantan pacarnya. Bahkan saya sendiri
sempat berbicara dengan U untuk bisa menyelesaikannya
dengan baik-baik. Namun, ternyata U benar-benar marah
dan benci sekali dengan S. Dua minggu lalu S menelepon
saya dan minta bantuan untuk mencarikan orang yang
bisa melihat, apakah benar dia diguna-guna?
Saya kenal S ini sudah lama. Selama ini saya pikir S
yaitu orang yang biasa memakai logika, bahkan dia me-
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 2
nyelesaikan sekolah sarjana dan master degree bidang IT
di Amerika.
Saya mohon jika Mas Leo ada waktu, bisa membantu
teman saya ini? Saya kirimkan foto kedua orang ini. Teri-
ma kasih Mas.
Salam hangat,
Angel
Jawaban saya:
Terima kasih atas pertanyaan dari Mbak Angel yang akan
saya jawab dengan memakai kartu tarot.
Pertanyaan Anda: Apakah S diguna-guna?
Kartu: Page of Wands - XII. The Hanged Man - XVIII. The
Moon
Artinya: Ya, teman Anda yang bernama S itu memang di-
guna-guna, namun yang mengguna-guna itu BUKAN orang
lain, melainkan dirinya sendiri. Jadi, di sini terlihat bahwa
S seperti berusaha untuk memperlihatkan bahwa dirinya
ini MEMANG cinta buta terhadap U sehingga bisa berperi-
laku yang gimana gituh, especially tiap hari Sabtu or week-
end di mana biasanya mereka berbuat yang gimana gituh
di masa lalu.
Dengan kelakuannya itu, S berharap akan BISA meng-
gunakan kemampuan batinnya untuk menarik hati si U
supaya akhirnya balik kepada dirinya, mengasihani diri-
nya bla bla bla... yang semuanya sebenarnya hanya delu-
sion doang alias penipuan kepada dirinya sendiri.
S seperti berusaha menunjukkan bahwa dirinya SU-
DAH berkorban dan bisa mengomunikasikan niatnya itu
secara emosional dengan cara berperilaku seperti orang
“gila” sampai kurus kering bla bla bla... yang ternyata juga
tidak ada gunanya.
Lalu, solusinya bagaimana?
Kartu: 7 of Cups - IV. The Emperor - Page of Cups
Artinya: Teman Anda, si S itu, jika ingin sembuh HARUS
memakai his logical mind dan biarkan segalanya yang
berupa emosi itu mengalir dan mengalir saja sampai
segalanya habis dan larut.
sebab saya ini seorang dukun KLENIK, maka saya sa-
rankan agar teman Anda S untuk pergi ke laut yang ber-
sih dan mandi di sana setiap hari Sabtu... kecipak kecipuk
byur byur byur... dan after that pulang ke rumah lalu tidur.
152 153
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
Itu saja dilakukan dan dilakukan tiap hari Sabtu sampai
segala emosinya yang nonproduktif itu habis larut di air
laut.
Jika ternyata rumahnya jauh dari laut, dia bisa mandi
dengan air garam biasa setiap hari Sabtu. Caranya mudah
saja, yaitu campurkan garam dapur dengan air mandi.
Pakai air garam itu untuk mandi sampai dia merasa bo-
san dan capek. Setelah itu baru tidur.
Nah, acara mandi-mandi dengan air laut atau air ga-
ram tiap hari Sabtu itu bisa dilakukan sepuas-puasnya
oleh teman Anda si S ini sampai dia merasa bosan dan
mau stop mengguna-gunai dirinya sendiri.
Nobody can help him but himself. Segala garam itu cuma
sarana saja untuk “melarutkan” segala emosi negatif,
namun keputusan untuk menjadi manusia normal yang
biasa-biasa saja tetap ada di tangannya. He still has to use
his mind.
Studi Kasus 3
Saya Sudah Baca Buku Psikologi Tarot….
Hallo Mas Leo, saya sudah baca buku Anda yang berjudul
Psikologi Tarot, and gotta say it is one of my favourite books
at the moment. Nice work ^^
Well, tidak ada alasan yang emergency tentang why
I’m sending this E-mail, tapi memang ada alasannya: saya
mungkin butuh bantuan pembacaan tarot.
Sebenarnya I read tarot myself, tapi somehow kalau
persoalan-persoalan yang kaitannya sama diri sendiri,
saya merasa pembacaannya jadi jauh lebih tidak akurat
sebab dipengaruhi banyak sekali faktor-faktor subjektif,
jadi melalui E-mail ini saya mengharapkan second opi-
nion. However, sebab tidak ada yang emergency, nggak
masalah juga kalau E-mail ini sekadar dianggap time kill-
er saja.
Well, baiklah. Mungkin saya cerita saja tentang diri
saya (saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan, dan
saya hanya akan menceritakan hal-hal yang—menurut
saya—relevan).
Sebelumnya, maaf kalau ada yang dirasa kurang berke-
nan. Mungkin soal pemilihan kata, mungkin soal bahasa....
154
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 3
Saya kebiasaan campur-campur pakai bahasa Indonesia
dan Inggris, jadi yah... mohon maaf kalau itu menggang-
gu.
Oke. Jadi, saya I, 22 tahun, perempuan, sepertinya ko-
leris-melankolis, mahasiswi kedokteran yang sedang me-
nempuh pendidikan profesi. I love being in medicine, saya
tidak bisa membayangkan bidang lain yang lebih cocok
buat saya selain kedokteran: ilmunya banyak dan selalu
berubah, dan saya juga menikmati belajar seni berempati
pada orang lain tanpa getting too far into their own per-
sonal problem(s). However, selain kuliah, saya punya hobi
lain: membaca, menulis, dan bermusik (esp. singing). Saya
ingin melakukan semua interest itu dengan sebaik mung-
kin.
Masalahnya, saya punya keterbatasan waktu, tena-
ga, dana, dan mungkin beberapa hal lainnya, sehingga I
didn’t do them all to the fullest, dan rasanya jadi tidak ter-
lalu nyaman sebab kesannya “nanggung”.
Mama saya—seorang akademisi sejati—selalu bi-
lang ke saya kalau saya sebaiknya konsentrasi kuliah dan
menjalani hobi hanya untuk killing time. Beliau bilang,
saya toh tidak punya banyak bakat musik ataupun menu-
lis (ada bakat, tapi sepertinya tidak akan cukup to make
me a professional in those two fields), jadi sebaiknya ya
konsentrasi akademis saja.
“Doktrin” ini tertanam cukup kuat waktu saya masih
sekolah—dan masih tinggal bersama beliau—and so I
dropped my seemingly-to-be-unrealistic dreams about be-
ing a professional musician dan/atau writer.
However, seiring berjalannya waktu, setelah 4 ta-
hun hidup merantau, entah kenapa saya merasa bahwa
I achieve less in academics, dan somehow I just feel like
achieving more in music and writing. I’m considering ta-
king a year off dari kuliah untuk melaksanakan “proyek-
proyek” musik, menulis, dan beberapa hal lain yang saya
takut nggak bakal sempat saya lakukan kalau nanti saya
sudah menyandang title “dokter”.
Tapi tentu saja mama saya bilang: “Jangan, nggak ada
alasan buat cuti kuliah. Kamu sudah berjalan di jalan yang
benar, jangan ‘cari-cari’ yang lain lagi.” Yah... cukup bisa
dimengerti. Tapi saya toh masih tetap berpikir untuk cuti.
Hehehe.
Entahlah. Semakin saya terlibat, saya semakin mencin-
tai musik dan tulis-menulis. Dan, saat ini, rasanya nggak
mungkin saja untuk mengurangi aktivitas itu. Kayanya
saya bakal stres kalau harus jalan lurus tanpa “membe-
lokkan diri” ke (setidaknya) dua hal itu.
Yet still, my mother can’t really seem to understand dan
saya juga cukup mengerti kenapa beliau tidak mengerti
tapi saya tidak tahu bagaimana cara membuat beliau
mengerti. Begitulah.
And so, pertanyaannya yaitu : Apa yang sebaiknya
saya lakukan dengan keadaan ini?
Well, begitulah. Mohon pembacaannya. Atas kesedia-
an Mas Leo untuk membacakan, saya ucapkan banyak
terima kasih. Wish you luck^^
Best regards,
I
Jawaban saya:
Thanks for sooo nice a sharing as well as questions from I, a
22-year-old woman yang ber-AURA gimana gituh.
You have a very strong masculine “aura” which is oke-
oke saja. Semakin lama memang semakin banyak wanita
yang beraura maskulin, and vice versa.
156 157
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
Pria yang beraura feminin juga makin lama makin
banyak saja which is also oke-oke saja.
Your question is very general. Dengan latar belakang
yang sooo... panjang.
Pertanyaan Anda: Apa yang sebaiknya saya lakukan
dengan keadaan ini?
Kartu: Knight of Cups - IX. The Hermit - XXI. The World
Artinya: Sebaiknya Anda teruskan saja apa yang menjadi
impian Anda itu. Di masa lalu Anda merasa terpanggil
untuk explore hal-hal yang baru. Jika Anda belum merasa
tuntas mengenal secara mendalam apa yang ingin Anda
selami dengan di masa lalu, maka sekarang Anda merasa
dituntun oleh suatu dorongan dari dalam “Alam Bawah
Sadar” Anda sendiri yang di sini di-SIMBOL-kan oleh IX.
The Hermit. Lalu masa depannya gimana? Masa depannya
itu yaitu XXI. The World. Artinya, Anda akan memper-
oleh segalanya. Ya segala macam arts itu PLUS apa yang
Anda inginkan sebagai bonus juga which may include the
academic side of your life.
Studi Kasus 4
Reinkarnasi
Tanya (T) = Hai Mas Leo yang lucu dan baik. Saya L, kita
dulu pernah bertemu di bedah buku Psikologi Tarot di
Gramedia Expo Surabaya, saya juga pernah dibaca kar-
tunya dengan pertanyaan “tugas di dunia”, juga dibilang
ma Mas Leo kalau energi saya banyak. Mudah-mudahan
belum lupa, ya....
Jawab (J) = Of course nggak lupa, Mbak L.
T = Saya mau tanya-tanya ke Mas Leo tentang mata ke-
tiga, then saya klik compose, ngetik alamat Mas Leo tapi
kok tiba-tiba saya pengen join di Milis Spiritual Indonesia
dulu.
Setelah ingin meneruskan kirim Email-nya lha kok
ndilalah ada materi tentang mata ketiga di E-mail saya.
Benar-benar bikin melongo, meski sudah sering ngala-
min, tapi tetap saja nggak ngerti-ngerti “kok bisa, ya?”
J = Bisa saja lah, namanya sinkronisasi which is sambung-
menyambung seolah-olah kebetulan, tapi bukan kebetul-
an.
T = Nah, balik ke pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki.
Saya tertarik banget sama reinkarnasi. Menurut Mas Leo
158
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 4
reinkarnasi itu gimana tho, lalu bisa nggak dilihat sebe-
narnya kita tuh siapa tho dari kartu tarot?
J = Saya jawab pakai kartu tarot saja yah, saya ini kan du-
kun tarot, hmmm hmmm hmmm....
Pertanyaan Anda: Reinkarnasi itu gimana tho?
Kartu: Queen of Cups - Ace of Pentacles - 10 of Cups
Artinya: Reinkarnasi yaitu apa yang Anda alami seka-
rang ini. Segala sesuatu yang Anda rasakan sebagai hal
yang berharga dalam hidup ini dan merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri Anda, itulah reinkarnasi. Di sini dan
saat ini saja. You are at the Eternal Present. Dan, penger-
tian seperti itu tercapai setelah Anda jatuh bangun kare-
na merasa disakiti bla bla bla... sampe nangis bombay and
things like that bla bla bla.... Namun, akhirnya Anda akan
enjoy saja bahkan akan dibutuhkan oleh banyak orang di
sekeliling Anda. You will give many people joy and happi-
ness in the future, and in that way you shall also find your
true fulfillment. Dan, inilah reinkarnasi: diri Anda sendiri
di sini dan saat ini, dengan masa lalu yang gimana gituh,
dan masa depan full of happiness yang juga gimana gituh.
You know that it shall come and you shall also say so what
gitu lho. Que sera sera, whatever will be will be. The future’s
NOT ours to see, sebab kita hanya dapat hidup di sini dan
saat ini. There is no “future” neither “past”. Yang ada hanya
the Eternal Present. Segalanya berlangsung saat ini dan
di sini, bahkan ketika kita melampaui dimensi ruang dan
waktu, serta CERITANYA melihat masa lalu or masa de-
pan, both dengan tanda kutip. The “masa lalu” dan the
“masa depan”.
Pertanyaan Anda: Bisa nggak dilihat sebenernya kita tuh
siapa tho dari kartu tarot?
Kartu: 9 of Pentacles - Knight of Cups - 6 of Swords
Artinya: Jika kita mau melihat siapa kita sebenarnya di
kehidupan sebelumnya (past lives), kita akan menemu-
kan banyak interpretasi. Kita maunya jadi apa, maka jadi-
lah itu. Yang namanya past lives merupakan suatu konsep
yang gimana gituh, full of jebakan juga, sama saja seperti
religions. Jika kita percaya, kita akan menemukan segala
macam yang ingin kita temukan di sana, bahkan dengan
cara membengkokkan segala sesuatunya. Jika ingin men-
jadi reinkarnasi dari Cleopatra, ya bisa saja, tidak ada
orang yang akan keberatan. Jika ingin menjadi reinkar-
nasi dari Nyi Blorong juga boleh saja, no difference at all
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
daripada reinkarnasi Cleopatra sebab semuanya mung-
kin hanya “memori” yang kita sadap dari Alam Semesta
ini. Kita dapat menyadap apa pun, bahkan informasi yang
tersembunyi dan menjadikannya sebagai reinkarnasi kita
di masa lalu, which is a sort of penipuan diri.
T = Sementara itu saja yang mau saya tanyain mas, matur
nuwun sanget ya mas.
J = You are very welcomed. Well, ngapain dipikirin, sih? Kita
hidup di sini dan saat ini saja deh.... Aum bhur bhu- vah
svaha thatsavitur varenyam bla bla bla... aum... aum...
aum.... And say so what gitu lho!
Studi Kasus 5
Apa yang Terjadi pada Seseorang Saat dan Setelah Meninggal?
T = Mas Leo, apa yang terjadi pada seseorang saat dan
setelah meninggal? If you’re gonna use tarot for this, would
you mind playing at least three games, so that koneksitas
antar-games-nya bisa lebih terjelaskan?
J = Wow, kita lihat saja yah, saya akan melakukan games
simulation memakai kartu tarot dengan pertanyaan:
Apa yang terjadi pada seseorang saat dan setelah mening-
gal?
Game 1:
Kartu: 8 of Cups - 5 of Wands - 8 of Wands
162
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 5
Artinya: Orangnya akan fight terus pada saat dan setelah
meninggal. Ini yaitu orang yang merasa bahwa dirinya
memiliki kekuatan batin yang berasal dari roh-roh, se-
hingga tidak rela jika harus memble saja ketika ajal da-
tang. Jadi, secara fisik akan terlihat bahwa orangnya me-
ronta-ronta terus, dan bahkan berencana untuk maju
terus pantang mundur sebab merasa memiliki banyak
energi simpanan yang dapat dipakai untuk melakukan se-
suatu di alam nir-ruang dan waktu. He or she is prepared
untuk menghadapi segala sesuatunya dengan “bekal
kubur” berupa ilmu sakti mandraguna yang dapat berasal
dari berbagai lakon keagamaan maupun nonkeagamaan,
which has no difference whatsoever, sama saja jenisnya
meskipun disebut dengan nama yang berbeda.
Game 2:
Kartu: 6 of Cups - 10 of Swords - Knight of Wands
Artinya: Orangnya akan sibuk sekali berkomunikasi de-
ngan mereka yang ada di sekililingnya, menceritakan se-
gala kisahnya di masa lalu, kisah ketika ia kecil bla bla bla....
Yang jelas, sudah tidak relevan bagi orang di sekitarnya,
as well as tidak ada yang peduli. Jadi, ia ini akan memasuki
alam kematian fisik berbekalkan memori kehidupannya
di dunia masa lalu yang diceritakannya dengan semangat
‘45 kepada mereka yang ada di sekelilingnya meskipun
belum tentu orang lain mengerti, as well as mendengar
apa yang diceritakannya. Bisa saja orang-orang di seki-
tarnya tidak mendengar satu pun suara, namun orang
yang akan meninggal ini merasa bahwa dirinya meng-
khotbahi semua orang, khotbah yang may be akan benar-
benar terasa real setelah putus napasnya. Jadi, ia ini akan
memasuki alam nir-ruang dan waktu seperti anak panah
yang terlepas untuk menghayati sebebas-bebasnya imaji-
nasi apa pun yang ingin diwujudkannya.
Jika ingin disimpulkan, dari dua games itu kita dapat me-
lihat bahwa ada “benang merah” yang tidak terlihat oleh
mata namun dapat teraba oleh alam pikiran kita. Kita akan
menyadari bahwa apa pun yang ingin dilihat oleh orang
yang akan meninggal, akan terlihat olehnya, dan bahkan
akan tetap terlihat dan dijalani setelah orangnya mening-
gal. Tentu saja kita tahu bahwa semuanya itu ilusi atau
hanya berada di dalam pikiran orang itu sendiri, sebab
ini semua namanya Mind Game, atau permainan pikiran.
Yang sering diceritakan dalam kisah-kisah “Near Death
Experience” itu ternyata tidak sama dengan apa yang kita
lihat melalui dua games simulation ini. Mung- kin sebab
mereka akhirnya kembali, hidup lagi. Untuk yang
langsung meninggal dan tidak kembali, kita dapat
berhipotesis bahwa kemungkinan skenarionya ada ban-
yak, termasuk yang tiga di atas, meskipun kita juga dapat
mengasumsikan bahwa ilusi itu tidak akan berjalan ter-
us-menerus. Ada saat ketika orang yang telah meninggal
itu sadar bahwa ia telah meninggal dan tidak perlu lagi
menyibukkan diri dengan ilusi seperti yang biasa dilaku-
kannya di dunia fisik ini.
Warna Ungu: Sejuta Agama Satu Tuhannya. Bersama
Audifax, Leo menulis buku panduan bagi pembaca tarot
yang diberi judul Psikologi Tarot.
Sekarang Leo banyak mengadakan acara temu darat
di Jawa dan Bali, yang disebutnya sebagai ajang berbagi.
Ajang pembelajaran bersama demi pencerahan satu dun-
ia yang konon berawal di tahun 2012 M.
Studi Kasus 6
Benar Nggak Kiamat 2012?
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL
T = Pada sistem penanggalan di dalam kalender bangsa
Maya (Maya Calendar), yang merupakan kalender paling
akurat yang pernah ada di bumi hingga sekarang (per-
hitungan Maya Calendar dari 3113 SM sampai 2012 M),
mereka (bangsa Maya) menyatakan pada tahun 2012,
tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan End of
Times. Maksud dari End of Times itu sendiri masih diper-
debatkan oleh para ilmuwan dan arkeolog. Ada yang me-
nyatakan bahwa maksud dalam kalender tersebut ada-
lah:
1. Berhentinya waktu (bumi berhenti berputar)
2. Peralihan dari Zaman Pisces ke Aquarius
3. Peralihan dari abad silver ke abad keemasan
4. End of Times = End of the World as we know it
5. Akan ada sebuah galactic wave yang besar, yang
menghentikan semua kegiatan di muka bumi ini,
termasuk kemusnahan manusia
6. Perubahan dari dimensi 3 ke dimensi 4, bahkan 5
7. Kehidupan manusia meningkat dari level dimensi 3
ke 4, DNA manusia meningkat dari strain 2 ke 12
TAROT DAN PSIKOLOGI SIMBOL STuDI KASuS 6
sehingga manusia dapat memakai telepati bah-
kan telekinesis
8. Ada yang menyatakan tidak akan terjadi apa-apa
9. Ada yang menyatakan waktu sudah tidak akan ber-
laku, jadi waktu tidak linear, namun dapat berubah-
ubah sesuai dengan waktu yang kita alami, sebab
ditemukannya mesin waktu
10.Ditemukannya mesin waktu dan stargate
11.Manusia sudah dapat melakukan transportasi ke
galaksi lain melalui stargate
12.Bangkitnya Mesiah, yang akan menyelamatkan manu-
sia dari kehancuran
13.Kebangkitan Isa AS/Yesus
14. First Contact pertama kali peradaban manusia dengan
Alien/UFO
15.Manusia bergabung dengan komunitas antargalaksi
pertama kali, manusia = galaxy being.
Dalam kalender bangsa Maya yang sangat tersohor itu,
diramalkan bahwa pada periode 1992–2012 bumi akan
dimurnikan, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini
akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru.
J = Nggaklah, nggak kiamat.
T = Kalo gitu, apa sih arti End of Times di kalender itu
menurut Anda?
J = Saya akan menjawabnya dengan memakai kartu
tarot, seperti berikut.
Pertanyaan Anda: Apa arti End of Times di kalender bang-
sa Maya?
Kartu: XXI. The World - 2 of Swords - XII. The Hanged
Man
Artinya: Kita diberikan kesempatan untuk memilih. The
End of Times hanya istilah saja yang merujuk bahwa
pada saat ini, ketika mendekati tahun Masehi 2012, kita
ternyata memiliki kesempatan untuk memilih. Jika kita
ingin memilih untuk kembali ke masa lalu yang konon
gilang-gemilang dengan segala macam agamanya, maka
kita dapat melakukannya. Jika kita ingin memilih untuk
maju terus ke masa depan, di mana kita dapat mengguna-
kan segala kreativitas yang kita miliki untuk menciptakan
masa depan yang baru, itu juga dapat dilakukan. Segala-
nya itu merupakan pilihan.
Simbol yang muncul jelas sekali, yaitu 2 of Swords.
Simbol 2 of Swords berisikan gambar seorang wanita
yang ditutup matanya dan memegang dua buah ped-
ang di kedua tangannya. Dua pedang itu yaitu gambar
pengambilan keputusan yang belum dilakukan. Bisa saja
pedang itu disabetkan ke arah kiri, atau bisa juga disabet-
kan ke arah kanan. Choose for that!











.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
