Tampilkan postingan dengan label industri pariwisata 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri pariwisata 4. Tampilkan semua postingan

industri pariwisata 4

 


pariwisata, walaupun harus diakui sector pertanian 

“agriculture” masih  lebih besar  indeks  penyerapannya dan  berada  di 

atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sector pariwisata di hampir 

semua Negara pada table di atas. 

 

4.       Infrastructure Development 

Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong 

pemerintah  lokal  untuk menyediakan  infrastruktur  yang  lebih  baik, 

penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan 

fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya 

itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga 

masyarakat lokal itu sendiri sebagai tuan rumah. 

Sepakat membangun pariwisata berarti sepakat pula harus 

membangun yakni daya tarik wisata “attractions” khususnya  daya tarik 

wisata man-made, sementara untuk daya tarik alamiah dan budaya 

hanya  diperlukan  penataan  dan  pengkemasan.  Karena  Jarak  dan 

waktu tempuh  menuju  destinasi “accesable” akhirnya akan mendorong 

pemerintah untuk membangun jalan raya yang layak untuk angkutan 

wisata,  sementara  fasilitas  pendukung  pariwisata  “Amenities”  seperti 

hotel, penginapan, restoran juga harus disiapkan. 

Pembangunan infrastruktur pariwisata dapa dilakukan secara 

mandiri  ataupun mengundang  pihak  swasta  nasional  bahkan  pihak 

156  

 

 

 

 

 

investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar 

seperti  pembangunan  Bandara  Internasional,  dan  sebagainya. 

Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata ini  juga 

akan dinikmati oleh penduduk local dalam menjalankan aktifitas 

bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local   akan mendapatkan 

pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya. 

 

5.       Development of Local Economies 

Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk 

mengukur nilai ekonomi pada suatu kawasan wisata.  Sementara ada 

beberapa pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitung karena   tidak 

semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas seperti 

misalnya penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi tidak 

resmi, pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya. 

WTO memprediksi bahwa pendapatan pariwisata secara tidak 

langsung disumbangkan 100% secara langsung dari pengeluaran 

wisatawan  pada  suatu  kawasan.    Dalam  kenyataannya  masyarakat 

local lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sector informal ini, 

artinya jika sector informal bertumbuh maka masyarakat local akan 

mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar. 

Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap 

perekonomian  daerah  “PDRB”  sangat  besar  bahkan  telah 

mengungguli sector pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya 

memegang peranan penting di Bali. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat 

pada table berikut ini: 

157  

 

 

 

 

 

 

 

Tabel: PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali, 

Sumber: BPS, 2009 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5Negative Economic Impacts of Tourism 

1.       Leakage 

Leakage atau kebocoran dalam pembangunan pariwisata 

dikategorikan menjadi dua jenis kebocoran yaitu keboran import dan 

kebocoran export. Biasanya kebocoran import terjadi ketika terjadinya 

permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional 

yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan 

minuman import yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal 

atau dalam negeri. Khususnya pada negara-negara berkembang, 

makanan dan minuman yang berstandar internasional harus di 

datangkan dari luar negeri dengan alasan standar yang tidak terpenuhi, 

dan akibatnya produk lokal dan masyarakat lokal sebagai produsennya 

tidak  biasa  memasarkan  produknya  untuk  kepentingan  pariwisata 

ini . 

 

 

5        Negative Economic Impacts of Tourism 

158  

 

 

 

 

 

Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh 

besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan import 

terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Penelitian 

dibeberapa destinasi pada negara berkembang, membuktikan bahwa 

tingkat kebocoran terjadi antara 40% hingga 50% terhadap pendapatan 

kotor dari sektor pariwisata, sedangkan pada skala perekonomian yang 

lebih kecil, kebocoran terjadi antara 10% hingga 20%. 

Sedangkan kebocoran export seringkali terjadi pada 

pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau 

berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang 

besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. 

Kondisi    seperti  ini,  akan  mengundang  masuknya  penanam  modal 

asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun resort atau 

hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, 

keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka 

kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut 

dengan “leakage” kebocoran export. 

Hal ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe 

(1988), yang menjelaskan bahwa pengukuran manfaat ekonomi dari 

sektor pariwisata pada tingkat sub nasional harunya menggunakan 

pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari terjadinya 

“leakages” kebocoran. 

 

2.       Enclave Tourism 

“Enclave tourism” sering diasosiasikan  bahwa  sebuah  destinasi 

wisata  dianggap  hanya  sebagai  tempat  persinggahan  sebagai 

contohnya, sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar 

dimana   mereka   hanya   singgah   pada   sebuah   destinasi   tanpa 

melewatkan   malam   atau   menginap   di   hotel-hotel   yang   telah 

disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan 

wisatawan kapal pesiar ini  manfaatnya dianggap sangat rendah 

atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi 

masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya. 

159  

 

 

 

 

 

Kenyataan  lain  yang  memicu   “enclave”  adalah 

kedatangan wisatawan yang melakukan perjalan wisata yang dikelola 

oleh   biro   perjalanan    wisata   asing   dari   “origin   country”   sebagai 

contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik 

perusahaan  mereka  sendiri,  kemudian  mereka  menginap  di  sebuah 

hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, 

berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha 

mereka   sendiri,   dan   dipramuwisatakan   oleh   pramuwisata   dari 

negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak 

memperoleh manfaat ekonomi secara optimal. 

 

3.       Infrastructure Cost 

Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang 

berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi 

pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor 

pajak  dalam  artian  untuk  membangun  infratruktur  ini , 

pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak 

terhadap masyarakat harus dinaikkan. 

Pembangunan   pariwisata   juga   mengharuskan   pemerintah 

untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur 

pendukungnya, dan tentunya semua hal ini  memerlukan biaya 

yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan 

melakukan re-alokasi pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya 

pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan. 

Kenyataan  di  atas  menguatkan  pendapat  Harris  dan  Harris 

(1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata 

harusnya  menyertakan  faktor  standar  klasifikasi industri  untuk  tiap 

aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis 

dampak pariwisata. 

 

4.       Increase in Prices (Inflation) 

Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari 

wisatawan akan memicu  meningkatnya harga secara beruntun 

160  

 

 

 

 

 

“inflalsi”  yang  pastinya  akan  berdampak   negative  bagi  masyarakat 

lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan 

pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat 

lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga- 

harga akan memicu  daya beli masyarakat lokal menjadi rendah. 

Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan 

meningkatnya  harga  sewa  rumah,  harga  tanah,  dan  harga-harga 

property lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak 

mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran 

yang harganya masih dapat dijangkau. 

Sebagai  konsukuensi   logiz,   pembangunan   pariwisata   juga 

berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya 

pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga 

pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi 

penduduk   lokal.   Hal   ini   juga   sering   dilupakan   dalam   setiap 

pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah 

Negara. 

 

5.       Economic Dependence 

Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian 

menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang 

hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor 

tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara 

menjadi   tergantung   pada   sektor   pariwisata   sebagai   akibatnya 

ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi. 

Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang 

memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya 

mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan 

sumberdaya yang besar  namun  pada negara yang memiliki 

sumberdaya  yang  beranekaragam  harusnya  dapat  juga 

mengembangkan sektor lainnya secara proporsional. 

Ketika  sektor  pariwisata  dianggap  sebagai  anak  emas,  dan 

sektor lainnya dianggap sebagai anak diri, maka menurut Archer dan 

161  

 

 

 

 

 

Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata 

terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak 

pernah  dihitung  oleh  fakar  lainnya.  Ketergantungan  pada  sebuah 

sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat 

diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat 

nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan 

kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata. 

 

6.       Seasonal Characteristics 

Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim 

tertentu, seperti misalnya musim ramai “high season” dimana 

kedatangan   wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian 

kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini 

akan  berdampak  meningkatnya  pendapatan  bisnis  pariwisata. 

Sementara  dikenal  juga musim  sepi “low season” di mana  kondisi  ini 

rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para 

pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga 

menurun hal ini yang sering disebut “problem seasonal”. Sementara ada 

kenyataan  lain  yang  dihadapi  oleh  para  pekerja,  khususnya  para 

pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para 

pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan 

wisatawan, pada kondisi low season sangat dimungkinkan mereka tidak 

memiliki lahan pekerjaan yang pasti. 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

162 

163  

 

 

 

 

 

 

 

BAB X 

ASPEK SOSIAL DAN BUDAYA PARIWISATA 

 

 

 

10.1.   Dampak Sosial dan Budaya Pariwisata 

Pariwisata adalah fenomena 

kemasyarakatan yang 

menyangkut manusia, 

masyarakat, keompok, 

organisasi, kebudayaan dan 

sebagainya. Kajian sosial 

terhadap  kepariwisataan 

belum   begitu   lama, hal ini 

disebabkan   pada   awalnya   pariwisata   lebih   dipandang      sebagai 

kegiatan    ekonomi    dan    tujuan    pengembangan  kepariwisataan 

adalah   untuk   mendapatkan   keuntungan   ekonomi,   baik untuk 

pemerintah maupun masyarakat karena kepariwisataan   menyangkut 

manusia dan masyarakat maka kepariwisataan dalam     laju 

pembangunan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aspek sosial. 

Karena makin  disadari bahwa  pembangunan  kepariwisataan 

tanpa memperhatikan pertimbangan aspek sosial yang matang akan 

membawa malapetaka bagi masyarakat, khususnya di daerah 

pariwisata. Kepariwisataan adalah sesuatu kegiatan yang secara 

langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat setempat sehingga 

membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat. Dampak 

pariwisata terhadap masyarakat seringkali dilihat   dari     hubungan 

antara masyarakat dengan wisatawan yang memicu  terjadinya 

proses komoditisasi dan komersialisasi dari keramah-tamahan 

masyarakat lokal  (Pitana 2005). 

Pada mulanya wisatawan diterima dengan baik dengan penuh 

harapan wisatawan akan membawa perkembangan bagi daerahnya. 

Dengan meningkatnya jumlah kunjungan maka sebagian masyarakat 

lokal  mulai  menyediakan  berbagai  fasilitas  yang  memang  khusus 

164  

 

 

 

 

 

dipersiapkan dan diperuntukan bagi wisatawan. Hubungan-hubungan 

pariwisata     mulai     terjadi     antara     wisatawan  dengan     usaha 

pariwisata, wisatawan dengan masyarakat lokal. Hubungan atau 

interaksi  umumnya  tidak  setara,  pada  umumnya  masyarakat lokal 

merasa lebih inferior, wisatawan lebih kaya, lebih berpendidikan dan 

dalam suasana berlibur Pitana (2005; Sastrayuda, 2009) 

Dalam     hubungan     dengan     evolusi     sikap     masyarakat 

terhadap wisatawan, Doxey yang dikutip Pitana (2005 : 84) 

mengembangkan sebuah   kerangka   teori   yang   disebut    Irritation 

Index (Irrindex)  yang  menggambarkan  perubahan  sikap  masyarakat 

terhadap  wisatawan  secara  linier.  Sikap  yang  mula-mula  positif 

berubah menjadi semakin negatif seiring dengan pertumbuhan 

wisatawan. Tahapan-tahapan sikap masyarakat lokal terhadap 

wisatawan mulai dari euphoria, apathy, irritation, annoyance, dan 

antagonism, xenophobia: 

1) Euphoria;   kedatangan   wisatawan   diterima   dengan   baik 

dengan berbagai harapan. 

2) Apathy; masyarakat menerima wisatawan sebagai sesuatu yang 

lumrah     dan     hubungan     antara     masyarakat     dengan 

wisatawan mulai berjalan dalam bentuk hubungan komersial. 

3) Annoyance;   titik   kejenuhan   sudah   hampir   dicapai   dan 

masyarakat mulai merasa terganggu dengan kehadiran 

wisatawan. 

4) Antagonism;  masyarakat          secara          terbuka          sudah 

menunjukkan ketidak senangannya dan melihat   wisatawan 

sebagai sumbu masalah. 

5) Xenophobia;  adanya        perubahan        lingkungan        yang 

diakibatkan pariwisata masyarakat menjadi tidak ramah 

diakibatkan oleh adanya perubahan. 

 

Sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan ini  diatas 

tentunya  dibutuhkan  suatu  penyesuaian  dan  penelitian  yang 

mendalam terhadap masyarakat di sebuah kawasan wisata. Penelitian 

165  

 

 

 

 

 

agar memberikan  gambaran  bagi  pengambil  keputusan  dalam 

mengambil tindakan dan penyesuaian terhadap gejala-gejala yang 

muncul baik positif maupun negatif ditengah-tengah masyarakat. 

 

 

10.2.   Interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal 

Wisatawan yang mengunjungi suatu daerah tujuan wisata 

didorong  oleh  motivasi  untuk  mengenal,  mengetahui  atau 

mempelajari  berbagai  hal  seperti  kebudayaan,  kehidupan 

masyarakat, keindahan alam, berbagai jenis kuliner, dan lain-lain. 

Apapun   motivasi   seseorang   melakukan   perjalanan   wisata   maka 

bagi seorang/kelompok wisatawan, perjalanan ini  mempunyai 

berbagai manfaat dan akibat antara lain : 

a. Perjalanan wisata  memberikan stimulasi bagi penyegaran fisik 

dan  mental  serta  merupakan  kompensasi  terhadap berbagai 

hal yang     melelahkan     seperti     situasi     yang     sibuk, 

ketegangan,  rutinitas  yang menjemukan,  sehingga melakukan 

perjalanan wisata merupakan kompensasi terhadap 

permasalahan-permasalahan ini  diatas. 

b. Selama  berada di daerah tujuan wisata, wisatawan berinteraksi 

dengan masyarakat    lokal.    Hubungan    antara  wisatawan 

dengan   masyarakat   lokal   sangat   dipengaruhi   oleh   sistem 

sosial   budaya   kedua   belah   pihak.   Hubungan wisatawan 

dengan  masyarakat  lokal  bersifat  sementara,  ada  kendala 

ruang dan waktu, hubungan yang terjadi banyak   yang 

bersifat     transaksi     ekonomi     yang     tidak     ada     lain 

merupakan proses komersialisasi. 

c.       Pariwisata   memberikan   keuntungan   sosial   ekonomi   pada 

satu  sisi,  tetapi  disisi  lain  membawa  ketergantungan  dan 

ketimpangan sosial dan berbagai masalah sosial. 

d. Pariwisata     membawa     berbagai     peluang     baru     bagi 

masyarakat   dan   mendorong   berbagai   bentuk   perubahan 

sosial. 

166  

 

 

 

 

 

e. Munculnya kondisi frustasi ditengah-tengah masyarakat yang 

merasa jadi obyek tetapi tidak merasa menikmati keuntungan 

dari pembangunan kepariwisataan. 

 

10.3.   Pengaruh  Pengembangan  Pariwisata  Terhadap  Masyarakat 

Lokal 

Disamping berbagai dampak yang dinilai positif, hampir semua 

diskusi/seminar    tentang    kepariwisataan    juga    banyak 

mengemukakan adanya berbagai dampak yang tidak diharapkan 

(dampak negatif). Menilai dampak pariwisata terhadap kehidupan 

masyarakat  lokal  membutuhkan  pengkajian  secara  mendalam 

ditengah-tengah  masyarakat  setempat  dan  berbagai  aspek  seperti 

sosial,  ekonomi,  budaya,  lingkungan.  Aspek-aspek  ini  

berpengaruh  ditengah-tengah  masyarakat  yang  satu  berbeda dengan 

masyarakat  yang  lain  atau  dampak  terhadap  kelompok sosial yang 

satu belum tentu sama, bahkan bisa bertolak belakang dengan  dampak 

terhadap   kelompok   sosial   yang   lain.   Namun sebagai   gambaran 

dalam  upaya  mengurangi  dampak  pariwisata terhadap masyarakat 

lokal dapat dikemukakan pendekatan sebagai berikut : 

1) Berbagai   perubahan   sosial   yang   terjadi       tidak       dapat 

sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata semata- 

mata, mengingat pariwisata memiliki sifat kegiatan 

multidimensional   dan terjalin erat dengan berbagai kegiatan 

lain yang mungkin pengaruhnya jauh sebelum pariwisata 

berkembang di satu Kota/ Kabupaten. 

2) Mengenai penilaian positif dan negatif tidak selalu sama bagi 

segenap kelompok masyarakat,  perlu  melihat  segmen-segmen 

yang ada atau melihat berbagai interest group mengingat 

dinamika masyarakat berkembang dan berpengaruh kepada 

ritme kehidupan sosial masyarakat. 

3)    Setiap  daerah  tujuan  wisata  mempunyai  citra  tertentu  yang 

mengandung  keyakinan,  kesan  dan  persepsi  yang  diterima 

wisatawan  dan  berbagai  sumber  dari  pihak  lain  atau  dari 

167  

 

 

 

 

 

instansinya sendiri. Pariwisata adalah industri yang memiliki 

citra tersendiri dan berbasiskan citra, karena citra/ kesan 

membawa calon wisatawan ke dunia simbol dan makna. Citra 

juga akan memberikan kesan bahwa satu destinasi akan 

memberikan suatu aktrasi yang berbeda dengan destinasi 

lainnya. 

4) Dari  waktu  ke  waktu,  aspek  sosial  dalam  pembangunan 

pariwisata semakin mendapat perhatian karena semakin 

meningkatnya  kesadaran bahwa pembangunan kepariwisataan 

tanpa pertimbangan yang matang dari aspek sosial akan 

membawa malapetaka bagi masyarakat. 

5) Secara umum bahwa pengembangan kepariwisataan semakin 

mendapat perhatian, karena semakin meningkatnya kesadaran 

bahwa    pembangunan    kepariwisataan    tanpa pertimbangan 

yang matang    dari    aspek    sosial    akan    mempengaruhi 

kepariwisataan itu sendiri. 

6) Secara  umum  bahwa  pengembangan  kepariwisataan  selalu 

terkait dengan kreativitas dan inovasi dalam berbagai bentuk 

kegiatan, karya masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh 

wisatawan pada saat berkunjung ke satu daerah wisata yang 

dapat menambah pengalaman perjalanan baru bagi wisatawan 

dan peningkatan berusaha bagi masyarakat. 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

168 

169  

 

 

 

 

 

 

 

BAB XI 

PENGELOLAAN PARIWISATA DAN LINGKUNGAN 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11.1.   Ekowisata 

Darsoprajitno  (2001) menyatakan,  alam  dapat  dimanfaatkan 

untuk   kegiatan   pariwisata   dengan   menerapkan   asas   pencagaran 

sebagai berikut: 

1.    Benefisiasi;    kegiatan    kerja    meningkatkan    manfaat    tata 

lingkungan dengan teknologi tepatguna, sehingga yang semula 

tidak   bernilai   yang   menguntungkan,   menjadi   meningkat 

nilainya secara sosial, ekonomi, dan budaya. 

2. Optimalisasi;  usaha  mencapai  manfaat  seoptimal  mungkin 

dengan mencegah kemungkinan terbuangnya salah satu unsur 

sumberdaya alam dan sekaligus meningkatkan mutunya. 

3. Alokasi;   suatu   usaha   yang   berkaitan   dengan   kebijakan 

pembangunan dalam menentukan peringkat untuk 

mengusahakan suatu tata lingkungan sesuai dengan fungsinya, 

tanpa mengganggu atau merusak tata alamnya. 

4. Reklamasi;  memanfaatkan  kembali  bekas  atau  sisa  suatu 

kegiatan kerja yang sudah ditinggalkan untuk dimanfaatkan 

kembali bagi kesejahteraan hidup manusia. 

170  

 

 

 

 

 

 

 

5. Substitusi;   suatu   usaha   mengganti   atau   mengubah   tata 

lingkungan yang sudah menyusut atau pudar keualitasnya dan 

kuantitasnya, dengan sesuatu yang sama sekali baru sebagai 

tiruannya atau lainnya dengan mengacu pada tata 

lingkungannya 

6.    Restorasi;mengembalikan    fungsi    dan    kemampuan    tata 

lingkungan alam atau budayanya yang sudah rusak atau 

terbengkalai,   agar   kembali   bermanfaat   bagi   kesejahteraan 

hidup manusia. 

7.    Integrasi; pemanfaatan tata lingkungan secara terpadu hingga 

satu dengan yang lainnya saling menunjang, setidaknya antara 

perilaku budaya manusia dengan unsur lingkungannya baik 

bentukan alam, ataupun hasil binaannya. 

8. Preservasi; suatu usaha mempertahankan atau mengawetkan 

runtunan alami yang ada, sesuai dengan hukum alam yang 

berlaku hingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. 

 

Dalam pemanfaatan   alam sebagai atraksi wisata juga tidak 

lepas dari unsur-unsur penunjang sebagai terapan konsep integrasi 

terpadu. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.1 Unsur Penunjang Dalam Pemanfaatan Alam Sebagai 

Daya Tarik Wisata. 

Sumber: Darsoprajitno, 2001 

171  

 

 

 

 

 

Gambar 11.1 menggambarkan, atraksi atau daya tarik wisata 

dapat berupa alam, masyarakat, atau minat khusus akan menjadi daya 

tarik bagi wisatawan jika didukung oleh unsur penunjang seperti 

kemudahan transportasi, pelestarian alam (restorasi) serta tersedianya 

akomodasi yang dinginkan oleh wisatawan. 

Pada   dasarnya   kegiatan   wisata   alam   (ecotourism)   dapat 

dilakukan pada semua atraksi wisata baik yang sudah ditunjuk sebagai 

kawasan wisata maupun di luarnya. Kegiatan wisata alam dapat 

dilakukan  pada  kondisi,  waktu  yang  bagaimanapun.  Wisatawan 

dengan kondisi dana tidak besar dapat memanfaatkan berbagai objek 

dan atraksi yang tidak membutuhkan dana. Kegiatan wisata alam juga 

dapat dilakukan dengan kondisi kesehatan dan umur yang berbeda. 

Kegiatan wisata ini dapat dilakukan oleh anak-anak hingga orang tua 

(Fandeli, 2001) 

Sesungguhnya ecotourism  sangat mengandalkan alam sebagai 

atraksi wisata yang akan disuguhkan kepada wisatawan. Wisata ini 

banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran 

hawa  udara  di  pegunungan,  keajaiban  hidup  binatang  dan  marga 

satwa yang langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di 

tempat–tempat lain (Pendit 1999) 

Linberg dan Hawkins (1993), memberikan batasan mengenai 

definisi Ekowisata (ecotourism)  bukanlah sekedar kelompok kecil elit 

pencinta alam yang memiliki dedikasi, ekowisata sesungguhnya adalah 

suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan 

lingkungan, ekonomi, dan sosial. 

Yoeti  (1999)  memberikan  batasan  bahwa  ecotourism  adalah 

jenis   pariwisata   yang   berwawasan   lingkungan   dengan   aktivitas 

melihat,  menyaksikan,  mempelajari,  mengagumi  alam,  flora  dan 

fauna,  sosial  budaya  etnis  setempat,  dan  wisatawan  yang 

melakukannya ikut membina kelestarian lingkungan alam sekitarnya 

dengan melibatkan penduduk lokal. 

172  

 

 

 

 

 

Sedangkan Wood, 2002 (dalam Pitana, 2002) memberikan 

beberapa prinsip tentang ecotourism. Prinsip-prinsip ini  adalah 

sebagai berikut: 

1. Menekankan  serendah-rendahnya  dampak  negatif  terhadap 

alam  dan  kebudayaan  yang  dapat  merusak  daerah  tujuan 

wisata. 

2. Memberikan    pembelajaran    kepada    wisatawan    mengenai 

pentingnya suatu pelestarian. 

3.    Menekankan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab yang 

bekerjasama dengan unsur pemerintah dan masyarakat untuk 

memenuhi   kebutuhan   penduduk   lokal   dan   memberikan 

manfaat pada usaha pelestarian. 

4. Mengarahkan  keuntungan  ekonomi  secara  langsung  untuk 

tujuan pelestarian, menejemen sumberdaya alam dan kawasan 

yang dilindungi. 

5.    Memberi penekanan pada kebutuhan zone pariwisata regional 

dan penataan serta pengelolaan tanam-tanaman untuk tujuan 

wisata di kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk tujuan 

ecotourism. 

6. Memberikan penekanan pada kegunaan studi-studi berbasiskan 

lingkungan dan sosial, dan program-program jangka panjang, 

untuk  mengevaluasi  dan  menekan  serendah-rendahnya 

dampak pariwisata terhadap lingkungan. 

7.    Mendorong   usaha   peningkatan   manfaat   ekonomi   untuk 

negara, pebisnis, dan masyarakat lokal, terutama penduduk 

yang tinggal di wilayah sekitar kawasan yang dilindungi. 

8.    Berusaha untuk meyakinkan bahwa perkembangan pariwisata 

tidak melampui batas-batas sosial dan lingkungan yang dapat 

diterima seperti yang ditetapkan para peneliti yang telah 

bekerjasama dengan penduduk lokal. 

9.    Mempercayakan   pemanfaatan   sumber   energi,   melindungi 

tumbuh-tumbuhan dan binatang liar, dan menyesuaikannya 

dengan lingkungan alam dan budaya. 

173  

 

 

 

 

 

11.2.   Isu Pengelolaan Pariwisata 

Dalam artikel ini, isu-isu terkini yang mempengaruhi 

komunikasi pemasaran pariwisata dan perhotelan lebih banyak 

menyorot pada semakin berkurangnya peran manusia dalam 

penyediaan jasa, namun belum banyak diungkap dampak dari 

berkurangnya peran manusia seperti berkurangnya sentuhan 

kemanusiaan  dan  tentu  saja  akan  menurunkan  tingkat 

keramahtamahan masyarakat pada sebuah destinasi atau organisasi. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa peran teknologi informasi dan 

komunikasi telah menggantikan peran manusia secara verbal dalam 

komunikasi pemasaran pariwisata dan perhotelan namun belum 

dijelaskan media yang manakah, karakteristik informasi seperti apakah 

yang memiliki tingkat kepercayaan yang efektif dalam komunikasi 

pemasaran pariwisata dan perhotelan. Munculnya isu pengelolaan 

pariwisata adalah sebagai hal yang dinamis dalam skala industri secara 

makro melalui pendekatan strategis untuk perencanaan dan 

pembangunan sebuah destinasi, wilayah, maupun wilayah 

administrative   tertentu.   6Keberhasilan   pendekatan   semacam   ini 

sebagian   besar   tergantung   pada   analisis   yang   dilakukan   secara 

sistematis dan terstruktur dari faktor lingkungan yang luas yang 

mempengaruhi permintaan pariwisata sebagai bagian penting dari 

proses perencanaan. Ekowisata sebagai salah satu bentuk 

pengembangan  pariwisata  adalah  pariwisata  yang  dianggap 

mendukung pembangunan berkelanjutan. Pengembangan pariwisata 

juga dianggap sebagai ekspresi budaya dari kedua pihak, baik host dan 

wisatawan, selain itu pariwisata adalah  refleksi dari kebenaran politik, 

yang ukuran pertimbangannya jauh melampaui parameter sisi materi 

secara tradisional, waktu dan infrastruktur. 

 

 

 

 

6 The  success  of  such  an  approach  is  largely  dependent  upon  a  systematic  and 

structured analysis of the broad environmental factors affecting  tourism demand as 

an essential part of the planning process 

174  

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun pariwisata umumnya 

dianggap sebagai sebuah sektor 

pembangunan yang kurang 

merusak  lingkungan 

dibandingkan dengan industri 

lainnya, bagaimanapun juga jika 

kehadirannya dalam skala luas 

akan menciptakan kerusakan 

lingkungan    fisik    dan    sosial. 

Melanjutkan konsep pembangunan berkelanjutan, Murphy dan Price 

memberikan pendapat bahwa ada hubungan antara ekonomi dan 

lingkungan dan memiliki hubungan yang sangat erat. Kepentingan 

pariwisata dalam pembangunan berkelanjutan adalah logis mengingat 

bahwa pariwisata adalah salah satu industri yang produknya menjual 

lingkungan, baik fisik dan manusia sebagai sebuah totalitas produk. 

Penulis lainnya juga berpendapat bahwa integritas dan kelangsungan 

produk  ini  telah  membutuhkan  perhatian  utama  sebagai  sebuah 

industri. Mereka berpendapat bahwa apa yang sekarang dilakukan 

dalam penelitian pariwisata dan kebijakan adalah upaya yang lebih 

besar untuk menghubungkan kepentingan akademik dan pemerintah 

dalam mengejar kepentingan pengembangan pariwisata yang lebih 

berkelanjutan dengan para pelakunya pada garis depan yakni praktisi 

industri dan wisatawan. 

Pembangunan pariwisata   merupakan konsep yang sedang 

berkembang, namun perjalanan menuju tujuan sangat penting untuk 

keberlanjutan ekonomi, ekologi dan sosial-budaya dan kesejahteraan. 

Konsep siklus hidup pariwisata dan konsep daya dukung saling terkait 

adalah cara yang baik dan dinamis untuk melihat kondisi dan 

perkembangan pariwisata. Konsep siklus hidup menunjukkan bahwa 

daerah tujuan wisata mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dan 

kemajuan  melalui  tahapan-tahapan  dari  pengenalan  hingga 

penurunan. 

175  

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun disiplin ilmu yang 

berbeda memiliki berbagai cara 

pandang yang berbeda tentang daya 

dukung namun analisis daya dukung 

sangat relevan dibicarakan dalam 

kontek pembangunan pariwisata yang 

bekelanjutan. Williams dan Gill 

(menunjukkan bahwa seperti 

perusahaan ekonomi lainnya, 

pariwisata secara luas diakui sebagai 

agen perubahan. Dengan manajemen 

yang baik, pariwisata   memegang peranan untuk memberdayakan 

sumber daya yang langka serta menjadi berkelanjutan dalam industri. 

Penulis lainnya menunjukkan bahwa manajemen kapasitas yang efektif 

adalah yang memusatkan pada pertumbuhan pariwisata terus menerus 

dan popularitas dalam artian citra baik sebuah destinasi pariwisata. 

Alternatif lainnya adalah konsep manajemen daya dukung yang 

merekomendasikan penerapan pendekatan perencanaan manajemen 

pertumbuhan untuk menangani isu-isu pembangunan di destinasi 

pariwisata. 

Masalah standar dalam industry pariwisata juga menjadi isu 

yang sangat menarik untuk diutarakan sebagai upaya untuk 

mewujudkan pembangunan pariwisata yang bertanggungjawab dan 

berkelanjutan.  Standar  adalah  dokumen  yang  menetapkan  dasar, 

contoh atau prinsip untuk menyesuaikan hal-hal yang terkait dengan 

unit pengukuran yang seragam. Standar dapat berupa kewajiban 

(misalnya, dipaksakan melalui undang-undang) membahas 

pengembangan standar keberlanjutan dari usaha-usaha lokal untuk 

menciptakan perbaikan bisnis sebagai bagian dari   upaya persiapan 

bersaing pada industri pariwisata global. Proposisi yang ditetapkan 

pembahasan tentang standar adalah bahwa penetapan standar dan 

sertifikasi adalah alat berharga untuk membantu membawa para 

pemangku      kepentingan      bersama-sama      menemukan      sebuah 

176  

 

 

 

 

 

kesepakatan bentuk penilaian yang bertanggungjawab.   Sertifikasi 

adalah proses yang bertujuan untuk membantu meningkatkan standar 

industri  dan  merupakan alat  kebijakan  untuk  melakukan  perbaikan 

secara sukarela di bawah lima aspek: keadilan, efektivitas, efisiensi, 

kredibilitas dan integrasi.   Dalam pengembangan strategi pariwisata 

dan kebijakan, otoritas yang bertanggung jawab, harus 

mempertimbangkan pandangan dari sejumlah pemangku kepentingan 

termasuk industri, penduduk, kelompok khusus yang mewakili 

kepentingan lingkungan dan masyarakat, serta wisatawan sendiri. 

Penerapan     dan     kegunaan     teori     stakeholder     untuk 

mengembangkan strategi pariwisata yang berkelanjutan dan kebijakan, 

sangat penting untuk dikomentari pada artikel ini. Perhatian diberikan 

kepada kebutuhan untuk input seimbang di antara berbagai kelompok 

pemangku kepentingan, termasuk masalah identifikasi mereka, 

legitimasi, keterlibatan dan resolusi konflik. Sejumlah teori stakeholder 

yang disajikan termasuk taksonomi termasuk normatif, teori-teori 

instrumental   dan   deskriptif.   Stakeholder   theory   telah   diterapkan 

sebagai alat perencanaan dan manajemen. Kerangka stakeholder telah 

diterapkan dalam hubungannya dengan siklus hidup daerah tujuan 

wisata dalam rangka menganalisis sikap terhadap pemangku 

kepentingan pariwisata dan pembangunan berkelanjutan. Di banyak 

negara-negara dunia maju, pertentangan tajam terjadi antara 

konservasionis dan industri pariwisata. Konservasionis berpendapat 

bahwa lingkungan harus mendapatkan perlindungan dan pembatasan 

pada pertumbuhan pariwisata yang dramatis. Industri Pariwisata   di 

sisi lain berusaha untuk meningkatkan dan mengembangkan fasilitas 

baru untuk mewujudkan kepuasan wisatawan. 

177  

 

 

 

 

 

 

 

Hudson dan Miller 

mengeksplorasi hubungan antara 

pentingnya etika dalam 

pengembangan pariwisata 

berkelanjutan dan 

mempertimbangkan bagaimana 

pemahaman tentang pendekatan 

etis dari para pejabat pariwisata di 

masa depan bisa mendapatkan 

menguntungkan    mereka    untuk 

secara efektif dalam mengelola industri di masa depan. Para penulis 

menyimpulkan bahwa negara-negara sangat maju mungkin akan 

mengalami tekanan besar untuk menetapkan hak atas alam agar 

penduduk lebih makmur dan oleh karena itu menjadi lebih peduli 

dengan masalah estetika. Namun, gerakan untuk perlindungan 

lingkungan tidak mungkin untuk dilanjutkan pada negara-negara yang 

kurang   berkembang   di   mana   isu-isu   kelangsungan   hidup   lebih 

mendesak untuk dibicarakan. 

 

 

11.3.   Isu-Isu Pariwisata Berkelanjutan 

Dunia berubah dan mengalami pergeseran dalam nilai-nilai 

sosial yang akhirnya mempengaruhi cara kita bertindak sebagai 

individu,  bisnis,  dan  pemerintah.  Bagian  dari  perubahan  ini  

adalah peningkatan atas pengakuan bahwa pembangunan telah 

memicu  beberapa dampak negatif yang serius terhadap 

lingkungan. Beberapa diantaranya telah sangat terlihat, seperti pasokan 

air  menyusut,  terjadinya  masalah  sampah,  tetapi  masalah  besar 

lainnya merayap secara pelan-pelan dan masih tetap menjadi sesuatu 

yang misteri, seperti pemanasan global, penipisan lapisan ozon, dan 

hilangnya keanekaragaman hayati. Isu-isu untuk melakukan mitigasi 

atas  misteri  kerusakan  lingkungan  telah  menjadi  isu  yang  hangat 

dalam konteks pembangunan pariwisata berkelanjutan. 

178  

 

 

 

 

 

1)      Pariwisata dan Pembangunan yang Berkelanjutan 

Meskipun Secara terus-menurus, Pembangunan pariwisata 

berkelanjutan  dikumandangkan, dan  pada  KTT  Johannesburg  2002 

telah diletakkan dasar secara signifikan sebagai upaya   melakukan 

negosiasi dan kampanye positif tentang pembangunan pariwisata yang 

berkelanjutan. KTT ini juga mampu menggalang lebih dari 300 

kemitraan sukarela, yang masing-masing akan membawa tambahan 

sumber daya untuk mendukung upaya-upaya untuk melaksanakan 

pembangunan  berkelanjutan.  (Perserikatan  Bangsa-Bangsa 

Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial, 2002). 

Kepentingan pariwisata dalam pembangunan berkelanjutan 

adalah logis mengingat bahwa pariwisata adalah satu industri yang 

menjual lingkungan, baik fisik dan manusia, sebagai totalitas produk. 

Integritas dan kontinuitas produk ini telah menjadi perhatian utama 

industri seperti yang dinyatakan oleh beberapa lembaga internatiional, 

misalnya, UN-WTO tentang Global Etik untuk Kode etik Pariwisata, 

dan asosiasi Ekowisata Australia telah merumuskan sebuah Program 

Akreditasi Ekowisata untuk mendukung usaha pembangunan yang 

berkelanjutan. Terdapat banyak pilihan sebenarnya, tapi maknanya 

lebih dari isu-isu dan pilihan yang perlu dilakukan sebelum konsep 

pembangunan berkelanjutan dapat bergerak lebih lanjut terhadap fisik 

dan realitas ekonomi. Para peneliti dan pemerintah di beberapa negara 

telah menaruh perhatian yang cukup terhadap konsep pembangunan 

pariwisata berkelanjutan, tetapi industri dan konsumen tampaknya 

kurang menerima sepenuhnya. 

Perkembangan dan Definisi Pembangunan Berkelanjutan 

diperlukan untuk menciptakan hubungan baru dengan lingkungan, dan 

kepentingan dalam pembangunan berkelanjutan telah dibangun selama 

30 tahun sejak tahun 1972. Danella dan Dennis Meadows (1972) telah 

mengguncang dunia dengan buku mereka yang berjudul “Limits  to 

Growth”. Mereka berpendapat bahwa sumber daya Bumi dan 

kemampuan untuk menyerap polusi terbatas. Menggunakan simulasi 

komputer,   mereka   meramalkan   penduduk   bumi   dan   kemajuan 

179  

 

 

 

 

 

pembangunan fisik akan mengalami kendala pada abad mendatang. 

Buku ini  menjadi peringatan pertama untuk segera mengadakan 

penelitian dan konsekuensi musyawarah dalam jangka panjang yang 

harus dilanjutkan pada tingkat industri dan ekspansi populasi. 

Rumusan    tentang    pembangunan    berkelanjutan    ini  

dirumuskan dalam beberapa hal seperti di bawah ini: 

1. Membangun batas ekologi dan standar lebih adil yang akan 

membawa konsekuensi adanya kebutuhan promosi terhadap 

nilai-nilai yang mendorong pengunaan standar yang menjadi 

batas-batas dari kemungkinan kerusakan ekologis. 

2. Redistribusi  kegiatan  ekonomi  dan  realokasi  sumber  daya 

untuk memenuhi kebutuhan yang tergantung pada pencapaian 

potensi  pertumbuhan  penuh  karena  pembangunan 

berkelanjutan jelas memerlukan pertumbuhan ekonomi yang 

bekelanjutan. 

3.    Pengendalian   Penduduk   dengan   dasar   pemikiran   bahwa 

meskipun masalah ini bukan hanya salah satu ukuran besaran 

jumlah  penduduk     tetapi  akan  berdampak  pada  distribusi 

sumber daya karena pembangunan berkelanjutan hanya dapat 

dikejar jika perkembangan kependudukan selaras dengan 

perubahan ekosistemnya. 

4.    Konservasi dasar sumber daya diperlukan untuk pembangunan 

berkelanjutan tidak boleh membahayakan sistem alamiah  yang 

seharusnya mendukung kehidupan di Bumi: atmosfer, air, 

tanah, dan makhluk hidup tidak boleh rusak karena 

pembangunan itu sendiri. 

5. Akses  ke  sumber  daya  yang  adil  dan  usaha  peningkatan 

teknologi serta menggunakannya secara lebih efektif karena 

pada dasarnya pertumbuhan sebenarnya tidak memiliki batas 

yang ditetapkan jika dibandingkan dengan pertumbuhan 

penduduk bumi atau penggunaan sumber daya luar yang tak 

terkendali dapat memicu  bencana ekologis.  Tetapi batas 

berakhirnya   ada   tatkala   sumberdaya   ini    telah   habis 

180  

 

 

 

 

 

terpakai  dan  teknologi  harusnya  dapat  diciptakan  sebagai 

usaha untuk mengurangi tekanan terhadap alam dan 

memperlambat terhadap habisnya sumber daya yang ada. 

6. Kendali  daya  dukung  dan  hasil  berkelanjutan  merupakan 

kendali yang diperlukan untuk sumber daya yang dapat 

diperbaharui, karena sebagian besar saling terkait pada 

ekosistem, dan hasil maksimum yang berkelanjutan harus 

didefinisikan setelah memperhitungkan efek terhadap seluruh 

sistem eksploitasi. 

7.    Retensi   sumber   daya   artinya   pembangunan   berkelanjutan 

mensyaratkan bahwa tingkat penipisan sumber daya yang tak 

dapat diperbaharui mengharuskan adanya beberapa pilihan di 

masa depan. 

8. Diversifikasi spesies adalah pembangunan berkelanjutan yang 

membutuhkan konservasi spesies tanaman dan hewan. 

9.    Minimalkan  dampak  yang  merugikan  artinya  pembangunan 

berkelanjutan mensyaratkan bahwa dampak yang merugikan 

terhadap  kualitas udara,  air,  dan  lainnya  unsur-unsur  alami 

harus dapat diminimalkan untuk mempertahankan ekosistem 

secara keseluruhan. 

10.  Pengendalian  Komunitas  adalah  adanya  kontrol  masyarakat 

atas keputusan    pembangunan    mempengaruhi    ekosistem 

setempat. 

11. Kebijakan nasional yang luas untuk kerangka kebijakan 

internasional    artinya  biosfer  adalah  rumah  bersama  semua 

umat manusia dan  pengelolaan  bersama  atas  biosfer  adalah 

prasyarat   untuk   keamanan   politik   global   karena   pada 

prinsipnya bumi kita hanya satu yang harus kita kelola secara 

bijaksana bersama-sama seluruh manusia di bumi ini. 

12. Viabilitas  Ekonomi  adalah  sebuha  ebijakan  lingkungan 

perusahaan yang merupakan perpanjangan dari manajemen 

kualitas total. 

181  

 

 

 

 

 

 

 

13.  Kualitas Lingkungan adalah Kebijakan lingkungan perusahaan 

merupakan perpanjangan dari manajemen kualitas total. 

14.  Audit Lingkungan adalah suatu sistem audit lingkungan yang 

efektif yang berpusat pada pengelolaan lingkungan yang baik. 

15. triple bottom line yang diterjemahkan bahwa kemakmuran 

ekonomi, kualitas lingkungan dan keadilan social merupakan 

satu kesatuan idealism pembangunan berkelanjutan. 

 

2)      Penentuan Standar Pariwisata Berkelanjutan dalam Ekonomi 

Global 

Standar adalah dokumen 

yang menetapkan dasar, contoh, 

atau prinsip bagi perusahaan untuk 

menyesuaikan diri dengan hal-hal 

yang terkait dengan unit 

pengukuran yang harus seragam. 

Standar wajib diterapkan melalui 

legislasi nasional dan persyaratan 

keanggotaan         industri         dan 

cenderung untuk mewujudkan kesehatan, kompetensi, keselamatan 

kerja, perencanaan penggunaan lahan, perizinan usaha, dan 

perlindungan konsumen. 

Dalam pelaksanaannya, standar biasanya digabungkan dengan 

manual  pelaksanaan  bagi  perusahaan  untuk  melakukan  perbaikan 

yang   diperlukan   untuk   dapat   memenuhi   persyaratan   industri. 

Meskipun sertifikasi di hotel-hotel memiliki sejarah yang panjang, 

namun yang berfokus pada masalah lingkungan merupakan hal yang 

cukup baru, dan bahkan sekarang standar juga mulai 

mempertimbangkan isu-isu social budaya.   Kebanyakan program 

sertifikasi dikembangkan sebagai inisiatif bottom-up dengan sedikit 

pengetahuan satu sama lain dan umumnya beroperasi sebagai 

tanggapan  khusus untuk  mengelola  dampak  negatif  atau  tantangan 

dari subsektor tertentu di lokasi tertentu.   Dalam 10 tahun terakhir, 

182  

 

 

 

 

 

secara dramatis masalah standarisasi industry melalui program 

sertifikasi menjadi salah satu dari isu pariwisata berkelanjutan, yang 

dianggap sebagai mekanisme untuk memerangi kerusakan dampak 

lingkungan (Morris, 1997). 

Proses pengaturan standar dan memastikan telah terpenuhinya 

standar yang telah ditetapkan  dikenal sebagai  penilaian kesesuaian, 

dan menyediakan catatan-catatan untuk menjelaskan perbaikan yang 

diperlukan  dan  bagaimana  penggunaan  standar  pariwisata 

berkelanjutan semestinya (font, 2002; Toth, 2002).  Lembaga sertifikasi 

pertama-tama harus menetapkan standar industri yang relevan, bagian 

dari proses ini mencakup pengaturan indikator yang dapat dipercaya 

dan efektif untuk mengukur standar di berbagai penerapannya. 

Indikator-indikator ini kemudian dinilai oleh asesor yang dianggap 

sebagai orang yang kompeten untuk tugas ini , seperti seseorang 

dengan  keterampilan  yang   diperlukan  dan   orang   yang  ditunjuk 

ini  haruslah bebas dari konflik kepentingan. 

Apabila penilaian ini berhasil, pemohon disertifikasi  sebagai 

perusahaan yang telah memenuhi standar. Lembaga sertifikasi dapat 

menerapkan prosedur akreditasi untuk menjamin bahwa lembaga 

sertifikasi telah dilakukan tugas-tugasnya dengan benar. Tujuan 

keseluruhan dari lembaga sertifikasi adalah bahwa memberikan label 

sertifikasi yang akan diakui oleh konsumen atau saluran distribusi, dan 

dapat  menjadi  nilai  tambah  perusahaan  di  hadapan  para 

konsumennya. 

 

3)      Sertifikasi sebagai Instrumen untuk Keberlanjutan 

7Sertifikasi sebagai proses untuk meningkatkan standar industri 

memiliki  pendukung  dan  dan  nilai  kritik.  Bagian  ini  sebenarnya 

meninjau kelayakan sertifikasi sebagai alat kebijakan untuk melakukan 

 

 

 

7 Certification as a process to raise industry standards has its advocates and critics. This section 

reviews the feasibility of certification as a policy tool to make voluntary improvements, under 

five aspects: equity, effectiveness, efficiency, credibility, and integration. 

183  

 

 

 

 

 

 

 

perbaikan secara sukarela, di bawah lima aspek: keadilan, efektivitas, 

efisiensi, kredibilitas, dan integrasi. 

Instrumen   keadilan   dianggap   sebagai   kesempatan   semua 

perusahaan pariwisata untuk mengakses sertifikasi.   Tiga wilayah 

dianggap                       berpotensi 

ketidakadilan    dapat        berupa 

biaya biaya (1) aplikasi, (2) 

pelaksanaan oleh perusahaan 

pariwisata, dan (3)program 

pelaksanaannya. 

Tingginya biaya relatif 

yang dirasakan dari sertifikasi 

dianggap   sebuah   ketidakadilan 

karena  tidak  semua  perusahaan  akan  memiliki  potensi  yang  sama 

untuk mengakses program sertifikasi ini .   Sebuah studi kasus di 

Kostarika, pemerintah telah berhasil memberikan sunsidi pertama kali 

menjalankan program sertifikasi ini khususnya yang berkaitan dengan 

sertifikat Pariwisata Berkelanjutan. 

Di  Australia,  Program  Akreditasi  yang  berkaitan  dengan 

ekowisata telah dituangkan dalam bentuk  audit  tertulis pada tahun 

2001. Meskipun beberapa program sertifikasi dapat memberikan 

manfaat yang cukup namun factor biaya masih menjadi mitos 

penghalang terwujudnya program sertifikasi ini  (Toth, 2002). 

 

4)      Standar global untuk Ekonomi Global 

8Kode etik pembangunan pariwisata berkelanjutan telah 

dirumuskan dan menjadi agenda yang terus menerus   di revisi dan 

bahkan revisi yang terakhir diselenggarakan di Bali (UNWTO Etic 

Code,  2011).  Standar  yang  tetapkan  memang  masih  terlalu  umum 

untuk  diterapkan  oleh  unit  bisnis,  sehingga  masih  perlu  dilakukan 

 

 

8 Although most certification programmes are not growing in number of applicants (only 20 

percent of the medium-aged ecolabels are growing annually, according to the WTO [2002]) 

184  

 

 

 

 

 

penjabaran  menjadi  standar  yang  lebih  rinci    dalam  bentuk  buku 

manual (Font dan Bendell, 2002). 

Model untuk sertifikasi di Amerika Latin adalah CST Kosta 

Rika. Sebagian besar negara-negara di wilayah ini telah 

menandatangani perjanjian untuk melaksanakan program secara 

nasional   untuk   mendorong   perusahaan   bertanggung   jawab   atas 

masalah pariwisata yang keberlanjutan dengan program CST sebagai 

model, meskipun biaya untuk memulai   dan penerapan program 

sertifikasi ini telah mengalami  sedikit kemajuan. 

CST juga berharap bahwa WTO akan memberikan dukungan 

penuh    ke  Costa  Rika  pada  mereka  menjalani  program  sertifikasi 

global (Toth,   2000). Namun, usulan itu tidak diterima oleh Negara 

Anggota    WTO  yang  lainnya  karena  dianggap  dirancangan  oleh 

panitia teknis, yang seharusnya disusun oleh Komite  pada Sekretariat 

WTO berupa rekomendasi    dan pedoman tentang bagaimana 

membangun sistem sertifikasi ini . 

Di Eropa,   mereka secara sukarela mengambil inisiatif untuk 

program pariwisata berkelanjutan dan menciptakan sebuah sistem 

federal untuk meningkatkan standar di antara program-program saat 

ini,  telah digunakan pada  1000 akomodasi sebagai sebuah disertifikasi 

untuk konsumen  dalam promosi, dan penawaran paket wisata mereka 

(Visitor, 2003). 

 

5)      Pertimbangan Etika di Bidang Pariwisata Berkelanjutan 

Di Taman Nasional Banff, Kanada, seperti di banyak bagian 

lain dari dunia maju, pertentangan sengit terjadi antara konservasi dan 

industri pariwisata. Konservasionis berdebat untuk lebih pada 

perlindungan lingkungan dan pembatasan pada pertumbuhan 

pariwisata, sedangkan operator pariwisata berusaha meningkatkan dan 

mengembangkan fasilitas pariwisata, dengan alasan bahwa itu salah 

cara untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan dan penduduk 

setempat,   dan memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk 

menikmati   beberapa   tempat   paling   indah   agar   dapat   diakses. 

185  

 

 

 

 

 

Keputusan oleh pemerintah Kanada untuk memberikan prioritas 

lingkungan atas manusia di taman adalah sebuah hal yang mulia. 

Terdapat kesadaran bahwa dunia alamiah memiliki batasan. Tapi 

apakah keputusan etis ini ?   Haruskah kita tidak menyalurkan 

energi kita ke dalam mencegah kurang kegiatan berkelanjutan seperti 

penebangan komersial dan pengangkutan barang berat melalui jalan 

raya yang melintasi taman? 

9Etika   adalah   studi   filsafat   moral   dan   berkaitan   dengan 

perbedaan antara benar dan salah. Jelas dunia adalah tempat yang 

kompleks dan isu-isu hak mutlak atau salah adalah jarang, tetapi etika 

dapat memberikan kerangka disiplin yang luas yang  kaitan dengan 

pariwisata berkelanjutan (Tribe, 2002). 

Bagian  penting  dari  etika  adalah  klarifikasi  nilai,  dengan 

memeriksa definisi umum dari pariwisata berkelanjutan yang 

memunculkan nilai-nilainya. Namun, terlepas dari apakah kita yakin 

dengan pendekatan berbasis prinsip atau pandangan utilitarian, untuk 

membuat keputusan pada setiap topik kita perlu memahami masalah 

sebelumnya. Namun, dalam kasus pariwisata berkelanjutan, nilai-nilai 

dan pemahaman kita telah berubah secara radikal selama 50 tahun 

terakhir, dan seperti pemahaman kita telah berubah, sehingga memiliki 

konteks etika di mana manajer pariwisata masa lalu telah membuat 

keputusan mereka. 

Untuk menghargai pentingnya pemahaman etika dalam 

kaitannya dengan pariwisata yang berkelanjutan, kita perlu 

mempertimbangkan dua debat penting yang mempengaruhi 

keberhasilan pengembangan industri pariwisata. Perdebatan pertama 

sejak ribuan tahun dan menganggap apa yang etis?, dan perdebatan 

kedua bagaimana pandangan kita tentang pariwisata berkelanjutan?. 

Apa itu etis? sebegitu banyaknya jawaban atas pertanyaan tentang apa 

 

 

9 `  Ethics  is  the study of  moral philosophy and  is  concerned with the distinction 

between  „right‟ and  „wrong.‟ Clearly  the world  is a complex  place and  issues of 

absolute right or wrong are rare, but ethics can provide the broad disciplinary 

framework within which sustainable tourism can be analysed (Tribe, 2002). 

186  

 

 

 

 

 

yang etis? Dan jawabannya sangat bergantung pada pendekatan yang 

kita  ambil  untuk  menjawab  pertanyaan  ini .  Dua  pendekatan 

utama untuk pengambilan keputusan etis yang berasal dari literatur 

adalah mereka bergantung pada teori deontologi dan teleologi.  Suatu 

pendekatan  deontologis  mengalamai    sejarah  panjang,  datang  dari 

filsuf seperti Socrates, dan diperkaya kembali oleh karya Kant. 

Deontologi berkaitan dengan ide dan prinsip-prinsip kebenaran 

universal, yang harus dipatuhi terlepas dari keadaan. Kategoris Kant 

menyatakan bahwa seseorang menghadapi masalah harus mampu 

merespon  secara  konsisten  dan  sesuai  dengan prinsip-prinsip  moral 

dan juga merasa nyaman dengan keputusan yang dibuat dihadapan 

orang lain. 

Pandangan        teleologis        dapat        dipahami        sebagai 

konsekuensialisme (Kaynama, King, dan Smith, 1996) berikut   inti 

karya filosofis dari Jeremy Bentham dan John Stuart Mill pada 

utilitarianisme. Menurutnya, keputusan etis dibuat berdasarkan pada 

hasil yang diharapkan, yang menghilangkan keputusan universalitas 

dan prinsip-prinsip yang ada di bawahnya. 

 

 

6)      Memahami Pembuatan Keputusan Etis   oleh  Para Manajer 

Pariwisata 

10Faktor  Pariwisata  Berkelanjutan  meliputi:  (1)Semua 

pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata harus sepakat 

untuk menjaga kelestarian alam lingkungan terus menerus dan 

berkelanjutan,   pertumbuhan ekonomi diarahkan untuk memenuhi 

kebutuhan secara adil dan dengan mempertimbangkan kepentingan 

generasi yang akan datang. (2)Semua bentuk pembangunan pariwisata 

memungkinkan  melakukan  penghematan  atas  penggunaan  sumber 

daya yang langka, khususnya air dan energi, serta pengelolaan limbah 

sebagai prioritas dan mendorong otoritas publik nasional, regional dan 

 

 

10      Article  3  of  the  Global  Code  of  Ethics  for  Tourism:  Tourism,  A  Factor  of 

Sustainable Tourism 

187  

 

 

 

 

 

 

 

lokal. (3)Pengaturan waktu dan jumlah arus wisatawan atau 

pengunjung, terutama pada waktu liburan sekolah, sehingga dapat 

mengurangi tekanan dari kegiatan pariwisata terhadap lingkungan 

hidup dan meningkatkan dampak yang menguntungkan bagi industri 

pariwisata dan ekonomi lokal. (4) infrastruktur Pariwisata harus 

dirancang  dan  kegiatan  pariwisata  direncanakan  sedemikian  rupa 

untuk melindungi warisan alam terdiri dari ekosistem dan 

keanekaragaman hayati dan untuk melestarikan spesies satwa langka; 

para   pemangku   kepentingan   dalam   pengembangan   pariwisata, 

terutama para profesional, harus sepakat dan wajib memperhatikan 

batasan dan kendala kegiatan apabila dilakukan di daerah-daerah 

sensitif: seperti padang pasir, kutub atau pegunungan tinggi, daerah 

pesisir, hutan tropis atau zona basah, cagar alam atau kawasan hutan 

lindung. (5)Wisata alam dan ekowisata diakui sebagai bentuk kondusif 

untuk memperkaya dan meningkatkan daya saing pariwisata, karena 

mereka menghormati  warisan alam dan  penduduk  lokal  dalam  hal 

menjaga daya dukung dari sebuah situs. 

  

 

 

 

 

188 

189  

 

 

 

 

 

 

 

BAB XII 

KOMUNIKASI PEMASARAN PARIWISATA 

 

 

 

12.1.   Komunikasi Pemasaran Pariwisata 

11Keberhasilan komunikasi 

pemasaran tentang positioning 

pariwisata dan perhotelan dalam 

konteks destinasi adalah 

tersampaikannya sebuah pesan 

“posisi” tentang sebuah destinasi 

pariwisata  dan  perhotelan  ini  

kepada  calon  konsumen  yang  tepat,  dan  dengan  cara  yang  benar. 

sebagai contohnya, jika destinasi Bali memposisikan diri atau 

positiningnya tentang pariwisata budaya haruslah mampu 

menyampaikan pesan bahwa destinasi Bali adalah Destinasi Pariwisata 

Budaya dan tentanya juga   pemasar harus melakukan promosi atau 

komunikasi pemasaran pada calon wisatawan yang benar-benar 

memiliki minat tentang ketertarikan akan budaya, mungkin dengan 

cara melakukan pengiriman duta-duta budaya, festival budaya, dan 

sejenisnya. 

Pariwisata didefinisikan sebagai hubungan beberapa fenomena 

yang disebabkan oleh kegiatan manusia yang bepergian ke sebuah 

tempat  dan  tinggal  di  tempat  ini     di  luar  lingkungan  tempat 

tinggal tetapnya untuk jangka waktu kurang dari setahun secara 

berturut-turut untuk kepentingan liburan, bisnis, dan tujuan lainnya, 

itu definisi pariwisata yang diajukan oleh Wall dan Mathieson.  Ada 

tiga  dimensi  yang  dapat  diterangkan  dalam  definisi  ini   yakni 

dimensi geografis, dimensi waktu, dan dimensi maksud serta tujuan. 

 

 

11      “Getting the right messages to the right people is perhaps one of the most important factors in 

determining  the success of this sector” Marketing  communications  has been considered as 

saying the right things to the right people in the right ways (Delozier, 1976). 

190  

 

 

 

 

 

 

 

12Pariwisata  ditinjau  dari  dimensi 

geografis dapar ditafsirkan bahwa 

pariwisata ada karena adanya kegiatan 

atau aktivitas perpindahan manusia dari 

satu tempat ke tempat yang lainnya. 

Sementara dari dimensi waktu, yang 

dimaksud     aktivitas atau kegiatan 

pariwisata  adalah  kegiatan  yang 

dilakukan kurang dari setahun lamanya, 

sementara jika ditinjau dari dimensi tujuan serta maksud kegiatannya, 

ternya pariwisata tidak hanya untuk kegiatan liburan saja melainkan 

ada kegiatan lainnya seperti bisnis dan bahkan tujuan lainnya yang 

belum disebutkan. 

 

“central to the tourism industry is the concept of a tourism „destination‟ 

. All places can potentially become tourism destinations, and many 

local,  regional  as  well  as  national  governments  now  realize  the 

potential contribution that tourism can make as a tool for economic 

development or regeneration by providing resources to coordinate and 

facilitate  the  development  of  the  tourism  industry in  their region” 

(McCabe, 2009). 

 

Sedangkan dalam konteks pariwisata sebagai sebuah industri, 

pariwisata adalah sebuah destinasi dimana semua tempat di dunia ini 

berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah destinasi pariwisata 

untuk meningkatkan pembangunan ekonomi wilayah sebuah daerah, 

kawasan maupun secara nasional, dan agar dapat dikembangkan 

sebagai destinasi pariwisata, pemerintah harus mampu menyediakan 

sumber   daya   dan   fasilitas   yang   berhubungan   dengan   industri 

pariwisata. 

 

 

 

12      Tourism has been defined as the sum of the relationships arising out of the activities of 

persons travelling to and staying in places outside their usual environment for not more than 

one consecutive year for leisure, business and other purposes (Wall and Mathieson, 2005 ). 

191  

 

 

 

 

 

 

 

Sementara   Hospitality   di   negara kita    sering   diterjemahkan 

sebagai perhotelan atau bisnis yang berhubungan dengan jasa 

penginapan, restoran, dan jasa lainnya yang berhubungan dengan 

pelayanan   pariwisata.  Namun   jika   dilihat   dari   awal  mula  dari 

definisnya adalah sebagai berikut: 

 

Conventional  definitions  of  hospitality  focus  on  the  provision  of 

domestic labor and services for commercial gain. These services include 

food, drink and lodging which are offered for sale (McCabe, 2009). 

 

Hospitality didefinisikan sebagai sebuah pekerjaan yang 

berhubungan dengan bisnis jasa, yang didalamnya termasuk bisnis 

makanan, minuman, penginapan yang disediakan untuk dijual kepada 

konsumen. 

 

The hospitality industry can be divided into components which deal in 

purely the provision of accommodation such as guest houses, hostels 

and backpackers, youth hostels and camping and caravan sites 

(McCabe, 2009). 

 

Sedangkan Industri 

perhotelan dapat dibagi menjadi 

komponen yang berhubungan 

dengan penyediaan akomodasi 

seperti tamu, rumah hostel dan 

backpacker, hostel pemuda, 

perkermahan dan situs karavan. 

Pariwisata  dan   hospitality   atau 

perhotelan   tidak   dapat   dipisahkan   karena   keduanya   memiliki 

hubungan yang saling terkait, jika ada perjalanan wisata, maka ada 

penginapan, jika ada hotel mestinya ada tempat yang menarik untuk 

dikunjungi, dan begitu hubungan ini  terjadi saling terkait. 

Komunikasi pemasaran menyediakan merek atau branding 

untuk menghubungan antara organisasi dengan calon pembeli, dalam 

konteks   komunikasi   pemasaran   destinasi:   komunikasi  pemasaran 

192  

 

 

 

 

 

menyediakan branding sebuah destinasi yang akan digunakan untuk 

menghubungankan destinasi dengan calon wisatawan. 

13Komunikasi     diarahkan     untuk     tujuan     meningkatkan 

permintaan kunjungan, komunikasi juga dimaksudkan agar terjadinya 

sebuah interaksi atau pertukaran informasi antara   organisasi dengan 

calon pembeli berdasarkan atas kualitas dan kepuasan terhadap proses 

pertukaran, apakah calon konsumen akan membeli, membeli kembali, 

atau tidak akan membeli kembali. 

Dalam pertukaran informasi, diperlukan dua proses yang harus 

dapat dikelola oleh organisasi, dalam konteks pariwisata: informasi 

tentang  sebuah  destinasi  atau  tentang  aktivitas/even  sebagai 

penawaran destinasi akan mempengaruhi permintaan pariwisata, dan 

peran media sangat diperlukan untuk melakukan komunikasi kepada 

calon pembeli agar permintaan ini  dapat terjadi.   Dalam proses 

komunikasi pemasaran, melibatkan element proaktif maupun elemen 

reaktif  yang  akan  disesuaikan  terhadap  waktu  dan  target  tertentu. 

Untuk  menyatukan  kedua  elemen  ini   diperlukan  pemasaran 

terpadu atau terintegrasi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13    Marketing communications provides the means by which brands and organizations are 

presented to their audiences. The goal is to stimulate a dialogue that will, ideally, lead to a 

succession of purchases. Complete engagement. This interaction represents an exchange 

between each organization and each customer, and, according to the quality and satisfaction 

of the exchange process, will or will not be repeated. (Fill, 2005: p. 9 ) 

193  

 

 

 

 

 

 

 

12.2.   Karakteristik    Komunikasi    Pemasaran    Pariwisata    dan 

Perhotelan 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam tulisan ini, dinyatakan bahwa karakteristik produk 

pariwisata dan perhotelan adalah intangible atau tidak berwujud nyata, 

perishable  tidak  dapat     disimpan,  inseparable  atau  proses  antara 

produksi dan konsumsi terjadi secara bersama-sama, dan  heterogenous 

atau merupakan komponen gabungan untuk dapat dikatakan sebagai 

sebuah produk pariwisata.berpengaruh pada proses pemasarannya. 

Namun dalam perkembangan terkini karakteristik produk pariwisata 

dan  perhotelan  telah  mengalami  perubahan  sesuai  dengan 

kedinamisan situasi dan kondisi terkini, dan cenderung bersinggungan 

dengan produk lain baik barang maupun jasa lainnya. Artinya 

karakteristik yang dinyatakan dalam tulisan ini perlu diupdate agar 

lebih mewakili kondisi yang sebenarnya saat ini. Sebagai contohnya, 

dalam  kontekasi  pariwisata  minimal  terdiri  komponen  gabungan 

terdiri dari empat elemen yakni elemen atraksi mungkin merupakan 

194  

 

 

 

 

 

sesuatu yang berwujud yang dapat diwakili dengan sebuah miniature, 

atau gambar, atau peta atau mungkin sebuah video sehingga 

komunikasi pemasaran semakin efektif serta mampu memberikan 

gambaran pra-konsumsi. 

Elemen selanjutnya adalah amenitas yang merupakan sesuatu 

yang berwujud seperti kamar hotel atau fasilitas, hanya saja elemen ini 

tidak dapat dipindahkan untuk  diperlihatkan  kepada  calon pembeli 

namun akan sangat mungkin dapat dilakukan komunikasi pemasaran 

dengan menunjukkan sebuah hotel atau kamar atau fasilitas dengan 

bantuan teknologi komunikasi dalam bentuk media elektronik mapun 

cetak. dengan cara menampilkan secara visual maupun audio. Begitu 

juga  halnya  dengan  elemen  akses,  dan  ansilari.  Sementara  pada 

konteks perhotelan, elemen gabungan terdiri dari pelayanan kamar, 

pelayanan makanan dan minuman, dan jasa lainnya yang terkait dapat 

dikomnikasikan berdasarkan perceptual konsumen sebelumnya dalam 

bentuk testimony atau kesaksian konsumen sehingga sesuatu yang tak 

berwujud akan nampak jelas sehingga tingkat kepercayaan untuk 

melakukan pembelian semakin meningkat. 

Karakteristik komunikasi pemasaran pariwisata dan perhotelan 

berpengaruh pada proses pemasarannya kepada konsumen potensial, 

dalam   konteks   pariwisata   dan   perhotelan   memiliki   karakteristik 

sebagai berikut: intangible atau tidak berwujud nyata,  perishable tidak 

dapat      disimpan,   Inseparable   atau   proses   antara   produksi   dan 

konsumsi terjadi secara bersama-sama, dan    heterogenous atau 

merupakan   komponen   gabungan   untuk   dapat   dikatakan   sebagai 

sebuah produk pariwisata. Dalam kontekasi pariwisata minimal 

komponen gabungan terdiri dari empat elemen yakni elemen atraksi, 

amenitas, akses, dan ansilari. Sementara pada konteks perhotelan, 

elemen gabungan terdiri dari pelayanan kamar, pelayanan makanan 

dan minuman, dan jasa lainnya yang terkait. 

Antara Pariwisata dan Perhotelan keduanya adalah tidak nyata 

wujudnya karena tidak memungkinkan ditunjukkan sebelum 

permintaan       terhadap       jasa       dilakukan.       Karena       sulitnya 

195  

 

 

 

 

 

mengkomunikasikan pariwisata dan perhotelan dalam pemasaran, 

Mittal dan Baker (2002) menunjukkan ada empat kunci tantangan 

dalam komunikasi pemasaran pariwisata dan perhotelan yakni: 

Abstractness: sulitnya mengkomunikasikan karena berbeda dengan 

konsep jasa pada umumnya. Generality: Sulitnya menunjukkan 

keunggulan service yang diberikan secara umum, Non-searchability: 

Sulitnya melakukan pembuktian awal seperti layaknya mencicipi rasa 

sebuah hidangan makanan atau minuman, Impalpability: memerlukan 

pemahaman  dan  interpretasi  mendalam  sebelum  melakukan 

komunikasi pemasaran. 

Mittal dan Baker (2002) menyarankan tentang perlunya tiga 

kunci   keberhasilan   dari   strategi   komunikasi   pemasaran   yakni 

penciptaan identitas atau branding, melakukan positioning atas 

branding yang terbentuk, dan penciptaan permintaan. Lebih lanjut 

mereka menegaskan, untuk mengatasi ketidaknyataan wujud jasa 

diperlukan keterangan atau informasi mendetail tentang jasa yang 

ditawarkan   agar   tercipta   kepercayaan   konsumen   dan   informasi 

ini  dapat dipakai oleh konsumen melakukan klaim jika terjadi 

masalah dalam konsumsinya. 

 

 

12.3.   Strategi dan kasus-kasus Komunikasi Pemasaran Pariwisata 

dan Perhotelan. 

Pada pariwisata dan perhotelan, komunikasi pemasaran adalah 

sangat dinamis dan memiliki keunikan tersendiri yang cenderung 

mengikuti  perubahan  dari  waktu  ke waktu. Perubahan dalam teori 

pemasaran  berdampak  pada  perubahan  terhadap  komunikasi 

pemasaran sehingga senantiasa diperlukan analisis terhadap perubahan 

lingkungan pemasaran baik yang terjadi pada pariwisata maupun 

perhotelan. Selanjutnya diperlukan teori yang tepat untuk  komunikasi 

agar  pemasaran  tercapai  sesuai  tujuan  yang  telah  ditetapkan  oleh 

sebuah organisasi, dan selanjutnya mengetahui bagaimana 

perkembangan komunikasi saat ini yang turut mempengaruhi sebuah 

industri atau organisasi sehingga daripadanya akan dapat dilakukan 

196  

 

 

 

 

 

 

 

perubahan-perubahan dalam melakukan komunikasi pemasaran yang 

tepat. 

Sebagai ilustrasi bahwa: pariwisata dan perhotelan adalah 

industri yang mengalami perubahan dengan cepat. Walaupun industri 

ini perfokus pada jasa manusia, peran penyedia jasa secara pribadi 

semakin berkurang dan peran konsumen semakin dominan dalam 

komunikasi pemasaran karena kemajuan teknologi informasi. Sebagai 

contoh, konsumen dapat melakukan pemesanan kamar secara online 

yang dapat mengurangi biaya dan konsumen memiliki lebih banyak 

pilihan. 

Semakin mudahnya konsumen mendapatkan informasi dan 

semakin mudahnya mendapatkan pelayanan mandiri memicu  

para penyedia jasa semakin sulit untuk dapat menebak apa selera dan 

bagaimana persepsi konsumen sebelum dan sesudah melakukan 

pembelian jasa. Peran dialog secara pribadi antara produsen dan 

konsumen semakin berkurang akibat tergantikannya oleh teknologi 

komunikasi online seperti jejaring social, chating, blogging, dan 

pertukaran informasi cenderung lebih banyak diperankan oleh media. 

 

12.4.   Elemen-elemen       Pembentuk       komunikasi       pemasaran 

pariwisata dan perhotelan. 

Menurut   Mittal   dan   Baker   (2002) 

terdapat tiga elemen kunci pembentuk 

komunikasi pemasaran yang berhasil, 

yakni elemen branding, elemen 

informasi, dan elemen kepercayaan. 

Dalam artikel ini dijelaskan bahwa 

elemen branding sebuah destinasi 

adalah modal yang sangat penting bagi 

kesuksesan tujuan komunikasi 

pemasaran namun sayangnya belum 

dijelaskan bagaimana dengan destinasi 

yang  belum  memiliki  branding  atau  belum  melakukan  positioning 

197  

 

 

 

 

 

karena mereka belum menemukan jati dirinya, komunikasi pemasaran 

seperti apakah yang harus dilakukan? Sebenarnya branding dapat 

terbentuk oleh konsumen atau dibentuk oleh provider secara sengaja, 

dan keduanya dapat dijadikan elemen penting pembentuk komunikasi 

pemasaran.  Elemen  informasi    dikatakan  menjadi  elemen  penting 

kedua yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi pemasaran, 

sementara elemen ketiga adalah kepercayaan. 

  

 

 

 

 

198 

199  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XIII 

SPC SEBAGAI SISTEM PENGELOLAAN INDUSTRI 

PARIWISATA 

 

 

 

13.1.   Logika Kerja SPC 

Gambar 13.1 menjelaskan rangkaian atau rantai hubungan 

strategi operasi dan sistem penyampaian jasa dalam suatu perusahaan 

dengan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dan 

pertumbuhan   pendapatan   yang   dicapai   oleh   perusahaan   sebagai 

berikut: 

 

 

 

Internal 

Service 

Quality 

Fasilitas 

Kerja, 

Motivasi 

Material 

dan Non 

Material 

Employee 

Satisfaction 

 

(Kepua- 

san Karya- 

wan 

Hotel) 

External 

Service 

Values 

(Kualitas 

Pelaya- 

nan 

Karya- 

wan 

Hotel) 

Customer 

Satisfaction 

(Kepua- 

san 

Wisata- 

wan) 

Customer 

Loyalty 

(Loyalit 

as 

Wisata 

wan) 

 

 

 

 

 

Revenue Growth 

(Pendapatan) 

Profitability (Keuntungan) 

 

 

 

 

 

Gambar 13.1. Rantai Pelayanan (SPC) 

Sumber: Hesket, (1994) 

200  

 

 

 

 

 

James Hesket et al (1994) telah memberikan kontribusi yang 

penting pada diskusi tentang efek dari pelayanan yang baik pada 

pelanggan, dalam pendapatnya tentang rantai keuntungan pelayanan. 

Sehubungan  dengan  kepuasan  pelanggan  dipandang  sebagai  fungsi 

dari nilai yang diciptakan pelanggan melalui kualitas pelayanan yang 

diberikan oleh perusahaan dan karyawan-karyawannya. Kepuasan 

ini  dipandang memberikan kontribusi besar bagi bertahannya 

pelanggan dan selanjutnya, kemampuan menghasilkan keuntungan. 

Model Hesket tentang rantai keuntungan pelayanan, terutama penting 

karena model ini  mengakui bahwa kualitas pelayanan yang 

diberikan   kepada   pelanggan   adalah   sebuah   fungsi   dari   tingkat 

kepuasan karyawan yang bertanggung jawab untuk menyediakan 

pelayanan. 

Dari Gambar 13.1. terlihat bahwa proses ini dimulai dari 

terbentuknya operating strategy and service delivery system yaitu kepuasan 

karyawan dan loyalitas karyawan sebagai akibat dari persepsi mereka 

yang sangat baik terhadap kualitas pelayanan internal yang mereka 

peroleh selama ini. Ini menjelaskan bahwa kepuasan karyawan 

berhubungan  dengan  ketepatan  dan  kenyamanan  disain  pekerjaan, 

jenis pekerjaan, proses seleksi dan pengembangan, pengakuan dan 

penghargaan, serta peralatan/fasilitas untuk melakukan pelayanan 

kepada "the next process" (because the next process is your customers), akan 

mendorong terjadinya suatu proses pelayanan internal secara dua arah, 

dalam artian 

 

"Anda melayani dengan baik, Anda juga dilayani dengan baik" 

 

Menurut Heskett dan koleganya loyalitas karyawan yang 

diberikan  berupa  keinginan  karyawan  untuk  bekerja  lebih  lama 

(employee retention) dan juga meningkatkan produktivitas kerjanya 

(employee  productivity).  Pada  gilirannya,  loyalitas  karyawan  ini  

akan mampu menumbuhkan kualitas pelayanan eksternal yang akan 

mampu memuaskan pelanggan.  Pelanggan yang puas akan cenderung 

bersikap  loyal  dan  pelanggan  yang  bersifat  loyal  akan  merupakan 

201  

 

 

 

 

 

modal bagi suatu perusahaan untuk memupuk laba atau profit dan 

pertumbuhan  pendapatan  pada  perusahaan  yang  menjadi  business 

results yang diberkan oleh pelanggan. 

Perlunya  memperhatikan  sumber  daya  manusia karena  sifat 

yang inseparability (proses produksi dan konsumsi jasa terjadi secara 

bersamaan) dan variability (variasi bentuk, kualitas dan jenis tergantung 

pada   siapa,   kapan   dan   dimana   jasa   ini


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH