Tampilkan postingan dengan label industri pariwisata 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri pariwisata 1. Tampilkan semua postingan

industri pariwisata 1

    


Pariwisata telah menjadi industri 

terbesar dan memperlihatkan 

pertumbuhan yang konsisten dari 

tahun ke tahun. World Tourism 

Organization memperkirakan bahwa 

pada tahun 2020 akan terjadi 

peningkatan sebesar 200% terhadap 

angka kunjungan wisatawan dunia 

saat ini. Pariwisata modern saat ini 

juga dipercepat oleh proses 

globalisasi         dunia         sehingga 

memicu                    terjadinya 

interkoneksi antar bidang, antar bangsa, dan antar individu yang hidup 

di dunia ini. Perkembangan teknologi informasi juga mempercepat 

dinamika globalisasi dunia, termasuk juga didalamnya perkembangan 

dunia hiburan, rekreasi dan pariwisata. 

Pertanyaannya adalah, dapatkah negara kita  turut serta dalam 

peningkatan kunjungan yang diperkirakan oleh World Tourism 

Organization ini ?, upaya apa yang semestinya dilakukan oleh 

pelaku, dan stakeholders pariwisata ditengah keterbatasan dana 

pengembangan   dan   pemasaran   pariwisata   saat   ini?   

 

1.2.     Sejarah Perjuangan Kemandirin Ilmu Pariwisata 

Perjalanan  panjang  pariwisata  untuk  diakui  sebagai  disiplin 

ilmu mandiri sejak lama telah dilakukan, dan masih terus 

diperjuangkan. Pengakuan ini  dibutuhkan berkenaan dengan 

peningkatan kualifikasi sumberdaya manusia bidang pariwisata, 

terutama pengakuan dan legitimasi dari pemerintah (c.q Depdiknas) 

dalam   bentuk   ijin   operasional   bagi   penyelenggaraan   pendidikan 

Sarjana   Pariwisata   (S1),   Magister   Pariwisata   (S2)   dan   Doktor 

Pariwisata (S3). 

Perjalanan dan perjuangan panjang ini  sampai akhirnya 

pada deklarasi 24 Agustus 2006 yang menyepakati bahwa pariwisata 

sudah layak menjadi satu disiplin ilmu mandiri.  Sebagai tindak lanjut 

dari deklarasi ini  perlu diimplementasikan ke dalam 

pengembangan rekabentuk jurusan atau program studi.  Upaya ke arah 

itu, terus dilakukan, antara lain dengan seminar nasional Manado 

November  2006,  Workshop  Sinergi  Bandung  dan  Bali,  seminar 

nasional Hildiktipari Yogyakarta (Juli, 2007) sampai akhirnya 

Workshop Tindak Lanjut Rancang Bangun Pariwisata sebagai Ilmu 

Mandiri (Cemara, 12-13 November 2007). 

Rancang bangun ilmu pariwisata mandiri dilakukan dalam 

rangka pengidentifikasi dan  menyusun pohon ilmu  pariwisata  serta 

institusi atau kelembagaannya. Konsep dan definisi pariwisata 

dimantapkan kembali agar diperoleh kesamaan persepsi terhadap objek 

pariwisata itu sendiri. Ruang lingkup ilmu pariwisata ditetapkan agar 

diperoleh batasan-batasan ruang kajian yang menjadi pokok ilmu 

pariwisata. Struktur kelembagaan juga merupakan bagian dalam 

pembahasan workssop ini yang meliputi berbagai alternatif rekabentuk 

institusi penyelenggara pendidikan S1 Pariwisata. Sebagai bagian dari 

sejarah perjuangan Pariwisata menjadi disiplin ilmu mandiri, tonggak- 

tonggak penting juga merupakan bagian dari pembahasan. Isu-isu lain 

yang  menjadi  perhatian khusus  adalah  strategi  untuk mendapatkan 

pengakuan,  gelar  dan  kompetensi  lulusan  serta  kurikulum 


 

1.3.     Kajian Tentang Ilmu Pariwisata sebagai sebuah Ilmu yang 

Mandiri 

Dasar Keilmuan Pariwisata 

Secara konseptual persyaratan sebuah ilmu menjadi ilmu 

mandiri adalah dengan terpenuhinya  minimal tiga syarat dasar yakni, 

1) ontologi yang menunjukkan objek atau focus of interest yang dikaji; 

2) epistemologi adalah metodologi yang dapat digunakan untuk 

memperoleh pengetahuan; dan 3) aksiologi adalah nilai manfaat 

pengetahuan ilmu ini  (Suriasumantri, 2007). 

 

1)      Aspek Ontologi Pariwisata 

Aspek ontologi dari ilmu pariwisata dapat dilihat 

kemampuannya menyedikan informasi yang lengkap tentang hakekat 

perjalanan wisata, gejala-gejalan pariwisata, karakteristik wisatawan, 

prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik yang 

dikunjungi, system dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta 

komponen pendukung di daerah asal maupun pada sebuah destinasi 

wisata. Sehingga objek formal kajian ilmu pariwisata dapat dijelaskan 

secara jelas, yakni; masyarakat yang terkait dalam melakukan 

perjalanan wisata. Sedangkan fenomeda pariwisata dapat dijelaskan ke 

4  

 

 

 

 

 

dalam  tiga  unsur  yakni:  1)pergerakan  wisatawan;  2)aktivitas 

masyarakat yang memfasilitasi pergerakan wisatawan; dan 3)implikasi 

atau  akibat-akibat  pergerakan  wisatawan  dan  aktivitas  masyarakat 

yang memfasilitasinya terhadap kehidupan masyarakat secara luas. 

 

 

2)      Aspek Epistemologi Pariwisata 

Aspek  epistemologi ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada 

cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah. Objek ilmu 

pariwisata telah  didasarkan  pada  logika  berpikir  yang  rasional  dan 

dapat diuji secara empirik. Ilmu pariwisata memperoleh kebenaran 

ilmiah melalui beberapa pendekatan, yakni: 

1.    Pendekatan sistem 

Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan, 

aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi 

keduanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan 

kesatuan  yang  saling  berhubungan “linked  system”  dan  saling 

mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan 

diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi 

keduanya   akan   menimbulkan   pengaruh   logis   di   bidang 

ekonomi, sosial, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga, 

pariwisata sebagai suatu sistem akan digerakkan oleh dinamika 

sub-sistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran. 

 

2.    Pendekatan Kelembagaan 

Pendekatan kelembagaan adalah setiap perjalanan wisata akan 

melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia atau 

supplier misalnya jasa transportasi, jasa akomodasi, kemasan 

atraksi atau daya tarik wisata. Semua komponen ini  

memiliki hubungan fungsional yang memicu  terjadinya 

kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen 

ini  tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan 

tidak akan berlangsung. 

5  

 

 

 

 

 

3.    Pendekatan Produk 

Pendekatan  yang  digunakan  untuk  mengelompokkan 

pariwisata  sebagai  suatu  komoditas  yang  dapat  dijelaskan 

aspek-aspeknya secara sengaja diciptakan untuk merespon 

kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk 

kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni; 

menurut Medlik, (Ariyanto, 2005), ada empat aspek (4A) yang 

harus   diperhatikan   dalam   penawaran   produk   pariwisata 

sebagai sebuah totalitas produk, yakni: 

a) Attractions (daya tarik); Tersedianya daya tarik pada daerah 

tujuan wisata atau destinasi untuk menarik wisatawan, yang 

mungkin  berupa  daya  tarik  berupa  alam  maupun 

masyarakat dan budayanya. 

b) Accesability  (transportasi); tersedianya  alat-alat  transportasi 

agar wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan 

mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata. 

c) Amenities (fasilitas); tersedianya fasilitas utama maupun 

pendukung pada sebuah destinasi berupa; akomodasi, 

restoran, fasilitas penukaran valas, pusat oleh-oleh, dan 

fasilitas pendukung lainnya yang berhubungan aktivitas 

wisatawan pada sebuah destinasi. 

d) Ancillary   (kelembagaan);  adanya  lembaga  penyelenggara 

perjalanan wisatawan sehingga kegiatan wisata dapat 

berlangsung, aspek ini dapat berupa, pemandu wisata, biro 

perjalanan, pemesanan tiket, dan ketersediaan informasi 

tentang destinasi. 

 

Keempat elemen di atas digunakan untuk menjelaskan elemen 

produk wisata yang sesungguhnya diproduksi dan atau direproduksi 

sebagai komoditas yang dikonsumsi oleh wisatawan dalam satu 

kesatuan yang utuh dari totalitas sebuah produk pariwisata. Berbagai 

metode dapat digunakan dalam mencari kebenaran ilmiah ilmu 

pariwisata   seperti   (1)   metode   eksploratif   dari   jenis   penelitian 

6  

 

 

 

 

 

eksploratori (exploratory research) dan metode membangun teori (theory- 

building research) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) 

eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalah 

dan tujuan penelitiannya, hal ini akan dijelaskan lebih lanjut bab 

berikutnya. 

 

 

3)      Aspek Aksiologi Pariwisata 

Ilmu pariwisata telah memberikan manfaat bagi kesejahteraan 

umat  manusia.  Perjalanan  dan  pergerakan  wisatawan  adalah  salah 

satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan 

hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, 

penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri. 

Seiring  dengan  hal  di  atas,  menurut  IUOTO  (International 

Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993), 

pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan 

alasan utama seperti berikut ini: (1) Pariwisata sebagai faktor pemicu 

bagi  perkembangan  ekonomi  nasional  maupun  international.  (2) 

Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, 

akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3) Perhatian khusus terhadap 

pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4) 

Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi 

wisatawan pada sebuah destinnasi. (5) Penghasil devisa. (6) Pemicu 

perdagangan  international.  (7)  Pemicu  pertumbuhan  dan 

perkembangan   lembaga   pendidikan   profesi   pariwisata   maupun 

lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal 

dan santun, dan (8) Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka- 

ragam  produk  terus  berkembang,  seiring  dinamika  sosial  ekonomi 

pada daerah suatu destinasi. 

Dari    sisi    kepentingan    nasional,    1Menurut    Departemen 

Kebudayaan    dan    Pariwisata    RI    (2005)    dalam    Sapta    (2011) 

 

 

 

 

 

menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya 

ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang dapat dijelaskan sebagai 

berikut: 

a) Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Pariwisata dianggap mampu 

memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara 

Kesatuan  Republik  negara kita   melalui  kegiatan  perjalanan 

wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru 

negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya 

warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah- 

wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa 

persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi 

kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan 

meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional. 

 

b) Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation): Pembangunan 

pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi 

seluruh rakyat negara kita  untuk berusaha dan bekerja. 

Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharpkan mampu 

memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan 

kesejahteraan  masyarakat.  Harapannya  adalah  bahwa 

pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam 

penghapusan  kemiskinan  di  berbagai  daerah  yang  miskin 

potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi 

kepentingan pariwisata. 

 

c) Pembangunan  Berkesinambungan  (Sustainable  Development): 

Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan 

alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, 

sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk 

menyokong  kegiatan  ini.  Artinya  penggunaan  sumberdaya 

yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat 

dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk 

dikelola dalam waktu yang relative lama. 

8  

 

 

 

 

 

d) Pelestarian   Budaya   (Culture   Preservation):   Pembangunan 

kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam 

upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang 

meliputi   perlindungan,   pengembangan   dan   pemanfaatan 

budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam 

resolusi  bersama  mereka  di  tahun  2002  telah  menyatakan 

bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian 

kebudayaan. Dalam konteks ini , sudah selayaknya bagi 

negara kita  untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan 

sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah. 

 

e) Pemenuhan  Kebutuhan  Hidup  dan  Hak  Azasi  Manusia: 

Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar 

kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok 

masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata 

bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya 

melalui   pemberian   waktu   libur   yang   lebih   panjang   dan 

skema paid holidays. 

 

f) Peningkatan      Ekonomi      dan      Industri:      Pengelolaan 

kepariwisataan   yang   baik   dan   berkelanjutan   diharapkan 

mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di 

suatu  destinasi  pariwisata.  Penggunaan  bahan  dan  produk 

lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga 

memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan 

dalam penyediaan barang dan jasa. 

 

g) Pengembangan  Teknologi:  Dengan  semakin  kompleks  dan 

tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan 

ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya 

teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata 

mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini 

mereka. Pada daerah-daerah ini  akan terjadi 

pengembangan  teknologi  maju  dan  tepat  guna  yang  akan 

9  

 

 

 

 

 

mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. 

Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan 

memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di 

berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. 

Kepariwisataanakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari 

pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka 

peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. 

 

Sedangkan dari sisi kepentingan Internasional, 2Pariwisata 

internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang 

sejarah   dengan   mencapai   763   juta   orang   dan   menghasilkan 

pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi ini  meningkat 11% 

dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang 

dengan  jumlah  pengeluaran  US$  524  miliar.  Seiring  dengan  hal 

ini , diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020 

akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005). 

Pada sisi yang berbeda, walaupun pariwisata telah diakui sebagai 

faktor penting stimulator penggerak perekonomian di beberapa negara di 

dunia,  namun  pariwisata  juga  menyembunyikan  beberapa  hal  yang 

jarang diungkap dan dihitung sehingga sangat sulit untuk ditelusuri 

perannya atau kerugiannya.3Beberapa biaya tersembunyi atau hidden cost 

diantaranya adalah:   industri pariwisata bertumbuh dalam mekanisme 

pasar bebas sehingga seringkali destinasi pada negara berkembang hanya 

menjadi obyek saja, hal lainnya pengembangan pariwisata memang telah 

dapat menigkatkan kualitas pembangunan pada suatu destinasi namun 

akibat lainnya seperti peningkatan harga-harga pada sebuah destinasi 

terkadang kurang mendapat perhatian dan korbannya adalah penduduk 

lokal. Mestinya dampak negative dari pembangunan pariwisata dapat 

diminimalkan dan pengaruh positifnya perlu digali lebih mendalam 

sehingga fungsi penelitian pariwisata akan memegang peranan penting 

untuk keberlanjutan pembangunan pariwisata di masa mendatang. 

 

 

2        Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid 

3         Economic Impact of Tourism in Global Context 

10  

 

 

 

 

 

1.4.     Obyek Material dan Formal Ilmu Pariwisata 

Ilmu pariwisata mestinya dibangun berdasarkan suatu 

penjelasan yang mendalam, tidak terburu-buru dan perlu dibuatkan 

taksonominya. Setiap ilmu memiliki obyek material dan obyek formal. 

Objek material adalah seluruh lingkup secara makro yang dikaji suatu 

ilmu.  Obyek formal adalah bagian tertentu dari obyek material yang 

menjadi perhatian khusus dalam kajian ilmu ini . Sesungguhnya 

objek formal inilah yang membedakan satu ilmu dengan ilmu yang 

lain. 

 

1.4.1.  Objek Material Ilmu Pariwisata 

Obyek material ilmu pariwisata mengacu pada kesepakatan 

(UNWTO, 2005) berdasarkan industri pariwisata yang telah 

berkembang di dunia maka obyek material dari ilmu pariwsata dapat 

dikelompokkan menjadi tujuh, yakni: 

1. Jasa  Akomodasi  (Accomodation  services)  yakni  industri  yang 

meliputi jasa hotel dan motel, pusat liburan dan home holiday 

service, jasa penyewaan furniture untuk akomodasi, youth hostel 

service, jasa training anak-anak dan pelayanan kemping, 

pelayanan kemping dan caravan, sleeping car service, time-share, 

bed and breakfast dan pelayanan sejenis. 

2.    Jasa Penyediaan Makanan dan Minuman (Food and beverage- 

serving  services)  termasuk  ke  dalam  industri  ini  adalah  full- 

restoran dan rumah makan, kedai nasi, catering service, inflight 

catering, café, coffee shop, bar dan sejenis yang menyediakan 

makanan dan minuman bagi wisatawan. 

3.    Jasa  Transportasi  Wisata  (Passenger  transport  services).  Yang 

termasuk kelompok ini antara lain jasa angkutan darat seperti 

bis, kereta api, taxi, mobil carteran; jasa angkutan perairan baik 

laut, danau, maupun sungai meliput jasa penyeberangan 

wisatawan, cruise ship dan sejenisnya. Dan terakhir adalah jasa 

angkutan udara melalui perusahan-perusahaan airlines. Di 

samping itu, sector pendukung antara lain navigation and aid 

11  

 

 

 

 

 

service, stasion bis, jasa pelayanan parker penumpang, dan 

lainnya. 

4.    Jasa Pemanduan dan Biro Perjalanan Wisata (Travel  agency, 

tour  operator  and tourist guide services). Yang termasuk kepada 

kelompok  ini  antara  lain,  agen  perjalanan,  konsultan 

perjalanan, biro perjalanan wisata, pemimpin perjalanan dan 

yang sejenis. 

5. Jasa Pagelaran Budaya (Cultural services). Jasa pagelaran tari 

dan fasilitas pelayanan tarian, biro pelayanan penari dan 

sejenisnya. Jasa pelayanan museum kecuali gedung dan tempat 

bersejarah, pemeliharaan gedung dan tempat bersejarah, 

botanical and zoological garden service, pelayanan pada 

perlindungan alam termasuk suaka margasatwa. 

6. Jasa Rekreasi dan Hiburan (Recreation and other entertainment 

services). Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah 

pelayanan  olah  raga dan olah  raga rekreasi,  pelayanan  golf 

course, ski, sirkuit balapan, taman rekreasi dan pelayanan 

pantai. Pelayanan taman bertema, taman-taman hiburan, 

pelayanan pameran dan sejenisnya. 

7.    Jasa Keuangan Pariwisata (Miscellaneous tourism services). Yang 

temasuk kelompok ini adalah jasa keuangan, asuransi, tempat 

penukaran mata uang dan yang sejenis. 

 

1.4.2.  Objek Formal Ilmu Pariwisata 

Berdasarkan dinamika perkembangan di industri, dan mengacu 

kepada ketiga aspek ilmu pariwisata, terutama terkait dengan aspek 

ontologi yang menegaskan objek formalnya, maka dapat diidentifikasi 

beberapa cabang ilmu pariwisata. Oleh karena objek formal dan focus of 

interest ilmu pariwisata adalah pergerakan wisatawan, aktivitas 

masyarakat  yang  memfasilitas  pergerakan  wisatawan  dan  implikasi 

atau  akibat-akibat  pergerakan  wisatawan  serta  aktivitas  masyarakat 

yang  memfasilitasinya  terhadap  kehidupan  masyarakat  secara  luas, 

12  

 

 

 

 

 

maka  cabang-cabang  disiplin  pariwisata  paling  tidak  dapat  diiden- 

tifikasi sebagai berikut: 

1)    Pengembangan Jasa Wisata 

Cabang ini mengkhususkan diri pada pengembangan 

pengetahuan tentang strategi, metode dan teknik menyediakan 

jasa dan hospitality yang mendukung kelancaran perjalanan 

wisata. Objek perhatiannya adalah aktivitas masyarakat di 

dalam  penyediaan  jasa,  seperti  fasilitas  akomodasi,  atraksi, 

akses dan amenitas, serta jasa-jasa yang bersifat intangible 

lainnya.  Dikaitkan  dengan  klasifikasi  industri  pariwisata  di 

atas, maka cabang ini mempelajari dan mengembangkan ilmu- 

ilmu yang dalam klasifikasi sebagai ranting. 

2)    Organisasi Perjalanan 

Cabang  ini  menitikberatkan  perhatiannya  pada  pengaturan 

lalu-lintas perjalanan wisatawan dan penyediaan media atau 

paket-paket  perjalanan  yang  memungkinkan  wisatawan 

mampu memperoleh nilai kepuasan berwisata yang tinggi 

melalui  pengelolaan  sumberdaya  pariwisata.  Dalam  hal  ini 

objek perhatiannya terfokus pada pemaketan perjalanan wisata, 

pengorganisasian dan pengelolaannya sesuai dengan prinsip- 

prinsip kerberlanjutan. Di samping itu, ranting-ranting ilmu 

ini  dapat ditumbuhkan mengacu kepada klasifikasi yang 

dikembangkan UN-WTO, (2005). 

3)    Kebijakan Pembangunan Pariwisata 

Cabang ini menitikberatkan perhatiannya pada upaya-upaya 

peningkatan manfaat sosial, ekonomi, budaya, psikologi 

perjalanan wisata bagi masyarakat dan wisatawan dan evaluasi 

perkembangan pariwisata melalui suatu tindakan yang 

terencana. Termasuk dalam hal ini adalah perencanaan 

kebijakan dan pengembangan pariwisata. 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13 

  

 

 

 

 

14 

15  

 

 

 

 

 

 

 

BAB II 

RUANG LINGKUP JASA PARIWISATA DAN 

PERHOTELAN 

 

 

 

2.1.     Pengertian  Jasa Pariwisata  

Menurut Meis (1992) industri 

pariwisata  adalah  sebuah 

konsep yang perlu dipahami 

untuk dianalisis dan sebagai 

bahan pengambilan keputusan. 

Namun hampir disemua Negara 

tidak  memahami  hal  ini 

sehingga muncul berbagai 

permasalahan  yang 

menyulitkan industri untuk 

berkembang secara realitas atau 

kredibel  yang berkaitan dengan 

informasi      pariwisata      yang 

mendasar,  dalam  memprediksi 

kontribusinya baik untuik regional, nasional   dan perekonomian 

global.(Theobald, 2005) 

Hawkin dan Ritchie (1991) memberikan argumen berdasarkan 

data  yang dipublikasi oleh perusahaan American Expres, bahwa industri 

perjalanan dan pariwisata menjadi nomor satu dalam penyediaan 

tenaga kerja  di Australia, Bahama, Brazil, Kanada Prancis, German 

Barat,   Hongkong,   Italia,   Jamaika,   Jepang,   Singapura,   United 

Kingdom, dan Amerika. 

Masalah  definisi  berpengaruh  terhadap  pengukuran  secara 

statistik, sebab tidak mungkin   dengan tingkat ketidakpastian untuk 

menyediakan data yang valid dan reliable tentang peran pariwisata 

dunia  atau  dalam  dampak  ekonominya.  Dalam  beberapa  kasus, 

16  

 

 

 

 

 

kesulitan   yang   sama   juga   terjadi      ketika   mengukur   wisatawan 

domestik. (Theobald, 2005). 

Definisi tentang pariwisata yang berkembang di dunia sangat 

beragam, multidimensi, dan sangat terkait dengan latar belakang 

keilmuan pencetusnya. Pada dasarnya, definisi-definisi ini  dapat 

dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu yang melihat pariwisata 

dari sisi demand saja, sisi supply saja, dan yang sudah menggabungkan 

sisi demand dan supply.         Kategori    pertama    merupakan    definisi 

pariwisata    yang    didekati    dari    sisi    wisatawan,    sangat    kental 

dengan dimensi   spasial yakni   tempat   dan   jarak.   Kategori   kedua 

merupakan    definisi    pariwisata    yang    dipandang    dari dimensi 

industri/bisnis,  sedangkan  kategori  ketiga  memandang  pariwisata 

dari dimensi akademis dan sosial budaya. 

 

2.1.1.  Dimensi Spasial 

Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi spasial 

merupakan definisi yang berkembang lebih awal dibandingkan definisi- 

definisi lainnya (Gartner, 1996). Dimensi ini menekankan definisi 

pariwisata pada pergerakan wisatawan ke suatu tempat yang jauh dari 

lingkungan tempat tinggal dan atau tempat kerjanya untuk waktu yang 

sementara, seperti yang dikemukakan oleh Airey (Smith dan French, 

1994): 

 

“Tourism  is  the   temporary short-term   movement   of   people   to 

destinations outside the places where they normally live and work, and 

their activities during their stay at these destinations”. 

 

Selain pergerakan ke tempat yang jauh dari lingkungan tempat 

tinggal dan tempat kerja, Airey menambahkan kegiatan wisatawan 

selama berada di destinasi pariwisata sebagai bagian dari pariwisata. 

Definisi pariwisata yang dikemukan oleh World Tourism Organization 

(WTO, 2005) pun memfokuskan pada sisi demand dan dimensi spasial, 

dengan menetapkan dimensi waktu untuk perjalanan yang dilakukan 

wisatawan, yaitu tidak lebih dari satu tahun berturut-turut. 

17  

 

 

 

 

 

“Tourism  comprises the activities of persons travelling to and staying in 

places  outside  their  usual  environment  for  not  more  than  one 

consecutive year for leisure, business and other purposes not related to 

the   exercise   of   an   activity   remunerated   from   within   the   place 

visited”. (www.world-tourism.org) 

 

Definisi   ini   menekankan   pada   tujuan   perjalanan   yang 

dilakukan, yaitu untuk leisure, bisnis, dan tujuan lain yang tidak terkait 

dengan kegiatan mencari uang di tempat yang dikunjunginya. 

Beberapa  definisi  lain  juga  menetapkan  nilai-nilai  tertentu 

untuk    jarak    tempuh    dan    lama    perjalanan,    yang    biasanya 

dikembangkan untuk memudahkan perhitungan statistik pariwisata: 

a)    Committee  of  Statistical  Experts  of  the  League  Nations  (1937) 

menetapkan waktu paling sedikit 24 jam bagi perjalanan yang 

dikategorikan perjalanan wisata. (Gartner, 1996) 

b)    The United States National Tourism Resources Review Commission 

(1973) menetapkan jarak paling sedikit 50 mil untuk perjalanan 

wisata. 

c)    United States Census Bureau (1989) menetapkan angka 100 mil 

untuk perjalanan yang dikategorikan sebagai perjalanan wisata. 

d)    Canada  mensyaratkan  jarak  25  mil  untuk  mengategorikan 

perjalanan wisata. 

e) Biro   Pusat   Statistik   negara kita    menetapkan   angka   lama 

perjalanan tidak lebih dari 6  bulan dan jarak tempuh paling 

sedikit 100 km untuk perjalanan wisata. (Kementerian 

Kebudayaan dan Pariwisata, 2003) 

 

Definisi pariwisata dari dimensi spasial ini di negara kita  

didefinisikan sebagai kegiatan wisata, seperti yang tercantum dalam 

Undang-Undang   Kepariwisataan   No.   10   tahun   2009   pasal   1, 

yaitu kegiatan   perjalanan   yang   dilakukan   oleh   seseorang   atau 

sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan 

rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik 

wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. 

18  

 

 

 

 

 

2.1.2.  Dimensi Industri 

Dari   sisi supply,   pariwisata   lebih   banyak   dilihat   sebagai 

industri/bisnis. Buku-buku yang membahas tentang definisi pariwisata 

dari dimensi ini merupakan buku dengan topik bahasan manajemen 

atau pemasaran. Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi 

industri/bisnis memfokuskan pada keterkaitan antara barang dan jasa 

untuk  memfasilitasi  perjalanan  wisata.  Smith  (Seaton  dan  Bennett 

1996) mendefinisikan pariwisata sebagai kumpulan usaha yang 

menyediakan barang dan jasa untuk memfasilitasi kegiatan bisnis, 

bersenang-senang,  dan  memanfaatkan  waktu  luang  yang  dilakukan 

jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. 

 

“..the aggregate of all businesses that directly provide goods or services 

to facilitate business, pleasure, and leisure activities away from the 

home environment”. 

 

Sementara itu, Smith and French (1994) mendefinisikan 

pariwisata sebagai keterkaitan antara barang dan jasa yang 

dikombinasikan untuk menghasilkan pengalaman berwisata. 

 

“..a series of interrelated goods and services which combined make up 

the travel experience”. 

 

Definisi pariwisata sebagai industri/bisnis inilah yang di dalam 

Undang-Undang Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 didefinisikan 

sebagai pariwisata,    yaituberbagai    macam    kegiatan    wisata    dan 

didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh 

masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. 

 

 

2.1.3.  Dimensi Akademis 

Dimensi  akademis,  mendefinisikan  pariwisata  secara  lebih 

luas, tidak hanya melihat salah satu sisi (supply atau demand), tetapi 

melihat keduanya sebagai dua aspek yang saling terkait dan 

mempengaruhi  satu  sama  lain.  Pariwisata  dari  dimensi  ini 

didefinisikan  sebagai  studi  yang  mempelajari  perjalanan  manusia 

19  

 

 

 

 

 

keluar dari lingkungannya, juga termasuk industri yang merespon 

kebutuhan  manusia  yang  melakukan  perjalanan,  lebih  jauh  lagi 

dampak yang ditimbulkan oleh pelaku perjalanan maupun industri 

terhadap lingkungan sosial budaya, ekonomi, maupun lingkungan fisik 

setempat. Definisi ini  dikemukakan oleh Jafar, (Gartner, 1996). 

 

“Tourism is a study  of man  away from his  usual  habitat, of the 

industry which responds to his needs and of the impacts that both he 

and the industry have on the host sosiocultural, economic and physical 

environment”. 

 

Definisi Jafar Jafari ini mengeliminasi dimensi spasial sebagai 

faktor  pembatas  perjalanan  wisata.  Definisi  ini   menyatakan 

bahwa begitu seseorang melakukan perjalanan meninggalkan 

lingkungannya (tempat tinggal, tempat kerja), dia sudah dinyatakan 

melakukan perjalanan wisata. 

 

2.1.4.  Dimensi Sosial Budaya 

Definisi pariwisata dari dimensi sosial budaya menitikberatkan 

perhatian pada: 

1)      upaya   memenuhi   kebutuhan   wisatawan   dengan   berbagai 

karakteristiknya,   seperti   definisi   yang   dikemukakan   oleh 

Mathieson dan Wall (Gunn, 2002) berikut ini: 

 

“Tourism is the temporary movement of people to destinations outside 

their normal places of work and residence, the activities undertaken 

during their stay in those destinations, and the facilities created to 

cater to their needs”. 

 

Definisi  lainnya  juga  dikemukakan  oleh  Chadwick,  1994 

sebagai berikut: 

 

“…identified  three main concepts: the movement of people; a sector of 

the economy or industry; and a broad system of interacting relationship 

of people, their needs, and services that respond to these needs”. 

20  

 

 

 

 

 

2) interaksi antara elemen lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial 

budaya, seperti yang dikemukakan oleh Leiper (Gartner, 1996) 

yang mendefinisikan pariwisata sebagai 

 

“an open system of five elements  interacting  with broader 

environments;   the   human   element;   tourists;   three   geographical 

elements: generating region, transit route, and destination region; and 

an economic element, the tourist industry. The five are arranged in 

functional and spatial connection, interacting with physical, 

technological, social, cultural, economic, and political factors. The 

dynamic element comprises persons undertaking travel which is to some 

extent, leisure-based and which involves a temporary stay away from 

home of at least one night”. 

 

Definisi lain yang lebih sederhana dikemukakan oleh Hunziker 

(French et  al, 1995), yang mendefinisikan pariwisata sebagai 

berikut 

 

“.. the sum of the phenomena and relationship arising from the travel 

and stay of non-residents, in so far as the do not lead to permanent 

residence and are not connected with any earning activity”. 

 

3)      Kerangka sejarah dan budaya, seperti yang dikemukakan oleh 

MacCannell (Herbert, 1995) berikut ini 

 

“Tourism is not just an aggregate of merely commercial activities; it is 

also an ideological framing of history, nature and tradition; a framing 

that has the power to reshape culture and nature to its own needs”. 

 

Definisi pariwisata dari dimensi akademis dan dimensi sosial 

budaya yang memandang pariwisata secara lebih luas, di negara kita  

dikenal dengan istilah kepariwisataan (UU No. 10 tahun 2009 tentang 

Kepariwisataan), yaitu keseluruhan kegiatan yang terkait dengan 

pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul 

sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara 

21  

 

 

 

 

 

wisatawan dan masyarakat setempat, sesame wisatawan, pemerintah, 

pemerintah daerah, dan pengusaha. 

 

 

2.2.     Definisi Pariwisata di negara kita  

Menurut  arti  katanya,  pariwisata  berasal  dari  bahasa 

Sansekerta  yang  terdiri dari dua kata yaitu kata Pari dan kata Wisata. 

Kata Pari berarti penuh,  seluruh, atau semua dan kata wisata berarti 

perjalanan. Menurut Yoeti (2003),  syarat  suatu  perjalanan  disebut 

sebagai  perjalanan  pariwisata  apabila: (1) Perjalanan  dilakukan  dari 

suatu  tempat  ke  tempat  yang  lain,  di  luar  tempat  kediaman orang 

ini  biasa tinggal; (2) Tujuan perjalanan semata-mata untuk 

bersenang-senang,   dan   tidak   mencari   nafkah   di   tempat   atau 

negara  yang  di  kunjunginya; (3) Semata-mata sebagai konsumen di 

tempat yang dikunjungi. 

Menurut  Wahab  (1992)  pariwisata  mengandung  tiga  unsur 

antara lain: manusia   yakni unsur insani sebagai pelaku kegiatan 

pariwisata, tempat   yakni unsur fisik yang sebenarnya tercakup oleh 

kegiatan itu sendiri dan waktu yakni unsur tempo yang dihabiskan 

dalam perjalanan ini  dan selama berdiam di tempat tujuan. Jadi 

definisi   pariwisata   adalah   salah   satu   dari   industri   baru   yang 

mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat dalam hal 

kesempatan  kerja,  pendapatan,  taraf  hidup  dan  dalam  hal 

mengaktifkan sektor produksi lain di dalam negara penerima 

wisatawan. 

Sementara menurut Spillane, (1993) pariwisata adalah suatu 

jasa dan pelayanan. Berdasarkan  Undang-undang  Nomor  9  Tahun 

1990,  usaha  pariwisata  dibagi  menjadi  tiga  kelompok utama, yaitu: 

usaha jasa pariwisata, pengusahaan obyek dan daya tarik  wisata dan 

usaha sarana pariwisata. Sedangkan yang dimaksud dengan usaha 

adalah kegiatan menghasilkan barang atau jasa untuk dijual dalam 

suatu lokasi tertentu   serta mempunyai catatan administrasi tersendiri 

dan ada salah satu orang yang bertanggung jawab. 

22  

 

 

 

 

 

Pariwisata adalah  kegiatan  yang  bertujuan menyeleng- 

garakan  jasa pariwisata, menyediakan atau mengusahakan obyek dan 

daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait 

di bidang ini . Sesuai dengan Undang-undang RI No. 9 Tahun 

1990 tentang kepariwisataan, usaha pariwisata digolongkan ke dalam 

a) Usaha Jasa Pariwisata, timbul karena adanya berbagai macam 

keperluan dan   kebutuhan bagi wisatawan akan mendorong 

tumbuhnya berbagai jenis usaha    jasa pariwisata yang 

menyediakan keperluan bagi wisatawan serta bertujuan  untuk 

membantu  kelancaran  perjalanan  calon  wisatawan.  Usaha 

jasa pariwisata terdiri dari: 

   Jasa  biro  perjalanan  wisata  adalah  kegiatan  usaha  yang 

bersifat komersial    yang  Mengatur,     menyediakan     dan 

menyelenggarakan   pelayanan   bagi   seseorang, atau 

sekelompok orang untuk melakukan perjalanan dengan 

tujuan utama untuk berwisata. 

 Jasa agen perjalanan wisata adalah badan usaha yang 

menyelenggarakan  usaha perjalanan yang bertindak sebagai 

perantara di dalam menjual dan  atau mengurus jasa untuk 

melakukan perjalanan. 

 Usaha jasa pramuwisata adalah kegiatan usaha bersifat 

komersial yang mengatur, mengkoordinir dan menyediakan 

tenaga pramuwisata untuk   memberikan pelayanan   bagi 

seseorang   atau   kelompok   orang   yang melakukan 

perjalanan wisata. 

   Usaha  jasa  konvensi,  perjalanan  insentif  dan  pameran 

adalah usaha dengan kegiatan   pokok   memberikan   jasa 

pelayanan   bagi   satu   pertemuan   sekelompok orang 

(misalnya negarawan, usahawan, cendekiawan) untuk 

membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan 

kepentingan bersama. 

 Jasa     impresariat     adalah     kegiatan     pengurusan 

penyelenggaraan   hiburan   baik   yang       mendatangkan, 

23  

 

 

 

 

 

mengirimkan  maupun  mengembalikannya  serta 

menentukan tempat, waktu dan jenis hiburan. 

   Jasa  konsultasi  pariwisata  adalah  jasa  berupa  saran  dan 

nasehat yang  diberikan untuk penyelesaian masalah- 

masalah   yang   timbul   mulai   dan   penciptaan gagasan, 

pelaksanaan operasinya dan disusun secara sistematis 

berdasarkan disiplin ilmu yang diakui serta disampaikan 

secara   lisan, tertulis maupun gambar oleh tenaga ahli 

profesional. 

 Jasa  informasi  pariwisata  adalah  usaha  penyediaan 

informasi, penyebaran dan pemanfaatan informasi 

kepariwisataan. 

 

 

b) Pengusahaan    Obyek    dan    Daya    Tarik    Wisata    yang 

dikelompokkan dalam: 

Pengusahaan  obyek  dan  daya  tarik  wisata  alam merupakan 

usaha  pemanfaatan  sumber  daya  alam  dan  tata 

lingkungannya  yang  telah  ditetapkan sebagai obyek dan daya 

tarik  wisata  untuk  dijadikan  sasaran  wisata.    Pengusahaan 

obyek  dan  daya  tarik wisata  budaya  merupakan usaha  seni 

budaya bangsa yang telah dilengkapi sebagai obyek dan daya 

tarik wisata      untuk dijadikan sasaran wisata.   Pengusahaan 

obyek dan daya tarik wisata minat khusus merupakan usaha 

pemanfaatan sumber daya alam dan atau potensi seni budaya 

bangsa untuk dijadikan sasaran wisatawan yang mempunyai 

minat khusus. 

 

c)       Usaha Sarana Pariwisata yang dikelompokkan dalam: 

   Penyediaan akomodasi adalah usaha penyediaan kamar dan 

fasilitas lain   serta pelayanan yang diperlukan. Perjalanan 

wisata dengan jarak jauh yang  ditempuh lebih dari  24 jam 

maka diperlukan suatu akomodasi tempat menginap atau 

istirahat. 

24  

 

 

 

 

 

 

 

 Penyediaan  makanan  dan  minuman  adalah  usaha 

pengolahan, penyediaan   dan   pelayanan   makanan   dan 

minuman   yang   dapat   dilakukan   sebagai   bagian dari 

penyediaan akomodasi ataupun sebagai usaha yang berdiri 

sendiri. 

 Penyediaan angkutan wisata adalah usaha khusus atau 

sebagian dari usaha   dalam rangka penyediaan angkutan 

pada umumnya yaitu angkutan khusus    wisata atau 

angkutan umum yang menyediakan angkutan wisata. 

   Penyediaan  sarana  wisata  tirta  adalah  usaha  penyediaan 

dan pengelolaan   prasarana dan sarana serta jasa yang 

berkaitan   dengan   kegiatan   wisata   tirta,   dermaga   serta 

fasilitas olahraga air untuk keperluan olahraga selancar air, 

selancar angin, berlayar, menyelam dan memancing. 

 Penyediaan kawasan pariwisata adalah usaha yang 

kegiatannya     membangun     atau     mengelola     kawasan 

dengan luas     tertentu     untuk     memenuhi  kebutuhan 

pariwisata.  Menurut  Kementrian  Kebudayaan  dan 

Pariwisata (2004). 

25  

 

 

 

 

 

 

 

BAB III 

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA 

 

 

 

3.1.     Asal-Usul Pariwisata 

Manurut Theobald pada bukunya  yang berjudul “The meaning, 

scope and measurement of travel and tourism.         Perjalanan    telah    ada 

sejak   jaman primitif dimana kegiatan ini dilakukan untuk pencarian 

makanan, berburu binatang untuk mempertahankan hidup, kemudian 

berkembang dengan kegiatan berdagang, keagamaan, perang, 

bermigrasi dan kegiatan lainnya sesuai dengan motivasinya. Pada era 

Romawi perjalanan juga dilakukan untuk kegiatan bersenang-senang 

(pleasure) pada resort di pinggir pantai.  Pariwisata yang dikenal saat ini 

merupakan phenomena  sejak 20 tahun yang lalu, para pelaku sejarah 

mencatat bahwa kegiatan pariwisata dimulai di Inggris sejak terjadinya 

revolusi industri  dengan munculnya kelompok kelas mengengah dan 

transportasi yang murah. Dengan adanya pesawat   komersial dan 

perang dunia ke dua   serta berkembangnya jet pada tahun 1950an 

yang ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya    perjalanan 

internasional perkembangan pariwisata menjadi semakin pesat. 

Sejarah perkembangan pariwisata dunia secara umum dibagi 

menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu : Jaman Pra Sejarah atau Prehistory, 

Jaman Sejarah, dan Jaman Setelah Sejarah atau Post History. 

 

3.1.1.  Sebelum Jaman Modern (Sebelum Tahun 1920) 

 Adanya            perjalanan 

pertama  kali  dilakukan 

oleh bangsa–bangsa 

primitif dari satu tempat ke 

tempat lain dengan tujuan 

untuk kelangsungan hidup. 

   Tahun       400       sebelum 

26  

 

 

 

 

 

masehi mulai dianggap modern karena sudah mulai ada 

muhibah oleh bangsa Sumeria dimana saat itu juga mulai 

ditemukan huruf, roda, dan fungsi uang dalam 

perdangangan. 

   Muhibah   wisata   pertama   kali   dilakukan   oleh   bangsa 

Phoenesia dan Polynesia untuk tujuan perdagangan. 

 Kemudian  Muhibah  wisata  untuk  bersenang–senang 

pertama kali dilakukan oleh Bangsa Romawi pada abad I 

sampai abad V yang umumnya tujuan mereka bukan untuk 

kegiatan rekreasi seperti pengertian wisata dewasa ini, tetapi 

kegiatan mereka    lebih    ditujukan    untuk    menambah 

pengetahuan cara hidup, sistem politik, dan ekonomi. 

 Tahun 1760–1850 terjadinya revolusi industri sehingga 

mengakibatkan perubahan dalam kehidupan masyarakat, 

antara lain : 

a) Dalam struktur masyarakat dan ekonomi Eropa terjadi 

pertambahan penduduk, urbanisasi, timbulnya usaha– 

usaha yang berkaitan dengan pariwisata di kota–kota 

industri, lapangan kerja meluas ke bidang industri, 

pergeseran penanaman modal dari sektor pertanian ke 

usaha perantara seperti bank, termasuk perdangan 

internasional. Hal–hal inilah yang menciptakan pasar 

wisata. 

b) Meningkatnya tehnologi transportasi/sarana angkutan. 

c)  Munculnya  agen  perjalanan.  Biro  perjalanan  pertama 

kali di dunia adalah Thomas Cook & Son Ltd. Tahun 

1840  (Inggris)  &  American  Express  Company  Tahun 

1841 (Amerika Serikat). 

d) Bangkitnya  industri  perhotelan.  Perkembangan  sistem 

transportasi juga mendorong munculnya akomodasi 

(hotel) baik di stasiun–stasiun kereta api maupun di 

daerah  tujuan  wisata.  Disamping  akomodasi,  banyak 

27  

 

 

 

 

 

pula restoran dan bar serta sejenisnya, seperti kedai kopi 

dan teh yang timbul akibat urbanisasi. 

e) Munculnya       literatur–literatur       mengenai       usaha 

kepariwisataan,  antara   lain   :   “Guide   du  Hotels  to 

France”  oleh  Michelui  ( 1900) dan  “Guide   to  Hotels“ 

oleh Automobile Association (1901). 

f)  Berkembangnya daerah–daerah wisata di negara Mesir, 

Italia, Yunani, dan Amerika. Perjalanan ini  diatur 

dan dikoordinasikan oleh Thomas Cook & Son Ltd. pada 

sekitar permulaan abad ke 19, yaitu tahun 1861. 

 

3.1.2.  Pariwisata Di Dunia Modern 

Dunia  modern  adalah  sesudah  tahun  1919. Dimana hal  ini 

ditandai dengan pemakaian angkutan mobil untuk kepentingan 

perjalanan pribadi sesudah perang dunia I (1914– 1918). Perang dunia 

I ini memberi pengalaman kepada orang untuk mengenal negara lain 

sehingga membangkitkan minat  berwisata  ke  negara  lain.  Sehingga 

dengan  adanya  kesempatan  berwisata  ke  negara  lain  maka 

berkembang pula arti pariwisata internasional sebagai salah satu alat 

untuk mencapai perdamaian dunia, dan berkembangnya penggunaan 

sarana  angkutan  dari  penggunaan  mobil  pribadi  ke  penggunaan 

pesawat terbang berkecepatan suara. 

Pada tahun 1914, perusahaan kereta api di Inggris mengalami 

keruntuhan   dalam   keuangan   sehingga   diambillah   kebijaksanaan 

sebagai  berikut  ini : “Kereta  api yang bermesin uap diganti menjadi 

mesin  diesel  dan  mesin  bertenaga  listrik   serta  Pengurangan  jalur 

kererta  api yang kurang  menguntungkan”. Pada masa ini pula timbul 

sarana angkutan bertehnologi tinggi, seperti mobil dan pesawat sebagai 

sarana transportasi wisata yang lebih nyaman serta lebih cepat. 

 

3.1.3.  Perkembangan Sarana Angkutan Di Abad XX 

Pada abad ini perkembangan pariwisata banyak dipengaruhi 

oleh perkembangan sarana angkutan, yakni : 

28  

 

 

 

 

 

1) Motorisasi,  Merupakan  sarana  angkutan  yang  berkekuatan 

motor tenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga uap. 

Akibat dari motorisasi ini adalah galaknya wisata domestik, 

tumbuhnya penginapan–penginapan di sepanjang jalan raya, 

munculnya  pengusaha–pengusaha  bus  wisata  (coach)  tahun 

1920,  dan  munculnya  undang–undang  lalu  lintas  di  Inggris 

tahun 1924– 1930. 

2) Pesawat udara, Sebelum perang dunia II pesawat udara dipakai 

hanya untuk kepentingan komersial, seperti pengangkutan 

surat–surat pos, paket-paket, dan lain–lain. Tetapi sejak tahun 

1963 mulai diperkenalkan paket perjalanan wisata dengan 

menggunkan pesawat terbang, seperti pesawat supersonik dan 

concorde dimana perjalanan dapat ditempuh dengan nyaman 

dan waktu yang relatif singkat. 

3) Timbulnya  agen  perjalanan,  agen  perjalanan  umum,  dan 

industri akomodasi. Hal ini banyak disebabkan karena 

meningkatnya pendapatan per kapita penduduk terutama di 

negara–negara maju, seperti Eropa, Amerika, Jepang, dan 

negara lainnya; dan naiknya tingkat pendidikan masyarakat 

yang mempengaruhi rasa ingin tahu terhadap negara–negara 

luar. 

 

3.1.4.  Sejarah Pariwisata Di negara kita  

Sejarah pariwisata di negara kita  dibagai menjadi 3 (tiga) bagian 

penting, yaitu: 

1)      Masa Penjajahan Belanda 

Kegiatan pariwisata pada masa ini dimulai sejak tahun 1910– 

1920, yakni sesudah keluarnya keputusan Gubernur Jendral atas 

pembentukan Vereeneging Toesristen Verker (VTV) yang merupakan 

suatu  badan  atau  official  tourist  bureau.  Kedudukan  VTV  selain 

sebagai tourist goverm,ent office juga bertindak sebagai tour operator 

atau travel agent. 

29  

 

 

 

 

 

Meningkatnya perdagangan antara benua Eropa dan negara– 

negara di Asia termasuk di negara kita , telah mengakibatkan ramainya 

lalu lintas orang–orang yang bepergian dengan motif yang berbeda– 

beda sesuai dengan keperluannya masing–masing. Untuk dapat 

memberikan pelayanan kepada mereka yang melakukan perjalanan, 

maka berdirilah suatu Travel Agent di Batavia pada tahun 1926, yaitu 

Linssonne Lindeman (LISLIND) yang berpusat di Negeri Belanda dan 

sekarang dikenal dengan nama NITOUR (Netherlanshe Indische 

Touristen Bureau). Pada masa penjajahan Berlanda dapat dikatakan 

bahwa kegiatan kepariwisataan hanya terbatas pada kalangan orang– 

orang kulit putih saja, sehingga perusahaan–perusahaan yang bergerak 

dalam bidang kepariwisataan adalah juga monopoli Nitour, KLM, dan 

KPM masa itu. Walaupun kunjungan wisatawan pada masa itu masih 

sangat terbatas, namun di beberapa kota dan tempat di negara kita  telah 

berdiri hotel untuk menjamin akomodasi bagi mereka yang berkunjung 

ke daerah Hindia Belanda. 

Pertumbuhan usaha akomodasi baru dikenal pada abad ke 19, 

itu pun terbatas pada kota–kota besar dekat pelabuhan saja. Fungsi 

hotel yang utama hanya melayani tamu–tamu atau penumpang kapal 

yang baru datang dari Belanda ataupun negara Eropa lainnya, yang 

kemudian dibawa dengan menggunakan kereta–kereta yang ditarik 

dengan beberapa kuda karena belum ada kendaraan bermotor atau 

mobil. 

Memasuki abad ke 20 barulah hotel–hotel mulai berkembang 

ke  daerah  pedalaman,  seperti  losmen  atau  penginapan.  Semenjak 

itulah fungsi hotel mulai dirasakan oleh masyarakat banyak dan orang–

orang menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan derajatnya 

masing–masing. Kemudian dari hal itu dikenallah istilah penginapan 

besar (hotel) dan penginapan kecil (losmen). 

Selanjutnya satu–satunya airlines yang menghubungkan 

negara kita  dengan Belanda waktu itu adalah KLM yang mempunyai 

kedudukan monopoli untuk operasi membawa penumpang antara 

kedua  negara  ini.  Seperti  halnya  dengan  KLM, dalam  tahun  1927 

30  

 

 

 

 

 

angkutan laut juga dimonopoli oleh KLM. Sedangkan angkutan 

penumpang  dengan  menggunakan  kereta  api  baru  efektif  di  Pulau 

Jawa pada tanggal 1 Oktober 1927. Pada waktu itu para penumpang 

yang hendak bepergian ke pulau Jawa harus melakukan reservasi 

tempat duduk tiga jam sebelum kereta api berangkat. 

Pada  tahun  1927  kegiatan  tour  sudah  mulai  dikembangkan 

terutama di pulau Jawa dan Sumatra yang diorganisir oleh LISLIND 

(Lissonne  Lindeman), seperti : “Fourteen days in Java  motor  ar and 

train combination tour operated by LSLIND dan Fourteen days in 

Sumatra”. 

Pada tahun 1927 ternyata sudah datang orang-orang penting 

yang kenamaan untuk mempelajari kebudayaan negara kita , terutama 

tentang kesenian Jawa dan Bali, mereka itu antara lain adalah : 

“Mr.Leopold Chaikoswky, Conductor of syimphony orchestra 

Philadelpia is expected to arrive at Java shortly for the purpose of 

making a study of Javanesse music dan Dr.Rabindranath Tagore is 

expected to visit Java early in August, wit the object of studying the 

influence of Hinduism  on javanese religious concepts”. 

Kegiatan promosi pariwisata negara kita  mulai dilakukan, yakni 

sebagai berikut: 

 Tahun 1913, Vereneging Teoristen Verker (VTV) menerbitkan 

sebuah Guide Book yang bagus sekali mengenai daerah–daerah 

di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, 

Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Banten, dan 

Tanah Toraja di Sulawesi. 

 Tahun 1923, beredar surat kabar mingguan yang merupakan 

Java Touriost Guide yang isinya, antara lain mengenai Express 

Train Service, News from abroad in Brief, Who-where-when to 

hotels, Postal news, dan sebagainya. 

 Tahun  1926,  sudah  banyak  promotion  materials  yang  telah 

dipersiapkan oleh badan–badan atau perusahaan yang bergerak 

dalam bidang kepariwisataan. Di luar negeri, yakni di Belanda 

31  

 

 

 

 

 

pernah  diterbitkan   sebuah  majalah,   yaitu  :  “Tourism”  yang 

banyak mempromosikan negara kita  antara lain : 

-    Come to Jaca, yang merupaan complete guide to Java. 

-    Bandung, the mountain city to Netherland India. 

-    Bandoeng. 

-    Batavia, queen city of east. 

-    The wayang wong or wayang orang, dan sebagainya. 

 

 

2)      Masa Pendudukan Jepang 

Berkobarnya perang dunia II yang disusul dengan pendudukan 

tentara   Jepang   di   negara kita ,   memicu    keadaan   pariwisata 

menjadi  terlantar.  Dapat  dikatakan  bahwa  orang–orang  tidak  ada 

gairah atau kesempatan untuk mengadakan perjalanan. 

Objek–objek wisata terbengkalai, jalan–jalan rusak karena ada 

penghancuran jembatan–jembatan untuk menghalangi musuh masuk. 

Perhotelan  sangat  menyedihkan  karena  banyak  hotel  yang  diambil 

oleh pemerintah Jepang untuk dijadikan rumah sakit dan asrama 

sebagai tempat tinggal perwira–perwira Jepang. 

Setelah  jatuhnya  bom  di  Hiroshima  dan  Nagasaki,  inflasi 

terjadi di mana–mana yang mengakibatkan keadaan ekonomi rakyat 

tambah parah. 

 

3)      Setelah Kemerdekaan negara kita  

Pada tahun 1946 sebagai akibat perjuangan bangsa negara kita  

untuk membebaskan Tanah Air negara kita  dari cengkraman penjajahan 

Belanda, maka pemerintah  menghidupkan kembali  industri–industri 

yang mendukung perekonomian. 

Demikian juga di bidang pariwisata, perhotelan mendapat 

perhatian dari pemerintah, sehingga dikeluarkanlah Surat Keputusan 

Wakil  Presiden  RI  waktu  itu  (DR.Moch.  Hatta)  tentang  pendirian 

suatu badan yang bertugas untuk melanjutkan perusahaan hotel bekas 

milik Belanda. 

32  

 

 

 

 

 

Badan     ini     bernama     HONET     (Hotel     National     & 

Tourism).  Semua hotel yang berada di bawah manajemen HONET 

diganti namanya menjadi Hotel MERDEKA. 

Dengan adanya perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar) 

pada tahun 1949 dimana menurut perjanjian itu semua harta kekayaan 

harus diembalikan kepada pemiliknya. Karena itu HONET dibubarkan 

dan dibentuklah satu–satunya badan hukum milik negara kita  sendiri 

yang bergerak dalam bidang pariwisata, yaitu NV HONET. 

Pada tahun 1953 dibentuklan organisasi yang bernama Serikat 

Gabungan Hotel dan Tourisme negara kita  (SERGAHTI) yang 

beranggotakan hampir seluruh hotel di negara kita . Namun keberadan 

badan ini tidak berlangsung lama karena tidak terlihat kemungkinan 

penerobosan dari peraturan pengendalian harga. 

Pada tahun 1955 oleh Bank Industri Negara didirikan suatu 

Perseroan Terbatas dengan nama PT. NATOUR Ltd. (National Hotel 

& Tourism Corp.). Natour ini  memiliki  anggota antara lain : Hotel 

Transaera (Jakarta), Hotel Bali, Sindhu Beach, Kuta Beach, dan 

Jayapura Hotel.` 

 

4)      Babak Baru Pariwisata negara kita  

Banyak usaha kegiatan pariwisata yang telah dirintis oleh 

Lembaga Pariwisata Nasional, walaupun lembaga ini sendiri banyak 

mengalami kesukaran sebagai akibat penyesuaian dengan struktur 

organisasi pariwisata yang hanya coba–coba dalam penerapannya. 

Namun disini dapat dilihat kegairahan untuk berusaha dalam industri 

pariwisata yang ditandai dengan dibangunnya hotel–hotel baru atau 

memperbaiki yang telah bobrok di masa lalu. 

Lines  penerbangan  domestik  mulai  beroperasi  serta  mulai 

meningkatkan   mutu   pelayanan,   pengusaha   travel   agent   mulai 

membuka operasi tournya di dalam maupun di luar negeri yang diikuti 

dengan  bertambah  banyaknya  wisatawan  asing  yang  datang 

berkunjung   ke   negara kita .   Kunjungan   wisatawan   mancanegara 

(wisman)  ke  negara kita   dari  tahun  ke  tahun  cenderung  meningkat. 

33  

 

 

 

 

 

 

 

Kalau  diperhatikan  sejak  pelita  I  tahun  1969  jumlah  wisatawan 

relatif  masih rendah, yaitu : 86.100 saja. Di akhir tahun 1973 jumlah 

wisatawan  meningkat  menjadi  270.300  orang.  Jadi  dalam  pelita  I 

sudah terjadi peningkatan sebesar 214 %. Pada akhir pelita II tahun 

1978 jumlah wisman yang berkunjung ke negara kita  sebanyak 468.600 

orang dan pada akhir pelita III tahun 1983 meningkat lagi menjadi 

638.000 orang. Hal yang sama terjadi pada pelita IV tahun 1989. 

Wisman yang berkunjung tercatat 11.626.000 orang. Peningkatan yang 

sangat mencolok terjadi antara tahun 1984–1988 dengan pertumbuhan 

rata–rata 15 % tiap tahunnya, kemudian pertumbuhan yang lebih besar 

terjadi pada periode 1989–1991 dengan kedatangan wisman rata–rata 

sebesar  36,2  %  tiap  tahunnya.  Kunjungan  wisatawan  ke  negara kita  

tahun 1992 ternyata melebihi target 3 juta orang. Dengan demikian 

kunjungan wisman ke negara kita  meningkat 16,7 %. (Raymond, 2014). 

34  

 

 

 

 

 

3.2.     Kebijakan Pemerintah tentang Pariwisata 

 

 

UNDANG-UNDANG REPUBLIK negara kita  

NOMOR 10.TAHUN 2009...... 

 

TENTANG 

KEPARIWISATAAN 

Dengan Persetujuan Bersama 

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK negara kita  

dan 

PRESIDEN REPUBLIK negara kita  

MEMUTUSKAN 

Menetapkan    :   UNDANG-UNDANG                            TENTANG 

KEPARIWISATAAN 

 

BAB I KETENTUAN 

UMUM 

 

 

Pasal 1 

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 

1. Wisata   adalah   kegiatan   perjalanan   yang   dilakukan   oleh 

seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat 

tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau 

mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam 

jangka waktu sementara. 

2.       Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. 

35  

 

 

 

 

 

3. Pariwisata   adalah   berbagai   macam   kegiatan   wisata   dan 

didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh 

masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. 

4. Kepariwisataan   adalah   keseluruhan   kegiatan   yang   terkait 

dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin 

yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara 

serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, 

sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan 

pengusaha. 

5.       Daya  Tarik  Wisata  adalah  segala  sesuatu  yang  memiliki 

keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman 

kekayaan  alam,  budaya,  dan  hasil  buatan  manusia  yang 

menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. 

6. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi 

Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu 

atau  lebih  wilayah  administratif  yang  di  dalamnya  terdapat 

daya tarik   wisata,   fasilitas   umum,   fasilitas   pariwisata, 

aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan 

melengkapi terwujudnya kepariwisataan. 

7. Usaha  Pariwisata  adalah  usaha  yang  menyediakan  barang 

dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan 

penyelenggaraan pariwisata. 

8. Pengusaha  Pariwisata  adalah  orang  atau  sekelompok  orang 

yang melakukan kegiatan usaha pariwisata. 

9.       Industri  Pariwisata  adalah  kumpulan  usaha  pariwisata  yang 

saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa 

bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan 

pariwisata. 

10. Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki 

fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk 

pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting 

dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, 

36  

 

 

 

 

 

sosial  dan  budaya,  pemberdayaan  sumber  daya  alam,  daya 

dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. 

11.     Kompetensi  adalah  seperangkat  pengetahuan,  keterampilan, 

dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh 

pekerja pariwisata untuk mengembangkan profesionalitas kerja. 

12.     Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha dan 

pekerja   pariwisata   untuk   mendukung   peningkatan   mutu 

produk pariwisata, pelayanan, dan pengelolaan kepariwisataan. 

 

Kawasan   strategis   yang   memiliki   kekhususan   wilayah   menjadi 

kawasan pariwisata khusus ditetapkan dengan undang-undang. 

 

Yang dimaksud  dengan  “usaha  daya tarik wisata”  adalah  usaha  yang 

kegiatannya mengelola daya tarik wisata alam, daya tarik wisata 

budaya, dan daya tarik wisata buatan/binaan manusia. 

 

Yang  dimaksud   dengan  “usaha   kawasan   pariwisata”  adalah   usaha 

yang kegiatannya membangun dan/atau mengelola kawasan dengan 

luas tertentu untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. 

 

Yang dimaksud  dengan  “usaha  jasa transportasi  wisata”  adalah  usaha 

khusus yang menyediakan angkutan untuk kebutuhan dan kegiatan 

pariwisata, bukan angkutan transportasi reguler/umum. 

 

Yang dimaksud  dengan  “usaha  jasa perjalanan  wisata”  adalah usaha 

biro perjalanan wisata dan usaha agen perjalanan wisata. 

 

Usaha biro perjalanan wisata meliputi usaha penyediaan jasa 

perencanaan perjalanan dan/atau jasa pelayanan dan penyelenggaraan 

pariwisata, termasuk penyelenggaraan perjalanan ibadah. 

 

Usaha agen perjalanan wisata meliputi usaha jasa pemesanan sarana, 

seperti pemesanan tiket dan pemesanan akomodasi serta pengurusan 

dokumen perjalanan. 

 

Yang dimaksud  dengan  “usaha  jasa makanan dan  minuman” adalah 

usaha  jasa  penyediaan  makanan  dan  minuman  yang  dilengkapi 

37  

 

 

 

 

 

dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan dapat 

berupa restoran, kafe, jasa boga, dan bar/kedai minum. 

 

Yang dimaksud  dengan  “usaha  penyediaan akomodasi” adalah  usaha 

yang  menyediakan  pelayanan  penginapan  yang  dapat  dilengkapi 

dengan pelayanan pariwisata lainnya. 

 

Usaha penyediaan akomodasi dapat berupa hotel, vila, pondok wisata, 

bumi  perkemahan,  persinggahan  karavan,  dan  akomodasi  lainnya 

yang digunakan untuk tujuan pariwisata. 

 

Yang dimaksud  dengan “usaha  penyelenggaraan kegiatan hiburan dan 

rekreasi”  merupakan usaha  yang  ruang  lingkup  kegiatannya berupa 

usaha seni pertunjukan, arena permainan, karaoke, bioskop, serta 

kegiatan hiburan dan rekreasi lainnya yang bertujuan untuk pariwisata. 

 

Yang    dimaksud     dengan     “usaha     penyelenggaraan    pertemuan, 

perjalanan  insentif, konferensi, dan pameran” adalah usaha yang 

memberikan jasa bagi suatu pertemuan sekelompok orang, 

menyelenggarakan perjalanan bagi karyawan dan mitra usaha sebagai 

imbalan atas prestasinya, serta menyelenggarakan pameran dalam 

rangka menyebarluaskan informasi dan promosi suatu barang dan jasa 

yang berskala nasional, regional, dan internasional. 

 

Yang  dimaksud   dengan   “usaha   jasa  informasi   pariwisata”  adalah 

usaha yang menyediakan data, berita, feature, foto, video, dan hasil 

penelitian mengenai kepariwisataan yang disebarkan dalam bentuk 

bahan cetak dan/atau elektronik. 

 

Yang  dimaksud   dengan   “usaha   jasa  konsultan   pariwisata”  adalah 

usaha yang menyediakan saran dan rekomendasi mengenai studi 

kelayakan,  perencanaan,  pengelolaan  usaha,  penelitian,  dan 

pemasaran di bidang kepariwisataan. 

 

Yang dimaksud  dengan  “usaha  jasa pramuwisata” adalah  usaha  yang 

menyediakan  dan/atau  mengoordinasikan  tenaga  pemandu  wisata 

38  

 

 

 

 

 

untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan/atau kebutuhan biro 

perjalanan wisata. 

 

Yang  dimaksud  dengan  “usaha  wisata  tirta”  merupakan usaha  yang 

menyelenggarakan  wisata  dan  olahraga  air,  termasuk  penyediaan 

sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial 

di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk. 

 

Yang dimaksud   dengan  “usaha  spa”  adalah  usaha  perawatan  yang 

memberikan  layanan  dengan  metode  kombinasi  terapi  air,  terapi 

aroma, pijat, rempah-rempah, layanan makanan/minuman sehat, dan 

olah aktivitas fisik dengan tujuan menyeimbangkan jiwa dan raga 

dengan tetap memperhatikan tradisi dan budaya bangsa negara kita . 

 

 

3.3.     Paket Wisata 

Paket wisata diartikan sebagai suatu perjalanan wisata dengan 

satu  atau  beberapa  tujuan  kunjungan  yang  disusun  dari  berbagai 

fasilitas perjalanan tertentu dalam suatu acara perjalanan yang tetap, 

serta dijual sebagai harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen 

dari perjalanan wisata. 

Pada Independent tour sebaliknya dari paket wisata, wisatawan 

diberi kebebasan untuk memilih fasilitas dan menentukan acaranya 

sendiri. Ada kalanya juga wisatawan diberi kebabasan untuk 

mengadakan perubahan atas fasilitas dan acara selama perjalanan 

berlangsung. 

Berdasarkan pemakaian akomodasi dan konsumsi serta 

penyiapan tour ke empat kelas ini , dapat dilihat cirri-ciri 

perbedaannya. Ciri-ciri nya dapat dilihat pada bagan berikut ini : 

39  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Lubis, 2011 

 

 

Pertimbangan  perhitungan  biaya untuk sebuah paket wisata 

dihitung berdasarkan pada biaya beberapa komponen seperti 

komponen transportasi, penginapan, retribusi setiap objek wisata, 

dan komponen jasa pengelola. Berikut contoh perhitungan biaya 

paket wisata, baik luar negeri maupun domestik. 

 

3.3.1.  Paket Wisata Luar Negeri 

CONTOH 

 

 

SINGAPORE 

2 HARI—1 MALAM 

 

 

Day 01        Denpasar-Singapore (L,D) 

Peserta berkumpul di Bandara NGURAH RAI. Tiba di 

Singapore. Makan siang, wisata   akan bermula dari 

Changi Airport setelah selesai urusan imigrasi. Tur akan 

40  

 

 

 

 

 

berlangsung maksima selama 7 jam termasuk waktu 

makan siang di restoran lokal. Anda akan dibawa   ke 

hotel setelah berbelanja & tur berakhir. Wisata orientasi 

kota ini menampilkan keunikan Singapura – antara yang 

kuno dan yang modern, serta perpaduan Timur dan 

Barat. Kita akan mengunjungi distrik kolonial untuk 

melihat Suntec City, Parliament House, Esplanade - 

Theatres on the Bay dan Merlion - simbol pariwisata 

Singapura  yang  terkenal.  Chinatown  –  pusat  budaya 

para imigran China. Di sini, para pedagang China 

menjajakan barang mereka dari lantai dasar ruko-ruko 

dari masa  sebelum perang  yang  tetap menarik, mulai 

dari bal kain sutra yang lembut dan perhiasan emas 

sampai kaus dan kerajinan tradisional Singapura. 

Pada waktu sore, kita akan berangkat untuk tur seterusnya ke 

pulau Sentosa. Makan malam di restoran setempat di pulau 

sentosa. *Songs of the Sea - Bersiaplah untuk terpesona oleh 

daya pikat ekstravaganza malam terbaru di Pulau Sentosa. 

Satu ekstravaganza yaitu, pertunjukan air yang bertaraf dunia 

serta bernilai jutaan dolar ini penuh dengan kesan-kesan 

dramatik, pancutan  air,  laser,  geseran api  dan  muzik yang 

dinamis. 

Day 02        Singapore-Denpasar (B,L) 

Setelah makan pagi, peserta akan diberikan waktu bebas 

untuk   menikmati   suasana   kota   Singapore   sebelum 

transfer menu airport untuk kembali ke Bali. Sore hari 

peserta akan mengikuti penerbangan kembali ke Bali dan 

setelah  tiba  di  Ngurah  Rai  airport,  wisata  berakhir, 

terimakasih. 

 

 

HARGA : Rp. 4.500.000,-/Peserta (Min. 12 Peserta) 

41  

 

 

 

 

 

Fasilitas   : 

 

 

-     Tiket pesawat Ekonomi class DPS - SIN - DPS 

-     Transportasi AC 

-     Makan sebanyak 4 kali 

-     Tiket masuk Song of the Sea 

-     Air mineral dan dokumentasi 

-     Tour leader untuk peserta diatas 12 orang 

-     Parkir –parkir, Obat – obatan dan asuransi 

-     Akomodasi Hotel** selama 1 malam 

-     Bagasi kabin 7 kg 

 

 

Tidak Termasuk : 

-    PASPOR 

-    Aiport tax saat berangkat 

-    Makan dan minum tambahan 

-    Tour tambahan 

-    Kelebihan bagasi 

- Pengeluaran pribadi dan Tip untuk 

pemandu 

-    Penghantaran dan penjemputan 

-    dari dan ke Ngurah Rai airport 

 

 

CONTOH 

 

 

SINGAPORE 

3 HARI—2 MALAM 

 

 

Day 01   DENPASAR—SINGAPORE (L, D) 

Peserta berkumpul di Bandara NGURAH RAI. Tiba di 

Changi Airport (bandara Singapura) setelah selesai urusan 

imigrasi.  Peserta  akan  dijemput  oleh  perwakilan  kami. 

Tour akan berlangsung maksimal 7 jam termasuk waktu 

makan siang di restoran lokal. Kita akan mengunjungi 

distrik   kolonial   untuk   melihat   Suntec   City,   Padang, 

42  

 

 

 

 

 

Cricket Club, Parliament House, Supreme Court, 

Esplanade - Theatres on the Bay dan Merlion  - simbol 

pariwisata Singapura yang terkenal. Pemberhentian 

selanjutnya,  tepat  di  belakang  bangunan-bangunan 

pencakar langit yang menjulang tinggi di distrik finansial 

Singapura, terdapatlah Chinatown  – pusat budaya para 

imigran China. Menuju Hotel, Check in hotel, istirahat. 

Day 02   SINGAPORE TOUR (B,L,D) 

Setelah sarapan pagi, anda akan dihantar ke Pulau Sentosa 

dan  Universal  Studio  (  tiket  tidak  termasuk  ),  peserta 

dapat bermain sepuasnya di Theme Park dan makan siang 

biaya sendiri. Sore hari berkumpul, transfer makan malam 

dan nonton Musical Song of the sea. Songs of the Sea - 

Bersiaplah untuk terpesona oleh daya pikat ekstravaganza 

malam terbaru di Pulau Sentosa. Satu ekstravaganza 

pertunjukan air yang bertaraf dunia serta bernilai jutaan 

dolar ini penuh dengan kesan-kesan dramatik, pancuran 

air, laser, geseran api dan muzik yang indah. Kembali ke 

hotel untuk beristirahat. Acara bebas 

Day 03   SINGAPORE—DENPASAR (B,L) 

Setelah  makan  pagi  ,  peserta  diberikan  waktu  bebas 

sebelum   dihantar ke Changi Airport (bandara Singapur) 

untuk perjalanan pulang. Tiba di Denpasar dan perjalanan 

berakhir, terimakasih. 

 

 

HARGA : Rp. 5.550.000,-/Peserta (Min. 12 Peserta) 

Fasilitas   : 

-     Tiket pesawat Ekonomi class DPS - SIN - DPS 

-     Transportasi AC 

-     Makan sebanyak 7 kali 

-     Tiket masuk ―Song of the Sea‖ 

-     Air mineral dan dokumentasi 

-     Tour leader untuk min. 12 peserta 

-     Parkir –parker, Obat – obatan dan asuransi 

43  

 

 

 

 

 

-     Akomodasi selama 2 malam 

-     Bagasi kabin 7 kg 

 

 

Tidak Termasuk : 

-     PASPOR 

-     Tiket Universal Studio 

-     Aiport tax saat berangkat 

-     Makan dan minum tambahan 

-     Tour tambahan 

-     Kelebihan bagasi 

-     Pengeluaran pribadi dan Tip untuk pemandu 

- Penghantaran dan penjemputan dari dan ke Ngurah Rai 

airport 

 

 

 

 

3.3.2.  Paket Wisata Domestik 

 

 

CONTOH 

 

 

Rencana Perjalanan UNDHIRA-Denpasar 

JAKARTA-BANDUNG-YOGYA 

5 HARI – 2 MALAM 

 

 

Day 01        DENPASAR – JAKARTA (L,D) 

Berkumpul di Bandara NGURAH RAI, Technical 

meeting 

Penerbangan    manuju    Jakarta.    Tiba    di    Bandara 

Soekarno Hatta Jakarta, Menuju TMII dan Pasar Pagi 

Mangga 2. Makan Siang, Dilanjutkan menuju Monas. 

C/I Hotel ,free time 

Day 02        JAKARTA – BANDUNG TOUR (B,L,D) 

Sarapan  pagi,  Menuju  Bandung  untuk  berwisata  di 

Trans  studio  seharian  penuh.  Makan  siang.  Makan 

44  

 

 

 

 

 

malam. Menuju Hotel , Check in hotel. free time 

Day 03        BANDUNG – YOGYAKARTA (B,L,D) 

Makan pagi. Check out Hotel, Menuju ke Ciwidey 

Makan Siang. Menuju Cihampelas/Cibaduyut/Dago 

Menuju Yogyakarta, Makan malam 

Day 04        YOGYAKARTA TOUR (B,L,D) 

Tiba di kawasan Magelang untuk makan pagi 

Menuju Candi Borobudur dan Candi Prambanan untuk 

menikmati wisata budaya (Makan siang di kawasan 

Kalasan) 

Sore hari peserta akan menikmati wisata belanja di 

kawasan Malioboro dan dilanjutkan perjalanan kembali 

ke Bali. Makan malam 

 

Day 05        TIBA DI BALI (B) 

Makan pagi 

Tiba di Bali dan perjalanan berakhir, Terimakasih telah 

bergabung bersama kami, Tuhan Memberkati 

 

 

HARGA 

Hotel Standart     :      Rp. 3.375.000 ,-/Peserta (Min. 40 Peserta) 

Hotel Deluxe       :      Rp. 3.550.000 ,-/Peserta (Min. 40 Peserta) 

 

Fasilitas : 

   Tiket pesawat Ekonomi Promo class DPS - JKT dan airport 

tax 

   Transportasi Bus AC, Recleaning seats,Audio visual, Toilet 

   Makan selama 12 kali dan snack saat berangkat 

   Akomodasi selama 2 malam 

   Tiket masuk Obyek sesuai program 

   Air   mineral  untuk  masing-masing   peserta   (1   hari  /1 

botol/peserta) 

45  

 

 

 

 

 

   Tour leader dan Parkir –parkir 

   Obat – obatan, asuransi dan dokumentasi 

 

 

Catatan : 

Klas Standard 

Hotel Jakarta  :  Agraha 

Plasa Mangga 2 

 

 

Hotel Bandung   : Trio 

Mutiara 

Cihampelas 2 

 

 

Klas Deluxe 

Hotel Jakarta   : Orchadz 

Batavia Hotel 

Triniti Hotel 

Hotel Bandung : Sukajadi Hotel 

Mitra Hotel 

Perdana wisata Hotel 

 

 

 

CONTOH 

 

 

Rencana Perjalanan UNDHIRA-Denpasar 

JAKARTA-BANDUNG-YOGYA 

6 HARI – 3 MALAM 

 

 

Day 01        DENPASAR – JAKARTA (L,D) 

Berkumpul  di  Bandara  NGURAH  RAI,  Technical 

meeting 

Penerbangan    manuju    Jakarta.    Tiba    di    Bandara 

Soekarno Hatta Jakarta, Menuju TMII dan Pasar Pagi 

46  

 

 

 

 

 

Mangga 2. Makan Siang, Dilanjutkan menuju Monas. 

C/I Hotel ,free time 

Day 02        JAKARTA – BANDUNG TOUR (B,L,D) 

Sarapan  pagi,  Menuju  Bandung  untuk  berwisata  di 

Trans studio seharian penuh. Makan siang. Makan 

malam. Menuju Hotel , Check in hotel. free time 

Day 03        BANDUNG – YOGYAKARTA (B,L,D) 

Makan pagi. Check out Hotel, Menuju ke Ciwidey 

Makan Siang. Menuju Cihampelas/Cibaduyut/Dago 

Menuju Yogyakarta. Makan malam 

Day 04        YOGYAKARTA TOUR (B,L,D) 

Tiba di kawasan Magelang untuk makan pagi 

Menuju Candi Borobudur, dilanjutkan Makan siang dan 

Check in Hotel. 

Sore  Hari  berkumpul  di  Bus  menuju  Malioboro  dan 

makan malam.kembali ke Hotel. 

Day 05        YOGYAKARTA –BALI (B,L,D) 

Makan pagi, Check out Hotel 

Wisata Budaya di Kraton Yogyakarta dan Singgah di 

oleh2 khas Yogyakarta. 

Makan          siang,dilanjutkan          Wisata          Candi 

Prambanan.perjalanan pulang ke Bali, 

Makan malam,melanjutkan perjalanan pulang ke Bali. 

Day 06        BALI (B) 

Makan pagi, tiba di Bali dan perjalanan berakhir. 

Terima Kasih.TUHAN MEMBERKATI. 

 

 

HARGA : 

Hotel Standard    :      Rp. 3.585.000, -/Peserta (Min. 40 Peserta) 

Hotel Deluxe       :      Rp. 3.850.000, -/Peserta (Min. 40 Peserta) 

47  

 

 

 

 

 

Fasilitas : 

  Tiket pesawat Ekonomi Promo class DPS - JKT  dan Airport 

tax 

     Transportasi Bus AC, Recleaning seats,Audio visual, Toilet 

     Makan selama 15 kali dan snack saat berangkat 

     Akomodasi selama 3 malam 

     T


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH