Tampilkan postingan dengan label LPG 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LPG 2. Tampilkan semua postingan

LPG 2

 




ir 1/2”-14 NGT) 

E     yaitu  Diameter pits  

E0    yaitu  24,58 (ulir 3/4”-14 NGT)   19.26 (ulir 1/2”-14 NGT) 

E1    yaitu  25,12 (ulir 3/4”-14 NGT)   19.77 (ulir 1/2”-14 NGT) 

E3    yaitu  24,24 (ulir 3/4”-14 NGT)   18.92 (ulir 1/2”-14 NGT) 

E8    yaitu  25,80 (ulir 3/4”-14 NGT)   20.45 (ulir 1/2”-14 NGT) 

K     yaitu  Diameter dalam 

K3    yaitu  22.79 (ulir 3/4”-14 NGT)   17.47 (ulir 1/2”-14 NGT) 

L1     yaitu  Standar pengencangan dengan tangan 8,61 (ulir 3/4”-14 NGT) 8.13 (ulir 1/2”-14 

NGT) 

L3     yaitu  3 (tiga) ulir pengencangan dengan kunci torsi sebesar 105 N.m untuk ulir 1/2” – 14 NGT 

dan torsi sebesar 225 N.m untuk ulir ¾” – 1/4 NGT 

L1 + L3  yaitu  14,05 (ulir 3/4”-14 NGT)  13.57 (ulir 1/2”-14 NGT) 

L8    yaitu  Panjang ulir katup utuh 19.50 (ulir 3/4”-14 NGT)   19.01 (ulir 1/2”-14 

NGT) 

L9    yaitu  Panjang ulir tabung (cincin leher) utuh minimal 17,68 (ulir 3/4”-14 NGT)    17.20 (ulir 1/2”-

14 NGT) 

L10   yaitu  Panjang total ulir katup (pendekatan) 22,22 (ulir 3/4”-14 NGT)  20.64 (ulir 

1/2”-14 NGT) 

 

Gambar 8 - Ukuran ulir 3/4”- 14 NGT dan ulir 1/2”-14 NGT 

 

 

5.4   Setiap katup tabung baja LPG harus memiliki satu katup pengaman bertipe pegas dan 

dirancang kedap gas. Katup pengaman mulai membuka pada tekanan 2,59 MPa (375 Psi) 

toleransi 10% dan menutup penuh pada tekanan tidak kurang dari 1,77 MPa (257 Psi). 

 

5.5 Katup pengaman harus disegel sehingga tidak dapat dibuka dan diubah. 

 

53

SNI 1591:2008 

 

 10 dari 15

5.6 Pegas yang digunakan pada katup pengaman harus mampu berfungsi normal pada 

suhu berkisar -20 °C sampai dengan 65 °C. 

 

 

6    Syarat mutu 

 

6.1   Sifat tampak 

 

Pengerjaan akhir katup harus baik, tidak boleh retak, karat dan kehitaman. 

 

6.2   Sifat ketahanan 

 

6.2.1 Karet katup kendali pada katup tabung baja LPG kapasitas isi tabung 3 kg sampai 12 

kg tidak boleh bocor setelah katup dibuka dan ditutup 5000 kali. 

 

6.2.2 Karet O-ring dan perapat nylon pada katup tabung baja LPG kapasitas isi tabung    

50 kg tidak boleh bocor setelah katup dibuka dan ditutup 5000 kali. 

 

6.3    Pneumatik 

 

Katup tidak boleh bocor pada tekanan 1,82 MPa (264 Psi). 

 

6.4    Hidrostatik 

 

Badan katup (sebelum dirakit) tidak boleh retak atau berubah bentuk pada tekanan kurang 

dari 3,65 MPa (529 Psi). 

 

6.5    Ketahanan hidrokarbon 

 

Perubahan berat dan volume karet tidak boleh melebihi 20 % setelah 5 menit pengujian dan 

tidak boleh melebihi 10% setelah 24 jam pengujian. 

 

6.6    Kelenturan 

 

Karet tetap lentur pada suhu -20° C sampai dengan 50° C. 

 

6.7   Pengusangan (Ageing) 

 

Perubahan kekerasan karet tidak boleh melebihi 10% setelah pengujian. 

 

 

7  Pengambilan contoh 

 

7.1   Pengambilan contoh dilakukan oleh petugas yang berwenang. 

 

7.2   Untuk pengujian diambil contoh uji secara acak sebanyak: 

 

Produksi 

(buah) 

Contoh uji 

s/d 100.000 10 buah 

100.001  s/d 500.000  12 buah 

500.001  s/d seterusnya 15 buah 

 

54

SNI 1591:2008 

 11 dari 15 

8   Cara uji 

 

8.1    Uji bahan 

 

8.1.1   Uji tarik 

 

Cara uji tarik dilakukan dengan SNI 07-0408-1989, Cara uji tarik logam.  

 

8.1.2 Uji impak 

 

Cara uji impak dilakukan dengan SNI 19-0411-1989, Cara uji pukul charpy. 

 

8.2 Uji tampak 

 

Pengujian dilakukan secara visual pada katup. 

 

8.3 Uji ketahanan 

 

8.3.1 Katup tabung baja LPG kapasitas isi tabung 3 kg sampai 12 kg diuji dengan cara 

dibuka dan ditutup sebanyak 5000 kali. Setelah mengalami pengujian dilakukan uji 

pneumatik. 

 

8.3.2 Katup tabung baja LPG kapasitas isi tabung 50 kg diuji dengan cara dibuka dan 

ditutup sebanyak 5.000 kali. Setelah mengalami pengujian dilakukan uji pneumatik. 

 

8.4 Uji pneumatik 

 

Pengujian dilakukan pada katup dalam keadaan tertutup dengan tekanan kerja minimum 

1,82 MPa (264 Psi) selama 30 detik. 

 

8.5 Uji hidrostatik 

 

Pengujian dilakukan pada badan katup sebelum dirakit dengan tekanan 3,65 MPa (529 Psi) 

selama 1 menit. 

 

8.6 Uji hidrokarbon 

 

Pengujian komponen karet dilakukan sesuai dengan prosedur sebagai berikut: 

a. Timbang berat awal contoh uji di udara dan ukur volume awal contoh uji dengan 

dicelupkan ke dalam gelas ukur yang diisi air. 

b. Keringkan contoh uji, kemudian dicelupkan di dalam cairan propena selama 72 jam 

pada suhu (23 ± 2) °C. 

c. Setelah itu ambil contoh uji dan keringkan dengan sehelai kertas filter. 

d. Setelah interval 5 menit, timbang berat dan ukur volume contoh uji dengan cara seperti 

pada butir a) 

e. Selanjutnya contoh uji dibiarkan di udara selama 24 jam. 

f. Setelah itu timbang berat dan ukur volume contoh uji dengan cara seperti butir a). 

g. Hitung perubahan berat dan volume pada butir d) dan butir f). Perubahan berat dan 

volume dicatat sebagai prosentase berat dan volume semula. 

 

8.7 Uji lentur 

 

Pengujian komponen karet dilakukan dengan mengambil contoh spesimen/bahan baku karet 

sesuai dengan prosedur sebagai berikut: 

a. Ukur kelenturan awal contoh uji pada suhu ruang. 

55

SNI 1591:2008 

 

 12 dari 15

b. Rendam contoh uji dalam metanol yang didinginkan dengan es kering/nitrogen cair 

sampai mencapai suhu –20 °C ± 2°C, diamkan selama ± 10 menit. 

c. Setelah itu keluarkan contoh uji dan ukur kelenturannya . 

d. Kemudian contoh uji didiamkan ± 5 menit pada suhu ruang. 

e. Selanjutnya masukkan contoh uji ke dalam pemanas (oven) pada suhu 50 °C ± 2 °C, 

diamkan selama ± 10 menit. 

f. Keluarkan contoh uji dan ukur kelenturannya. 

g. Hitung perubahan kelenturan pada butir c) dan butir f), bandingkan dengan kelenturan  

contoh uji awal. 

 

8.8 Uji pengusangan (ageing) 

 

Pengujian komponen karet dilakukan sesuai dengan prosedur sebagai berikut: 

a. Ukur kekerasan awal contoh uji pada suhu ruang. 

b. Masukkan contoh uji  ke  dalam pemanas (oven) pada suhu 70 °C ± 1°C  selama        

168 jam. 

c. Setelah itu keluarkan contoh uji, diamkan dalam suhu ruang minimum  selama 16 jam. 

d. Kemudian ukur kekerasan contoh uji. 

e. Hitung perubahan kekerasan contoh uji, bandingkan dengan kekerasan contoh uji awal. 

 

8.9    Uji dimensi 

 

Pengujian pengukuran menggunakan alat ukur jangka sorong dan atau mikrometer dengan 

ketelitian alat ukur 0,01 mm. 

 

 

9    Syarat lulus uji 

 

9.1 Kelompok katup dinyatakan lulus uji bila contoh uji memenuhi persyaratan pada pasal 

4 (Bahan baku), pasal 5 (Syarat konstruksi) dan pasal 6 (Syarat mutu). 

 

9.2 Apabila salah satu syarat pada pasal 4, pasal 5, dan pasal 6 tidak terpenuhi maka 

contoh dinyatakan tidak lulus dan dilakukan uji ulang dengan jumlah 2 x (dua kali) dari 

jumlah contoh pertama. 

 

9.3   Apabila dalam uji ulang salah satu syarat pada pasal 4, pasal 5 dan pasal 6 tidak 

terpenuhi maka contoh tidak lulus dan kelompok yang diwakilinya dinyatakan gagal. 

 

 

10 Penandaan 

 

Setiap katup harus diberi tanda dengan huruf, angka atau simbol yang tidak mudah hilang 

sekurang-kurangnya mencakup: 

− Pembuat 

− Bulan dan tahun pembuatan 

− Petunjuk tekanan kerja maksimum 

 

 

11   Pengemasan 

 

Bagian ulir luar dan mulut katup harus dilindungi dengan penutup dan dikemas dalam dus 

karton berisi 50 buah katup. Setiap dus karton harus diberi tanda dengan huruf, angka atau 

simbol yang tidak mudah hilang sekurang-kurangnya mencakup:  

-    Nama pembuat 

56

SNI 1591:2008 

 13 dari 15 

-    Jenis/tipe katup 

-    Isi kemasan 

 

 

 

 

57

SNI 1591:2008 

 

 14 dari 15

Lampiran A 

(Normatif) 

 

ULIR NGT (NATIONAL GAS TAPER) 

 

 

CATATAN Acuan standard ulir NGT dari BS 57.1-1965, Compressed Gas Cylinder value outlet and 

 inlet connections. 

  

58

SNI 1591:2008 

 15 dari 15 

Bibliografi 

 

 

 

Under write Laboratories  157, Gasket and seals 

Under write Laboratories  1769, Cylinder valve 

MS 831:1986, Specification for valves for use with domestic liquefied petroleum gas (LPG) 

cylinders. 

BS 903 : Part A19 : 1986 (ISO 188-1982), Methods of testing vulcanized rubber. Part A19 

Heat resistance and accelerated ageing tests.  

BS 903 : Part A16 : 1987 (ISO 1817-1985), Methods of testing vulcanized rubber. Part A16 

Determination of effect of liquids. 

BS EN 549 : 1995, Specification for rubber materials for seals and diaphragms for gas 

appliances and gas equipment. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

59

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN

Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4

Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270

Telp: 021- 5747043; Faks: 021- 5747045; e-mail : bsn@bsn.go.id

60

 

Standar Nasional Indonesia 

 

SNI 7369:2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ICS 23.020.99 Badan Standardisasi Nasional 

 

Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG 

61

 

 

62

SNI 7369:2008 

 i

Prakata 

 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia (SNI), Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG 

merupakan revisi SNI 7369:2007 dengan pertimbangan: 

(a)  bahwa diharapkan dengan adanya standar ini ada jaminan akan adanya produk yang  

bermutu sesuai dengan standar yang ditentukan. Dalam hal ini, standar ini  dapat 

mencakup seluruh industri menengah maupun besar di dalam memproduksi regulator 

tekanan rendah untuk tabung baja LPG; 

(b)  menyesuaikan dengan keadaan dan kemampuan dari industri  Regulator tekanan 

rendah untuk tabung baja LPG di Indonesia, namun dengan tidak meningggalkan 

kemampuan kita didalam menghadapi pasar bebas. 

Oleh karenanya dengan adanya standar ini, maka diharapkan dapat lebih menyempurnakan 

interpretasi yang ada selama ini, sehingga pada akhirnya akan dapat lebih meningkatkan 

kualitas, efisiensi produksi, penghematan biaya, jaminan mutu untuk konsumen dan 

produsen, serta menciptakan persaingan yang sehat dan menunjang program keterkaitan 

antar sektor pembangunan. 

Standar ini telah dibahas dalam rapat konsensus pada tanggal 14 Maret 2008 di Jakarta 

yang dihadiri oleh wakil dari produsen, konsumen, lembaga penelitian dan instansi terkait 

lainnya. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis ICS 21-01: Permesinan dan Produk 

Permesinan. 

63

SNI 7369:2008 

 

 ii

Daftar isi 

 

 

 

Prakata...................................................................................................................................i 

Daftar isi.................................................................................................................................ii 

1    Ruang lingkup ..................................................................................................................1 

2    Acuan normatif .................................................................................................................1 

3    Istilah dan definisi ............................................................................................................1 

4    Bahan baku......................................................................................................................2 

5    Rangka konstruksi ...........................................................................................................2 

6    Syarat mutu .....................................................................................................................5 

7    Pengambilan contoh ........................................................................................................6 

8    Cara uji.............................................................................................................................7 

9    Syarat lulus uji..................................................................................................................10 

10  Penandaan.......................................................................................................................10 

11  Pengemasan....................................................................................................................10 

Lampiran A.............................................................................................................................11 

Bibliografi ...............................................................................................................................12 

 

 

64

SNI 7369:2008 

 1 dari 12

 Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG 

 

 

 

1 Ruang lingkup 

 

Standar ini menjelaskan tentang bahan baku syarat mutu dan cara uji regulator LPG 

bertekanan rendah sistem pengancing untuk tabung baja LPG kapasitas 3 kg sampai 12 kg. 

 

 

2 Acuan normatif 

 

SNI 1591: 2008, Katup tabung baja LPG. 

 

3 Istilah dan definisi  

 

3.1   

regulator 

alat pengatur tekanan untuk tabung baja LPG yang berfungsi untuk menyalur dan mengatur 

serta menstabilkan tekanan gas yang keluar dari tabung baja LPG supaya aliran gas menjadi 

konstan 

       

3.2  

regulator tekanan rendah 

alat pengatur tekanan dirancang khusus untuk mengatur tipe tabung baja LPG dengan 

tekanan keluaran maksimal 5 kPa 

 

3.3  

sistem pengancing (clip-on system) 

sistem pengancing regulator yang berfungsi untuk mengunci dan membuka dari katup 

tabung baja dengan mudah 

 

3.4   

tekanan masuk 

desakan aliran LPG yang mengalir masuk dari tabung baja LPG melalui bagian penyambung 

saluran masuk (insert valve) regulator  

 

3.5   

tekanan keluar 

desakan aliran LPG yang mengalir keluar melalui bagian dari saluran keluar regulator 

 

3.6  

tekanan pengaman (lock-up) 

desakan aliran LPG yang berada di dalam regulator yang berfungsi sebagai pendorong 

bantalan katup untuk menutup aliran gas LPG yang keluar dari tabung baja LPG 

 

3.7      

LPG (liquefied petroleum gas)  

sejenis campuran  bahan bakar gas kelas tiga untuk kegunaan domestik rumah tangga yang 

sesuai untuk regulator  

  

65

SNI 7369:2008 

 

 2 dari 12

3.8 

gas penguji 

gas LPG yang sesuai digunakan untuk pengujian peralatan 

 

 

4 Bahan baku  

 

4.1 Paduan Zn 

 

Bahan paduan harus mempunyai daya tahan dan keamanan yang dibuat dari paduan Zn 

dengan cara tempa panas Zn Al4 dan memiliki sifat anti karat; daya tahan terhadap gas LPG, 

tidak berubah bentuk pada suhu 80 °C dan memiliki kekuatan impak minimal 14,7 Nm.  

 

4.2   Kuningan atau paduan Zn  

 

Komponen spindel katup, pengunci spindel katup dan bushing terbuat dari kuningan atau 

paduan yang memiliki sifat anti karat, tidak keropos dan memiliki kekuatan impak minimal 

7,35 Nm.  

  

4.3   Karet  

 

Bahan komponen karet membran (rubber diaphragm), bantalan katup (valve pad) dan cincin 

perapat yang terbuat dari bahan karet yang tidak lekat; bebas dari pori-pori juga partikel 

asing serta mempunyai permukaan yang halus dan rata tidak ada lekukan. Bahan karet ini 

memiliki kekuatan termoplastik dan termoset dibuat dengan menggunakan cara injeksi 

tekanan tinggi.  

 

4.4   Plastik  

 

Kunci pemutar (interlock) terbuat dari bahan poly-plastik (syn-plastik) atau yang setara.  

Untuk tuas dan bushing dapat terbuat dari bahan thermo plastik. 

 

 

5    Rangka konstruksi 

 

5.1    Penyambung katup tabung baja 

 

Penyambung katup tabung baja ini sebagai penyambung antara regulator dan katup tabung 

baja untuk menyalur aliran LPG yang mengalir masuk ke regulator.   

 

Ukuran diameter dalam penyambung katup tabung baja yaitu  20 mm ± 0,4 mm yang 

mengacu kepada SNI 1591: 2008 , Katup tabung baja LPG. 

66

SNI 7369:2008 

 3 dari 12

Diameter dalam penyambung katup tabung baja diterangkan seperti Gambar 1. 

 

 

 

Keterangan: 

1. Saluran keluar 

2. Ruang kunci pemutar 

3. Penyambung katup tabung baja 

4. Saluran masuk 

5.   Diameter dalam 4,0

020+ mm  

 

Gambar 1 - Penampang penyambung katup tabung baja 

67

SNI 7369:2008 

 

 4 dari 12

5.1.1    Bagian saluran masuk 

 

 

 

 

Gambar 2 - Dimensi bagian saluran masuk 

 

 

Tabel 1 - Ukuran saluran masuk 

 

No Uraian Nilai 

1 Diameter luar saluran masuk (a) 11 mm 

2 Diameter dalam saluran masuk (b) (5 ± 0,1) mm 

3 Tinggi bagian dalam (c) 5 mm 

4 Diameter bagian dalam saluran luar (d) 6 mm 

5 Diameter sisi luar saluran keluar (e) (7,7 ± 0,1) mm 

6 Diameter ketirusan sisi luar saluran 

keluar (f) (8 ± 0,1) mm 

7 Diameter ketirusan saluran masuk (g) (10,8 – 10,95) mm 

8 Tinggi spindel (h) 15 mm 

9 Tinggi ketirusan bagian luar saluran 

keluar (i) 8 mm 

10 Sudut ketirusan (j) 45° 

68

SNI 7369:2008 

 5 dari 12

5.2    Saluran keluar  

 

Saluran keluar bagian dari regulator berfungsi sebagai penyambung dengan selang karet 

LPG (flexible hose) seperti pada Gambar 3. Ukuran saluran keluar sesuai Tabel 2. 

 

 

 

 

Gambar 3 - Konstruksi saluran keluar bagian regulator 

 

 

Tabel 2 - Ukuran saluran keluar 

 

No Uraian Nilai 

(mm) 

1 Diameter dalam uliran saluran ke selang (A1) 7,5 ± 0,1 

2 Diameter luar uliran ke-1 (A2) 10,0 ± 0,1 

3 Diameter luar uliran ke-2 (A3) 12,5 ± 0,1 

4 Diameter luar uliran ke-3 (A4) 13,0 ± 0,1 

5 Diameter luar uliran ke-4 (A5) 13,5 ± 0,1 

6 Jarak uliran (A6) 6,5 

7 Diameter luar uliran saluran dalam (A7) 11,0 – 11,5 

8 Jarak pipih (Ronness/kebulatan) (A8) 1,0 – 1,5 

9 Jarak pipih uliran (A9) 0,3 – 0,5 

10  Jarak uliran ke-1 dengan uliran ke-4 (A10) 4 x 6,5 

  

 

6 Syarat mutu 

 

6.1 Bunyi dan getaran 

 

Regulator tekanan rendah tidak boleh bergetar dan tidak mengeluarkan bunyi pada saat 

dipasang di katup tabung baja LPG. 

 

6.2 Tekanan keluar 

 

Dengan tekanan masuk sebesar 0,7 MPa tekanan keluar dari regulator minimal mencapai 

2,8 kPa dengan toleransi ±  0,47 kPa. 

69

SNI 7369:2008 

 

 6 dari 12

6.3 Tekanan pengaman (lock-up) 

 

Pada saat tidak ada arus aliran keluar, tekanan pada pengaman tidak boleh melebihi             

41 mbar. 

 

6.4 Ketahanan jatuh 

 

Regulator dijatuhkan dengan ketinggian satu meter dari permukaan lantai; dengan 

persyaratan: 

a) Tidak retak maupun pecah pada badan regulator secara visual 

b) Tidak retak pada mekanisme  

 

6.5 Daya ketahanan kunci pemutar  

 

Kunci pemutar diputar minimal sebanyak 5.000 kali dengan cara mengunci dan membuka 

pada katup tabung baja LPG tanpa ada tanda keausan, kerusakan maupun patah pada 

kunci pemutar. 

 

6.6    Ketahanan 

 

Ketahanan regulator minimal sebanyak 50.000 kali laju aliran dengan tekanan masuk 

sebesar 7 bar (100 psi) dengan cara mengisi dan melepaskan udara dan tidak mengalami 

kebocoran dan toleransi tekanan pengaman (lock-up) tidak boleh melebihi 110 %. 

 

6.7 Suhu 

 

Kinerja mekanis regulator terhadap suhu dengan variasi antara 0 °C – 50 °C dan toleransi 

tekanan keluar dan pengaman (lock-up) seperti berikut: 

a) Suhu 0 °C + 2 °C, tekanan keluar 2,8 kPa ± 0,47 kPa ; tekanan pengaman tidak melebihi 

4,1 kPa. 

b) Suhu 20 °C + 5 °C, tekanan keluar 2,8 kPa ± 0,47 kPa ; tekanan pengaman tidak 

melebihi 4,1 kPa. 

c) Suhu 50 °C + 5 °C, tekanan keluar 2,8 kPa ± 0,47 kPa ; tekanan pengaman tidak 

melebihi 4,1 kPa. 

 

6.8 Kebocoran  

 

Regulator tidak boleh mengalami kebocoran pada bagian: 

a) bagian penutup regulator; 

b) bagian  kunci pemutar. 

 

6.9 Ketahanan komponen bahan karet 

 

Komponen bahan karet membran, bantalan katup dan  cincin perapat tidak boleh: 

a) Menyusut melebihi 1%; 

b) Mengembang melebihi 25%; 

c) Kehilangan berat  melebihi 10%. 

 

 

7 Pengambilan contoh 

 

Pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 3 buah dari 1.000 untuk pengujian 

sebagai  berikut: 

a) untuk uji mutu; 

70

SNI 7369:2008 

 7 dari 12

b) untuk uji konstruksi; 

c) untuk uji bahan.   

 

Untuk pengujian bahan karet membran, bantalan katup dan  cincin perapat diwakili oleh 

pengambilan contoh komponen minimal 6 buah. 

 

 

8    Cara uji 

 

8.1    Bunyi dan getaran 

 

Regulator tekanan rendah dipasang di katup tabung baja LPG dengan tekanan masuk 

sebesar 0,7 MPa dipastikan tidak boleh bergetar dan tidak mengeluarkan bunyi.  

 

8.2    Tekanan keluar 

 

Regulator dipasang pada katup tabung baja dan diuji dengan tekanan masuk sebesar                

0,7 MPa tekanan keluar minimal mencapai 2,8 kPa dengan toleransi ± 0,47 kPa. 

 

8.3    Tekanan pengaman (Lock-up) 

 

Regulator dipasang pada katup tabung baja dengan tekanan masuk sebesar 0,7 MPa lalu 

langsung memutuskan arus laju aliran, tekanan pengaman tidak boleh melebihi 4,1 kPa. 

 

8.4 Uji ketahanan jatuh 

 

Regulator dijatuhkan pada ketinggian satu meter sebanyak satu kali dari permukaan lantai; 

dan tidak mengalami: 

(a)   keretakan maupun pecah pada badan regulator secara visual. 

(b)  kerusakan pada mekanisme dan memenuhi syarat mutu sub pasal 6.1, sub pasal 6.2 

dan sub pasal 6.3. 

 

8.5 Uji daya ketahanan  kunci pemutar 

 

 Kunci pemutar diuji sebanyak 5.000 kali dengan cara mengunci dan membuka pada katup 

tabung baja LPG tanpa ada tanda keausan, kerusakan maupun patah pada  kunci pemutar. 

 

8.6 Uji   ketahanan penggunaan  

 

Regulator diuji sebanyak 50.000 kali dengan tekanan masuk sebesar 0,7 MPa dengan cara 

mengisi dan melepaskan udara dan tidak mengalami kebocoran dan toleransi tekanan 

pengaman (lock-up) tidak boleh melebihi 110 % seperti berikut: 

 

8.6.1 Setelah 10.000 kali pertama, tekanan pengaman tidak melebihi 4,1 kPa. 

 

8.6.2 Setelah 10.000 kali kedua, tekanan pengaman tidak melebihi 4,1 kPa.  

 

8.6.3 Setelah 10.000 kali ketiga, tekanan pengaman tidak melebihi 4,1 kPa . 

 

8.6.4 Setelah 10.000 kali keempat, tekanan pengaman tidak melebihi 4,1 kPa.  

 

8.6.5 Setelah 10.000 kali kelima, tekanan pengaman tidak melebihi 4,1 kPa. 

 

 

71

SNI 7369:2008 

 

 8 dari 12

8.7   Uji suhu 

  

Untuk menguji kinerja mekanisme regulator terhadap suhu bervariasi seperti berikut dan 

toleransi tekanan keluar dan pengaman seperti dibawah ini: 

 

8.7.1 Pada suhu 0 °C ± 2 °C dengan tekanan masuk 0,02 MPa dan 0,1 MPa, untuk 

tekanan keluar berada di 2,8 kPa ± 0,47 kPa dan untuk tekanan pengaman tidak melebihi 

4,1 kPa. 

 

8.7.2 Pada suhu 20 °C ± 5 °C dengan tekanan masuk 0,02 MPa dan 0,3 MPa, untuk 

tekanan keluar berada di 2,8 kPa ± 0,47 kPa dan untuk tekanan pengaman tidak melebihi 

4,1 kPa. 

 

8.7.3 Pada suhu 50 °C ± 5 °C dengan tekanan masuk 0,1 MPa dan 0,6 MPa, untuk 

tekanan keluar berada di 2,8 kPa ± 0,47 kPa dan untuk tekanan pengaman tidak melebihi 

4,1 kPa. 

 

8.8   Uji kebocoran  

 

Kebocoran regulator diuji dengan menggunakan cara berikut: 

 

8.8.1    Sambungkan selang pada saluran keluar dan diisi dengan tekanan udara rendah 

sebesar 0,3 MPa selama 60 detik, bagian penutup regulator tidak boleh ada kebocoran. 

 

8.8.2    Regulator dipasang pada katup tabung baja dan diisi dengan tekanan udara tinggi 

sebesar 1,56 MPa selama 120 detik, bagian kunci pemutar tidak boleh ada kebocoran. 

 

8.9   Uji ketahanan komponen bahan karet   

 

Cara ini untuk menguji perubahan pada penyusutan, cracking maupun tanda-tanda 

kerusakan.  Pengujian Standard Test Method for Rubber Property-effect of Liquids terdiri dari 

uji perubahan volume dan uji kehilangan berat seperti berikut: 

 

8.9.1   Uji perubahan volume  

 

Bahan uji yaitu karet membran (rubber diaphragm), bantalan katup dan cincin perapat 

masing masing diuji pada suhu 23 oC  ± 2 oC. Sebelumnya bahan uji dibersihkan dengan 

ethyl alcohol dan air bersih untuk menghilangkan gelembung udara (air bubble) dipermukaan 

bahan uji. 

   

Toleransi lulus uji terhadap menyusut dibawah 1 % dan toleransi terhadap mengembang 

tidak melebihi 25%.   

 

8.9.1.1 Sebelum bahan uji direndam ke dalam cairan n-hexane, berat volume ditimbang 

dengan metode penimbangan di udara-M1. 

 

8.9.1.2 Sebelum bahan uji direndam ke dalam cairan n-hexane, berat volume ditimbang 

dengan metode penimbangan di air-M2. 

 

8.9.1.3 Setelah direndam dengan cairan n-hexane selama 70 jam, diambil dan dikeringkan 

dengan kain; dalam waktu 30 detik berat volume ditimbang dengan metode penimbangan di 

udara-M3. 

 

72

SNI 7369:2008 

 9 dari 12

8.9.1.4 Setelah direndam dengan cairan n-hexane selama 70 jam, diambil dan dkeringkan 

dengan kain; dalam masa 30 detik berat volume ditimbang dengan metode penimbangan di 

air-M4. 

 

8.9.1.5 Rumus perhitungan perubahan volume yaitu  berikut: 

 

Perubahan volume = 100

)(

)()(

21

2143 x

MM

MMMM

−−−

 

 

dengan pengertian: 

 

M1   yaitu  berat volume sebelum bahan uji direndam dengan cairan n-hexane dengan 

metode ditimbang di udara.  

M2   yaitu  berat volume sebelum bahan uji direndam dengan cairan n-hexane dengan 

metode ditimbang di air.  

M3   yaitu  berat volume bahan uji setelah direndam dengan cairan n-hexane selama           

70 jam dengan metode ditimbang di udara. 

M4   yaitu  berat volume bahan uji setelah direndam dengan cairan n-hexane selama            

70 jam dengan metode ditimbang di air. 

100   yaitu  faktor penambahan/penyusutan volume. 

 

8.9.2     Uji kehilangan berat   

 

Bahan uji yaitu karet membran (rubber diaphragm), bantalan katup dan cincin perapat 

masing masing diuji pada suhu 23 oC ± 2 oC. Sebelumnya bahan uji dibersihkan dengan 

ethyl alcohol dan air bersih untuk menghilangkan gelembung udara (air bubble) dipermukaan 

bahan uji. 

 

Toleransi lulus uji terhadap  kehilangan berat  tidak melebihi 10%.   

 

8.9.2.1    Sebelum bahan uji direndam ke dalam cairan n-hexane, berat volume ditimbang 

dengan metode penimbangan di udara-M1. 

 

8.9.2.2    Setelah direndam dengan cairan n-hexane selama 70 jam, dikeringkan dengan 

kain. Bahan uji disimpan di suhu 23 °C ± 2 °C tidak kurang dari 70 jam kemudian berat 

volume ditimbang dengan metode penimbangan di udara-M2. 

 

8.9.2.3 Rumus perhitungan kehilangan berat yaitu  berikut:  

 

Kehilangan berat = 100)(

1

21 x

M

MM −

 

 

dengan pengertian : 

 

M1      yaitu  berat volume sebelum bahan uji direndam dengan cairan n-hexane selama   

70 jam dengan metode ditimbang di udara. 

M2      yaitu  berat volume sebelum bahan uji direndam dengan cairan n-hexane selama   

70 jam dengan metode ditimbang di air. 

100      yaitu  faktor penambahan/penyusutan volume 

 

 

73

SNI 7369:2008 

 

 10 dari 12

9    Syarat lulus uji 

 

9.1    Regulator dinyatakan lulus uji apabila telah memenuhi syarat pasal 4; pasal 5; dan 

pasal 6.  

Jika salah satu syarat butir tidak dapat dipenuhi, maka regulator ini dinyatakan tidak lulus uji. 

 

9.2 Uji ulang dapat dilakukan terhadap kelompok yang tidak lulus uji dengan jumlah contoh 

sebanyak dua kali dari jumlah contoh pertama. Apabila dalam pengujian salah satu 

contohnya tidak memenuhi salah satu syarat dari sub pasal 6.1 sampai dengan sub pasal  

6.9 maka dinyatakan tidak lulus uji dan kelompok yang diwakilinya dinyatakan gagal. 

 

 

10 Penandaan  

 

Setiap regulator harus diberi tanda yang tidak mudah hilang, sekurang-kurangnya 

mencakup: 

a) Merek produk 

b) Bulan dan tahun pembuatan 

 

 

11    Pengemasan 

 

Setiap regulator harus dikemas dalam dus karton untuk memperkecil resiko kerusakan pada 

saat dipindahkan. Setiap kemasan mencantumkan: 

a) Nama produsen  

b) Cara penggunaan dan tipe regulator tekanan rendah 

c) Isi kemasan 

 

 

 

 

 

 

 

74

SNI 7369:2008 

 11 dari 12

Lampiran A 

(informatif) 

 

Regulator tekanan rendah sistem pengancing 

 

 

 

Keterangan:  

 

1. Penutup regulator 

2. Pegas beban 

3. Karet membrane 

4. Saluran keluar 

5. Kunci pemutar (tidak termasuk tuas) 

6. Bantalan katup 

7. Penghubung mekanis 

8. Badan regulator 

9. Spindel katup 

10. Cincin perapat 

11. Tuas 

12. Bushing 

 

Gambar A.1 - Contoh konstruksi regulator tekanan rendah sistem pengancing 

   

75

SNI 7369:2008 

 

 12 dari 12

Bibliografi 

 

 

 

ISO 1431-1 :2004, Rubber, vulcanized or thermoplastic-resistance to ozone cracking, Static 

and dynamic strain testing. 

ISO  75-1 : 2004, Plastics-determination of temperature of deflection under load on general 

test method. 

ISO 178 : 2001, Plastics-determination of flexural propertiey. 

ISO 180 : 2000, Plastics-determination of Izod impact strength. 

ISO 527-1 : 1996, Plastics-deterination of tensile properties. 

ISO 301 : 1981, Specification for Zinc Alloy for die casting.  

ISO 426-1 : 1983, Wrought copper chemical composition of wrought product. 

ISO 426-2 : 1983, Wrought copper chemical composition of wrought product. 

ISO 188 : 1998, Rubber, vulcanized or thermoplastic on accelerated ageing and heat 

resistance tests. 

ISO 48 : 1994, Rubber, vulcanized or thermoplastic-determination of hardness between 10 

IRHD and 100 IRHD. 

BS EN 12864 : 2001 Low pressure, non-adjustable regulator with a capacity less than  or 

equal to 4kg/hour for liquefied petrolem gases. 

BS 2874 : 1969, Specification for copper and copper alloy on rod and sections.  

BS 903 : Part A19 : 1975, Heat resistance and accelerated air aging test 

BS 903 : Part A26 : 1969, Determination of hardness for rubber, vulcanized or thermoplastic.   

BS 903 : Part A19 : 1975, Determination of resistance to ozon cracking (static stain test). 

MS 1165 : 1989 Specification for pressure regulators and automatic changeover device for 

liquefied petroleum gases. 

MS 831 : 1986 Specification for valves for use with domestic LPG cylinders. 

AS 1881 : 1986, Specification for zinc alloy ingo for die die casting.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

76

77

BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN

Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4

Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270

Telp: 021- 5747043; Faks: 021- 5747045; e-mail : bsn@bsn.go.id

78

 

 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia        

 

SNI 7368: 2007  

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

  

Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku  

dengan sistem pemantik mekanik                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ICS 97.040.20   

 

 

 

 

 

 

 

Badan Standardisasi Nasional 

 

 

 

 

 

 

79

80

SNI 7368:2007 

 

Daftar isi 

 

 

 

Daftar isi................................................................................................................................. i 

Prakata .................................................................................................................................. ii 

1    Ruang lingkup.................................................................................................................. 1 

2    Acuan normatif................................................................................................................. 1 

3    Istilah dan definisi ............................................................................................................ 1 

4    Syarat mutu ..................................................................................................................... 2 

5    Cara uji ............................................................................................................................ 4 

6    Penandaan dan petunjuk pemasangan........................................................................... 11 

Bibliografi .............................................................................................................................. 13 

81

SNI 7368:2007 

ii  

Prakata  

 

 

 

Standar Nasional Indonesia (SNI), Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem 

pemantik mekanik merupakan standar baru dalam rangka konversi pemakaian bahan bakar 

minyak tanah menjadi LPG untuk memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, 

keamanan dan lingkungan. 

 

Standar ini telah dibahas dalam rapat konsensus pada tanggal 4 Desember 2006 di Jakarta 

yang dihadiri oleh wakil dari produsen, konsumen, lembaga penelitian dan instansi terkait 

lainnya. 

 

Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 77-01 : Logam, Baja dan Produk Baja.  

 

 

82

SNI 7368:2007 

 

1 dari 13 

Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku 

dengan sistem pemantik mekanik 

 

 

 

1  Ruang lingkup 

 

Standar ini menetapkan konstruksi umum, ukuran, dan cara uji kompor gas bahan bakar 

LPG satu tungku yang terpisah dari tabung LPG, dan digunakan hanya untuk konsumsi atau 

pemakaian di rumah tangga saja. 

 

 

2 Acuan normatif 

 

BS EN 484:1998, Dedicated liquefied petroleum gas appliances. 

 

 

3 Istilah dan definisi 

 

3.1 

kompor gas satu tungku 

kompor gas yang hanya memiliki satu dudukan (grid) tempat memasak 

 

3.2  

sistem pemantik mekanik 

pemantik api yang berkerja secara mekanik 

 

3.3  

burner 

merupakan tempat  sumber api 

 

3.4 

dudukan burner 

tempat dimana burner didudukkan 

 

3.5 

katup gas 

alat untuk mengatur besarnya aliran gas yang keluar dari burner 

 

3.6  

grid 

alat untuk menyangga alat masak 

 

3.7  

api membalik 

api masuk ke dalam ruang burner atau dudukan burner 

 

3.8  

api mengangkat 

api tidak menempel/terbang dari lubang burner 

 

3.9 

asupan panas  

konsumi bahan bakar LPG  yang dibutuhkan untuk menyalakan kompor 

83

SNI 7368:2007 

2 dari 13 

4 Syarat mutu 

 

4.1 Material 

 

4.1.1  Material yang digunakan secara konstruksi dan daya guna tidak mengalami 

perubahan saat digunakan. Kompor secara visual tidak penyok, melenting, dan nyala api 

masih tetap biru, setelah diuji sesuai butir 5.2, 5.3, 5.4 dan 5.1.4. 5.1.5, 5.1.6. 

 

4.1.2    Gasket, seal, sekat, atau material penahan panas tidak terbuat dari asbes. 

 

4.1.3   Badan kompor yang terbuat dari material bukan anti karat harus dilapisi dengan 

lapisan anti karat, diuji sesuai dengan butir 5.6. Material yang digunakan terbuat dari bahan 

yang memiliki ketahanan karat yang baik, misalnya kuningan atau stainless steel. Atau 

setidaknya dilapisi oleh lapisan tahan karat, seperti krom, zink platting, atau lainnya. 

 

4.1.4    Material dan pelapisan pada grid tahan terhadap api, diuji sesuai dengan butir 5.5.2. 

 

4.2 Stabilitas 

 

Kompor dengan bejana di atasnya tidak boleh mudah terguling atau bergeser, sesuai 

dengan butir 5.3. 

 

4.3 Kekuatan 

 

4.3.1 Secara konstruksi unit produk harus memiliki kekuatan dalam menyangga beban 

pada saat digunakan, tidak menyebabkan keretakan ataupun defleksi tetap, pengujian 

sesuai dengan butir 5.4. 

 

4.3.2 Secara konstruksi unit produk tidak mengalami perubahan pada saat dilakukan 

pemindahan, guncangan, dan hal lainnya yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi 

produk dan timbulnya kebocoran, pengujian sesuai dengan butir 5.7. 

 

4.4 Kemudahan perawatan 

 

4.4.1  Komponen-komponen kompor  harus mudah untuk dibersihkan. pengujian sesuai 

dengan butir 5.5.3. 

 

4.4.2 Bagian sudut ataupun sisi komponen tidak boleh berbahaya yang dapat 

mengakibatkan luka pada waktu membersihkan unit produk. Pengujian sesuai dengan butir 

5.5.4. 

 

4.5 Keamanan 

 

4.5.1 Unit kompor tidak boleh bocor, pengujian sesuai dengan butir 5.8. 

 

4.5.2 Pembakar (burner) harus dirancang atau ditempatkan dengan baik sehingga dapat 

menghindarai kemungkinan tertutupnya lubang api pada pembakar, pengujian sesuai 

dengan butir 5.1.6. 

 

4.5.3 Bagian kompor yang berpotensi tersentuh tangan, temperaturnya tidak boleh 

melebihi 80 ˚C, pengujian sesuai dengan butir 5.2. 

 

4.5.4 Kompor harus dapat bekerja pada tekanan gas minimum 200 mm H2O dan 

maksimum 330 mm H2O. 

 

84

SNI 7368:2007 

 

3 dari 13 

4.6     Hubungan komponen 

 

Profil saluran masuk gas ke kompor (pipa gas) sesuai dengan gambar di bawah berikut: 

 

 

Gambar 1   Profil ujung saluran masuk gas dari selang ke kompor (pipa gas) 

 

 

4.7    Katup gas 

 

4.7.1 Pelumas padat (grease) yang digunakan harus dapat mencegah kebocoran gas 

selain sebagai pelumas pada katup, pengujian sesuai dengan butir 5.8 dan memenuhi 4.7.2. 

 

4.7.2 Sistem pemantik dan katup gas harus dapat menunjukkan performansi yang sama 

(tidak bocor dan tetap berfungsi dengan baik) setelah diuji ketahanan minimal 10.000 kali 

pengoperasian.  Pengujian sesuai dengan butir 5.9. 

 

4.7.3 Putaran untuk membuka katup gas berlawanan dengan arah jarum jam dan memiliki 

ukuran bukaan gas maksimum dan minimum.  Pemantik api harus terintegrasi dengan katup 

gas dan bekerja bersamaan untuk menyalakan api saat katup gas terbuka. Pengujian sesuai 

dengan butir 5.5.5. 

 

4.7.4 Pada posisi api maksimal kualitas api harus tetap terjaga dengan efisiensi minimum 

50%, pengujian sesuai dengan butir 5.1.5. 

 

4.7.5 Pada posisi api minimal api tidak boleh mati/padam, pengujian sesuai dengan butir 

5.1.2 dan 5.1.3. 

 

4.8    Pembakar (burner) 

 

4.8.1 Material burner harus tahan terhadap panas dan tidak mengalami perubahan bentuk, 

setelah melalui uji 5.1.4 harus memenuhi butir 5.5.5. 

 

4.8.2 Pada saat digunakan, burner dan dudukan burner tidak boleh mengeluarkan aroma 

atau kondisi yang membahayakan, burner dapat dilapisi oleh material anti bakar, pengujian 

sesuai dengan butir 5.5.3. 

 

4.8.3 Tidak terjadinya perubahan warna nyala api menjadi merah pada saat digunakan 

yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan efisiensi bahan bakar, pengujian sesuai 

dengan butir 5.1.7. 

6 6 5

11

.5

+0

.2

 

R6 

(satuan dalam millimeter) 

85

SNI 7368:2007 

4 dari 13 

4.8.4 Kondisi dari api tidak boleh terjadi gejala api mengangkat dari lubang pembakar atau 

api membalik ke dalam badan unit produk, pengujian sesuai dengan butir 5.1.1 dan 5.1.8 

 

 

5    Cara uji 

 

Pengambilan sample uji dilakukan 1 per 1000 unit produksi. 

 

5.1 Uji nyala api  

 

5.1.1 Pada posisi maksimum, nyalakan kompor gas selama 5 menit. Matikan kompor 

secara tiba-tiba, tidak boleh ada api membalik yang lebih besar dari 70 dB (yang diukur dari 

jarak 1 m dengan sudut 30˚ dari bidang datar, dengan menggunakan alat ukur kebisingan 

suara (sound meter). 

 

5.1.2 Saat bukaan katup minimum/nyala api paling kecil, api tidak boleh mati. 

 

5.1.3 Pada posisi api yang paling kecil ini  ditiupkan angin dengan kecepatan 3 m/s, 

api tidak boleh mati. 

 

5.1.4 Pengukuran asupan panas dilakukan sebagai berikut:  

 

a) Nyalakan kompor selama 1 jam; 

b) Hitung konsumsi LPG yang dipergunakan selama menyalakan kompor ini  dengan 

menghitungmassa awal tabung LPG dikurangi massa massa akhir tabung LPG. 

Sehingga diperoleh angka laju aliran massa gas (flow rate) kompor ini  (kg/jam); 

c) Asupan panas  produk, dihitung dengan formula (BS EN 484:1998) sebagai berikut: 

 

360

HxMx100

Q sn

n=  

 

dengan:  

Qn    yaitu  Asupan Panas  (kW); 

Mn    yaitu  laju aliran gas (kg/jam); 

Hs     yaitu  nilai kalori gas = 49,14 MJ/kg; 

Nilai Asupan panas  produk diperbolehkan memiliki toleransi 10%. 

 

5.1.5 Pengukuran efisiensi dilakukan dengan: 

 

a) Pengujian dilakukan dengan input tekanan sebesar 280 mm H2O; 

b) Lakukan pemanasan awal dengan memanaskan bejana ∅ 200 mm berisi air sebanyak 

3,7 kg selama sepuluh menit; 

c) Panaskan bejana berisi air sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan dalam Tabel 1 

ukuran bejana dibawah berikut, dan ukur efisiensi dengan formula (BS EN 484:1998) 

berikut; 

 

( )

( )sc

1e

-3

HxM

10xttxMx 10 x 4.186

η

=  

 

dimana:     Me = Me1 + Me2 

 

dengan: 

Me1    yaitu  massa air dalam bejana, kg; 

86

SNI 7368:2007 

 

5 dari 13 

Me2    yaitu  massa bejana alumunium + tutupnya, kg; 

t     yaitu   temperatur akhir,  diambil poin  tertinggi yang terukur setelah api kompor 

dimatikan (saat air mencapai 90 ˚C ± 1˚C); 

t1       yaitu  temperatur awal = 20 ˚C ± 0,5 ˚C; 

Mc   yaitu  massa massa gas yang terbakar, dihitung saat pengujian dimulai sampai 

pengujian berakhir (dari t1 sampai t) dinyatakan dalam kg; 

 

 

Tabel 1    Penentuan ∅ bejana dan massa air 

 

Asupan Panas , kW ∅ bejana, mm Massa Massa air, Me1, kg 

1,16 ~ 1,64 220 3,7 

1,65 ~ 1,98 240 4,8 

1,99 ~ 4,2 260 6,1 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2    Bejana alumunium 

 

 

Tabel 2    Ukuran bejana alumunium, tebal 0,5 mm ± 0,1 mm 

 

Simbol  Ukuran 1 Ukuran 2 Ukuran 3 Ukuran 4 

∅ A 200 220 240 260 

h 130 140 150 160 

 

 

5.1.6 Panaskan bejana ∅ 220 mm berisi air (air penuh sampai menyentuh bibir bejana).  

Biarkan mendidih selama 1 menit.  Tumpahan air yang terjadi tidak boleh mengakibatkan api 

kompor padam. 

 

5.1.7 Nyalakan kompor selama 10 menit. Warna api harus tetap biru. Lidah api tidak boleh 

berubah menjadi kuning kemerahan. 

 

5.1.8 Api tidak terbang/mengangkat dari bibir lubang burner melebihi ¼ tinggi inti api. 

 

∅ 

87

SNI 7368:2007 

6 dari 13 

 

 

Gambar 3    Bentuk api 

 

 

5.2 Uji kenaikan temperatur 

 

Untuk permukaan yang kontak dengan tangan tidak boleh melebihi 80 ˚C. Pengukuran 

dilakukan saat memanaskan bejana dengan ∅ 260 mm, tinggi 160 mm, berisi air 6,1 kg, 

dinyalakan 0,5 jam. Daerah yang diukur temperaturnya berada diluar dari daerah yang 

dilingkupi  proyeksi bejana ini . Lihat gambar 4 

 

 

 

Gambar 4  uji kenaikan temperatur  

    

5.3 Uji kestabilan 

 

5.3.1 Saat menyangga bejana dengan ∅ 200 mm dan tinggi 130 mm pada bidang dengan 

kemiringan 10˚ dari bidang datar, tidak boleh terguling atau bergeser baik kompor maupun 

bejananya 

a) Letakkan kompor di bidang miring (10˚ dari bidang datar); 

b) Letakkan bejana dengan ukuran yang telah ditentukan di atas pada grid kompor; 

c) Bejana dan kompor ini  tidak boleh bergeser, jatuh atau terguling. 

 

 

 

 

 

88

SNI 7368:2007 

 

7 dari 13 

 

 

Gambar 5    Uji kestabilan kompor     

 

5.3.2 Saat produk menyangga bejana dengan ∅ 200 mm dan tinggi 130 mm berisi air 

sampai setinggi 10 mm dari bibir panci di bidang datar, kemudian bejana ini  digeser 

kan posisinya sejauh 15 mm dari pusat grid kompor, bejana dan kompor ini  tidak boleh 

jatuh atau terguling: 

a) Letakkan kompor di meja datar; 

b) Letakkan bejana dengan ukuran yang telah ditentukan di atas dan berisi air setinggi               

120 mm dari dasar bejana pada grid kompor; 

c) Geser posisi bejana dari pusat grid dengan offset sebesar 15 mm ke arah luar; 

d) Bejana dan kompor ini  tidak boleh jatuh atau terguling. 

 

 

 

Gambar 6    Posisi kompor dengan bejana  

 

5.3.3 Kondisi kompor tanpa bejana: 

a) Kedudukan grid pada kompor stabil dan tidak mudah digeser; 

b) Kedudukan kompor stabil pada bidang datar dan kokoh tidak mudah berdeformasi bila 

dipelintir dengan tangan.  Toleransi celah kerataan dari bidang datar maksimum 1 mm. 

 

 

 


5.4 Uji kekuatan  

 

5.4.1 Grid diberi beban 20 kg selama 15 menit, setelah beban dihilangkan tidak boleh 

terjadi defleksi tetap yang lebih besar dari 2 mm: 

a) Letakkan perangkat kompor pada meja datar; 

b) Tentukan 12 titik pada bidang datar kompor (top plate) dan ukur posisinya dengan 

menggunakan dial gauge yang memiliki resolusi 0,05 mm; 

c) Kompor diberi beban sebesar 20 kg pada grid sebagai titik tumpu selama 15 menit; 

d) Setelah beban dihilangkan, hitung kembali pada titik-titik yang telah ditentukan 

sebelumnya dengan menggunakan dial gauge; 

e) Di semua titik pada bidang datar kompor tidak boleh terdefleksi tetap melebihi 2 mm 

(lihat ilustrasi). 

 

 

 

Gambar 8    Uji kekuatan kompor (dial gauge pada gambar diperjelas) 

 

5.4.2 Grid diberi beban bejana ∅ 260 mm berisi air 6,1 kg, dan dinyalakan selama 0,5 jam 

pada api maksimal. Setelah didinginkan tidak boleh terjadi defleksi tetap yang lebih besar 

dari 1 mm: 

a) Letakkan perangkat kompor pada meja datar; 

b) Tentukan 12 titik pada bidang datar kompor (top plate) dan ukur posisinya dengan 

menggunakan dial gauge yang memiliki resolusi 0,05 mm; 

c) Kompor diberi beban panci berisi air dengan massa  6,1 kg, kemudian nyalakan selama 

setengah jam; 

d) Setelah 30 menit beban dihilangkan dan biarkan kompor menjadi dingin; 

e) Setelah dingin hitung kembali pada titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya dengan 

menggunakan dial gauge; 

f) Di semua titik pada bidang datar kompor tidak boleh terdefleksi tetap melebihi 1 mm . 

 

5.4.3 Setelah melalui uji 5.4.1 dan 5.4.2: 

a) Kaki/pelatuk grid tidak mudah lepas atau miring saat ditekan oleh ibu jari tangan; 

b) Tidak ada bagian yang pecah atau retak yang dapat berpotensi untuk mengganggu 

performa kompor; 

c) Kedudukan grid pada kompor stabil dan tidak mudah digeser; 

d) Kedudukan kompor stabil pada bidang datar dan kokoh tidak mudah berdeformasi bila 

dipelintir dengan tangan. Toleransi celah kerataan dari bidang datar maksimum 1 mm. 

 

5.5 Pengujian visual 

 

5.5.1    Kompor secara visual tidak penyok, melenting, dan nyala api masih tetap biru.  

 

90

SNI 7368:2007 

 

9 dari 13 

5.5.2   Material yang bersentuhan dengan api atau terkena panas tidak boleh mudah 

terbakar atau terkelupas akibat panas. Tidak menimbulkan aroma tajam saat dinyalakan 

untuk pertama kali selama 5 menit dan atau setelah kompor dimatikan. 

 

5.5.3    Pengamatan visual terhadap komponen yang perlu perawatan secara rutin, misalnya 

grid, burner, dudukan burner, atau yang lainnya. Komponen-komponen ini  harus 

mudah dibersihkan tanpa perlu menggunakan peralatan khusus untuk melepaskannya. Dan 

harus dapat dikembalikan dengan baik dan benar tanpa kesulitan pada pemasangannya 

kembali 

 

5.5.4    Pengamatan dan  perabaan pada sudut-sudut atau sisi-sisi komponen. Tidak boleh 

ada  sudut atau permukaan berbahaya yang berpotensi menimbulkan luka  

 

5.5.5    Putaran untuk membuka aliran gas harus berlawanan dengan arah jarum jam. Saat 

dilakukan pemutaran katup untuk membuka aliran gas, pemantik harus bekerja bersamaan. 

ada  indikator yang menunjukkan posisi bukaan katup gas maksimum dan minimum, 

misalnya: 

 

  

 

5.5.6    Burner tidak melenting, berubah bentuk, atau lainnya yang mengakibatkan nyala api 

menjadi kuning kemerahan, api membalik, atau api terbang. 

 

5.6    Uji Ketahanan karat 

 

Benda uji dibuat goresan menyilang seperti pada gambar dibawah berikut dengan pisau 

tajam pada kedua sisinya, rendam benda uji kira-kira setengahnya ke dalam larutan garam 

(NaCl) 3% (pada temperatur 15 °C sampai 25 °C)  dalam bejana. Dengan kedalaman kira-

kira 70 mm dari ujung bawah goresan, dan direndam selama 100 jam. Amati adanya 

gelembung pada sejarak 3 mm dari goresan pada bagian luar kedua sisinya dan sesudah 

diangkat, kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan. Tidak diperbolehkan ada  karat 

melebihi 3 mm dari goresan pada kedua sisinya. 

 

  

 

5.7 Uji jatuh (drop test) 

 

Kompor dimasukkan ke dalam kemasannya lengkap dengan perlengkapannya. Diangkat 

rata permukaan setinggi 30 cm dari bidang datar, kemudian dijatuhkan secara bebas 

sebanyak 1 kali sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 11. Permukaan lantai harus keras, 

tidak berlapis kayu, karpet, busa, atau sejenisnya yang dapat menyerap efek benturan. 

  

 

Setelah drop test, kompor tidak boleh penyok, tidak terlepas bautnya atau sambungannya 

(las atau keling), tidak bocor (tetap memenuhi butir 5.8), dan nyala api masih tetap biru. 

 

5.8 Uji kebocoran 

 

a) Tutup katup kompor gas; 

b) Masukkan udara bertekanan sebesar 420 mm H2O ± 1 mm H2O ke dalam saluran pipa 

gas; 

c) Tutup katup udara; 

d) Biarkan selama 10 menit; 

e) Amati pipa U yang berisi air, tidak boleh terjadi pengurangan tekanan sebesar 10 mm. 


 

5.9 Uji ketahanan pemantik 

 

a) Pantikkan katup gas sebanyak 10.000 kali; 

b) Setiap interval 2000 pantikan, lakukan uji kebocoran sesuai butir 5.8; 

c) Katup gas tidak boleh bocor dan pemantik masih harus tetap berfungsi dengan baik 

(masih memercikan bunga api). 

 

5.10    Uji tekanan gas 

 

a)    tekanan gas minimal 

Beri tekanan gas 200 mm H2O ke kompor; nyalakan kompor selama 10 menit, amati api: 

- Api harus biru 

- Tidak ada api mengangkat 

- Tidak ada api membalik 

 

b)    tekanan gas maksimal 

Beri tekanan gas 330 mm H2O ke kompor; nyalakan kompor selama 10 menit, amati api: 

- Api harus biru 

- Tidak ada api mengangkat 

- Tidak ada api membalik 

 

 

6    Penandaan dan petunjuk pemasangan 

 

6.1    Setiap unit produk harus dicantumkan informasi sebagai berikut 

 

a) Kode produksi unit produk; 

b) Nama pabrikan pembuat dan atau merek; 

c) Jumlah Asupan Panas  dalam kW; 

d) Tipe produk; 

e) Nomor SNI Kompor gas LPG satu tungku dengan sistem pemantik mekanik; 

f) Tekanan kerja kompor. 

 

 

 

 

6.2     Penandaan pada kemasan 

 

a) Merek dagang dan atau pabrik pembuat unit produk; 

b) Tipe produk; 

c) Peringatan-peringatan yang diperlukan guna keamanan dan keutuhan produk (Jumlah 

tumpukan minimal 8, kondisi perlakuan, dan lain lain); 

 

Gambar 13    Contoh peringatan pada kemasan 

 

d) Tulisan berbahasa Indonesia. 

 

6.3     Petunjuk Pemasangan  

 

a) Tercantum nama pabrik pembuat dan alamat  serta nomor telepon yang bisa dihubungi; 

b) Petunjuk pemakaian dan pemasangan harus mudah dimengerti untuk menghindari 

terjadinya kesalahan dalam pemasangan; 

c) Petunjuk praktis pemeliharaan produk; 

d) Tulisan berbahasa Indonesia; 

e) Tercantum ukuran diameter minimum dan massa maksimum dari bejana yang dapat 

digunakan oleh unit produk ini . 


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH