Pariwisata telah menjadi industri
terbesar dan memperlihatkan
pertumbuhan yang konsisten dari
tahun ke tahun. World Tourism
Organization memperkirakan bahwa
pada tahun 2020 akan terjadi
peningkatan sebesar 200% terhadap
angka kunjungan wisatawan dunia
saat ini. Pariwisata modern saat ini
juga dipercepat oleh proses
globalisasi dunia sehingga
memicu terjadinya
interkoneksi antar bidang, antar bangsa, dan antar individu yang hidup
di dunia ini. Perkembangan teknologi informasi juga mempercepat
dinamika globalisasi dunia, termasuk juga didalamnya perkembangan
dunia hiburan, rekreasi dan pariwisata.
Pertanyaannya adalah, dapatkah negara kita turut serta dalam
peningkatan kunjungan yang diperkirakan oleh World Tourism
Organization ini ?, upaya apa yang semestinya dilakukan oleh
pelaku, dan stakeholders pariwisata ditengah keterbatasan dana
pengembangan dan pemasaran pariwisata saat ini?
1.2. Sejarah Perjuangan Kemandirin Ilmu Pariwisata
Perjalanan panjang pariwisata untuk diakui sebagai disiplin
ilmu mandiri sejak lama telah dilakukan, dan masih terus
diperjuangkan. Pengakuan ini dibutuhkan berkenaan dengan
peningkatan kualifikasi sumberdaya manusia bidang pariwisata,
terutama pengakuan dan legitimasi dari pemerintah (c.q Depdiknas)
dalam bentuk ijin operasional bagi penyelenggaraan pendidikan
Sarjana Pariwisata (S1), Magister Pariwisata (S2) dan Doktor
Pariwisata (S3).
Perjalanan dan perjuangan panjang ini sampai akhirnya
pada deklarasi 24 Agustus 2006 yang menyepakati bahwa pariwisata
sudah layak menjadi satu disiplin ilmu mandiri. Sebagai tindak lanjut
dari deklarasi ini perlu diimplementasikan ke dalam
pengembangan rekabentuk jurusan atau program studi. Upaya ke arah
itu, terus dilakukan, antara lain dengan seminar nasional Manado
November 2006, Workshop Sinergi Bandung dan Bali, seminar
nasional Hildiktipari Yogyakarta (Juli, 2007) sampai akhirnya
Workshop Tindak Lanjut Rancang Bangun Pariwisata sebagai Ilmu
Mandiri (Cemara, 12-13 November 2007).
Rancang bangun ilmu pariwisata mandiri dilakukan dalam
rangka pengidentifikasi dan menyusun pohon ilmu pariwisata serta
institusi atau kelembagaannya. Konsep dan definisi pariwisata
dimantapkan kembali agar diperoleh kesamaan persepsi terhadap objek
pariwisata itu sendiri. Ruang lingkup ilmu pariwisata ditetapkan agar
diperoleh batasan-batasan ruang kajian yang menjadi pokok ilmu
pariwisata. Struktur kelembagaan juga merupakan bagian dalam
pembahasan workssop ini yang meliputi berbagai alternatif rekabentuk
institusi penyelenggara pendidikan S1 Pariwisata. Sebagai bagian dari
sejarah perjuangan Pariwisata menjadi disiplin ilmu mandiri, tonggak-
tonggak penting juga merupakan bagian dari pembahasan. Isu-isu lain
yang menjadi perhatian khusus adalah strategi untuk mendapatkan
pengakuan, gelar dan kompetensi lulusan serta kurikulum
1.3. Kajian Tentang Ilmu Pariwisata sebagai sebuah Ilmu yang
Mandiri
Dasar Keilmuan Pariwisata
Secara konseptual persyaratan sebuah ilmu menjadi ilmu
mandiri adalah dengan terpenuhinya minimal tiga syarat dasar yakni,
1) ontologi yang menunjukkan objek atau focus of interest yang dikaji;
2) epistemologi adalah metodologi yang dapat digunakan untuk
memperoleh pengetahuan; dan 3) aksiologi adalah nilai manfaat
pengetahuan ilmu ini (Suriasumantri, 2007).
1) Aspek Ontologi Pariwisata
Aspek ontologi dari ilmu pariwisata dapat dilihat
kemampuannya menyedikan informasi yang lengkap tentang hakekat
perjalanan wisata, gejala-gejalan pariwisata, karakteristik wisatawan,
prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik yang
dikunjungi, system dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta
komponen pendukung di daerah asal maupun pada sebuah destinasi
wisata. Sehingga objek formal kajian ilmu pariwisata dapat dijelaskan
secara jelas, yakni; masyarakat yang terkait dalam melakukan
perjalanan wisata. Sedangkan fenomeda pariwisata dapat dijelaskan ke
4
dalam tiga unsur yakni: 1)pergerakan wisatawan; 2)aktivitas
masyarakat yang memfasilitasi pergerakan wisatawan; dan 3)implikasi
atau akibat-akibat pergerakan wisatawan dan aktivitas masyarakat
yang memfasilitasinya terhadap kehidupan masyarakat secara luas.
2) Aspek Epistemologi Pariwisata
Aspek epistemologi ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada
cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah. Objek ilmu
pariwisata telah didasarkan pada logika berpikir yang rasional dan
dapat diuji secara empirik. Ilmu pariwisata memperoleh kebenaran
ilmiah melalui beberapa pendekatan, yakni:
1. Pendekatan sistem
Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan,
aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi
keduanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan
kesatuan yang saling berhubungan “linked system” dan saling
mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan
diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi
keduanya akan menimbulkan pengaruh logis di bidang
ekonomi, sosial, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga,
pariwisata sebagai suatu sistem akan digerakkan oleh dinamika
sub-sistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran.
2. Pendekatan Kelembagaan
Pendekatan kelembagaan adalah setiap perjalanan wisata akan
melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia atau
supplier misalnya jasa transportasi, jasa akomodasi, kemasan
atraksi atau daya tarik wisata. Semua komponen ini
memiliki hubungan fungsional yang memicu terjadinya
kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen
ini tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan
tidak akan berlangsung.
5
3. Pendekatan Produk
Pendekatan yang digunakan untuk mengelompokkan
pariwisata sebagai suatu komoditas yang dapat dijelaskan
aspek-aspeknya secara sengaja diciptakan untuk merespon
kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk
kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni;
menurut Medlik, (Ariyanto, 2005), ada empat aspek (4A) yang
harus diperhatikan dalam penawaran produk pariwisata
sebagai sebuah totalitas produk, yakni:
a) Attractions (daya tarik); Tersedianya daya tarik pada daerah
tujuan wisata atau destinasi untuk menarik wisatawan, yang
mungkin berupa daya tarik berupa alam maupun
masyarakat dan budayanya.
b) Accesability (transportasi); tersedianya alat-alat transportasi
agar wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan
mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata.
c) Amenities (fasilitas); tersedianya fasilitas utama maupun
pendukung pada sebuah destinasi berupa; akomodasi,
restoran, fasilitas penukaran valas, pusat oleh-oleh, dan
fasilitas pendukung lainnya yang berhubungan aktivitas
wisatawan pada sebuah destinasi.
d) Ancillary (kelembagaan); adanya lembaga penyelenggara
perjalanan wisatawan sehingga kegiatan wisata dapat
berlangsung, aspek ini dapat berupa, pemandu wisata, biro
perjalanan, pemesanan tiket, dan ketersediaan informasi
tentang destinasi.
Keempat elemen di atas digunakan untuk menjelaskan elemen
produk wisata yang sesungguhnya diproduksi dan atau direproduksi
sebagai komoditas yang dikonsumsi oleh wisatawan dalam satu
kesatuan yang utuh dari totalitas sebuah produk pariwisata. Berbagai
metode dapat digunakan dalam mencari kebenaran ilmiah ilmu
pariwisata seperti (1) metode eksploratif dari jenis penelitian
6
eksploratori (exploratory research) dan metode membangun teori (theory-
building research) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5)
eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalah
dan tujuan penelitiannya, hal ini akan dijelaskan lebih lanjut bab
berikutnya.
3) Aspek Aksiologi Pariwisata
Ilmu pariwisata telah memberikan manfaat bagi kesejahteraan
umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan adalah salah
satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan,
penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri.
Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (International
Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993),
pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan
alasan utama seperti berikut ini: (1) Pariwisata sebagai faktor pemicu
bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)
Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi,
akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3) Perhatian khusus terhadap
pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)
Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi
wisatawan pada sebuah destinnasi. (5) Penghasil devisa. (6) Pemicu
perdagangan international. (7) Pemicu pertumbuhan dan
perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun
lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal
dan santun, dan (8) Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-
ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi
pada daerah suatu destinasi.
Dari sisi kepentingan nasional, 1Menurut Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005) dalam Sapta (2011)
menjelaskan bahwa pembangunan kepariwisataan pada dasarnya
ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a) Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Pariwisata dianggap mampu
memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara
Kesatuan Republik negara kita melalui kegiatan perjalanan
wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru
negeri. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya
warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-
wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa
persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi
kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan
meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.
b) Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation): Pembangunan
pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi
seluruh rakyat negara kita untuk berusaha dan bekerja.
Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharpkan mampu
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa
pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam
penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin
potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi
kepentingan pariwisata.
c) Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development):
Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan
alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan,
sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk
menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumberdaya
yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat
dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk
dikelola dalam waktu yang relative lama.
8
d) Pelestarian Budaya (Culture Preservation): Pembangunan
kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam
upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang
meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan
budaya negara ataudaerah. UNESCO dan UN-WTO dalam
resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan
bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian
kebudayaan. Dalam konteks ini , sudah selayaknya bagi
negara kita untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan
sebagai pendorong pelestarian kebudayaan diberbagai daerah.
e) Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia:
Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar
kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok
masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata
bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya
melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan
skema paid holidays.
f) Peningkatan Ekonomi dan Industri: Pengelolaan
kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan
mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di
suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk
lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga
memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan
dalam penyediaan barang dan jasa.
g) Pengembangan Teknologi: Dengan semakin kompleks dan
tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan
ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya
teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata
mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini
mereka. Pada daerah-daerah ini akan terjadi
pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan
9
mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya.
Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan
memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di
berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental.
Kepariwisataanakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari
pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka
peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Sedangkan dari sisi kepentingan Internasional, 2Pariwisata
internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang
sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan
pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi ini meningkat 11%
dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang
dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Seiring dengan hal
ini , diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2020
akan menembus angka 1,6 miliar orang per tahun (UN-WTO, 2005).
Pada sisi yang berbeda, walaupun pariwisata telah diakui sebagai
faktor penting stimulator penggerak perekonomian di beberapa negara di
dunia, namun pariwisata juga menyembunyikan beberapa hal yang
jarang diungkap dan dihitung sehingga sangat sulit untuk ditelusuri
perannya atau kerugiannya.3Beberapa biaya tersembunyi atau hidden cost
diantaranya adalah: industri pariwisata bertumbuh dalam mekanisme
pasar bebas sehingga seringkali destinasi pada negara berkembang hanya
menjadi obyek saja, hal lainnya pengembangan pariwisata memang telah
dapat menigkatkan kualitas pembangunan pada suatu destinasi namun
akibat lainnya seperti peningkatan harga-harga pada sebuah destinasi
terkadang kurang mendapat perhatian dan korbannya adalah penduduk
lokal. Mestinya dampak negative dari pembangunan pariwisata dapat
diminimalkan dan pengaruh positifnya perlu digali lebih mendalam
sehingga fungsi penelitian pariwisata akan memegang peranan penting
untuk keberlanjutan pembangunan pariwisata di masa mendatang.
2 Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid
3 Economic Impact of Tourism in Global Context
10
1.4. Obyek Material dan Formal Ilmu Pariwisata
Ilmu pariwisata mestinya dibangun berdasarkan suatu
penjelasan yang mendalam, tidak terburu-buru dan perlu dibuatkan
taksonominya. Setiap ilmu memiliki obyek material dan obyek formal.
Objek material adalah seluruh lingkup secara makro yang dikaji suatu
ilmu. Obyek formal adalah bagian tertentu dari obyek material yang
menjadi perhatian khusus dalam kajian ilmu ini . Sesungguhnya
objek formal inilah yang membedakan satu ilmu dengan ilmu yang
lain.
1.4.1. Objek Material Ilmu Pariwisata
Obyek material ilmu pariwisata mengacu pada kesepakatan
(UNWTO, 2005) berdasarkan industri pariwisata yang telah
berkembang di dunia maka obyek material dari ilmu pariwsata dapat
dikelompokkan menjadi tujuh, yakni:
1. Jasa Akomodasi (Accomodation services) yakni industri yang
meliputi jasa hotel dan motel, pusat liburan dan home holiday
service, jasa penyewaan furniture untuk akomodasi, youth hostel
service, jasa training anak-anak dan pelayanan kemping,
pelayanan kemping dan caravan, sleeping car service, time-share,
bed and breakfast dan pelayanan sejenis.
2. Jasa Penyediaan Makanan dan Minuman (Food and beverage-
serving services) termasuk ke dalam industri ini adalah full-
restoran dan rumah makan, kedai nasi, catering service, inflight
catering, café, coffee shop, bar dan sejenis yang menyediakan
makanan dan minuman bagi wisatawan.
3. Jasa Transportasi Wisata (Passenger transport services). Yang
termasuk kelompok ini antara lain jasa angkutan darat seperti
bis, kereta api, taxi, mobil carteran; jasa angkutan perairan baik
laut, danau, maupun sungai meliput jasa penyeberangan
wisatawan, cruise ship dan sejenisnya. Dan terakhir adalah jasa
angkutan udara melalui perusahan-perusahaan airlines. Di
samping itu, sector pendukung antara lain navigation and aid
11
service, stasion bis, jasa pelayanan parker penumpang, dan
lainnya.
4. Jasa Pemanduan dan Biro Perjalanan Wisata (Travel agency,
tour operator and tourist guide services). Yang termasuk kepada
kelompok ini antara lain, agen perjalanan, konsultan
perjalanan, biro perjalanan wisata, pemimpin perjalanan dan
yang sejenis.
5. Jasa Pagelaran Budaya (Cultural services). Jasa pagelaran tari
dan fasilitas pelayanan tarian, biro pelayanan penari dan
sejenisnya. Jasa pelayanan museum kecuali gedung dan tempat
bersejarah, pemeliharaan gedung dan tempat bersejarah,
botanical and zoological garden service, pelayanan pada
perlindungan alam termasuk suaka margasatwa.
6. Jasa Rekreasi dan Hiburan (Recreation and other entertainment
services). Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah
pelayanan olah raga dan olah raga rekreasi, pelayanan golf
course, ski, sirkuit balapan, taman rekreasi dan pelayanan
pantai. Pelayanan taman bertema, taman-taman hiburan,
pelayanan pameran dan sejenisnya.
7. Jasa Keuangan Pariwisata (Miscellaneous tourism services). Yang
temasuk kelompok ini adalah jasa keuangan, asuransi, tempat
penukaran mata uang dan yang sejenis.
1.4.2. Objek Formal Ilmu Pariwisata
Berdasarkan dinamika perkembangan di industri, dan mengacu
kepada ketiga aspek ilmu pariwisata, terutama terkait dengan aspek
ontologi yang menegaskan objek formalnya, maka dapat diidentifikasi
beberapa cabang ilmu pariwisata. Oleh karena objek formal dan focus of
interest ilmu pariwisata adalah pergerakan wisatawan, aktivitas
masyarakat yang memfasilitas pergerakan wisatawan dan implikasi
atau akibat-akibat pergerakan wisatawan serta aktivitas masyarakat
yang memfasilitasinya terhadap kehidupan masyarakat secara luas,
12
maka cabang-cabang disiplin pariwisata paling tidak dapat diiden-
tifikasi sebagai berikut:
1) Pengembangan Jasa Wisata
Cabang ini mengkhususkan diri pada pengembangan
pengetahuan tentang strategi, metode dan teknik menyediakan
jasa dan hospitality yang mendukung kelancaran perjalanan
wisata. Objek perhatiannya adalah aktivitas masyarakat di
dalam penyediaan jasa, seperti fasilitas akomodasi, atraksi,
akses dan amenitas, serta jasa-jasa yang bersifat intangible
lainnya. Dikaitkan dengan klasifikasi industri pariwisata di
atas, maka cabang ini mempelajari dan mengembangkan ilmu-
ilmu yang dalam klasifikasi sebagai ranting.
2) Organisasi Perjalanan
Cabang ini menitikberatkan perhatiannya pada pengaturan
lalu-lintas perjalanan wisatawan dan penyediaan media atau
paket-paket perjalanan yang memungkinkan wisatawan
mampu memperoleh nilai kepuasan berwisata yang tinggi
melalui pengelolaan sumberdaya pariwisata. Dalam hal ini
objek perhatiannya terfokus pada pemaketan perjalanan wisata,
pengorganisasian dan pengelolaannya sesuai dengan prinsip-
prinsip kerberlanjutan. Di samping itu, ranting-ranting ilmu
ini dapat ditumbuhkan mengacu kepada klasifikasi yang
dikembangkan UN-WTO, (2005).
3) Kebijakan Pembangunan Pariwisata
Cabang ini menitikberatkan perhatiannya pada upaya-upaya
peningkatan manfaat sosial, ekonomi, budaya, psikologi
perjalanan wisata bagi masyarakat dan wisatawan dan evaluasi
perkembangan pariwisata melalui suatu tindakan yang
terencana. Termasuk dalam hal ini adalah perencanaan
kebijakan dan pengembangan pariwisata.
13
14
15
BAB II
RUANG LINGKUP JASA PARIWISATA DAN
PERHOTELAN
2.1. Pengertian Jasa Pariwisata
Menurut Meis (1992) industri
pariwisata adalah sebuah
konsep yang perlu dipahami
untuk dianalisis dan sebagai
bahan pengambilan keputusan.
Namun hampir disemua Negara
tidak memahami hal ini
sehingga muncul berbagai
permasalahan yang
menyulitkan industri untuk
berkembang secara realitas atau
kredibel yang berkaitan dengan
informasi pariwisata yang
mendasar, dalam memprediksi
kontribusinya baik untuik regional, nasional dan perekonomian
global.(Theobald, 2005)
Hawkin dan Ritchie (1991) memberikan argumen berdasarkan
data yang dipublikasi oleh perusahaan American Expres, bahwa industri
perjalanan dan pariwisata menjadi nomor satu dalam penyediaan
tenaga kerja di Australia, Bahama, Brazil, Kanada Prancis, German
Barat, Hongkong, Italia, Jamaika, Jepang, Singapura, United
Kingdom, dan Amerika.
Masalah definisi berpengaruh terhadap pengukuran secara
statistik, sebab tidak mungkin dengan tingkat ketidakpastian untuk
menyediakan data yang valid dan reliable tentang peran pariwisata
dunia atau dalam dampak ekonominya. Dalam beberapa kasus,
16
kesulitan yang sama juga terjadi ketika mengukur wisatawan
domestik. (Theobald, 2005).
Definisi tentang pariwisata yang berkembang di dunia sangat
beragam, multidimensi, dan sangat terkait dengan latar belakang
keilmuan pencetusnya. Pada dasarnya, definisi-definisi ini dapat
dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu yang melihat pariwisata
dari sisi demand saja, sisi supply saja, dan yang sudah menggabungkan
sisi demand dan supply. Kategori pertama merupakan definisi
pariwisata yang didekati dari sisi wisatawan, sangat kental
dengan dimensi spasial yakni tempat dan jarak. Kategori kedua
merupakan definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi
industri/bisnis, sedangkan kategori ketiga memandang pariwisata
dari dimensi akademis dan sosial budaya.
2.1.1. Dimensi Spasial
Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi spasial
merupakan definisi yang berkembang lebih awal dibandingkan definisi-
definisi lainnya (Gartner, 1996). Dimensi ini menekankan definisi
pariwisata pada pergerakan wisatawan ke suatu tempat yang jauh dari
lingkungan tempat tinggal dan atau tempat kerjanya untuk waktu yang
sementara, seperti yang dikemukakan oleh Airey (Smith dan French,
1994):
“Tourism is the temporary short-term movement of people to
destinations outside the places where they normally live and work, and
their activities during their stay at these destinations”.
Selain pergerakan ke tempat yang jauh dari lingkungan tempat
tinggal dan tempat kerja, Airey menambahkan kegiatan wisatawan
selama berada di destinasi pariwisata sebagai bagian dari pariwisata.
Definisi pariwisata yang dikemukan oleh World Tourism Organization
(WTO, 2005) pun memfokuskan pada sisi demand dan dimensi spasial,
dengan menetapkan dimensi waktu untuk perjalanan yang dilakukan
wisatawan, yaitu tidak lebih dari satu tahun berturut-turut.
17
“Tourism comprises the activities of persons travelling to and staying in
places outside their usual environment for not more than one
consecutive year for leisure, business and other purposes not related to
the exercise of an activity remunerated from within the place
visited”. (www.world-tourism.org)
Definisi ini menekankan pada tujuan perjalanan yang
dilakukan, yaitu untuk leisure, bisnis, dan tujuan lain yang tidak terkait
dengan kegiatan mencari uang di tempat yang dikunjunginya.
Beberapa definisi lain juga menetapkan nilai-nilai tertentu
untuk jarak tempuh dan lama perjalanan, yang biasanya
dikembangkan untuk memudahkan perhitungan statistik pariwisata:
a) Committee of Statistical Experts of the League Nations (1937)
menetapkan waktu paling sedikit 24 jam bagi perjalanan yang
dikategorikan perjalanan wisata. (Gartner, 1996)
b) The United States National Tourism Resources Review Commission
(1973) menetapkan jarak paling sedikit 50 mil untuk perjalanan
wisata.
c) United States Census Bureau (1989) menetapkan angka 100 mil
untuk perjalanan yang dikategorikan sebagai perjalanan wisata.
d) Canada mensyaratkan jarak 25 mil untuk mengategorikan
perjalanan wisata.
e) Biro Pusat Statistik negara kita menetapkan angka lama
perjalanan tidak lebih dari 6 bulan dan jarak tempuh paling
sedikit 100 km untuk perjalanan wisata. (Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata, 2003)
Definisi pariwisata dari dimensi spasial ini di negara kita
didefinisikan sebagai kegiatan wisata, seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 pasal 1,
yaitu kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik
wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
18
2.1.2. Dimensi Industri
Dari sisi supply, pariwisata lebih banyak dilihat sebagai
industri/bisnis. Buku-buku yang membahas tentang definisi pariwisata
dari dimensi ini merupakan buku dengan topik bahasan manajemen
atau pemasaran. Definisi pariwisata yang dipandang dari dimensi
industri/bisnis memfokuskan pada keterkaitan antara barang dan jasa
untuk memfasilitasi perjalanan wisata. Smith (Seaton dan Bennett
1996) mendefinisikan pariwisata sebagai kumpulan usaha yang
menyediakan barang dan jasa untuk memfasilitasi kegiatan bisnis,
bersenang-senang, dan memanfaatkan waktu luang yang dilakukan
jauh dari lingkungan tempat tinggalnya.
“..the aggregate of all businesses that directly provide goods or services
to facilitate business, pleasure, and leisure activities away from the
home environment”.
Sementara itu, Smith and French (1994) mendefinisikan
pariwisata sebagai keterkaitan antara barang dan jasa yang
dikombinasikan untuk menghasilkan pengalaman berwisata.
“..a series of interrelated goods and services which combined make up
the travel experience”.
Definisi pariwisata sebagai industri/bisnis inilah yang di dalam
Undang-Undang Kepariwisataan No. 10 tahun 2009 didefinisikan
sebagai pariwisata, yaituberbagai macam kegiatan wisata dan
didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh
masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
2.1.3. Dimensi Akademis
Dimensi akademis, mendefinisikan pariwisata secara lebih
luas, tidak hanya melihat salah satu sisi (supply atau demand), tetapi
melihat keduanya sebagai dua aspek yang saling terkait dan
mempengaruhi satu sama lain. Pariwisata dari dimensi ini
didefinisikan sebagai studi yang mempelajari perjalanan manusia
19
keluar dari lingkungannya, juga termasuk industri yang merespon
kebutuhan manusia yang melakukan perjalanan, lebih jauh lagi
dampak yang ditimbulkan oleh pelaku perjalanan maupun industri
terhadap lingkungan sosial budaya, ekonomi, maupun lingkungan fisik
setempat. Definisi ini dikemukakan oleh Jafar, (Gartner, 1996).
“Tourism is a study of man away from his usual habitat, of the
industry which responds to his needs and of the impacts that both he
and the industry have on the host sosiocultural, economic and physical
environment”.
Definisi Jafar Jafari ini mengeliminasi dimensi spasial sebagai
faktor pembatas perjalanan wisata. Definisi ini menyatakan
bahwa begitu seseorang melakukan perjalanan meninggalkan
lingkungannya (tempat tinggal, tempat kerja), dia sudah dinyatakan
melakukan perjalanan wisata.
2.1.4. Dimensi Sosial Budaya
Definisi pariwisata dari dimensi sosial budaya menitikberatkan
perhatian pada:
1) upaya memenuhi kebutuhan wisatawan dengan berbagai
karakteristiknya, seperti definisi yang dikemukakan oleh
Mathieson dan Wall (Gunn, 2002) berikut ini:
“Tourism is the temporary movement of people to destinations outside
their normal places of work and residence, the activities undertaken
during their stay in those destinations, and the facilities created to
cater to their needs”.
Definisi lainnya juga dikemukakan oleh Chadwick, 1994
sebagai berikut:
“…identified three main concepts: the movement of people; a sector of
the economy or industry; and a broad system of interacting relationship
of people, their needs, and services that respond to these needs”.
20
2) interaksi antara elemen lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial
budaya, seperti yang dikemukakan oleh Leiper (Gartner, 1996)
yang mendefinisikan pariwisata sebagai
“an open system of five elements interacting with broader
environments; the human element; tourists; three geographical
elements: generating region, transit route, and destination region; and
an economic element, the tourist industry. The five are arranged in
functional and spatial connection, interacting with physical,
technological, social, cultural, economic, and political factors. The
dynamic element comprises persons undertaking travel which is to some
extent, leisure-based and which involves a temporary stay away from
home of at least one night”.
Definisi lain yang lebih sederhana dikemukakan oleh Hunziker
(French et al, 1995), yang mendefinisikan pariwisata sebagai
berikut
“.. the sum of the phenomena and relationship arising from the travel
and stay of non-residents, in so far as the do not lead to permanent
residence and are not connected with any earning activity”.
3) Kerangka sejarah dan budaya, seperti yang dikemukakan oleh
MacCannell (Herbert, 1995) berikut ini
“Tourism is not just an aggregate of merely commercial activities; it is
also an ideological framing of history, nature and tradition; a framing
that has the power to reshape culture and nature to its own needs”.
Definisi pariwisata dari dimensi akademis dan dimensi sosial
budaya yang memandang pariwisata secara lebih luas, di negara kita
dikenal dengan istilah kepariwisataan (UU No. 10 tahun 2009 tentang
Kepariwisataan), yaitu keseluruhan kegiatan yang terkait dengan
pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul
sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara
21
wisatawan dan masyarakat setempat, sesame wisatawan, pemerintah,
pemerintah daerah, dan pengusaha.
2.2. Definisi Pariwisata di negara kita
Menurut arti katanya, pariwisata berasal dari bahasa
Sansekerta yang terdiri dari dua kata yaitu kata Pari dan kata Wisata.
Kata Pari berarti penuh, seluruh, atau semua dan kata wisata berarti
perjalanan. Menurut Yoeti (2003), syarat suatu perjalanan disebut
sebagai perjalanan pariwisata apabila: (1) Perjalanan dilakukan dari
suatu tempat ke tempat yang lain, di luar tempat kediaman orang
ini biasa tinggal; (2) Tujuan perjalanan semata-mata untuk
bersenang-senang, dan tidak mencari nafkah di tempat atau
negara yang di kunjunginya; (3) Semata-mata sebagai konsumen di
tempat yang dikunjungi.
Menurut Wahab (1992) pariwisata mengandung tiga unsur
antara lain: manusia yakni unsur insani sebagai pelaku kegiatan
pariwisata, tempat yakni unsur fisik yang sebenarnya tercakup oleh
kegiatan itu sendiri dan waktu yakni unsur tempo yang dihabiskan
dalam perjalanan ini dan selama berdiam di tempat tujuan. Jadi
definisi pariwisata adalah salah satu dari industri baru yang
mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat dalam hal
kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup dan dalam hal
mengaktifkan sektor produksi lain di dalam negara penerima
wisatawan.
Sementara menurut Spillane, (1993) pariwisata adalah suatu
jasa dan pelayanan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun
1990, usaha pariwisata dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu:
usaha jasa pariwisata, pengusahaan obyek dan daya tarik wisata dan
usaha sarana pariwisata. Sedangkan yang dimaksud dengan usaha
adalah kegiatan menghasilkan barang atau jasa untuk dijual dalam
suatu lokasi tertentu serta mempunyai catatan administrasi tersendiri
dan ada salah satu orang yang bertanggung jawab.
22
Pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyeleng-
garakan jasa pariwisata, menyediakan atau mengusahakan obyek dan
daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang terkait
di bidang ini . Sesuai dengan Undang-undang RI No. 9 Tahun
1990 tentang kepariwisataan, usaha pariwisata digolongkan ke dalam
a) Usaha Jasa Pariwisata, timbul karena adanya berbagai macam
keperluan dan kebutuhan bagi wisatawan akan mendorong
tumbuhnya berbagai jenis usaha jasa pariwisata yang
menyediakan keperluan bagi wisatawan serta bertujuan untuk
membantu kelancaran perjalanan calon wisatawan. Usaha
jasa pariwisata terdiri dari:
Jasa biro perjalanan wisata adalah kegiatan usaha yang
bersifat komersial yang Mengatur, menyediakan dan
menyelenggarakan pelayanan bagi seseorang, atau
sekelompok orang untuk melakukan perjalanan dengan
tujuan utama untuk berwisata.
Jasa agen perjalanan wisata adalah badan usaha yang
menyelenggarakan usaha perjalanan yang bertindak sebagai
perantara di dalam menjual dan atau mengurus jasa untuk
melakukan perjalanan.
Usaha jasa pramuwisata adalah kegiatan usaha bersifat
komersial yang mengatur, mengkoordinir dan menyediakan
tenaga pramuwisata untuk memberikan pelayanan bagi
seseorang atau kelompok orang yang melakukan
perjalanan wisata.
Usaha jasa konvensi, perjalanan insentif dan pameran
adalah usaha dengan kegiatan pokok memberikan jasa
pelayanan bagi satu pertemuan sekelompok orang
(misalnya negarawan, usahawan, cendekiawan) untuk
membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan
kepentingan bersama.
Jasa impresariat adalah kegiatan pengurusan
penyelenggaraan hiburan baik yang mendatangkan,
23
mengirimkan maupun mengembalikannya serta
menentukan tempat, waktu dan jenis hiburan.
Jasa konsultasi pariwisata adalah jasa berupa saran dan
nasehat yang diberikan untuk penyelesaian masalah-
masalah yang timbul mulai dan penciptaan gagasan,
pelaksanaan operasinya dan disusun secara sistematis
berdasarkan disiplin ilmu yang diakui serta disampaikan
secara lisan, tertulis maupun gambar oleh tenaga ahli
profesional.
Jasa informasi pariwisata adalah usaha penyediaan
informasi, penyebaran dan pemanfaatan informasi
kepariwisataan.
b) Pengusahaan Obyek dan Daya Tarik Wisata yang
dikelompokkan dalam:
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata alam merupakan
usaha pemanfaatan sumber daya alam dan tata
lingkungannya yang telah ditetapkan sebagai obyek dan daya
tarik wisata untuk dijadikan sasaran wisata. Pengusahaan
obyek dan daya tarik wisata budaya merupakan usaha seni
budaya bangsa yang telah dilengkapi sebagai obyek dan daya
tarik wisata untuk dijadikan sasaran wisata. Pengusahaan
obyek dan daya tarik wisata minat khusus merupakan usaha
pemanfaatan sumber daya alam dan atau potensi seni budaya
bangsa untuk dijadikan sasaran wisatawan yang mempunyai
minat khusus.
c) Usaha Sarana Pariwisata yang dikelompokkan dalam:
Penyediaan akomodasi adalah usaha penyediaan kamar dan
fasilitas lain serta pelayanan yang diperlukan. Perjalanan
wisata dengan jarak jauh yang ditempuh lebih dari 24 jam
maka diperlukan suatu akomodasi tempat menginap atau
istirahat.
24
Penyediaan makanan dan minuman adalah usaha
pengolahan, penyediaan dan pelayanan makanan dan
minuman yang dapat dilakukan sebagai bagian dari
penyediaan akomodasi ataupun sebagai usaha yang berdiri
sendiri.
Penyediaan angkutan wisata adalah usaha khusus atau
sebagian dari usaha dalam rangka penyediaan angkutan
pada umumnya yaitu angkutan khusus wisata atau
angkutan umum yang menyediakan angkutan wisata.
Penyediaan sarana wisata tirta adalah usaha penyediaan
dan pengelolaan prasarana dan sarana serta jasa yang
berkaitan dengan kegiatan wisata tirta, dermaga serta
fasilitas olahraga air untuk keperluan olahraga selancar air,
selancar angin, berlayar, menyelam dan memancing.
Penyediaan kawasan pariwisata adalah usaha yang
kegiatannya membangun atau mengelola kawasan
dengan luas tertentu untuk memenuhi kebutuhan
pariwisata. Menurut Kementrian Kebudayaan dan
Pariwisata (2004).
25
BAB III
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA
3.1. Asal-Usul Pariwisata
Manurut Theobald pada bukunya yang berjudul “The meaning,
scope and measurement of travel and tourism. Perjalanan telah ada
sejak jaman primitif dimana kegiatan ini dilakukan untuk pencarian
makanan, berburu binatang untuk mempertahankan hidup, kemudian
berkembang dengan kegiatan berdagang, keagamaan, perang,
bermigrasi dan kegiatan lainnya sesuai dengan motivasinya. Pada era
Romawi perjalanan juga dilakukan untuk kegiatan bersenang-senang
(pleasure) pada resort di pinggir pantai. Pariwisata yang dikenal saat ini
merupakan phenomena sejak 20 tahun yang lalu, para pelaku sejarah
mencatat bahwa kegiatan pariwisata dimulai di Inggris sejak terjadinya
revolusi industri dengan munculnya kelompok kelas mengengah dan
transportasi yang murah. Dengan adanya pesawat komersial dan
perang dunia ke dua serta berkembangnya jet pada tahun 1950an
yang ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya perjalanan
internasional perkembangan pariwisata menjadi semakin pesat.
Sejarah perkembangan pariwisata dunia secara umum dibagi
menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu : Jaman Pra Sejarah atau Prehistory,
Jaman Sejarah, dan Jaman Setelah Sejarah atau Post History.
3.1.1. Sebelum Jaman Modern (Sebelum Tahun 1920)
Adanya perjalanan
pertama kali dilakukan
oleh bangsa–bangsa
primitif dari satu tempat ke
tempat lain dengan tujuan
untuk kelangsungan hidup.
Tahun 400 sebelum
26
masehi mulai dianggap modern karena sudah mulai ada
muhibah oleh bangsa Sumeria dimana saat itu juga mulai
ditemukan huruf, roda, dan fungsi uang dalam
perdangangan.
Muhibah wisata pertama kali dilakukan oleh bangsa
Phoenesia dan Polynesia untuk tujuan perdagangan.
Kemudian Muhibah wisata untuk bersenang–senang
pertama kali dilakukan oleh Bangsa Romawi pada abad I
sampai abad V yang umumnya tujuan mereka bukan untuk
kegiatan rekreasi seperti pengertian wisata dewasa ini, tetapi
kegiatan mereka lebih ditujukan untuk menambah
pengetahuan cara hidup, sistem politik, dan ekonomi.
Tahun 1760–1850 terjadinya revolusi industri sehingga
mengakibatkan perubahan dalam kehidupan masyarakat,
antara lain :
a) Dalam struktur masyarakat dan ekonomi Eropa terjadi
pertambahan penduduk, urbanisasi, timbulnya usaha–
usaha yang berkaitan dengan pariwisata di kota–kota
industri, lapangan kerja meluas ke bidang industri,
pergeseran penanaman modal dari sektor pertanian ke
usaha perantara seperti bank, termasuk perdangan
internasional. Hal–hal inilah yang menciptakan pasar
wisata.
b) Meningkatnya tehnologi transportasi/sarana angkutan.
c) Munculnya agen perjalanan. Biro perjalanan pertama
kali di dunia adalah Thomas Cook & Son Ltd. Tahun
1840 (Inggris) & American Express Company Tahun
1841 (Amerika Serikat).
d) Bangkitnya industri perhotelan. Perkembangan sistem
transportasi juga mendorong munculnya akomodasi
(hotel) baik di stasiun–stasiun kereta api maupun di
daerah tujuan wisata. Disamping akomodasi, banyak
27
pula restoran dan bar serta sejenisnya, seperti kedai kopi
dan teh yang timbul akibat urbanisasi.
e) Munculnya literatur–literatur mengenai usaha
kepariwisataan, antara lain : “Guide du Hotels to
France” oleh Michelui ( 1900) dan “Guide to Hotels“
oleh Automobile Association (1901).
f) Berkembangnya daerah–daerah wisata di negara Mesir,
Italia, Yunani, dan Amerika. Perjalanan ini diatur
dan dikoordinasikan oleh Thomas Cook & Son Ltd. pada
sekitar permulaan abad ke 19, yaitu tahun 1861.
3.1.2. Pariwisata Di Dunia Modern
Dunia modern adalah sesudah tahun 1919. Dimana hal ini
ditandai dengan pemakaian angkutan mobil untuk kepentingan
perjalanan pribadi sesudah perang dunia I (1914– 1918). Perang dunia
I ini memberi pengalaman kepada orang untuk mengenal negara lain
sehingga membangkitkan minat berwisata ke negara lain. Sehingga
dengan adanya kesempatan berwisata ke negara lain maka
berkembang pula arti pariwisata internasional sebagai salah satu alat
untuk mencapai perdamaian dunia, dan berkembangnya penggunaan
sarana angkutan dari penggunaan mobil pribadi ke penggunaan
pesawat terbang berkecepatan suara.
Pada tahun 1914, perusahaan kereta api di Inggris mengalami
keruntuhan dalam keuangan sehingga diambillah kebijaksanaan
sebagai berikut ini : “Kereta api yang bermesin uap diganti menjadi
mesin diesel dan mesin bertenaga listrik serta Pengurangan jalur
kererta api yang kurang menguntungkan”. Pada masa ini pula timbul
sarana angkutan bertehnologi tinggi, seperti mobil dan pesawat sebagai
sarana transportasi wisata yang lebih nyaman serta lebih cepat.
3.1.3. Perkembangan Sarana Angkutan Di Abad XX
Pada abad ini perkembangan pariwisata banyak dipengaruhi
oleh perkembangan sarana angkutan, yakni :
28
1) Motorisasi, Merupakan sarana angkutan yang berkekuatan
motor tenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga uap.
Akibat dari motorisasi ini adalah galaknya wisata domestik,
tumbuhnya penginapan–penginapan di sepanjang jalan raya,
munculnya pengusaha–pengusaha bus wisata (coach) tahun
1920, dan munculnya undang–undang lalu lintas di Inggris
tahun 1924– 1930.
2) Pesawat udara, Sebelum perang dunia II pesawat udara dipakai
hanya untuk kepentingan komersial, seperti pengangkutan
surat–surat pos, paket-paket, dan lain–lain. Tetapi sejak tahun
1963 mulai diperkenalkan paket perjalanan wisata dengan
menggunkan pesawat terbang, seperti pesawat supersonik dan
concorde dimana perjalanan dapat ditempuh dengan nyaman
dan waktu yang relatif singkat.
3) Timbulnya agen perjalanan, agen perjalanan umum, dan
industri akomodasi. Hal ini banyak disebabkan karena
meningkatnya pendapatan per kapita penduduk terutama di
negara–negara maju, seperti Eropa, Amerika, Jepang, dan
negara lainnya; dan naiknya tingkat pendidikan masyarakat
yang mempengaruhi rasa ingin tahu terhadap negara–negara
luar.
3.1.4. Sejarah Pariwisata Di negara kita
Sejarah pariwisata di negara kita dibagai menjadi 3 (tiga) bagian
penting, yaitu:
1) Masa Penjajahan Belanda
Kegiatan pariwisata pada masa ini dimulai sejak tahun 1910–
1920, yakni sesudah keluarnya keputusan Gubernur Jendral atas
pembentukan Vereeneging Toesristen Verker (VTV) yang merupakan
suatu badan atau official tourist bureau. Kedudukan VTV selain
sebagai tourist goverm,ent office juga bertindak sebagai tour operator
atau travel agent.
29
Meningkatnya perdagangan antara benua Eropa dan negara–
negara di Asia termasuk di negara kita , telah mengakibatkan ramainya
lalu lintas orang–orang yang bepergian dengan motif yang berbeda–
beda sesuai dengan keperluannya masing–masing. Untuk dapat
memberikan pelayanan kepada mereka yang melakukan perjalanan,
maka berdirilah suatu Travel Agent di Batavia pada tahun 1926, yaitu
Linssonne Lindeman (LISLIND) yang berpusat di Negeri Belanda dan
sekarang dikenal dengan nama NITOUR (Netherlanshe Indische
Touristen Bureau). Pada masa penjajahan Berlanda dapat dikatakan
bahwa kegiatan kepariwisataan hanya terbatas pada kalangan orang–
orang kulit putih saja, sehingga perusahaan–perusahaan yang bergerak
dalam bidang kepariwisataan adalah juga monopoli Nitour, KLM, dan
KPM masa itu. Walaupun kunjungan wisatawan pada masa itu masih
sangat terbatas, namun di beberapa kota dan tempat di negara kita telah
berdiri hotel untuk menjamin akomodasi bagi mereka yang berkunjung
ke daerah Hindia Belanda.
Pertumbuhan usaha akomodasi baru dikenal pada abad ke 19,
itu pun terbatas pada kota–kota besar dekat pelabuhan saja. Fungsi
hotel yang utama hanya melayani tamu–tamu atau penumpang kapal
yang baru datang dari Belanda ataupun negara Eropa lainnya, yang
kemudian dibawa dengan menggunakan kereta–kereta yang ditarik
dengan beberapa kuda karena belum ada kendaraan bermotor atau
mobil.
Memasuki abad ke 20 barulah hotel–hotel mulai berkembang
ke daerah pedalaman, seperti losmen atau penginapan. Semenjak
itulah fungsi hotel mulai dirasakan oleh masyarakat banyak dan orang–
orang menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan derajatnya
masing–masing. Kemudian dari hal itu dikenallah istilah penginapan
besar (hotel) dan penginapan kecil (losmen).
Selanjutnya satu–satunya airlines yang menghubungkan
negara kita dengan Belanda waktu itu adalah KLM yang mempunyai
kedudukan monopoli untuk operasi membawa penumpang antara
kedua negara ini. Seperti halnya dengan KLM, dalam tahun 1927
30
angkutan laut juga dimonopoli oleh KLM. Sedangkan angkutan
penumpang dengan menggunakan kereta api baru efektif di Pulau
Jawa pada tanggal 1 Oktober 1927. Pada waktu itu para penumpang
yang hendak bepergian ke pulau Jawa harus melakukan reservasi
tempat duduk tiga jam sebelum kereta api berangkat.
Pada tahun 1927 kegiatan tour sudah mulai dikembangkan
terutama di pulau Jawa dan Sumatra yang diorganisir oleh LISLIND
(Lissonne Lindeman), seperti : “Fourteen days in Java motor ar and
train combination tour operated by LSLIND dan Fourteen days in
Sumatra”.
Pada tahun 1927 ternyata sudah datang orang-orang penting
yang kenamaan untuk mempelajari kebudayaan negara kita , terutama
tentang kesenian Jawa dan Bali, mereka itu antara lain adalah :
“Mr.Leopold Chaikoswky, Conductor of syimphony orchestra
Philadelpia is expected to arrive at Java shortly for the purpose of
making a study of Javanesse music dan Dr.Rabindranath Tagore is
expected to visit Java early in August, wit the object of studying the
influence of Hinduism on javanese religious concepts”.
Kegiatan promosi pariwisata negara kita mulai dilakukan, yakni
sebagai berikut:
Tahun 1913, Vereneging Teoristen Verker (VTV) menerbitkan
sebuah Guide Book yang bagus sekali mengenai daerah–daerah
di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok,
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Banten, dan
Tanah Toraja di Sulawesi.
Tahun 1923, beredar surat kabar mingguan yang merupakan
Java Touriost Guide yang isinya, antara lain mengenai Express
Train Service, News from abroad in Brief, Who-where-when to
hotels, Postal news, dan sebagainya.
Tahun 1926, sudah banyak promotion materials yang telah
dipersiapkan oleh badan–badan atau perusahaan yang bergerak
dalam bidang kepariwisataan. Di luar negeri, yakni di Belanda
31
pernah diterbitkan sebuah majalah, yaitu : “Tourism” yang
banyak mempromosikan negara kita antara lain :
- Come to Jaca, yang merupaan complete guide to Java.
- Bandung, the mountain city to Netherland India.
- Bandoeng.
- Batavia, queen city of east.
- The wayang wong or wayang orang, dan sebagainya.
2) Masa Pendudukan Jepang
Berkobarnya perang dunia II yang disusul dengan pendudukan
tentara Jepang di negara kita , memicu keadaan pariwisata
menjadi terlantar. Dapat dikatakan bahwa orang–orang tidak ada
gairah atau kesempatan untuk mengadakan perjalanan.
Objek–objek wisata terbengkalai, jalan–jalan rusak karena ada
penghancuran jembatan–jembatan untuk menghalangi musuh masuk.
Perhotelan sangat menyedihkan karena banyak hotel yang diambil
oleh pemerintah Jepang untuk dijadikan rumah sakit dan asrama
sebagai tempat tinggal perwira–perwira Jepang.
Setelah jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki, inflasi
terjadi di mana–mana yang mengakibatkan keadaan ekonomi rakyat
tambah parah.
3) Setelah Kemerdekaan negara kita
Pada tahun 1946 sebagai akibat perjuangan bangsa negara kita
untuk membebaskan Tanah Air negara kita dari cengkraman penjajahan
Belanda, maka pemerintah menghidupkan kembali industri–industri
yang mendukung perekonomian.
Demikian juga di bidang pariwisata, perhotelan mendapat
perhatian dari pemerintah, sehingga dikeluarkanlah Surat Keputusan
Wakil Presiden RI waktu itu (DR.Moch. Hatta) tentang pendirian
suatu badan yang bertugas untuk melanjutkan perusahaan hotel bekas
milik Belanda.
32
Badan ini bernama HONET (Hotel National &
Tourism). Semua hotel yang berada di bawah manajemen HONET
diganti namanya menjadi Hotel MERDEKA.
Dengan adanya perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar)
pada tahun 1949 dimana menurut perjanjian itu semua harta kekayaan
harus diembalikan kepada pemiliknya. Karena itu HONET dibubarkan
dan dibentuklah satu–satunya badan hukum milik negara kita sendiri
yang bergerak dalam bidang pariwisata, yaitu NV HONET.
Pada tahun 1953 dibentuklan organisasi yang bernama Serikat
Gabungan Hotel dan Tourisme negara kita (SERGAHTI) yang
beranggotakan hampir seluruh hotel di negara kita . Namun keberadan
badan ini tidak berlangsung lama karena tidak terlihat kemungkinan
penerobosan dari peraturan pengendalian harga.
Pada tahun 1955 oleh Bank Industri Negara didirikan suatu
Perseroan Terbatas dengan nama PT. NATOUR Ltd. (National Hotel
& Tourism Corp.). Natour ini memiliki anggota antara lain : Hotel
Transaera (Jakarta), Hotel Bali, Sindhu Beach, Kuta Beach, dan
Jayapura Hotel.`
4) Babak Baru Pariwisata negara kita
Banyak usaha kegiatan pariwisata yang telah dirintis oleh
Lembaga Pariwisata Nasional, walaupun lembaga ini sendiri banyak
mengalami kesukaran sebagai akibat penyesuaian dengan struktur
organisasi pariwisata yang hanya coba–coba dalam penerapannya.
Namun disini dapat dilihat kegairahan untuk berusaha dalam industri
pariwisata yang ditandai dengan dibangunnya hotel–hotel baru atau
memperbaiki yang telah bobrok di masa lalu.
Lines penerbangan domestik mulai beroperasi serta mulai
meningkatkan mutu pelayanan, pengusaha travel agent mulai
membuka operasi tournya di dalam maupun di luar negeri yang diikuti
dengan bertambah banyaknya wisatawan asing yang datang
berkunjung ke negara kita . Kunjungan wisatawan mancanegara
(wisman) ke negara kita dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
33
Kalau diperhatikan sejak pelita I tahun 1969 jumlah wisatawan
relatif masih rendah, yaitu : 86.100 saja. Di akhir tahun 1973 jumlah
wisatawan meningkat menjadi 270.300 orang. Jadi dalam pelita I
sudah terjadi peningkatan sebesar 214 %. Pada akhir pelita II tahun
1978 jumlah wisman yang berkunjung ke negara kita sebanyak 468.600
orang dan pada akhir pelita III tahun 1983 meningkat lagi menjadi
638.000 orang. Hal yang sama terjadi pada pelita IV tahun 1989.
Wisman yang berkunjung tercatat 11.626.000 orang. Peningkatan yang
sangat mencolok terjadi antara tahun 1984–1988 dengan pertumbuhan
rata–rata 15 % tiap tahunnya, kemudian pertumbuhan yang lebih besar
terjadi pada periode 1989–1991 dengan kedatangan wisman rata–rata
sebesar 36,2 % tiap tahunnya. Kunjungan wisatawan ke negara kita
tahun 1992 ternyata melebihi target 3 juta orang. Dengan demikian
kunjungan wisman ke negara kita meningkat 16,7 %. (Raymond, 2014).
34
3.2. Kebijakan Pemerintah tentang Pariwisata
UNDANG-UNDANG REPUBLIK negara kita
NOMOR 10.TAHUN 2009......
TENTANG
KEPARIWISATAAN
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK negara kita
dan
PRESIDEN REPUBLIK negara kita
MEMUTUSKAN
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG
KEPARIWISATAAN
BAB I KETENTUAN
UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat
tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau
mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam
jangka waktu sementara.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
35
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan
didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh
masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait
dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin
yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara
serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat,
sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan
pengusaha.
5. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki
keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman
kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang
menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
6. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi
Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu
atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat
daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata,
aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan
melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
7. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang
dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan
penyelenggaraan pariwisata.
8. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang
yang melakukan kegiatan usaha pariwisata.
9. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang
saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa
bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan
pariwisata.
10. Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki
fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk
pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting
dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi,
36
sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya
dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.
11. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan,
dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh
pekerja pariwisata untuk mengembangkan profesionalitas kerja.
12. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha dan
pekerja pariwisata untuk mendukung peningkatan mutu
produk pariwisata, pelayanan, dan pengelolaan kepariwisataan.
Kawasan strategis yang memiliki kekhususan wilayah menjadi
kawasan pariwisata khusus ditetapkan dengan undang-undang.
Yang dimaksud dengan “usaha daya tarik wisata” adalah usaha yang
kegiatannya mengelola daya tarik wisata alam, daya tarik wisata
budaya, dan daya tarik wisata buatan/binaan manusia.
Yang dimaksud dengan “usaha kawasan pariwisata” adalah usaha
yang kegiatannya membangun dan/atau mengelola kawasan dengan
luas tertentu untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
Yang dimaksud dengan “usaha jasa transportasi wisata” adalah usaha
khusus yang menyediakan angkutan untuk kebutuhan dan kegiatan
pariwisata, bukan angkutan transportasi reguler/umum.
Yang dimaksud dengan “usaha jasa perjalanan wisata” adalah usaha
biro perjalanan wisata dan usaha agen perjalanan wisata.
Usaha biro perjalanan wisata meliputi usaha penyediaan jasa
perencanaan perjalanan dan/atau jasa pelayanan dan penyelenggaraan
pariwisata, termasuk penyelenggaraan perjalanan ibadah.
Usaha agen perjalanan wisata meliputi usaha jasa pemesanan sarana,
seperti pemesanan tiket dan pemesanan akomodasi serta pengurusan
dokumen perjalanan.
Yang dimaksud dengan “usaha jasa makanan dan minuman” adalah
usaha jasa penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi
37
dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan dapat
berupa restoran, kafe, jasa boga, dan bar/kedai minum.
Yang dimaksud dengan “usaha penyediaan akomodasi” adalah usaha
yang menyediakan pelayanan penginapan yang dapat dilengkapi
dengan pelayanan pariwisata lainnya.
Usaha penyediaan akomodasi dapat berupa hotel, vila, pondok wisata,
bumi perkemahan, persinggahan karavan, dan akomodasi lainnya
yang digunakan untuk tujuan pariwisata.
Yang dimaksud dengan “usaha penyelenggaraan kegiatan hiburan dan
rekreasi” merupakan usaha yang ruang lingkup kegiatannya berupa
usaha seni pertunjukan, arena permainan, karaoke, bioskop, serta
kegiatan hiburan dan rekreasi lainnya yang bertujuan untuk pariwisata.
Yang dimaksud dengan “usaha penyelenggaraan pertemuan,
perjalanan insentif, konferensi, dan pameran” adalah usaha yang
memberikan jasa bagi suatu pertemuan sekelompok orang,
menyelenggarakan perjalanan bagi karyawan dan mitra usaha sebagai
imbalan atas prestasinya, serta menyelenggarakan pameran dalam
rangka menyebarluaskan informasi dan promosi suatu barang dan jasa
yang berskala nasional, regional, dan internasional.
Yang dimaksud dengan “usaha jasa informasi pariwisata” adalah
usaha yang menyediakan data, berita, feature, foto, video, dan hasil
penelitian mengenai kepariwisataan yang disebarkan dalam bentuk
bahan cetak dan/atau elektronik.
Yang dimaksud dengan “usaha jasa konsultan pariwisata” adalah
usaha yang menyediakan saran dan rekomendasi mengenai studi
kelayakan, perencanaan, pengelolaan usaha, penelitian, dan
pemasaran di bidang kepariwisataan.
Yang dimaksud dengan “usaha jasa pramuwisata” adalah usaha yang
menyediakan dan/atau mengoordinasikan tenaga pemandu wisata
38
untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan/atau kebutuhan biro
perjalanan wisata.
Yang dimaksud dengan “usaha wisata tirta” merupakan usaha yang
menyelenggarakan wisata dan olahraga air, termasuk penyediaan
sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial
di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk.
Yang dimaksud dengan “usaha spa” adalah usaha perawatan yang
memberikan layanan dengan metode kombinasi terapi air, terapi
aroma, pijat, rempah-rempah, layanan makanan/minuman sehat, dan
olah aktivitas fisik dengan tujuan menyeimbangkan jiwa dan raga
dengan tetap memperhatikan tradisi dan budaya bangsa negara kita .
3.3. Paket Wisata
Paket wisata diartikan sebagai suatu perjalanan wisata dengan
satu atau beberapa tujuan kunjungan yang disusun dari berbagai
fasilitas perjalanan tertentu dalam suatu acara perjalanan yang tetap,
serta dijual sebagai harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen
dari perjalanan wisata.
Pada Independent tour sebaliknya dari paket wisata, wisatawan
diberi kebebasan untuk memilih fasilitas dan menentukan acaranya
sendiri. Ada kalanya juga wisatawan diberi kebabasan untuk
mengadakan perubahan atas fasilitas dan acara selama perjalanan
berlangsung.
Berdasarkan pemakaian akomodasi dan konsumsi serta
penyiapan tour ke empat kelas ini , dapat dilihat cirri-ciri
perbedaannya. Ciri-ciri nya dapat dilihat pada bagan berikut ini :
39
Sumber: Lubis, 2011
Pertimbangan perhitungan biaya untuk sebuah paket wisata
dihitung berdasarkan pada biaya beberapa komponen seperti
komponen transportasi, penginapan, retribusi setiap objek wisata,
dan komponen jasa pengelola. Berikut contoh perhitungan biaya
paket wisata, baik luar negeri maupun domestik.
3.3.1. Paket Wisata Luar Negeri
CONTOH
SINGAPORE
2 HARI—1 MALAM
Day 01 Denpasar-Singapore (L,D)
Peserta berkumpul di Bandara NGURAH RAI. Tiba di
Singapore. Makan siang, wisata akan bermula dari
Changi Airport setelah selesai urusan imigrasi. Tur akan
40
berlangsung maksima selama 7 jam termasuk waktu
makan siang di restoran lokal. Anda akan dibawa ke
hotel setelah berbelanja & tur berakhir. Wisata orientasi
kota ini menampilkan keunikan Singapura – antara yang
kuno dan yang modern, serta perpaduan Timur dan
Barat. Kita akan mengunjungi distrik kolonial untuk
melihat Suntec City, Parliament House, Esplanade -
Theatres on the Bay dan Merlion - simbol pariwisata
Singapura yang terkenal. Chinatown – pusat budaya
para imigran China. Di sini, para pedagang China
menjajakan barang mereka dari lantai dasar ruko-ruko
dari masa sebelum perang yang tetap menarik, mulai
dari bal kain sutra yang lembut dan perhiasan emas
sampai kaus dan kerajinan tradisional Singapura.
Pada waktu sore, kita akan berangkat untuk tur seterusnya ke
pulau Sentosa. Makan malam di restoran setempat di pulau
sentosa. *Songs of the Sea - Bersiaplah untuk terpesona oleh
daya pikat ekstravaganza malam terbaru di Pulau Sentosa.
Satu ekstravaganza yaitu, pertunjukan air yang bertaraf dunia
serta bernilai jutaan dolar ini penuh dengan kesan-kesan
dramatik, pancutan air, laser, geseran api dan muzik yang
dinamis.
Day 02 Singapore-Denpasar (B,L)
Setelah makan pagi, peserta akan diberikan waktu bebas
untuk menikmati suasana kota Singapore sebelum
transfer menu airport untuk kembali ke Bali. Sore hari
peserta akan mengikuti penerbangan kembali ke Bali dan
setelah tiba di Ngurah Rai airport, wisata berakhir,
terimakasih.
HARGA : Rp. 4.500.000,-/Peserta (Min. 12 Peserta)
41
Fasilitas :
- Tiket pesawat Ekonomi class DPS - SIN - DPS
- Transportasi AC
- Makan sebanyak 4 kali
- Tiket masuk Song of the Sea
- Air mineral dan dokumentasi
- Tour leader untuk peserta diatas 12 orang
- Parkir –parkir, Obat – obatan dan asuransi
- Akomodasi Hotel** selama 1 malam
- Bagasi kabin 7 kg
Tidak Termasuk :
- PASPOR
- Aiport tax saat berangkat
- Makan dan minum tambahan
- Tour tambahan
- Kelebihan bagasi
- Pengeluaran pribadi dan Tip untuk
pemandu
- Penghantaran dan penjemputan
- dari dan ke Ngurah Rai airport
CONTOH
SINGAPORE
3 HARI—2 MALAM
Day 01 DENPASAR—SINGAPORE (L, D)
Peserta berkumpul di Bandara NGURAH RAI. Tiba di
Changi Airport (bandara Singapura) setelah selesai urusan
imigrasi. Peserta akan dijemput oleh perwakilan kami.
Tour akan berlangsung maksimal 7 jam termasuk waktu
makan siang di restoran lokal. Kita akan mengunjungi
distrik kolonial untuk melihat Suntec City, Padang,
42
Cricket Club, Parliament House, Supreme Court,
Esplanade - Theatres on the Bay dan Merlion - simbol
pariwisata Singapura yang terkenal. Pemberhentian
selanjutnya, tepat di belakang bangunan-bangunan
pencakar langit yang menjulang tinggi di distrik finansial
Singapura, terdapatlah Chinatown – pusat budaya para
imigran China. Menuju Hotel, Check in hotel, istirahat.
Day 02 SINGAPORE TOUR (B,L,D)
Setelah sarapan pagi, anda akan dihantar ke Pulau Sentosa
dan Universal Studio ( tiket tidak termasuk ), peserta
dapat bermain sepuasnya di Theme Park dan makan siang
biaya sendiri. Sore hari berkumpul, transfer makan malam
dan nonton Musical Song of the sea. Songs of the Sea -
Bersiaplah untuk terpesona oleh daya pikat ekstravaganza
malam terbaru di Pulau Sentosa. Satu ekstravaganza
pertunjukan air yang bertaraf dunia serta bernilai jutaan
dolar ini penuh dengan kesan-kesan dramatik, pancuran
air, laser, geseran api dan muzik yang indah. Kembali ke
hotel untuk beristirahat. Acara bebas
Day 03 SINGAPORE—DENPASAR (B,L)
Setelah makan pagi , peserta diberikan waktu bebas
sebelum dihantar ke Changi Airport (bandara Singapur)
untuk perjalanan pulang. Tiba di Denpasar dan perjalanan
berakhir, terimakasih.
HARGA : Rp. 5.550.000,-/Peserta (Min. 12 Peserta)
Fasilitas :
- Tiket pesawat Ekonomi class DPS - SIN - DPS
- Transportasi AC
- Makan sebanyak 7 kali
- Tiket masuk ―Song of the Sea‖
- Air mineral dan dokumentasi
- Tour leader untuk min. 12 peserta
- Parkir –parker, Obat – obatan dan asuransi
43
- Akomodasi selama 2 malam
- Bagasi kabin 7 kg
Tidak Termasuk :
- PASPOR
- Tiket Universal Studio
- Aiport tax saat berangkat
- Makan dan minum tambahan
- Tour tambahan
- Kelebihan bagasi
- Pengeluaran pribadi dan Tip untuk pemandu
- Penghantaran dan penjemputan dari dan ke Ngurah Rai
airport
3.3.2. Paket Wisata Domestik
CONTOH
Rencana Perjalanan UNDHIRA-Denpasar
JAKARTA-BANDUNG-YOGYA
5 HARI – 2 MALAM
Day 01 DENPASAR – JAKARTA (L,D)
Berkumpul di Bandara NGURAH RAI, Technical
meeting
Penerbangan manuju Jakarta. Tiba di Bandara
Soekarno Hatta Jakarta, Menuju TMII dan Pasar Pagi
Mangga 2. Makan Siang, Dilanjutkan menuju Monas.
C/I Hotel ,free time
Day 02 JAKARTA – BANDUNG TOUR (B,L,D)
Sarapan pagi, Menuju Bandung untuk berwisata di
Trans studio seharian penuh. Makan siang. Makan
44
malam. Menuju Hotel , Check in hotel. free time
Day 03 BANDUNG – YOGYAKARTA (B,L,D)
Makan pagi. Check out Hotel, Menuju ke Ciwidey
Makan Siang. Menuju Cihampelas/Cibaduyut/Dago
Menuju Yogyakarta, Makan malam
Day 04 YOGYAKARTA TOUR (B,L,D)
Tiba di kawasan Magelang untuk makan pagi
Menuju Candi Borobudur dan Candi Prambanan untuk
menikmati wisata budaya (Makan siang di kawasan
Kalasan)
Sore hari peserta akan menikmati wisata belanja di
kawasan Malioboro dan dilanjutkan perjalanan kembali
ke Bali. Makan malam
Day 05 TIBA DI BALI (B)
Makan pagi
Tiba di Bali dan perjalanan berakhir, Terimakasih telah
bergabung bersama kami, Tuhan Memberkati
HARGA
Hotel Standart : Rp. 3.375.000 ,-/Peserta (Min. 40 Peserta)
Hotel Deluxe : Rp. 3.550.000 ,-/Peserta (Min. 40 Peserta)
Fasilitas :
Tiket pesawat Ekonomi Promo class DPS - JKT dan airport
tax
Transportasi Bus AC, Recleaning seats,Audio visual, Toilet
Makan selama 12 kali dan snack saat berangkat
Akomodasi selama 2 malam
Tiket masuk Obyek sesuai program
Air mineral untuk masing-masing peserta (1 hari /1
botol/peserta)
45
Tour leader dan Parkir –parkir
Obat – obatan, asuransi dan dokumentasi
Catatan :
Klas Standard
Hotel Jakarta : Agraha
Plasa Mangga 2
Hotel Bandung : Trio
Mutiara
Cihampelas 2
Klas Deluxe
Hotel Jakarta : Orchadz
Batavia Hotel
Triniti Hotel
Hotel Bandung : Sukajadi Hotel
Mitra Hotel
Perdana wisata Hotel
CONTOH
Rencana Perjalanan UNDHIRA-Denpasar
JAKARTA-BANDUNG-YOGYA
6 HARI – 3 MALAM
Day 01 DENPASAR – JAKARTA (L,D)
Berkumpul di Bandara NGURAH RAI, Technical
meeting
Penerbangan manuju Jakarta. Tiba di Bandara
Soekarno Hatta Jakarta, Menuju TMII dan Pasar Pagi
46
Mangga 2. Makan Siang, Dilanjutkan menuju Monas.
C/I Hotel ,free time
Day 02 JAKARTA – BANDUNG TOUR (B,L,D)
Sarapan pagi, Menuju Bandung untuk berwisata di
Trans studio seharian penuh. Makan siang. Makan
malam. Menuju Hotel , Check in hotel. free time
Day 03 BANDUNG – YOGYAKARTA (B,L,D)
Makan pagi. Check out Hotel, Menuju ke Ciwidey
Makan Siang. Menuju Cihampelas/Cibaduyut/Dago
Menuju Yogyakarta. Makan malam
Day 04 YOGYAKARTA TOUR (B,L,D)
Tiba di kawasan Magelang untuk makan pagi
Menuju Candi Borobudur, dilanjutkan Makan siang dan
Check in Hotel.
Sore Hari berkumpul di Bus menuju Malioboro dan
makan malam.kembali ke Hotel.
Day 05 YOGYAKARTA –BALI (B,L,D)
Makan pagi, Check out Hotel
Wisata Budaya di Kraton Yogyakarta dan Singgah di
oleh2 khas Yogyakarta.
Makan siang,dilanjutkan Wisata Candi
Prambanan.perjalanan pulang ke Bali,
Makan malam,melanjutkan perjalanan pulang ke Bali.
Day 06 BALI (B)
Makan pagi, tiba di Bali dan perjalanan berakhir.
Terima Kasih.TUHAN MEMBERKATI.
HARGA :
Hotel Standard : Rp. 3.585.000, -/Peserta (Min. 40 Peserta)
Hotel Deluxe : Rp. 3.850.000, -/Peserta (Min. 40 Peserta)
47
Fasilitas :
Tiket pesawat Ekonomi Promo class DPS - JKT dan Airport
tax
Transportasi Bus AC, Recleaning seats,Audio visual, Toilet
Makan selama 15 kali dan snack saat berangkat
Akomodasi selama 3 malam
T











.jpeg)
