Tampilkan postingan dengan label industri pariwisata 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri pariwisata 3. Tampilkan semua postingan

industri pariwisata 3

 


 

 

 

 

Site #447: Uluru (Australia)          Site #322: Somapura Mahavihara 

(Bangladesh) 

105  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Site   #483:   Chichen   Itza   in 

Yucatán (Mexico) 

Site #540: Historic Centre of St. 

Petersburg     and     its     suburbs 

(Russia) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Site   #101:   Lahore   Fort   in 

Lahore (Pakistan) 

Site  #603:  The  Registan  Square 

(Uzbekistan) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Site #705: Ancient Building 

Complex in the Wudang 

Mountains (China) 

Site #723: Pena Palace and Sintra 

(Portugal) 

106  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Site  #747:  Historic  Quarter  of 

the    City    of     Colonia    del 

Sacramento (Uruguay) 

Site #800: Mount Kenya National 

Park (Kenya) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Site #944: Mountain Railways 

of India (India) 

Balinese subaks, Bali, negara kita  

 

 

 

 

 

 

 


6.2.     Jenis-Jenis Pariwisata 

108  

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut 

motif wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis 

pariwisata ini  adalah sebagai berikut. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.      Wisata Budaya 

Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk 

memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan 

kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, 

mempelajari  keadaan  rakyat,  kebiasaan  adat  istiadat  mereka,  cara 

hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini 

disatukan dengan kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam 

kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, 

seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan 

dan sebagainya. 


2.      Wisata Maritim atau Bahari 

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di 

air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing, 

berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi 

berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman laut dengan 

pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi 

perairan yang banyak dilakukan didaerah–daerah atau negara–negara 

maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di 

negara kita  banyak tempat dan daerah yang memiliki potensi wisata 

maritim  ini, seperti misalnya Pulau–pulau  Seribu di  Teluk Jakarta, 

Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulau–pulau kecil disekitarnya, 

taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut 

pula wisata tirta. 


3.      Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi) 

Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh 

agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha–usaha dengan 

jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman 

lindung,  hutan  daerah  pegunungan  dan  sebagainya  yang 

kelestariannya dilindungi oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini 

banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam 

kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa 

serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang mendapat 

perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini banyak 

dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa 

udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang 

langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di tempat–tempat 

lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang telah berkembang seperti Taman 

Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya 


4.      Wisata Konvensi 

Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang 

dinamakan wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa ini 

membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas 

bangunan dengan ruangan–ruangan tempat bersidang bagi para peserta 

suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik 

yang bersifat nasional maupun internasional. Jerman Barat misalnya 

memiliki   Pusat   Kongres   Internasiona   (International   Convention 

Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine International 

Convention Center) di Manila dan negara kita  mempunyai Balai Sidang 

Senayan di Jakarta untuk tempat penyelenggaraan sidang–sidang 

pertemuan besar dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik 

yang ada di Berlin, Manila, atau Jakarta berusaha dengan keras untuk 

menarik organisasi atau badan–badan nasional maupun internasional 

untuk mengadakan persidangan mereka di pusat konvensi ini dengan 

menyediakan  fasilitas  akomodasi  dan  sarana  pengangkutan  dengan 

112  

 

 

 

 

 

 

 

harga  reduksi  yang  menarik  serta  menyajikan  program–program 

atraksi yang menggiurkan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.      Wisata Pertanian (Agrowisata) 

Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah 

pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek–proyek 

pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana 

wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan 

untuk tujuan studi maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati 

segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai 

jenis sayur–mayur dan palawija di sekitar perkebunan yang dikunjungi. 

113  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.      Wisata Buru 

Jenis ini banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang 

memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh 

pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. 

Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan 

yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, 

seperti berbagai negeri di Afrika untuk berburu gajah, singa, ziraf, dan 

sebagainya. Di  India,  ada  daerah–daerah yang memang  disediakan 

untuk berburu macan, badak dan sebagainya, sedangkan di negara kita , 

pemerintah  membuka  wisata  buru  untuk  daerah  Baluran  di  Jawa 

Timur dimana wisatawan boleh menembak banteng atau babi hutan. 

114  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.      Wisata Ziarah 

Jenis  wisata  ini  sedikit  banyak  dikaitkan  dengan  agama, 

sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam 

masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau 

rombongan ke  tempat–tempat suci, ke makam–makam orang besar 

atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap 

keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia 

ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan 

niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan 

batin, keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh 

berkah dan kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orang–orang 

Khatolik misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana Vatikan di 

Roma, orang–orang Islam ke tanah suci, orang–orang Budha ke 

tempat–tempat suci agama Budha di India, Nepal, Tibet dan 

sebagainya. Di negara kita   banyak tempat–tempat  suci  atau  keramat 

115  

 

 

 

 

 

 

 

yang dikunjungi oleh umat-umat beragama tertentu, misalnya seperti 

Candi Borobudur, Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di 

Jawa  Tengah,  makam  Wali  Songo,  Gunung  Kawi,  makam  Bung 

Karno  di Blitar  dan  sebagainya. Banyak agen  atau  biro perjalanan 

menawarkan wisata ziarah ini pada waktu–waktu tertentu dengan 

fasilitas akomodasi dan sarana angkuatan yang diberi reduksi menarik 

ke tempat–tempat ini  di atas. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sesungguhnya daftar jenis–jenis wisata lain dapat saja 

ditambahkan di sini, tergantung kapada kondisi dan situasi 

perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau negeri yang 

memang  mendambakan  industri  pariwisatanya  dapat  meju 

berkembang.  Pada  hakekatnya  semua  ini  tergantung  kepada  selera 

atau daya kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung dalam 

bisnis industri pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasan– 

gagasan  yang  dimiliki  oleh  mereka  yang  mendedikasikan  hidup 

mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia ini, makin 

116  

 

 

 

 

 

bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi 

kemajuan  industri  ini,  karena  industri  pariwisata  pada  hakikatnya 

kalau ditangani dengan kesungguhan hati mempunyai prospektif dan 

kemungkinan sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia yang 

melahirkan gagasan–gagasan baru dari waktu–kewaktu. Termasuk 

gagasan–gagasan untuk menciptakan bentuk dan jenis wisata baru 

tentunya 

117  

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII 

PERJALANAN DAN PARIWISATA 

 

 

 

7.1.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perjalanan 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wisatawan adalah  orang  yang  bepergian dari tempat 

tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati 

perjalanan dari kunjungannya itu. (Spillane, 1993). Tipologi wisatawan 

merupakan aspek sosiologis wisatawan yang menjadi bahasan yang 

penting karena pada penelitian ini akan meneliti persepsi wisatawan 

terhadap suatu objek wisata. Menurut Plog, 1972 (dalam Pitana, 2005) 

mengelompokkan tipologi wisatawan sebagai berikut: 

1. Allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat- 

tempat yang belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau 

memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat lokal. 

2. Psycocentris,  yaitu  wisatawan  yang hanya ingin mengunjungi 

daerah   tujuan   wisata   sudah   mempunyai   fasilitas   dengan 

standar yang sama dengan di negaranya. 

118  

 

 

 

 

 

3.    Mid-Centris,   yaitu  terletak  diantara  tipologi  Allocentris   dan 

Psycocentris 

 

Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui 

untuk tujuan perencanaan, termasuk dalam pengembangan 

kepariwisataan. Tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan 

atas kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan 

pengembangan objek wisata sesuai dengan segmentasi wisatawan. 

Pada   umumnya   kelompok   wisatawan   yang   datang   ke 

negara kita  terdiri dari kelompok wisatawan psikosentris (Psycocentris). 

Kelompok ini sangat peka pada keadaan yang dipandang tidak aman 

dan sangsi akan keselamatan dirinya, sehingga wisatawan ini  

enggan datang atau membatalkan kunjungannya yang sudah 

dijadualkan (Darsoprajitno, 2001). 

 

1.      Aspek Penawaran Pariwisata 

Menurut  Medlik,  1980  (dalam  Ariyanto  2005),  ada  empat 

aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata. 

Aspek-aspek ini  adalah sebagai berikut. 

a) Attraction   (daya   tarik);   daerah   tujuan   wisata   (selanjutnya 

disebut DTW) untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya 

tarik, baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat dan 

budayanya. 

b) Accesable (transportasi); accesable dimaksudkan agar wisatawan 

domestik dan mancanegara dapat dengan mudah dalam 

pencapaian tujuan ke tempat wisata 

c)  Amenities (fasilitas); amenities memang menjadi salah satu syarat 

daerah  tujuan  wisata agar  wisatawan  dapat  dengan  kerasan 

tinggal lebih lama di DTW. 

d) Ancillary (kelembagaan); adanya lembaga pariwisata wisatawan 

akan semakin sering mengunjungi dan mencari DTW apabila 

di daerah ini  wisatawan dapat merasakan keamanan, 

(protection of tourism) dan terlindungi. 

119  

 

 

 

 

 

Selanjutnya Smith, 1988 (dalam Pitana, 2005) 

mengklasifikasikan berbagai barang dan jasa yang harus disediakan 

oleh DTW menjadi enam kelompok besar, yaitu: (1)Transportation, 

(2)Travel services, (3)Accommodation, (4)Food services, (5)Activities and 

attractions (recreation culture/entertainment), dan (6) Retail goods. 

Inti dari kedua pernyataan di atas adalah, aspek penawaran 

harus dapat menjelaskan apa yang akan ditawarkan, atraksinya apa 

saja, jenis transportasi yang dapat digunakan apa saja, fasilitas apa saja 

yang  tersedia  di  DTW,  siapa  saja  yang  bisa  dihubungi  sebagai 

perantara pembelian paket wisata yang kan dibeli. 

 

2.      Aspek Permintaan Pariwisata 

Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto, 2005), faktor-faktor 

utama  dan  faktor  lain  yang  mempengaruhi  permintaan  pariwisata 

dapat dijelaskan sebagai berikut: 

a) Harga; harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata akan 

memberikan  imbas  atau  timbal  balik  pada  wisatawan  yang 

akan  bepergian,  sehingga  permintaan  wisatapun  akan 

berkurang begitu pula sebaliknya. 

b) Pendapatan;    apabila    pendapatan    suatu    negara    tinggi, 

kecendrungan untuk memilih daerah tujuan wisata sebagai 

tempat berlibur akan semakin tinggi dan bisa jadi calon 

wisatawan   membuat   sebuah   usaha   pada   Daerah   Tujuan 

Wisata jika dianggap menguntungkan. 

c)  Sosial Budaya; dengan adanya sosial budaya yang unik dan 

bercirikan  atau  berbeda  dari  apa  yang  ada  di  negara  calon 

wisata berasal maka, peningkatan permintaan terhadap wisata 

akan tinggi hal ini akan membuat sebuah keingintahuan dan 

penggalian pengetahuan sebagai khasanah kekayaan pola pikir 

budaya wisatawan. 

d) Sospol  (Sosial  Politik);  dampak  sosial  politik  belum  terlihat 

apabila keadaan Daerah Tujuan Wisata dalam situasi aman 

dan tenteram, tetapi apabila hal ini  berseberangan dengan 

120  

 

 

 

 

 

kenyataan, maka sospol akan sangat terasa dampak dan 

pengaruhnya dalam terjadinya permintaan. 

e)  Intensitas  keluarga;  banyak  atau  sedikitnya  keluarga  juga 

berperan serta dalam permintaan wisata hal ini dapat 

diratifikasi,  jumlah  keluarga  yang  banyak  maka  keinginan 

untuk berlibur dari salah satu keluarga ini  akan semakin 

besar, hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri. 

f)  Harga barang substitusi; disamping kelima aspek di atas, harga 

barang pengganti juga termasuk dalam aspek permintaan, 

dimana barang-barang pengganti dimisalkan sebagai pengganti 

DTW yang dijadikan cadangan dalam berwisata seperti: Bali 

sebagai tujuan wisata utama di negara kita , akibat suatu dan lain 

hal Bali    tidak    dapat    memberikan    kemampuan    dalam 

memenuhi   syarat-syarat   Daerah   Tujuan   Wisata   sehingga 

secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke 

daerah terdekat seperti Malaysia dan Singapura. 

g) Harga barang komplementer; merupakan sebuah barang yang 

saling membantu atau dengan kata lain barang komplementer 

adalah   barang   yang   saling   melengkapi,   dimana   apabila 

dikaitkan dengan pariwisata barang komplementer ini sebagai 

objek wisata yang saling melengkapi dengan objek wisata 

lainnya. 

 

Sedangkan Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) melihat bahwa 

faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata berasal dari 

komponen daerah asal wisatawan antara lain, jumlah penduduk 

(population size), kemampuan finansial masyarakat (financial means), 

waktu senggang yang dimiliki (leisure  time),  sistem transportasi, dan 

sistem pemasaran pariwisata yang ada. 

Dari kedua pendapat di atas, penulis berpendapat bahwa aspek 

permintaan  pariwisata  dapat  diprediksi  dari  jumlah  penduduk  dari 

suatu  negara  asal  wisatawan,  pendapatan  perkapitanya,  lamanya 

waktu senggang yang dimiliki yang berhubungan dengan musim di 

121  

 

 

 

 

 

suatu negara, kemajuan teknologi informasi dan transportasi, sistem 

pemasaran yang berkembang, keamanan dunia, sosial dan politik serta 

aspek lain yang berhubungan dengan fisik dan non fisik wisatawan. 

 

7.2.     Motivasi Untuk Melakukan Perjalanan Wisata 

Motivasi dipandang sebagai bagian dari sisi kebutuhan dan 

keinginan psikologis maupun biologis,  yang mencangkup bagian yang 

tidak dapat dipisahkan yang dapat mendorong dan menarik seseorang 

untuk berbuat atau melakukan aktivitas tertentu (Dann, 1981; Pearce, 

1982;  Uysal  dan  Hagan,  1993;  Iso-Ahola,  1991;  Yoon  and  Uysal, 

2003).   Karena   paradigma   pariwisata   erat   hubungannya   dengan 

manusia   dan   sifat   manusia,   maka   terbangunlah   proposisi   yang 

kompleks untuk memahami mengapa seseorang melakukan perjalanan 

wisata   dan   apa   yang   mereka   ingin   nikmati   dalam   perjalanan 

wisatanya. 

Berbagai disiplin ilmu telah digunakan untuk menjelaskan 

fenomena dan karakteristik yang berkaitan dengan motivasi ini . 

Namun menurut (Ajzen dan Fishbein, 1977; Yoon dan Uysal, 2003) 

pendekatan yang paling cocok untuk memahami motivasi seseorang 

melakukan perjalanan wisata adalah pendekatan psikologi dan 

sosiologi, dimana definisi motivasi  ini   dipahami sebagai motif 

emosional dan kognitif yang mendorong dan menarik atau motif 

pendorong (instrinsic)  dan penarik (extrinsic)  untuk melakukan 

perjalanan wisata baik secara individu maupun secara kelompok 

(Gnoth, 1997; Iso-Ahola, 1999; Yoon dan Uysal, 2003). Motivasi 

pendorong berhubungan dengan dorongan, perasaan, dan insting yang 

berasal dari dalam diri seseorang. Motivasi penarik melibatkan 

representasi mental seperti pengetahuan atau keyakinan. Dari 

pandangan antropolog, wisatawan dimotivasi oleh kedua hal ini , 

untuk melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi karena mereka 

yakin dari pengetahuan yang mereka miliki bahwa suatu destinasi 

diharapkan seperti apa yang mereka yakini (MacCannell, 1977; Iso- 

Ahola, 1999; Yoon dan Uysal, 2003). 

122  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut (Dann, 1981; Yoon dan Uysal, 2003) pada beberapa 

penelitian tentang pariwisata, konsep motivasi dibagi menjadi dua 

klasifikasi yakni motivasi  pendorong dan  penarik. Seseorang 

melakukan perjalanan wisata disebabkan oleh faktor-faktor yang 

mendorong (push factors) dari dalam diri mereka sendiri, dan faktor- 

faktor yang menarik (pull  factors) yang berasal dari atribut destinasi 

pariwisata  yang  mereka  kunjungi.  Lebih  lanjut,  Uysal  and  Hagan 

(1993) menjelaskan bahwa faktor pendoronglah (push factors) yang 

memutuskan mengapa seseorang melakukan perjalanan wisata, dan 

faktor penarik (pull factors)  kemudian menentukan kapan, bagaimana, 

dan ke mana seseorang akan berwisata. 

Menurut  Sharpley,  1994  dan  Wahab,  1975  (dalam  Pitana, 

2005) menekankan,   motivasi merupakan hal yang sangat mendasar 

dalam studi tentang wisatawan dan   pariwisata, karena motivasi 

merupakan  “Trigger” dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini 

acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri. 

Pada  dasarnya  seseorang  melakukan  perjalanan  dimotivasi 

oleh beberapa hal, motivasi-motivasi ini  dapat dikelompokkan 

menjadi empat kelompok besar sebagai berikut: (1) Physical or 

physiological  motivation  yaitu  motivasi  yang  bersifat  fisik  antara  lain 

untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan 

123  

 

 

 

 

 

olahraga, bersantai dan sebagainya. (2) Cultural motivation yaitu 

keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah 

lain. (3)Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat 

sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, 

melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (prestice), 

melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan 

seterusnya. (4) Fantasy motivation yaitu adanya motivasi di daerah lain 

sesorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan 

dan yang memberikan kepuasan psikologis (McIntosh, 1977 dan 

Murphy, 1985; dalam Pitana, 2005). 

Pearce,  1998  (dalam  Pitana,  2005)  berpendapat,  wisatawan 

dalam melakukan perjalanan wisata termotivasi oleh beberapa faktor 

yakni:  Kebutuhan  fisiologis,  keamanan,  sosial,  prestise,  dan 

aktualiasasi diri. Faktor-faktor   pendorong untuk berwisata sangatlah 

penting untuk diketahui oleh siapapun yang berkecimpung dalam 

industri pariwisata (Pitana, 2005). Dengan adanya faktor pendorong, 

maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas 

mana daerah yang akan dituju. Interpretasi Faktor Pendorong dan 

Penarik Berwisata 

 

 

Tabel 7.1. Pendorong dan Penarik Wisatawan untuk Berwisata 

 

Faktor Pendorong (push factors)             Faktor Penarik (pull factors) 

1. Rest and relaxation (Beristirahat 

dan relaksasi) 

2.   Visit to new places (mengunjungi 

tempat-tempat baru) 

3.   Learn  and  experience new  things 

(Belajar dan mengalami hal-hal 

baru) 

4.   Get        away        from        stress 

(Menjauhkan diri dari stress) 

5. Escape  from  day-by-day activities 

(Melarikan diri dari kegiatan 

sehari-hari) 

1. Safety  of  the  destination  (Jaminan 

keselamatan pada destinasi) 

2.   Location of accommodation (Lokasi 

akomodasi) 

3.   Natural   attractions   (Daya   tarik 

alamiah) 

 

4.   Price   of   inclusive   packages/hotels 

(Harga paket yang inklusif/hotel) 

5. Variety  of  suitability  of  food  and 

beverage (Berbagai makanan dan 

minuman yang sesuai) 

6.   Meet    people    and    socialization    6.   Historical  attractions  (Daya  tarik 

124  

 

 

 

 

 

Faktor Pendorong (push factors)             Faktor Penarik (pull factors) 

(Menemui    orang-orang    dan 

bersosialisasi) 

7.   Improve   health   and   well-being 

(Meningkatkan  kesehatan  dan 

kesejahteraan) 

8.   Take    challenge/experience    and 

adventure (Mencoba tantangan/ 

pengalaman dan petualangan) 

9.   Seek       intellectual      enrichment 

(Memperkaya intelektualitas) 

sejarah) 

 

7. Cultural   attractions   (Daya   tarik 

budaya) 

 

8. Local  transportation  (Transportasi 

lokal) 

 

9. Convenient immigration and customs 

procedure (Kenyamanan urusan 

imigrasi dan prosedur beacukai) 

10. Exercise physically (Melatih fisik)    10. Availability    of    medical    facilities 

(Ketersediaan fasilitas medis) 

11. Visit       family       and       friends 

(Mengunjungi keluarga dan 

teman-teman) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Esichaikul, (2012) 

11. Infrastructure            (Infrastrukutur 

Destinasi) 

 

12. Service    quality    of    travel    agents 

(Kualitas layanan  agen 

perjalanan) 

13. Service  quality  of  tour  leaders  and 

tour   guide   (Kualitas   pelayanan 

tour leader dan pemandu wisata) 

14. Hotel    accessibility   and    disability 

features (Aksesibilitas hotel dan 

fasilitas untuk penyandang 

cacat/senior) 

15. Special  events  and  festivals  (Acara 

khusus dan festival) 

16. Leisure activities (Aktivitas wisata, 

rekreasi, dan hiburan) 

125  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.3.     Citra Destinasi 

Definisi citra destinasi (destination image) sudah tidak asing lagi 

dalam dunia pariwisata karena pada hakekatnya citralah yang 

sebenarnya yang menggerakkan dan mendorong wisatawan 

menentukan pilihan destinasi wisatanya (Echtner and Ritchie, 1991; 

Fakeye dan Crompton, 1991; Gartner, 1993; Guliling et al, 2013). 

Walaupun istilah citra destinasi sudah dianggap hal yang bukan luar 

biasa, namun masih banyak yang merumuskannya pada konsep yang 

tidak tepat termasuk sering terjadi kesalahan dalam operasionalisasi di 

lapangan. Dinamika dan kompleksitas dari produk pariwisata turut 

berperan dalam kesalahan operasionalisasi konsep citra destinasi 

ini  (Smith,  1994). Gartner  (1993) mengganggap bahwa produk 

pariwisata adalah produk yang multidimensi (multidimensionality), 

sementara    Gallarza  et  al,  (2002)  menganggap  produk  pariwisata 

adalah  produk  subjektif  (subjectivity),  serta  Fakeye  dan    Crompton 

(1991) mengganggap bahwa produk pariwisata adalah produk yang tak 

berwujud (intangibility), sehingga sangat sulit untuk mengukur citra 

destinasi dalam sebuah model loyalitas destinasi. 

Berikut telaah yang berhubungan dengan citra destinasi 

(destination   image)   dalam   penelitian   dan   konseptualiasinya   oleh 

beberapa peneliti: 

126  

 

 

 

 

 

Tabel 7.2. Telaah Terhadap Berbagai Pandangan tentang Citra 

Destinasi 

 

No    Penulis                    Pandangan tentang Citra Destinasi 

1.      Lawson         dan 

Bond-Bovy (1977 

Sebuah ekspresi tentang sebuah pengetahuan, 

keyakinan diri, prasangka, hayalan dan pikiran 

emosional seorang individu tentang objek atau 

tempat tertentu. 

2.      Dichter (1985)         Konsep     sebagai     sebuah      gambaran     yang 

menerangkan kualitas atau kesan gabungan yang 

tertanam pada benak seseorang. 

3.      Reynolds (1985)      Sebuah  konstruksi  mental  yang  terbangun  pada 

seorang  konsumen  sebagai  sebuah  kesan  dalam 

diri seseorang, yang muncul sebagai sebuah proses 

kreasi. 

4.      Embacher     dan 

Buttler (1989) 

 

 

 

5.      Fakeye           dan 

Crompton (1991) 

 

6. Kotler     et     al. 

(1994) 

7.      Gartner     (1993, 

1996) 

8. Santos  Arrebola, 

(1994) 

Gabungan dari ide-ide atau konsep-konsep yang 

dimiliki secara  individual maupun kolektif yang 

merupakan hasil dari sebuah pengamatan yang 

terdiri  dari  dua  komponen  yakni  kognitif  dan 

evaluatif. 

Konstruksi mental yang dikembangkan oleh 

seorang wisatawan berdasarkan apa yang dapat 

mereka lihat dan rasakan. 

Keyakninan, ide, dan kesan seseorang tentang 

sebuah tempat. 

Kesan seseorang yang terdiri dari komponen 

kognitif, afektif, dan konatif. 

Sebuah representasi mental seseorang tentang 

beberapa atribut dan keuntungan yang didapatkan 

pada sebuah produk. 

9. Parenteau (1995)      Prasangka positif atau negatif yang dimiliki oleh 

seorang pelanggan atau penyalur tentang sebuah 

produk atau destinasi. 

Sumber: Gallarza, Gil Saura dan Calderón Garcia (2002); (Chi, 2005) 

 

 

Untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang citra 

destinasi (destination  image) Gallarza  et  al, (2002) telah membangun 

sebuah   kerangka   teori   tentang   citra   destinasi   yang   dibangun 

berdasarkan empat terminologi, yakni kompleks (it is not unequivocal), 

multi elemen dan proses (in elements and processes), relatif  (subjective and 

127  

 

 

 

 

 

generally comparative), dan dinamis (varying with time and space). 

Pengertian bahwa citra destinasi adalah sesuatu yang komplek untuk 

menerangkannya dalam dimensi analitis. Multi elemen dan proses 

menerangkan bahwa citra destinasi sebagai dimensi dari hasil sebuah 

tindakan.  Relatif  menerangkan  bahwa  citra  destinasi  adalah  alat 

strategi khususnya dalam tujuan pengelolaan dan pemasaran. 

Sementara dinamis menerangkan bahwa citra destinasi senantiasa 

mengikuti  kebijakan strategi  yang  didasarkan  citra  sebuah  destinasi 

(place). 

Citra destinasi menjadi kompleks karena masih banyaknya 

perdebatan terhadap cara pengukurannya, dan  banyaknya komponen 

yang disertakan dalam pengukuran. Multi dimensinya citra destinasi 

juga disebabkan oleh atribut yang disertakan cukup beragam dan saling 

terkait. Sementara relatifitasnya disebabkan oleh cara penafsirannya 

yang subjektif antara seorang dengan yang lainnya dan sangat 

tergantung dengan perbandingan yang akan digunakan. Citra destinasi 

juga  bukanlah  sesuatu  yang  statis  namun  sangat  dinamis  seiring 

dengan terjadinya perubahan ruang, waktu, dan tempat. Berdasarkan 

alasan inilah variabel citra destinasi disertakan pada model loyalitas, 

karena citra destinasi pariwisata Bali mungkin telah berubah saat ini 

jika dibandingkankan masa-masa dahulu. 

Saat ini, masih banyak terjadi perbedaan terhadap komponen- 

komponen pembentuk citra destinasi. Misalnya, Backman dan 

Crompton (1991)  menganggap bahwa citra destinasi hanya terdiri dari 

komponen kognitif saja, sedangkan persepsi atau evaluasi kognitif 

hanya mengacu pada sebuah pengetahuan individu dan keyakinannya 

terhadap sebuah objek yang dipersepsikan atau dievaluasi. Sedangkan 

Mazursky dan Jacoby (1986) menganggap bahwa konsumen 

membangun   total   citra  (overall   image)   berdasarkan   evaluasi   dari 

berbagai  atribut  produk  barang  maupun  jasa.  Begitu  juga  Gartner 

(1986)  menyatakan  bahwa  persepsi  wisatawan  terhadap  berbagai 

atribut destinasi akan berinteraksi dalam membentuk citra total (overall 

image). Namun Keown et al,   (1984) telah menguji berdasarkan fakta 

128  

 

 

 

 

 

empiris   bahwa   terdapat   hubungan   antara   atribut-atribut   kognitif 

dengan   citra   total,   dan   disimpulkan   bahwa   kesan   total   sangat 

tergantung dengan atribut-atribut destinasi berdasarkan persepsi 

wisatawan secara individu. 

Milman  dan Pizam  (1995)  secara  kognitif menawarkan  tiga 

komponen yang membentuk citra destinasi, yakni: atraksi (attractions), 

perilaku tuan rumah (the hosts‟ behavior and attitude), dan lingkungan 

destinasi (the environment) seperti iklim, fasilitas, dan sebagainya. 

Sementara (Echner, 1991; Ritchie, 1993) mengindentifikasikan bahwa 

secara kognitif, citra destinasi terdiri dari   komponen psikologis 

wisatawan, keunikan, dan atribut destinasi secara holistik. 

Lebih  lanjut     Beerli  dan  Martin  (2004)  telah  melakukan 

penelitian dan mengklasifikasikan terdapat sembilan atribut yang 

mempengearuhi citra destinasi yaitu: (1) atribut alamiah (natural 

resources), (2) kesempatan wisatawan untuk bersenang-senang dan 

rekreasi (tourist leisure and recreation), (3) lingkungan alamiah (natural 

environment), (4) fasilitas umum (general infrastructure) , (5) budaya, 

sejarah, dan seni (culture, history, and art), (6) lingkungan sosial (social 

environment), (7) infrastruktur pariwisata (tourist infrastructure), (8) faktor 

ekonomi dan politik (political and economic factors), dan (9) suasana 

destinasi (atmosphere of the place) 

 

 

Tabel 7.3 Atribut Citra Destinasi 

 

No       Atribut Citra Destinasi 

1          Natural Resources dimanefestasikan dalam bentuk: 

Iklim (suhu dan kelembaban udara), pantai (pasir, air laut, ombak), 

alam perdesaan (flora dan fauna, taman, danau, gunung). 

2          Natural Environment dimanefestasikan dalam bentuk: 

Pemandangan alam, daya tarik, kebersihan, polusi, kemacetan, 

kebisingan 

3          Culture, History, and Art dimanefestasikan dalam bentuk: 

Festival, kerajinan, agama, adat istiadat, bangunan bersejarah 

4 Tourist Infrastructure dimanefestasikan dalam bentuk: 

Hotel, restoran, pusat hiburan dan rekreasi 

129  

 

 

 

 

 

 

 

5 Atmosphere of The Place dimanefestasikan dalam bentuk: 

Kenyamanan, kesejukan, kehangatan, reputasi destinasi 

6          Tourist Leisure and Recreation dimanefestasikan dalam bentuk: 

Kesempatan melakukan aktivitas wisata seperti memancing, 

berburu, surfing, diving, trekking, hiburan malam, dan sebagainya. 

7          General Infrastructure dimanefestasikan dalam bentuk: 

Jalan raya, bandara, transportasi umum, rumah sakit, drainase, 

fasilitas komunikasi 

8          Social Environment dimanefestasikan dalam bentuk: 

Kualitas hidup, kemiskinan, bahasa, keramahtamahan penduduk. 

9          Political And Economic Factors dimanefestasikan dalam bentuk: 

Stabilitas politik, keamanan, terorisme, harga-harga 

Sumber: Beerli dan Martin (2004), (Chi, 2005) 

 

 

Atribut-atribut destinasi di atas mempengaruhi citra destinasi 

sebagai hasil dari persepsi subjektif wisatawan yang berpengaruhi 

terhadap pemilihan destinasi pariwisata oleh wisatawan ini .  Citra 

destinasi mempengaruhi proses pemilihan destinasi wisatawan di masa 

yang  akan  datang  sebagai  konsekuensi  evaluasi  yang  telah 

dilakukannya (Chon 1990; Chi, 2005). 

  

 

 

 

 

130 

131  

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII 

KOMPONEN SUPLAI DAN KEPUASAN WISATAWAN 

 

 

 

8.1.     Kategorisasi Suplai Pariwisata 

Suplai pariwisata merupakan multivariabel produk yang 

membentuk  kepuasan  gabungan  dari  variabel  daya  tarik  wisata, 

hotel atau akomodasi, pelayanan imigrasi, restoran, pusat 

perbelanjaan, dan juga transportasi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8.1.1.  Prasarana Pariwisata 

Prasarana pariwisata adalah semua fasilitas utama atau dasar 

yang memungkinkan sarana kepariwisataan dapat hidup dan 

berkembang dalam rangka memberikan pelayanan kepada para 

wisatawan. Termasuk prasarana pariwisata: 

 Prasarana  perhubungan,  meliputi:  jalan  raya,  jembatan  dan 

terminal bus, rel kereta api dan stasiun, pelabuhan udara (air- 

port) dan pelabuhan laut (sea port/harbour) 

     Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih. 

132  

 

 

 

 

 

 

 

     Instalasi penyulingan bahan bakar minyak. 

 Sistem  pengairan  atau  irigasi  untuk  kepentingan  pertanian, 

peternakan dan perkebunan. 

     Sistem perbankan dan moneter. 

 Sistem telekomunikasi seperti telepon, pos, telegraf, faksimili, 

telex, email, dan lain. 

 Prasarana kesehatan seperti rumah sakit dan pusat kesehatan 

masyarakat. 

     Prasarana, keamanan, pendidikan dan hiburan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8.1.2.  Sarana Pariwisata 

Sarana Pariwisata adalah fasilitas dan perusahaan yang 

memberikan   pelayanan   kepada   wisatawan   baik   secara   langsung 

maupun   tidak   langsung.    Baik-buruknya    sarana   kepariwisataan 

133  

 

 

 

 

 

 

 

tergantung  pada  jumlah  kunjungan  wisatawan.  Sarana  pariwisata 

meliputi: 

     Perusahaan perjalanan seperti travel agent, travel bureu dan 

tour operator 

     Perusahaan transportasi, terutama transportasi angkutan wisata 

 

 

Biro perjalanan wisata 

Adalah  perusahaan  yang  menyelenggarakan  kegiatan  paket 

wisata dan agen perjalanan. Kegiatan usaha biro perjalanan wisata: 

 Menyusun  dan  menjual  paket  wisata  luar  negeri  atas  dasar 

permintaan. 

     Menyelenggarakan atau menjual pelayaran wisata (cruise). 

 Menyusun  dan  menjual  paket  wisata  dalam  negeri  kepada 

umum atau atas dasar permintaan. 

     Menyelenggarakan pemanduan wisata. 

     Menyediakan fasilitas untuk wisatawan. 

     Menjual tiket/karcis sarana angkutan, dan lain-lain. 

     Mengadakan pemesanan sarana wisata. 

 Mengurus    dokumen-dokumen    perjalanan    sesuai    dengan 

peraturan yang berlaku. 

134  

 

 

 

 

 

Agen Perjalanan Wisata 

Adalah perusahaan yang melakukan kegiatan penjualan tiket 

(karcis), sarana angkutan, dan lain-lain serta pemesanan sarana wisata. 

Kegiatan Agen Perjalanan Wisata: 

     Menjual tiket, dan lain-lain 

     Mengadakan pemesanan sarana wisata 

 Mengurus    dokumen-dokumen    perjalanan    sesuai    dengan 

peraturan yang berlaku. 

 

Cabang biro perjalanan umum 

Adalah satuan-satuan usaha dari suatu Biro Perjalanan Umum 

Wisata yang berkedudukan di tempat yang sama atau ditempat lain 

yang memberikan pelayanan yang berhubungan dengan perjalanan 

umum. 

 

 

Industri-Industri Dalam Kepariwisataan 

     Transportasi 

     Akomodasi 

 Segala  sesuatu  yang  menarik  wisatawan  untuk  berkunjung 

sesuai sifat kegiatan perusahaan perjalanan dibagi menjadi: 

Wholesaler  adalah  perusahaan  perjalanan  yang  menyusun 

acara perjalanan wisata secara menyeluruh atau secara khusus 

menjual paket perjalanan wisata kepada Retail Travel Agent. 

Retailer atau Retailer Travel Agent adalah biro perjalanan yang 

menjual perjalanan wisata secara langsung kepada wisatawan 

135  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hotel dan Jenis Akomodasi Lainnya 

Yang termasuk jenis akomodasi: hotel, motel, wisma, pondok 

wisata, villa, apartemen, karavan, perkemahan, kapal pesiar, yacht, 

pondok remaja dan sebagainya. 

 Serviced    Accomodation,    akomodasi    yang    menyediakan 

fasilitas dan pelayanan makanan dan minuman. 

 Non-Service      Accomodation,      akomodasi      yang      tidak 

menyediakan makanan dan minuman. Sekurang-kurangnya 

harus menyediakan kamar berperabot (furnished room) dan 

tenaga untuk melayani keperluan tamu. 

 

Sarana lainnya berupa: bar, restoran, katering dan usaha jasa 

boga, toko cendramata dan pusat kerajinan 

136  

 

 

 

 

 

Sarana Penunjang 

Sebagai akibat dari perkembangan kunjungan wisatawan, 

berbagai  sarana  penunjang  tumbuh  dengan  pesat  di  pusat  hunian 

wisata ataupun di kawasan obyek wisata seperti misalnya restoran, art 

shop, pasar seni, sarana hiburan, dan rekreasi. 

 

8.1.3.  Daya tarik wisata 

Suatu obyek daya tarik wisata pada pinsipnya harus memenuhi 

tiga persyaratan berikut: 

     Something to see (ada yang dilihat) 

     Something to do (ada yang dikerjakan) 

     Something to buy (ada yang dibeli/suvenir) 

     Obyek atau Daya Tarik Wisata dapat dibedakan menjadi tiga: 

 Obyek Wisata Alam: laut, pantai, gunung, danau, fauna, flora, 

kawasan lindung, cagar alam, pemandangan alam. 

 Obyek Wisata Budaya: upacara kelahiran, tari-tari tradisional, 

pakaian adat, perkawinan adat, upacara laut, upacara turun ke 

sawah, cagar budaya, bangunan bersejarah, peninggalan 

tradisional, festival budaya, kain tenun tradisional, tekstil lokal, 

pertunjukan   tradisional,   adat-istiadat   lokal,   musem,   dan 

lainnya. 

 Obyek Wisata Buatan: sarana dan fasilitas olehraga, permainan 

(layang-layang), hiburan (lawak, akrobatik), ketangkasan (naik 

kuda), Taman rekreasi, taman nasional, pusat-pusat 

perbelanjaan dan lain-lain. 

 

8.1.4.  Organisasi Kepariwisataan 

Adalah   suatu   badan   yang   langsung   bertanggung   jawab 

terhadap perumusan dan kebijakan kepariwisataan dalam lingkup 

nasional. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab tentang maju 

mundurnya pariwisata di suatu negara. Lembaga yang bertanggung 

jawab tentang pembinaan, perencanaan, pengembangan dan promosi 

137  

 

 

 

 

 

kepariwisataan baik dalam lingkup lokal, nasional dan internasional. 

Bertanggung jawab untuk mengadakan penelitian memperbaiki produk 

dan  mengembangkan  produk  baru  sesuai  dengan  ketentuan. 

Melakukan koordinasi dan kerjasama   dengan departemen yang 

berkaitan dengan kegiatan kepariwisataan. Sebagai badan yang 

mewakili negara dalam kegiatan dan percaturan kepariwisataan 

internasional 

 

8.2.     Mewujudkan Kepuasan Pelanggan 

8.2.1.  Definisi Kepuasan Pelanggan 

Kepuasan memainkan peranan penting dalam perencanaan 

pemasaran   produk   dan   jasa.   Berhubungan   dengan   pariwisata, 

kepuasan   wisatawan   menjadi   hal   penting   untuk   keberhasilan 

pemasaran destinasi pariwisata karena kepuasanlah yang berpengaruh 

langsung  terhadap  keputusan  wisatawan  untuk  menikmati  produk 

serta jasa, dan keputusan untuk datang kembali juga dipengaruhi oleh 

kepuasan wisatawan (Kozak dan Rimmington, 2000). 

Pada konteks pemasaran modern saat ini, kepuasan konsumen 

telah menjadi pilar utama dalam  menjalankan bisnis untuk 

mewujudkan tujuan perusahaan dalam memperoleh laba. Konsumen 

yang terpuaskan oleh perusahaan menjadi asset besar untuk 

kelangsungan hidup perusahaan. Oleh karena itu perlu dilakukan 

sebuah  pengelolaan  terhadap  kualitas  pelayanan  yang  ditawarkan 

untuk   memenuhi   kepuasan   pelanggan.   Kualitas   pelayanan   yang 

dikelola   secara   baik   akan   memberikan   hasil   yang   baik   untuk 

memenuhi kepuasan pelanggan. Konsumen memiliki kebebasan untuk 

menilai apakah bauran jasa yang ditawarkan perusahaan memberikan 

kepuasan sesuai yang mereka inginkan atau tidak. Apabila pelayanan 

yang ia rasakan tidak memuaskan maka dikhawatirkan mereka akan 

menceritakan kepada orang lain, sehingga hal itu akan berdampak 

buruk bagi perkembangan perusahaan penyedia jasa. Begitu pula 

sebaliknya  bila  pelayanan  yang  dirasakan  pelanggan  memuaskan 

sesuai  dengan  yang  mereka  inginkan,  maka  akan  menguntungkan 

138  

 

 

 

 

 

perusahaan penyedia jasa, karena biaya promosi dan usaha untuk 

memperkenalkan produk perusahaan akan dapat dikurangi. Untuk 

mendorong tercapainya tujuan bauran pemasaran jasa, perusahaan 

perlu memberikan pelayanan tambahan (suplement service) atas transaksi 

jasa inti (core service) agar jasa inti ini  dapat memberikan kepuasan, 

pelayanan tambahan ini  dapat tercermin dalam unsur-unsur 

bauran pelayanan yang ditawarkan perusahaan jasa kepada konsumen. 

Destinasi pariwsata sebagai sebuah produk jasa yang bersifat 

people based service, yang mengandalkan kemampuan keterampilan 

manusia, mestinya memperhatikan bauran pelayanan yang akan turut 

mempengaruhi   penilaian   pelanggan   terhadap   kualitas   jasa   yang 

dimiliki penyedia jasa. Dalam konteks destinasi pariwisata, bauran jasa 

ini  dapat meliputi: fasilitas destinasi, keunggulan pelayanan dan 

keandalan para pekerja pariwisata dalam memberikan pelayanan yang 

sesuai dengan keinginan pelanggan atau wisatawan. 

Pergeseran orientasi perusahaan dari market oriented (orientasi 

pasar) kepada satisfaction oriented (orientasi pada kepuasan konsumen) 

menjadikan kepuasan pelanggan sebagai faktor penentu kelangsungan 

hidup perusahaan karena pelanggan yang puas dengan pelayanan yang 

diberikan  perusahaan  maka  mereka  akan  merekomendasikan  orang 

lain untuk menggunakan jasa perusahaan yang telah memberikan 

kepuasan terhadap kebutuhannya. Lebih tegas, Kotler (2003:61) 

menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah: Satisfaction is a person‟s 

feeling of pleasure or disappointment resulting from comparing a products 

perceived performance (or outcome) in relation to his other expectations. 

Dijelaskan bahwa kepuasan pelanggan merupakan fungsi dari 

harapan pelanggan terhadap pelayanan yang diterimanya. Pelanggan 

akan dapat memperoleh kepuasan dari pelayanan yang diberikan 

perusahaan bila pelayanan ini  memenuhi kualitas pelayanan dan 

sesuai  dengan  harapan yang  diharapkan  oleh  pelanggan. Demikian 

juga sebaliknya, bila harapan pelanggan tidak terpenuhi dan kualitas 

pelayanan yang dirasakan di bawah standar maka pelanggan akan 

kecewa dan mungkin akan meninggalkan perusahaan penyedia jasa 

139  

 

 

 

 

 

ini  dan bahkan mungkin dia akan menceritakan kekurangan 

ini    kepada   orang   lain,   hal   ini   akan   sangat   merugikan 

kelangsungan  hidup  perusahaan  untuk  masa  yang  akan  datang. 

Kualitas   pelayanan   yang   diterima   pelanggan   melebihi   harapan 

terhadap kualitas pelayanan, sehingga pelanggan akan merasa puas 

terhadap pelayanan perusahaan. 

Kepuasan konsumen merupakan salah satu tujuan penting bagi 

aktifitas bisnis. Menurut Kotler, kepuasan konsumen juga dipandang 

sebagai salah satu indikator terbaik untuk meraih laba di masa yang 

akan datang (Kotler dan Keller, 2006:61). Fakta menunjukkan bahwa 

menarik konsumen baru jauh lebih mahal dari pada mempertahankan 

konsumen yang telah ada. Kepuasan konsumen merupakan salah satu 

indikator yang mempengaruhi loyalitas. Semakin tinggi tingkat 

kepuasan, maka loyalitas akan semakin tinggi. Sehubungan dengan hal 

ini , Zeithaml, et al., (2000:287) menyatakan bahwa kepuasan 

konsumen merupakan pemenuhan respon konsumen.   Oliver et al, 

(1999:392) mengemukakan bahwa kepuasan konsumen merupakan 

evaluasi terhadap surprise yang melekat pada pemerolehan produk dan 

atau pengalaman. 

Secara sederhana, beberapa pendapat di atas dapat dikatakan 

bahwa pelanggan-pelanggan yang terpuaskan oleh perusahaan  akan 

menjadi aset besar untuk kelangsungan hidup perusahaan. 

Mempertahankan kepuasan pelanggan mestinya dilakukan sebagai 

sebuah pengelolaan terhadap kualitas pelayanan yang ditawarkan 

sehingga kepuasan pelanggan dapat dipertahankan.  Hal senada dapat 

dikatakan bahwa kualitas pelayanan yang dikelola secara baik akan 

memberikan hasil yang baik untuk memenuhi kepuasan pelanggan. 

Apabila pelayanan yang yang dirasakan oleh konsumen tidak 

memuaskannya   maka   dikhawatirkan   mereka   akan   menceritakan 

kepada orang lain tentang ketidakpuasannya, sehingga hal itu akan 

berdampak buruk bagi keberlanjutan perusahaan. Begitu pula 

sebaliknya, apabila pelayanan yang dirasakan oleh pelanggan 

memuaskan   sesuai   dengan   yang   mereka   inginkan,   maka   akan 

140  

 

 

 

 

 

menguntungkan perusahaan khusus penyedia jasa, karena biaya 

promosi dan usaha untuk memperkenalkan produk perusahaan akan 

dapat dikurangi. 

 

8.2.2.  Mengukur Kepuasan Pelanggan 

Menurut (Kotler dan Keller, 2006:61), setiap pelayanan yang 

diberikan kepada pelanggan, perlu dievaluasi dengan mengukur tingkat 

kualitas pelayanan yang telah diberikan perusahaan kepada pelanggan, 

agar dapat diketahui sejauh mana kualitas pelayanan yang telah 

diberikan mampu memberikan  kepuasan kepada pelanggan.    Lebih 

lanjut, Wilkie (1994:15) menyatakan bahwa ada empat elemen dalam 

kepuasan konsumen yaitu : (1) elemen harapan, dimana harapan 

konsumen terhadap suatu barang atau jasa telah dibentuk sebelum 

konsumen membeli barang atau jasa. Pada saat proses pembelian 

dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka 

terima sesuai dengan harapan sesuai keinginan dan keyakinan mereka. 

Barang atau jasa yang sesuai dengan harapan konsumen akan 

memicu   konsumen  puas.  (2)  elemen  kinerja,  dimana  kinerja 

aktual barang atau jasa ketika digunakan tidak diperngaruhi oleh 

harapan konsumen. Ketika kinerja aktual barang atau jasa berhasil, 

maka konsumen akan merasa puas. (3) elemen perbandingan, dimana 

hal ini dilakukan dengan membandingkan harapan kinerja barang atau 

jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual barang atau jasa 

ini . Konsumen akan merasa puas ketika harapan sebelum 

pembelian sesuai atau melebihi persepsi konsumen terhadap kinerja 

aktual produk;   (4) elemen pengalaman, dimana harapan konsumen 

dipengaruhi oleh pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari 

barang atau jasa yang berbeda dari orang lain. 

Dari beberapa pendapat di atas, ditemukan adanya suatu 

kesamaan makna bahwa kepuasan pelanggan merupakan suatu 

penilaian dari pelanggan atas penggunaan produk barang atau jasa 

berdasarkan   harapan   dan   kenyataan.   Dengan   istilah   lain,   jika 

konsumen merasa apa yang mereka peroleh lebih rendah dari yang 

141  

 

 

 

 

 

diharapkan maka  konsumen ini  tidak akan puas. Sebaliknya, jika 

yamg diperoleh konsumen melebihi apa yang mereka harapkan maka 

konsumen akan puas. Sedangkan pada keadaan dimana apa yang 

diterima sama dengan yang diharapkan, maka konsumen ini  akan 

merasakan biasa-biasa saja atau netral. 

 

Tabel 8.1 Telaah Terhadap Berbagai Pandangan tentang Kepuasan 

Konsumen 

 

No    Penulis             Pandangan tentang Kepuasan Konsumen 

1.      Wilkie 

(1994) 

 

2.      Oliver 

(1999) 

 

3. Zeithaml,  et 

al, (2000) 

4.      Kotler 

(2003) 

Kepuasan konsumen terdiri dari empat elemen yaitu 

harapan, kinerja, perbandingan, dan pengalaman 

konsumen. 

Kepuasan konsumen merupakan evaluasi terhadap 

surprise yang melekat pada pemerolehan produk dan 

atau pengalaman. 

Kepuasan konsumen merupakan pemenuhan respon 

konsumen. 

Kepuasan merupakan salah satu indikator yang 

mempengaruhi loyalitas. 

Sumber: Hasil Penelitian 

 

 

Beberapa peneliti tentang kepuasan konsumen, berpendapat 

bahwa standar yang digunakan untuk mengukur kualitas jasa dan 

mengukur kepuasan konsumen dapat menggunakan beberapa 

pengukuran yang berbeda (Ekinci et al, 2001; Liljander, 1994).  Berikut 

beberapa pengukuran yang telah umum digunakan untuk menentukan 

kepuasan konsumen: 

Oliver (1980) menawarkan the expectation-disconfirmation model 

yang mengukur bahwa kepuasan konsumen adalah ukuran kesesuaian 

antara harapan terhadap sebuah  produk  atau  jasa  sebelum  seorang 

konsumen membelinya (purchasing).   Konsekuensi dari the expectation- 

disconfirmation model,   penampilan aktual sebuah produk atau jasa 

dibandingkan dengan harapan konsumen, dan jika penampilan aktual 

lebih baik dari harapan konsumen, maka konsumen dapat dinyatakan 

puas (positive disconfirmation). Jika penampilan aktual sebuah produk 

142  

 

 

 

 

 

atau jasa lebih buruk dari harapan konsumen, maka konsumen dapat 

dinyatakan tidak puas (negative disconfirmation). Konsekuensi dari 

kekecewaan atau ketidakpuasan konsumen, mereka akan mencari 

produk atau jasa alternatif lain untuk pembelian berikutnya. 

Chon (1989) pada sebuah studinya, menemukan teori the 

goodness of fit  bahwa kepuasan wisatawan didasarkan pada seberapa 

baik atau sesuainya antara harapan wisatawan terhadap sebuah 

destinasi  pariwisata.  Kesesuaian  harapan  wisatawan  hanya  dapat 

diukur jika mereka telah mengalami atau menikmati produk atau jasa 

pada  sebuah  destinasi  yang  mereka  kunjungi.  Perbandingan  citra 

sebuah destinasi sebelum mereka berkunjung, dibandingkan dengan 

kenyataan yang mereka lihat, rasakan, dan mereka alami akan 

menentukan derajat kepuasan wisatawan. 

Teori  lainnya  disampaikan  oleh  Oliver  dan  Swan  (1989) 

disebut equity theory. Pada equity theory, kepuasan konsumen dapat 

dilihat sebagai sebuah hubungan antara uang yang mereka keluarkan 

(costs) untuk mendapatkan produk atau jasa dengan manfaat yang 

mereka peroleh (benefits). Equity theory juga dikembangkan dan dipakai 

oleh (Heskett et al, 1997) untuk mengukur kepuasan konsumen,   di 

mana   uang,   manfaat,   waktu,   dan   usaha   yang   dilakukan   oleh 

konsumen  menentukan  kepuasannya.   Teori   yang   dibangun  oleh 

Heskett selanjutnya dikenal dengan The Service Profit Chain (SPC). 

Teori kepuasan konsumen lainnya adalah the norm theory oleh 

Latour dan Peat (1979), yang memandang bahwa sebuah pelayanan 

didasarkan pada sebuah norma dalam menentukan kepuasan maupun 

ketidakpuasan konsumen. The norm theory ini rupanya mirip dengan 

disconfirmation theory, cuma pada the norm theory, telah ditentukan 

terlebih dahulu sebuah standar produk atau jasa sebelum seorang 

konsumen menyatakan kepuasan maupun ketidakpuasannya. The norm 

theory selanjutnya dikembangkan oleh beberapa ahli menjadi ideal 

standard  theory,  dimana  kepuasan  berwisata  ditentukan  oleh 

pengalaman berwisata, dan persepsi (pendorong and penarik) terhadap 

apa yang telah mereka capai dan alami saat berwisata (Francken dan 

143  

 

 

 

 

 

van Raaij 1981; Sirgy, 1984; Yoon dan Uysal, 2003). Dalam penerapan 

dilapangan,   norm   theory   dan   ideal   standar   theory   menggunakan 

comparison   standard,   dimana   konsumen   membandingkan   dengan 

produk atau jasa dengan produk atau jasa yang telah mereka beli atau 

nikmati   sebelumnya.   Wisatawan   dapat   membandingkan   dengan 

produk atau jasa sejenis pada destinasi yang telah mereka alami, 

sebelum  menentukan  pilihan  destinasi  berikutnya.  Hasil 

pembandingan ini dapat menentukan kepuasan ataupun ketidakpuasan 

wisatawan. 

Teori berikutnya adalah a perceived performance model yang 

dibangun  oleh  Tse  dan  Wilton  (1988)  menyatakan  bahwa 

ketidakpuasan konsumen hanya berkaitan dengan sebuah fungsi atau 

kegunaan dari penampilan aktual sebuah produk atau jasa yang 

didasarkan  pada  berbagai  harapan  tentang  fungsi  dan  kegunaan 

produk serta jasa. Teori ini menekankan bahwa penampilan aktual 

sebuah produk dan harapan konsumen harus berdiri sendiri, bukan 

atas  dasar  perbandingan  penampilan  aktual  produk  dengan 

pengalaman masa lalu. Teori ini berprinsif bahwa penampilan aktual 

yang buruk di masa yang lalu pada destinasi yang berbeda mungkin 

telah  berubah menjadi  lebih  baik  dan  telah  sesuai  dengan  harapan 

konsumen saat ini pada destinasi  yang baru. Pada  teori  a  perceived 

performance ini, pengukuran kepuasan wisatawan akan efektif jika 

wisatawan tidak mengetahui tentang apa yang akan mereka nikmati 

atau lakukan, dan wisatawan belum pernah berwisata pada destinasi 

yang mereka kunjungi saat ini. Secara rinci, perbedaan dan persamaan 

pendapat para ahli tentang pengukuran kepuasan konsumen dapat 

dijabarkan pada Tabel 8.2 berikut ini: 

 

Tabel 8.2 Telaah Terhadap Berbagai Teori Pengukuran Kepuasan 

Konsumen 

 

No    Penulis      Teori                  Pengukuran 

1.      Oliver 

(1980) 

The 

expectation- 

Penampilan  aktual  sebuah  produk  atau 

jasa     dibandingkan     dengan     harapan 

144  

 

 

 

 

 

No    Penulis      Teori                  Pengukuran 

 

 

2.      Chon 

(1989) 

disconfirmation 

model 

The    goodness 

of fit 

konsumen. 

 

Seberapa baik atau sesuainya antara 

harapan wisatawan terhadap sebuah 

destinasi pariwisata. 

3. Oliver 

dan 

Swan 

(1989) 

Equity theory       Hubungan   antara   uang   yang   mereka 

keluarkan (costs) untuk mendapatkan 

produk atau jasa dengan manfaat yang 

mereka peroleh (benefits). 

4.      Heskett 

et        al, 

(1997) 

5. Tse  dan 

Wilton 

(1988) 

The service 

profit chain 

(SPC) 

A       perceived 

performance 

model 

Uang, manfaat, waktu, dan usaha yang 

dilakukan oleh konsumen menentukan 

kepuasan konsumen. 

Ketidakpuasan konsumen hanya berkaitan 

dengan sebuah fungsi atau kegunaan dari 

penampilan  aktual  sebuah  produk  atau 

jasa yang didasarkan pada berbagai 

harapan tentang fungsi dan kegunaan. 

Sumber: Hasil Telaah 

 

 

Walaupun banyak pengukuran yang dapat digunakan untuk 

mengukur kepuasan konsumen, namun makna inti kepuasan 

konsumen/wisatawan harus tetap menjadi pengukuran dasar yang 

digunakan untuk mengevaluasi penampilan produk dan jasa destinasi 

pariwisata (Noe dan Uysal, 1997; Schofield, 2000; Yoon dan Uysal, 

2003). Mengukur kepuasan konsumen (wisatawan) akan menjadi hal 

penting khususnya yang berhubungan dengan pemilihan destinasi, 

produk yang akan dikonsumsi oleh wisatawan, dan sekaligus 

mengetahui  pembelian  ulang  (kunjungan  kembali).  Mengukur 

kepuasan wisatawan juga untuk melakukan evaluasi terhadap destinasi 

saat ini. Hasil evaluasi terhadap destinasi adalah indikator yang dapat 

membantu para pemasar destinasi untuk melakukan penyesuaian atau 

perubahan terhadap peningkatan kualitas produk destinasi yang lebih 

sesuai dengan harapan konsumen. 

Ada beberapa metode dapat digunakan untuk mengukur 

kepuasan konsumen, dan mengukur kepuasan merupakan tindakan 

penting untuk melihat loyalitas konsumen (Kotler, 2003), mengetahui 

145  

 

 

 

 

 

respon konsumen terhadap produk (Zeithaml, et al), mengetahui 

harapan konsumen, mengetahui kinerja produk, mengetahui dinamika 

selera konsumen, dan sekaligus menentukan arah inovasi produk yang 

sesuai dengan harapan konsumen (Wilkie, 1994), dan secara tegas 

Oliver (1999) mengatakan bahwa mengukur kepuasan pelanggan pada 

hakekatnya adalah melakukan evaluasi terhadap produk dan harapan 

konsumen. 

Menurut Tjiptono (1997:35), metode yang digunakan untuk 

mengukur kepuasan konsumen dapat dilakukan dengan cara: (1) 

pengukuran yang dilakukan secara langsung dengan pertanyaan. (2) 

responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka 

mengharapkan   suatu   atribut   tertentu   dan   seberapa   besar   yang 

dirasakan. (3) responden diminta untuk menuliskan masalah yang 

mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga 

diminta untuk menuliskan masalah-masalah yang mereka hadapi 

berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk 

menuliskan perbaikan yang mereka sarankan. dan metode lainnya, (4) 

responden dapat diminta untuk meranking berbagai elemen dari 

penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan seberapa 

baik kinerja perusahan dalam masing-masing elemen. 

Kepuasan konsumen pada kontek pariwisata mengalami sedikit 

kontektualiasi yang disesuaikan dengan karakteristik produk pariwisata 

itu sendiri. Kepuasan pelanggan didefinisikan oleh The World  Tourism 

Organization  (WTO: 1985) sebagai  a psychological  concept  that involves 

the feeling of well-being  and pleasure that results from obtaining what one 

hopes for and expects from an appealing product and/or service.   Menurut Tze 

dan Wang (2012) kepuasan wisatawan terhadap destinasi pariwisata 

adalah  konsep  yang  multidimensi  yang  terdiri  dari  banyak  faktor 

yang  saling  terkait.  Salah  satu  faktor  yang  membuat  wisatawan 

puas, mungkin faktor lainnya tidak mampu memuaskan wisatawan. 

Menurutnya, aspek destinasi yang terdiri dari atraksi, amenitas, dan 

aksesibilitasnya    mungkin   memiliki   kesamaan   antara   destinasi 

namun,  untuk  aspek  ensilari  dalam  hal  ini  jasa  yang  bersifat  tak 

146  

 

 

 

 

 

 

 

berwujud sangat dinamis dan cenderung menuntut kualitas yang 

semakin meningkat dari waktu ke waktu. 

Model    yang    dibangun    oleh    Tze    dan    Wang    (2012) 

menerangkan bahwa kepuasan adalah variabel mediasi dari 

multivariabel berupa daya tarik destinasi, pelayanan, dan nilai uang 

terhadap pembentukan loyalitas wisatawan. Kepuasan wisatawan 

adalah  pengukuran  yang  dilakukan  secara  simultan  (overall 

satisfaction),  karena pariwisata  itu sendiri merupakan  satu kesatuan 

produk yang terpadu dan memiliki keterkaitan  antara semua faktor 

pemuas. 

147  

 

 

 

 

 

 

 

BAB IX 

DAMPAK PARIWISATA TERHADAP PEREKONOMIAN 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9.1.     Pariwisata mesin penggerak perekonomian dunia 

Pariwisata adalah salah satu mesin penggerak perekonomian 

dunia yang terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap 

kemakmuran sebuah negara. Pembangunan pariwisata mampu 

menggairahkan aktivitas bisnis untuk menghasilkan manfaat sosial. 

budaya, dan ekonomi yang signifikan bagi suatu negara. Ketika 

pariwisata  direncanakan  dengan  baik,  mestinya  akan  dapat 

memberikan manfaat bagi masyarakat pada sebuah destinasi. 

Keberhasilan  pariwisata  terlihat  dari  penerimaan  pemerintah  dari 

sektor pariwisata dapat mendorong sektor lainnya untuk berkembang. 

Keberhasilan yang paling mudah untuk diamati adalah bertambahnya 

jumlah kedatangan wisatawan dari periode ke periode. Pertambahan 

jumlah   wisatawan   dapat   terwujud   jika   wisatawan   yang   telah 

berkunjung puas terhadap destinasi dengan berbagai atribut yang 

ditawarkan oleh pengelolanya. Wisatawan yang puas akan cenderung 

menjadi loyal untuk mengulang liburannya dimasa mendatang, dan 

memungkinkan mereka merekomen teman-teman, dan kerabatnya 

untuk berlibur ke tempat yang sama (Som dan Badarneh, 2011). 

Fenomena yang terjadi pada trend  pariwisata, khususnya di dunia saat 

ini adalah pesatnya pertumbuhan wisata kota. 

148  

 

 

 

 

 

Dari perspektif ekonomi, dampak positif pariwisata (kasus: 

pariwisata Bali-negara kita ) yaitu: (1) mendatangkan devisa bagi negara 

melalui penukaran mata uang asing di daerah tujuan wisata, (2) pasar 

potensial bagi produk barang dan jasa masyarakat setempat, (3) 

meningkatkan pendapatan masyarakat yang kegiatannya terkait 

langsung atau tidak langsung dengan jasa pariwisata, (4) memperluas 

penciptaan kesempatan kerja, baik pada sektor-sektor yang terkait 

langsung seperti perhotelan, restoran, agen  perjalanan, maupun pada 

sektor-sektor yang tidak terkait langsung seperti industri kerajinan, 

penyediaan produk-produk pertanian, atraksi budaya, bisnis eceran, 

jasa-jasa   lain dan sebagainya, (5) sumber pendapatan asli daerah 

(PAD), dan (6) merangsang kreaktivitas seniman, baik seniman 

pengrajin industri kecil maupun  seniman „tabuh‟ dan tayang 

diperuntukkan konsumsi wisatawan (Antara, 2011). 

Jadi pariwisata di manapun, memang tak terbantahkan telah 

menimbulkan dampak positif (positive impact) bagi perekonomioan 

regional dan nasional, namun patut pula diakui bahwa pariwisata juga 

menimbulkan dampak negatif (negative impact), antara lain, 

menyusutnya lahan pertanian untuk pembangunan pendukung 

infrastruktur pariwisata, meningkatnya kriminalitas, kepadatan lalu 

lintas, urbanisasi dan   emigrasi, bermuculannya ruko-ruko, shopping 

centre  yang melanggar tataruang wilayah, degradasi lingkungan dan 

polusi. Dampak negatif yang disebutkan terakhir disebut eksternalitas, 

utamanya eksternalitas negatif (negative externality= external cost = 

external  diseconomy),  yaitu  aktivitas  kepariwisataan  yang 

menimbulkan  kerusakan  lingkungan,  polusi  air  (sungai,  laut  dan 

sumur) dan tanah, sehingga memicu  kerugian sosial yang 

ditanggung oleh masyarakat di daerah tujuan wisata (Antara, 2009). 

Sejak   diberlakukannya   Undang-Undang   (UU)   Nomor   22 

Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan atau diganti menjadi UU 

Nomor  32  tahun  2004  tentang  Pemerintah  Daerah,  sesungguhnya 

sudah lebih menjamin cita-cita penegakan prinsip-prinsip demokrasi 

yang  menjunjung  tinggi  pluralitas,  transparansi,  akuntabilitas,  dan 

149  

 

 

 

 

 

berbasis pada kemampuan lokal. Hakekat otonomi daerah adalah 

kesempatan  seluas-luasnya  bagi  pemerintah  daerah  untuk 

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, tidak hanya 

mengandalkan dana   perimbangan pusat dan daerah, tetapi juga 

menggali potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah dengan tetap 

memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan keberlanjutan. Namun, 

pemerintah setempat belum secara optimal menggali sumber-sumber 

pendapatan di daerahnya. 

Arti penting Pariwisata dalam Perekonomian 

1.    Memberikan kesempatan kerja/memperkecil pengangguran 

2.    Peningkatan penerimaan pajak dan retribusi daerah 

3.    Meningkatkan Pendapatan Nasional (National Income) 

4.    Memperkuat    Posisi    Neraca    Pembayaran    (Net    Balance 

Payment) 

5. Memberikan   efek   multiplier   dalam   perekonomian   DTW 

(daerah tujuan wisata) 

 

Rekomendasi IUOTO (International Union of Official Travel 

Organization) 

a. Pariwisata sebagai suatu factor bagi perkembangan ekonomi 

nasional maupun international. (Variabel-variabel bebas 

pembangunan ekonomi) 

b.    Pemicu   kemakmuran   melalui   perkembangan   komunikasi, 

transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (Variabel 

antara terhadap variabel utama pembangunan ekonomi) 

c.    Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai social 

agar bernilai ekonomi. (value Added: Nilai tambah) 

d. Pemerataan   kesejahtraan   yang   diakibatkan   oleh   adanya 

konsumsi wisatawan pada DTW. 

e.    Penghasil devisa (8.000) juta dollar setiap tahun. 

f.     Pemicu perdagangan international (Export-Import) 

150  

 

 

 

 

 

 

 

g. Pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi 

pariwisata maupun lembaga yang khusus membentuk jiwa 

hospitality yang handal dan santun. 

h. Pangsa pasar bagi produk local (DTW) sehingga aneka-ragam 

produk terus berkembang. Seiring dinamika social ekonomi 

pada daerah DTW. 

 

 

9.2.     Dampak Pariwisata terhadap Perekonomian 

4Positive Economic Impacts of Tourism 

1.       Foreign Exchange Earnings 

Pengeluaran sektor pariwisata 

akan memicu  

perekonomian masyarakat local 

menggeliat dan menjadi stimulus 

berinvestasi dan memicu  

sektor keuangan bertumbuh 

seiring bertumbuhnya sektor 

ekonomi lainnya. 

Pengalaman di beberapa negara 

bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga 

memicu  bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan 

pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata. 

Tercatat juga bahwa di beberapa negara di dunia 83% dari lima besar 

pendapatan mereka,  38% pendapatannya adalah  berasal  dari “Foreign 

Exchange Earnings” perdagangan valuta asing. 

 

“New Delhi, Feb 26 : Highlighting the tremendous growth potential 

offered by the tourism sector, the Economic Survey 2010-11 has said 

the  country's  foreign exchang  eearnings (FEE)  from  tourist  arrivals 

grew by 24.56 percent in 2010 at 14,193 million dolllars as compared 

to 11,394 dollars million in 2009” 

 

 

 

4        Positive Economic Impacts of Tourism 

151  

 

 

 

 

 

Sebagai contoh, bahwa pariwisata mampu menyumbangkan 

pendapatan untuk Negara India, berdasarkan hasil survey ekonomi 

India pada tahun 2010-11, bahwa akibat kedatangan wisatawan asing 

ke India pada tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan dari 

perdangan Valas sebesar 34,56% atau sebesar 14,193 Juta US Dolar 

meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 11,394 

Juta US Dolar. 

 

“Latest  statistics from National Tourism Administration show that 

China's  foreign-exchange  earnings  from  tourism  exceeded  US$5.1 

billion in the first four months this year, an increase of 18.7 percent 

over the same period last year, 2010” 

 

Sementara pemerintah China mencapat bahwa sumbangan 

pariwisata   akibat perdagangan Valas   telah mencapai 5,1 Juta US 

Dolar untuk kurun waktu hanya empat bulan saja pada tahun 2010. 

Dari kedua contoh ini  sudah dianggap cukup menguatkan 

pendapat bahwa pembangunan pariwisata dapat meningkatkan 

pendapatan suatu Negara khususnya dari aktifitas perdagangan valuta 

asing. 

 

2.       Contributions To Government Revenues 

Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat 

diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. 

Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari 

para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan 

wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi. 

Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan 

pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di 

import dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung. 

Dalam kedua konteks di atas, WTO memprediksi bahwa usaha 

perjalanan wisata dan bisnis pariwisata ini  secara langsung dan 

tidak langsung termasuk juga pajak perorangan telah berkontribusi 

terhadap  pariwisata  dunia  melampaui  US$  800  billion  pada  tahun 

152  

 

 

 

 

 

1998, dan pada tahun 2010 berlipat dua kali jika dibandingkan tahun 

1998. 

 

“According to the study, tourism generated $19.7 billion of revenue for 

all three levels of government combined in Canada in 2007. Spending 

by Canadians accounted for three out of every four dollars taken in, 

while one in four dollars came from international visitors to Canada” 

 

Menurut penelitian, pariwisata Kanada menghasilkan $ 19, 7 

Juta pendapatan untuk ketiga tingkat pemerintahan gabungan di 

Kanada pada tahun 2007. Dan Belanja Kanada menyumbang tiga dari 

setiap empat dolar, sementara satu dari empat dolar berasal dari 

wisatawan asing yang berwisata di Kanada. 

 

“Tourism  makes   significant   direct  contributions   to  Government 

revenues  through  the  sale  of  tickets  to  the Angkor  Complex  ($US 

1.2 million),  visa  fees  ($US  3 million),  and  departure  taxes  at the 

airports” 

 

Sementara pemerintah Komboja mencatat bahwa sector 

pariwisata secara langsung dan nyata telah memberikan sumbangan 

pendapatan bagi pemerintah melalui aktifitas penjualan tiket masuk 

wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Angkor sebesar 1,2 Juta 

US Dolar, dari Visa sebesar 3 juta US Dolar, dan aktifitas  taksi dan 

aktifitas pelayanan di bandara. Pada kedua studi kasus di atas, tidak 

dapat disangkal lagi bahwa pariwisata memang benar dapat 

meningkatkan   pendapatan   bagi   pemerintah   di   mana   pariwisata 

ini  dapat dikembangkan dengan baik. 

 

3.       Employment Generation 

Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor 

pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional 

berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan 

usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, 

153  

 

 

 

 

 

 

 

taxi,  dan  usaha  kerajinan  seni  souvenir  seperti  digambarkan  pada 

gambar di bawah ini: 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Dampak Kedatangan Wisatawan terhadap peluang usaha 

pariwisata pada sebuah Destinasi Pariwisata, Sumber: Departemen 

Perdagangan Amerika Serikat, 1978. 

 

“Tourism employment is a measure of employment in tourism and 

non-tourism industries. It is based on an estimate of jobs rather than 

“hours of work”. Thus, someone who works 10 hours a week counts for 

as much, by this measure, as someone who works 50 hours a week”. 

(Government Revenue Attributable to Tourism, 2007) 

 

Menurut   Canada   Government   Revenue   Attributable   to 

Tourism, (2007), mendifinisikan bahwa yang dimaksud “Tourism 

employment”  adalah  ukuran  yang  dipakai  untuk  mengukur   besarnya 

tenaga kerja yang terserap secara langsung pada sector pariwisata 

termasuk juga besarnya tenaga kerja yang terserap di luar bidang 

pariwisata akibat keberadaan pembangunan pariwisata.   Dan WTO 

154  

 

 

 

 

 

 

 

mencatat  kontribusi  sector  pariwisata  terhadap  penyediaan  lahan 

pekerjaan sebesar 7% secara internasional. 

 

“Tourism Industry employs  large number of people and provides a 

wide range of jobs which extend from the unskilled to the highly 

specialises. Tourism is also responsible for creating employment outside 

the industry such as furnishing and equipment industry, souvenir 

industry, textile and handicraft industry, farming and           food 

supply and also construction industry” 

 

Hasil studi pada dampak pembangunan pariwisata di Tripura, 

India menunjukkan bahwa industry pariwisata adalah industri yang 

mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu 

menciptakan peluang kerja dari peluang kerja untuk tenaga yang tidak 

terdidik sampai dengan tenaga yang sangat terdidik. Pariwisata juga 

menyediakan   peluang   kerja   diluar   bidang   pariwisata   khususnya 

peluang kerja bagi mereka yang berusaha secara langsung pada bidang 

pariwisata dan termasuk juga bagi mereka yang bekerja secara tidak 

langsung terkait industri pariwisata seperti usaha-usaha pendukung 

pariwisata; misalnya pertanian sayur mayor, peternak daging, supplier 

bahan   makanan,   yang   akan   mendukung   operasional   industri 

perhotelan dan restoran. 

155  

 

 

 

 

 

Sedangkan  menurut  Mitchell  dan  Ashley  2010,  mencatat 

bahwa sumbangan pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja jika 

dibandingkan dengan sector lainnya menunjukkan angka yang cukup 

berarti, dan indeks terbesar terjadi   di Negara New Zealand sebesar 

1,15 disusul oleh Negara Philipines, kemudian Chile, Papua New 

Guinea, dan Thailand sebesar 0,93. Sementara di negara kita  indeks 

penyerapan  tenaga  kerja  dari  sector  pariwisata  sebesar  0,74,  masih 

lebih rendah jika dibandingkan Negara Afrika Selatan yang mencapai 

0,84. 

Dalam  dua  kasus  di  atas,  pariwisata  memegang  peranan 

penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua Negara yang 

mengembangkan p


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH