n (catering service) atau usaha jasa boga yang
berkualitas.
Segala macam produk kuliner yang berkualitas dan layak dijual
dan disajikan di beberapa tempat usaha restoran yang dapat di nikmati
wisatawan selama berwisata di daerah wisata tersebut. Usaha yang
disediakan untuk memenuhi kebutuhan dan diperlukan oleh wisatawan,
namun dapat diartikan pula keseluruhan pengalaman yang dialami
wisatawan yang tidak mereka dapatkan di Negara asal mereka.
Restaurant yaitu penyedia jasa makan dan minum (meals) dan sangat
dibutuhkan karena pada hakikatnya setiap wisatawan dalam perjalanan
wisata harus terjamin kebutuhan makan dan minumnya. Restoran yang
ada di hotel memiliki berbagai jenis dan menu makanan yang berbeda
spesifikasinya juga type pelayanannya seperti: Coffee shop, Cafetaria;
Soda Fountain (Pool Snack Bar); Supper Club; Main Dinning Room; dan
Spesific restaurant yang menyesuaikan dengan menu yang di tawarkan
sesuai dari daerah atau Negara asalnya: Japanese restaurant; Chinese;
41
Thai’s restaurant, dan juga bisa Indonesian food restaurant.
Gambar 10: Hotel Restaurant (Main Dining Room)
Berbagai Restaurant yang ada di hotel banyak jenisnya dan berbeda
peruntukannya ada yang berdiri sendiri di luar hotel dengan menyediakan
berbagai menu makanan untuk Breakfast; Lunch; Dinner dan Supper
baik secara jamuan Buffet maupun Ala Carte, dengan pelayanan yang
berkualitas internasional semua tujuannya untuk menciptakan kepuasan
tamunya.
Beberapa jenis tatacara penyajian menu (meals) yang ada di restoran
sebagai berikut:
a. Buffet / Prasmanan, yaitu penyajian makanan dan minuman dengan
aturan setiap peserta berhak menikmati sajian yang dihidangkan
sepuasnya.
b. Set menu atau fix menu yaitu penyajian menu makanan dan minuman
secara paket dan setiap peserta hanya berhak menikmati menu yang
telah ditentukan (fixed) untuk paketnya masing - masing.
c. In-Box / Take away yaitu penyajian makanan dan minuman dalam
box (bungkus), dimana alternative ini diambil jika waktu dari sebuah
kunjungan wisata waktunya sangat sedikit/ terbatas dan tidak
memungkinkan untuk singgah untuk waktu yang lama pada sebuah
rumah makan / hotel restaurant untuk menikmati meals nya (Breakfast
inbox; LunchBox).
42
3.5.4. Penyelenggaraan Usaha Bisnis Hotel
Klasifikasi Hotel Menurut keputusan direktorat Jendral Pariwisata,
Pos dan Telekomunikasi no 22/U/VI/1978 tanggal 12 Juni 1978 (Endar
Sri, 1996: 9), klasifikasi hotel dibedakan dengan menggunakan simbol
bintang antara 1-5. Semakin banyak bintang yang dimiliki suatu hotel,
semakin berkualitas hotel tersebut. Penilaian dilakukan selama 3 tahun
sekali dengan tatacara serta penetapannya dilakukan oleh Direktorat
Jendral Pariwisata.
Penyelenggaraan bisnis hotel sangat bervariasi tergantung dari pada
type, jenis, serta kualitasnya serta berbagai fasilitas tingkat golongannya
yang distandarkan pada ketentuan klasifikasi golongan yang telah
ditentukan oleh pemerintah dinas pariwisata dan kebudayaan sbb:
Usaha Hotel dibagi dalam 2 (dua) golongan/ kelas yaitu :
1. Golongan/ Kelas Hotel Bintang; dan
2. Golongan/ Kelas Hotel Melati.
Golongan/ Kelas Hotel Bintang dibagi atas 5 (lima) penjenjangan
kelas Hotel Bintang, yaitu:
• Hotel Bintang 5;
• Hotel Bintang 4
• Hotel Bintang 3
• Hotel Bintang 2; dan
• Hotel Bintang 1.
Perbedaan Hotel Berbintang, antara lain:
Hotel Bintang 1
• Ruangan kamar tidur hanya berukuran 20 meter persegi.; Tersedia
kamar mandi di dalam ruangan kamar tidur; Jumlah kamar tidur
dengan tipe standart minimal 15 kamar.
Hotel Bintang 2
• Ruangan kamar tidur tipe standar berukuran paling tidak 22 meter
persegi, atau minimum berukuran 44 meter persegi untuk tipe kamar
yang lebih mahal.
• Jumlah kamar tidur dengan tipe standart minimal 20 kamar dan tipe
43
kamar suite minimal 1 kamar.
• Fasilitas kamar: Kamar mandi; Televisi; AC; Telepon; Pengaman
pintu; Jendela, Ventilasi udara
• Fasilitas Hotel: Memiliki Loby; Sarana Olahraga; Tempat rekreasi
Hotel bintang 3
• Ruangan kamar tidur tipe standar berukuran paling tidak 24 meter
persegi, atau minimum berukuran 48 meter persegi untuk tipe kamar
yang lebih mahal (Suite).
• Jumlah kamar tidur dengan tipe standart minimal 30 kamar dan tipe
kamar suite minimal 2 kamar.
• Fasilitas kamar: Kamar mandi; Tersedia Toilet; Televisi; AC; Telepon;
Pengaman pintu; Jendela, Ventilasi udara; WIFI sebagai fasilitas
ekstra
• Fasilitas Hotel: Memiliki Loby yang lebih luas dari Hotel bintang 2;
Sarana; Olahraga; Tempat rekreasi; Tersedia restoran untuk sarapan,
makan siang dan makan malam; Memiliki tempat parkir (Valet
Parking); Bar.
Hotel bintang 4
• Ruangan kamar tidur tipe standar berukuran paling tidak 24 meter
persegi, atau minimum berukuran 48 meter persegi untuk tipe kamar
yang lebih mahal (Suite).
• Jumlah kamar tidur dengan tipe standart minimal 50 kamar dan tipe
kamar suite minimal 3 kamar.
• Fasilitas kamar: Kamar mandi dengan pilihan air panas dan dingin;
Tersedia Toilet; Televisi; AC; Telepon; Pengaman pintu; Jendela,
Ventilasi udara; WIFI sebagai fasilitas ekstra
• Fasilitas Hotel: Memiliki Loby yang lebih luas dari hotel bintang 3;
Sarana Olahraga; Tempat rekreasi; Tersedia restoran untuk sarapan,
makan siang dan makan malam; Memiliki tempat parkir (Valet
parking); Bar.
Hotel bintang 5
• Ruangan kamar tidur tipe standar berukuran paling tidak 26 meter
persegi, atau minimum berukuran 52 meter persegi untuk tipe kamar
yang lebih mahal (Suite).
• Jumlah kamar tidur dengan tipe standart minimal 100 kamar dan tipe
44
kamar suite minimal 4 kamar.
• Fasilitas kamar: Kamar mandi dengan pilihan air panas dan dingin;
Tersedia Toilet; Televisi; AC; Telepon; Pengaman pintu; Jendela,
Ventilasi udara; Free WIFI; Tempat tidur dan perabot lain memiliki
kualitas terbaik
• Fasilitas Hotel: Memiliki Loby yang lebih luas dari hotel bintang 4;
Sarana Olahraga; Tempat rekreasi; Tersedia restoran untuk sarapan,
makan siang dan makan malam (24 jam); Memiliki tempat parkir
(Valet parking); Bar; Fitness, sarana kebugaran serta kolam renang.
Golongan/ Kelas Hotel Melati dibagi atas 3 (tiga) penjenjangan kelas
Hotel Melati, yaitu:
1. Hotel Melati 3;
2. Hotel Melati 2; dan
3. Hotel Melati 1.
Berdasarkan Jumlah Kamar Hotel
Menurut Tarmoezi (Tarmoezi,2000:3)[24], dari banyaknya kamar
yang disediakan, hotel dapat dibedakan menjadi :
a. Small Hotel
Jumlah kamar yang tersedia maksimal sebanyak 28 kamar.
b. Medium Hotel
Jumlah kamar yang disediakan antara 28- 299 kamar.
c. Large Hotel
Jumlah kamar yang disediakan sebanyak lebih dari 300 kamar.
Hotel merupakan bagian yang integral dari usaha pariwisata yang
menurut Keputusan Menparpostel disebutkan sebagai suatu usaha
akomodasi yang dikomersialkan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas
sebagai berikut:
1. Kamar tidur (kamar tamu)
2. Makanan dan minuman
3. Pelayanan-pelayanan penunjang lain seperti :
a. Tempat-tempat rekreasi
45
b. Fasilitas olah raga
c. Fasilitas laundry, dsb
Hotel merupakan usaha jasa pelayanan yang cukup rumit
pengelolaannya, dengan menyediakan berbagai fasilitas yang dapat
dipergunakan oleh tamu-tamunya selama 24 jam (untuk klasifikasi
hotel berbintang 4 dan 5). Di samping itu, usaha perhotelan juga dapat
menunjang kegiatan para usahawan yang sedang melakukan perjalanan
usaha ataupun para wisatawan pada waktu melakukan perjalanan untuk
mengunjungi daerah-daerah tujuan wisata, dan membutuhkan tempat
untuk menginap, makan dan minum serta hiburan.
3.5.5. Jasa Penunjang Wisata
a. Pemandu wisata (Guide)
Peraturan Menparpostel RI: Seseorang yang bertugas memberikan
bimbingan, penjelasan dan petunjuk tentang obyek wisata serta
membantu keperluan wisatawan lainnya
(En 13809 of europen committee for standardisation (cen) adopted
by WFTGA at its dunblane scottland convention 2003) is a person who
guide visitor in the language of their choice and interprets the cultural
and natural heritage of an area which person normally possesses an
area-specific qualification usually issued and /or recognized by the
appropriate authority.
Pemandu wisata (Tour Guide) yaitu duta bangsa atau setidaknya
duta daerah tempat melakukan tugasnya. Semua yang diekspresikan
oleh pramuwisata dianggap oleh wisatawan sebagai cerminan karakter
warga setempat, demikian pula sesuatu yang disampaikan oleh
pramuwisata akan dipercaya oleh wisatawan sebagai pengetahuan yang
akan selalu diingat hingga kembali ke tempat asal.
Syarat untuk menjadi Pramuwisata:
• Sehat Jasmani dan Rohani
• Berpenampilan Menarik
• Mampu berkomunikasi dengan baik dan benar (Multi Language/
Bilingual)
• Menguasai pengetahuan mengenai objek dan daya tarik wisata
46
• Memiliki Wawasan yang cukup dibidang pariwisata (Lokal, Nasional)
• Harus Memiliki Sertifikat sebagai Guide yang terdaftar/ diakui.
Tugas Pramuwisata (Guide):
• Mengantar wisatawan (rombongan/ individu) yang mengadakan
perjalanan wisata
• Memberi penjelasan tentang rencana perjalanan dan objek wisata
serta dokumen perjalanan, akomodasi, transportasi, fasilitas
• Memberikan petunjuk tentang objek wisata
• Membantu menguruskan barang bawaan wisatawan
• Memberikan pertolongan kepada wisatawan yang sakit, kecelakaan,
kehilangan, mendapat musibah, dll
Kode etik Pramuwisata:
Kode etik Pramuwisata Indonesia ditetapkan melalui Keputusan
Musyawarah Nasional I Himpunan Pramuwisata Indonesia dengan
Keputusan Nomor 07/MUNAS.I/X/1988, meliputi hal-hal sebagai
berikut:
1. Pramuwisata harus mampu menciptakan kesan penilaian yang baik
atas daerah, negara bangsa, dan kebudayaan
2. Pramuwisata dalam menjalankan tugasnya harus mampu menguasai
diri, senang, segar, rapi, bersih serta berpenampilan yang simpatik
(menghindari bau badan, perhiasan, dan parfum yang berlebihan)
3. Pramuwisata harus mampu menciptakan suasana gembira dan sopan
menurut kepribadian Indonesia
4. Pramuwisata harus mampu memberikan pelayanan dan perlakuan
yang sama kepada wisatawan dengan tidak meminta tip, tidak
menjajakan barang dan tidak meminta komisi
5. Pramuwisata mampu memahami latar belakang asal usul wisatawan
serta mengupayakan untuk meyakinkan wisatawan agar mematuhi
hukum, peraturan, adat kebiasaan yang berlaku dan ikut melestarikan
objek
b. Pemandu wisata (Guide) Berdasarkan lingkup kerjanya:
• Transfer Guide: Transfer guide yaitu pramuwisata yang kegiatannya
47
menjemput wisatawan di bandara, pelabuhan laut, stasiun atau
terminal menuju ke hotel atau sebaliknya atau mengantar wisatawan
dari satu hotel ke hotel lainnya
• Local /Expert Guide: Local guide yaitu pramuwisata yang
kegiatannya khusus memandu wisatawan pada suatu objek atau
transaksi wisata tertentu, misalnya museum, wisata agro, river
rafting, goa, gedung bersejarah, dan lain-lain
• Walking Guide / Tour Guide: Walking guide yaitu pramuwisata
yang kegiatannya memandu wisatawan dalam suatu tour
• Driver Guide: Driver guide yaitu pengemudi yang sekaligus
berperan sebagai Pramuwisata. Ia bertugas mengantarkan wisatawan
ke objek atau atraksi wisata yang dikehendaki sekaligus memberikan
informasi yang diperlukan. Jadi, pada dasarnya driver guide
menjalankan dua fungsi, yakni sebagai pengemudi dan pramuwisata.
c. Pemandu / Guide berdasarkan status kerjanya:
• Payroll Guide: Pramuwisata yang berstatus sebagai pagawai tetap
perusahaan perjalanan
• Part Timer/Freelance Guide: Pramuwisata yang bekerja pada suatu
perusahaan perjalanan untuk kegiatan tertentu dan dibayar untuk tiap
pekerjaan yang dilakukan,
• Member of Guide Association: Pramuwisata yang berstatus sebagai
peserta dari suatu asosiasi pramuwisata dan melakukan kegiatannya
sesuai dengan tugas yang diberikan oleh asosiasi tersebut
• Government Officials: Pegawai pemerintah yang bertugas untuk
memberikan informasi kepada tamu tentang suatu aktivitas, objek,
gedung, atau suatu wilayah tertentu
• Company Guide: karyawan sebuah perusahaan yang bertugas
memberikan penjelasan kepada tamu tentang aktivitas atau objek
perusahaan.
d. Biro perjalanan wisata (Travel Agents)
Biro perjalanan yaitu kegiatan usaha yang bersifat komersial yang
mengatur, dan menyediakan pelayanan bagi seseorang, sekelompok
48
orang, untuk melakukan perjalanan dengan tujuan utama berwisata.
Ruang lingkupnya kegiatan usahanya yaitu :
• Membuat, menjual dan menyelenggarakan paket wisata.
• Mengurus jasa angkutan perorangan atau kelompok yang di urusnya.
• Melayani pemesanan akomodasi, restaurant dan sarana wisata
lainnya.
• Mengurus dokumen perjalanan
• Menyelenggarakan panduan perjalanan perjalanan wisata.
• Melayani penyelenggaraan konvensi, seminar, meeting, loka karya.
• MICE (Meeting Incentive Conference & Exibition)
e. Agen perjalanan wisata
Biro perjalanan yaitu kegiatan usaha perjalanan yang bertindak
sebagai perantara dalam menjual atau mengurus jasa untuk melakukan
perjalanan. Perwakilan yaitu Biro perjalanan umum, agen perjalanan,
badan usaha lainnya atau perorangan, yang di tunjuk oleh suatu
biro perjalanan umum yang berkedudukan di wilayah lain untuk
melakukan kegiatan yang diwakilkan, baik secara tetap maupun
sementara.
Biro Perjalanan Wisata (BPW) dan Asosiasi Perjalanan Wisata (APW)
berada dibawah naungan ASITA (Association of The Indonesian Tours
and Travel Agencies).
f. Tour operator
yaitu suatu perusahaan yang usaha kegiatannya merencanakan
dan menyelenggarakan perjalanan untuk tujuan pariwisata atas inisiatif
dan risiko sendiri dengan tujuan mengambil keuntungan dari kegiatan
tersebut.
g. Tour leader
Seseorang yang bertugas untuk memandu, mendampingi, memimpin,
mengayomi perjalanan wisata sebuah grup/sekelompok orang yang
melakukan perjalanan wisata dan membuat estimasi biaya perjalanan.
49
h. Telekomunikasi:
Informasi Teknologi (IT networking) tersedianya fasilitas komunikasi
yang canggih (CyberTechnology) sehingga memungkinkan wisatawan
masih dapat melakukan aktivitas pribadinya (bisnis, pendidikan, keluarga
dll.) melalui internet, gagnet: web, WA; Facebook, Instagram, Line dsb.
i. Money changer
yaitu merupakan salah satu fasilitas yang cukup penting bagi
wsatawan yang datang dari Negara lain yang memiliki dana / uang
pembayaran yang berbeda dan dapat ditukarkan melalui agent ini.
j. Souvenir shop
(toko cinderamata) merupakan usaha komersial yang sangat
mendukung keberadaan obyek wisata dengan menyediakan kebutuhan
barang bawaan (oleh-oleh) bagi wisatawan sebagai kenangan cinderamata
dari daerah yangtelah mereka datangi, berupa barang souvenir.
Souvenir yaitu berbagai macam barang produk kemasan yang dapat
dijual kepada wisatawan sebagai barang bawaan atau souvenir untuk
kenangan atau oleh-oleh bagi keluarga dan temannya yang dapat berupa
barang seni, ukiran, kain, selendang, baju, kaos, topi, magnet, yang
merupakan produk khas daerah.
k. Spa
seringkali dianggap sebagai tempat perawatan tubuh berupa pijat
atau massage. Padahal pengertian spa sebenarnya yaitu tempat dimana
orang dapat memperoleh perawatan badan, dari ujung rambut sampai
ujung kaki sekaligus mengembalikan kesegaran tubuh sesudah berada
di posisi yang menegangkan. Perawatan spa terdiri dari creambath,
facial, manicure-pedicure, lulur, scrub, foot spa, dan body treatment.
Aromatherapy -massage merupakan elemen penting dalam memberikan
relaksasi. Dengan menggunakan campuran minyak khusus yang juga
bermanfaat untuk refreshing, penghangatan, melegakan pernafasan dan
penenangan diri. Kini spa merupakan paket lengkap dari aroma dan
suasana yang menenangkan, pelayanan ramah serta pemandangan yang
menyejukan jiwa.
50
3.6. Prasarana wisata
Prasarana wisata yaitu sarana pendukung pariwisata yang secara
tidak langsung sangat dibutuhkan oleh wisatawan. Seperti tersedianya
pelabuhan udara, pelabuhan laut, terminal bus, Stasiun Kereta Api,
fasilitas jalan raya, tersedianya instalasi air dan lain-lain yang menunjang
sarana wisata yang dibutuhkan.
Prasarana pariwisata tersebut diatas secara langsung maupun tidak
langsung merupakan pendukung pemenuhan kebutuhan wisatawan
yang sangat utama dan harus dikelola dengan sebaik-baiknya dan secara
professional. Keberadaan sarana dan prasarana wisata tersebut sangat
menentukan dan berperan penting sebagai daya tarik utama wisatawan
untuk mau datang berkunjung kembali. Sehingga manakala sarana
prasarana tersebut kurang memadahi dapat menciptakan image negatif
yang merusak pencitraan dalam pemasaran selanjutnya.
Menurut Oka Yoeti dalam bukunya Pengantar Ilmu Pariwisata
mengatakan: “Prasarana kepariwisataan yaitu semua fasilitas yang
memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang
sehingga dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan
wisatawan yang beraneka ragam”. Maksudnya yaitu agar suatu obyek
wisata dapat dijadikan sebagai salah satu obyek wisata yang menarik,
maka faktor yang sangat menunjang yaitu kelengkapan dari sarana
dan prasarana obyek wisata tersebut. Karena sarana dan prasarana juga
sangat diperlukan untuk mendukung dari pengembangan obyek wisata.
(Yoeti,1985)[11],
Prasarana tersebut antara lain:
a. Perhubungan: jalan raya, rel kereta api, pelabuhan udara dan laut,
terminal.
b. Instalasi pembangkit listrik untuk penerangan dan kebutuhan
teknologi lain dan instalasi air bersih, yang sangat dibutuhkan
wisatawan.
c. Alat komunikasi dan Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf,
radio, televisi, kantor pos, Wifi, Video, dan IT networking.
d. Pelayanan kesehatan baik itu Klinik, puskesmas, rumah sakit IGD,
Laboratorium dsb.
51
e. Pelayanan keamanan baik itu pos satpam penjaga obyek wisata
maupun pos-pos polisi (polisi pariwisata) untuk menjaga keamanan
di sekitar obyek wisata.
f. Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat informasi ataupun kantor
pemandu wisata.
g. Pom bensin dan lain-lain.
3.7. Bentuk Pariwisata
Di dalam pertumbuhan dan perkembangan industri pariwisata ini
dapat diklasifikasikan bentuknya ke dalam beberapa kategori berikut ini:
1. Menurut asal wisatawan
Dilihat dari asal wisatawan, apakah asal wisata itu dari dalam
atau luar negeri. Jika dalam negara berarti bahwa sang wisatawan
ini hanya pindah tempat sementara di dalam lingkungan wilayah
negerinya (pariwisata domestik), sedangkan jika ia datang dari luar
negeri dinamakan pariwisata Internasional.
2. Akibatnya terhadap neraca pembayaran yaitu menghasilkan
devisa. Kedatangan wisatawan dari luar negeri yaitu membawa
mata uang asing, dan pemasukan valuta asing itu berarti memberi
efek positif terhadap neraca pembayaran luar negeri, type pariwisata
yang dikunjungi wisatawan ini disebut pariwisata aktif. Sedangkan
kepergian seorang warga negara keluar negeri memberikan efek
negatif terhadap neraca pembayaran luar negeri negaranya ini
dinamakan pariwisata pasif. (Orang Indonesia yang berwisata belanja
ke Singapore).
3. Menurut jangka waktu, kedatangan seorang wisatawan di suatu tempat
atau negara diperhitungkan pula menurut waktu lamanya ia tinggal
di tempat atau negara yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan
istilah-istilah pariwisata jangka pendek dan jangka panjang, yang
mana tergantung kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku oleh
suatu negara untuk mengukur pendek atau panjangnya waktu yang
dimaksud.
4. Menurut jumlah wisatawan
Perbedaan ini diperhitungkan atas jumlahnya wisatawan yang datang,
apakah sang wisatawan datang sendiri atau dalam suatu rombongan.
52
Maka timbullah istilah pariwisata tunggal dan rombongan.
5. Menurut alat angkut yang dipergunakan
Dilihat dari segi penggunaan alat pengangkutan yang dipergunakan
oleh sang wisatawan, maka katagori ini dapat dibagi menjadi
pariwisata udara, pariwisata laut, pariwisata kereta api dan pariwisata
mobil, tergantung apakah sang wisatawan tiba dengan pesawat udara,
kapal laut, kereta api atau mobil.
Sedangkan menurut lokasi kawasan obyek wisata bisa bervariasi
seperti: pedesaan (village/ Resort Tourism); Mountain Tourism; Geopark/
wisata Gua (Cave Tourism); dan kawasan sungai, danau, dan pantai
(Marine Tourim).
Di kawasan pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta di
kabupaten Kulon progo, Bantul dan Gunung kidul merupakan
jalur wisata pantai yang terintegrasi dan terhubung dengan sarana
jalan lalulintas darat yang dapat menghubungkan kawasan satu
dengan lainnya dari wilayah Kabupaten yang berbeda, sehingga
PAD nya pun terserap di wilayahnya masing-masing. Bahkan
program pemerintah DIY kedepan sesudah selesainya bandara udara
internasional rencananya juga akan dibangun pelabuhan laut di
Kulon progo, sehingga kapal-kapal pesiar yang besar dapat berlabuh
disana. Kapal pesiar (cruise line) yang minimal mengangkut
2.500 orang sampai 5.000 orang passangers ini menjadi peluang
meningkatnya wisatawan di Yogyakarta.
53
BAB IV
PROSPEK PENGEMBANGAN PARIWISATA
Negara Indonesia satu-satunya destinasi pariwisata dunia yang banyak
memiliki banyak keunggulan, dari berbagai jenis obyek wisata alam
yang beragam (Pantai, Gunung, Lembah, Goa, Hutan, Sungai, Danau
dll) juga dari atraksi wisata budaya, adat istiadat serta heritage (Candi-
candi, Bangunan kuno, Keraton) serta atraksi wisata buatan manusianya
dari Sabang sampai Merauke di Irian Jaya.
4.1. Prospek dan tantangan pariwisata abad 21:
• Para pakar pariwisata Indonesia meramalkan bahwa Indonesia
mempunyai peluang menjadi pusat ekonomi Asia Pasifik pada abad
21.
• Meningkatnya perbaikan pertambahan sarana dan prasarana yang
menunjang perkembangan dan pertumbuhan industry pariwisata di
Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik beberapa kali ipat dari
tahun ke tahun.
• Peningkatan mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lain
didalam negeri maupun antar Negara di Asia Pasifik yang cukup
tinggi.
• Kemajuan teknologi komunikasi (cyber technology) dan penyebaran
informasi yang sangat pesat melalui internet serta media komunikasi
lainnya.
• Pertambahan /pengembangan teknoogi informasi dan komunikasi
yang luar biasa pesatnya telah merangsang pertumbuhan industry
pariwisata, event dan MICE secara cepat pula. Demikian pula
penyebaran ilmu melalui seminar, konggres, konferensi, dan pameran
produk baru, serta persaingan yang sangat ketat ikut memacu industry
ini menjadi tak terbendung.
• Dalam putaran Uruguay telah disepakati agar semua jenis jasa dibuka
bagi perdagangan dunia dengan tingkat liberalisasi 100% berdasarkan
empat prinsip yaitu:
a). Cross border supply yang berarti pemasok jasa asing bebas menjual
jasanya di Negara tuan rumah (host country).
54
b). Consumption abroad, yang berarti pemakaian jasa di Negara Tuan
rumah bebas membeli jasa dari pemasok jasa asing.
c). Commercial presence; yang berarti pemasok jasa asing bebas untuk
membuat atau mendirikan Kantor seperti cabang dan sebagainya
di Negara Tuan rumah.
d). Presence of natural person, yang berarti pemasok jasa asing bebas
untuk mengirimkan tenaga kerjanya untuk bekerja dinegara tuan
rumah.
Inilah kenyataan yang dapat diprediksi akan terjadi di Abad 21 ini,
untuk itu industry pariwisata Indonesia mau tidak mau harus bersiap diri
mengikuti arus yang besar ini. Kesiapan menentukan apakah mampu
ikut melaju atau sebaliknya, bahkan tenggelam di samudera. (Dedy
Wijayanto,2012)[25].
4.2. Analisis Perkembangan Pariwisata
Perkembangan pariwisata ada beberapa isu pariwisata internasional
yang diperkirakan cukup mempengaruhi industri kepariwisataan dunia
antara lain:
• Keamanan dunia, Terorisme, dan Hak Asasi Manusia,
• Pergeseran kecenderungan dari Pariwisata Masal menuju Pariwisata
Minat Khusus (Special Interest Tourism),
• Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism
Development),
• Pembangunan yang memberdayakan dan melibatkan warga
(Community Based Development),
• Revolusi Teknologi Informasi,
• Semakin terbukanya Pergerakan dan Perjalanan manusia Lintas Batas
Negara dan Wilayah (Borderless Tourism),
• Perlindungan konsumen yang semakin ketat (Consumer Right),
• Era Perdagangan Bebas dan Liberalisasi Industri,
• Serangan Amerika Serikat terhadap Irak.
Analisis perkembangan pariwisata dalam posisi kepariwisataan
Indonesia pada peta persaingan pasar global telah menjadi semakin
berat karena beberapa tekanan yang terjadi karena beberapa aspek
55
kehidupan politik dengan banyaknya partai yang belum tenang, bencana
alam gunung berapi, kabut asap, banjir, transportasi udara yang terlalu
padat sehingga sering terjadi delay, dan transportasi darat KA, Bus
dan lainnya tidak seimbang dengan kebutuhan jumlah pengguna jasa,
terjadi kemacetan di kota-kota besar, pembangunan infrastruktur dan
ekonomi yang kompetitif, dan kehidupan budaya yang mulai berubah
kurang memperhatikan asset local wisdom (kearifan lokalnya). Dalam
persaingan global yang harus diperhatikan antara lain:
Keamanan nasional; Pemulihan krisis ekonomi; Tingginya
euphoria proses otonomi daerah; banyaknya pengangguran; kurang
sinergisnya program-program pemasaran pariwisata Indonesia, jaringan
IT networking; program prioritas pembangunan pariwisata perlu
ditingkatkan pada posisi utama, selama ini masih pada posisi keempat.
Beberapa permasalahan dampak yang ditimbulkan dari ketidak
seimbangan pembangunan di sektor pariwisata Indonesia yaitu :
• Pembangunan pariwisata yang tidak merata, khususnya di kawasan
timur Indonesia, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan
Indonesia timur dari sektor pariwisata masih rendah.
• Indonesia hanya bertumpu pada satu pintu gerbang utama, yaitu Bali.
• Lemahnya perencanaan pariwisata di kawasan timur Indonesia dan
kurang dimanfaatkan potensi pariwisata di kawasan tersebut secara
optimal.
• Rendahnya fasilitas penunjang pariwisata yang terbangun.
• Terbatasnya sarana transportasi, termasuk hubungan jalur transportasi
yang terbatas.
Permasalahan yang tersebut diatas semuanya bermuara pada
pendanaan, sehingga pengembangannya jauh dari apa yang diharapkan,
demikian juga dari dukungan partisipasi (supporting value) dari para
pemerhati pariwisatanya juga banyak berbeda, baik dari faktor SDM
pengelolanya (human capital). Dengan demikian aspek otonomi daerah
tersebut menekankan pada peran stakeholder pariwisata daerah dalam
menentukan bagi kelanjutan pengembangan pariwisata daerah yang ada
membutuhkan: kreativitas, inovatif, semangat dan kerjasama (team work)
56
untuk membangun asset pariwisata demi peningkatan kesejahteraan
ekonomi warga secara luas.
4.3. Bagaimana memaknai Pariwisata
a). Pariwisata yaitu faktor penting untuk menggalang persatuan bangsa
yang rakyatnya memiliki perbedaan, adat istiadat, dan cita rasa yang
beragam.
b). Pariwisata menjadi faktor penting dalam pengembangan ekonomi
karena kegiatannya mendorong perkembangan beberapa sektor
ekonomi nasional.
c). Pariwisata Internasional sangat berguna sebagai alat perdamaian
dalam ketegangan-ketegangan politik antar bangsa dan negara.
d). Pariwisata juga berperan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman,
sebagai ajang reset penelitian dari seluruh warga akademisi di
dunia.
e). Pariwisata juga sebagai ajang berbisnis melalui event-event MICE
yang saat ini sedang marak dalam scope internasional.
f). Pariwisata sebagai ajang berbagai pertandingan olah raga, peningkatan
sportivitas, kerjasama team, loyalitas kebangsaan antar Negara dan
bangsa ( Sea Games, world cup, Olympiade)
g). Pariwisata juga sebagai alat untuk menjaga kesehatan, menghilangkan
stress, relaxasi, refreshing menumbuhkan semangat jiwa yang baru,
pergantian suasana tempat dan iklim serta menjauhkan diri dari
segala rutinitas sehari-hari dapat menurunkan ketegangan syaraf.
h). Pariwisata meperkenalkan berbagai budaya tradisional yang sangat
beragam sehingga dapat dipergunakan sebagai ajang berkolaborasi
yang positif, sehingga tercipta nilai-nilai seni budaya yang lebih
berkualitas.
i). Dengan pariwisata menciptakan perubahan sikap dan perilaku serta
karakter dari berbagai pengalaman melihat dan mengikuti acara-
acara adat budaya dan keagamaan daerah yang memiliki nilai filosofis
yang tinggi. Sehingga dapat terjadi dari sebagian wisatawan asing
yang sesudah kembali ke daerah atau Negara asalnya sikap perilaku,
pola pikir, pandangan berubah menjadi lebih baik. Sebagai contoh
wisatawan asing yang awalnya tidak percaya adanya Tuhan sesudah
lama berada di Pulau Bali dan banyak melihat berbagai acara adat
57
penduduk melakukan sesaji setiap saat akhirnya sadar adanya Tuhan.
j). Banyak wisatawan akhir-akhir ini yang melakukan wisata minat
khusus senang untuk menikmati keindahan alam (Back to Nature),
hal ini merupakan peluang positif bagi pariwisata Indonesia yang
kaya obyek wisata alamnya.
Pariwisata yang sekarang ini berkembang sangat signifikan yaitu
pariwisata minat khusus, yaitu mengunjungi obyek-obyek wisata alam
(back to nature) yang banyak tersebar di kepulauan nusantara. Akhir-
akhir ini di Daerah Istimewa Yogyakarta kawasan pantai selatan menjadi
idola wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia juga wisatawan
asing dari keindahan pantainya. Sebagai contoh Back to Nature yaitu
istilah pariwisata yang sangat familiar dikalangan turis asing (wisman)
yang berkunjung ke Indonesia. Karena mereka sangat tertarik dengan
berbagai ragam keindahan alam (nature) Indonesia yang tidak dimiliki
dinegara mereka sendiri. Salah satu obyek wisata alam (nature tourism)
yaitu Gunung api purba Nglanggeran dan Embung Nglanggeran yang
merupakan salah satu destinasi ekowisata kabupaten Gunung kidul
Yogyakarta yang sangat potential sebagai ekowisata minat khusus.
Apabila ditinjau dari kondisi alam, jenis batuan dan arsitektur wisata
alamnya yang sangat indah dan langka didunia ini menjadi sangat layak
menjadi incaran dunia. Namun demikian kenyataannya pengelolaan
obyek ekowisata gunung api purba nglanggeran yang ada dikabupaten
Gunungkidul ini masih dominan dikembangkan dan dikelola secara
konvensional oleh warga setempat. Dampaknya pengelolaan dan
pengembangannya masih belum optimal. Keberadaan obyek wisata
Gunung api purba nglanggeran ini didukung oleh obyek wisata embung
Nglanggeran yang saling terintegrasi menjadi satu paket wisata alam.
Gunung api purba Nglanggeran pernah aktif 30-60 juta tahun yang
terletak didesa ngalanggeran Kecamatan Patuk Desa Nglanggeran
kabupaten Gungkidul dengan ketinggian atara 200 – 700 dengan suhu
udara rata-rata 23C – 27C. jarak tempuh 20 km dari kota Wonosari atau
25 km dari kota Yogyakarta.
Menurut pengelolanya warga lokal ada beberapa keunikan
yang ada di kawasan ekowisata Gunung Purba Nglanggeran antara lain:
58
Tanaman pohon Termas yang hidup menempel di lereng gunung yang
diyakini warga mampu menyembuhkan penyakit melalui getahnya.
Tanaman ini berbentuk menjalar dan hanya juru kunci yang dapat
mengambil getah ini agar dapat digunakan sebagai obat untuk segala
macam penyakit diantaranya: Lever, Stroke, Ambeien, Batu Ginjal,
Paru-paru dan lumpuh.
Menurut salah seorang pengelola obyek wisata Nglanggeran ini Aris
Budiyono bahwa di nglanggeran ada keunikan yang lain yaitu sebuah
kawasan dipuncak gunung yang hanya boleh dihuni hanya 7 buah kepala
keluarga (mpu Pitu) merupakan kepercayaan turun temurun yang harus
ditaati sampai sekarang. Sesuai dari pesan leluhur sesepuh pepunden
dari dusun Tlogo yaitu Eyang Iro Dikromo, bagi mereka yang melanggar
akan mendapatkan sangsinya kemudian. Sehingga sampai sekarang ini
ketentuan tersebut masih menjadi aturan adat setempat dan dipatuhi oleh
warga dari generasi ke generasi berikutnya., merupakan sebuah
kulturalisasi yang spesifik dari suatu daerah yang memiliki otoritas
tersendiri.
Destinasi ini merupakan wisata minat khusus yang diminati oleh
wisatawan yang menyenangi kegiatan hobi naik gunung atau suka
berpetualangan, sehingga kebanyakan yang menyenangi obyek wisata
ini para remaja, namun demikian banyak juga peneliti yang melakukan
reset ilmiah tentang batu batuan melakukan kegiatan disini.
59
Gambar 12: Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran
Kabupaten Gunung Kidul.
Pemandangan Gunung api purba dan Embung nglanggeran dilihat
dari udara sangat indah apalagi manakala dilakukan pada sore hari
menjelang matahari tenggelam (sunset), menciptakan paduan alam dan
rona pelangi yang luar biasa indahnya. Embung nglanggeran merupakan
obyek wisata buatan yang berupa embung yang artinya reservoir atau
penampungan air yang sangat besar seperti danau yang berada di puncak
bukit yang memiliki mata air dan dipergunakan untuk menampung
air hujan dan dimanfaatkan mengaliri sawah dan kebun yang sengaja
dibangun sebagai obyek wisata kebun buah nantinya.
Desa Nglanggeran di Yogyakarta pada awal tahun ini 2017 meraih
ASEAN Community Based Tourism Award. Penghargaan ini tidak
lepas dari keberhasilan Ngglanggeran membangun destinasi pariwisata
yang berkelanjutan. Pengelolaan yang mengikutsertakan warga .
Konsep ekonomi pariwisata yang kontribusinya sejalan terhadap
peningkatan kesejahteraan warga . Ngganggeran sendiri juga sukses
menyelaraskan sektor pariwisata dan konservasi lingkungan.
4.4. Aspek Pengembangan Pariwisata
Pengembangan suatu destinasi pariwisata harus memenuhi tiga
kriteria agar obyek destinasi wisata tersebut dapat diminati pengunjung,
yaitu:
1. Something to see yaitu obyek wisata tersebut harus mempunyai
60
sesuatu yang bisa di lihat atau di jadikan tontonan oleh pengunjung
wisata. Dengan kata lain obyek tersebut harus mempunyai daya tarik
khusus yang mampu untuk menyedot minat dayatarik dari wisatawan
untuk berkunjung di obyek tersebut.
2. Something to do yaitu agar wisatawan yang melakukan pariwisata
di sana bisa melakukan sesuatu yang berguna atau bermanfaat
untuk memberikan perasaan senang, bahagia, relax yang berupa
fasilitas-fasilitas rekreasi baik itu arena beraktivitas bermain ataupun
tersedianya berbagai tempat makan, terutama makanan khas local
dari tempat tersebut sehingga mampu memberikan pengalaman baru
serta membuat wisatawan lebih betah untuk tinggal.
3. Something to buy yaitu fasilitas untuk wisatawan dapat berbelanja
yang berupa souvenir, produk kemasan yang pada umumnya yaitu
merupakan ciri khas atau icon dari daerah tersebut, sehingga bisa
dijadikan sebagai oleh-oleh. (Yoeti,1985)[11].
Dalam pengembangan pariwisata perlu ditingkatkan langkah-langkah
yang terarah dan terpadu terutama mengenai pendidikan tenaga-
tenaga kerja dan perencanaan pengembangan fisik. Kedua hal tersebut
hendaknya saling terkait sehingga pengembangan tersebut menjadi
realistis dan proporsional.
Nyoman S. Pendit dalam bukunya “ Ilmu Pariwisata” mendefiniskan
daya tarik wisata sebagai segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk
dikunjungi dan dilihat. (Pendit,1994)[26].
Dari beberapa pembahasan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa Daya tarik wisata yaitu segala sesuatu yang mempunyai daya
tarik, keunikan dan nilai yang tinggi, yang menjadi tujuan wisatawan
datang ke suatu daerah tertentu. Daya Tarik Wisata yaitu segala sesuatu
yang menjadi tujuan kunjungan wisatawan Daya Tarik Wisata yaitu sifat
yang dimiliki oleh suatu obyek berupa keunikan, keaslian, kelangkaan,
lain dari pada yang lain memiliki sifat yang menumbuhkan semangat
dan nilai bagi wisatawan”. Daya tarik wisata yaitu suatu bentukan dan
fasilitas yang berhubungan, yang dapat menarik minat wisatawan atau
pengunjung untuk datang ke suatu daerah atau tempat tertentu.
Dengan demikian pengembangan daya tarik destinasi Pariwisata
61
sepenuhnya terbentuk awalnya adanya otoritas regional yang memiliki
ide kreatif, dengan pengelolaan manajemen destinasi alam, lingkungan
dan budaya, support dan dukungan aktif dari komunitas warga lokal
beserta industri perusahaan yang terkait langsung dan terakhir respon
positif wisatawan yang datang terus menerus menjadi pelanggan loyal
sangat menentukan keberadan destinasi yang bersangkutan. Pariwisata
lebih cepat berkembang apabila ketiga komponen pemerhati pariwisata
(stakeholder) yang ada (warga , pemerintah dan peran swasta) saling
dapat bekerjasama dan mendukung konsep dan program pengembangan
pariwisata yang berkesinambungan (sustainable tourism). Melalui
program Forum Group Discussion (FGD) yang terstruktur dan inovatif
serta kesadaran masing-masing khususnya warga sebagai pengelola
proses pengembangan pariwisata dapat berjalan dengan baik, karena
adanya saling kontrol dalam pelaksanaannya.
Gambar 13: Air Terjun Sri Gethuk di Kabupaten Gunung Kidul
Pemandangan Obyek wisata alam Sri Getuk ini lokasinya di kabupaten
Gunung Kidul Yogyakarta yang saat ini sedang trend dan sangat
diminati oleh wisatawan baik domestic maupun asing, selalu penuh
pengunjung apalagi saat liburan, namun kendalanya faktor jalan menuju
lokasi aksesibilitas nya masih belum tertata dan belum memiliki sarana
transportasi yang memadahi. Sebagai contoh wisatawan rombongan
yang datang dengan bus yang besar harus berhenti parkir jauh dengan
lokasinya. Sehingga untuk menuju kawasan yang dituju harus pindah
dengan alat angkut kendaraan yang lebih kecil. Namun kendalanya alat
angkut yang dipergunakan sangat tidak memadahi, menggunakan mobil
truk bukaan seperti yang biasa dipergunakan untuk pengangkut kambing
62
atau sapi, dan kurang terjamin keselamatannya. Sedangkan potensi
alam yang unik, spesifik dan menarik tersebut dapat menarik banyak
wisatawan yang datang setiap harinya, sehingga perlu mendapatkan
perhatian dari pemerintah untuk dikembangkan lebih baik sarana dan
prasarananya.
4.5. Organisasi industri pariwisata
Pada dasarnya suatu Negara dalam mengembangkan pariwisatanya
memerlukan organisasi atau wadah yang berfungsi dapat membina
kepariwisataan lebih baik, secara nasional, regional maupun internasional.
Dalam bentuk organisasi dari pemerintah daerah, atau dapat dari semi
pemerintah atau pihak swasta bukan pemerintah. Dalam pembentukan
organisasi kepariwisataan ini dibutuhkan suatu kebijakan atau aturan
yang menjadi dasar hukum sebagai aspek legalitas, sehingga dapat diakui
secara nasional dan dapat melakukan kegiatan kerjasama secara nasional
maupun internasional.
Dalam organisasi yang bersifat internasional diharapkan adanya
kerjasama antar Negara sehingga dapat memahami kepentingan dari
masing-masing pihak terutama dalam bidang kepariwisataan. Untuk
itu setiap organisasi diharapkan dapat meningkatkan kegiatan-kegiatan
yang bersifat regional, nasional atau scope internasional seperti berikut:
1). Organisasi Pariwisata Pemerintah (Nasional )
Perubahan nama dan lingkup kegiatan lembaga:
a. Tahun 1975 masalah pariwisata berada di bawah Departemen
Perhubungan.
b. Tahun 1984 Kepariwisataan Indonesia di bawah Departemen
Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi sejak awal pelita IV dengan
Kabinet Pembangunan IV.
c. Departemen pariwisata, Pos dan Telekomunikasi berubah menjadi
Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya pada masa pemerintahan
BJ. Habibie.
d. Tahun 1999 di bawah koordinasikan Departemen Pariwisata dan
Kesenian.
e. Kepariwisataan pada Kabinet Gotong Royong dipimpin oleh
Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya.
63
2). Organisasi Pariwisata Pemerintah (Regional) Asean Tourism Forum
(ATF)
3). Organisasi Pariwisata Pemerintah (Internasional)
4). United Nation – World Tourism Organization (UN-WTO)
Tujuan dibentuknya UN-WTO yaitu untuk mempromosikan dan
mengembangkan pariwisata agar memberi andil bagi pembangunan
ekonomi, saling pengertian internasional, perdamaian, kesejahteraan dan
saling menghormati, berdasarkan hak-hak azazi dan kemerdekaan bagi
semua, tanpa membedakan ras, jender, bahasa dan / atau agama.
Sesuai dengan sifat status keanggotaanya dibedakan menjadi 5
kategori antara lain:
• Anggota Penuh (Full Members)
• Anggota Sekutu (Associate members)
• Anggota Afiliasi (Affiliate Members)
• Organisasi Pariwisata Swasta (Nationality)
a. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)
b. Association of the Indonesia Tours & Travel Agencies (ASITA)
c. Indonesia Housekeeper Association (IHKA)
d. Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI)
5) Organisasi Pariwisata Swasta (Internasional)
a. Internasional Hotel & Restoran Association (IHRA)
IHRA merupakan perubahan dari Internasional Hotel Association
yang didirikan pada tahun 1947. IHRA yaitu suatu organisasi
swasta yang non profit dan merupakan satu-satunya organisasi
internasional yang secara khusus mengabdikan diri dalam
mempromosikan dan memperjuangkan kepentingan hotel dan
restoran di seluruh dunia.
b. Pasific Asia Travel Association (PATA)
PATA secara hukum berkedudukan di Honolulu, Hawai,
merupakan organisasi pariwisata swasta internasional yang
didirikan terutama untuk mempromosikan kawasan Asia Pasifik
sebagai tujuan wisata mancanegara.
c. International Air Transport Association (IATA)
64
yaitu asosiasi transportasi udara yang bertujuan memajukan
pertumbuhan pengangkutan udara yang teratur, ekonomis dengan
pelayanan rute-rute internasional yang baik. IATA dibentuk pada
tahun 1945 dan berpusat di Canada.
4.6. Bentuk-bentuk Pariwisata
Pariwisata sebagai suatu gejala yang terwujud dalam beberapa bentuk
yang antara lain berkaitan dengan beberapa kriteria sebagai berikut:
a). Menurut jumlah orang yang bepergian:
• Pariwisata Individu yakni kegiatan berwisata yang dilakukan oleh
hanya seorang atau satu keluarga yang bepergian untuk menikmati
acara liburan ke tempat wisata yang diinginkan, sesuai seleranya
dengan tidak menetap. Biasanya dilakukan pada saat liburan atau
ada acara tertentu yang tidak melibatkan kelompok lain.
• Pariwisata Rombongan yakni sekolompok orang, atau rombongan
orang banyak yang biasanya terikat oleh hubungan-hubungan
tertentu (perusahaan, komunitas warga , bisnis dsb) kemudian
melakukan perjalanan wisata bersama-sama atau paket tour
yang diorganisasi oleh suatu usaha perjalanan (travel agent) dan
biasanya didampingi oleh seorang tour leader sebagai pemimpin
perjalanan dan pramu wisata sebagai Guide selama perjalanan.
b). Menurut maksud bepergian:
• Pariwisata Rekreasi / Pariwisata Santai, yang maksud kepergian
ini yaitu untuk memulihkan kemampuan fisik dan mental
setiap peserta wisata dan memberikan kesempatan rileks dari
efek kebosanan dan keletihan kerja, sehingga perlu difasilitasi
dengan sarana prasarana tertentu yang sesuai dengan kebutuhan
wisatawan.
• Pariwisata Budaya, maksudnya untuk memperkaya informasi dan
pengetahuan tentang budaya dari negara lain dan untuk tujuan
kepuasan menikmati kebutuhan hiburan. Dalam hal ini termasuk
pula kunjungan ke berbagai kegiatan pameran-pameran dan fair,
atau dapat juga perayaan-perayaan adat, tempat-tempat cagar
alam, atau cagar purbakala dan lain-lainnya.
• Pariwisata Pulih Sehat, suatu kegiatan wisata yang membutuhkan
65
kebutuhan perawatan medis dengan fasilitas penyembuhan.
Misalnya; sumber air panas, tempat kubangan lumpur yang
berkhasiat, perawatan dengan air mineral yang berkhasiat
penyembuhan secara khusus, perawatan dengan pasir hangat, dan
lain-lainnya. Pariwisata ini memerlukan persyaratan-persyaratan
tertentu seperti misalnya penanganan kebersihan, ketenangan, dan
perbedaan pendekatan pada status dan taraf hidup yang pantas
untuk mereka memiliki yang hidup eksklusif.
• Pariwisata Sport, yaitu kegiatan wisata yang bertujuan untuk
memuaskan berbagai hobi olahraga wisatawan seperti misalnya
memancing, berburu binatang liar, menyelam (diving), snorkling,
bermain ski, dan mendaki gunung (mountain climbing). Dengan
demikian membutuhkan sarana dan prasarana yang spesifik dan
memadahi.
• Pariwisata Temu wicara yaitu kegiatan pariwisata konvensi yang
mencakup pertemuan-pertemuan ilmiah, profesi, dan bahkan
politik. Pariwisata jenis ini memerlukan tersedianya fasilitas
pertemuan di negara tujuan dan faktor-faktor lain yang penting
seperti letak yang strategis, tersedianya transportasi yang mudah,
iklim yang cerah, dan lain sebagainya. Seseorang yang berperan
serta dalam konferensi itu dapat meminta fasilitas wisata yang lain
seperti kegiatan city tour dalam dan luar kota, serta shopping ke
tempat-tempat belanja untuk memberi cinderamata. Pariwisata
jenis inilah yang saat ini menjadi sasaran para pengusaha
hotel untuk membangun usaha hotel convention yang lebih
menguntungkan.
c). Menurut lokasi dan alat transportasi:
• Pariwisata Darat (Bus, Taxi, Rental Mobil, Kereta Api)
• Pariwisata Tirta (Kapal laut, Kapal Ferry, Cruise, Boat)
• Pariwisata Dirgantara (Aero Modelling, Terbang layang, Layang
gantung, Paraceling).
d). Menurut letak geografis:
a. Pariwisata Domestik, yang menunjukkan arus wisata yang
dilakukan oleh warga dan penduduk asing yang bertugas di sana,
yang terbatas dalam suatu negara tertentu.
66
b. Pariwisata regional, yakni kepergian wisatawan terbatas pada
beberapa negara yang membentuk suatu kawasan pariwisata,
misalnya perjalanan wisata di negara-negara Eropa Barat.
c. Pariwisata Internasional, yang meliputi gerak wisatawan dari satu
negara ke negara lain di dunia.
e). Menurut umur (untuk membedakan kebutuhan dan kebiasaan):
• Pariwisata Remaja. Terdiri dari para remaja SD, SMP, SMA
sederajat.
• Pariwisata Dewasa. Terdiri dari mereka yang sudah dewasa baik
phisik maupun mentalnya mampu beraviliasi dengan lingkungan
yang baik.
f). Menurut jenis kelamin:
• Pariwisata Pria. dan
• Pariwisata Wanita.
g). Menurut tingkat harga dan tingkat level sosialnya:
• Pariwisata pada level atas (Exclusive)
• Pariwisata pada level Menengah. (Middle level)
• Pariwisata pada level bawah. (Common/ Standard level)
Fenomena implikasi pertumbuhan wisata dari dampak pengembangan
kawasan sehingga daya tarik wisata yang semakin punah. Sebagai
contoh obyek wisata langka Gumuk Pasir di pantai Parangtritis ini
yaitu sebuah fenomena alam yang langka dan satu-satunya yang ada
di Asia Tenggara. Gumuk pasir ini berupa bukit-bukit atau gundukan
pasir seperti padang gurun yang terdapat di Timur Tengah. Pasir-pasir ini
merupakan hasil aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan Merbabu yang
terbawa oleh arus Kali Opak dan Kali Progo. Pada awalnya, warga
sekitar tidak melihat suatu hal yang unik dari tempat ini. Namun sesudah
diadakan berbagai penelitian, barulah warga sadar bahwa di tempat
mereka tinggal ada salah satu warisan dunia. Pertumbuhan bangunan
dan penggunaan kawasan pantai sehingga mengurangi luas area
kawasan gumuk pasir ini berpengaruh negative terhadap keberadaan
ekowisata langka di dunia ini. Pemerintah daerah Bantul sudah melarang
pembangunan kawasan di sekitar kawasan gumuk pasir ini, namun
67
karena pertumbuhan populasi warga yang sangat signifikan, serta
adanya pemanfaatan kepentingan tertentu dari sebagian warga yang
bermasalah (premanisme) dan susah diatur sehingga larangan tersebut
sulit ditanggulangi. Akibatnya lahan kawasan untuk terjadinya gumuk
pasir menyempit tinggal beberapa puluh hektar, atraksi alam gumuk
pasir ini menjadi terhambat.
Gambar 14: Gumuk Pasir Parangtritis
Obyekwisata alam yang langka ini ada di kawasan pantai Parngtritis
kabupaten Bantul yang luasnya hampir 200 Ha namun sekarang hanya
tertinggal sekitar 20 Ha saja, karena sudah banyak digunakan sebagai
lahan pemukiman penduduk dan bangunan tertentu sehingga terciptanya
gumuk pasir akibat perputaran angin bolak balik ini menjadi tidak
optimal seperti yang sebelumnya bahkan sudah tidak terjadi lagi hal ini
sangat disayangkan karena satu-satunya di dunia keberadaannya.
Obyek wisata langka ini hanya ada di kabupaten Bantul Yogyakarta.
Memiliki daya tarik dari keajaiban alam, dimana arah angin yang berputar
dan sering berbalik arah mengakibatkan gurun pasir yang luas di Bantul
terbentuk seperti pada gambar. Namun sekarang ini sudah tidak dapat
terbentuk keunikannya, karena pertumbuhan lingkungan yang kurang
tepat, banyaknya rumah penduduk yang menganggu kawasan yang tidak
mampu lagi memproduksi pusaran angin yang dapat menbentuk gumuk
pasir tersebut.
68
Destinasi wisata langka yang lain seperti obyek wisata sejarah yang
berupa candi-candi yang banyak didapatkan di kawasan pulau jawa ini
memiliki spesifikasi yang berbeda dengan wisata lainnya. Wisatawan
yang berkunjung disini merupakan jenis wisatawan yang memiliki
minat khusus, ingin mempelajari situs-situs candi kuno, sejarah proses
berdirinya candi, arsitektur bangunannya, dan hal-hal mistis lainnya
yang setiap pengunjung memiliki maksud dan pemahaman yang berbeda.
Gambar 15: Candi Plaosan Klaten Yogyakarta
Salah satu candi Budha kembar utama Plaosan Lor, di Kecamatan
Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dari dinasti Sailendra abad
ke-9 zaman Kerajaan Mataram Kuno. Kompleks Candi Plaosan
Lor memiliki dua candi utama. Candi yang terletak di sebelah kiri
(di sebelah utara) dinamakan Candi Induk Utara dengan relief yang
menggambarkan tokoh-tokoh wanita, dan candi yang terletak di
sebelah kanan (selatan) dinamakan Candi Induk Selatan dengan relief
menggambarkan tokoh-tokoh laki-laki. Di bagian utara kompleks
terdapat masih selasar terbuka dengan beberapa arca buddhis. Kedua
candi induk ini dikelilingi oleh 116 stupa perwara serta 50 buah candi
perwara, juga parit buatan. Pada masing-masing candi induk terdapat
6 patung/arca Dhyani Boddhisatwa. Walaupun candi ini yaitu candi
Buddha, tetapi gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara agama
Buddha dan Hindu.( https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Plaosan)[27].
69
Gambar 16: Candi Prambanan Yogyakarta.
Gambar 17: Candi Borobudur di Magelang
Aset langka yang bersejarah Candi Borobudur ini perlu pengelolaan
yang serius, untuk menjaga kerusakan situs purbakala ini dari jamahan
wisatawan yang kurang memahami nilai-nilai tinggi asset kepurbakalaan
bangsa Indonesia ini.
Candi Prambanan yang merupakan candi Hidhu asli yang
arsitekturnya hampir sama dengan candi Plaosan dan memiliki banyak
70
cerita sejarah serta banyak wisatawan domestic dan manca Negara
(wisman) yang tertarik dengan struktur bangunan candi ini. Namun
dampak gempa di tahun 2006 yang lalu telah mengakibatkan candi
ini banyak kerusakan dan harus di restorasi selama ber tahun-tahun,
akhirnya masih banyak puing batuan yang masih berserakan belum
dapat dibangun kembali. Restorasi candi ini dilakukan oleh orang-orang
yang ahli tentang kepurbakalaan dengan mendapat bantuan dana dari
UNESCO. Restorasi Candi Prambanan sampai saat ini sudah selesai dan
tinggal puing-puing bebatuan disekitar candi yang tertinggal menunggu
proses berikutnya. Karena restorasi tersebut memang sangat sulit dan
lama prosesnya dan harus ditangani oleh orang-orang yang benar-benar
ahli dari kepurbakalaan atau bukan hanya tenaga kasar yang tidak
mengenal sejarah estetika dan struktur candi.
71
BAB V
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KEPUTUSAN BERWISATA
5.1. Faktor-faktor baik intern maupun ekstern
Beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk
berwisata harus dianalisa untuk menentukan bobot masing-masing yang
seimbang dengan tolok ukur yang ditetapkan, sehingga para pelaku wisata
mampu memberikan pelayanan yang prima sesuai dengan karakteristik
wisatawannya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedatangan Wisatawan
a). Irrasional (dorongan dari bawah sadar):
1) Lingkup pergaulan dan ikatan keluarga.
2) Tingkah laku prestise.
3) Tiruan dan mode.
4) Pengaguman pribadi (dalam pola tingkah laku)
5) Perasaan-perasaan keagamaan.
6) Hubungan warga dan promosi pariwisata.
7) Iklan dan penyebaran informasi pariwisata.
8) Kondisi ekonomi (faktor pendapatan dan biaya)
b). Rasional (dorongan yang disadari)
1) Sumber-sumber wisata (aset wisata; alam, warisan budaya, dll)
2) Fasilitas wisata (pengorganisasian industri pariwisata, transportasi)
3) Kondisi lingkungan warga setempat terhadap orang asing
(keramahtamahan, mudah bergaul)
4) Susunan kependudukan (umur, jenis kelamin, urbanisasi)
5) Situasi politik (kestabilannya, tingkat kebebasan warganya)
6) Keadaan geografis (jarak dari negara pasaran sumber wisata).
5.2. Aspek Sapta Pesona Pariwisata dalam pengembangan pariwisata.
Pengelolaan beberapa obyek wisata di Indonesia sering meninggalkan
faktor-faktor utama yang menentukan kualitas keberadaan obyek wisata
72
yang ditawarkan, bahkan banyak menciptakan aspek positif terhadap
pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Aplikasi dari sapta pesona
yang sudah lama disosialisasi pemerintah dan disebar-luaskan untuk
diterapkan dalam dunia pariwisata di Indonesia:
1. Indah (keindahan obyek daya tarik wisata yang mampu memberikan
daya tarik khusus dari aspek kondisi alam, penataan landscape;
arsitektur bangunan dan pernik-pernik assesories yang sesuai dengan
lingkungan yang ada).
2. Aman (factor jaminan keamanan dan kenyamanan berwisata;
terbentuknya privasi individu maupun kelompok dalam menikmati
suasana berwisata, tegaknya disiplin yang tinggi pengelola wisata
juga wisatawan,fasilitas pengamanan dengan CCTV, alarm warning.
Sehingga terhindari perbuatan –perbuatan yang pelanggaran hukum.
3. Tertib (infrastruktur yang terkelola dengan baik, rambu-rambu,
petunjuk yang jelas, tanda-tanda larangan dsb).
4. Bersih (kondisi nyata lingkungan dan keberadaan fasilitas sarana,
prasarana obyek wisata yang terjamin bersih dan berkualitas
akan mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan dalam
menggunakan fasilitas yang ada.
5. Sejuk (suasana dan atmosfeer lingkungan yang dapat dinikmati
wisatawan selama berkunjung sehingga mereka betah dan nyaman
berwisata).
6. Ramah, (sikap dan perilaku SDM pariwisata sebagai pengelola dalam
memberikan pelayanan (service) mampu memberikankepuasankepada
wisatawan (customer satisfaction)
7. Kenangan (merupakan salah satu amenities yang berupa souvenir,
cidera mata, yang diharapkan mampu memberikan sentuhan hati
wisatawan untuk dibawa pulang ke daerahnya dapat berupa produk
seni kriya yang spesifik dengan kemasan yang bagus menarik dan
mudah dibawa seperti: T-shirt; Keychain; keyholder, Magnet, small
bag, topi; baju batik; slayer; dsb).
Sebagai Contoh Aplikasi pelaksanaan Sapta pesona :
• Di Ambon passport tamu ditahan (agar dapat diketahui kalau tamu tsb
nyata-nyata pulang). Penerapan unsur aman.
73
• Lingkungan yang bersih. Supaya bersih, justru pohon-pohon
perindang ditebangi tidak sesuai dengan aspek “Go Green Tourism “
• Penerapan tertib. Banyak tamu asing kurang senang apabila mereka
disuruh menunggu, karena Bis yang ditumpangi kena tilang (masuk
kota, melanggar jalur).
• Lingkungan yang sejuk. Penutupan kebun raya Bogor oleh departemen
Pertanian, untuk penataan intern kebun raya, hal ini departemen
pariwisata tidak diberi tahu, sehingga banyak tamu yang complain
karena tidak dapat masuk, tidak boleh bermain air di sungai (tanpa
alasan yang jelas).
• Penataan Renstra Tourism Map tidak tertib. Persyaratan adanya Chain
Hotel untuk pembangunan hotel-hotel baru disuatu tempat (tidak
melihat apalah sudah banyak atau belum hotel yang berada ditempat
itu).Over Capasity (terjadinya perang tarif)
• Kenangan wisata. Pedagang asongan di candi Borobudur yang
menawarkan barang dagangannya tidak ramah, dengan setengah
memaksa dan terlalu banyak tidak mau diatur, petugas keamanan
tidak dapat berbuat apa-apa.
5.3. Macam Ragam destinasi Pariwisata
Destinasi Pariwisata Alam, Budaya, Agro, Hiking, Eko, Marine,
Hunting. Dalam pengembangan destinasi pariwisata tersebut diatas daya
dukung pariwisata tidak hanya terbatas pada jumlah kunjungan, namun
juga meliputi aspek-aspek lainnya seperti kapasitas ekologi (kemampuan
lingkungan alam untuk memenuhi kebutuhan wisatawan), kapasitas
fisik (kemampuan sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan
wisatawan), kapasitas sosial (kemampuan daerah tujuan untuk menyerap
pariwisata tanpa menimbulkan dampak negatif pada warga lokal),
dan kapasitas ekonomi (kemampuan daerah tujuan untuk menyerap
usaha-usaha komersial namun tetap mewadahi kepentingan ekonomi
lokal).
Faktor yang menjadi penentu keberhasilan penyelenggaraan destinasi
pariwisata berkelanjutan awalnya dimulai dari penyelenggaraan
kepemerintahan yang baik (good governance) yang melibatkan partisipasi
aktif secara seimbang antara pemerintah, swasta, dan warga .
Selanjutnya berdasarkan konteks pembangunan berkelanjutan ditelah
74
disepakati bersama, pariwisata berkelanjutan tersebut dapat didefinisikan
sebagai: pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan kebutuhan
wisatawan dengan tetap memperhatikan kelestarian dan memberi peluang
bagi generasi muda untuk memanfaatkan dan mengembangkannya
sehingga mampu memberikan manfaat terciptanya kesejahteraan
warga umum.
Beberapa hal utama dalam pengembangan destinasi Pariwisata
Dalam pengembangan fasilitas destinasi harus memperhatikan hal-
hal yang paling utama yakni strategi pengembangan destinasi antara lain:
a. Sustainable Competitive Growth:
Mengembangkan destinasi kompetitif dan berkelanjutan dengan
memperhatikan setiap perubahan yang paling trend atau mampu
mengikuti perkembangan kebutuhan wisatawan dalam menikmati
aktivitas wisata pada destinasi yang ada dalam era tertentu sehingga
tidak ketinggalan zaman dengan terciptanya kepuasan (satisfaction).
b. Integrated Tourism Ecosystem:
• Mengembangkan Tourism Products & Services, Tourism Sector
Enablers, dan Tourism System Enablers
• Meningkatkan upaya promosi destinasi di negara yang menjadi
pasar utama, pasar yang selalu berkembang.
Pengembangan destinasi wisata harus mampu menciptakan inovasi
produk dan memberikan pelayanan yang berkualitas, baik dari sektor
pariwisata maupun dari dukungan warga lokal dan keberadaan
lingkungan ekowisatanya.
c. Government Support – Industry Led:
• Fasilitasi pengembangan daya tarik wisata di destinasi;
• Peningkatan kapasitas dan pemberdayaan warga ;
• Fasilitasi tata kelola destinasi DMO (Destination management
organization);
• Fasilitasi dan promosi pariwisata potensial;
• Fasilitasi perencanaan dan pengembangan budaya daerah
• Fasilitasi kompetensi dan sertifikasi usaha dan produk pariwisata
75
• Pembangunan sarana dan prasarana pariwisata.
Pengembangan destinasi pariwisata tidak berhasil dengan baik tanpa
dukungan (support) dari semua stakeholder pariwisatanya, khususnya
pemerintah yang secara berkelanjutan, Awalnya dengan memberikan
pengadaan fasilitas pendukung infrastruktur, sarana prasarana utama
agar daya tarik wisatanya mendapatkan respon positif dari warga
luas. Memberikan bimbingan dan pendampingan secara kompeten
(tata kelola destinasi) sehingga warga pengelola mampu bekerja
professional dalam mengelola obyek daya tarik wisata yang sesuai
dengan yang diharapkan, serta pengawasan dan evaluasi secara simultan
agar tidak terjadi kesalahan manajemen. Dalam aspek pemasarannya
setiap tahun diadakan program pemasaran terpadu seperti pengenalan
wisata dengan Talk show; expo wisata; ke daerah lain yang potential
agar setiap perubahan inovasi dan existensi obyek wisata yang ada dapat
dipahami dan dikenal oleh warga luas. Pengembangan melalui
media komunikasi dan elektronik IT network, sangat diharapkan demi
percepatan informasi kepada khalayak sasaran pasarnya.
5.4. Fenomena Kondisi kepariwisataan nasional
Kondisi yang nyata pembangunan ekonomi di Indonesia lebih
diorientasikan pada kawasan Indonesia bagian barat. Hal ini terlihat
lebih berkembangnya pembangunan sarana dan prasarana di kawasan
barat Indonesia, dibandingkan dengan yang terdapat di kawasan timur
Indonesia. Hal ini juga terlihat dari pembangunan di sektor pariwisata,
dimana kawasan Jawa-Bali menjadi kawasan konsentrasi utama
pembangunan kepariwisataan. Sementara dilihat dari kecenderungan
perubahan pasar global, yang lebih mengutamakan sumber daya alami
sebagai destinasi wisata, maka potensi sumber daya alam di kawasan
timur Indonesia lebih besar di bandingkan kawasan barat. Kualitas sumber
daya alam yang dapat dijadikan daya tarik wisata unggulan di kawasan
timur Indonesia, jauh lebih baik dan memiliki peluang yang besar untuk
dikembangkan. Namun demikian tidak secara otomatis kawasan timur
Indonesia dapat dikembangkan menjadi kawasan unggulan, karena
adanya beberapa masalah mendasar, seperti kelemahan infrastruktur,
sumber daya manusia, dan sebagainya.
76
Beberapa dampak yang ditimbulkan dari ketidak seimbangan
pembangunan di sektor pariwisata yaitu :
a. Pembangunan pariwisata yang tidak merata, khususnya di kawasan
timur Indonesia, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan
Indonesia timur dari sektor pariwisata masih rendah.
b. Indonesia hanya bertumpu pada satu pintu gerbang utama, yaitu Bali.
c. Lemahnya perencanaan pariwisata di kawasan timur Indonesia dan
kurangnya pemanfaatan potensi pariwisata di kawasan tersebut
secara optimal.
d. Rendahnya fasilitas penunjang pariwisata yang terbangun.
e. Terbatasnya sarana transportasi, termasuk hubungan jalur transportasi
yang terbatas.
Dengan demikian maka pengembangan pariwisata melalui otonomi
daerah sangat perlu menekankan peran aktif stakeholder pariwisata
daerah, warga dan pihak swasta (investor) ikut mendukung dan
menentukan kelanjutan pengembangan pariwisata daerah yang ada,
butuh komitmen bersama, kreativitas, inovatif, semangat dan kerjasama
untuk membangun asset pariwisata secara konsisten.
Dengan semakin komplexnya pengembangan kepariwisataan di
Indonesia perlu melibatkan “semua” pihak pemangku kepentingan
(stakeholder), mulai dari kalangan pemerintah vertikal maupun
horizontal (pusat maupun daerah secara lintas sektoral) para pelaku
usaha pariwisata sampai pada kalangan warga umum, yang secara
logika memerlukan koordinasi yang serasi, solid dan konsisten.
Satu hal yang pasti sangat dibutuhkan dalam perencanaan
pengembangan destinasi Pariwisata berkelanjutan yaitu “kesepahaman”
di antara para pemangku kepentingan tentang berbagai hal, antara lain:
• Perlunya pemahaman secara menyeluruh (comprehensive) setiap
pihak pemangku kepentingan mengenai seluk beluk kepariwisataan,
termasuk dampaknya baik positif maupun negative secara timbal
balik antara kepariwisataan dengan bidang / sektor lainnya;
• Perlunya perencanaan pengembangan kepariwisataan, secara lokal,
regional dan nasional sebagaimana diamanatkan juga oleh Undang-
undang No. 10/Th. 2009 Tentang Kepariwisataan;
77
• Keterkaitan perencanaan pengembangan kepariwisatan pada
pembangunan ekonomi, kehidupan sosial-budaya, stabilitas sosial-
politik dan keamanan, kelestarian lingkungan, keserasian tataruang
dan tataguna lahan (land-use) … dsb, baik setempat, regional, maupun
nasional;
• Kerja keras dan terpadu dari segala aspek kehidupan komunitas
warga local dan stakeholder pariwisatanya dalam menciptakan
kepuasan pelanggan.
• Dengan demikian pembangunan infrastruktur destinasi wisata yang
ada kedepan akan dapat membuka banyak peluang bagi pemenuhan
kebutuhan dan perolehan manfaat dari aktivitas pariwisata, namun
disisi lain perlu diantisipasi juga, karena akan melahirkan tantangan
dan masalah yang tidak sederhana.
Beberapa Hambatan-hambatan dalam pengembangan pariwisata:
• Kebijakan-kebijakan Pembangunan, Pendidikan/latihan, Perencanaan,
Koordinasi belum ada, sering tidak selaras atau tidak sesuai dengan
konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism), penataan
dan pengelolaan obyek wisata yang berubah ubah setiap pergantian
pejabat.
• Penanaman modal yang sering sulit teralokasi adanya: kepentingan
politik tertentu, kurang kesadaran warga local, hambatan dari
oknum tertentu.
• Sumber daya manusia
Pengadaan – butuh kewenangan
Kualifikasi - standarisasi perlu penanganan
Kuantifikasi - Pembatasan / Keseragaman
• Dana: dalam negeri – keterbatasan perlu subsidi
Luar negeri - persaingan perlu sinkronisasi
• Persaingan:
Intern (antar industri/antar daerah)
Ekstern (negara tetangga/internasional) butuh kebijakan
• Peluang: cukup besar / ada tersedia
• Kondisi dalam negeri: penataan, sinkronisasi, kebijakan nasional –
pendekatan sistim (tidak partial)
78
• Kondisi Asia Pasific: arus wisman, kondisi obyek – (harus bertarung)
• Dukungan warga : kesiapan iman, industri, tenaga- (diarahkan)
• Potensi pendukung:
Hotel, restaurant, travel biro, transportasi, obyek wisata, SDM
pariwisata, toko souvenir, guide- (perlu penataan yang mantap).
• Organisasi Pendukung:
PHRI, ASITA, HPI, Bank, Money changer, kebijakan imigrasi,
keamanan wisata, Sarana Prasarana DTW (diintegrasikan) sesuai
program pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Berdasarkan evaluasi dari hambatan dan permasalahan tersebut diatas,
maka perlu aplikasi secara konkrit dengan koordinasi yang terstruktur:
para stakeholder dalam pariwisata khususnya pejabat-pejabat pemerintah
sebagai penentu kebijakan, warga sebagai pelaku, dan dukungan
peran swasta, karena kegiatan pariwisata itu bersifat multi sektoral /
lintas sektoral.
Peluang Obyek wisata (OTW) untuk dapat dijual (dibangun) apabila
memenuhi tiga persyaratan yaitu: Mudah dicapai, aman dan nyaman
(comfortness)
Industri pariwisata juga sering disebut “Smokeless industry”, suatu
industri yang tidak punya asap, karena industri pariwisata produknya
yaitu jasa (service industry) atau rangkaian dari pelayanan jasa
(invisible export).
Pelayanan pariwisata yaitu termasuk “hospitality industry “
Departemen-departemen yang berhubungan dengan pelayanan
Pariwisata:
• Informasi melibatkan: DEPLU, DEPPEN, TIC
• CIQ = costum, imigrasi, dan guarantie melibatkan: DEPTAN,
DEPKES, DEPDAGRI.
• Transportasi melibatkan: DEPHUB dan SWASTA
• Airport, taxi, akomodasi melibatkan: DEPPAR, DEPHUB,
DEPDAGRI.
• Restaurant melibatkan: DEPKES, DEPPAR.
• Obyek melibatkan: PDK, DEPDAGRI, DEPPAR.
79
• Keamanan (security) melibatkan: HANKAM dsb.
Dengan demikian Pariwisata secara teknis yaitu segala bentuk
kegiatan (aktivitas) yang dilakukan oleh stakeholder pariwisata:
pemerintah, swasta, dan warga dalam mengatur, menata,
menyediakan, mengelola, dan melayani kebutuhan bagi para
wisatawan, yang terintegrasi dan berkesinambungan.
Tugas khusus pemeritah daerah bidang pariwisata antara lain:
Membuat peraturan yang aplikatif
• Membuat iklim yang sejuk bagi investor,
• Membuat sarana dan prasarana yang memadahi.
Pelaksanaannya melalui program perancangan, analisis, diskusi,
inventorisasi, aplikasi dan evaluasinya dilakukan bersama pihak swasta
dan warga pelaku pariwisata melalui program ”Forum Group
Discussion” (FGD).
5.5. Macam-macam jenis sarana wisata
Menurut PP no 24 th 1979: Pemerintah pusat memberikan kepada
daerah tingkat I mengenai urusan pariwisata (sebanyak 12 urusan).
yang semula dikelola oleh pusat diserahkan kepada pemerintah daerah.
Urusan tersebut yaitu :
1. Obyek Wisata (selama tidak ditanda tangani oleh pemerintah pusat).
2. Losmen (Hotel Melati).
3. Rumah makan
4. Bar /Café/ Barista
5. Pramuwisata/ Guide
6. Rekreasi dan hiburan
7. Kawasan Wisata (Tourism Resort).
8. Mandala wisata
9. Pondok wisata
10. Penginapan remaja (Youth Hostel)
11. Bumi Perkemahan (Camping Ground)
12. Promosi Daerah melalui pemasaran branding, media social, network
Sedangkan yang menjadi urusan pemerintah pusat yaitu :
80
1. Hotel Bintang (Stars Hotel)
2. Biro Perjalanan Wisata (Travel Agent)
3. Pramuwisata khusus Kraton Palace
4. Restoran
5. Wisata Tirta
(Kantor wilayah Pariwisata yaitu merupakan wakil pemerintah di
daerah).
Dengan demikian garis besarnya pariwisata yaitu seluruh kegiatan
perjalanan/sebagian perjalanan yang dilakukan dengan sukarela, bersifat
sementara, untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata tertentu dan
tidak menetap. Sedangkan pelakunya disebut: wisatawan (tourist).
Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi non migas yang
sangat berperan dalam peningkatan struktur ekonomi dan proses
pembangunan negara. Hal ini sangat berkaitan dengan pendapatan atau
devisa negara serta pendapatan penduduk disekitar objek wisata.
Secara khusus manfaat pariwisata yaitu sebagai berikut:
a. Meningkatnya kesempatan berusaha bagi penduduk area warga
yang tinggal di sekitar objek wisata.
b. Sektor pariwisata dapat menyerap tenaga kerja yang dapat
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk.
c. Pendapatan negara meningkat berupa pajak baik dari para wisatawan
yang datang maupun pajak dari fasilitas sosial di daerah objek wisata,
serta keuntungan dari pertukaran mata uang asing dengan mata uang
Indonesia untuk keperluan para wisatawan.
d. Terpeliharanya kelestarian lingkungan hidup dan kebudayaan
nasional. Dengan adanya pariwisata, warga senantiasa menjaga
keutuhan dan kelestarian objek wisata, baik objek wisata: keindahan
alam, bangunan-bangunan tradisional warga .
5.6. Macam jenis kegiatan wisata
Tujuan pariwisata tidak hanya untuk berlibur atau rekreasi, melainkan
berhubungan kegiatan olah raga, bisnis pekerjaan, dan tujuan pendidikan.
Berdasarkan batasan tersebut, secara umum sektor pariwisata dapat
dibedakan menjadi tiga mecam, yaitu sebagai berikut.
81
1). Darmawisata, yaitu berbagai jenis pariwisata yang bertujuan untuk
mencari kesenangan yang biasa berhubungan dengan:
a. Menikmati perjalanan, seperti mendaki gunung, menjelajah rimba
(cross country), dan napak tilas.
b. Rekreasi, misalnya kunjungan ke objek wisata taman-taman
wisata, pantai, gunung, dan danau.
c. Wisata budaya, misalnya kunjungan ke objek candi, keraton,
upacara keagaman area upacara tradisi setempat, dan kesenian
daerah;
2). Widyawisata yaitu jenis pariwisata yang bertujuan memperdalam
ilmu pengetahuan, baik untuk belajar misalnya kunjungan ke museum,
Taman Mini untuk mempelajari budaya Indonesia, planetarium,
ataupun untuk tujuan penelitian, misalnya meneliti keanekaragaman
terumbu karang di Taman Bunaken.
3). Karyawisata yaitu jenis pariwisata yang berhubungan dengan tugas
pekerjaan, misalnya pariwisata sambil menghadiri tugas dari tempat
pekerjaan (rapat, seminar), atau pariwisata sa












