Tampilkan postingan dengan label LPG 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LPG 1. Tampilkan semua postingan

LPG 1

 




LPG 


Badan Standardisasi Nasional (BSN) yaitu  Lembaga 

Pemerintah Non Departemen (LPND) yang 

mempunyai tugas pokok mengembangkan dan 

membina kegiatan standardisasi di Indonesia. Dalam 

melaksanakan tugasnya, BSN berpedoman pada 

Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000 tentang 

Standardisasi Nasional.  

 

Salah satu kegiatan BSN yaitu  merumuskan Standar 

Nasional Indonesia (SNI) melalui suatu Panitia Teknis 

dengan melibatkan para ahli sesuai dengan 

bidangnya, dengan memenuhi sejumlah norma, yakni: 

(a) terbuka bagi semua pemangku kepentingan yang 

berkeinginan untuk terlibat; (b) transparan agar semua 

pemangku kepentingan dapat dengan mudah 

memperoleh semua informasi yang berkaitan dengan 

pengembangan SNI; (c) tidak memihak dan 

konsensus agar semua pemangku kepentingan dapat 

menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara 

adil; (d) efektif karena memperhatikan kebutuhan 

pasar dan peraturan perundang-undangan yang 

berlaku; (e) koheren dengan pengembangan standar 

internasional untuk memperlancar perdagangan 

internasional; dan (f) berdimensi pembangunan yakni 

memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan 

nasional dalam meningkatkan daya saing 

perekonomian nasional. 

 

Pada dasarnya, penerapan SNI bersifat sukarela, 

namun SNI dapat diberlakukan secara wajib oleh 

instansi teknis/regulator yang sesuai ruang lingkupnya 

apabila menyangkut aspek keamanan, keselamatan, 

kesehatan dan fungsi lingkungan hidup. 

 

Untuk memudahkan penggunaan SNI dan akses 

publik yang lebih luas lagi, BSN mengkompilasi SNI 

dengan topik tertentu kedalam format handbook. 

 

Pada awal tahun 2007, pemerintah meluncurkan program konversi minyak tanah ke 

Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang bertujuan untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar 

Minyak (BBM) dengan mengalihkan ketergantungan masyarakat  terhadap penggunaan 

energi minyak tanah. Penggunaan LPG memiliki banyak keuntungan bagi berbagai pihak. 

Secara teori, penggunaan bahan bakar gas memang lebih hemat dibandingkan dengan 

minyak tanah, pemakaian minyak tanah satu (1) liter setara dengan setiap pemakaian 0,57 

kg LPG. Dengan kalkulasi demikian, bagi pemerintah besarnya subsidi BBM yang diberikan 

kepada masyarakat akan lebih kecil bila masyarakat menggunakan LPG dibanding bila 

menggunakan minyak tanah.  Sebagai ilustrasi, jika kebutuhan LPG isi tiga (3) kg untuk satu 

keluarga selama sebulan yaitu  empat tabung, sementara harga per tabung ukuran 3 kg 

yang beredar di pasaran yaitu  Rp 14.000,-, maka dalam sebulan dana yang dibelanjakan 

yaitu  hanya Rp 56.000,-. Tetapi apabila menggunakan minyak tanah, diperlukan 30 liter 

sebulan dengan harga yang beredar di pasar saat ini Rp 8.000,- per liter, maka dalam 

sebulan dana yang diperlukan sebesar Rp.240.000,-. Keuntungan lainnya, LPG juga 

menghasilkan panas lebih tinggi sehingga masakan menjadi lebih cepat  matang, hemat 

pemakaian dan hemat waktu. Selain itu, gas buang LPG rendah emisi sehingga tidak 

menimbulkan polusi udara dan asap.  

 

Sampai akhir tahun 2008, program konversi LPG telah menjangkau 15 juta rumah tangga 

dan industri kecil yang menggunakan gas LPG di wilayah Jawa, Bali dan Sumatera Selatan. 

Dengan pencapaian ini  subsidi BBM dapat dihemat sebesar Rp 5,32 triliun, dan pada 

tahun 2009 diharapkan penghematan mencapai Rp 7,25 triliun. Untuk merealisasikan 

penghematan ini , pihak Pertamina akan mengoperasikan lagi beberapa terminal LPG 

dan menambah infrastruktur untuk mendukung distribusi LPG. 

 

Program  konversi LPG membawa dampak positif bagi industri dalam negeri antara lain 

adanya peluang baru untuk berbisnis tabung LPG tiga (3) kg, kompor gas, selang karet 

untuk kompor gas LPG, katup tabung, regulator untuk tabung LPG,  distribusi isi ulang LPG 

tiga (3) kg dan stasiun pengisian LPG tiga (3) kg.  

 

Pelaksanaan program konversi LPG memerlukan standar sebagai acuan mutu kompor gas 

dan kelengkapannya. Berkaitan dengan itu, pada tanggal 2 Nopember 2007 BSN melalui 

surat Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) No. 99/KEP/BSN/11/2007 

telah menetapkan empat (4) Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai kompor gas dan 

kelengkapannya, yaitu SNI 1452:2007 Tabung baja LPG; SNI 1591:2007 Katup tabung baja 

LPG; SNI 7368:2007 Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik 

mekanik; dan SNI 7369:2007 Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG, dan 

menetapkan SNI 06-7213-2006, Selang karet kompor gas LPG dan amandemennya. Pada 

tahun 2008, SNI 1591:2007 dan SNI 7369: 2007 direvisi menjadi SNI 1591:2008 dan SNI 


 

Standar yang terkait dengan kompor gas dan kelengkapannya telah diberlakukan secara 

wajib melalui Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No.: 85/M-

IND/PER/11/2008 Tanggal 14 Nopember 2008 tentang Pemberlakuan SNI terhadap lima (5) 

produk industri. Pemberlakukan SNI wajib ini bertujuan menciptakan iklim usaha yang 

kondusif, persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen dengan produk yang 

aman berkualitas. 

 

Dengan diberlakukannya SNI wajib ini setiap produsen kompor gas dan kelengkapannya 

harus menerapkan SNI pada produknya, yaitu dengan memberikan bukti kesesuaian 

produknya dengan cara memiliki sertifikat dan atau tanda SNI.  Penerapan SNI yang 

diadopsi menjadi regulasi teknis pada produk berlaku untuk seluruh produk yang diproduksi 

di Indonesia maupun produk-produk impor.   

 

Dalam rangka penerapan standar wajib,  perlu adanya pengawasan untuk memastikan 

terpenuhinya  standar produk yang dibuat oleh produsen. Departemen Perindustrian telah 

menunjuk sejumlah Petugas Pengawas Standar Produk (PPSP) untuk melakukan 

pengawasan terhadap produsen kompor gas dan kelengkapannya.  

 

Handbook Kompor Gas dan Kelengkapannya diharapkan dapat menjadi referensi bagi 

pemerintah dalam proses pengadaan barang/jasa, serta bagi industri dan masyarakat umum 

sebagai acuan untuk jaminan mutu kompor gas dan kelengkapannya. Handbook ini 

sekaligus merupakan salah satu upaya BSN untuk penyebarluasan informasi SNI yang perlu 

diketahui oleh pemangku kepentingan. 

 

 

 

Handbook SNI ini memuat fulltext SNI yang berkaitan dengan Kompor gas dan 

kelengkapannya untuk memberikan referensi yang praktis dan lengkap bagi pengguna.  

Handbook ini menggunakan format A5, sedangkan dokumen SNI asli menggunakan format 

A4. 

 

Seluruh standar yang dimuat dalam publikasi ini beserta acuan normatif maupun 

referensinya dapat diperoleh di Perpustakaan BSN dengan memanfaatkan layanan informasi 

standardisasi serta memperhatikan ketentuan perlindungan hak cipta yang berlaku. 

 

Standar merupakan dokumen yang bersifat dinamis dan terus berkembang sesuai tuntutan 

perkembangan ilmu dan teknologi serta permasalahan teknis yang muncul.  Untuk 

memelihara keterkiniannya, SNI dikaji ulang oleh Panitia Teknis minimal sekali dalam lima 

tahun, sehingga SNI dapat mengalami revisi, amandemen atau abolisi.  Disarankan kepada 

pengguna untuk selalu menggunakan SNI edisi terbaru. 

 

Untuk menjamin bahwa SNI yang digunakan yaitu  edisi terbaru, pengguna sebaiknya 

secara berkala mengakses www.bsn.go.id atau melakukan konfirmasi langsung melalui 

telepon 021-5747043-44 atau e-mail ke dokinfo@bsn.or.id   

  

 

 

Handbook ini  merupakan kumpulan SNI yang terkait dengan kompor gas dan kelengkapan-

nya yang terdiri dari: 

 

SNI 7368:2007  Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik 

mekanik  

SNI 1452:2007  Tabung baja LPG 

SNI 1591:2008  Katup tabung baja LPG 

SNI 7369:2008  Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG 

SNI 06-7213-2006  Selang karet untuk kompor gas LPG dan amandemennya 

 

Kompor gas bahan bakar Liquefied Petroleum Gas (LPG) satu tungku dengan sistem 

pemantik mekanik merupakan kompor gas yang hanya memiliki satu dudukan (grid) tempat 

memasak, sedang sistem pemantik mekanik yaitu  sistem pemantik api yang bekerja 

secara mekanik. Dipersyaratkan, bahan yang digunakan secara konstruksi dan daya guna 

tidak mengalami perubahan saat digunakan, secara visual tidak penyok, melenting, dan 

daya api masih biru.  Kompor tidak boleh bocor, dan pembakaran (burn) harus ditempatkan 

dengan baik sehingga dapat menghindari tertutupnya lubang api pada pembakaran. 

 

Kompor gas dilengkapi tabung baja LPG, yakni tabung bertekanan yang dibuat dari plat baja 

karbon canai panas, digunakan untuk menyimpan gas LPG dengan kapasitas pengisian 

antara 3 kg hingga 50 kg dan memiliki tekanan rancang bangun  minimum 18,6 kg/cm2. 

Tabung gas LPG diklasifikasikan menjadi 2 konstruksi, pertama tabung dengan konstruksi 2 

bagian dengan kapasitas isi  3 kg - 15 kg, kedua tabung dengan konstruksi 3 bagian dengan 

kapasitas di atas 15 kg sampai maksimal 50 kg. Tabung terdiri dari badan tabung, cincin 

leher, pegangan tangan, dan cincin kaki. Syarat mutu yang ditetapkan mencakup aspek sifat 

tampak, dimensi, ketahanan hidrostatis, sifat kedap udara, ketahanan pecah, ketahanan 

ekspansi volume tetap, sambungan las, dan pengecatan tabung baja. 

 

Katup tabung baja LPG terbagi dalam 2 jenis, yaitu quik-on dan katup handwheel.  

Persyaratan yang ditetapkan untuk komponen dan mutu katub tabung baja meliputi sifat 

tampak, sifat ketahanan, pneumatic, hidrostatik, ketahanan hidrokarbon, kelenturan dan 

pengusangan (ageing). Cara uji yang ditetapkan mencakup uji bahan, uji tampak, uji 

ketahanan, pneumatic, hidrostatik, hidrakarbon, lentur, pengusangan dan uji dimensi. 

 

Perlengkapan lain untuk tabung gas LPG yaitu  regulator LPG bertekanan rendah sistem 

pengancing untuk tabung baja LPG kapasitas 3 kg -12 kg. Bahan baku regulator  meliputi 

paduan Zn, kuningan (brass), karet, plastik.. Syarat mutunya mencakup persyaratan untuk 

bunyi dan getaran, tekanan keluar, tekanan pengaman (look-up), ketahanan jatuh, daya 

vii 

 

ketahanan kunci pemutar, ketahanan, suhu, kebocoran dan ketahanan komponen bahan 

karet.  

 

Selang karet  merupakan kelengkapan agar kompor gas LPG dapat berfungsi. Standar 

mengenai selang karet menetapkan syarat mutu, pengambilan contoh, dan cara uji yang 

meliputi persiapan contoh uji, dimensi dan toleransi, tegangan putus, keusangan dipercepat, 

kekuatan rekat, (adhesion strength), ketahanan ozon, ketahanan letup (bursting pressure), 

ketahanan terhadap pentane dan uji pembakaran. 

 

Setiap produk kompor dan kelengkapannya harus mencantumkan informasi antara lain 

mengenai kode produksi, tipe produk, tanggal produksi, nomor SNI kompor gas dan 

kelengkapannya, sedangkan kemasannya harus memuat informasi nama dan alamat 

produsen, merek dagang, peringatan-peringatan, tanggal produksi, dll., serta dilengkapi   

petunjuk pemasangan kompor gas dan kelengkapan lainnya. 


 


 

1 Ruang lingkup 

 

         Standar ini meliputi istilah dan definisi, dimensi, syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, 

syarat lulus uji, pengemasan dan penandaan selang karet untuk kompor gas LPG. 

Standar ini khusus untuk selang karet lentur yang digunakan sebagai saluran gas LPG dari 

tabung ke kompor gas untuk keperluan rumah tangga. 

 

 

2 Acuan normatif 

 

SNI  19-0428-1989, Petunjuk pengambilan contoh padatan. 

SNI 06–6314–2000, Penentuan dimensi potongan uji dari karet vulkanisat, karet termoplastik 

dan barang jadi karet untuk keperluan pengujian. 

SNI 06–4966–1999, Penentuan sifat–sifat tegangan dan regangan dari karet vulkanisat dan 

karet termoplastik. 

SNI 06–6315–2000, Pengujian keusangan yang dipercepat atau ketahanan panas dari karet 

vulkanisat. 

ISO 1307:1992, Rubber and plastics hoses for general purpose industrial application – Bore 

diameters and tolerances, tolerances on length and test pressures.   

ISO 36:1969, Determination of the adhesion strength of vulcanized rubbers to textile fabrics. 

ISO 6133:1981, Rubber and plastics – Analysis of multi-peaks traces obtained in 

determinations of tear strength and adhesion strength. 

ISO 1402:1984, Rubber and plastics hoses and hose assemblies – Hydrostatic testing.  

SNI 06–4894–1998, Ketahanan karet vulkanisat atau karet termoplastik terhadap keretakan 

oleh ozon. 

ISO 1817:1985, Rubber, vulcanized  – Determination of the effect of liquid  

DIN EN 559–1994, Gas welding equipment – Rubber hoses for welding, cutting and allied 

processes. 

ASTM D 3767-1997, Standard Practice for Rubber-Measurement of Dimensions. 

 

 

3 Istilah dan definisi 

 

3.1 

selang karet untuk kompor gas LPG  

selang karet lentur yang digunakan untuk mengalirkan gas LPG  ke kompor gas untuk 

keperluan rumah tangga 

 

3.2 

gas LPG 

gas hasil pemampatan minyak bumi dengan komponen utama propana (C3H8) yang 

dipasarkan dalam tabung logam bertekanan 3 kg/cm2 - 5 kg/cm2 

5

SNI 06-7213-2006 

 

2 dari 11 

3.3 

lapisan karet bagian dalam (lining)  

bagian yang bersinggungan langsung dengan benda alir (fluida) 

3.4 

lapisan karet bagian luar (cover)  

bagian yang berhubungan langsung dengan udara sekitar 

 

3.5 

Pphm (part per hundred million)   

satuan kepekatan ozon yang digunakan untuk pengujian ketahanan karet terhadap ozon 

 

3.6 

ketahanan letup (bursting pressure)  

besarnya tekanan yang diperlukan untuk memampatkan contoh selang  sampai meletup 

 

3.7 

tekanan kerja (working pressure)  

besarnya tekanan yang diterima oleh selang pada saat digunakan untuk mengalirkan gas 

LPG dari tabung ke kompor gas 

 

 

4 Syarat mutu 

 

Syarat mutu selang karet untuk kompor gas LPG  tertera dalam Tabel 1 berikut. 

 

Tabel 1    Syarat mutu selang karet untuk kompor gas LPG 

 

No Uraian Satuan Persyaratan 

1. 

 

 

 

2. 

 

 

 

3. 

 

 

 

4. 

 

 

 

5. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uji visual : 

- Penampilan 

- Warna selang  

 

Dimensi 

-  Diameter lubang 

-  Panjang 

 

Tegangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

Perpanjangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

Pengusangan pada suhu  

1000 C, selama 72 jam 

Nilai setelah pengusangan : 

Tegangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

Perpanjangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

 

mm 

 

 

 

kg/cm2 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kg/cm2 

 

 

 

 

 

Tidak cacat 

Orange 

 

 

10 ± 0,75 

1800 ± 18 s/d 

2500 ± 25 

 

Min. 50 

Min. 45 

 

 

200 

250 

 

 

 

 

 

Min. 37,5 

Min. 34,0 

 

 

Min 100 

Min 125 

6

SNI 06-7213-2006 

 

 3 dari 11 

 

Tabel 1    (lanjutan) 

 

No Uraian Satuan Persyaratan 

6. 

 

 

 

 

7. 

 

 

8. 

 

 

 

9. 

 

 

 

 

 

10. 

Kekuatan rekat (Adhesion 

Strength) 

- Antara bagian dalam 

dengan bagian luar 

 

Ketahanan letup (bursting 

pressure) 

 

Ketahanan terhadap ozon, 50 

pphm, 20 % regangan 400 C, 

selama 72 jam 

 

Ketahanan terhadap pentana,  

72 jam, suhu kamar. 

- Cairan pentana terserap 

- Bahan terekstrak oleh 

pentana 

 

Uji pembakaran, 3600 C – 

3650 C, 2 menit 

- Bagian dalam (lining) 

kg/cm 

 

 

 

 

mPa 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Min 1,5 

 

 

Min 2,0  

 

 

Tidak retak  

 

 

 

 

 

Maks. 15 

Maks. 10 

 

 

 

 

Tidak terbakar 

 

 

5 Pengambilan contoh 

 

Contoh diambil secara acak dengan jumlah sesuai pada Tabel 2. 

 

Tabel 2    Cara pengambilan contoh 

 

No Produksi (buah) Jumlah contoh (buah) 

1 Kurang dari 100 5 

2 101 s/d 500 10 

3 501 s/d 1000 15 

4 Lebih dari 1000 20 

 

 

6 Cara uji  

 

6.1    Persiapan contoh uji 

 

Persiapan contoh uji sesuai dengan SNI 06–6314–2000, Penentuan dimensi potongan uji 

dari karet vulkanisat, karet termoplastik dan barang jadi karet untuk keperluan pengujian. 

7

SNI 06-7213-2006 

 

4 dari 11 

 

6.2    Dimensi dan toleransi 

 

Cara uji dimensi dan toleransi sesuai dengan ASTM D 3767 – 1997 dan ISO 1307:1992. 

Prosedur ini ditujukan untuk mengukur diameter dalam dan keliling contoh uji untuk 

pengujian fisika dengan menggunakan sebuah kerucut berskala atau disebut tapered plug 

gage. Alat ini dibuat berskala  sehingga mampu mengukur variasi diameter 1mm. 

 

Cara kerja : 

a) Masukkan kerucut berskala kedalam contoh sedemikian sehingga rapat namun tidak 

terjadi distorsi.  

b) Baca skala tepat pada bagian yang kontak dengan lingkaran dalam potongan uji. 

c) Catat nilai diameter sesuai penunjukan skala dalam mm.  

 

6.3    Tegangan putus 

 

Cara uji tegangan putus sesuai dengan SNI 06-4966-1999, Penentuan sifat – sifat tegangan 

dan regangan dari karet vulkanisat dan karet termoplastik 

 

6.4    Perpanjangan putus 

 

Cara uji perpanjangan putus sesuai dengan SNI 06-4966-1999, Penentuan sifat – sifat 

tegangan dan regangan dari karet vulkanisat dan karet termoplastik 

 

6.5    Keusangan dipercepat 

 

Cara uji keusangan dipercepat atau ketahanan panas sesuai dengan SNI 06-6315-2000, 

Pengujian keusangan yang dipercepat atau ketahanan panas dari karet vulkanisat 

 

6.6    Kekuatan rekat (Adhesion strength)  

 

Cara uji kekuatan rekat sesuai dengan ISO 36:1969 dan  ISO 6133:1981. Kekuatan rekat 

kanvas diukur dengan cara tarikan (stripping) beban yang diperlukan untuk memisahkan dua 

lapisan kanvas yang direkatkan dengan karet, atau lapisan karet dengan lapisan kanvas. 

 

6.6.1    Peralatan 

 

- Mesin penarik “tensometer” dengan perlengkapan pencatatan grafik. Kecepatan tarik 

diatur  50  mm /menit  ±  5 mm /menit. 

- Penjepit khusus untuk keperluan potongan uji bentuk silinder.  

 

6.6.2    Potongan uji 

 

Dua bentuk potongan uji dapat digunakan yaitu potongan uji bentuk silinder (Gambar 1) dan 

potongan uji bentuk setengah silinder (Gambar 2). 

 

- Potongan uji bentuk silinder berukuran lebar 35 mm ± 2 mm. 

- Potongan uji bentuk setengah silinder panjang 160 mm dan lebar 10 mm atau setengah 

keliling selang. 

 

 

8

SNI 06-7213-2006 

 

 5 dari 11 

 

 

 

Gambar 1    Potongan uji bentuk silinder 

 

 

 

9

SNI 06-7213-2006 

 

6 dari 11 

 

 

 

Gambar 2    Potongan uji bentuk setengah silinder 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10

SNI 06-7213-2006 

 

 7 dari 11 

6.6.3    Cara kerja 

 

a) Sebuah ujung potongan uji bentuk silinder dipisahkan lapisannya dengan tangan sampai 

± 10 mm dan dijepitkan pada mesin penarik memakai sebuah penjepit khusus dimana 

silinder potongan uji itu dapat berputar dengan posisi bagian terkelupas membentuk 

sudut 90o dengan silinder. 

b) Untuk potongan uji setengah silinder dipisahkan lapisannya sampai ± 10 mm dan 

dijepitkan pada mesin penarik dengan posisi bagian terkelupas membentuk sudut 180o 

satu dengan yang lain. 

c) Mesin dijalankan sampai potongan uji tertarik lepas.  

 

6.6.4    Perhitungan 

 

Pencatat grafik menunjukkan gambar sebagai berikut. 

 

 

Gambar 3    Evaluasi grafik kekuatan rekat 

 

 

Dari beberapa nilai puncak grafik kekuatan rekat yang tergambar ditentukan nilai tengah dan 

rentang nilainya yang diambil dari 80% area dibagian tengah grafik. Nilai ini   

merupakan kekuatan rekat kanvas yang dinyatakan dengan kg/ cm. 

 

6.7  Ketahanan letup (bursting pressure) 

 

Cara uji ketahanan letup (bursting pressure) sesuai dengan ISO 1402:1984, Rubber and 

plastics hoses and hose assemblies – Hydrostatic testing.  

 

6.7.1  Peralatan 

 

Sebuah pompa angin (kompresor) yang dilengkapi dengan sebuah manometer untuk 

mengukur tekanan dengan kg/cm² atau atmosfir.  

 

6.7.2  Potongan uji 

 

Potongan uji berupa sepotong selang gas LPG dengan diameter tertentu. 

11

SNI 06-7213-2006 

 

8 dari 11 

6.7.3    Cara kerja  

 

a) Potongan uji berupa sepotong selang gas LPG dihubungkan satu ujung pada pipa yang 

terhubung dengan aliran air dan pompa angin (kompresor), dan ujung lainnya diikat erat 

pada sebuah penutup berupa logam pejal. 

b) Keran air dibuka sampai beberapa saat dan setelah itu keran udara juga dibuka sampai 

potongan uji meletup.  

c) Tekanan udara waktu potongan uji meletup dicatat. 

  

6.7.4    Hasil uji 

 

Hasil uji diperoleh dari perhitungan rata-rata dua kali pengujian yang dinyatakan dengan 

kg/cm². 

 

6.8    Ketahanan ozon 

 

Cara uji ketahanan ozon sesuai dengan SNI 06 – 4894 – 1998, Ketahanan karet vulkanisat 

atau karet termoplastik terhadap keretakan oleh ozon 

 

6.9    Ketahanan terhadap pentana 

 

Cara uji ketahanan terhadap pentana sesuai dengan ISO 1817:1985, Rubber,                   

vulcanized –Determination of the effect of liquid  

 

6.9.1    Cara kerja 

 

a) Timbang sepotong kecil selang bagian dalam (lining) dan selanjutnya direndam didalam 

cairan pentana p.a. pada suhu kamar selama 72 jam. Volume cairan pentana sekurang– 

kurangnya 50 kali dari volume contoh.  

b) Ambil contoh yang telah direndam, biarkan di udara selama 5 menit lalu ditimbang dan 

setelah 24 jam berikutnya ditimbang lagi. 

 

6.9.2    Perhitungan 

 

Jumlah cairan pentana terserap dan jumlah bahan terekstrak oleh pentana dapat dihitung 

dengan rumus berikut: 

- Prosentase pentana terserap:   

 

×

 

 

- Prosentase bahan terekstrak  :  

 

×

 

 

Keterangan:  

M0  yaitu  berat awal contoh;  

M1   yaitu  berat contoh setelah direndam dan dibiarkan selama 5 menit di udara; 

M2   yaitu  berat contoh setelah direndam dan dibiarkan selama 24 jam di udara. 

 

 

 

12

SNI 06-7213-2006 

 

 9 dari 11 

6.10   Uji pembakaran 

 

Cara uji pembakaran sesuai dengan DIN EN 559–1994, Gas welding equipment – Rubber 

hoses for welding, cutting and allied processes. 

 

6.10.1    Peralatan 

 

Peralatan ditunjukkan pada Gambar 4, diperlukan bersama-sama dengan peralatan berikut: 

- Tungku pemanasan: 350 watt, ukuran bagian dalam diameter 50 mm, dan kedalaman 

150 mm; 

- Auto transformer dengan output voltase bervariasi; 

- Flow meter untuk gas oksigen kecepatan alir 0 l/menit – 5 l/menit pada suhu 15oC dan 

tekanan atmosfer;  

- Termometer  pengukur suhu 300 oC - 400 oC dengan interval suhu 5 oC. 

 

6.10.2   Cara kerja 

 

a) Masukkan alat uji bakar dengan dibungkus kertas aluminium foil kedalam tungku listrik. 

Suplai energi diatur dengan auto transformer sehingga diperoleh suhu tetap antara     

360 oC – 365 oC dengan aliran oksigen 2 liter / menit ± 0,1 liter / menit. 

b) Contoh bagian dalam selang (lining) dipotong berbentuk balok berukuran                   

8 mm2  – 10 mm2  dengan tebal antara 1,3 mm – 2,5 mm. 

c) Pada saat tungku telah mencapai suhu konstan keluarkan pemegang contoh dan 

tusukkan potongan contoh pada kawat wolfram dan masukkan kembali pemegang 

contoh kedalam alat. Kerjakan dengan cepat untuk meminimumkan penurunan suhu 

tungku. 

d) Tahan contoh selama dua menit dan selama periode ini  diamati apakah terjadi 

pembakaran. Pembakaran terjadi bila terlihat nyala api yang kadang – kadang disertai 

oleh letupan kecil. 

e) Ulangi percobaan tiga kali berturut turut. 

  

6.10.3    Pelaporan 

 

Contoh dinyatakan lulus uji bila selama 2 (dua) menit tidak terbakar. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13

SNI 06-7213-2006 

 

10 dari 11 

 

 

Keterangan: 

1. Outlet oksigen 

2. Packing tahan panas 

3. Thermometer 

4. Lubang tempat kawat pemegang contoh 

5. Joint ukuran 14/23 inci 

6. Inlet oksigen 

7. Kertas aluminium 

8. Kawat wolfram berukuran diameter 0,7 mm dan panjang 20 mm ± 0,5 mm 

 

 

Gambar 4    Alat untuk uji bakar  bagian dalam (lining) selang kompor gas 

 

 

 

7 Syarat lulus uji 

 

Produk dinyatakan lulus uji bila memenuhi persyaratan mutu pada butir 4. 

 

 

8 Pengemasan 

 

Selang karet untuk kompor gas LPG dikemas sedemikian rupa, sehingga aman selama 

transportasi dan penyimpanan. 

 

14

SNI 06-7213-2006 

 

 11 dari 11 

 

9 Penandaan  

 

9.1  Sekurang-kurangnya pada setiap panjang 1 meter selang karet untuk kompor gas LPG 

yang diperdagangkan harus dicantumkan: 

 

a) tekanan kerja maksimum 0,5 mPa;  

b) nominal ukuran lubang dalam mm; 

c) merek produsen; 

d) bulan, tahun dan kode produksi. 

 

9.2   Pada setiap kemasan sekurang-kurangnya harus dicantumkan: 

 

e) bulan, tahun dan kode produksi; 

f) jumlah dan berat barang; 

g) nama dagang; 

h) negara pembuat. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN

Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4

Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270

Telp: 021- 5747043; Faks: 021- 5747045; e-mail : bsn@bsn.go.id

16

SNI 06-7213-2006/Amd1:2008 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selang karet untuk kompor gas LPG  

 

AMANDEMEN 1  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ICS  83.140.40 

 

 

 

 

Badan Standardisasi Nasional  

 

17

18

SNI 06-7213-2006/Amd1:2008 

Prakata 

 

 

 

Dokumen ini merupakan Amandemen 1 (satu) dari Standar Nasional Indonesia (SNI) Selang 

Karet untuk kompor gas LPG. 

 

Amandemen ini meliputi persyaratan warna selang dan perbaikan penulisan satuan tekanan.  

 

Amandemen ini telah disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 8 Mei 2008, yang dihadiri oleh 

wakil dari produsen, konsumen, regulator, pakar dan institusi terkait lainnya, dan selanjutnya 

diusulkan oleh Panitia Teknis 83-01, Industri Karet dan Plastik pada tanggal 2 Juni 2008 untuk 

ditetapkan menjadi amandemen pertama dari SNI ini. 

 

 

 

19

20

SNI 06-7213-2006/Amd1:2008 

1 dari 2 

Selang karet untuk kompor gas LPG  

 

AMANDEMEN 1 

 

 

Amandemen meliputi: 

 

1. Halaman 2 dari 11 

1.1  Butir 4 Syarat mutu, dalam Tabel 1; Nomor 1: Parameter Uji visual, warna selang 

yang semula disyaratkan berwarna orange, menjadi tidak dipersyaratkan. 

1.2  Butir 4 Syarat mutu, dalam Tabel 1; Nomor 4: Parameter Perpanjangan putus, yang 

semula disyaratkan: 

 - Bagian dalam (lining) yaitu  200 %, dan 

 - Bagian luar (cover) yaitu  250 %. 

  menjadi: 

 - Bagian dalam (lining) yaitu  Minimal 200 %, dan 

 - Bagian luar (cover) yaitu  Minimal 250 %. 

 

2. Halaman 3 dari 11 

Butir 4 Syarat mutu, pada Tabel 1; Nomor 7: Parameter Ketahanan letup (bursting 

pressure), ada  perbaikan penulisan satuan ukuran semula mPa menjadi MPa. 

 

Maka Tabel 1 setelah di amandemen menjadi sebagai berikut. 

 

Tabel 1 –  Syarat mutu selang karet untuk kompor gas LPG 

 

No. 

 

 

Uraian 

 

Satuan 

 

Persyaratan 

1. 

 

Uji visual  

- Penampilan 

 

 

Tidak cacat 

2. 

 

Dimensi 

-  Diameter lubang 

-  Panjang 

mm 

 

 

10 ± 0,75 

1800 ± 18 s/d 2500 ± 25 

3. 

 

 

Tegangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

kg/cm2 

 

 

 

Min. 50  

Min. 45 

4. 

 

 

Perpanjangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

 

 

Min. 200 

Min. 250 

Pengusangan pada suhu  

1000 C, selama 72 jam 

Nilai setelah pengusangan: 

Tegangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

 

 

kg/cm2 

 

 

 

 

Min. 37,5 

Min. 34,0 

5. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perpanjangan putus 

- Bagian dalam (lining) 

- Bagian luar (cover) 

 

 

 

 

Min 100 

Min 125 

 

21

SNI 06-7213-2006/Amd1:2008 

 

2 dari 2 

Tabel 1  –   (lanjutan) 

 

 

No. 

 

 

Uraian 

 

Satuan 

 

Persyaratan 

6. 

 

 

 

Kekuatan rekat (Adhesion 

Strength) 

- Antara bagian dalam dengan 

bagian luar 

kg/cm 

 

 

 

 

 

Min 1,5 

 

7. 

 

Ketahanan letup (bursting 

pressure) 

MPa Min 2,0 

 

8. 

 

 

Ketahanan terhadap ozon, 50 

pphm, 20 % regangan 400 C, 

selama 72 jam 

 

 

 

Tidak retak 

 

9. 

 

 

 

Ketahanan terhadap pentana,   

72 jam, suhu kamar.  

- Cairan pentana terserap 

- Bahan terekstrak oleh pentana 

 

 

 

 

 

Maks. 15 

Maks. 10 

10. Uji pembakaran, 3600 C – 3650 C, 

2 menit 

- Bagian dalam (lining) 

 

 

 

 

Tidak terbakar 

 

 

 

3. Halaman 11 dari 11 

Butir 9 Penandaan, pada 9.1 a) tekanan kerja maksimum, ada  perbaikan penulisan 

satuan ukuran, semula 0,5 mPa menjadi 0,5 MPa. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

22

23

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN

Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4

Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270

Telp: 021- 5747043; Faks: 021- 5747045; e-mail : bsn@bsn.go.id

24

 

 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia 

SNI 1452:2007 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabung baja LPG 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ICS 23.020.30 Badan Standardisasi Nasional

 

25

26

SNI 1452:2007 

Daftar isi 

 

 

 

Daftar isi.....................................................................................................................................i 

Prakata ..................................................................................................................................... ii 

1    Ruang lingkup.................................................................................................................... 1 

2    Acuan normatif................................................................................................................... 1 

3    Istilah dan definisi .............................................................................................................. 1 

4    Klasifikasi........................................................................................................................... 1 

5    Syarat bahan baku............................................................................................................. 2 

6    Konstruksi .......................................................................................................................... 2 

7    Cara pembuatan tabung.................................................................................................... 5 

8    Syarat mutu ....................................................................................................................... 6 

9    Pengambilan contoh.......................................................................................................... 7 

10    Cara uji ............................................................................................................................ 8 

11    Syarat lulus uji ............................................................................................................... 10 

12    Penandaan .................................................................................................................... 10 

Bibliografi ............................................................................................................................... 11 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

27

SNI 1452:2007 

ii  

Prakata 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia (SNI) Tabung baja LPG, merupakan Revisi dari SNI 19-1452-

2006, bagian yang direvisi yaitu  klasifikasi, syarat bahan baku, konstruksi, cara pembuatan 

tabung, syarat mutu, pengambilan contoh dan cara uji.  

 

SNI ini disusun berdasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 

 

− Untuk terciptanya iklim usaha yang kondusif dan persaingan usaha yang sehat serta 

terjaminnya perlindungan konsumen 

− Dengan semakin berkembangnya pola kehidupan masyarakat dewasa ini, maka 

masyarakat konsumen menuntut adanya penyediaan tabung baja LPG yang lebih aman 

dan terdiri dari beberapa macam tipe sesuai dengan selera yang berkembang pada saat 

ini. 

− Untuk memenuhi kebutuhan ini  SNI yang ada perlu direvisi  

 

Oleh karenanya dengan adanya standar ini, maka diharapkan dapat lebih menyempurnakan 

interpretasi yang ada selama ini, sehingga pada akhirnya akan dapat lebih meningkatkan 

kualitas, efisiensi produksi, penghematan biaya, jaminan mutu untuk konsumen dan 

produsen, serta menciptakan persaingan yang sehat dan menunjang program keterkaitan 

antar sektor pembangunan. 

 

Standar ini telah dibahas dalam rapat konsensus pada tanggal 4 Desember 2006 di Jakarta 

yang dihadiri oleh anggota PanitiaTeknis, wakil dari produsen, konsumen, lembaga 

perguruan tinggi, penelitian dan instansi terkait lainnya. 

 

Standar ini disusun oleh Panitia Teknis (77-01) Logam, Besi, dan Produk Baja. 

28

SNI 1452:2007 

1 dari 11 

Tabung baja LPG 

 

 

 

1    Ruang lingkup 

 

Standar ini menetapkan bentuk konstruksi, ukuran dan cara uji tabung baja LPG untuk 

kapasitas tipe 3 kg sampai dengan 50 kg. 

 

 

2    Acuan normatif 

 

SNI 07-0410-1989, Cara uji lengkung tekan logam. 

SNI 07-0408-1989, Cara uji tarik  logam. 

SNI 07-0722-1989, Baja karbon canai panas untuk konstruksi umum. 

SNI 07-3018-2006, Baja pelat, strip dan lembaran canai panas untuk tabung gas. 

SNI 05-3563-1994, Bejana tekan 1-A. 

ISO 22991:2004, Gas cylinders – Transportable refillable welded steel cylinder for liquefied 

petroleum gas (LPG) – Design and construction 

JIS G 3116-2000, Steel sheet, plate and strip for gas cylinders. 

JIS G 4051-1979, Carbon Steel for machine structural use. 

JIS G 3101: Rolled stel for general structures. 

AS 2469-1998, Steel cylinders for compresses gases-welded two-piece construction - 01 kg 

to 35 kg. 

AS 2470-1998, Steel cylinders for compresses gases-welded three-piece construction -           

11 kg to 150 kg. 

 

 

3    Istilah dan definisi 

 

3.1 

tabung baja LPG 

tabung bertekanan yang dibuat dari plat baja karbon canai panas, digunakan untuk 

menyimpan gas LPG (liquefied petroleum gas) dengan kapasitas pengisian antara 3 kg         

(7,3 liter) sampai dengan 50 kg (108 liter) dan memiliki tekanan rancang bangun minimum 

18.6  kg / cm2 

 

 

4    Klasifikasi 

 

Tabung baja LPG diklasifikasikan menjadi: 

a) Konstruksi 2 bagian (two pieces): 3 kg sampai dengan maksimal 15 kg 

b) Konstruksi 3 bagian (three pieces): diatas 15 kg sampai dengan maksimal 50 kg 

 

 

 

 

 

 

 

29

SNI 1452:2007 

2 dari 11 

5    Syarat bahan baku 

 

5.1 Badan tabung 

 

Bahan untuk badan tabung sesuai dengan SNI 07-3018-2006, Baja lembaran pelat dan 

gulungan canai panas untuk tabung gas (Bj TG) atau JIS G 3116, kelas SG 26 (SG 255),    

SG 30 (SG 295). 

 

5.2 Cincin leher (neck ring) 

 

Bahan untuk cincin leher sesuai dengan JIS G 4051 kelas S17C sampai dengan S45C. 

 

5.3 Cincin kaki (foot Ring) dan pegangan tangan (hand guard) 

 

Bahan untuk cincin kaki dan pegangan tangan sesuai dengan SNI 07-0722-1989, Baja canai 

panas untuk konstruksi umum, JIS G 3101 kelas SS400 atau sesuai dengan bahan untuk 

badan tabung yang bersangkutan. 

 

 

6    Konstruksi 

 

6.1    Konstruksi umum 

 

Tabung terdiri dari: 

a. Badan tabung terdiri dari bagian atas dan bawah (top & bottom) untuk konstruksi              

2 (dua) bagian dan untuk konstruksi 3 (tiga) bagian terdiri dari bagian atas, tengah dan 

bawah 

b. Cincin leher (neck ring) 

c. Pegangan tangan (hand guard) 

d. Cincin kaki (foot ring) 

 

 

 

 

 

Gambar 1 a   skematis bagian-bagian 

tabung untuk bentuk dua bagian (two 

pieces) 

Gambar 1 b   skematis bagian-bagian 

tabung untuk bentuk tiga bagian (three 

pieces) 

 

 

 

 

 

    

30

SNI 1452:2007 

3 dari 11 

6.2 Penentuan tebal minimum badan tabung 

 

6.2.1    Tabung konstruksi 2 (dua) bagian 

 

Tebal dinding tabung diperoleh dari perhitungan berdasarkan rumus (AS 2469-1998) 

sebagai berikut : 

 

Rumus perhitungan tebal (t) minimum yaitu : 

 

1/2

m

i

R

D

  2,5t ⎟⎟

⎜⎜

= ............................. 1) 

 

dan 

 

⎟⎟

⎜⎜

+

=

h

0h

P2f

D x P

t .................................2) 

 

 

t minimum =   t   +   CA .................3) 

 

dengan: 

t   yaitu  tebal minimum badan tabung (mm), diambil nilai terbesar hasil perhitungan 

dari rumus 1 atau 2; 

Di    yaitu  diamater dalam tabung (mm); 

D0    yaitu  diameter luar tabung (mm); 

Ph    yaitu  tekanan uji (MPa); 

f        tegangan maksimal yang dibolehkan (permissible stress), diambil 90% dari nilai Yield 

Strength material tabung yang digunakan, bila nilai f dari yield strength lebih besar 

dari 60% nilai Tensile Strength (Rm), maka nilai f yang dipergunakan yaitu               

60% Rm; 

Rm   yaitu   kuat tarik minimum (MPa) ; 

CA yaitu  Corrosion Allowance sebesar 0,01 mm pertahun dengan perhitungan umur 

pakai 5 tahun. 

 

6.2.2    Tabung konstruksi 3 (tiga) bagian  

 

Tebal dinding tabung diperoleh dari perhitungan berdasarkan rumus (AS 2470-1998) 

sebagai berikut : 

 

1/2

m

i

R

D

  2,5t ⎟⎟

⎜⎜

= .............................. ) 

 

dan 

 

⎟⎟

⎜⎜

+η

=

h

0h

P2f

D x P

t ................................5) 

 

t minimum =   t   +   CA..................6) 

 

dengan: 

31

SNI 1452:2007 

4 dari 11 

t   yaitu  tebal minimum badan tabung (mm) yang diambil dari nilai terbesar dari rumus 

4 atau 5; 

tm     yaitu  tebal minimum perhitungan; 

Di    yaitu  diamater dalam tabung (mm); 

D0    yaitu  diameter luar tabung (mm); 

Ph    yaitu  tekanan uji (MPa) ; 

f        tegangan maksimal yang dibolehkan (permissible stress), diambil 90% dari nilai Yield 

Strength material tabung yang digunakan, bila nilai f dari yield strength lebih besar 

dari 60% nilai Tensile Strength (Rm), maka nilai f yang dipergunakan yaitu  60% Rm 

η efisiensi sambungan las; 

 = 0.90, dimana dilakukan radiography secara sampling 

Rm   yaitu  kuat tarik minimum(MPa);  

CA yaitu  Corrosion Allowance sebesar 0,01 mm pertahun dengan perhitungan umur 

pakai 5 tahun. 

 

6.3 Bentuk lengkung dari bagian badan tabung 

 

Badan tabung bagian atas dan bawah berbentuk elipsoidal atau torispherical. Bentuk 

ellipsoidal memiliki rasio maksimal 2:1 terhadap diameter dalam dari tabung. Contohnya: 

ketinggian internal lengkungan yaitu  25 % dari diameter dalam dari tabung.  

Penyimpangan bentuk yang diukur tegak lurus dari permukaan hasil proses pembentukan 

(pres) terhadap pola elipsoidalnya tidak boleh melebihi 1,25 % dari diameter luar badan.  

 

Keterangan gambar: 

D1 yaitu  diameter dalam dari tabung 

Gambar 2    Contoh pola elipsoidal rasio 2 : 1 

 

 

6.4 Cincin kaki (foot ring) 

 

Cincin kaki harus mampu menopang tabung secara kokoh dan harus dapat berdiri dengan 

tegak, kemudian bentuk kaki tidak boleh menimbulkan genangan air. 

 

6.5 Pegangan tangan (hand guard) 

 

Pegangan tangan harus dapat melindungi katup (valve) apabila terjadi benturan dan harus 

kuat menahan berat dan isi tabung saat diangkat. 

 

6.6 Cincin leher (neck ring) 

 

Cincin leher yaitu  bentuk flensa berfungsi untuk memasang katup.  

 

32

SNI 1452:2007 

5 dari 11 

6.7 Tinggi tabung 

 

Tinggi tabung 2 bagian (two pieces) tidak boleh lebih dari 4 x diameter badan tabung. 

 

6.8 Penyambungan 

 

Penyambungan badan tabung bagian atas dan bawah menggunakan las cincin (welded 

circumferential joint) dengan system tumpang (joggle offset) pada komponen bagian bawah 

sesuai dengan Gambar 3. 

Pengelasan cincin leher harus sempurna, tinggi dan lebar las minimum yaitu  1,5 x tebal 

pelat badan sesuai dengan Gambar 4. 

 

 

Gambar 3    Profil las circum 

 

 

Gambar 4    Propil las cincin leher 

 

 

7    Cara pembuatan tabung 

 

7.1 Bahan baja canai panas dipotong sesuai dengan ukuran dan diberikan pelumas 

sebelum masuk kedalam proses pembentukan. 

 

7.2 Pembentukan dilakukan dengan cara dipress (deep drawing) dan hasilnya merupakan 

komponen dari badan tabung pada bagian atas dan bawah (top and bottom). 

33

SNI 1452:2007 

6 dari 11 

7.3 Komponen badan tabung bagian atas (top) kemudian dilubangi untuk pemasangan 

cincin leher. 

 

7.4 Pemasangan cincin leher (neck ring) dilakukan dengan cara pengelasan menggunakan 

las busur logam gas (gas metal arc welding ). 

 

7.5 Penyambungan melingkar kedua bagian badan (top and bottom) dan penyambungan 

memanjang badan bagian tengah untuk tipe diatas 15 kg sampai dengan 50 kg dilaksanakan 

dengan cara pengelasan busur rendam (submerged arc welding). Sedangkan sambungan 

las, antara top dan bottom terhadap badan silinder berbentuk sambungan las tumpang. 

 

7.6 Penyambungan pegangan tangan dan cincin kaki dengan badan tabung, dilakukan 

dengan cara pengelasan busur listrik (shielded metal arc welding) dengan bentuk las sudut 

(fillet). 

 

7.7 Pengelasan pada butir 7.4 butir 7.5 dan butir 7.6 harus dilakukan oleh juru las atau 

operator las yang memenuhi standar kompetensi juru las.  

 

7.8 Setiap tabung harus mendapatkan perlakuan panas untuk pembebasan tegangan sisa 

(annealing), yaitu pada suhu 630 °C ± 25 °C sekurang – kurangnya 20 menit. 

 

7.9 Untuk mencegah timbulnya karat pada permukaan luar tabung harus dilakukan 

perlindungan dengan menggunakan pelapisan cat. Sebelum dilakukan pengecatan harus 

didahului dengan proses pembersihan dengan cara shot blasting di seluruh permukaan 

tabung. Pengecatan pertama menggunakan cat dasar (primer coat) dengan tebal 25 mikron 

sampai 30 mikron selanjutnya menggunakan cat akhir (top coat) dengan tebal 25 mikron 

sampai 30 mikron. 

 

 

8    Syarat mutu 

 

8.1 Sifat tampak 

 

Setiap permukaan tabung baja LPG tidak boleh ada cacat atau kurang sempurna dalam 

pengerjaannya yang dapat mengurangi kekuatan dan keamanan dalam penggunaannya, 

seperti : luka gores, penyok dan perubahan bentuk. 

 

8.2    Dimensi 

 

8.2.1    Lingkaran tabung 

 

Perbedaan diameter yang terjadi pada bagian bentuk silindris tabung antara diameter 

maksimal dan minimal yaitu  : 1% untuk tabung 2 bagian dan 1,5% untuk tabung 3 bagian. 

 

8.2.2    Kelurusan 

 

Deviasi vertikal tabung tidak boleh melebihi 25 mm per meter. 

 

8.3 Ketahanan hidrostatik 

 

Setiap tabung harus tahan terhadap tekanan hidrostatik dengan tekanan sebesar 31 kg/cm2 

dan pada tekanan ini  tidak boleh ada rembasan air atau kebocoran dan tidak boleh 

terjadi perubahan bentuk. 

 

 

34

SNI 1452:2007 

7 dari 11 

8.4 Sifat kedap udara 

 

Tabung yang telah dilengkapi dengan katup harus kedap udara/tidak boleh bocor pada 

tekanan udara sebesar 18,6 kg/cm2. 

 

8.5 Ketahanan pecah (uji bursting) 

 

Tabung ditekan secara hidrostatik sampai pecah. Tekanan saat pecah tidak boleh lebih kecil 

dari 110 kg/cm2 untuk tipe 3 kg sampai 15 kg, dan tidak boleh lebih kecil dari 80 kg/cm2 

untuk tabung tipe diatas 15 kg sampai 50 kg. Tabung tidak boleh pecah dengan inisiasi 

pecahan berawal dari sambungan las. 

 

8.6 Ketahanan expansi volume tetap 

 

Tabung ditekan secara hidrostatik dengan tekanan sebesar 31 kg/cm2 selama 30 detik. 

Ekspansi volume tetap yang terjadi tidak boleh lebih besar dari 1/5000 volume awal. Tidak 

boleh terjadi kebocoran dan tampak perubahan bentuk.  

 

8.7 Sambungan las 

 

Sambungan las harus mulus, rigi – rigi las harus rata, tidak boleh terjadi cacat – cacat 

pengelasan yang dapat mengurangi kekuatan dalam pemakaian. Ukuran sambungan las 

sebagaimana yang diilustrasikan pada Gambar 3. Pengujian mekanis berupa sifat – sifat  

tarik dari sambungan las nilainya harus sama atau lebih besar, dengan kekuatan tarik  bahan 

yang disambung dan patahan tidak boleh terjadi pada sambungan las. Persyaratan 

radiografi harus sesuai dengan SNI 05-3563-1994, Bejana tekan I-A, Bab BL Persyaratan 

bejana tekan yang difabrikasi dengan pengelasan, BL-51.b. 

 

8.8 Pengecatan 

 

Lapisan cat harus mampu memenuhi pengujian lapisan cat sebagaimana tercantum pada 

butir 10.8. 

 

 

9    Pengambilan contoh 

 

9.1 Untuk keperluan uji rutin dan dilakukan oleh produsen, pengambilan contoh dilakukan 

sebagai berikut: 

a) Setiap tabung harus diuji sesuai butir 8.1, butir 8.2 dan butir 8.3. 

b) Untuk pengujian radiografi maka dari setiap kelompok dengan tipe dan ukuran yang 

sama sampai dengan jumlah 500 buah diambil 1 (satu) buah contoh secara acak. 

Khusus untuk tipe ”konstruksi 3 bagian” dengan jumlah sampai dengan 250 buah diambil 

1 buah contoh secara acak. 

Ukuran contoh uji radiography diambil 150 mm dari setiap ujung lasan longitudinal dan 

50 mm las circum dari posisi interseksi lasan ke semua sisi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

35

SNI 1452:2007 

8 dari 11 

 

c) Pengujian mekanis dan pecah dilakukan sesuai Tabel 1(ISO 22991:2004) berikut : 

 

Tabel 1    Pengambilan contoh 

 

Ta

bu

ng

 

≤ 

15

 k

25

50

75

10

00

 

12

50

 

15

00

 

17

50

 

20

00

 

22

50

 

25

00

 

27

50

 

30

00

 

40

00

 

50

00

 

60

00

 

70

00

 

80

00

 

90

00

 

 

                    

                    

                    

Ta

bu

ng

 

15

 k

25

50

75

10

00

 

12

50

 

15

00

 

17

50

 

20

00

 

22

50

 

25

00

 

27

50

 

30

00

 

35

00

 

40

00

 

45

00

 

50

00

 

55

00

 

60

00

 

 

Jumlah 

lot/ sub lot Simbol Jumlah 

tabung Jenis pengujian 

      

250    2 1 untuk uji pecah dan 1 untuk uji mekanis 

      

250    1 1 untuk uji mekanis atau uji pecah 

      

500    2 1 untuk uji pecah dan 1 untuk uji mekanis 

      

500    1 1 untuk uji mekanis atau uji pecah 

      

1000    2 1 untuk uji pecah dan 1 untuk uji mekanis 

      

 

9.2 Untuk keperluan pengawasan dan uji petik penerapan pengambilan contoh dilakukan 

secara random sebanyak 3 buah, untuk masing-masing tipe oleh petugas yang berwenang 

berdasarkan ketentuan yang berlaku.  

 

 

10    Cara uji 

 

10.1 Uji sifat tampak 

 

Dilakukan secara visual tanpa alat pembesar dan hasilnya harus sesuai dengan butir 8.1. 

 

10.2 Uji dimensi 

 

Cara uji dimensi untuk lingkaran tabung (butir 8.2.1) dan kelurusan (butir 8.2.2) dilakukan 

menggunakan alat ukur dengan tingkat ketelitian 0,5 mm.  

 

10.3 Uji ketahanan hidrostatik 

 

Tabung diisi/ditekan dengan air dengan tekanan sebesar 31 kg/cm2 dan hasilnya harus 

sesuai dengan butir 8.3. 

 

36

SNI 1452:2007 

9 dari 11 

 

10.4 Uji sifat kedap udara 

 

Tabung yang telah dipasang katup, diberikan tekanan dengan udara sebesar 18,6 kg/cm2 

kemudian dimasukkan ke dalam air dan hasilnya tidak boleh bocor, dengan cara melihat 

gelembung – gelembung udara dalam air. 

 

10.5 Uji ketahanan pecah 

 

Tabung diisi/ditekan dengan air sampai tabung pecah hasilnya harus memenuhi butir 8.5.  

 

10.6 Uji ketahanan expansi volume tetap 

 

Tabung diisi dengan air bertekanan sebesar 31 kg/cm2 minimum selama 30 detik .Kemudian 

diukur expansi volume tetapnya dengan mengukur selisih volume setelah dan sebelum 

pengujian. Hasilnya harus memenuhi butir 8.6. 

 

10.7 Uji sambungan las 

 

Pengujian sifat mekanik sesuai SNI 07-0408-1989, Cara uji tarik logam dan SNI 07-0410-

1989, Cara uji lengkung tekan logam. Sedangkan untuk pengujian radiografi sesuai dengan 

ketentuan yang berlaku dan harus memenuhi SNI 05-3563-1994, Bejana tekan I-A, Bab BL 

Persyaratan bejana tekan yang difabrikasi dengan pengelasan, BL-51.b. 

 

10.8 Uji lapisan cat 

  

Uji ketahanan karat 

Dapat dilakukan dengan memilih salah satu benda uji seperti dibawah ini 

a) Siapkan benda uji pelat baja yang sesuai dengan bahan baku tabung dengan ukuran 

kira-kira panjang 150 mm, lebar 50 mm kemudian aplikasikan cat sesuai dengan butir 

8.8. 

b) Benda uji dapat juga menggunakan tabung secara utuh untuk dilakukan pengujian 

seperti dibawah ini; 

 

Pengujian dilakukan dengan tahapan: 

Benda uji dibuat goresan menyilang seperti pada Gambar 5 dengan pisau tajam pada kedua 

sisinya, rendam benda uji kira-kira setengahnya ke dalam larutan garam (NaCl) 3% (pada 

temperatur 15 oC sampai 25 oC) dalam bejana. Dengan kedalaman kira-kira 70 mm dari 

ujung bawah goresan, dan direndam selama 100 jam. Amati adanya gelembung pada 

sejarak 3 mm dari goresan pada bagian luar kedua sisinya dan sesudah diangkat, kemudian 

dicuci dengan air dan dikeringkan. Tidak diperbolehkan ada  karat melebihi 3 mm dari 

goresan pada kedua sisinya (lihat Gambar 5). 

 

37

SNI 1452:2007 

10 dari 11 

 

Gambar 5    Uji pencegahan karat 

 

11    Syarat lulus uji 

 

11.1    Contoh sesuai butir 9.1 dinyatakan lulus uji apabila telah memenuhi syarat sesuai 

butir 8. Jika salah satu syarat dari butir-butir ini  tidak dapat dipenuhi, maka tabung 

dinyatakan tidak lulus uji. 

 

11.2 Contoh uji berdasarkan pengambilan contoh sesuai butir 9.2 dinyatakan lulus uji 

apabila memenuhi syarat mutu sesuai butir 8, dengan demikian kelompok yang diwakilinya 

dinyatakan memenuhi syarat. Jika salah satu syarat dari butir 8 tidak dapat dipenuhi, maka 

contoh uji harus dinyatakan tidak lulus uji dan dengan demikian kelompok yang diwakilinya 

dinyatakan tidak memenuhi syarat dan dapat dilakukan uji ulang. 

 

11.3 Uji ulang dapat dilakukan terhadap kelompok yang tidak lulus uji dengan jumlah 

contoh sebanyak 2 (dua) kali jumlah contoh pertama. Apabila dalam pengujian salah satu 

contohnya tidak memenuhi salah satu syarat dari butir 8 maka dinyatakan tidak lulus uji dan 

kelompok yang diwakilinya dinyatakan gagal. 

 

 

12    Penandaan 

 

Setiap tabung yang telah dinyatakan lulus uji harus diberi penandaan dengan huruf yang 

tidak mudah hilang (embos/stamp) sekurang – kurangnya sebagai berikut: 

- Identitas perusahaan / merek / logo 

- Nomor urut pembuatan 

- Berat kosong tabung 

- Bulan dan tahun pembuatan 

- Tekanan pengujian (test pressure) 

- Volume air 

- Lingkaran merah pada cincin leher 

 

 

38

SNI 1452:2007 

11 dari 11 

Bibliografi 

 

 

 

ASME Code Section IX, Welding and Brazing Qualification (lihat SNI) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

39

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN

Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4

Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270

Telp: 021- 5747043; Faks: 021- 5747045; e-mail : bsn@bsn.go.id

40

 

Standar Nasional Indonesia 

 

SNI 1591:2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ICS 23.020.30 Badan Standardisasi Nasional 

 

Katup tabung baja LPG 

41

 

 

42

SNI 1591:2008 

 i 

Prakata 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia (SNI), Katup tabung baja LPG merupakan revisi SNI 1591:2007 

dengan pertimbangan: 

(a)  bahwa diharapkan dengan adanya standar ini ada jaminan akan adanya produk yang  

bermutu sesuai dengan standar yang ditentukan. Dalam hal ini, standar ini  dapat 

mencakup seluruh industri menengah maupun besar di dalam memproduksi katup 

tabung baja LPG; 

(b)   menyesuaikan dengan keadaan dan kemampuan dari industri  katup tabung baja LPG 

dengan katup tabung baja LPG di Indonesia, namun dengan tidak meningggalkan 

kemampuan kita didalam menghadapi pasar bebas. 

 

Oleh karenanya dengan adanya standar ini, maka diharapkan dapat lebih menyempurnakan 

interpretasi yang ada selama ini, sehingga pada akhirnya akan dapat lebih meningkatkan 

kualitas, efisiensi produksi, penghematan biaya, jaminan mutu untuk konsumen dan 

produsen, serta menciptakan persaingan yang sehat dan menunjang program keterkaitan 

antar sektor pembangunan. 

 

Standar ini telah dibahas dalam rapat konsensus pada tanggal 13 Maret 2008 di Jakarta 

yang dihadiri oleh wakil dari produsen, konsumen, lembaga penelitian dan instansi terkait 

lainnya. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis ICS 21-01: Permesinan dan Produk 

Permesinan. 


 

1    Ruang lingkup 

 

Standar ini menetapkan bentuk, bahan dan komponen, syarat konstruksi, syarat mutu,  dan 

cara uji katup  tabung baja LPG. Dimana katup tabung baja LPG terdiri dari 2 jenis yaitu 

katup quick on dan handwheel.  

 

 

2    Acuan normatif 

 

SNI 07-0408-1989, Cara uji tarik logam. 

SNI 19-0411-1989, Cara uji pukul charpy. 

SNI 1452:2007, Tabung baja LPG. 

JIS H 3250 (1992), Copper and copper alloy rods and bars. 

 

 

3    Istilah dan definisi  

 

3.1 

katup tabung baja LPG  

sebuah katup yang dipasang pada tabung, berfungsi sebagai penyalur dan pengaman gas 

LPG 

 

3.2 

katup quick-on  

katup yang membuka dan menutup secara otomatis, dilengkapi dengan 1 (satu) atau 2 (dua) 

katup kendali (spindle) digunakan pada tabung baja LPG kapasitas isi tabung 3 kg sampai 

dengan 12 kg (Gambar 2 untuk 1 (satu) katup kendali dan Gambar 3 untuk 2 (dua) katup 

kendali) 

 

 

3.3  

katup handwheel  

katup yang membuka dan menutup secara manual, digunakan pada tabung baja LPG 

kapasitas isi tabung 50 kg (Gambar 4) 

 

CATATAN   Katup quick on dan katup handwheel pada tabung baja LPG terlihat pada Gambar 1. 

 

3.4 

LPG  

Liquid Petroleum Gas. 

 

3.5 

NGT  

National Gas Taper Threads. 

 

3.6 

NGO  

National Gas Outlet. 

 

 

 

 

Keterangan gambar: 

 

 1. Badan katup 

 2. Penahan/pengatur pegas  

 3. Plastik pengarah  

 4. Pegas katup kendali 

 5. Katup kendali 

 6. Karet katup kendali 

 7. Karet Seal 

 8. Karet Pad 

 9. Piston pengaman (Relieve Valve Piston) 

10. Pegas pengaman 

 

Gambar 2 - Katup quick-on 1 (satu) katup kendali kapasitas isi tabung 3 kg 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Satuan dalam milimeter 

 

Keterangan gambar: 

 

 1. Badan katup 

 2. Karet gasket 

 3. Spindle atas 

 4. Karet spindle atas 

 5. Pegas atas 

 6. Spindle retainer 

 7. Dudukan spindle 

 8. Karet spindle bawah 

 9. Spindle bawah 

10. Pegas bawah 

11. Plastik guide 

12. Retainer 

13. Pegas pengaman 

14. Piston pengaman 

15. Karet pad 

16. O-ring 

 

 

Satuan dalam milimeter 

 

 

 

Keterangan gambar: 

 1, Handwheel 

 2. Pin pengunci 

 3. Spindle  

 4. Nylon pad 

 5. Badan katup 

 6. Karet pad 

 7. Piston pengaman 

 8. Pegas pengaman 

 9. Retainer 

10. O-ring 

 

Gambar 4 - Katup handwheel kapasitas isi tabung 50 kg  

 

 

4   Bahan dan komponen 

 

4.1 Badan katup terbuat dari tembaga paduan sesuai dengan standar JIS 3250 (1992) 

kelas C 3771 BE, harus dibuat dengan cara tempa panas dan tidak boleh dengan cara 

tuang. 

 

4.2 Bahan badan katup harus memiliki kekuatan tarik minimum 392 N/mm2  dan regang 

minimum 20 %. 

 

4.3 Bahan badan katup harus memiliki kekuatan impak minimum 14,7 Nm  

 

4.4 Semua komponen yang digunakan pada konstruksi katup tabung baja LPG harus 

dibuat dari bahan yang sesuai dengan fungsi penyaluran gas LPG, kuat, awet, tahan karat 

49

SNI 1591:2008 

 

 6 dari 15

dan bebas dari cacat sehingga menghasilkan keamanan yang maksimum bila digunakan 

pada kondisi normal dan terus menerus. 

 

4.5 Karet gasket harus bebas dari pori-pori, lekukan dan partikel asing serta mempunyai 

permukaan yang halus, dan tidak lekat dengan sedikit mungkin penggunaan bubuk talck. 

 

4.6    Pegas katup harus tahan karat dan sesuai untuk penyaluran gas LPG.  

 

 

  5    Syarat konstruksi 

 

5.1 Bentuk ukuran dan toleransi permesinan mulut katup tabung baja LPG kapasitas isi 

tabung 3 kg sampai dengan 12 kg harus sesuai dengan ukuran yang diberikan pada Gambar 

5. 

 

 

Keterangan gambar: 

 

A = 8,2±0,3 untuk katup quick on dengan 2 katup kendali 

A = 9,2±0,3 untuk katup quick on dengan 1 katup kendali 

 

Gambar 5 - Mulut katup tabung LPG kapasitas isi tabung 3 kg s/d 12 kg 

 

 

5.2  Bentuk ukuran dan toleransi permesinan mulut katup tabung baja LPG kapasitas isi 

tabung 50 kg harus sesuai dengan ukuran yang diberikan pada Gambar 6.  

50

SNI 1591:2008 

 7 dari 15 

Satuan dalam milimeter 

 

 

Gambar 6 - Mulut katup tabung baja LPG kapasitas isi  tabung 50 kg 

 

 

5.3      Sambungan katup dengan tabung menggunakan ulir 1/2”-14 NGT untuk katup tabung 

baja LPG kapasitas isi tabung 3 kg – 4,5 kg, ulir 3/4”–14 NGT untuk katup tabung baja LPG 

kapasitas ini tabung 6 kg – 50 kg dengan sudut ulir 60° dan ketirusan 1/16 pada diameter. 

Bentuk dan ukuran  ulir seperti pada Gambar 7 dan Gambar 8. 

 

5.3.1 Diameter pits pada ulir katup dan ulir tabung (cincin leher) diukur pada ± 1 putaran 

dari dasar. 

 

5.3.2 Ketirusan pits pada ulir katup harus 1/16 pada diameter dengan toleransi minus        1 

putaran, tetapi tidak dengan toleransi plus dalam pengukuran untuk menjamin ketirusan pits 

tidak lebih besar dari dasar. 

 

5.3.3 Ketirusan elemen pits pada ulir tabung (cincin leher) harus 1/16 pada diameter 

dengan toleransi plus 1 putaran, tetapi tidak dengan toleransi minus dalam pengukuran 

untuk menjamin ketirusan pits tidak lebih kecil dari dasar. 

51

SNI 1591:2008 

 

 8 dari 15

 

 

Keterangan  gambar: 

Pits diukur sejajar terhadap sumbu, p = 1,814 mm 

Sudut ulir 60° normal terhadap sumbu 

Ketirusan 1/16 diukur pada diameter sepanjang sumbu 

H  0.866025 x p = tinggi ulir sebelum terpancung 

H  0.800000 x p = tinggi ulir  

fc  tinggi puncak terpancung 

fr  tinggi dasar terpancung 

Fc lebar puncak terpancung 

Fr  lebar dasar terpancung 

 

 

 

Keterangan gambar: 

 

P   yaitu  Pits ulir 

O    yaitu  bidang acuan untuk pengukuran ulir tabung 

I      yaitu  Bidang acuan untuk pengukuran ulir tabung (cincin leher) 

D     yaitu Diameter luar  

D10   yaitu  27.42 (ulir 3/4”-14 NGT)   21.90 (ulir 1/2”-14 NGT) 

D0    yaitu  26.03 (ulir 3/4”-14 NGT)   20.72 (ul


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH