Kebudayaan yaitu buah karya yang diciptakan oleh manusia
yang bisa menjadi identitas suatu daerah atau warga tertentu.
Setiap kebudayaan selalu memiliki ciri khas lokalitas. Sehingga
meski ada dua daerah yang memiliki kebudayaan yang sama, pasti
tidak mungkin keseluruhannya sama dan akan memiliki ciri khusus
yang membedakan keduanya.
Indonesia yaitu negara yang kaya dengan kebudayaan yang
unik. Setiap daerah selalu memiliki kebudayaan sendiri-sendiri
dan menjadi identitas daerah ini . Begitu juga kota Jombang,
kota ini terkenal dengan kota santri, namun disisi lain Jombang
memiliki seni budaya yang tidak kalah menarik, yakni seni budaya
ludruk atau warga Jombang menyebutnya “besutan”. Namun
demikian, sangat disayangkan jika seni budaya ludruk ini belum
sepenuhnya menjadi identitas bagi kota Jombang.
Pulau jawa bagian timur, beberapa daerah memiliki seni budaya
ludruk. Tetapi banyak orang yang kurang mengenal seni budaya
ludruk yang berasal dari Jombang. Tujuan penulis dalam kajian
4
fenomenologis ini yaitu ingin memperkenalkan secara mendalam
tentang seni kebudayaan ludruk yang berasal dari Jombang, agar
nampak perbedaan antara seni kebudayaan ludruk yang berasal dari
Jombang dengan seni kebudayaan yang berasal dari daerah lain.
Kerangka Kerja Teoritik
Budaya
Kebudayaan berasal dari kata Sanksekerta ”Buddhayah”, yaitu
bentuk jamak dari Buddhi yang berarti “budi” atau akal. Arti ini
dapat menjadi dasar sebuah definisi bahwa kebudayaan diartikan
sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal (Koentjaraningrat,
2002).
Ki Hajar Dewantara (Supartono, 2004) mengartikan kebudayaan
yaitu buah budi manusia, yakni hasil perjuangan manusia ter-
hadap dua pengaruh kuat, alam dan zaman (warga ), yang
me rupakan bukti kejayaan manusia untuk mengatasi berbagai
rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya
guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan, yang pada lahirnya
bersifat tertib dan damai.
Menurut A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn, dalam bukunya
Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions (1952 dalam
Supartono, 2004) mengatakan bahwa kebudayaan yaitu manifestasi
atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluasluasnya.
Unsur-unsur Kebudayaan
Koentjaraningrat (1996) membagi unsur kebudayaan menjadi
tujuh yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem
peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencahariaan hidup,
sistem religi dan kesenian.
5
Wujud Kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat dalam karyanya tentang kebudayaan,
mentalitet, dan pembangunan menyebutkan
bahwa paling sedikitnya ada 3 wujud kebudayaan, yaitu :
1. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
2. Sebagai suatu kompleks aaktivitas kelakuan berpola dari
manusia dalam warga .
3. Sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Sifat-sifat Kebudayaan
Selain memiliki unsur dan wujud, kebudayaan juga memiliki
sifat. Sifat-sifat kebudayaan sangat banyak mengingat juga
beragamnya kebudayaan kita. Secara umum, sifat kebudayaan ada
tujuh (Supartono, 2004), yaitu :
1. Beraneka ragam.
Keanekaragaman kebudayaan itu disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain sebab manusia tidak memiliki struktur anatomi
secara khusus pada tubuhnya sehingga harus menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, kebudayaan yang
diciptakan pun disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya. Selain
itu, keanekaragaman juga disebabkan oleh perbedaan kadar atau
bobot dalam kontak budaya satu bangsa dengan bangsa lain.
Sehingga pakaian, rumah, dan makanan bangsa Indonesia di daerah
tropik jauh berbeda dengan yang diperlukan oleh bangsa Eskimo di
daerah Kutub.
2. Didapat dan diteruskan secara sosial dengan pelajaran.
Penerusan kebudayaan dapat dilakukan secara horizontal
dan vertikal. Penerusan secara horizontal dilakukan terhadap
satu generasi dan biasanya secara lisan, sedangkan penerusan
se cara vertikal dilakukan antar generasi dengan jalan melalui
6
tulisan (literer). Dengan daya ingat yang tinggi, manusia mampu
menyimpan pengalaman sendiri maupun yang diperoleh dari
orang lain.
3. Dijabarkan dalam komponen-komponen.
Kebudayaan dijabarkan dalam komponen-komponen bio-
logi, psikologi dan sosiologi, dimana ketiga ilmu ini merupakan
tiga komponen yang membentuk pribadi manusia. Secara
biologis, manusia memiliki sifat-sifat yang diturunkan oleh
orang tua (hereditas) yang diperoleh sewaktu dalam kandungan
sebagai kodrat pertama (primary nature). Bersama dengan itu
manusia juga memiliki sifat-sifat psikologi yang sebagian di-
perolehnya dari orangtuanya sebagai dasar atau bawaan.
Setelah seorang bayi dilahirkan dan berkembang menjadi anak
dalam alam kedua (secondary nature), terbentuklah pribadinya
oleh lingkungan, khususnya melalui pendidikan. Manusia
sebagai unsur warga dalam lingkungan ikut serta dalam
pem bentukan kebudayaan.
4. memiliki struktur.
Cultural universal yang telah dikemukakan, unsur-unsur-
nya dapat dibagi dalam bagian-bagian kecil yang disebut traits
complex, lalu terbagi dalam traits, dan terbagi lagi dalam items.
Misalnya, sistem ekonomi dapat dibagi antara lain bertani.
Dalam bertani diperlukan bajak dan cangkul. Kedua
alat ini dapat dipisahkan lagi menjadi unsur yang ter-
kecil. Bagitu pula dengan kebudayaan nasional terdiri atas
ke budayaan suku bangsa yang merupakan subkultur yang
dapat dibagi lagi menurut daerah, agama, adat istiadat dan se-
bagainya.
5. memiliki nilai.
Nilai kebudayaan (culture value) yaitu relatif, bergantung
pada siapa yang memberikan nilai, dan alat pengukur apa
7
yang dipergunakan. Bangsa Timur misalnya, cenderung mem-
pergunakan ukuran rohani sebagai alat penilaiannya, sedang-
kan bangsa Barat dengan ukuran materi.
6. Bersifat statis dan dinamis.
Kebudayaan dan warga sebenarnya tidak mungkin
statis 100%, sebab jika hal itu terjadi sebaliknya dikatakan mati
saja. Kebudayaan dikatakan statis apabial suatu kebudayaan
sangat sedikit perubahannya dalam tempo yang lamu.
Sebaliknya, apabila kebudayaan cepat berubah dalam tempo
singkat dikatakn kebudayaan itu dinamis.
7. Dapat dibagi dalam bidang atau aspek.
Kebudayaan dapat dibagi dalam bermacam-macam bidang
atau aspek, diantaranya ada yang sifatnya rohani (spiritual) dan
ada yang bersifat kebendaan (material culture), ada kebudayaan
darat (terra)dan ada kebudayaan maritim (aqua culture) dan
ada kebudayaan menurut daerah (kebudayaan suatu suku
bangsa atau subsuku bangsa, areal culture). Semua bergantung
pada siapa yang mau membedakannya dan untuk apa itu
dilakukan.
Konflik
Konflik yaitu hubungan antara dua pihak atau lebih (individu
atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memilik sasaran-
sasaran yang tidak sejalan. Bahkan lebih dari itu, konflik berarti
adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang,
kelompok-kelompok atau organisasi
Konflik berkaitan dengan perbedaan, ketidaksesuaian, oposisi
atau pertentangan. Konflik bisa terjadi kapan saja, terutama dalam
warga yang plural dengan beranekaragam kepentingan dan
sasaran. Jadi konflik mengandaikan pluralitas dan perbedaan, dan
konflik bersifat merusak. Konflik juga berkaitan dengan penanganan
8
pluralitas. Konflik akan timbul kalau pluraritas tidak dipahami dan
dikelola dengan baik.
Jenis Konflik
Konflik bisa diklasifikasikan berdasar berdasrkan beberapa
aspek tertentu
1. Dilihat dari segi manfaatnya.
a) Koflik yang bermanfaat.
b) Konflik yang tidak bermanfaat.
2. Dilihat dari segi hasilnya.
a) Konflik Destruktif.
Konflik yang tidak bermanfaat sebab menimbulkan
kerugian bagi warga , individu, kelompok, organisasi
yang terlibat didalamnya. Misalnya, rasa cemas atau stres
mencekam yang sebenarnya tidak perlu.
b) Konflik Konstruktif.
Konflik yang bermanfaat sebab bersifat membangun
dan membawa manfaat dan keuntungan sebab bersifat
membangun, membawa manfaat dan keuntungan bagi
mereka yang terlibat.
3. Dilihat dari segi tipe atau bentuk.
a) Konflik tugas.
Yakni konflik sebab tuntutan tugas.
Misalnya, dalam perusahaan petugas penjualan
dengan kredit hampir selalu berkonflik dengan petugas
keuangan yang mengawas kredit. Dalam politik penguasa
selalu konflik dengan oposisi.
b) Konflik hubungan.
Yakni konflik yang berfokus pada hubungan antar
pribadi.
9
c) Konflik proses
Yakni konflik yang menyangkut silang pendapat
mengenai proses yang harus ditempuh. Misalnya, konflik
dalam mengerjakan satu pekerjaan.
4. Dilihat dari tingkatannya.
Konflik dapat berupa satu kontinuum yang mulai pada
tingkat yang rendah (salah paham kecil) sampai paling tinggi
(upaya terang-terangan menghancurkan pihak lain).
Pola Konflik
Menurut Stephen Robbins (Ujan, 2009), konflik biasanya
mengikuti satu pola teratur yang terdiri dari lima tahap, yakni
adanya potensi oposisi, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku,
dan hasil.
1. Adanya potensi oposisi
noPada tahap pertama ini hanya ada kondisi yang
menciptakan peluang terjadinya konflik. Kondisi ini harus
ada demi munculnya suatu konflik, walaupun kondisi ini
tidak otomatis menimbulkan konflik. Ini bisa terjadi sebab
masalah komunikasi, entah kurangnya komunikasi, gangguan
komunikasi dan kondisi-kondisi yang merupakan menjadi
tendensi terjadi konflik. Atau bisa juga sebab masalah struktur
dalam organisasi atau warga dan bisa juga sebab masalah
perbedaan kepribadian. Sering kita bertemu dengan orang
langsung tidak kita sukai.
2. Kognisi dan Personalisasi
Konflik baru terjadi pada tahap ini, dimana orang ter
pengaruh oleh kondisi pertama yang kemudian ditingkatkan.
Pada tahap ini orang atau pihak mulai sadar atau merasa adanya
konflik. Tahap pertama tidak akan menjadi konflik kalau
tidak dilanjutkan dengan proses kesadaran akan ada konflik.
10
Setiap orang punya tameng yang sangat kuat untuk menahan
gempuran dari luar untuk menguasai sikap dan tingkah
lakunya. Selama tameng itu berfungsi, konflik tidak terjadi.
Konflik terjadi kalau gangguan dari luar itu berhasil menerobos
tameng. Itu berarti bahwa orang itu sudah merasakan adanya
konflik.
3. Maksud (Intensions)
Maksud (Intensions) ini berada diantara kesadaran ada nya
konflik (tahap 2) dan perilaku (tahap 4). Setelah ke sadaran ada
nya konflik, timbul maksud dibalik konflik itu, yang didukung
oleh perilaku. Perilaku memang tidak langsung memperlihatkan
maksud. sebab itu maksud harus di cermati. Konflik sering
menjadi intens sebab pihakpihak yang berkonflik tidak
mengerti dengan baik maksud masing-masingnya.
Ada lima pokok maksud yang sering dikaitkan dengan
kadar kooperatif dan kadar ketegasan, yakni :
a. Bersaing (tegas tapi tidak kooperatif)
b. Berkolaborasi (tegas dan kooperatif, semua pihak meng-
inginkan agar tujuan mereka tercapai)
c. Menghindar (tidak tegas dan tidak kooperatif)
d. Mengakomodasi (kooperatif dan tidak tegas)
e. Berkompromi (tengah-tengah, tingkat ketegasan dan tingkat
kooperatif sama kadarnya, sebab masing-masing pihak
melepaskan sesuatu)
4. Perilaku
Konflik sudah disadari pada tahap kedua tapi baru tampak
nyata pada tahap 4 yakni perilaku. Pada tahap ini, muncul
sebuah pernyataan, tindakan, dan reaksi yang ditimbulkan
oleh pihakpihak yang berkonflik. Konflik itu bisa pada tingkat
yang kecil (salah paham kecil) sampai paling tinggi (upaya
terang-terangan menghancurkan pihak lain.
11
5. Hasil
Konflik biasanya ada hasilnya, baik konstruktif ataupun
dekons truktif. Konflik itu konstruktif jika menghasilkan krea
tivitas, gagasan baru, kekuatan baru, dan perbaikan-perbaikan.
Sedangkan dekonstruktif jika konflik itu justru membawa efek
efek yang negatif. Konflikkonflik konstruktif harus ada kalau
perlu diciptakan. Supaya konflik itu membawa hasil yang baik
untuk kedua belah pihak.
Mengelola Konflik
Konflik bisa dihadapi dengan cara bersikap acuh tak acuh atau
menekannya. Artinya, konflik akan berkembang secara tidak ter
atur menjadi kekuatan yang konstruktif atau destruktif. Konflik
bisa juga ditekan, sehingga dampak konflik negatif menurun.
Tetapi itu hanya penyelesaian dipermukaan. Konflik bisa juga di
selesaikan artinya konflik ditiadakan bersama dengan semua
kondisi dan penyebab timbulnya konflik. Tetapi sebab konflik juga
dapat bermanfaat (konstruktif) maka konflik tidak selalu harus
ditiadakan, melainkan bisa dikelola pada tingkat dan kadar tertentu
agar membawa manfaat
Mengelolah konflik bisa dengan melakukan berbagai
pendekatan, diantaranya: pencegahan koflik, penyelesaian konflik,
pengelolahan konflik., resolusi konflik, dan transformasi konflik
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi.
Penelitian psikologis fenomenologis bertujuan untuk mengklari fi
kasi situasi yang dialami dalam kehidupan seseorang sehari-hari
(Giorgi & Giorgi, 2008). Subyek penelitan memiliki kriteria pelaku
yang ikut berperan dalam pelestarian kebudayaan ludruk, baik laki-
12
laki maupun perempuan. Informan dalam penelitian ini yaitu
Lurah daerah Pandanwangi (dimana daerah ini menjadi salah
satu daerah pelestarian ludruk di kota Jombang), pemilik pagu-
yuban ludruk, Kepala dan Seksi Kebudayaan Jombang (2003-2010).
jumlah informan penelitian 3 orang. Data dalam penelitian ini juga
menggunakan dokumen tertulis dan tidak tertulis untuk mem-
berikan informasi tambahan.Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil
Ludruk yaitu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur,
tepat nya dari kabupaten Jombang. Ludruk merupakan suatu drama
tra disional rakyat yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang
di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang
ke hidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya
yang ceritanya sangat luwes dan diselingi dengan lawakan dan di-
iringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog atau monolog dalam
ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa serta
meng gunakan bahasa khas Bahasa lugas
yang dipakai pada ludruk mudah diserap oleh kalangan non
intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum).
Ludruk berbeda dengan ketoprak, dizaman dahulu cerita
ketoprak mengambil dari cerita tentang istanah (Istana Centris)
atau pemerintah (Wawancara Subyek 1, 10/05/2012). Sebagai akhir
cerita, ketoprak selalu memihak kepada pemerintah, bertujuan untuk
meninggikan hargat dan martabat pemerintah.
Ketoprak dipakai sebagai alat pemerintah untuk menegakkan
aturan yang dibuat oleh mereka dan bersifat merendahkan
warga . Sedangkan ludruk dizaman dahulu sering dipakai
warga sebagai alat pemberontakan terhadap pemerintahan
yang bersifat menindas kepada warga . Sedangkan dizaman
sekarang, perbedaan antara ludruk dan dan ketoprak yaitu dari
13
cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah
maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu.
Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya)
kalangan wong cilik. Pementasan ludruk selalu diawali dengan tari
remo dan tarian lain yang melibatkan para tandak, yakni penari pria
yang didandani seperti wanita
Sejarah Terbentuknya Seni Kebudayaan Ludruk
Sebelumnya, seni kebudayaan ludruk bernama Lerok (1907).
Di sebut lerok sebab pemainnya setiap keluar (main) dengan mata
plerak-plerok (melihat dengan tatapan tajam dan melihat beberapa
penjuru) dan bergerak dengan udel (pusar) kelihatan
Lerok ini ada bermula dari sepasang suami istri (tidak diketahui
namanya) di musim sebelum panen, mereka menganggur dirumah
dan tidak memiliki penghasilan. Mereka punya inisiatif untuk
mengamen keliling tapi sebab malu jika diketahui oleh tentangga
sebab sedang mengamen, akhirnya akhirnya menutupi wajah
aslinya dengan make up, make up yang dipakai yaitu make up
alami yakni tumbukan beras sebagai bedak dan tumbukan pandan
sebagai lipstiknya.
Kostum yang dipakai yaitu baju yang terbuat dari karung
goni (bago) dan mereka mengamen dengan lagu seperti sinden yang
berisi tentang dialog sepasang suami isteri yang saling cemburu,
dan ini menjadi rutinitas mereka saat menunggu masa panen
sawah. Lamakelamaan akhirnya sepasang suamiisteri ini memiliki
inisiatif untuk menjadikan kegiatan rutin mereka ini menjadi sebuah
pementasan diatas panggung. Peragaan lerok ini memunculkan
dua peraga dan menamakan diri dengan nama Besut sebagai suami,
dan Rusmini sebagai isteri yang selalu cemburu kepada suaminya
saat sudah mulai tampil diatas panggung, kesenian ini sudah
tidak dikenal sebagai lerok lagi melainkan dikenal dengan sebutan
kesenian Besutan (1920-1955). Tapi saat sudah menjadi besutan,
terjadi beberapa penambahan dalam pementasan.
Kesenian besutan ini bertambah atu peraga, sehingga peraganya
berjumlah tiga orang dan masing-masing peraga sudah memiliki
nama tokoh dan karakter tokoh yang sudah tetap dan menjadi khas
dari kesenian ludruk sendiri. Tiga peraga ini bernama Besut,
Rusmini dan Gondo Jamino. Pada seni besutan, karakter Besut dan
Rusmini memiliki karakter yang sama dengan yang ada dikesenian
lerok, hanya saja bertambah satu lakon yakni Gondo Jamino, dia yaitu
paman dari Rusmini yang berperan sebagai penengah antara Besut
dan Rusmini
Sejak awal keberadaannya, seni besutan belum diiringi oleh
alat musik, melainkan diiringi dengan musik mulut dengan meng-
gunakan nada cengko jombangan. Cerita yang dibawakan yaitu
tentang kehidupan rumah tangga, namun tetap membawa nilai
nilai pelajaran yang baik untuk disampaikan kepada penonton
Pada tahun 1955, besutan berubah nama menjadi ludruk.
Saat berubah menjadi ludruk terjadi beberapa perubahan. Pemain
dalam ludruk bertambah banyak menjadi 20 orang. Karakter tokoh
Besut, Rusmini dan Gondo Jamina tidak lagi dipakai , dan tidak
lagi membawakan cerita tentang rumahtangga, melainkan mem
bawakan cerita tentang legenda dan fantasi (dongeng), namun
demikian tetap menyelipkan nilai-nilai normatif yang disampaikan
kepada penonton. Pementasan ludruk ini memakan waktu 24 jam
dalam sekali tampil
Pada pementasan ludruk, tokoh perempuan diperankan oleh
laki-laki, ini terjadi sebab pada zaman itu perempuan tidak boleh
tampil diatas panggung dan hanya boleh membantu dibelakang
panggung
15
Setelah tahun 1975, ludruk mengalami perubahan musik,
dari musik yang dimainkan dengan mulut menjadi seperangkat
alat musik gamelan. Cerita yang dibawakan pun berkembang
menjadi cerita kritikan kepada pemerintah
Pihak yang berperan dalam pelestarian seni kebudayaan
ludruk ini
Pihak yang mengambil peran besar dalam pelestarian ludruk
ini yaitu pemerintah dan seniman ludruk. Pemerintah memberi
fasilitas kepada warga untuk mempelajari kesenian ludruk
dan seniman berperan dalam memberi pembelajaran tentang
ludruk. Sanggar-sanggar kesenian ludruk juga didirikan sebagai
apre siasi bagi para seniman pemuda yang tertarik terhadap ludruk
Usaha Pemerintah Jombang dalam Mempertahankan
Seni Kebudayaan Ludruk
Usaha-usaha pemerintah Jombang yang telah dilakukan pada
periode 2002 sampai 2010 diantaranya sebagai berikut:
1. Festival Ludruk
Pada tahun 2002 pemerintah kabupeten Jombang Bagian
Kebudayaan menyelenggarakan Festival Ludruk yang khusus
diadakan hanya untuk warga kota Jombang. Festival
ini diikuti oleh lebih dari 55 grup kesenian ludruk. Festival
ini diselenggarakan hingga Festival Ludruk ke-II pada tahun
2003, namun sebab terjadi keluh kesah dari bebepara peserta
festival.
Keluh kesah mereka yaitu adanya apresiasi dalam bentuk
materil kepada pada peserta festifal sekalipun mereka tidak
me menangkan festifal ini . permintaan ini menjadi
16
titik balik atas berhentinya festival ludruk yang ke-II saja
pada tahun 2003 disebab kan pemerintah merasa keberatan
dengan permintaan para peserta festival
2. Revitalisasi
Beberapa revitalisasi telah dilakukan oleh pemerintah
pada kesenian ludruk, seperti waktu penampilan ludruk dalam
sekali pentas. Sebelumnya ludruk membutuhkan waktu 24 jam
dalam sekali penampilan, sebab dirasa terlalu lama dan di-
takutkan setelah sekali tampil pemain tidak bisa memberikan
pemampilan kembali kerena lelah setelah tampil selama 24
jam, maka kemudian waktu penampilan diperpendek menjadi
2 jam dalam sekali penampilan. Namun demikian, waktu 2
jam oleh beberapa penonton juga masih dirasa terlalu lama
dan membuat dalam menyaksikan pertunjukan. Sehingga,
waktu penampilan diperpendek kembali menjadi 1.5 jam,
waktu sedemikian juga masih dirasa terlalu lama hingga pada
akhirnya waktu penampilan ludruk pun menjadi 1 jam dalam
sekali penampilan hingga sekarang
3. Pentas Keliling
Setelah melakukan Festival khusus kota Jombang
dan revitalisasi, usaha pemerintah tidak berhenti dalam
melestarikan kesenian ludruk. Usaha selanjutnya yang
dilakukanoleh pemerintah yaitu mengadakan Pentas Keliling.
Pentas ini diikuti oleh 17 grup dan semuanya dari kota Jombang
4. Mendirikan PALAMBANG
Setelah dirasa Pentas Keliling kurang efektif sebagai cara
untuk melestarikan kesenian ludruk, Pemerintah Kebudayaan
dan Pariwisata mendirikan sebuah paguyuban yang diberi
17
nama PALAMBANG (Paguyuban Ludruk Arek Jombang),
paguyuban ini dipimpin oleh H. Syahid dan grup ludruk ini
dikenal dengan nama “Budiwijaya”. Tujuan didirikannya
paguyuban ini yaitu agar seluruh seniman ludruk di Jombang
bisa akur dan bersatu untuk melestarikan kesenian ini bersama-
sama
Pada tahun pertama berdirinya PALAMBANG, paguyuban
ini sudah berhasil merebut gelar juara di perlombaan ludruk
yang diselenggarakan oleh pemerintah Yogyakarta. Pada
awalnya, grup ludruk dari Jombang meraih juara 1 dan grup
dari Yogyakarta meraih juara 2, namun sebab permintaan
dari tuan rumah untuk bertukar posisi, akhirnya saat
pengumuman pemenang Jombang mendapat anugrah sebagai
juara 2 dan Yogyakarta sebagai juara 1. Namun demikian, kota
Jombang tetap menerima hadiah juara 1
Pada saat pemilihan kepala desa (PILKADA), salah satu
calon kepala daerah menarik simpati warga Jombang dengan
cara mengajak grup ludruk asal PALAMBANG untuk ikut ber-
kampanye. Penampilan ludruk ini menggunakan dialog bahasa
Indonesia, namun tidak meninggalkan pakem-pakem yang sudah
menjadi ciri khas ludruk
5. Festival Ludruk SeJawa TImur
Pada tahun 2008, Dinas Pariwisata Provinsi Surabaya
mengadakan festival kesenian ludruk. Jika sebelumnya
pemerintah Dinas Pariwisata Provinsi Surabaya menggelar
festival ludruk se Jawa Timur di Malang dan Surabaya, namun
untuk tahun 2008 secara istimewa Pemerintah Dinas Pariwisata
Provinsi Surabaya menyelenggarakan festival ini di Jombang,
festival ini sekaligus untuk mematenkan kesenian ludruk
sebagai kesenian yang menjadi identitas dari kota Jombang.
18
Festival ini diikuti dari beberapa kota yang ada di Jawa Timur
yakni: Kediri, Jember, Lamongan, Malang, Mojokerto, Madura,
Jombang dan Surabaya
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga menggelar Festival
Ludruk Pelajar SeJawa Timur pada hari Sabtu, 6 Oktober 2012
di Surabaya. Festival ini diikuti lebih dari 13 peserta dari kota
dan kabupaten di Jawa Timur, di antaranya Surabaya, Gresik,
Mojokerto, Jombang, Malang, Probolinggo, Jember, Trenggalek,
Bangkalan, dan Banyuwangi
6. Pelatihan
Pada pelestarian kesenian ludruk, pemerintah tidak
hanya melakukan pementasan-pementasan ludruk supaya
masya rakat mengenal kesenian ini, disisi lain pemerintah
juga meningkatkan kualitas penampilan para seniman ludruk
dengan melakukan pelatihan. Pelatihan yang dilakukan yaitu
pe latihan menjadi sutradara, manajemen dalam pementasan
ludruk, serta mendatangkan beberapa narasumber yang ahli
dalam kesenian ludruk ini.
Salah satu narasumber yang pernah didatangkan oleh
pe merintah untuk memberi pengetahuan lebih mendalam
tentang ludruk yaitu Harjono W.S. yang datang dari Mojo-
kerto dan Hengky dari TVRI Surabaya
Pelatihan ini bukan hanya untuk para seniman yang
sudah menjadi pemain tetap dalam pementasan ludruk, namun
pelatihan ini juga dilakukan dibeberapa sekolah SMA dan SMK
yang ada di Jombang.
Bahkan salah satu SMK yang ada di daerah Ploso berhasil
mem bentuk grup ludruk meskipun tidak semua personil yaitu
siswa SMK. Siswa SMK hanya bermain sebagai sinden dan koor
yang dilakukan siswa putri dan siswa putra sebagai lakonnya
Selain pelatihan dalam segi penampilan, juga dilakukan
pelatihan penulisan skenario kepada para anak muda terutama
para siswa SMK dan SMA di beberapa daerah, seperti Ploso
7. Memotivasi Anak Muda dalam Mengenal Seni Ludruk
Semua usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah tidak
akan menuai hasil tanpa adanya semangat serta keinginan
dari anak muda untuk belajar dan mendalami kesenian ludruk
ini. Untuk itu pemerintah mengadakan beberapa perlombaan
kesenian ludruk khusus untuk anak muda terutama para siswa
SMA dan SMK.
Dan usaha ini berhasil meningkatkan minat anak muda
untuk belajar dan ikut serta melestarikan kesenian ludruk ini.
Bahkan di MAN 3 Ploso menjadikan kesenian ludruk menjadi
ekstra kulikuler di Sekolah mereka
Fakta-fakta Lain Tentang Ludruk
Berikut ini yaitu beberapa fakta yang ada dalam kesenian
ludruk diluar beberapa pembahasan diatas, diantaranya:
1. Meluasnya Ludruk ke Daerah Lain
Semakin banyaknya seniman ludruk di Jombang dirasakan
oleh sebagian seniman dengan semakin menipisnya penghasilan
mereka dalam jumlah pementasan dalam satu grup ludruk.
Sehingga beberapa seniman memutuskan untuk meninggalkan
Jombang. Para seniman ludruk melakukan hijrah ke beberapa
kota seperti Lamongan, Kediri, Madura, Mojokerto, Jember
dan Surabaya
Hijrah ini akhirnya membawa ludruk menjadi seni
kebudayaan beberapa daerah kota yang ada di Jawa Timur
). Namun sayangnya, dengan
berjalanannya waktu justru ludruk lebih dikenal sebagai seni
kebudayaan kota-kota lain selain Jombang, ini disebabkan
banyak seniman lebih memilih melakukan penampilan dan
atau berpentas diluar Jombang dengan alas an honor yang
diberikan lebih besar daripada honor yang diterima di Kota
Jombang.
Saat ini, ludruk lebih dikenal sebagai seni budaya dari
Surabaya, sebab di Kota Surabaya banyak terdapat seniman
Jombang yang bermukim disana dan dibeberapa sekolah
menengat atas membentuk ekstrakulikuler ludruk, hal ini
berbeda dengan di Jombang yang pada dasarnya yaitu
penggagas kesenian ludruk, dimana tidak ada sama sekali
sekolah yang menjadikan ludruk sebagai ekstrakulikuler.
2. Perbedaan Ketoprak dan Ludruk.
Ketoprak Ludruk
Mengangkat kisah tentang istanah
sentris.
Mengangkat kisah tentang
rakyat sentris
Cerita selalu mengunggulkan pe-
merintah/keraton/istanah.
Cerita selalu mewakili
aspirasi warga atau
rakyat.
Alat untuk pemerintah dalam
memberlakukan beberapa aturan-
aturan yang dibuat pemerintah.
Pemberontakan masyarkat
terhadap kepemimpinan yang
tidak Pro rakyat.
3. Citra Kesenian Ludruk.
Dimata warga umum, citra kesenian ludruk cukup
baik, namun tidak dimata warga yang memiliki latar
belakang religius (pesantren). Dimata pesantren, ludruk
dikenal sebagai kesenian yang tidak baik, itu disebabkan dulu
pementasan lundruk sering dimanfaatkan oleh beberapa pihak
21
yang tidak baik sebagai ajang mabuk-mabukan dan perjudian
saat berlangsungnya pementasan
Itu sebabnya pesantren kurang bisa menerima menerima
kebudayaan ludruk dan menganggap ludruk yaitu sebuah
kesenian yang kurang baik. Namun jika melihat kemasa
silam, menyebarkan islam pada zaman walisongo salah satu
medianya yaitu dengan menggunakan ludruk
Diskusi
Menurut hasil observasi yang telah diperoleh, ludruk ini sudah
bisa dikategorikan sebagai kebudayaan, sebab ludruk yang bergerak
dibidang seni ini sudah sesuai dengan pengertian kebudayaan.
Yakni manifestasi dari cara berpikir, sehingga menurutnya pola
kebudayaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan ter-
cakup didalam perasaan, sebab perasaan juga merupakan maksud
dari pikiran.
Ludruk juga memenuhi beberapa unsur-unsur kebudayaan
yakni:
1. bahasa, yang berupa bahasa jawa jombangan yang terdapat
didalam lirik lagu kidungan.
2. terdapat sistem pengetahuan yang berupa informasi-informasi
atau nilai-nilai norma yang disampaikan pemain dalam
penampilannya.
3. adanya organisasi sosial yang berupa paguyuban ludruk arek
jombang (PALAMBANG).
4. sistem mata pencahariaan hidup, ini terlihat dari banyaknya
seniman ludruk yang lebih memilih hijrah ke daerah lain
diluar kota Jombang, sebab di kota Jombang sudah banyak
sekali seniman ludruk yang muncul sehingga menjadikan
22
penghasilan seniman yang sudah lebih dulu tumbuh menjadi
berkurang, sedangkan di luar kota Jombang masih sedikit
bahkan bisa dikatakan belum ada seniman ludruk yang muncul
sehingga mereka yang berhijrah ke daerah lain bisa mendapat
penghasilan yang cukup besar.
5. adanya sistem religi, pada zaman walisongo ludruk dipakai
sebagai alat penyampaian pendidikan agama. Hal itu tetap ter-
jadi hingga saat ini, pementasan ludruk tidak pernah lupa untuk
menyisipkan pembelajaran religi didalam ceritanya, sebab
ludruk ini memiliki fungsi utama sebagai alat berdakwah.
6. dan kesenian. Ini sudah jelas terlihat dari adanya alat musik
gamelan yang memiliki unsur kesenian dan nyanyian lagu
kidungan.
Analisa Konflik
Terjadinya konflik antara penduduk pesantren dan penduduk
umum yang menggeluti kesenian ludruk. Konflik ini mengalami per
geseran, namun hanya sampai pergeseran pada pergeseran kedua.
Pergeseran pertama yaitu aliran tradisional yang mana pada
awalnya ada anggapan bahwa konflik itu berkonotasi negatif. Konflik
itu menghambat perkembangan ludruk dan keharmonisan antara
warga umum yang menggeluti ludruk dengan warga
pesantren. Konflik menimbul kekacauan, yakni adanya larangan
santri pesantren untuk menonton penampilan ludruk.
Konflik ini dilihat sebagai hasil disfungsional sebagai akibat
dari kurangnya komunikasi, kurangnya keterbukaan antara pihak
pesantren dengan pihak seniman ludruk, dan juga kurang percaya
yang muncul dari pihak penduduk pesantren terhadap seniman
ludruk yang sebenarnya tidak memiliki unsur-unsur yang melanggar
syari’at islam dalm segi cerita.
Hanya saja satu dilemma yang tidak bisa dipungkiri yakni
23
peran perempuan yang diperankan oleh lelaki, namun ini terjadi
sebab memiliki alasan yang tidak kalah penting, yakni menjaga
perempuan supaya tidak tampil didepan umum sebab saat
seorang perempuan tampil didepan umum maka itu melanggar
norma yang berlaku, yang mana norma itu juga ada didalam syari’at
islam. Konflik ini berlangsung kuat pada dasawarsa 1930an dan
1940-an. Dan sekarang sudah tidak terjadi sebab tokoh perempuan
sudah dibawakan oleh perempuan dan bukan lagi lelaki.
Pergeseran yang kedua yaitu aliran human relations. Lebih
lanjut muncul pemahaman bahwa konflik itu fakta yang tidak dapat
dihindari. Ada anggapan bahwa konflik itu merupakan kejadian
alamiah yang selalu terjadi dalam warga , organisasi, kelompok
dan kehidupan bersama sosial mana pun. Konflik tidak dapat
dihindari, sebab masih banyak terjadi unsur-unsur pelanggaran
syari’at islam didalam berlangsungnya penampilan yakni masih
banyak terjadi mabuk-mabukan dan perjudian yang dilakukan
oleh oknumoknum yang tidak bertanggungjawab. Aliran ini
berpengaruh pada dasawarsa 1940an dan pertengahan 1970an.
Jenis Konflik yang terjadi tergolong konflik yang tidak ber
manfaat dari segi hasil, termasuk konflik destruktif, sebab konflik
nya menimbulkan kerugian bagi pihak seniman ludruk yang berupa
kemunduran dan terjadi penghambatan dalam pelestarian kesenian
ludruk ini sebab warga sudah menjadi mind setting yang
bersifat negatif terhadap ludruk. Sehingga warga sulit me-
nerima kesenian ini.
Dilihat dari segi tipe atau bentuk, konflik ini termasuk konflik
proses sebab konflik ini menyangkut silang pendapat mengenai
proses atau cara penyampaian dakwah kepada warga umum.
Dilihat dari tingkatannya, konflik ini terjadi pada tingkat yang
sedang sebab tidak sampai menjadi terganggunya hubungan
individu antara kedua pihak.
Teori penyebab terjadinya konflik ini yaitu teori
24
negosiasi prinsip. Konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras
dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihakpihak yang
mengalami konflik. Pada akhirnya terlihat perbedaan pemahaman
dalam penyampaian dakwah kepada warga umum yang
sesungguhnya memiliki tujuan yang sama.
Mengelola Konflik
Mengelolah konflik ini akan kurang efisien jika konflik dihadapi
dengan cara bersikap acuh tak acuh atau menekannya. Yakni
konflik dibiarkan berkembang menjadi kekuatan yang konstruktif.
Sehingga konflik mengalami penekanan, dan dampak konflik
negatif menurun. Tetapi kemudian muncul kembali diwaktuwaktu
tertentu.
Konflik bisa juga diselesaikan artinya konflik ditiadakan
bersama dengan semua kondisi dan penyebab timbulnya konflik.
Yakni dengan cara melakukan resolusi dan transformasi.
Pola Konflik yang terjadi, ada lima tahap dan ini sesuai dengan
teori yang disampaikan oleh Stephen Robbins, yakni pertama,
adanya potensi oposisi yang berupa tidak adanya musyawarah
antara kedua belah pihak, dimana seharusnya pihak pesantren
menanyakan apakah benar kabar yang menyebutkan bahwa ludruk
itu tempat orang melakukan perjudian dan mabuk-mabukan atau
pihak seniman ludruk menjelaskan bahwa ludruk bukan ajang
untuk melakukan maksiat. Jika terjadi perjudian dan mabuk-
mabukkan didalam pementasan ludruk yang dilakukan penonton
sesungguhnya itu diluar kuasa para pelaku pementasan.
Tahap selanjutnya yaitu Kognisi dan Personalisasi. Yakni
orang terpengaruh oleh kondisi pertama yang kemudian di-
tingkatkan. Banyak pihak yang akhirnya terpengaruh adanya
isu yang sebenarnya hanya terjadi sekali, yang membuat pihak
pesantren menilai negatif pada kesenian ludruk ini . Tahap
25
yang selanjutnya yaitu Maksud (Intensions), yaitu adanya konflik
ini bermaksud supaya para santri tidak menonton ludruk dengan
tujuan agar mereka tidak terseret kedalam hal-hal yang buruk yaitu
perjudian dan mabuk-mabukkan.
Tahap yang keempat yaitu perilaku, dimana akan muncul
pernyataan, tindakan, dan reaksi yang ditimbulkan oleh pihak-
pihak yang berkonflik, pesantren, dengan melarang santrinya
untuk menyaksikan ludruk. Konflik ini berada pada level paling
tinggi sebab berakibat menghancurkan pihak seniman ludruk.
Tahap yang terakhir yaitu hasil. Hasil yang dimunculkan dalam
konflik ini yaitu dekonstruktif yang membawa efekefek yang
negatif kepada pihak seniman ludruk dan akhirnya terhambat dalam
pengembangan kesenian ludruk.
Kesimpulan
Seni kebudayaan ludruk yaitu kesenian drama tradisional dari
Jawa Timur, tepatnya dari Kabupaten jombang. Ludruk merupakan
suatu drama tradisional rakyat yang diperagakan oleh sebuah grup
kesenian yang digelarkan disebuah panggung dengan mengambil
cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan
dan lain sebagainya, dan cerita dipentaskan dengan sangat luwes,
diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai
musik. Ludruk juga dipakai sebagaia alat penyampaian dakwah
kepada warga umum.
Sejarah terbentuknya seni kebudayaan ludruk pada awalnya
bernama Lerok (1907), kemudian berubah menjadi Besutan (1920-
1955). Seiring perkembangannya, pada akhirnya berubah ditahun
1955 menjadi ludruk. Hingga saat ini dikenal sebagai kesenian
kebudayaan ludruk.
Sebagai seni, beberapa pihak seharusnya merasa memiliki
26
dan ikut berperan dalam pelestarian seni kebudayaan ludruk,
mereka yaitu pemerintah Jombang dengan cara memberi fasilitas
kepada warga dan melakukan usaha yang bisa meningkatkan
minat warga dengan cara melakukan perlombaan-lombaan,
membangun atau membuat paguyuban atau sanggar ludruk.
Usaha pemerintah Jombang dalam mempertahankan seni
kebudayaan ludruk diantaranya yaitu pada periode 2002 sampai
2010 dengan menyelenggarakan festival ludruk, revitalisasi terhadap
kesenian ludruk, menyelenggarakan pentas keliling, pendirian
PALAMBANG, Menyelenggarakan festival ludruk SeJawa Timur,
mengadakan pelatihan kepada seniman-seniman muda ludruk
dan kepada warga yang berminat belajar kesenian ludruk ini,
pemberian fasilitasdan memberikan dorongan kepada generasi
muda dengan cara mengadakan perlombaan-perlombaan kesenian
ludruk.
27
SpOrtifitaS pemaiN uJuNG
(StuDi SOSiOLOGiS Di maLaNG)
Aisyah Dofishiyami dan Fuji Astutik
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: oupie.pune@yahoo.com dan astu_jifu@yahoo.com
Mukadimah
Sportif yaitu sikap yang memperjuangkan fair play, keserasian
dengan rekan tim dan lawan, perilaku etis dan integritas, fair play
dan etika dalam menerima kemenangan atau kekalahan. Sportivitas
merupakan aspirasi atau etos bahwa olahraga atau kegiatan akan
dinikmati untuk kepentingan diri sendiri, dengan pertimbangan
yang tepat untuk keadilan, etika, rasa hormat, dan rasa persekutuan
dengan pesaing seseorang. Seorang pecundang merasa sakit saat
mengacu pada orang yang tidak merasakan kekalahan yang baik,
sedangkan olahraga yang baik berarti menjadi “pemenang yang
baik” serta menjadi “pecundang yang baik”.
Sportif dapat dikonseptualisasikan sebagai karakteristik abadi
dan relatif stabil atau disposisi seperti bahwa individu berbeda
dalam cara mereka umumnya dan diharapkan untuk berperilaku
dalam situasi olahraga. Secara umum, sportif mengacu pada
kebajikan seperti kejujuran, keberanian pengendalian diri, dan
ketekunan, dan telah dikaitkan dengan konsep-konsep interpersonal
memperlakukan orang lain secara wajar, mempertahankan kontrol
28
diri jika berhadapan dengan orang lain, serta menghormati otoritas
dan lawan. Seperti halnya olahraga, sportifitas juga perlu junjung
tinggi dalam bersikap yang kompetitif, seperti dalam memainkan
“seni bertarung” dalam melakukan ritual seni setempat.
Suara khas alunan musik Jawa Timuran terdengar kian keras,
diatas panggung terlihat dua orang laki-laki bertelanjang dada
dengan memang rotan dan saling memukul diantara keduanya.
Namun apa yang kita lihat bukanlah suatu perkelahian akan tetapi
yaitu suatu aktraksi seni yang diberi nama Ujung. Para penonton
berjubel memenuhi panggung yang menjadi arena pergulatan
pemain Ujung. Atraksi ini sering kali di temui di Lumajang saat
ada acara bersih desa ataupun untuk meramaikan pesta pernikahan
dan acara sunatan.
Peserta yang ikut memeragakan kesenian ini selepas turun dari
panggung, mereka yaitu dua insan yang tidak saling mendendam
sebab apa yang meraka lakukan hanya sebuah permainan saja.
Aturan permainan ini yaitu peserta dengan luka pukulan paling
sedikit akan menjadi pemenang.
Ujungan merupakan ritual tradisi yang menggabungkan tiga
jenis seni, yaitu seni musik (Sampyong), seni tari-silat (Uncul), dan
seni bela diri tongkat (Ujungan). Keistimewaan lain yang terdapat
pada Tradisi Ujungan ialah terdapatnya sikap menjunjung tinggi
nilai sportivitas, persaudaraan, rasa nasionalisme, dan semangat
patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.
Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi Ujungan kini hanya
berkembang sebagai seni pertunjukan hiburan biasa. Walaupun
demikian, ketentuan-ketentuan peraturan permainan Ujungan
masih tetap mengacu pada Ujungan zaman awal munculnya
tradisi ini, baik rotan yang dipakai sebagai alat pukul maupun
pertunjukan.
Rotan yang dipakai harus memiliki tingkat kelenturan yang
cukup baik, dengan panjang sekitar 40-125 cm dan diameter sekitar
29
1,5 cm. Ketentuan rotan yang dipersyaratkan seperti ini bertujuan
untuk mengurangi rasa pedih bila disabetkan ke tubuh. Sedangkan
seorang harus memiliki keterampilan ilmu beladiri yang tinggi. Hal
ini dimaksudkan agar apabila suatu saat salah satu pemain Ujungan
tidak puas dengan hasil keputusan wasit dan mencoba untuk
melawan wasit, maka wasit harus berani menerima tantangan itu.
Landasan Teori
Definisi Sikap
Mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan,
mewarnai perasaan dan akan ikut menentukan kecenderungan
perilaku individu terhadap manusia lainnya atau sesuatu yang
sedang dihadapi oleh individu, bahkan terhadap diri individu itu
sendiri disebut fenomena sikap. Fenomena sikap yang timbul tidak
saja ditentukan oleh keadaan objek yang sedang dihadapi tetapi juga
kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi
di saat sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan
datang. Sikap manusia, atau untuk singkatnya disebut sikap, telah
didefinisikan dalam berbagai versi oleh para ahli (Azwar, 2007).
Thurstone (Azwar, 2007) mendefinisikan sikap sebagai derajat
afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis. Sikap
atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. Tidak
ada sikap tanpa adanya objek LaPierre (Azwar,
2007) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi,
atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri
dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap yaitu respon
terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Definisi Petty &
Cacioppo (Azwar, 2007) secara lengkap mengatakan sikap yaitu
evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri,
orang lain, objek atau isu-isu.
sikap sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara
konsisten dalam cara tertentu berkenaan dengan objek tertentu.
menyatakan bahwa
sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam
hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian
tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan
timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku.
Azwar (2007), menggolongkan definisi sikap dalam tiga
kerangka pemikiran. Pertama, kerangka pemikiran yang diwakili
oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert
dan Charles Osgood. Menurut mereka sikap yaitu suatu bentuk
evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek
yaitu perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun
perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada
objek ini .
Kedua, kerangka pemikiran ini diwakili oleh ahli seperti
Chave, Bogardus, LaPierre, Mead dan Gordon Allport. Menurut
kelompok pemikiran ini sikap merupakan semacam kesiapan untuk
bereaksi terhadap suatu objek dengan caracara tertentu. Kesiapan
yang dimaksud merupakan kecenderungan yang potensial untuk
bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada
suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
Ketiga, kelompok pemikiran ini yaitu kelompok yang
berorientasi pada skema triadik (triadic schema). Menurut pemikiran
ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif dan
konatif yang saling berinteraksi didalam memahami, merasakan dan
berperilaku terhadap suatu objek. Jadi berdasar definisi di atas,
dapat disimpulkan bahwa sikap yaitu kecenderungan individu
untuk memahami, merasakan, bereaksi dan berperilaku terhadap
suatu objek yang merupakan hasil dari interaksi komponen kognitif,
afektif dan konatif.
Pengertian Sportifitas
Sportivitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu sikap
adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan
(kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan)
sendiri; kejujuran; kesportifan.
Sportivitas berasal dari kata “sport” dalam bahasa Inggris yang
berarti olahraga dan sportif yang merupakan sifat jujur, ksatria atau
gagah. Sportivitas merupakan salah satu aspek dari keadilan yang
harus selalu dijunjung dalam setiap keadaan, tidak hanya dalam
olahraga.
Sportifitas juga merupakan kata sifat yang berarti jujur dan
kesatria atau gagah. Kata sportifitas yang sebagai kata benda
memiliki arti orang yang melakukan olahraga ini (harus)
memiliki kejujuran dan sikap ksatria dalam bertindak dan
berperilaku saat berolahraga, seperti disiplin, mengikuti ketentuan
dan peraturan yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati
bersama, terutama saat mengikuti suatu pertandiang atau
perlombaan olahraga.
Selain itu juga sportif yaitu sikap yang memperjuangkan
fair play, keserasian dengan rekan tim dan lawan, perilaku etis
dan integritas, fair play dan etika dalam menerima kemenangan
atau kekalahan. Sportivitas merupakan aspirasi atau etos bahwa
olahraga atau kegiatan akan dinikmati untuk kepentingan diri
sendiri, dengan pertimbangan yang tepat untuk keadilan, etika, rasa
hormat, dan rasa persekutuan dengan pesaing seseorang. Seorang
pecundang merasa sakit saat mengacu pada orang yang tidak
merasakan kekalahan yang baik, sedangkan olahraga yang baik
berarti menjadi “pemenang yang baik” serta menjadi “pecundang
yang baik”.
Sportif dapat dikonseptualisasikan sebagai karakteristik abadi
dan relatif stabil atau disposisi seperti bahwa individu berbeda dalam
32
cara mereka umumnya diharapkan untuk berperilaku dalam situasi
olahraga. Secara umum, sportif mengacu pada kebajikan seperti
kejujuran, keberanian pengendalian diri, dan ketekunan, dan telah
dikaitkan dengan konsep-konsep interpersonal memperlakukan
orang lain dan diperlakukan secara wajar, mempertahankan kontrol
diri jika berhadapan dengan orang lain, dan menghormati otoritas
dan lawan.
Pengertian Permainan Ujung
Permainan “ujung“ merupakan salah satu permainan
tradisional yang ada di Sidoluhur. berdasar data dari informan
menyebutkan bahwa permainan ini berasal dari Trenggalek yang
dulunya bergandengan dengan Reog. Permainan ini dulu sebagai
tradisi untuk menurunkan hujan, namuan sekarang di Sidoluhur
hanya menjadi permainan yang ditampilkan sebagai hiburan. Proses
permainannya dilakukan secara berpasangan dengan lawannya.
Permainan ini dipimpin oleh wasit yang juga guru dari para
pemain ini. Menggunakan iringan musik khas Jawa Timur pemain
memecutkan lidinya ke lawan. Aturan mainnya yaitu setiap orang
harus memndapat pukulan yang sama dan tidak boleh ada yang
curang dan dendam. Jika hal itu terjadi maka tidak diperbolehkan
untuk bermain lagi.
Syarat untuk menjadi pemain “ujung ini yaitu mau melakukan
latihan rutin dan harus kuat menahan rasa sakit. Latihan ini berfungsi
untuk meredam emosi saat bermain. Setelah melakukan permainan
tentunya akan ada bekas luka. Bekas luka biasanya hanya diobati
dengan obat alakadarnya dengan obat tradisional dari tumbuh-
tumbuhan disekitar rumah atau dengan minyak kayu putih. Luka
ini akan sembuh dalam waktu tiga hari.
33
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut
Bodgan dan Taylor (Santoso, 2011) mendefinisikan pendekatan
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data-
data deskriptif berupa kata-kata tulis atau lisan, dari orang-orang
dan perilaku yang diamati. sebab jenis penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif yang tidak menyandarkan diri pada kuesioner
dan sebagainya, maka dilakukan pendekatan observasi, interview
dan interpretasi.
Sedangkan Wiseman (Santoso, 2011) mendefinisikan penelitian
kualitatif sebagai penelitian yang memiliki tujuan dokumentasi,
identifikasi dan interpretasi mendalam terhadap pandangan dunia,
nilai, makna, keyakinan dan karekteristik umum seorang atau
kelompok warga tentang peristiwaperistiwa kehidupan,
kegiatan-kegiatan ritual dan gejala-gejala khusus kemanusiaan
lainnya.
Sumber Data
Teknik dalam pengambilan sumber data yang dipakai dalam
penelitian ini yaitu pengambilan data sampel kasus tipikal.
Dimana kasus yang diambil yaitu kasus yang dianggap mewakili
kelompok normal dari fenomena yang diteliti. Patton dalam Kristi
(2005) mengingatkan bahwa data yang dihasilkan tetap tidak di
maksudkan untuk digeneralisasikan (dalam pengertian statistik),
mengingat sampel tidak bersifat definitif (pasti) melainkan ilustratif
(memberi gambaran tentang kelompok yang dianggap normal
mewakili fenomena yang diteliti).
Jadi yang menjadi sumber data dalam penelitian ini yaitu
subjek yang mengalami kasus itu sendiri dan jumlahnya sedikit.
Selain itu juga untuk penambahan data diambil dari wawancara
34
dengan keluarga dan warga yang biasa menonton jalannya
permainan.
Metode Pengumpulan Data
Adapun metode yang dipakai dalam penelitian kali ini yaitu
sebagai berikut:
1. Wawancara,
Menurut Soerjono (1986), wawancara merupakan
pendekatan yang dapat juga difahami sebagai pendekatan
untuk mendapatkan sebuah informasi dari seorang yang di
ajak berkomunikasi. Penelitian kali ini hanya membawa catatan
peting yang berisi pokok-pokok bahasan yang akan ditanyakan.
Metode wawancara yang dipakai yaitu tidak terstruktur
yaitu mengikuti arus pembicaraan dari subjek. Akan tetapi ada
pedomanpedoman wawancara yang dipakai sebagai acuan.
2. Observasi
Observasi merupakan suatu kegiatan penelitian dalam
rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah
penelitian melalui proses pengamatan langsung lapangan.
Peneliti akan secara langsung mengunjungi objek penelitian
dan mencatat informasi-informasi yang didapat dari observasi
untuk dipakai sebagai data penunjang penyelesaian dari
pertanyaan- peertanyaan yang ada dalam rumusan masalah.
Pada observasi kali ini observer (peneliti selaku orang
yang melakukan observasi) menggunakan dimensi kombinasi,
yaitu nonpartisipan - overt - alamiah. Dimana observer menjadi
pengamat pasif dalam setting yang diamatnya, dalam arti tidak
terlibat dalam aktifitas yang diamatinya ini . Observer
melakukan pengamatan secara terbuka, dimana observee
mengetahui mengetahui bahwa dirinya sedang diamati
dalam kondisi dan situasi apa adanya atau alamiah tanpa ada
pengkondisian atau setting tertentu.
35
Dalam observasi ini observer menggunakan alat
observasi yaitu catatan berkala, dimana dalam catatan berkala
observer tidak mencatat macam-macam kejadian secara
khusus, melainkan hanya pada waktuwaktu tertentu dengan
menuliskan kesan-kesan umumnya.
3. Dokumentasi
Tehnik pengumpulan data yang lain yaitu dengan
dokumentasi. Dimana dalam pengumpulan data saat ini
menggunakan kamera hand phone dalam mengambil gambar
dan merekam suara.
Analisis Data
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul maka dilanjutkan
dengan analisa data. Hal ini dimaksudkan untuk menginterpetasi
data dari hasil penelitian yang sudah dimiliki untuk diolah, data
yang terkumpul dalam penelitian ini akan dianalisa menggunakan
metode yang sesuai dengan jenis dan sifat datanya. Analisa data ini
tidak dilakukan secara bersamaan melainkan disesuaikan dengan
perolehan dan berdasar kenyataan obyektif, yaitu setiap data
yang diperoleh langsung dianalisa. sebab jenis penelitian yang
dipakai yaitu penelitian kualitatif, maka data yang dicari
dan dikumpulkan yaitu data yang bersifat kualitatif, yang
menggunakan prinsip membiarkan realitas itu berbicara.
Cara yang ditempuh yaitu setelah data terkumpul kemudian
diolah dan dianalisa melalui pengurangan data. Data yang relevan
ini kemudian disajikan dalam kategori atau tema tertentu
yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Peneliti kemudian
menginterpretasikan data yang penting kemudian peneliti
mengambil kesimpulan dari hasil pemahamannya
36
Pengecekan keabsahan Data
Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya
sebab beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang
dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan
yaitu wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan
saat dilakukan secara terbuka dan bahkan jika tanpa kontrol, dan
sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi
hasil akurasi penelitian. Oleh sebab itu, dibutuhkan beberapa cara
menentukan keabsahan data, yaitu:
1. Kredibilitas.
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau
dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai yaitu lama
penelitian, observasi yang detail, triangulasi, peer debriefing,
analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian
lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian,
yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan
peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan,
bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi
dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para
responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri
peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri
dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan
persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan
diri pada hal-hal ini secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang me-
manfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data
ini .
37
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu
mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh
dalam bentuk diskusi analitik dengan rekanrekan sejawat.
e. Mengadakan member check, yaitu dengan menguji ke-
mungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengem-
bangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis,
dengan mengaplikasikannya pada data, serta dengan
mengaju kan pertanyaan-pertanyaan tentang data.
2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan
pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada
kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk,
dan menggunakan konsep-konsep saat membuat interpretasi
untuk men arik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan
kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data
yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan.
Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian
dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam
penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.
Paparan Data
AR yaitu salah seorang pemain ujung. Keluarga AR termasuk
anaknya juga termasuk dalam pemain ujung. AR sering sekali
bermain diatas pentas dengan anaknya. AR mengenal kesenian
ujung ini dari ayahnya yang berasal dari trenggalek menurut ayahnya
permainan ujung ini dulu digandengkan dengan permainan Reog
namun seiring berkembangnya zaman keduanya menjadi terpisah.
Lebih lanjut AR menceritakan bahwa di trenggalek permainan ini
menjadi sebuah ritual untuk meminta hujan, namun berbeda dengan
38
di lawang yang hanya menjadi sebuah hiburan saja Di Lawang
sendiri ada delapan orang pemain ujung yang suah terlatih.
AR juga mengemukakan bahwa untuk bermain ujung hnaya
berbekal badan saja. Ditambah dengan alat pukul yang dibuat dari
lidi aren. Untuk mendapatkan lidi arennya bisa mengambil disekitar
rumah. Untuk menggunaan alat pukul ini ada yang berdeda di
masing–masing daerah. Di Pasuruan dan lumajang menggunakan
rotan.
Syarat menjadi pemain ujung menurut AR yaitu mampu
menahan sakit, mengendalikan emosi dan mengikuti latihan rutin
untuk meminimalisir kecurangan dan rasa balas dendam.
Saat memulai permainan dipimpin oleh wasit (yang juga
merupakan pelatih). Menurut AR dalam permainan ini tidak ada
yang menang dan yang kalah. jadi wasit yang bertugas disini hanya
melihat sportifitas dari setiap pemain dan permainan dipastikan
berjalan dengan imbang. AR juga menyebutkan jika pemain
menyabet lawanya satu kali maka lawannya juga harus membalas
satu kali, jadi masing–masing pemain harus merasakan pukulan
yang sama. Misalnya satu kali ya sama- sama satu kali, kalau dua
kali ya sama-sama dua kali. Kalau ada pemain yang melanggar
ketentuan maka tidak boleh main lagi. Jadi menurut AR untuk
pemain yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan dia main
curang maka tidak boleh lagi bermain. Untuk tidak boleh nyabet
dari dada ke atas, kalau dada ke bawah tidak apa –apa. jadi ada
wilayah tertentu yang tidak bisa di pukul. Pada saat bermain hanya
memikirkan kena saja.
AR juga memaparkan bagaimana caranya mengobati luka
akibat pecutan lidi. Lukanya akan diobati dengan diolesi dengan
minyak kayu putih. AR merasakan perih pengobatah hanya dalam
semalam saja. Sembuhnya kurang lebih memerlukan waktu waktu
tiga hari.
39
Analisis Data
Pemaparan data diatas dapat diambil beberapa hal yang terkait
dengan sikap sportif ynag terdiri dari, keberanian, menahan emosi
dan sportif dalam bermain “ujung”.
Adapun data yang bisa dianalisa dari data ini yang
pertama yaitu keberanian AR dalam bermain merupakan salah
satu cara untuk bisa bermain sampai akhir. Pada saat melakukan
permainana, AR ataupun pemain lain diharapkan mampu untuk
berani mengahadapi lawan dan berani juga untuk membalas lawan.
Maka dari itu menurut AR tidak mudah untuk melakukan ini dan
perlu latian yang sunggu-sungguh dan rutin untuk jadi pemain
yang siap tempur. Untuk menumbuhkan keberanian inipun AR
membutuhkan waktu yang lama untuk berlatih.
Poin yang kedua yaitu menahan emosi marah saat bermain.
Saat melakukan permainan memurut AR jangan sampai untuk
tepancing emosi marah sebab saat marah yang akan terjadi yaitu
terus bernafsu untuk membalah dan nantinya akan menimbulkan
dendam. Marah saat bermain juga tidak baik sebab jika marah
dan diketahui oleh wasit maka akan dikeluarkan dari permainan
dan tidak diperbolehkan bermain lagi. Lebih lanjut AR menyatakan
bahwa pernah ada temannya yang terpancing emosinya saat
bermain maka langsung di keluarkan dari permainan.
Yang terakhir yaitu sikap sportif. Sikap Dmenurut Petty &
Cacioppo (Azwar, 2007) yaitu evaluasi umum yang dibuat manusia
terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek atau isu-isu. Sedangkan
sportifias merupakan salah satu aspek dari keadilan yang harus
selalu dijunjung dalam setiap keadaan, tidak hanya dalam olahraga.
Jadi dalam permainan ini yang dijunjung tinggi yaitu sikap sportif
bagaimana reaksi saat mendapat pukulan dari lawan.
Menurut AR permainan “ujung” memiliki aturan bahwa
setiap orang harus mendapat pukulan yang sama, tidak boleh lebih
40
atau kurang. AR juga mengatakan bahwa pukulan dibatasi dari
betis sampai dada selain daerah itu tidak boleh di pukul. Dari sini
masing–masing pemain harus bersikap sportif dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai kejujuran keberanian dan keadilan. Tidak saling
mencari celah untuk membalas dendam. Begitu juga setelah selesai
permainan. Tidak boleh ada saling membalah sebab pukulan
cuma sebatas saat dipanggung saja, saat diluar panggung
harus bersikap seperti biasanya seperti tidak pernah terjadi sesuatu
apapun.
Pembahasan
Thurstone (Azwar, 2007) mendefinisikan sikap sebagai derajat
afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis. Sikap
atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. Tidak
ada sikap tanpa adanya objek (Gerungan, 2004). LaPierre (Azwar,
2007) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi,
atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri
dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap yaitu respon
terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Definisi Petty &
Cacioppo (Azwar, 2007) secara lengkap mengatakan sikap yaitu
evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri,
orang lain, objek atau isu-isu.
Sikap yaitu respon terhadap sebuah stimuli sebab itu dalam
permainan ini yang ditunjolkan adaah sikap tenang dan tidak
terpancing dan bernafsu untuk lebih banyak melakukan pukulan
kepada lawan. Sikap tenang ini perlu dijaga selama permainan agar
tidak menjadi emosi marah ataupun dendam dan ingin membalas
setelah permainan sudah usai. Akibat dari individu atau pemain
yang tidak tenang maka dia harus rela dikeluarkan dari permainan
dan tidak boleh mengikuti permainan lagi.
41
Untuk menumbuhkan sika tenang ini tidak bisa secara
langsung ada, akan tetapi harus dengan latihan yang cukup lama
dan berkesinambungan. Maka dari itu sarat untuk menjadi pemain
harus pernah mengikuti latihan rutin. Dari hasil latihan rutin inilah
lama-kelamaan akan menjadi terbiasa untuk tenang dan tidak
gerusa-gerusu dalam permainan.
Sikap tenang ini kemudian akan berujung pada sikap sportif.
Sportifitas merupakan kata sifat yang berarti jujur dan kesatria atau
gagah. Dan kata sportifitas yang sebagai kata benda memiliki
arti orang yang melakukan olahraga ini (harus) memiliki
kejujuran dan sikap kesatria dalam bertindak dan berperilaku saat
berolahraga, seperti disiplin, mengikuti ketentuan dan peraturan
yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati bersama, terutama
saat mengikuti suatu pertandiang atau perlombaan olahraga.
Jika dikaitkan dalam permainan ini, sportifitas menjadi tuntutan
bagi seorang pemain dalam permainan ini. Sikap sportif sudah
diatur dalam aturan main dala pertandingan ini. Namun sekalipun
sudah ada aturan bakunu ha ini tetap tidak bisa disepelekan oleh
seorang pemain sebab banyak kejadian yang membuktikan adanya
pemain yang tidak “fair” dalam bermain pyaitu sportifitas sendiri
merupakan sikap yang memperjuangkan fair play, keserasian
dengan rekan tim dan lawan, perilaku etis dan integritas, fair play
dan etika dalam menerima kemenangan atau kekalahan.
Berhubung di dalam permainan ini tidak ada yang menang
atau yang kalah, sehingga sportifitas lebih ditonjolkan kepada
bagaimana seorang pemain mampu mengikuti aturan dan jalannya
permainan dengan baik.
Permainan ini jelas sekali menunjukkan bahwa setiap pemain
harus mendapat pukulan yang sama saat permainan. Selain itu juga
siapapun lawannya harus tetap sama. Walaupun itu dalam satu
keluarga antara anak sama bapak misalnya atau dengan saudara,
42
tidak ada aturan yang membedakan dengan pemain saat dia
bermain dengan orang lain.
Permainan “ujung“ merupakan salah satu permainan tradi-
sional yang ada di Sidoluhur. berdasar data dari informan
menye butkan bahwa permainan ini berasal dari Trenggalek yang
dulu nya bergandengan dengan Reog. Permainan ini dulu sebagai
tradisi untuk menurunkan hujan, namuan sekarang di Sidoluhur
hanya menjadi permainan yang ditampilkan sebagai hiburan. Proses
per mainannya dilakukan secara berpasangan dengan lawannya.
Permainan ini dipimpin oleh wasit yang juga guru dari
para pemain ini. Dengan diiringi musik khas jawa timur pemain
memecutkan lidinya ke lawan. Aturan mainnya yaitu setiap orang
harus memndapat pukulan yang sama dan tidak boleh ada yang
curang dan dendam. Jika hal itu terjadi maka tidak diperbolehkan
untuk bermain lagi.
Sportif dapat dikonseptualisasikan sebagai karakteristik abadi
dan relatif stabil atau disposisi seperti bahwa individu berbeda dalam
cara mereka umumnya diharapkan untuk berperilaku dalam situasi
olahraga. Secara umum, sportif mengacu pada kebajikan seperti
kejujuran, keberanian pengendalian diri, dan ketekunan, dan telah
dikaitkan dengan konsep-konsep interpersonal memperlakukan
orang lain dan diperlakukan secara wajar, mempertahankan kontrol
diri jika berhadapan dengan orang lain, dan menghormati otoritas
dan lawan.
Jelas sekali pemain “ujung” diwajibkan untuk berani dan
disiplin mengikuti perartuan sebagaimana yang disebutkan AR
bahwa syarat utama menjadi pemain ujung selain dia mampu
bermain dengan sikap tenang dan mengikuti latihan rutin yaitu
harus berani . sementar itu keberaniaan merupakan salah satu dari
unsur sportifitas.
Jadi dalam penelitian ini sportifitas dalam olahraga sama halnya
dengan saat dipakai dalam permainan “ujung” sesuai dengan
43
pengertiannya pula bahwa sportif tidak hanya dilakukan saat
dalam olahraga agan tetapi juga dalam berbagai sudut kehidupan.
Permainan ini juga dapat diambil pelajaran bahwa nilai sportif
itu penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar
tidak menumbuhkan rasa gelisah takut bahkan rasa ingin membalas
dendam kepada orang lain atuapun lawan, rekan atau atasan dan
bawahan sekalipun.
Kesimpulan
Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa sportifitas dalam
permainan “ujung” dilakukan dengan menaati aturan yang ada serta
mengandalkan kedisiplinan, keberanian, keteladanan dan keadilan.
Tidak memberikan porsi yang lebih dalam bermain serta mengikuti
permainan secara fair sampai batas waktu yang di tentukan. Selain itu
juga spotrifitas disini yaitu saat pemain mampu bersikap tenang
selama permainan. Sportifitas dalam per mainan ini tidak jauh beda
bahkan cenderung sama dengan sportifitas yang diberlakukan
dalam olehraga.
44
45Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
feNOmeNa traDiSi hOuL
(Di DeSa BuNGah GreSik)
Badi’atul Husna
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: chusna_ituncus@yahoo.co.id
Mukadimah
Menurut hasil survey dan verifikasi terahir Kementrian
dan Perikanan (KKP) diketahui bahwa Indonesia yaitu negara
kepulauan yang kurang lebih terdiri dari 13.000 pulau dari Sabang
sampai Merauke (Hasil Survey Terbaru Jumlah Pulau Indonesia, 2010).
Maka dengan mudah kita akan menjumpai berbagai macam budaya
dan tradisi yang berbeda dari satu pulau dengan pulau lain. Bahkan
dari satu pulau seperti jawa, juga terdapat ribuan budaya dan tradisi
yang hampir tidak bisa dihitung. Baik tradisi kuno seperti tarian,
jaipong dan lainnya atau tradisi modern yang sekarang hampir
menandingi tradisi lama.
Sejalan dengan perjalanan waktu, kehidupan manusia ber
langsung dengan cara yang berbeda hingga m















