Tampilkan postingan dengan label Dasar pariwisata 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar pariwisata 4. Tampilkan semua postingan

Dasar pariwisata 4

 


ir. Di gua-gua, bahkan 

karbon dioksida dari terlalu banyaknya  hembusan napas manusia yang 

mengeluarkan unsur kimia yang dapat mengubah formasi batuan dan 

lukisan prasejarah. (Jonathan Tourtellot,2007)[29].

Destinasi wisata yang ada di Indonesia yang berupa candi-candi 

peninggalan sejarah sangat banyak bertebaran dipulau jawa khususnya 

terletak di provinsi Jawa tengah danJawa Timur merupakan asset 

pariwisata yang langka dan sangat spesifik untuk pelihara dikembangkan 

keberadannya, karena masih banyak bebatuan candi yang masih terlantar 

belum di tata kembali sesuai dengan aslinya. Hal ini membutuhkan para 

ahli purbakala yang professional sehingga mampu berceritera sesuai 

sejarahnya.

5.10.  Pengembangan ekonomi Pariwisata 

Geliat kepariwisataan Indonesia dapat dikatakan dimulai sejak 

dikeluarkannya Instruksi Presiden RI No. 9 Tahun 1969 tentang Pedoman 

Pembinaan Pengembangan Kepariwisataan Nasional. Usaha-usaha yang 

dilakukan sesuai dengan pasal 4 Inpres No. 9 Tahun 1969 yaitu :

Memelihara/membina keindahan dan kekayaan alam serta kebudayaan 

warga  Indonesia sebagai daya tarik kepariwisataan;

• Menyediakan/membina fasilitas-fasilitas transportasi, 

akomodasi, entertainment dan pelayanan pariwisata lainnya yang 

diperlukan, termasuk pendidikan kader;

• Menyelenggarakan promosi kepariwisataan secara aktif dan efektif di 

dalam maupun di luar negeri

• Mengusahakan kelancaran formalitas-formalitas perjalanan dan lalu-

lintas para wisatawan dan demikian menghilangkan unsur-unsur 

yang menghambatnya;

• Mengarahkan kebijaksanaan dan kegiatan perhubungan, khususnya 

perhubungan udara, sebagai sarana utama guna memperbesar jumlah 

dan melancarkan arus wisatawan.

Aspek Pariwisata dalam memberikan kontribusi dalam lima bidang 

utama dari perekonomian nasional yakni: 

131

a).   Aspek Pendapatan

Gaji, bunga, sewa dan keuntungan semua berkontribusi untuk 

peningkatan pendapatan. Dalam industri pariwisata, yang padat karya, 

proporsi terbesar dari pendapatan akan berasal dari gaji yang dibayarkan 

kepada pekerja baik secara langsung melayani wisatawan atau dari 

orang-orang mendapatkan manfaat tidak langsung dari belanja turist.

b).  Aspek Neraca pembayaran

Pariwisata yaitu  generator pendapatan utama untuk satu-sepertiga 

dari negara-negara berkembang tetapi juga merupakan pembangkit utama 

di dunia Barat. Di Selandia Baru, pariwisata yaitu  yang terpenting di 

daerah di mana ada sedikit industri lainnya seperti di Wanaka dan Bay 

of Islands. Bunga, sewa dan keuntungan dapat menghasilkan pendapatan 

dari pinjaman kepada perusahaan membangun hotel atau sewa yang 

dibayarkan kepada pemilik tanah untuk daya tarik wisata. Banyaknya 

wisatawan manca Negara meningkatkan devisa Negara yang mampu 

memperkuat neraca pembayaran luar negeri kita. Dengan demikian 

jumlah kunjungan wisatawan asing targetnya harus ditingkatkan dengan 

upaya kreatif dari semua stakeholder pariwisatanya. Length of stay /lama 

tinggal wisatawan harus di kelola dengan baik sehingga spending money 

yang mereka keluarkan lebih besar. Setiap destinasipariwisata yang ada 

diIndonesia harus di kembangkan aspek daya tarik nya khususnya untuk 

wisatawan asing, dengan melakukan pengembangan unsur-unsur alam; 

budaya; assesibilitas; amenities; souvenir yang mampu menciptakan 

kenangan bagi wisatawan untuk mau datang kembali.

c).   Aspek Pekerjaan  

Pariwisata yang berkembang sangat pesat telah mampu mendongkrak 

sector ekonomi disetiap Negara, mampu menciptakan lahan pekerjaan 

baru sehingga mampu mengurangi pengangguran, bahkan mampu 

memberikan banyak peluang bisnis yang dapat dipergunakan untuk 

meningkatkan kesejahteraan keluarga. Lapangan pekerjaan di bidang 

pariwisata sangat luas Hotel; Restoran; Travel agent; guide / Pramuwisata; 

usaha kuliner; usaha pelayanan jasa; usaha kerajinan, souvenir dllnya.

d).    Aspek Pembangunan ekonomi Regional

Pariwisata daerah dikembangkan sesuai dengan pengembangan 

132

otonomi daerah telah mampu mendongkrak pengembangan pariwisata 

daerahnya masing-masing sehingga pembangunan ekonomi regional 

secara berkelanjutan dapat diberdayakan searah dengan program 

pembangunan pariwisata berkelanjutan yang telah disepakati di masing-

masing daerah di Indonesia. 

Pembangunan Pariwisata daerah melalui daya tarik wisata yang 

biasanya ditampilkan sebagai atraksi wisata:

• Daya tarik wisata alam (natural tourist attractions), segala bentuk 

daya tarik yang dimiliki oleh alam, misalnya: laut, pantai, gunung, 

danau, lembah, bukit, air terjun, ngarai, sungai, hutan

• Daya tarik wisata buatan manusia (man-made tourist attractions), 

meliputi: Daya tarik wisata budaya (cultural tourist attractions), 

misalnya: tarian, wayang, upacara adat, lagu, upacara ritual dan daya 

tarik wisata yang merupakan hasil karya cipta, misalnya: bangunan 

seni, seni pahat, ukir, lukis.     

   Daya tarik wisata memiliki kekuatan tersendiri sebagai komponen 

produk pariwisata karena dapat memunculkan motivasi bagi wisatawan 

dan menarik wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata, hal demikian 

terlebih terjadi di destinasi pariwisata yang memilki sangat beragam dan 

bervariasi daya tarik wisata, seperti yang ditulis oleh Robert Christie 

Mill dalam buku “Tourism: The International Business” (1990)[20]: 

“Attractions draw people to a destination”.

 Pariwisata budaya merupakan juga sebagai daya tarik wisata yang 

dapat ditawarkan kepada wisatawan. Jenis wisata ini memuat informasi 

atau pesan-pesan yang bersifat budaya. Daya tarik wisata ini dapat 

berupa barang kerajinan, peninggalan sejarah purbakala, pertunjukan 

kesenian, ritual keagamaan, dan lain-lain. Ada kalanya daya tersebut 

dikemas sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat dinikmati 

oleh wisatawan. Melalui kemasan tersebut diharapkan wisatawan dapat 

memperoleh pengalaman kebudayaan dengan cara melihat sesuatu yang 

dirasa unik, berbeda, mengesankan dan berbagai sensasi yang dibutuhkan 

untuk memperkaya kebutuhan spiritualnya. Sebagai proses, pariwisata 

budaya dapat dipandang sebagai aktivitas pertukaran informasi dan 

simbol-simbol budaya antara pengunjung dan yang dikunjungi. Dalam 

pengertian inilah pariwisata memberikan sumbangan bagi dialog antar 

133

budaya dan sekaligus sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan 

saling pengertian dan perdamaian antar bangsa atau antar manusia. 

 

Gambar 49:  Ritual upacara Melasti di Obyek wisata Tanah Lot Bali 

Melasti yaitu  upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya 

Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk 

menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara 

Melasti dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan 

diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya 

ke laut. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan 

laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta). Selain melakukan 

persembahyangan, upacara Melasti juga yaitu  pembersihan dan 

penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara 

dan segala perlengkapannya). Benda-benda tersebut diarak dan diusung 

mengelilingi desa. Hal ini dimaksudkan untuk menyucikan desa. Dalam 

upacara ini, warga  dibentuk berkelompok ke sumber-sumber air 

seperti danau dan laut. Satu kelompok berasal dari wilayah atau desa 

yang sama. Selruh peserta mengenakan baju putih. Para pemangku 

berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang 

serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa 

sebagai wujud mensucian. Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi 

dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama 

Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa 

Brahma.  Untuk menyambut Hari Raya Nyepi, pelaksanaan upacara 

Melasti ini di bagi berdasarkan wilayah, di Ibukota provinsi dilakukan 

134

Upacara Tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. 

Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa 

dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara 

Ekasata. Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan 

di natar merajan (sanggah). Upacara ini dilaksanakan agar umat Hindu 

diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi. 

e). Pengembangan Pariwisata Budaya 

Garebeg yaitu  salah satu upacara kerajaan yang sampai sekarang 

masih dilestarikan oleh Kraton Kesultanan Yogyakarta. Di dalam upacara 

garebeg banyak terangkum unsur-unsur kebudayaan lama Nusantara, 

seperti religi, bahasa, dan adat istiadat. Dalam upacara Garebeg ini pula 

dapat disaksikan wujud dari gagasan-gagasan dan alam pikiran religius 

leluhur. Berbagai ungkapan simbolis dalam Garebeg sesungguhnya 

banyak mengandung nilai-nilai sosial budaya yang sudah terbukti 

sangat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan, keselarasan kehidupan 

warga  dari masa ke masa. Upacara gerebeg ini erat sekali kaitannya 

dengan sejarah perkembangan dan kehidupan beragama di tanah air serta 

sejarah kerajaan-kerajaan Jawa Islam.

 

Gambar  50 :  Gunungan Sekaten di Yogyakarta 

Upacara labuhan merupakan salah satu upacara adat yang sejak 

jaman kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang 

masih diselenggarakan secara teratur dan masih berpengaruh dalam 

kehidupan sosial penduduk di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 

135

warga  meyakini bahwa dengan upacara labuhan secara tradisional 

akan terbina keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan warga  

dan negara. Meskipun yang menyelenggarakan upacara labuhan 

yaitu  keraton, namun dalam pelaksanaannya di lapangan, rakyat juga 

turut serta. warga  merasa ikut memiliki upacara adat itu dan 

menganggap upacara labuhan yaitu  suatu kebutuhan tradisional yang 

perlu dilestarikan. Salah satu upacara kraton yang dilaksanakan oleh 

para Sultan se¬jak Sultan Hamengkubuwono I yaitu  upacara adat yang 

dalam istilah Jawa disebut labuhan. Upacara ini biasanya dilaksanakan 

di empat tempat yang letaknya berjauhan. Masing-masing tempat itu 

mempunyai latar belakang sejarah tersendiri sehingga pada. masing-

masing tempat tersebut perlu dan layak dilakukan upacara labuhan. 

Upacara ritual Labuhan dilaksanakan setiap tahun dalam memperingati 

ulang tahun Kasultanan kraton Yogyakarta di beberapa tempat yang 

selalu dilaksanakan secara khas oleh para pejabat Kraton dengan 

memberikan sesaji yang berupa Jodang yang terdiri dari berbagai jenis 

makanan dan sayuran serta peralatan sesasi (uborampe) nya. Dalam 

pelaksanaan upacara tersebut ternyata selalu mengundang banyak 

warga  yang konon ingin mendapatkan berkahnya. Upacara labuhan 

tersebut merupakan pemberian atau persembahan (pisungsung-Jawa) 

yang dilakukan di tempat-tempat tertentu, sesuai dengan kepercayaan 

bahwa di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa penting yang berkenaan 

dengan para leluhur raja Empat tempat yang dilaksanakan Labuhan yaitu: 

 

Gambar 51:  Labuhan di lereng Gunung Merapi dan  Pantai Parang 

kusumo   Yogyakarta

136

• Tempat yang pertama ialah Dlepih, disebut juga Dlepih Kahyangan, 

terletak di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Propinsi 

Jawa Tengah.

• Tempat yang kedua yaitu  Parangtritis, di sebelah selatan kota 

Yogyakarta, di tepi Lautan Indonesia (Laut Selatan).

• Tempat yang ketiga ialah di Puncak Gunung Lawu, di perbatasan 

Surakarta dan Madiun, yang membatasi daerah Jawa Tengah dan 

dae¬rah Jawa Timur.

• Tempat yang keempat yaitu  di Puncak Gunung Merapi, letaknya 

termasuk wilayah Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

137

BAB VI

PEMBANGUNAN PARIWISATA 

BERKELANJUTAN 

(SUSTAINABLE TOURISM)

6.1. Program pengembangan pariwisata 

Dalam pembangunan kepariwisataan berkelanjutan (sustainable 

tourism development) tersebut ada lima komponen, yang harus 

diperhatikan dan disikapi yaitu:

Upaya pelestarian guna melindungi lingkungan yang dibangun untuk 

kepariwisataan;

Peran serta warga  di sekitarnya;

Penggunaan budaya lokal untuk pendidikan dan hiburan;

Bantuan positif kepada pemerintah setempat; dan

Pengendalian yang ketat untuk menghindarkan dampak negatif akibat 

pengembangan kepariwisataan daerah itu sendiri.

Kecenderungan yang berkembang dalam sektor kepariwisataan 

maupun pembangunan telah melahirkan konsep pariwisata yang tepat 

dan secara aktif membantu menjaga keberlangsungan pemanfaatan 

budaya dan alam secara berkelanjutan dengan memperhatikan apa 

yang disebut sebagai pilar dari pariwisata berkelanjutan yaitu ekonomi 

warga , lingkungan dan sosial budayanya. Pembangunan pariwisata 

berkelanjutan, dapat dikatakan sebagai pembangunan yang mendukung 

secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika 

dan sosial terhadap warga . (Disparpostel, 1997) [30].

Pembangunan Pariwisata berkelanjutan yaitu  upaya terpadu 

dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara 

mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan 

sumber daya secara berkelanjutan. Hal tersebut hanya dapat terlaksana 

dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang baik dengan 

melibatkan partisipasi aktif dan seimbang antara pemerintah, swasta, 

dan warga . Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak 

saja terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi juga isu demokrasi, hak 

138

asasi manusia dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat dipungkiri, hingga 

saat ini konsep pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap sebagai 

‘resep’ pembangunan terbaik, termasuk pembangunan pariwisata.  

Kecenderungan yang berkembang dalam sektor kepariwisataan maupun 

pembangunan melahirkan konsep pariwisata yang tepat dan secara 

aktif membantu menjaga keberlangsungan pemanfaatan budaya dan 

alam secara berkelanjutan dengan memperhatikan apa yang disebut 

sebagai pilar dari pariwisata berkelanjutan yaitu ekonomi warga , 

lingkungan dan sosial budaya. 

Guna tercapainya pembangunan pariwisata berkelanjutan, beberapa 

hal yang perlu dijalankan:

1. Kesadaran (awareness) dari semua stakeholder kepariwisataan 

tentang tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan, karenanya 

program tindak untuk mengembangkan landasan dan kerangka hukum 

yang tangguh, penegakan hukum, peningkatan kesadaran warga  

melalui pendidikan publik, pengembangan dan peningkatan peran 

lembaga swadaya warga , pengembangan sistem informasi 

pendukung pariwisata berkelanjutan menjadi program-program yang 

diprioritaskan. 

2. Pergeseran peran pemerintah pusat dalam pembangunan pariwisata 

yang berisi tentang berbagai tindakan yang perlu dilakukan 

pemerintah pusat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan 

pengendalian pembangunan pariwisata dalam era otonomi daerah. 

3. Peningkatan peranan pemerintah daerah dalam pembangunan 

pariwisata nasional yang berisi tindakan-tindakan yang perlu 

dilakukan pemerintah daerah dalam perencanaan, pelaksanaan, 

pemantauan dan penendalian pembangunan pariwisata agar 

berkelanjutan dalam era otonomi daerah.

4.   Kemantapan industri pariwisata yang berisi tindakan-tindakan yang 

perlu dilakukan usaha pariwisata dalam meningkatkan daya saingnya 

melalui peningkatan kehandalan dan kredibilitas, pengelolaan usaha 

secara berkelanjutan, penjalinan kerjasama diagonal, promosi nilai-

nilai lokal dalam usaha pariwisata.

  5. Kemitraan dan partisipasi warga  dalam pembangunan pariwisata 

yang berisi program tindak untuk menumbuhkan kepemimpinan lokal, 

139

pengembangan skema bantuan, pelembagaan partisipasi warga , 

penciptaan kaitan ke depan dan ke belakang dengan usaha pariwisata, 

peningkatan kesempatan berwisata dan peningkatan kesadaran 

terhadap resiko pengembangan pariwisata.

 Perkembangan konsep pembangunan berkelanjutan tidak sesederhana 

dan selinier yang disampaikan di atas. Gagasan pembangunan 

berkelanjutan secara simultan dan sporadik telah ditanggapi sejak dini 

oleh berbagai pihak yang terkait dengan pariwisata di berbagai belahan 

dunia.

Pembangunan pariwisata berkelanjutan, dapat dikatakan sebagai 

pembangunan yang mendukung secara ekologis sekaligus layak secara 

ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap warga . Pariwisata 

yang melibatkan antara lain pelaku, proses penyelenggaraan, kebijakan, 

supply dan demand, politik, sosial budaya yang saling berinteraksi 

dengan eratnya, akan lebih realistis bila dilihat sebagai sistem dengan 

berbagai subsistem yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Dalam 

kerangka kesisteman tersebut, pendekatan terhadap fungsi dan peran 

pelaku, dampak lingkungan, peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan 

warga , serta kesetaraan dalam proses penyelenggaraan menjadi 

semakin penting. 

Pengembangan pariwisata berkelanjutan memerlukan partisipasi 

informasi dari semua pihak terkait, serta kepemimpinan politik yang 

kuat untuk memastikan partisipasi yang luas dan membangun konsensus. 

Pariwisata berkelanjutan merupakan proses yang berkesinambungan 

dan membutuhkan pemantauan secara terus menerus dari dampak, 

untuk langkah-langkah pencegahan dan atau perbaikan yang diperlukan 

kedepan. Untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan juga harus 

mempertahankan aspek kepuasan wisatawan dan memastikan dari 

pengalaman mereka yang baik dan bermanfaat, serta meningkatkan 

kesadaran mereka terhadap isu-isu permasalahan yang ada bahkan 

mampu mempromosikan program sustainable tourism development. 

Kesadaran terhadap persoalan-persoalan lingkungan, sosial, budaya 

dan ekonomi yang ditimbulkan oleh model pembangunan dan praktek 

kegiatan wisata yang biasa /massal mendorong beberapa pelaku pariwisata 

untuk membuat produk-produk yang lebih ramah lingkungan, sosial dan 

140

budaya, sehingga muncullah berbagai produk pariwisata bentuk baru 

seperti : ecotourism, alternative tourism, appropriate tourism, culture 

tourism, adventure tourism, green tourism, soft tourism, wildlife tourism, 

communitiy-based tourism, dan lain sebagainya- sebagai jawaban atas 

praktek pariwisata massal.

6.2. Penilaian dan sertifikasi terhadap komponen produk wisata

Untuk menjamin bahwa produk-produk yang ditawarkan usaha dan 

destinasi pariwisata betul-betul ramah lingkungan dan berkelanjutan 

dan mudah dikenali pasar yang menginginkan produk tersebut, beberapa 

negara telah mengembangkan berbagai skema penilaian dan sertifikasi 

terhadap komponen produk wisata mulai dari daya tarik nasional:  1. 

Blue Flag untuk pantai, 2. Green Leaf, untuk akomodasi, 3. Green 

Suitcase untuk biro perjalanan, 4. Green Globe untuk kawasan wisata 

dan destinasi.

Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan tidak dapat 

dilepaskan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan yang telah 

dicanangkan oleh pemerintah sesuai dengan pembangunan nasional. 

Kepariwisataan Indonesia yaitu  pariwisata yang berasal dari rakyat, 

oleh rakyat dan untuk rakyat. Berdasarkan konsep tersebut, maka konsep 

yang sebaiknya dipakai sebagai landasan yaitu :

1. Pengembangan Pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism 

development),

2. Pariwisata yang berbasis warga  (community based tourism). 

Pembangunan pariwisata berkelanjutan, dapat dikatakan sebagai 

pembangunan yang mendukung secara ekologis sekaligus layak 

secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap warga  

(Ardiwijaya,2004)[31].

Prinsip ini menekankan keterlibatan warga  secara langsung, 

terhadap seluruh kegiatan pembangunan pariwisata dari mulai 

perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. warga  diletakkan 

sebagai faktor utama, yang memiliki kepentingan berpartisipasi secara 

langsung dalam pengambilan keputusan. Cohen dan Uphof (1977)

[32], mengemukan bahwa partisipasi warga  dalam suatu proses 

pembangunan terbagi atas 4 tahap, yaitu;

141

1.  Partisipasi pada tahap perencanaan;

2.  Partisipasi pada tahap pelaksanaan;

3.  Partisipasi pada tahap pemamfaatan hasil-hasil pembangunan, dan;

4.  Partisipasi pada tahap pengawasan dan monitoring.

Strategi pemberdayaan warga  dapat dilakukan melaui dua 

pendekatan, yatiu, yang bersifat struktural dan non-struktural (Manshur 

Hidayat & Surochiem.As)[33]. 

a). Pendekatan struktural yaitu  pendekatan makro yang menekankan 

pada penataan sistem dan struktur sosial politik. Pendekatan ini 

mengutamakan peran instansi yang berwenang atau organisasi yang 

dibentuk untuk mengelola potensi warga . Dalam hal ini peran 

warga  sangat penting akan tetapi kurang kuat karena aspek 

struktural biasanya lebih efektif bila dilakukan oleh pihak-pihak yang 

mempunyai wewenang, paling tidak pada tahap awal.

b). Pendekatan non-struktural yaitu  pendekatan yang subyektif. 

Pendekatan ini mengutamakan pemberdayaan warga  secara 

mental dalam rangka meningkatkan kemampuan anggota warga  

untuk ikut serta dalam pengelolaan kepariwisataan. Kedua pendekatan 

itu harus saling melengkapi dan dilaksanakan secara integratif.  

Discussion are there aspects of tourism planning that you believe 

should receive more attention?  Is there significant public input in the 

planning process ?(Hidayat, 2004)[34]

1.3. Pengembangan Motivasi wisatawan 

Faktor-faktor fisik lingkungan biasanya mempengaruhi langsung 

“sikap” dari wisatawan dan menumbuhkan motivasi tertentu. Motivasi 

ini merupakan dasar penyebab dari timbulnya kegiatan wisatawan yang 

sering disebut dengan dengan “motif”  yakni motif perjalanan. Motif 

merupakan perwujudan konkrit dari keinginan-keinginan yang harus 

dipenuhi. Sebagai contoh : kehidupan santai, yaitu keinginan yang 

disebabkan oleh akibat kelelahan badan ,keresahan jiwa dan tekanan 

hidup di kota.

Motivasi dapat dibagi kedalam dua kelompok , yaitu :

Motivasi yang disebabkan oleh adanya dorongan dari dalam jiwa dan 

kehidupan alami

142

Motivasi yang disebabkan oleh adanya dorongan dari luar , yang 

disebabkan oleh kondisi lingkungan.

a). Aspek pengembangan Motivasi Perjalanan wisata

Motivasi dan motif dari keinginan wisatawan ( tourist interest) belum 

terungkap secara jelas, apakah terdapat hubungan satu sama lainnya atau 

tidak.

Motivasi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan, memperlihatkan 

perubahan yang lebih jelas terhadap sikap wisatawan dibanding dengan 

motivasi yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa.

Undang-Undang no.10/Th. 2009 didefinisikan sbb:“Daerah Tujuan 

Pariwisata, yang selanjutnya disebut destinasi pariwisata, yaitu  kawasan 

geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di 

dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, 

aksesibilitas, serta warga  yang saling terkait dan melengkapi 

terwujudnya kepariwisataan”.

Atas dasar pokok pemikiran tersebut, upaya pengembangan 

kepariwisataan, mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakukan sejalan 

dengan pemenuhan motivasi dan kebutuhan sang wisatawan (traveller, 

pelaku perjalanan) serta kepentingan dan kebutuhan hidup warga  

yang berada di tempat tujuan perjalanan itu.

Motivasi –motivasi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Motivasi yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa, yang berupa 

kebutuhan jiwa dan fisik.

a). Kebutuhan utama (primer) :

Dorongan hati

Kebutuhan jasmani

Kebutuhan akan udara bersih

Kebutuhan akan sinar matahari

Kebutuhan akan kebebasan bergerak

Kebutuhan untuk istirahat

b). Kebutuhan sekunder : 

Kebutuhan untuk kesenangan

Kebutuhan untuk penguatan pribadi

143

Kebutuhan untuk maju

Kebutuhan untuk menikmati sesuatu

Kebutuhan akan perlindungan

Keingin tahuan ( curiousity)

2. Motivasi yang disebabkan dari luar jiwa

a). Keadaan lingkungan alam, berupa :

Iklim dan Lingkungan yang kurang baik

Pencemaran dan kerusakan lingkungan

Rusaknya keseimbangan alam dan pemandangannya

Kondisi negatif daru tempat tinggal

Menurunya kondisi kesehatan

Kebisingan dan bau lingkungan

Pemandangan kota yang membosankan

Kondisi sosial yang membosankan

b). Kondisi Sosial Budaya

Langkanya fasilitas / sarana rekreasi

Kegiatan warga  yang membosankan

Tekanan dari kelompok warga  yang menuju kepada tata 

kehidupan yang teratur

Kehidupan yang teratur

Terlalu banyak atau sedikit kerja fisik atau mental

Terlalu banyak atau sedikit kegiatan sosial

Sifat bebas dari remaja

Perkembangan sosial warga 

Perbedaan sosial di dalam warga 

c). Kondisi dan Keadaan Ekonomi

Konsumsi yang tinggi dari warga 

Biaya hidup yang tinggi di tempat

Tingkat daya beli yang tinggi

Meningkatnya kehidupan mewah

Adanya kemudahan dalam peminjaman uang

Meningkatnya waktu luang

Penurunan dan rendahnya pajak

144

Penurunan dan rendahnya ongkos angkutan

d). Kegiatan Pariwisata

Meningkatnya kegiatan tourist publicity

Meningkatnya penyebaran informasi pariwisata

Prestise sosial dari pariwisata

Dari uraian-uraian di atas, jelas bahwa motivasi baik yang disebabkan 

oleh dorongan dari dalam jiwa maupun sebagai pengaruh dari lingkungan, 

merupakan dasar utama yang menyebabkan seseorang berkeinginan 

untuk melakukan perjalanan wisata. Pada saat ini, terutama di negara- 

negara yang telah maju, melakukan perjalanan wisata merupakan 

kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Ada beberapa alasan bagi orang - orang tertentu, yang tidak dapat 

melakukan perjalanan secara intensif, atau sama sekali tidak dapat 

melakukan perjalanan. 

Alasan – alasan yang merupakan faktor tidak atau sama sekali tidak 

melakukan perjalanan antara lain disebabkan : 

a). Alasan biaya untuk melakukan perjalanan

 Setiap menusia selalu dihadapkan kepada masalah keuangan, dan 

melakukan perjalanan selalu memerlukan tersedianya uang.

b). Alasan ketiadaan waktu

 Halangan ketiadaan waktu, pada umumnya merupakan alasan bagi 

kebanyakan orang yang tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, 

profesinya atau kegiatan usahanya.

c). Alasan kondisi kesehatan

 Gangguan kesehatan atau kelemahan fisik seseorang , sering 

merupakan hambatan atau halangan untuk melakukan perjalanan. 

Sebagai contoh : orang-orang lanjut usia lebih banyak tinggal 

dirumah daripada melakukan perjalanan dikarenakan kondisi pisik 

dan kesehatan yang tidak mengizinkan.

d). Alasan keluarga

 Keluarga yang mempunyai anak-anak yang masih kecil dan banyak., 

sering merupakan hambatan atau halangan bagi seseorang yang 

melakukan perjalanan, yang disebabkan oleh adanya beban dan 

kewajiban untuk memelihara anak-anaknya.

145

e). Alasan tidak ada minat 

 Yang menimbulkan ketiadaan minat seorang untuk melakukan 

perjalanan, antara lain karena kurangnya pengetahuan tentang daerah-

daerah tujuan wisata yang menarik, yang disebabkan kelangkaan dan 

kurangnya informasi. 

1.4. Pengertian perjalanan wisata 

Ada beberapa pengertian mengenai kata perjalanan wisata:

Kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang 

dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati 

obyek dan daya tarik wisata.

Perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia diluar 

tempat tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan 

untuk tinggal menetap atau melakukan pekerjaan di tempat tersebut 

untuk mendapatkan upah.

Secara sederhana perjalanan dapat didefinisikan sebagai kegiatan 

berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan berbagai tujuan, antara 

lain:

Perang; Bencana alam

Eksplorasi

Mencari nafkah

Rasa ingin tahu

Rekreasi; Berpetualang, dll.

Berdasarkan pengertian – pengertian diatas maka dapat disimpulkan 

bahwa perjalanan wisata (tour) yaitu  suatu kegiatan mengunjungi suatu 

tempat untuk sementara dengan tujuan menikmati obyek dan daya tarik 

wisata.

Ciri – ciri perjalanan wisata

Perjalanan wisata memiliki ciri tertentu, yaitu:

Perjalanan keliling yang kembali lagi ke tempat asal.

Perjalanan tersebut telah direncanakan sebelumnya.

Terdapat unsur – unsur produk wisata.

Dilakukan dengan santai.

146

Terdapat tujuan – tujuan yang ingin dicapai dari perjalanan tersebut.

Faktor pendorong perjalanan wisata

Pada umumnya seseorang terdorong untuk melakukan perjalanan 

wisata jika beberapa kondisi berikut terpenuhi:

Waktu luang tanpa halangan.

Tersedia biaya

Keinginan untuk melakukan perjalanan.

1.5. Faktor terwujudnya perjalanan wisata

Sebuah perjalanan wisata dapat terwujud apabila terdapat beberapa 

faktor, antara lain :

Sumber daya Manusia

Daerah tujuan wisata

Informasi yang berhubungan dengan perjalanan yang akan 

dilakukan

Sarana dan prasarana

Aksesibilitas

Dalam bagan ini dapat dilihat arus perjalanan wisatawan asing 

(Wisman) dalam menikmati wisatanya membutuhkan dan akan 

menggunakan beberapa fasilitas sarana dan prasarana pariwisata daerah 

yang ada.

Flow Chart proses kegiatan dan aktivitas dalam suatu perjalanan 

wisata 

Gambar 52: Proses Perjalanan wisata

147

Motivasi dan motif perjalanan pada abad pertengahan , lebih luas 

dari motivasi dan motif perjalanan pada jaman kuno. Disamping motif 

perjalanan untuk keperluan perdagangan, keagamaan dan dambaan 

ingin tahu, pada jaman ini telah berkembang motif untuk tujuan yang 

berhubungan dengan kepentingan negara (mission) dan motif untuk 

menambah pengetahuan. Traveling keliling kota  Singapore untuk 

menambahpengalaman danwawasan pengetahuan yang memiliki 

keasyikan tersendiri 

 

Gambar 53:  Bus Pariwisata di Singapore 

Para pedagang tidak lagi melakukan pertukaran secara barter. Para 

pedagang cukup dengan membawa contoh barang yang ditawarkan 

melalui pekan-pekan raya perdagangan. Seperti di St. Denis, Champagne 

atau Aix-la-Cappalle.

Untuk menjaga hubungan antar negara, baik negara penjajah maupun 

yang dijajah atau antar negara merdeka, dilakukan saling kunjungan 

petugas-petugas negara.

Pada jaman pertengahan telah ada perguruan-perguruan Tinggi 

seperti Al Azhar di Kairo, di Paris, Roma, Salamanca, dll. Para mahasiswa 

dari berbagai negara melakukan kunjungan ke universitas-universitas ini 

untuk menambah memperdalam pengetahuannya, dengan mendengarkan 

kuliah-kuliah yang diberikan oleh guru-guru besar. Dengan semakin 

banyaknya yang melakukan perjalanan antar negara, berbagai negara 

mulai mengeluarkan peraturan-peraturan, guna melindungi kepentingan 

148

negara dan pendudukanya serta kepentingan para wisatawan. Akomodasi 

yang bersifat komersil mulai bermunculan walaupun masih sederhana. 

Demikian pula restoran-restoran, yang menyediakan makanan untuk 

keperluan para pelancong. Alat angkut tidak hanya dengan menunggan 

kuda, keledai atau onta, tetapi telah meningkat dengan menambah kereta 

yang ditarik kuda atau keledai. Angkutan laut telah menggunakan kapal-

kapal yang lebih besar.

1.6. Pariwisata di jaman modern dan era globalisasi 

Perkembangan pariwisata pada jaman modern, ditandai dengan 

semakin beraneka ragamnya motif dan keinginan wisatawan yang harus 

dipenuhi, sebagai akibat meningkatnya budaya manusia. Formalitas 

atau keharusan  para pelancong untuk membawa identitas diri bila 

mengunjungi suatu negara mulai diterapkan. Tempat-tempat penginapan 

(akomodasi) yang dikelola secara komersil tumbuh dengan subur. Fasilitas 

yang digunakan semakin lengkap. Timbulnya revolusi industri di negara-

negara Barat telah menciptakan alat angkut yang sangat penting dalam 

perkembangan pariwisata. 

 

Gambar  54:  Traveling di sungai ChaoPraya Thailand 

Salah satu daya tarik destinasi di Bangkok Thailand yaitu  keliling 

kota dengan kapal pada malam hari sambil menikmati keindahan lampu-

lampu kota dengan  acara dinner party yang diiringi music, tarian yang 

sangat menyenangkan, merupakan kenangan dan pengalaman yang 

mengasyikan. Paket wisata ini jarang ditemui di Indonesia. 

149

Hanya ada di kota Palembang dengan paket naik perahu Naga untuk 

menyeberang sungai Musi pada waktu malam hari menikmati sajian 

salah satu restoran ”LEGENDA” menu khas Palembang yaitu Empek 

empek. Namun sayangnya tidak dikelola dengan baik, sehingga kurang 

menarik tidak seperti Chaopraya di Bangkok tersebut.

1.6.1. Perkembangan dunia transportasi modern

Perkembangan selanjutnya ditemukan alat angkut yang mengguna 

mesin motor, yang jauh lebih cepat dan fleksibel dalam angkutan melalui 

darat. Teknologi mutakhir yang sangat penting dalam jaman modern 

yaitu  dengan digunakannya angkutan udara, yang dapat menempuh 

jarak jauh dalam waktu yang lebih cepat. Di Era globalisasi ini ditandai 

adanya badan atau organisasi yang menyusun dan mengatur perjalanan 

dan wisata lewat online, semua registrasi, booking Hotel, restaurant 

traveling baik darat; laut; dan udara bisa dilakukan jauh sebelum hari 

pemberangkatan. Sarana transportasi berkembang sangat pesat Kereta 

api tercepat di dunia Shinkazen Jepang (340km/jam) di saingi High 

speed Rail di Taiwan (345 km/jam). Dengan teknologi yang mutakhir 

serta didukung sarana prasarana yang harus dikemas sangat memadahi 

dapat dioperasionalkan dengan baik, dan aman. Jika di bandingkan 

dengan Indonesia memang akan sulit dikembangkan, karena lahan yang 

dipergunakan harus bebas dengan pemukiman penduduk atau bahkan 

harus di bawah tanah (subway) yang lebih aman dan bebas hambatan. 

Sedangkan membangun kawasan yang seperti tersebut sangat sulit 

dibangun di Indonesia sekarang ini. 

 

Gambar 55:  High Speed Rails di Taiwan 345 Km per Hour

150

Prasarana Pelabuhan udara yang besar sangat memadahi dengan 

fasilitas electronik escalator, lift, air port handling yang memadahi. 

Jadwal penerbangan yang semakin padat keseluruh penjuru dunia, 

dengan maskapai penerbangan yang banyak. Stasiun kereta api di Negara 

maju semakin canggih, Kereta api bawah tanah (subway) sampai tiga 

lantai (platform) sehingga memudahkan perjalanan untuk wisatawan. 

Fasilitas Locker untuk penyimpanan luggage yang ukuran besar 

sehingga meringankan beban wisatawan tidak perlu membawa beban 

saat berwisata. 

Gambar  56: Kereta Shinkazen di Jepang 

Kereta api cepat Shinkazen di Jepang 245 /Km per hour. Tenyata ada 

kereta khusus disebut Dr Yellow yang melaju di trek pada kecepatan 245 

km/jam yang memeriksa kondisi rel, kabel udara dan sinyal.  Dr Yellow 

sering tidak terlihat sehingga konon jika kita berhasil melihatnya jika 

berkunjung ke Jepang, maka kita bisa dianggap sebagai orang yang 

beruntung.

151

 

Gambar  57: Airasia 

Maskapai penerbangan Airasia yang terbesar di Asia ini menggunakan 

manajemen yang sangat aplikatif dengan system low cost carrier (LCC) 

sehingga mampu bersaing dengan perusahaan penerbangan yang lebih 

senior, sehingga saat ini mampu menjadi yang terbesar di Asia. Pengelola 

manajemen LCC di Airasia ini telah mampu membawa maskapai 

penerbangan ini terus berkembang pesat di Asia.

Maskapai penerbangan AirAsia, melihat peluang bukan sekedar 

sebuah operator maskapai penerbangan tetapi lebih sebagai perusahaan 

merakyat yang kebetulan berkecimpung dalam bisnis maskapai 

penerbangan. Dengan memahami rakyat, AirAsia dapat mewujudkan 

kebutuhan beragam pelancong yang sebenarnya juga menyediakan 

layanan dan produk terbaik untuk memberikan kepuasan tertinggi 

kepada masing-masing penumpang dengan berbagai yang keinginan 

dan harapan. Misi Air Asia yaitu  mencapai biaya termurah Low Cost 

Carrier (LCC) sehingga semua orang dapat terbang bersama AirAsia, 

namun juga menjaga kualitas tertinggi, memanfaatkan teknologi untuk 

mengurangi biaya juga meningkatkan layanan.

PT Lion Mentari Airlines beroperasi sebagai Lion Air yaitu  maskapai 

penerbangan bertarif rendah yang berpangkalan pusat di Jakarta, 

Indonesia. Lion Air sendiri yaitu  maskapai swasta terbesar di Indonesia. 

Dengan jaringan rute di Indonesia, Singapura, Malaysia,Vietnam dan 

Arab Saudi serta rute carter menuju China dan Hongkong, Lion Air 

menjadikan dirinya sebagai pemain Regional yang akan berkompetisi 

152

dengan AirAsia dari Malaysia. Sepanjang tahun operasionalnya, Lion 

Air mengalami penambahan armada secara signifikan sejak tahun 

operasionalnya pada tahun 2000 dengan memegang sejumlah kontrak 

besar, salah satunya yaitu kontrak pengadaan pesawat dengan Airbus 

dan Boeing dengan total keseluruhan sebesar US$ 46.4 Milliar untuk 

armada 234 unit Airbus A320 dan 203 Pesawat Boeing 737 MAX. 

 

Gambar 58:  Prasarana Pelabuhan Udara Cengkareng  Soekarno Hatta

Perusahaan sendiri telah memiliki perencanaan jangka panjang 

pada maskapai untuk memberdayakan armadanya untuk mempercepat 

ekspansinya di kawasan regional Asia Tenggara dengan membuat anak 

perusahaannya sendiri, yaitu Wings Air dan Batik Air sebagai pemerkuat 

operasional maskapai di Indonesia dan untuk di luar negeri, Lion Air 

memperkuat kehadirannya dengan mendirikan Malindo Air dan Thai 

Lion Air. Namun dalam manajemen operasionalnya masih banyak 

kekurangannya dengan seringnya keterlambatan (delay) pelayanan yang 

tidak professional dan belum dimiliki, tidak seperti perusahaan yang 

sudah besar sehingga banyak customer yang sering kecewa. 

1.6.2. Perkembangan Pariwisata dengan Bangunan pencakar 

langit di dunia.

Perkembangan pariwisata dunia mampu mendongkrak pembangunan 

gedung-gedung pencakar langit di beberapa Negara Adikaya Dubai Sky 

city; Los Angeles Sky Line; dan Taipei Tower 101 di Taiwan. Negara-

negara tersebut menciptakan pencakar langit untuk tujuan pencitraan 

153

dan prestige juga asset branding pemasaran pariwisatanya. Sehingga 

mudah dikenal oleh bangsa lain. 

Gambar 59: Perkembangan Gedung Pencakar langit dunia.

Beberapa Gedung pecakar langit yang setiap tahunnya berkembang 

di Negara-negara maju. Menunjukkan betapa canggihnya arsitektur 

pariwisata dunia tersebut. 

 

Gambar 60:  Los Angeles City Hall; Sky City Dubai 

154

 

Gambar  61: Taipei 101 Tower Taiwan; Sky & Sun Tower di  Abu Dhabi

Demikian juga perkembangan bangunan Hotel yang megah telah 

menunjukkan perkembangan sarana akomodasi pariwisata yang canggih 

saat ini

 

Gambar  62:  Hyatt Regency di Paris ; Grand Hyatt Hotel di New York

1.7. Wisata Bahari ( Marine Tourism)

Sesuai dengan program pemerintah Jokowi saat ini ingin 

mengembangkan pariwisata dari aspek Maritimnya, mengingat 

kepulauan Indonesia memiliki potensi kelautan yang terbesar di dunia. 

Perkembangan wisata tirta atau wisata bahari semakin signifikan, 

155

destinasi wisata bahari di kawasan Indonesia Timur dengan RajaAmpat, 

Bunaken, mulai mengikuti kesuksesan wisata bahari yang ada dipulau 

Bali, bahkan sekarang kawasan destinasi wisata Tanjung Benoa akan 

di kembangkan menjadi wisata bahari yang terbesar didunia.  Wisata 

Bahari yaitu  seluruh kegiatan wisata yang berkaitan dengan bahari atau 

yang aktivitasnya dilakukan di bentang laut dan bentang darat selama 

melibatkan unsur perjalanan dengan kegiatan yang memanfaatkan 

potensi alam bahari sebagai Daya Tarik Wisata maupun wadah 

kegiatannya. Biasanya aktivitas tersebut berkaitan dengan menikmati 

ekosistem laut yang indah, tetapi sekarang sudah dikemas dengan adanya 

beberapa event – event yang diselenggarakan di area laut, pantai dan 

sekitarnya, contoh: a). Olah raga air, acara yang didukung oleh peralatan 

modern seperti speedboat, Diving, Snorkling, berselancar dll. b). Acara 

tradisional yang diselenggarakan yang didasarkan pada adat dan budaya 

warga  setempat misalnya pesta nelayan yaitu suatu ritual sebagai 

bentuk syukur atas berlimpahnya hasil tangkapan ikan. c). Ekonomi 

Edukatif, bisa berupa kunjungan ke tempat pelelangan ikan, melihat 

proses penarikan jaring dari laut oleh nelayan. d). Kuliner, sebagai suatu 

tempat yang khas, laut tentu saja menyajikan makananyang bertemakan 

olahan hasil laut segar hal ini merupakan salah satu daya tarikwisata 

bahari.  e). Ekowisata Bahari, menyajikan ekosistem alam khas laut 

berupa hutan mangrove, taman laut serta fauna baik fauna dilaut maupun 

sekitar pantai.

1.7.1. Sejarah Perkembangan Wisata Maritim (Marine Tourism)

Pada jaman dahulu aktifitas wisata bahari hanya sebatas di bentang 

darat, dan belum adanya kemajuan teknologi seperti sekarang. 

Aktivitasnya pun terbatas seperti bermain pasir di pantai, sight seeing, 

berenang, dan aktivitas sosial di pantai. Namun sekarang percepatan 

perkembangan teknologi (cyber technology). Seiring berjalannya waktu 

dan perkembangan teknologi marine sudah lebih canggih. Dahulu 

kegiatan menyelam (diving) hanya terbatas kedalamnya namun sekarang 

dengan peralatan yang canggih, sudah tidak ada lagi kendala dalam 

penyelaman.  Keterbatasan manusia sebagai makhluk darat, masuk 

kedalam permukaan laut sangat mudah. Manusia dapat mengeksplorasi 

“in and on the water” dalam kurun waktu, cara, dan aktivitas tertentu. 

Karena teknologi pun semakin maju aktifitas wisata bahari pun juga 

156

semakin berfareasi dengan berbagai alat yang juga sudah berkembang 

seperti diving, snorkling, kapal selam hingga wisata cruise ship.

1.7.2. Keterkaitan Motivasi dan Karakteristik Terhadap 

Perkembangan Marine Tourism

Karakteristik dan motivasi wisatawan dapat menentukan jenis aktifitas 

wisata apa saja yang dapat dilakukan oleh wisatawan tersebut. Tujuan 

berwisata (motivasi), dan karakteristik wisatawan (umur, jenis kelamin, 

keadaan ekonomi, dll) menentukan apa sajajenis aktifitas tersebut (aktif 

ataupun pasif). Contoh, wisatawan dengan umur yang muda lebih 

memilih aktifitas yang aktif seperti permainan yang menantang dan 

membutuhkan fisik yang kuat seperti diving, jet sky, dll. Kebalikannya 

dengan wisatawan dengan umur yang sudah tua akan lebih memilih 

aktifitas yang pasif seperti kegiatan yang hanya menikmati keingdahan, 

memancing, kapal pesiar, melihat atraksi lumba-lumba, dll.

Sebagai contoh: 

Perkembangan kawasan destinasi wisata Bahari (BUNAKEN): 

Destinasi wisata Taman Nasional Laut Bunaken - Manado memiliki 

potensi yang menjadi daya tarik marine tourism (wisata bahari) sebagai 

unggulan di Indonesia, alasannya sebagai berikut: 

a). Lingkungan yang alami (natural) 

Memiliki keindahan alam yang spesifik meliputi: jarak pandang yang 

luas/variasi pandangan yang indah didalam obyek, pemandangan 

lepas menuju obyek, keserasian warna dan sentuhan desain bangunan 

dalam obyek yang serasi, dan memiliki nuansa santai atau suasana 

yang nyaman dalam obyek pandang. 

Keunikan sumber daya alam yang tampak alami (natural) dan asli 

(original)

Memiliki banyaknya sumber daya alam yang menonjol, berupa: 

Geologi, Flora dan Fauna, Air, dan Gejala alam lingkungan yang 

sangat menonjol, tidak ada duanya.

Keutuhan sumber daya alam yang terpadu harmonis dengan 

lingkungan.

Kepekaan sumber daya alam, yakni: dari segi nilai pengetahuan, nilai 

157

kebudayaan, nilai pengobatan, dan nilai kepercayaan.

Memiliki atmosfeer yang memadahi dari kebersihan udara dan 

lokasinya.

Kesesuaian ruang gerak pengunjung sebanding dengan daya tampung.

b). Daya Tarik Taman Laut

Taman laut Bunaken merupakan wisata laut yang terbaik di Indonesia, 

terjaganya keselamatan dalam lokasi, yakni: tidak ada gangguan ikan 

(binatang) buas, tidak ada arus berbahaya, jarang angin besar, jarang lalu 

lintas laut, dan bebas kepercayaan yang mengganggu.

Berbagai variasi Fauna laut, yang berupa: Jenis fauna besar yang tidak 

berbahaya, variasi ikan hias (min. 15 jenis), berbagai variasi koral laut 

yang lunak dan yang keras (min. 40).  Keindahan didalam laut, yakni: 

tumbuh-tumbuhan laut, terdapat gua-gua laut / crade, keindahan relief, 

dan variasi harmoni pandangan.

Paduan dari keutuhan, keunikan dan kepekaan, adanya peninggalan 

sejarah kapal tenggelam di jaman dahulu, dan ada keganjilan bentuk, 

yang memiliki nilai-nilai ilmu pengetahuan.

Faktor Kejernihan air yakni: terlihat jernih dan bersih tampak 

sampai kedalaman min. 15 m, tidak ada plankton yang mengganggu, 

tidak ada pengaruh pemukiman, tidak ada pengaruh pelabuhan, 

tidak ada pengaruh pasar / gudang ikan/pabrik, dan tidak ada 

pencemaran lainnya. Selain dari factor air juga adanya aspek 

dukungan lokasi lingkungan kawasan, pandangan dan kenyamanan 

permukaan air, pantai yang rindang, pantai yang berpasir putih, faktor 

kebersihan pantai, dan dukungan pemandangan pulau-pulau sekitarnya 

yang sangat menarik.

c).  Daya Tarik Pantai Bunaken

Kondisi pantai yang tertata bersih dan menyenangkan, 

1. Keindahan, berupa: variasi pandang pulau, keindahan relief, 

kerindangan tepi pantai, keserasian pandangan pantai dan sekitarnya, 

dan ada ciri khusus.

2. Keselamatan laut tepi pantai, seperti: tidak ada arus balik berbahaya, 

tidak ada kecuraman dasar laut, bebas gangguan binatang berbahaya, 

158

dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu.

3. Jenis Pasir yang putih bersih nyaman dikaki.

4. warga  memiliki berbagai variasi kegiatan budaya.

5. Memiliki kebersihan Air, karena tidak ada pencemaran dari: tidak 

ada pengaruh pelabuhan, tidak ada pengaruh pemukiman rakyat, 

tidak ada pengaruh sungai, tidak ada pengaruh pelelangan ikan/pasar/

pabrik, tidak ada sumber pencemaran lain, dan tidak ada pengaruh/

akibat musim.

6. Lebar Pantai Bunakan yang luas sangat memadahi.

7. Kebersihan/Kenyamanan: bersih tidak ada sampah, tidak ada corat-

coret, bebas kebisingan, tidak banyak gangguan binatang, seperti 

nyamuk, dsb, bebas bau yang mengganggu, dan sedikit kerikil/kerang 

tajam. (N. Raymond Frans)[2001]

1.8. Pengembangan MICE dalam bisnis Pariwisata 

Perkembangan industri pariwisata dalam era globalisasi yang sangat 

cepat ini telah menuntut semua pemerhati stakeholder pariwisata yang 

terikat dengan kegiatan pariwisata tidak bisa tinggal diam dan terpacu 

mampu mengantisipasi semua kebutuhan dan keinginan wisatawan 

yang beraneka ragam. Hal ini sesuai dengan sifat Pariwisata yang 

multi-structural dengan melibatkan semua struktur organisasi baik 

dari warga , pengusaha, dan pemerintah harus ikut mendukung 

pengembangan pariwisata berkelanjutan. Sedangkan sifat pariwisata 

yang multi-dimensional menuntut peran, pola pikir, pendapat, ide 

kreatif inovatif dari para pemerhati pariwisata untuk ikut berafiliasi 

dalam warga  luas untuk Pembangunan Pariwisata di setiap daerah 

tujuan wisata. “MICE tourism is known for its extensive planning and 

demanding clientele” (World Tourism Organization. 2007)[36]

Perkembangan industri MICE (Meeting, Incentive, Conference 

and Exhibition) telah memberikan warna yang beragam terhadap jenis 

kegiatan industri jasa yang identik dengan pemberian pelayan/services. 

MICE merupakan bisnis yang memberikan kontribusi tinggi secara 

ekonomi terlebih bagi negara berkembang. Kualitas pelayanan yang 

diberikan mampu memberikan kepuasan kepada setiap peserta, industri 

MICE mampu memberikan keuntungan yang besar bagi para pelaku 

usaha di industri tersebut. Dukungan infrastruktur dengan kualitas yang 

159

bagus menjadi hal yang sangat penting diantaranya akses udara, jalan 

atau rel kereta api, convention center dengan kualitas bagus, hotel antara 

bintang tiga hingga bintang lima, destinasi yang atraktif dan memiliki 

nilai tambah, pemasaran yang baik, dan professional conference organizer 

(PCO) lokal yang ahli di bidangnya. Disisi lain perlunya agresifitas dari 

para penyedia jasa 

Menurut Pendit (1999:25)[37], MICE diartikan sebagai wisata 

konvensi, dengan batasan : usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan 

pameran merupakan usaha dengan kegiatan memberi jasapelayanan bagi 

suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendikiawan 

dsb) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan 

kepentingan bersama. Sedangkan menurut Kesrul (2004:3)[38] MICE 

sebagai suatu kegiatan kepariwisataan yang aktifitasnya merupakan 

perpaduan antara leisure dan business, biasanya melibatkan sekelompok 

orang secara bersama-sama, melaksanakan rangkaian kegiatan dalam 

bentuk Meetings, Incentive travels, Conventions, Congresses, Conference 

and Exhibition.

6.8.1. Jenis kegiatan MICE:

a).  Meeting

Menurut Kesrul (2004:8)[38], Meeting Suatu pertemuan atau 

persidangan yang diselenggarakan oleh kelompok orang yang tergabung 

dalam asosiasi, perkumpulan atau perserikatan dengan tujuan 

mengembangkan profesionalisme, peningkatan sumber daya manusia, 

menggalang kerja sama anggota dan pengurus, menyebarluaskan 

informasi terbaru, publikasi, hubungan kewarga an.

Menurut Kesrul (2004:3)[38], “Meeting yaitu  suatu kegiatan 

kepariwisataan yang aktifitasnya merupakan perpaduan antara leisure 

dan business, biasanya melibatkan orang secara bersama-sama”.

b). Incentive

Menurut Undang-undang No.9 tahun 1990 yang dikutip oleh Pendit 

(1999:27)[37], menjelaskan bahwa perjalanan insentive merupakan 

suatu kegiatan perjalanan yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan 

untuk para karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan penghargaan atas 

160

prestasi mereka dalam kaitan penyelenggaraan konvensi yang membahas 

perkembangan kegiatan perusahaan yang bersangkutan.

Menurut Kesrul (2004:18)[38], bahwa insentive merupakan hadiah 

atau penghargaan yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada 

karyawan, klien, atau konsumen bentuknya bisa berupa uang, paket 

wisata atau barang.

Menurut Any Noor (2007:5)[39] yang dikutip dari SITE 1998 dalam 

Rogers 2003, juga memberikan definisi mengenai incentive : “Incentive 

travel is a global management tool that uses an exceptional travel 

experience to motivate and/or recognize participants for increased levels 

of performance in support of the organizational goals”.

c).  Conference

Menurut (Pendit,1999:29)[37] Istilah conference diterjemahkan 

dengan konferensi dalam bahasa Indonesia yang mengandung pengertian 

sama. Dalam prakteknya, arti meeting sama saja dengan conference, 

maka secara teknis akronim MICE sesungguhnya yaitu  istilah yang 

memudahkan orang mengingatnya bahwa kegiatan-kegiatan yang 

dimaksud sebagai perencanaan, pelaksanaan dan penyelenggaraan 

sebuah Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition yang hakekatnya 

merupakan sarana dan sekaligus yaitu  produk paket-paket wisata 

yang siap dipasarkan. Kegiatan-kegiatan ini dalam industri pariwisata 

dikelompokkan dalam satu kategori, yaitu MICE.

Menurut Kesrul, (2004 :7)[38], Conference atau konferensi yaitu  

suatu pertemuan yang diselenggarakan terutama mengenai bentuk-

bentuk tata krama, adat atau kebiasaan yang berdasarkan mufakat 

umum, juga merupakan dua perjanjian antara negara-negara dari para 

penguasa pemerintahan atau perjanjian international mengenai topik 

tawanan perang dan sebagainya.

d).  Exhibition 

Dalam Surat Keputusan Menparpostel RI Nomor KM. 108 / HM. 703 

/ MPPT-91, Bab I, Pasal 1c, yang dikutip oleh Pendit (1999:34)[37], yang 

berbunyi “Pameran merupakan suatu kegiatan untuk menyebar luaskan 

informasi dan promosi yang ada hubungannya dengan penyelenggaraan 

161

konvensi atau yang ada kaitannya dengan pariwisata. Menurut Kesrul 

(2004:16)[38}, exhibition yaitu  ajang pertemuan yang dihadiri secara 

bersama-sama yang diadakan di suatu ruang pertemuan atau ruang 

pameran hotel, dimana sekelompok produsen atau pembeli lainnya dalam 

suatu pameran dengan segmentasi pasar yang berbeda.

Dalam pengembangan MICE aspek promosi dan pemasaran yang 

terpadu dan berkelanjutan dapat menarik para konsumen MICE baik 

dari dalam maupun luar negeri. Sebagai industri yang memiliki karakter 

multiplayer effect, MICE tentunya dapat meningkatkan taraf ekonomi 

warga  sekitar, karena dalam suatu event, seluruh stakeholder 

harus ikut terlibat. Selain itu, angka pengangguran juga akan bisa 

ditekan melalui industri MICE.Persaingan di industri jasa MICE 

yang sangat ketat terutama dengan Singapura, Thailand, Hongkong, 

maupun Malaysia.Namun Indonesia tidak perlu takut karena memiliki 

asset pariwisata yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh Negara lain. 

Penyelenggaraan berbagai kegiatan baik itu mega sport event; meeting, 

incentive, conference, exhibition (MICE); mega entertaintment event 

(live music event yang menjadi trend di dunia saat ini), festival dan 

lainnya dapat mampu mendorong tumbuhnya industri ikutan yang 

merupakan peluang dalam urusan peraihan devisa, peningkatan citra, 

serta investasi, pengembangan usaha kecil lainnya.

6.8.2. Peran MICE dalam Industri Pariwisata

Akhir-akhir ini telah menjadi suatu kecenderungan pada para pelaku 

pasar pariwisata untuk mengganti istilah ini menjadi “ The Meetings 

Industry”. Dunia MICE yaitu  dunia yang belum optimal dikelola 

dengan baik di Indonesia. Padahal dunia MICE merupakan salah satu 

andalan pariwisata di beberapa negara maju. Dunia MICE merupakan 

salah satu dunia bisnis yang sangat menjanjikan. Namun belum banyak 

pihak pengusaha di Indonesia yang mau bermain di dunia MICE. Salah 

satu penyebabnya yaitu  kurangnya pengetahuan tentang MICE di 

Indonesia. Pariwisata berkelanjutan yaitu  pariwisata yang mengundang 

semua pihak – terutama anggota warga  – untuk mengelola sumber 

daya dengan cara yang memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan 

estetika sambil memastikan keberlanjutan budaya lokal, habitat alam, 

keanekaragaman hayati, dan sistem pendukung penting lainnya.

162

Namun sekarang sudah mulai ada lembaga pendidikan yang 

memberikan pendidikan tentang MICE di Indonesia. Sedangkan banyak 

negara lain yang sudah menjadikan dunia MICE sebagai salah satu 

potensi wisatanya. Seperti di Jepang dengan “Tokyo Motor Show”, dan di 

Jerman dengan “Frankfurt Motor Show”, dan lain sebagainya.  Sekarang 

berbagai biro perjalanan wisata telah membuat paket wisata mengunjungi 

berbagai event MICE di berbagai belahan dunia, hal ini yaitu  potensi 

bisnis yang besar. 

Dunia MICE memiliki multiplier effect yang sangat besar. banyak 

lapangan pekerjaan yang tercipta dari adanya event MICE di berbagai 

negara. Puluhan roda industri di dunia berputar dengan baik karena 

adanya event MICE tersebut. Pihak pihak yang   mendapat keuntungan 

dari event MICE antara lain:

Professional Exhibition Organizer (PEO),

Professional Conference Organizer (PCO),

Stan Kontraktor,

Freight Forwarder,

Supplier,

Florist,

Event Organizer,

Hall Owner,

Tenaga kerja musiman,

Percetakan,

Transportasi,

Biro Perjalanan Wisata (BPW),

Agen Perjalanan Wisata (APW),

Hotel, Restoran, Catering; Perusahaan Souvenir, UKM, dan masih 

sangat banyak lagi usaha yang terlibat dalam kegiatan MICE (wisata 

kovensi) ini.

Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak destinasi wisata 

dapat menjadi surganya MICE dunia. Banyak kota di Indonesia yang 

berpotensi kuat jadi lokasi MICE tingkat internasional. Beberapa kota 

MICE di Indonesia yang melakukan berbagai kegiatan yaitu  seperti: 

Jakarta, Bali, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Medan, 

163

Manado, Semarang dan Batam. Selain itu, banyak kesempatan kota-

kota lain di Indonesia untuk dapat menjadi daerah tujuan wisata MICE. 

Pemerintah Daerah memiliki peran yang sangat penting dalam upaya 

untuk mengembangkan wisata MICE di daerah masing-masing.

Faktor penentu dalam memilih destinasi MICE yaitu  faktor tingkat 

jaminan keamanan (assurance). Konsumen MICE menginginkan adanya 

jaminan keamanan, baik dari pemerintah maupun oleh penyelenggara. 

Dalam setiap Event internasional perlu adanya fasilitas pengamanan 

yang ketat khususnya di tempat penyelenggaraan (venue) dan akomodasi. 

Selain itu tempat yang menjadi bagian pendukung kegiatan juga harus 

dijaga keamaannya misalnya di bandara dan tempat hiburan malam 

selama acara berlangsung. Dengan tingkat keamanan yang lemah menjadi 

hambatan utama terselenggaranya event MICE yang akan dilaksanakan.

Pertimbangan pelaksanaan MICE

Menurut Kesrul (2004:9)[38], dalam penyelenggara kegiatan MICE, 

ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

1).  Penetapan lokasi dan ruang MICE

a. Dalam penentuan terjadi 2 kemungkinan sebagai berikut:

Pihak klien yang menetapkan dan mengkonfirmasikan lokasi 

tempat penyelenggaraannya. Pihak perencana tidak meneruskan 

proses lebih lanjut.

Perencana mutlak menentukan lokasi dan tempat pertemuan, 

misalnya menyelenggarakan suatu seminar atau workshop atau 

konferensi.

b. Pertimbangan tempat penyelenggara secara geografis dengan spread of 

the person attend: terlalu jauh dari tempat peserta, kecuali khususnya 

seperti no.1b, peserta yang memerlukan sekali seminar dan konferensi 

tersebut.

c. Pertimbangan dalam menentukan kondisi sekitar lokasi dimana 

pertemuan akan digelar.

2).  Perlengkapan fasilitas MICE

Menurut Kesrul (2004:90)[38] Perlengkapan fasilitas dan pelayanan 

kesekretariatan dari pertemuan atau konferensi amat beragam sehingga 

164

tidak ada standar yang berlaku umum.Dalam menentukan perlengkapan 

suatu pertemuan perlu memahami dengan seksama beberapa hal berikut:

Jenis pertemuan dan lamanya

Jumlah target peserta

Jumlah ruangan yang dibutuhkan

Jenis dan jumlah equipment yang diperlukan

Bentuk pengaturan tempat duduk (Layout design)

Fasilitas Akomodasi peserta MICE

(Persiapan fasilitas membutuhkan perencanaan yang ekstra, kerja 

keras dan kerjasama dari berbagai pihak pelaku dan pelaksana dengan 

check list sebelum pelaksanaan)

3). Penanganan transportasi dalam event MICE

Meeting planer atau PCO (Professional Conference Organizer) 

bertanggung jawab dalam pengaturan transportasi bagi keseluruhan 

peserta MICE. Menurut Kesrul (2004:104)[38], ada enam point kegiatan 

yang harus diperhatikan dalam pengaturan transportasi peserta yaitu:

Transportasi udara (booking, check-in, boarding pass) PP/vice versa

Airport shuttle service ke dan dari hotel

Multiple property shuttle (untuk rombongan)

VIP transportation yang memadahi

Local tour arrangement (itinerary)

Staff transportation.

Menyesuaikan dengan kondisi situasional (kepadatan lalu lintas 

daerah)

Check list sesuai perencanaan MICE event

4). Meal arrangement (Pelayanan makanan dan minuman)

Menurut Kesrul (2004:113)[38], Mengemukakan bahwa agar acara 

pertemuan atau konferensi berjalan dengan lancar dan mengurangi 

complaint makanan dan minuman. Seorang meeting manager perlu 

memeriksa lokasi dan penempatan reguler food and beverage, room 

service and banquet capabilities. Evaluasi kualitas makanan dan 

minuman meliputi appearance and attractiveness, cleanliness, dan 

jenis serta variasi makanan dan minuman pada saat ramai (peak hours) 

165

untuk mengetahui ketersediaan stock bahan, kecepatan pelayanan dan 

keterampilan petugas service. Disamping itu termasuk harga yang sesuai 

dengan penawaran, dan apakah perlu melakukan pemesanan terlebih 

dahulu. Apakah restaurant tempat yang telah ditentukan juga melayani 

permintaan khusus atau tambahan menyangkut lay out dan jenis menu 

makanan dan minuman yang sesuai dengan kualitas standard event.

5). Pengelolaan Akomodasi dalam event MICE

Dalam penyelenggaraan event MICE bidang akomodasi ini sangat 

menentukan dapat terselenggaranya dengan baik atau tidak. 

Fasilitas sarana prasarana yang dipersiapkan dengan baik sangat 

menentukan kesempurnaan penyelenggaraan event. Berikut ini daftar 

penanganan akomodasi yang harus diperhatikan dan selalu diadakan 

check list:

Akomodasi yang memadahi sesuai harapan peserta

Jumlah kamar, tipe kamar dan jenis tempat tidur (Twin bed, Double 

Bed).

Kamar gratis untuk panitia atau komite: jumlah, tipe, dan fasilitas 

yang harus dibayar.

Kamar khusus untuk organisasi dan tamu resmi: jumlah, tipe, dan 

harga

Penyelenggaraan event MICE sebenarnya dapat menjadi suatu 

alternatif profesi yang dapat menampung banyak tenaga kerja. Cara 

kerjanya mempunyai sistem pokok kerja yang sama dengan sistem kerja 

pada bidang pekerjaan yang lain.

Pengembangan MICE dimulai dari segmentasi pasar MICE, aspek 

promosi; design proposal; itinerary; fliers; kemasan produk; dan 

penyelenggaraan event MICE yang mampu menciptakan manfaat atau 

nilai guna bagi semua pihak, dan terciptanya  citra organisasi (Brand 

Image) dan kerjasama ekonomi antar negara didunia.

Beberapa perusahaan yang menjadi Pasar MICE:

Perusahaan Otomotif;

Perusahaan IT/ Computer/ Electronik

Perusahaan Manufaktur

166

Perusahaan Properti

Perusahaan Niaga, Medikal, Assuransi

Perusahaan Corporate

Associasi Conference & Exibition

Beberapa Kriteria persyaratan PCO/ EO:

Memiliki ketangguhan (strong)

Memiliki pengalaman di bidang MICE

Dapat dipercaya (Trusty)

Dapat dihargai (Recognation)

Keuangan yang Stabil (Financial Stable)

Berkualitas (quality performance)

Beberapa pihak yang terikat dan saling mendukung menentukan 

terselenggaranya event MICE dengan sempurna.  Adapun tahapan atau 

urutan posisi para pihak yang sesuai dengan lingkup wilayah kerja dan 

tanggung jawab penyelenggaraan MICE yaitu  sebagai berikut:

Penyandang dana dapat berupa sponsor atau instansi/perusahaan 

yang mempunyai ‘hajat’ dalam istilah sederhana yaitu  pihak yang 

mengeluarkan dana untuk pelaksanaan suatu program.

Pelaksana.  Posisi dan peran penyelenggara MICE seperti PCO 

(Professional Conference Organizer), PMO (Professional Meeting 

Organizer) , PITO (Professional Incentive Travel Organizer ) dan PEO 

(Professional Exhibition Organizer ) yang sesungguhnya. Pelaksana 

bekerja keras untuk mewujudkan impian dan kepuasan semua pihak. 

Karena menjadi pusat dari seluruh pihak yang ada, maka pelaksana 

memiliki posisi yang sangat vital dan strategis.

Penampilan Peserta MICE yaitu  salah satu kunci daya tarik 

suatu program. Semua jenis program sangat tergantung pada para 

penampilnya. Contoh: kompetisi sepakbola tingkat regional, bila 

tidak diikuti oleh kesebelasan top, kurang mempunyai daya tarik. 

Sehingga apabila MICE dapat diselenggarakan dengan melibatkan 

potensi peserta internasional akan lebih bernilai dan sukses.

Penonton. Apapun program evennya, faktor kehadiran penonton/

tamu menjadi sangat penting. Baik membayar atau gratis, pesta kecil 

dirumah sampai dengan tingkat lomba formula satu, faktor penonton 

167

yaitu  salah satu tolak ukur kesuksesan event.

Pengamat. Biasanya dari kalangan pers, atau justru kawan-kawan 

sendiri, atau siapapun yang memperoleh informasi tentang event yang 

dilaksanakan. Para pengamat atau orang luar mempunyai pengaruh 

sebagai Humas atau Public Relations (PR) secara tak langsung.

6.9. Sustainable Tourism

Perkembangan pariwisata di dunia saat ini harus selalu berusaha 

mampu menciptakan kelangsungan program wisatanya (sustainable) 

selama-lamanya. Pariwisata berkelanjutan secara sederhana dapat 

didefinisikan sebagai pariwisata yang memperhitungkan penuh dampak 

ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi 

kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan warga  setempat. 

Program Pariwisata Berkelanjutan bertujuan untuk merangsang 

pembangunan ekowisata dengan meningkatkan kapasitas warga  

untuk mengelola usaha pariwisata dan meningkatkan pendapatan melalui 

pengenalan kegiatan kreatif dan produktif di sektor pariwisata. Kegiatan 

kepariwisataan juga merupakan kegiatan yang bersifat system, memiliki 

ruang lingkup, komponen, dan proses tersendiri. System pariwisata yang 

dimaksud yaitu  merupakan system perdagangan yang bersifat khusus, 

berobyek jasa, dan mendapat dukungan dari sistem lainnya, seperti 

system social, budaya, lingkungan hidup, system religi, dan system-

sistem lainnya. Sedangkan bisnis pariwisata yaitu  aspek kegiatan 

kepariwisataan yang berorientasi pada penyediaan jasa pariwisata yang 

berorientasi kepada pendekatan dari kebutuhan, keinginan dan harapan 

wisatawan sehingga tercipta kepuasan, sebagai modal pemasaran 

berkelanjutan (sustainable). Sedangkan dalam pariwisata berkelanjutan 

peran ecosystem sangat signifikan memberikan dukungan dalam 

kelangsungan industri pariwisatanya yaitu: peran akademisi (Lack of 

research and education on sustainability), bisnis (sustainable costs are 

still excluded), pemerintah (insuficien regulation related to sustainable 

tourism), komunitas (low awareness toward sustainable tourism), dan 

media (less concern on sustaionabiulity issues). 

Pembangunan kepariwisataan di suatu negara, pada 

umumnya bertumpu pada kekayaan, keanekaragaman, kekhasan 

lingkungan alam maupun budayanya, yang pada hakekatnya 

168

dinilai sebagai modal dasar pengembangan kepariwisataan. Oleh 

karena itu, pengembangan kepariwisataan yang tidak terkendali 

mengakibatkan “tercemar”-nya lingkungan tersebut baik alam 

maupun budayanya. Sekali alam dan budaya itu sudah tercemar, 

kepariwisataan pun mulai terancam keberadaannya. Ini suatu hal 

yang logis, bahwa “pariwisata alam dan budaya” lama kelamaan 

akan memudar. Disinilah letaknya ironi yang dimaksud. Sangat 

ironis apabila kita sebagai insan pariwisata tidak memahami, 

menyadari dan tidak mampu mengelola asset wisata yang kita 

punyai tersebut. Untuk itu generasi penerus bangsa harus sudah 

dipersiapkan untuk menjaga kelangsungan hidup asset wisata secara 

serius dan berkesinambungan. Negara Indonesia yang memiliki 

destinasi pariwisata yang sangat besar, namun kenyataannya belum 

mampu mengembangkannya secara optimal, hal ini dikarenakan 

keberadaan beberapa penentu kebijakan pariwisata yang belum 

focus mengarahkan industry pariwisata lebih optimal dengan 

penyediaan dana pengembangan pariwisata yang mencukupi 

kebutuhan. Pada beberapa obyek wisata yang ada di seluruh 

Indonesia yang jumlahnya ribuan namun pengelolaannya belum 

memadahi. Dari beberapa aspek: Disinilah peran serta akademisi 

khususnya pendidikan pariwisata menjadi sangat penting dalam 

mempersiapkan SDM pariwisata yang memiliki kehandalan, 

kompetensi dan professional. Sehingga kedepan siap menghadapi 

tantangan yang cukup besar dalam perkembangan pariwisata 

yang berkompetisi sangat cepat (cyber competitive industry). 

Dengan demikian perlu disikapi dengan memberikan pembekalan 

dalam pengetahuan pariwisata dan pengelolaan manajemen yang 

benar, pelayanan yang prima, pengetahuan    teknologi informasi 

yang relevan sangat dibutuhkan. Kebutuhan pemberdayaan SDM 

pariwisata yang memiliki POWER: (Positif attitude, Other people, 

Words, Expanding Realize your goals), yaitu sikap perilaku yang 

menjadi karakteristik SDM pariwisata; memiliki jaringan yang 

luas (link) dengan orang lain; me miliki citra positif di warga , 

169

atau menjadi buah bibir positif dari warga  luas, dan mampu 

merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan serta memiliki 5 C 

(Concept, Competence, Connection, Credibility, Care). 

Memiliki integritas yang tinggi dengan etos dan epos kerja yang 

dibekali dengan aspek conceptual, komitmen yang tinggi; hubungan 

relationship dengan berbagai komunitas global; memiliki kehandalan 

dalam merealisasikan tugas dan memiliki kepedulian yang tinggi 

terhadap aspek lingkungan, alam, kemanusiaan (humanity), warga . 

Pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism) menggunakan 

konsep pengembangan pariwisata:

Pariwisata harus dijadikan sebagai sarana untuk menciptakan sikap 

saling menghormati dan memahamai antar manusia,

Pariwisata harus menjadi wahana belajar, baik mengenai kebudayaan 

maupun lingkungan alam

Kegiatan pariwisata harus memperhatikan kesetaraan jender, 

kelompok usia maupun klelompok komunitas minoritas,

Pengembangan pariwisata harus menjadi salah satu faktor 

dilaksanakannya pembangunan berkelanjutan

Pengembangan pariwisata harus memberikan kontribusi pemahaman 

yang saling menguntungkan serta respek yang tinggi terhadap 

warga  lokal 

Pengembangan pariwisata merupakan aktifitas yang memberikan 

nilai manfaat/keuntungan bagi warga  setempat,

Pengembangan pariwisata harus mewadahi dan mewujudkan hak-hak 

berrekreasi wisatawan secara optimal. 

Dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan juga harus melakukan 

beberapa pendekatan yaitu:

Persepsi wisatawan terhadap dan kepuasan dengan kualitas pelayanan 

dalam pertemuan lintas budaya

Mengembangkan konstruksi budaya yang komprehensif untuk 

menjelaskan dan meramalkan perilaku wisatawan dan penilaian 

kualitas.

Citra pariwisata berpengaruh terhadap kualitas yang dirasakan oleh 

wisatawan dan pada kepuasan yang didapat dari pengalaman liburan

170

Fokus pada hubungan antara citra tujuan seperti yang dirasakan oleh 

wisatawan dan niat perilaku mereka

Hubungan antara kualitas dan kepuasan dan antara variabel-variabel ini 

dan variabel perilaku wisatawan.

VII. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan yang dijabarkan di Bab sebelumnya dapat 

disimpulkan bahwa Pariwisata merupakan suatu perjalanan yang 

dilakukan seseorang untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari 

suatu tempat ke tempat yang lain dengan meninggalkan tempat semula 

dan dengan suatu perencanaan atau bukan maksud untuk mencari nafkah 

di tempat yang dikunjunginya, tetapi semata-mata untuk menikmati 

kegiatan pertamasyaan atau rekreasi (leisure) untuk memenuhi 

keinginan yang beraneka ragam dengan tidak menetap atau akhirnya 

kembali ke tempat asal mereka masing-masing. Secara teknis pariwisata 

yaitu  kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau berkelompok dalam 

wilayah negara sendiri maupun negara lain dengan menggunakan 

kemudahan jasa atau pelayanan dan faktor-faktor penunjang serta 

kemudahan-kemudahan lainnya yang diadakan oleh pemerintah, dunia 

usaha dan warga  agar dapat mewujudkan keinginan demi kepuasan 

wisatawan yang akhirnya mau kembali melakukan kunjungan ulang 

(repeat patronage) .

 Industri (pabrikan) dengan industri pariwisata sangat berbeda 

sekali, industri merupakan pengolahan barang yang belum jadi menjadi 

barang yang sudah jadi dan siap untuk digunakan. Sedangkan, industri 

pariwisata merupakan industri yang tidak berasap, sangat berbeda sekali 

pengertiannya dengan industri pabrikan. Industri Pariwisata merupakan 

suatu industri dari serangkaian perusahaan yang menghasilkan barang 

dan jasa yang diperuntukkan pada para wisatawan agar terpenuhi 

kesenangan dan terciptanya kepuasan dalam berwisata.

Produk wisata “yaitu  keseluruhan pelayanan yang diperoleh dan 

dirasakan atau dinikmati wisatawan semenjak ia meninggalkan tempat 

tinggalnya sampai ke daerah tujuan wisata yang dipilihnya dan sampai 

kembali kerumah dimana ia berangkat semula” Industri pariwisata 

dalam pengembangan pariwisata agar mampu mempertahankan dan 

171

meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang nantinya bermuara 

pada pemberian manfaat ekonomi bagi industri pariwisata dan 

kesejahteraan warga  lokal yang harus  menjalankan peran nya 

untuk mengembangkan pariwisata dengan  didukung oleh indus

tri-
industri pariwisata lainnya.
Pengembangan industri pariwisata membutuhkan peran aktif para 
stakeholder pariwisata (warga , Pemerintah dan peran swasta) untuk 
dapat bekerjasama, saling berkomunikasi dalam forum grup diskusi (FGD) 
dalam membangun pariwisata melalui program pariwisata berkelanjutan 
(sustainable tourism). Pemasaran pariwisata melalui multimedia menjadi 
salah satu strategi unggul untuk dapat menciptakan peluang kompetitif. 
Dunia pariwisata modern di tandai dengan pertumbuhan berbagai sarana 
prasarana dan asset pariwisata serta perkembangan bisnis MICE yang 
mampu meraih peluang di pasar global. Last but not least diharapkan 

Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH