dihasilkan, maka
kerjasama antara perusahaan jasa, dalam hal ini diwakili oleh
karyawan dengan pelanggannya sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu,
kualitas jasa terkait erat dengan kinerja manusia. Hal ini sesuai dengan
pendapat Zeithaml dan Bitner (2000) yang mengatakan kontak
karyawan mewakili organisasi dan dapat secara langsung
mempengaruhi kepuasan pelanggan. Menurut Rucci (1998) titik tolak
“The Service-Profit-Chain” tidak terlepas dari tujuan mendasar dari
keseluruhan entitas bisnis secara umum, yaitu menaikkan laba dari
aktivitas operasionalnya, meningkatkan produktivitas serta
meningkatkan pertumbuhan pendapatan.
Ketika sebuah perusahaan memberikan nilai bagi karyawan-
karyawannya, perusahaan ini meningkatkan nilai yang akhirnya
akan disampaikan kepada pelanggan. Banyak hal yang diinginkan
karyawan dari pekerjaannya sama dengan yang diingikan pelanggan
dari bisnis-bisnis mereka. Kepuasan, rasa hormat dan nilai,
keseluruhannya penting ditempat kerja. Bukan rahasia lagi kalau
karyawan yang puas bisa jadi lebih memberikan pelayanan berkualitas
tinggi baik untuk perusahaan maupun untuk pelanggan eksternal,
daripada mereka yang tidak puas dengan pekerjaannya. Karena itu,
perusahaan yang ingin memberikan pelayanan istimewa dan
meningkatkan kepuasan pelanggan, pertama-tama harus memusatkan
perhatian pada kualitas pelayanan yang diberikan dalam organisasi
ini .
202
13.2. Kualitas layanan internal (internal service quality)
Industri jasa seringkali dikarakteristikkan sebagai transaksi dari
suatu hal yang tidak berwujud antara penyedia jasa dan konsumen
(Gronroos, 1990), kualitas dari penyedia jasa atau yang disebut juga
layanan internal memiliki pengaruh langsung terhadap proses
penyampaian jasa dan kepuasan konsumen. Seperti yang dikatakan
oleh Pillai dan Bagavathi (2003) bahwa kesuksesan dan kegagalan
suatu organisasi tidaklah tergantung pada peralatan, mesin-mesin
maupun materi lain, tetapi justru pada sumber daya manusianya.
Demikian pula di industri jasa, sumber daya manusia yang berkualitas
sangat dibutuhkan sebagai pelaksana dan penunjang operasional dan
manajemen industri jasa ini .
Selain sebagai pilar dalam organisasi, Azzohlini (1993)
menyebutkan bahwa karyawan merupakan aset penting untuk
membedakan satu organisasi dengan organisasi lain, dimana karyawan
yang berkualitas akan menjadi keunggulan yang kompetitif bagi
organisasi (Cheng, 2000). Sebagai tambahan, dalam artikelnya “A
Study on the Factors of Internal Service Quality-Nurse for example”, Cheng
menyatakan adanya korelasi yang positif antara kualitas layanan
internal dengan kepuasan karyawan. Beberapa faktor yang terkandung
dalam kualitas layanan internal seperti tipe manajemen, komunikasi
antar departemen yang ada, reward, training, job description yang jelas
dan tanggung jawab yang tepat, sangat berpengaruh terhadap
kepuasan karyawan dalam bekerja dimana pada akhirnya akan
berdampak langsung pada kinerja perusahaan.
Senada dengan pernyataan di atas, O‟Connor (2001) dalam
artikelnya Performance Management- Electrical Wholesaling, menyatakan
bahwa “people behave as they are measured and drive action as they are
rewarded” yang berarti orang berperilaku sebagaimana mereka diukur
dan bertindak sebagaimana mereka di hargai. Seperti yang
dikemukakan oleh Vroom (1964), bahwa setiap individu akan
berusaha dengan harapan mendapat sesuatu, namun seberapa keras
203
usahanya juga tergantung dengan seberapa besar sesuatu yang
diberikan kepadanya.
Heskett et al. (1997) mengemukakan model The Service Profit
Chain sebagai rangkaian sebab-akibat yang menghasilkan keuntungan
dan pertumbuhan. Model ini menyatakan bahwa kualitas layanan
internal akan mempengaruhi kepuasan, loyalitas dan produktivitas
karyawan. Fornell, (1996) mengemukakan bahwa kepuasan karyawan
akan pelayanan internal yang berkualitas akan mendorong tumbuhnya
loyalitas karyawan dalam organisasi, dan pada akhirnya akan
mendorong penciptaan nilai pelayanan eksternal yang kemudian
menentukan kepuasan pelanggan eksternal (Siehoyono, 2004).
13.3. Kepuasan karyawan (employee satisfaction)
Karyawan yang memiliki sikap perjuangan, pengabdian,
disiplin, dan kemampuan profesional sangat mungkin mempunyai
prestasi kerja dalam melaksanakan tugas sehingga lebih berdaya guna
dan berhasil guna. Karyawan yang profesional dapat diartikan sebagai
sebuah pandangan untuk selalu perpikir, kerja keras, bekerja sepenuh
waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi, dan penuh dedikasi demi untuk
keberhasilan pekerjaannya (Hamid, et al., 2003).
Pengertian di atas, menggambarkan bahwa penyempurnaan di
bidang personalia hanya selalu mendapat perhatian untuk menuju
karyawan yang profesional dengan berbagai pendekatan dan
kebijaksanaan. Untuk itu, diperlukan adanya pembinaan, penyadaran,
dan kemauan kerja yang tinggi untuk mencapai kinerja yang
diharapkan. Apabila karyawan penuh kesadaran bekerja optimal maka
tujuan organisasi akan lebih mudah tercapai. Peningkatan sikap,
perjuangan, pengabdian, disiplin kerja, dan kemampuan profesional
dapat dilakukan melalui serangkaian pembinaan dan tindakan nyata
agar upaya peningkatan prestasi kerja dan loyalitas karyawan dapat
menjadi kenyataan. Salah satu faktor yang mempengaruhi loyalitas
karyawan adalah kepuasan karyawan.
204
13.4. Loyalitas karyawan (employee loyalty)
Heskett menjelaskan karyawan yang loyal dan produktif tentu
tidak otomatis terjadi tanpa terbangunnya terlebih dahulu rasa
kepuasan dari dalam diri sang karyawan, terhadap pekerjaannya,
atasannya, peralatan dan fasilitas, serta aspek-aspek lainnya. Banyak
terjadi karyawan di'tekan' untuk bekerja demi mencapai target-target
tertentu, namun tidak didukung dengan peralatan/sarana, otoritas,
bimbingan atasan, sehingga alhasil berdampak kepada buruknya
proses dan tentunya hasil akhir (produk) yang diberikan kepada
pelanggan. Dengan kata lain, banyak perusahaan yang menekankan
kepada kepuasan pelanggan, tanpa banyak melihat bahwa salah satu
kunci sukses dalam mencapainya adalah kepuasan karyawan karena
baik buruknya Value yang diterima pelanggan seluruhnya berasal dari
tangan-tangan karyawan yang bekerja di perusahaan. Keluaran produk
dan primanya pelayanan sudah pasti berasal dari para karyawan yang
"betah" bekerja di perusahaan; tidak hanya betah tetapi juga
"bergerak", dalam artian meningkat produktivitasnya. Betah (employee
retention) dan produktif (employee productivity) di sini tidak terpisahkan,
karena banyak kasus para karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun
di perusahaan, namun tidak memberikan nilai produktivitas kepada
perusahaan.
13.5. Nilai layanan eksternal (external service value)
Yang membuat pelanggan puas adalah apabila apa yang
dikorbankannya lebih sedikit dari apa yang didapatkannya. Hal ini
tidak hanya dari sisi price, tapi merupakan satu paket yang bernama
"service delivery". Possitive Value inilah yang merupakan hasil akhir
yang diterima (perceived) oleh pelanggan, dan pada akhirnya mereka
akan memiliki suatu pandangan (perception) mengenai
valuable/tidaknya produk/perusahaan Anda bagi mereka yang
bermuara kepada puas/tidaknya mereka.
205
13.6. Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
Telah menjadi suatu kepercayaan umum, khususnya didunia
bisnis, bahwa kepuasan pelanggan menjadi salah satu kunci
keberhasilan suatu usaha. Hal ini dikarenakan dengan memuaskan
konsumen, organisasi dapat meningkatkan tingkat keuntungannya dan
mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas (Barsky, 1992).
13.7. Loyalitas pelanggan (customer loyalty)
Loyalitas merupakan suatu proses panjang dan
berkesinambungan, dan dipupuk disepanjang perjalanan hubungan
(relationship) antara pihak perusahaan dengan pelanggan. Mustahil
rasanya pelanggan akan loyal (kecuali terpaksa loyal akibat tidak ada
pilihan lain atau monopoli) apabila sepanjang pengalamannya
berinteraksi dengan pihak perusahaan dia tidak merasakan pemenuhan
kebutuhan dan keinginannya.
Manfaat yang dapat ditimbulkan dari loyalitas pelanggan bagi
perusahaan yang Pertama, konsumen yang puas terhadap barang dan
jasa yang dikonsumsinya akan mempunyai kecenderungan untuk
membeli ulang dari produsen yang sama. Keinginan untuk membeli
ulang sebagai akibat dari kepuasan ini adalah keinginan untuk
mengulang pengalaman yang baik dan menghindari pengalaman yang
buruk (Solomon, 1996). Kedua, kepuasan merupakan faktor yang
mendorong adanya komunikasi dari mulut ke mulut (word-of-mouth
communication) yang bersifat positif (Solomon, 1996). Bentuk dari
komunikasi dari mulut ke mulut yang disampaikan oleh orang yang
puas ini bisa berbentuk rekomendasi kepada calon konsumen lain,
dorongan kepada rekan untuk melakukan bisnis dengan penyedia
dimana konsumen puas, dan mengatakan hal-hal yang baik tentang
penyedia jasa dimana ia puas (Zeithaml, dkk., 1996). Faktor terakhir
atau Ketiga dari efek kepuasan konsumen terhadap perilaku adalah
konsumen yang puas cenderung untuk mempertimbangkan penyedia
jasa yang mampu memuaskan sebagai pertimbangan pertama jika
ingin membeli produk atau jasa yang sama. Faktor terakhir ini dikenal
sebagai faktor kognitif yang ditimbulkan oleh adanya kepuasan
206
(Gremler dan Brown, 1997). Dari diskusi diatas nampak bahwa
kepuasan pelanggan merupakan faktor yang sangat penting dalam
mempengaruhi perilaku konsumen, baik konsumen yang ada maupun
potensial.
13.8. Pertumbuhan pendapatan (revenue growth)
Growth adalah tahap pertama dan tahap awal dari siklus bisnis
(Fauzi, 1995). Pada tahap ini suatu perusahaan memiliki produk atau
jasa secara signifikan memiliki tingkat pertumbuhan yang baik sekali
atau paling tidak memiliki potensi untuk berkembang biak. Perusahaan
dalam tahap ini mungkin secara aktual beroperasi dalam arus kas yang
negatif dari tingkat pengembalian atas modal investasi yang rendah.
Sasaran keuangan dari bisnis yang berada pada tahap ini seharusnya
menekankan pengukuran pada tingkat pertumbuhan penerimaan atau
penjualan dalam pasar yang ditargetkan.
Revenue Growth merupakan indikator penting dari penerimaan
pasar dari produk dan jasa perusahaan ini . Pertumbuhan
pendapatan yang konsisten, dan juga pertumbuhan keuntungan,
dianggap penting bagi perusahaan yang menjual produk dan jasa ke
publik.
13.9. Profitabilitas (Profitability)
Housny dan Bachtiar telah berpendat tentang peningkatan
manfaat aplikasi CRM dengan perhitungan Customer Profitability
menjelaskan bahwa Profitability adalah ukuran tingkat kontribusi
keuntungan tiap pelanggan terhadap total keuntungan perusahaan.
Atau dengan kata lain seberapa menguntungkan seorang pelanggan di
mata perusahaan. Pelanggan yang menguntungkan harus dijaga agar
loyal sehingga tidak berpindah ke jasa lain. Jika belum
menguntungkan, hubungan dengan pelanggan perlu dikembangkan
sampai menguntungkan. Jika tetap tidak menguntungkan, tidak ada
salahnya mengurangi intensitas bahkan memutuskan hubungan
daripada menjadi beban bagi perusahaan.
207
BAB XIV
BALANCED SCORECARD SEBAGAI PENILAIAN
KINERJA INDUSTRI PARIWISATA
14.1. Pengukuran Kinerja dengan Balanced Scorecard
Balanced Scorecard mengembangkan seperangkat tujuan unit
bisnis melampaui rangkuman ukuran finansial, yang mampu membuat
eksekutif perusahaan mengukur seberapa unit bisnis mereka
menciptakan nilai bagi para pelanggan perusahaan saat ini dan yang
akan datang, serta seberapa banyak perusahaan harus meningkatkan
kapabilitas internal dan investasi dalam sumber daya manusia.
Definisi Balanced Scorecard yaitu:
“the balanced scorecard is a management system (not only a
measurement system) that enables organizations to clarify their vision
and strategy and translate them into action. It provides feedback
around both the internal business processes and external outcomes in
order to continuously improve strategic performance and results. When
fully deployed, the balanced scorecard transforms strategic planning
from an academic exercise into the nerve center of an enterprise”.
(www.balancedscorecard.org).
Menurut Tunggal (2000), Balanced Scorecard merupakan
kelompok tolak ukur kinerja yang terintegrasi yang berasal dari strategi
perusahaan dan mendukung strategi perusahaan di seluruh organisasi.
Balanced Scorecard menurut Kaplan dan Norton (2000:9-16)
merupakan suatu konsep yang berusaha menerjemahkan misi dan
strategi perusahaan ke dalam seperangkat ukuran yang menyeluruh
yang memberi kerangka kerja bagi pengukuran dan sistem manajemen
strategis.
208
14.2. Model Implementasi Visi dan Strategi dalam Balanced
Scorecard
Balanced Scorecard menyediakan suatu instrumen yang
diperlukan untuk mengemudikan perusahaan menuju pada
keberhasilan persaingan masa depan. Balanced Scorecard berusaha
untuk menerjemahkan misi dan strategi perusahaan ke dalam
seperangkat ukuran secara menyeluruh, yang memberi penekanan
pada pencapaian tujuan keuangan dan juga membuat faktor
pendorong tercapainya tujuan keuangan ini . Untuk lebih
memperjelas fungsi keempat perspektif Balanced Scorecard dalam
mengimplementasikan visi dan strategi perusahaan dapat dilihat pada
gambar 14.1.
Keuangan
Pelanggan Visi dan
Strategi
Proses
Internal
Pembelajaran dan
Pertumbuhan
Gambar 14.1.Model Implementasi Visi dan Strategi dalam Balanced
Scorecard
Sumber : Kaplan dan Norton (2000)
14.3. Balanced Scorecard Sebagai Penilaian Kinerja
Menurut Mulyadi dan Setyawan (2001:218), Balanced Scorecard
memberikan rangka komprehensif untuk menjabarkan misi ke dalam
sasaran-sasaran strategi. Sasaran-sasaran ini dapat dirumuskan
209
karena balanced scorecard menggunakan empat perspektif yaitu:
keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan
pertumbuhan. Perspektif keuangan akan menilai sasaran keuangan
yang perlu dicapai organisasi dalam mewujudkan visinya. Perspektif
pelanggan memberikan gambaran segmen pasar yang dituju serta
tuntutan kebutuhan mereka dalam upaya untuk mecapai sasaran
keuangan tertentu. Perspektif proses bisnis internal memberikan
gambaran proses yang harus dibangun untuk melayani pelanggan dan
untuk mencapai sasaran keuangan tertentu. Perspektif pembelajaran
dan pertumbuhan merupakan pemacu untuk membangun kompetisi
personel, prasarana sistem informasi dan suasana lingkungan kerja
yang diperlukan untuk mewujudkan sasaran keuangan, pelanggan,
serta proses bisnis internal.
14.3.1. Perspektif Keuangan
Pendekatan Balanced Scorecard tetap mempertahankan
perspektif keuangan karena ukuran keuangan sangat penting dalam
memberikan ringkasan mengenai konsekuensi atas keputusan dan
tindakan ekonomis yang telah diambil oleh pihak manajemen
perusahaan. Tujuan finansial menjadi fokus tujuan dan ukuran di
semua perspektif scorecard lainnya, karena setiap ukuran terpilih harus
merupakan bagian dari hubungan sebab akibat yang pada akhirnya
akan dapat meningkatkan kinerja keuangan.
a) Tolok ukur kinerja perspektif keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan alat bantu yang penting
bagi manajer untuk mempelajari kekuatan dan kelemahan
perusahaan dibidang finansial sehingga analisis ini berguna
untuk menentukan strategi finansial yang akan datang antara
lain untuk menyusun neraca dan laporan laba rugi. Rasio
keuangan juga menggambarkan suatu hubungan antara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dan menjelaskan serta
memberikan gambaran kepada penganalisis tentang baik atau
buruknya keadaan atau posisi keuangan yang merupakan
210
cerminan perkembangan kinerja perusahaan, terutama
apabila angka rasio ini dibandingkan dengan angka rasio
pembanding yang digunakan sebagai standar.
Menurut Riyanto (2001:330) rasio – rasio dapat digolongkan
menjadi tiga dilihat dari sumber dari mana rasio itu dibuat
yaitu: rasio – rasio neraca, rasio – rasio laporan laba rugi, dan
rasio – rasio antar laporan. Ada juga yang mengelompokkan
rasio – rasio ke dalam rasio likuiditas, rasio laverage, rasio
aktivitas,
Van Horne dan Wachowicz (2004:135) menyatakan bahwa
ada beberapa tolak ukur umum yang diusulkan untuk dapat
dipergunakan manajemen untuk menilai kinerja keuangan,
yaitu rasio profitabilitas dan rasio pertumbuhan.
b) Rasio Likuiditas
Menurut Riyanto (2001:332), untuk menghitung tingkat
likuiditas perusahaan digunakan alat – alat ukur sebagai
berikut:
(1) Current ratio
Merupakan perbandingan antara jumlah aktiva lancar
dengan hutang lancar. Adapun formulasinya sebagai
berikut:
(2) Quick Ratio
Rasio ini merupakan alat untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban dengan
tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan
memerlukan waktu yang relative lama untuk merealisir
menjadi uang kas. Formulasinya adalah sebagai berikut :
211
c) Ratio Solvabilitas
Menurut Riyanto ( 2001) solvabilitas adalah kemampuan
suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban
finansialnya apabila sekiranya perusahaan ini pada saat
itu dilikuidasi atau solvabilitas adalah kemampuan suatu
perusahaan untuk membayar hutang jangka panjang.
Dari kedua pengertian di atas maka dapat dikemukakan
bahwa solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk
membayar hutang jangka panjang pada saat perusahaan
dilikuidasi atau dibubarkan.
Jika perusahaan mampu memenuhi segala kewajiban
finansialnya maka perusahaan ini dikatakan solvable, dan
sebaliknya jika perusahaan tidak dapat memenuhi segala
kewajiban finansialnya maka perusahaan ini dalam
keadaan insolvable.
d) Cara Mengukur Solvabilitas
1. Total debt to asset
Membandingkan jumlah hutang jangka pendek dan jangka
panjang dengan jumlah aktiva (total assets). Formulasinya
adalah sebagai berikut (Suad Husnan,2002:563):
2. Total debt to equity
Membandingkan antara hutang dengan modal sendiri,
formulasinya:
212
e) Cara meningkatkan solvabilitas
Riyanto (2001: 35) mengemukakan tingkat solvabilitas
dapat dipertinggi dengan jalan sebagai berikut :
(1) Menambah aktiva tanpa menambah hutang. Dalam hal ini
penambahan aktiva dapat dipenuhi dengan penambahan
modal sendiri.
(2) Mengurangi hutang tanpa mengurangi aktiva. Dapat
dilakukan dengan menambah modal sendiri.
Baik dengan jalan pertama maupun kedua ini tidak
lain dengan mengharuskan adanya aktiva, sedang pada
alternative kedua tambahan modal sendiri digunakan untuk
mengurangi atau membayar hutang.
f) Rasio Rentabilitas
Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk
menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto, 2001:35),
bisa juga dikatakan bahwa rentabilitas adalah tingkat prospektif
tidaknya perusahaan di masa yang akan datang, berdasarkan
tingkat suku bunga tertentu. Cara untuk mengukur tingkat
rentabilitas perusahaan yaitu:
Kemudian membandingkan dengan tingkat suku bunga
pada tahun itu.
g) Rasio profitabilitas
Rasio-rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk mendapatkan laba dari setiap penjualan
yang dilakukan. (Husein Umar, 2002:97). Rasio yang
digunakan yaitu rasio pengembalian ekuitas. Pengembalian
213
ekuitas membandingkan laba bersih setelah pajak (EAT)
dengan modal yang diinvestasikan pemegang saham atau
modal sendiri,diukur sebagai berikut :
14.3.2. Perspektif Pelanggan
Perspektif pelanggan merupakan leading indicator dalam
mewujudkan tujuan suatu perusahaan. Perusahaan yang tidak
memahami kebutuhan pelanggan akan memudahkan para pesaing
untuk menyerang melalui penawawan produk dan jasa yang lebih baik
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para pelanggan. Suatu
perusahaan harus menciptakan dan memberikan produk dan jasa yang
bernilai bagi pelanggan bila ingin mencapai kinerja keuangan jangka
panjang yang baik.
Dalam perspektif pelanggan Balanced Scorecard, perlu dilakukan
identifikasi pelanggan dan segmen pasar yang akan dimasuki. Segmen
pasar merupakan sumber yang akan menjadi komponen penghasilan
tujuan finansial perusahaan. (Kaplan dan Norton,2000:55)
a) Mengukur kinerja perspektif pelanggan
Tolak ukur kinerja perspektif pelanggan dibagi menjadi dua
kelompok (Soetjipto,2002):
1) Kelompok Inti
Pangsa pasar: mengukur seberapa besar proporsi segmen
pasar tertentu yang dikuasai oleh perusahaan.
Tingkat perolehan para pelanggan baru: mengukur
seberapa banyak perusahaan berhasil menarik pelanggan-
pelanggan baru.
Kemampuan mempertahankan para pelanggan lama:
mengukur seberapa banyak perusahaan berhasil
mempertahankan pelangan-pelanggan lama.
214
Tingkat kepuasan pelanggan: mengukur seberapa jauh
pelanggan merasa puas terhadap layanan perusahaan.
Tingkat profitabilitas pelanggan: mengukur seberapa
besar keuntungan yang berhasil diraih oleh perusahaan
dari penjualan produk kepada para pelanggan.
2) Kelompok Penunjang
Atribut-atribut produk (fungsi, harga dan mutu)
Tolak ukur atribut produk adalah tingkat harga eceran
relatif, tingkat daya guna produk, tingkat pengembalian
produk oleh pelanggan sebagai akibat ketidak
sempurnaan proses produksi, mutu peralatan dan fasilitas
produksi yang digunakan, kemampuan sumber daya
manusia serta tingkat efisiensi produksi.
Hubungan dengan pelanggan
Tolak ukur yang termasuk sub kelompok ini, tingkat
fleksibilitas perusahaan dalam memenuhi keinginan dan
kebutuhan para pelanggannya, penampilan fisik dan
mutu layanan yang diberikan oleh pramunaga serta
penampilan fisik fasilitas penjualan.
Citra dan reputasi perusahaan beserta produk-produknya
dimata para pelanggannya dan masyarakat konsumen.
Sedangkan menurut Tunggal (2000), kelompok pengukuran
dalam perspektif pelanggan terdiri atas :
Bukti langsung/Direct Evidence
Keandalan/Capability
Jaminan/Guaranty
Daya Tanggap/Attention
Empati/Trust
b) Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan
Kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan
215
dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan
adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan
dengan harapan. Kepuasan pelanggan sepenuhnya dapat
dibedakan pada tiga taraf, yaitu:
1) Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar pelanggan, contoh:
Restoran A menunjukan jenis makanan yang disukai
seseorang pelanggan. Ia menanyakan bahan, berapa
harganya, kemudian lihat dan kemudian di beli
2) Memenuhi harapan pelanggan dengan cara yang dapat
membuat mereka akan kembali lagi. Contoh: Restoran B
menunjukan jenis makanan yang disukai seorang
pelanggan. Ia menunjukan juga jenis makanan lain yang
mungkin disukai, dijelaskan kelebihannya, kemudian di
jelaskan bahan-bahannya, berapa harganya dikemudian
dilihat dan kemudian di beli. Dan ditanyakan apakah mau
dimakan di restoran atau di bungkus, bahkan bisa dipesan
dan diantarkan di tempat tujuan.
3) Melakukan lebih daripada apa yang diharapkan pelanggan.
Contoh: Restoran C (selain seperti restoran B), juga
dijelaskan berbagai jenis makanan lain dan perbedaan dari
masing-masing jenis makanan ini , berbagai jenis
minuman pun ditawarkan dengan berbagai rasa dan harga
yang berbeda. Setelah itu ditanyakan di makan di restoran
atau dibungkus, jika dimanakan direstoran maka pelayan
akan melayani pembeli tapi jika dibungkus akan diserahkan
makanan atau minuman ini sambil tersenyum serta
mengucapkan terima kasih.
14.3.3. Perspektif Proses Bisnis Internal
Menurut Kaplan dan Norton (2000:80), dalam proses bisnis
internal, manajer harus bisa mengidentifikasi proses internal yang
penting dimana perusahaan diharuskan melakukan dengan baik karena
proses internal ini mempunyai nilai-nilai yang diinginkan
216
konsumen dan dapat memberikan pengembalian yang diharapkan oleh
para pemegang saham. Dalam Balanced scorecard, manajemen
diharapkan menentukan proses bisnis yang lengkap dari awal sampai
akhir, dari proses inovasi, proses operasi sampai dengan pelayanan
purna jual.
Rantai Nilai Proses Bisnis Internal
Dalam perspektif proses bisnis internal, terdapat suatu
rangkaian proses tertentu untuk mencapai nilai bagi pelanggan serta
memberikan hasil finansial yang baik. Model ini terdiri dari tiga proses
bisnis utama, yaitu :
Proses Inovasi: Proses inovasi merupakan “gelombang”
penciptaan nilai dimana perusahaan pertama kali menemukan
dan mengembangkan pasar baru
Proses ini terdiri dari dua komponen, yaitu para manajer
melaksanakan penelitian pasar untuk mengenali ukuran pasar,
bentuk preferensi pelanggan, dan tingkat harga produk dan jasa
sasaran. Yang kedua yaitu memenuhi kebutuhan pelanggan,
memiliki informasi yang akurat dan dapat diandalkan untuk
membayangkan peluang dan pasar baru bagi produk dan jasa
yang dapat disediakan perusahaan.
Proses Operasi: Tahapan ini merupakan tahapan dimana
perusahaan berupaya untuk memberikan solusi kepada para
pelanggan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
pelanggan.
Proses Layanan Purna Penjualan: Dalam proses ini,
perusahaan menyediakan layanan bagi pelanggan setelah
produk dan jasanya diserahkan kepada pelanggan. Dalam hal
ini, pelayanan purna jual suatu restoran adalah dengan
memberikan keuntungan ekstra kepada pelanggan seperti
contoh memberikan cenderamata yang melambangkan ciri
khas restoran ini bagi pelanggan.
217
14.3.4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perspektif keempat dalam balanced scorecard mengembangkan
pengukuran dan tujuan untuk mendorong organisasi agar berjalan dan
tumbuh. Tujuan dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan adalah
menyediakan infrastruktur untuk mendukung pencapaian tiga
perspektif sebelumnya. Perspektif keuangan, pelanggan dan sasaran
dari proses bisnis internal dapat mengungkapkan kesenjangan antara
kemampuan yang ada dari orang, sistem dan prosedur dengan apa
yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kinerja yang handal. Untuk
memperkecil kesenjangan ini perusahaan harus melakukan
investasi dalam bentuk reskilling employes. Adapun faktor-faktor yang
harus diperhatikan adalah (Kaplan dan Norton, 2006):
1) Karyawan: hal yang perlu ditinjau adalah kepuasan karyawan
dan produktivitas kerja karyawan. Untuk mengetahui tingkat
kepuasan karyawan perusahaan perlu melakukan survei secara
reguler. Beberapa elemen kepuasan karyawan adalah
keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pengakuan, akses
untuk memperoleh informasi, dorongan untuk melakukan
kreativitas dan inisiatif serta dukungan dari atasan.
Produktivitas kerja merupakan hasil dari pengaruh agregat
peningkatan keahlian moral, inovasi, perbaikan proses internal
dan tingkat kepuasan konsumen. Dalam menilai produktivitas
kerja setiap karyawan dibutuhkan pemantauan secara terus
menerus.
Norton dan Kaplan (2000) meyebutkan adanya tiga
pengukuran sebagai faktor pendorong pada perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan karyawan yaitu :
Kepuasan Karyawan: tujuan kepuasan karyawan
menyatakan bahwa moral karyawan dan kepuasan kerja
berpengaruh bagi peningkatan produktivitas, daya tanggap,
mutu, dan layanan terhadap pelanggan, dimana juga
sebagai pendorong pada kedua pengukuran lainnya. Oleh
karena itu, perusahaan yang ingin mendapatkan tingkat
218
kepuasan pelanggan yang tinggi perlu memiliki pelanggan
yang dilayani oleh karyawan yang terpuaskan oleh
perusahaan.
Retensi Karyawan: bertujuan untuk mempertahankan
selama mungkin para karyawan yang diminati perusahaan
karena mereka merupakan modal intelektual khusus
organisasi dan merupakan aktiva non keuangan yang
bernilai bagi perusahaan. Retensi karyawan diukur dengan
presentasi Labour turn over tiap tahunnya.
Produktivitas Karyawan: merupakan suatu ukuran hasil,
dampak keseluruhan usaha peningkatan moral dan keahlian
pekerja,inovasi, proses internal, dan kepuasan pelanggan.
Tujuannya adalah membandingkan keluaran yang
dihasilkan oleh para pekerja dengan jumlah pekerja yang
dikerahkan untuk menghasilkan keluaran ini .
2) Kemampuan Sistem Informasi
Perusahaan perlu memiliki prosedur informasi yang mudah
dipahami dan mudah dijalankan. Tolok ukur yang sering
digunakan adalah bahwa informasi yang dibutuhkan mudah
didapatkan, tepat dan tidak memerlukan waktu lama untuk
mendapat informasi ini .
14.3.5. Pengukuran Tingkat Kepuasan Karyawan
Tunggal (2002) menyebutkan dua metode untuk mengukur
kepuasan karyawan, yaitu:
1) Metode angka nilai global tunggal (single global rating) yaitu
dengan cara meminta individu untuk menjawab semua
pertanyaan, kemudian responden memilih salah satu jawaban
dari sangat puas sampai dengan sangat tidak puas.
2) Metode skor penjumlahan (summation score) yaitu dengan cara
mengenali semua unsure utama kerja dan menanyakan
perasaan karyawan mengenai setiap unsur ini . Tiap – tiap
219
skor dinilai dan kemudian dijumlahkan untuk menciptakan
skor kepuasan kerja secara keseluruhan.
Faktor–faktor yang mempengaruhi kepuasan karyawan
menurut Herzberg (2002) yaitu:
1) Motivator Factor: berhubungan dengan aspek – aspek yang
terkandung dalam pekerjaan itu sendiri, atau disebut juga aspek
intrinsik. Yang termasuk didalamnya yaitu:
A. Achievement, yaitu keberhasilan menyelesaikan tugas
B. Recognition, yaitu penghargaan
C. Work it self, yaitu pekerjaan itu sendiri
D. Responsibility, yaitu tanggung jawab kerja
E. Possibility of growth, yaitu kemungkinan untuk
mengembangkan diri
F. Advancement, yaitu kesempatan untuk maju
2) Hygience Factor: merupakan faktor – faktor yang berada di
sekitar pelaksanaan pekerjaan, merupakan aspek ekstrinsik
karyawan. Termasuk di dalamnya yaitu:
a) Working condition, yaitu keadaan tempat kerja
b) Interpersonal relation, yaitu hubungan antar pribadi
c) Company policy and administration, yaitu kebijakan
perusahaan dan pelaksanaannya
d) Supervision technical, yaitu cara pengawasan
e) Job security, yaitu perasaan aman dalam bekerja











.jpeg)
