Tampilkan postingan dengan label psikologi budaya 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi budaya 3. Tampilkan semua postingan

psikologi budaya 3

 



ang ini. Adapun jika permainan-

permainan modern ini  akan dinikmati, maka pengguna harus 

mengeluarkan uang yang cukup banyak.

85Eksistensi Permainan ... ~ Irham

saat  bermain timezone misalnya, pengguna harus membeli 

kartu yang telah disiapkan. Harga kartu itu bermacam-macam, 

mulai dari nominal Rp. 15.000, Rp. 20.000 hingga ratusan ribu. 

Inilah yang membedakan yang paling mencolok antara permainan 

tradisional dengan modern, dan biaya ini yang akan memberikan 

dampak budaya konsumtif dikalangan warga  remaja dan 

anak-anak.

Tentang dampak permainan modern terhadap budaya 

konsumtif, budayawan Agus Sunyoto memberikan argumentasi 

“Makanya orang modern itu kepalanya besar. Apalagi sejak kecil sudah 

dikenalkan budaya konsumtif, kalau sudah begini apakah ia mampu 

mengahadapi realitas hidup, ke depan sulit diajak mandiri tidak mau 

kreatif,” katanya penuh heran.

Disisi lain, jika permainan tradisional diperhatikan lebih 

cermat, hal ini memiliki banyak manfaat, banyak kalangan telah 

menyetujuinya. ”Dalam permainan tradisional anak diajari membangun 

rasio dan emosi. Lihat mereka (anak-anak kecil) membuat kuda, kalau tidak 

pakai emosi bisa tidak pas dan tidak sesuai kedua kaki kuda yang terbuat 

dari tanah liat itu,” kata budayawan asal Surabaya.

Mengingat masa kecilnya ia sering membuat kapal-kapalan 

atau mobil-mobilan dari kulit Jeruk maupun gangsingan dengan 

tangannya sendiri. Jika bermain sudah bosan dan mulai layu, 

tinggal dibuang kulit Jeruk ini . ”itu akan kembali ke tanah. Ini 

melambangkan bahwa permainan tradisional ramah lingkungan, dan daya 

kreativitas maupun imagi mulai dibangun dan diasah sejak kecil, dan lebih-

lebih kreativitas mereka telah diasah di benak anak-anak,” kisah Mbah 

Harryadjie BS. 

Namun kebanyakan manfaat dari permainan tradisional ini 

justru sekarang jarang sekali ditemukan warga  di kota Malang. 

Hal ini  diungkapan Irawan M. Hum, dosen Antropologi 

Universitas Negeri Malang, permainan tradisional mulai dilupakan 

warga , disebabkan oleh beberapa hal: Pertama, tidak adanya 

86 

pengenalan warisan dari generasi lama untuk melestarikan warisan 

itu. Disamping juga mulai bermunculan permainan baru yang lebih 

efektif dan efisien. Kedua, Pengaruh dari luar seperti datangnya 

permainan modern, dan yang terakhir tidak adanya lahan yang 

memadai.

Senada dengan Irawan, sekjen Dewan Kesenian Malang 

Anthony Wibowo menyayangkan perihal punahnya permainan 

tradisional dengan berubahnya waktu. ”Saya prihatin, padahal yang 

dibangun dalam permainan tradisional yaitu  kerukunan, keguyuban, 

dan kerja sama. Dan terlebih lagi yang lebih ditonjolkan yaitu  asas 

kekeluargaan,” kata pria bercucu tiga ini.

Kepunahan ini  disebabkan beberapa faktor, diantaranya 

yaitu  perhatian pemerintah yang kurang maksimal terhadap 

permainan ini . Hal ini  terbukti dengan sedikitnya ruang 

yang bisa dijadikan lahan permainan tradisional. Tata letak kota 

yang tidak mendukung permainan tradisional dan disebabkan 

pula banyaknya industrialisasi dan globalisasi dikota malang. 

Industrialisasi dan globalisasi ini  terlambangkan banyaknya 

pabrik dan Mall dikota Malang. Alasan-alasan inilah yang membuat 

permainan tradisional semakin tidak memiliki  tempat di kota 

malang.

Punahnya permainan tradisional ini dapat disaksikan di 

daerah Sumebersari Kecamatan Lowokwaru kota Malang. Melalui 

pengamatan peneliti, jarang dan bahkan tidak ada anak-anak yang 

mempermainkan permainan tradisional seperti gobak sodor, sepak 

tekong, patil lele, dan petak kumpet. Mereka banyak bermain play 

station dan game online.   

Beberapa kecamatan lain dikota Malang juga mengalami hal 

yang sama, jarang dan bahkan tidak ada anak-anak dan remaja 

yang memainkan permainan tradisional, semuanya hanyut kedalam 

globalisasi yang menjanjikan kegemerlapan dan kegelamoran. 

87Eksistensi Permainan ... ~ Irham

Pengaruh globalisasi terhadap permainan ini dilambangkan dengan 

banyaknya permainan modern yang sedikit demi sedikit menggeser 

penggunaan permainan tradisional.

Latar belakang inilah yang membuat peneliti terlecut untuk 

meneliti tentang Eksistensi Permainan Tradisional ditengah 

Globalisasi di kota Malang. Hal ini menjadi penting dikarekan 

Permainan Modern yang merupakan arus dari globalisasi tidak lagi 

menjadi daya untuk membuat kreatifitas anak, dan justru membuat 

anak menjadi hedonisme dan konsumerisme. Kekhawatiran 

ini  juga diungkapkan Agus Sunyoto “salah satu pengaruhnya 

yaitu  media massa, dan membanjirnya permainan-permainan modern 

yang tidak membuat anak didik kurang kreatif dan ketergantungan. Lalu 

apa yang diarapkan bangsa kalau anak bangsanya seperti ini”, cetusnya 

sembari mengeluh.

Kajian Teori

Awal Mula Manusia Mengenal Permainan

Apa yang membedakan binatang atau hewan dengan manusia 

cerdas (Homo Sapiens) dan manusia pekerja (Homo Faber)? Mengingat 

hewan begitu juga manusia sama­sama bekerja untuk hidup 

(servivel) dan selama bertahun-tahun telah tumbuh keyakinan, 

keinginan berkembang untuk bermain. Tapi manusia berpikir untuk 

melahirkan peradaban baru, dan semua negara memiliki peradaban 

sendiri-sendiri, seperti halnya permainan. Sejarah permainan 

sudah ada dan merupakan gejala yang menggakar dan tumbuh di 

tengah-tengah warga . Permainan tidak saja menjangkiti anak-

anak saja tetapi orang dewasa juga akan merasakan kecanduan 

untuk menikmati, oleh sebab  itulah manusia juga disebut sebagai 

manusia bermain (Hartono, 2004).

Piaget (Hartono 2004) pernah menyatakan bahwa sejak 

lahir, dalam usia dua tahun, seorang anak sudah mulai bermain. 

88 

Permainan ini sudah nampak dalam gerakan-gerakan tubuh, kaki, 

tangan, dan bagian tubuh lain untuk menyelidiki dunia sekitarnya 

dan berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya, seperti dengan 

ayah, ibu, dan pembantu.

Menurut Iswinarti, dosen Pascasarjana psikologi Universitas 

Muhammadiyah Malang, manusia sejak bayi sudah menggenal 

permainan. Perkenalanya dengan permaianan berupa alat warna­

warni yang digantung di atas kepala mereka saat di buaian. Pada 

saat itulah bayi menggenal warna­warni untuk pertama kalinya. 

Lalu permainan itu berbunyi jika diterpa angin. Untuk bebepapa 

kali bunyi itu didenggar oleh anak, maka anak mulai mengenal 

bunyi. Saat itu pula bayi mengeksplorasi diri dan merespon orang-

orang di sekelilingnya. 

“Anak kecil sejak bayi sudah menggenal permainan, dimulai 

dari warna dan bunyi. Permainan itu yaitu  salah satu bentuk 

ekspresi diri. Makanya anak kecil dikenalkan toys (permainan) yang 

edukatif,” ujarnya sambil memberi pengarahan (wawancara. 2010).

Permaianan dalam Prespektif Psikologi

Beberapa ahli Psikologi berpendapat bahwa dalam permainan 

tradisional sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa 

anak (Boree, 2005). Anak-anak dilatih untuk bisa saling menghargai 

bahwa setiap orang memiliki karakter dan nasib yang berbeda­beda 

pada waktu bermain. Sesama manusia harus hidup tolong­menolong 

dengan bergotong-royong. Selain itu, pada setiap tahap permainan 

ini anak-anak sudah melatih diri untuk bersikap ulet, jujur, setia 

kawan, dan disiplin agar dapat mencapai apa yang dicita­citakan.

Permainan tradisional bisa mengasah kemampuan motorik 

anak, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya (Boree, 

2005). Selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, 

berkonsentrasi, dan melihat peluang dengan cepat untuk mengambil 

keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan seperti dalam 

89Eksistensi Permainan ... ~ Irham

permainan Bentengan. Kemudian permainan seperti dakon dapat 

merangsang menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan 

biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu, agar bisa 

mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.

Melihat manfaat-manfaat ini , sebenarnya permainan 

tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. 

Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari 

permainan modern, juga untuk memacu anak lebih kreatif.

Bagi Piaget, hal ini yaitu  periode sensori seorang anak, untuk 

menerima dan menyesuaikan objek-objek yang bersentuhan dengan 

mereka, sesuai waktu dan tempat. Mereka menggunakan segala 

sarana permainan untuk menyatakan imajinasi, pikiran, perasaan, 

dan fantasi mereka. Menginjak umur delapan tahun, simbol-simbol 

permainan dan terutama kepercayaan mereka mulai dimodifikasi 

lewat interaksinya dengan anak­anak yang sudah lebih dewasa. 

Disini juga sudah mulai terlihat benih pengendalian perasaan, 

seperti marah, senang, gembira, kecewa, diam dan sepi (Boree, 

2005). 

Para remaja juga sangat membutuhkan permainan untuk 

aktualisasi diri dan untuk meningkatkan kepercayaan diri. 

Mendekati usia remaja, terjadi perubahan fisik yang sekaligus 

membawa kegoncangan dan perubahan psikologis yang besar. Hal 

itu terjadi  pada remaja pria maupun remaja wanita. Akibat dari 

perubahan fisik (Majalah Inovasi, 2010).

Untuk menumbuhkembangkan perkembangan yang ideal 

sesuai dengan pertumbuhan otak kanan dan otak kiri, anak 

diajarkan sedini mungkin belajar berhitung dengan abacus dan 

diperkenalkan permainan. “sebab  bermain memiliki nilai manfaat 

bagi pertumbuhan anak” kata Iswinarti penuh semanggat. 

Masa anak-anak yaitu  masa–masa bermain. Permainan juga 

merupakan jembatan bagi anak dari belajar secara informal menjadi 

formal, “Bermain yaitu  proses belajar,” lanjut Iswinarti. 

90 

Menurut J. Huisinga, seorang ahli sejarah kebudayaan 

dan pemikiran terkenal dalam bukunya Homo Ludens (manusia 

bermain) memandang bahwa, bermain sebagai keistimewaan yang 

membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya, sebab  justru 

menurutnya manusia yang bermain dalam arti sesungguhnya. 

Hewan terkesan bermain, akan tetapi kesan itu terbentuk oleh arah 

pandang yang antropomorfis, sebab segala kelakuan hewan yang 

tampak sebagai gejala bermain pada hakikatnya merupakan latihan 

persiapan untuk kemudian sanggup bertahan hidup (survival) 

secara mandiri.

Menurut Fuad Hasan penggarang buku permainan yang 

edukatif menyatakan, dunia hewan tidak pernah ada permainan 

baru seperti gerak gerik juga beralih secara turun-temurun, baik 

yang tampil sebagai kelihaian maupun yang tampak dilakukan 

secara kolektif. 

Bermain pada awalnya belum dapat perhatian besar dari para 

ahli ilmu jiwa anak terutama terhadap perkembangan anak. sebab  

ter batasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan. Salah 

satu tokoh yang dianggap berjasa untuk meletakkan dasar bermain 

yaitu  seorang filsuf Yunani yang bernama Plato. Plato dianggap 

orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai 

praktis dari bermain. Menurut Plato, anak-anak akan lebih mudah 

mem pelajari Aritmatika dengan cara membagikan apel kepada 

anak-anak. Melalui pemberian alat permainan miniatur balok-balok 

kepada anak usia tiga tahun pada akhirnya akan mengantar anak 

ter sebut menjadi seorang ahli bangunan. Filsuf lain, Aristoteles ber-

pendapat bahwa anak­anak perlu didorong untuk bermain dengan 

apa yang akan mereka tekuni di masa depan nanti.

Dalam dunia pendidikan Frobel (abad 18 serta awal abad 19) lebih 

menekankan pentingnya bermain dalam belajar sebab  ber dasarkan 

pengalamanya sebagai guru, dia dia menyadari bahwa ke giatan ber­

main dan mainan yang dinikmati anak dapat dipakai  untuk men-

91Eksistensi Permainan ... ~ Irham

arik perhatian serta mengembangkan pengetahuan mereka. Jadi 

Plato, Aristoteles, Frobel menganggap bermain sebagai ke giatan  yang 

mem punyai nilai praktis. Artinya, bermain dipakai  sebagai media 

untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan ter tentu pada 

anak. Sayangnya pada masa ini , teori psikologi per kembangan 

anak belum memiliki  sistematika yang teratur. Akibat nya, apa 

yang dikemukankan oleh Frobel, bahwa bermain dapat meningkatkan 

bakat, kapasitas serta pengetahuan anak sulit di buktikan.

Pertengahan sampai akhir abad 19 teori evolusi sedang ber-

kembang sehingga pembahasan teori bermain banyak dipengaruhi 

oleh paham ini . Bermain berfungsi untuk memulihkan tenaga 

se seorang setelah bekerja dan merasa jenuh. Sebelum perang dunia 

per tama belum ada jawaban yang memuaskan kenapa terjadi ke­

giatan bermain.

Ada beberapa tokoh yang dapat dikategorikan dalam teori 

klasik. Mereka menjelaskan mengapa muncul perilaku bermain 

serta apa tujuan bermain. Ellis (1999), menyebutkan sebagai armchair 

theories sebab  melalui riset eksperimental. Teori klasik mengenai 

ber main dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu (1), Surplus 

Energi dan Teori rekreasi, serta (2), teori rekapitulasi dan praktis. 

Herbert spencer seorang filsuf Inggris di abad 19 mengajukan teori 

suplus energi dalam bukunya Principles Of Psychology (1972), menge-

mukakan bahwa kegiatan bermain seperti berlari, melompat, ber­

gulingan yang menjadi ciri khas kegiatan anak kecil maupun anak 

binatang perlu dijelaskan secara berbeda. 

Spencer berpendapat bahwa bermain terjadi akibat energi yang 

ber lebihan dan hanya berlaku pada manusai serta binatang dengan 

tingkat evolusi tinggi. Pada binatang yang memiliki  tingkat 

evolusi lebih rendah misalnya serangga, katak; energi tubuh lebih 

di manfaatkan untuk mempertahankan hidup. Kelompok binatang 

dengan tingkat evolusi rendah sangat terbatas sehingga harus 

banyak menguras tenaga untuk mempertahankan hidup. 

92 

Energi berlebihan ini dapat diumpamakan sebagai sistem kerja 

air atau gas yang akan menekan ke semua arah untuk mencari 

penyaluran. Tekakan akan lebih kuat dan butuh penyaluran 

yang lebih banyak bila volume air atau gas sudah melebihi daya 

tampungnya. Pada masa ini , teori-teori surplus energi mem-

punyai pengaruh besar terhadap psikologi, namun teorinya di-

rasakan kurang tepat dan mendapat tantangan.

Sebagai contoh, anak biasanya akan cepat-cepat menyelesaikan 

tugas kalau dijanjikan boleh bermain setelah tugasnya selesai. Bayi 

yang sudah mengantuk  seringkali tetap ingin bermain dengan 

mainannya. Kedua contoh ini  jelas tergambar bahwa bermain 

me rupakan suatu insentif, bukan muncul akibat kelebihan energi. 

Berlawanan dengan teori surplus energi, maka teori rekreasi 

meng ajukan dalil bahwa tujuan bermain yaitu  untuk memulihkan 

energi yang sudah terkuras saat bekerja. Menurut penyair Jerman, 

Moritz Lazarus, kegiatan bekerja menyebabkan berkurangnya 

tenaga. Tenaga ini dapat dipulihkan kembali dengan cara tidur atau 

me libatkan dalam kegiatan yang sangat berbeda dengan bekerja. 

Ber main lawan dari bekerja dan merupakan cara yang ideal untuk 

me mulihkan tenaga.

Abad 19, teori evolusi memiliki  pengaruh besar tehadap 

studi tentang anak. Apa yang dikemukakan Herbert Spencer di-

rasakan terlalu spekulatif tetapi pendapat Charles Darwin di dalam 

bukunya Origin of Species, tidak dapat diabaikan begitu saja. Bahwa 

manusia merupakan hasil evolusi dari makhluk yang lebih rendah 

akhirnya merangsang dan mendorong minat para ilmuwan untuk 

mem pelajari perkembangan manusia sejak bayi sampai menjadi 

dewasa.

Stanley Hall, seorang professor psikologi dan paedagogi ber-

minat terhadap teori evolusi serta bidang pendidikan, dia juga 

mem pelajari perkembangan anak. Menurutnya, bermain dari 

teori rekapitulasi dan gagasannya yaitu  sebagai berikut: “Anak 

93Eksistensi Permainan ... ~ Irham

merupakan mata rantai evolusi dari binatang sampai sampai menjadi 

manusia”. Artinya anak menjalankan semua tahapan evolusi, mulai 

dari protozoa (hewan bersel satu) sampai menjadi janin. Sejak 

konsepsi atau bertemunya sel telur dengan sperma sampai anak lahir, 

melampaui beberapa tahap perkembangan yang serupa dengan 

urutan perkembangan dari species ikan sampai menjadi species 

manusia. Sehingga, perkembangan seseorang akan mengulangi 

perkembangan tertentu sehingga penggalaman-pengalaman nenek 

moyangnya akan tertampil di dalam kegiatan bermain pada anak 

(dalam Miller, 1972 dan Johnson et al, 1999).

Teori rekapitulasi berhasil memberi penjelasan lebih rinci 

mengenai tahapan kegiatan beramain yang mengikuti urutan 

sama seperti evolusi makhluk hidup. Sebagai contoh, kesenangan 

anak untuk bermain air dapat dikaitkan dengan kegiatan ‘nenek 

moyang’, species ikan yang dapat kesenangan didalam air. Anak 

berkeinginan untuk memanjat pohon dan berayun dari satu dahan 

ke dahan lain (Psikologi perkembangan anak).

Bagi para pemuda dan pemudi, permainan dalam pertemuan 

antarteman dan antarkelompok yaitu  sarana komunikasi 

sekaligus peningkatan relasi sosial antarkaum muda. Para pemuda 

yang telah melewati masa krisis psikofisik, telah masuk dalam 

tahap psikososial, di mana mereka berusaha untuk meningkatkan 

relasi sosial horizontal antarsesama kaum muda sekaligus masih 

terus menjaga relasi vertikal dengan orang tua, dan mereka yang 

dituakan (Cavallaro, 2004). 

Meskipun bagi orang dewasa permainan merupakan suatu 

relaksasi dan semacam hiburan atau melepaskan ketegangan akibat 

tantangan perjuangan hidup maka selayaknya ada perhatian dari 

pemerintah untuk mengenalkan kepada generasi bangsa. 

94 

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif. 

Peneliti menggunakan metode dimaksudkan untuk menarasikan 

secara jelas keadaan dan dinamika permainan tradisional dimalang, 

baik permainan tradisional maupun modern. Hal ini sesuai dengan 

tujuan peneliti bahwa perlu mengetahui dampak dan keadaan 

situasi permainan tradisional yang ada di kota Malang.

Selain ini kami menggunakan pendekatan kualitatif 

fenomenologis. Pendekatan ini sangat cocok untuk mengobservasi 

fenomena-fenomena yang terjadi tentang situasi keadaan permainan 

tradisional. Pendekatan ini diharapkan menjadi pemaparan yang 

jelas antara fonomena yang obserfebel dengan narasi yang peneliti 

paparkan.

1. Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipakai  peneliti, yakni 

observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. 

Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas dan struktur. 

Peneliti menggunakan Fidelitas mengandung arti sejauh 

mana bukti nyata dari lapangan disajikan dan penulis akan 

menggunakan rekaman audio atau video yang akan memiliki 

fidelitas tinggi dalam merekam fakta. Selain itu peneliti juga 

menggunakan catatan lapangan meskipun memiliki fidelitas 

kurang dibandingakan dengan dimensi rekaman.

Dimensi struktur juga akan peneliti gunakan untuk 

menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan 

secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut 

jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur 

perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan 

cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi 

dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.

95Eksistensi Permainan ... ~ Irham

2. Analisis Data

Membahas hasil penelitian, peneliti secara sistematis akan 

melampirkan dan menganalisis transkrip­transkrip wawancara, 

catatan lapangan dan bahan- bahan lain agar peneliti dapat 

menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, 

pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian 

pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa 

yang dilaporkan.

Dalam penelitian kualitatif ini, analisis data yang akan 

dilakukan peneliti selama dan setelah pengumpulan data 

tentang permainan tradisional dengan kaitannya permainan 

modern. Teknik-teknik seperti analisis domain, analisis 

taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam 

hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, 

logika, etika, atau estetika yang terdapat dalam permainan 

tradisional. 

3. Tempat Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di 

daerah yang masih berkembang permainan tradisional di kota 

malang. Seperti di kecamatan Sukun, Buring, Dau dan di Dinas 

Pariwisata. Selain itu peneliti juga melakukan penelitian di 

daerah yang terdapat permainan modern seperti di rental play 

station, dan Mall yang menyediakan permainan modern.

Hasil Penelitian 

Kota malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, 

di kota Malang modernisasi bergerak lambat namun pasti. Hal 

ini  mengakibatkan permainan modern berkembang pesat 

dengan jenis-jenisnya yang makin variatif, sehingga permainan 

tradisional kini semakin tersisih. Permainan modern memang 

bisa dimainkan dimana saja dan kapan saja. Mulai dari anak-anak 

96 

sampai mereka individu dewasa juga kini asyik di depan layar TV, 

kom puter, dan handphone (HP) untuk bermain game online dan time 

zone yang berada di mall-mall besar. Bahkan di kota malang dalam 

hasil pengamatan peneliti para penggemar permainan modern 

harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk melengkapi aplikasi 

game mereka. Hal ini  tidak mengherankan sebab  permainan 

ini tidak memerlukan tempat khusus dan luas serta bisa dimainkan 

sendiri.

Permainan modern saat ini menjadi idola baru bagi anak-anak 

dan para remaja di kota Malang. Ironis, permainan modern yang se ba-

gian besar berasal bukan dari negara sendiri, justru semakin di gemari. 

Padahal, permainan tradisional dapat menjadi identitas warisan 

budaya bangsa ditengah keterpurukan kondisi bangsa saat ini.

Sebagai kota besar yang terus berkembang, Kota Malang 

sekarang ini mengalami perubahan tidak hanya dari wajah ling­

kungan sekitar dan wajah­wajah baru warga yang menempati 

rumah silih berganti namun juga jenis permainan yang dulu 

popular dimainkan seperti bermain petak umpet, layang-layang, 

gasing, egrang dan lain-lain. Semakin berkurangnya lahan untuk 

ber main di Kota Malang menjadi titik awal minimnya anak­anak 

untuk memainkan permainan tradisional.

Lahan terbuka yang selama ini sebagai ruang publik telah 

banyak tergusur. Padahal, permainan tradisional ini sama dengan 

olah raga rekreasi yang membutuhkan lahan luas, bahkan sudah di-

atur dalam Undang-Undang olahraga Rekreasi. Tapi kalau lahan 

yang ada sekarang ini sudah terasa sempit, tentunya memainkan 

per mainan tradisional akan terbatas pula.

“Bagaimana mau melestarikan jika tidak tahu jenis-jenis per-

mainan tradisional bila pemerintah tidak menyediakan tempat” 

Ucap Hartono, penggial permainan tradisional. Kenyataan ini men-

jadi suatu tamparan bagi generasi sekarang yang telah banyak ber-

ubah seiring berkembangnya teknologi modern. 

97Eksistensi Permainan ... ~ Irham

Meskipun sudah hampir punah, namun masih ada yang 

peduli dan melestarikan permainan tradisional. Banyak hal yang 

di lakukan warga Malang Dalam rangka melestarikan permainan 

tradisional. Permainan tradisional di jaman sekarang ini, terasa 

menjadi hal sangat langka. Kondisi itulah yang mendorong Ikatan 

Guru Taman Kanak-kanak (IGTKI) Kecamatan Buring, berjuang 

untuk melestarikannya.

Salah satunya dengan menggelar lomba permainan tradisional 

di Kantor Kecamatan  Buring pada tanggal 23 oktober 2010. Tak 

heran, terlihat banyak anak-anak bermain begitu ceria di halaman 

Kantor Kecamatan buring Kota Malang ini. Mereka mengenakan 

pakaian kebaya lengkap. saat  memasuki lomba, anak-anak ini 

tidak menggunakan Bahasa Indonesia, melainkan bercakap dengan 

bahasa jawa.  

Beberapa anak, terlihat bersembunyi di belakang temannya. 

Sedangkan yang lain berusaha memburu. Dalam adegan lain, 

mereka juga bernyanyi bersaman tentang nyanyian popular 

dimasa lampau, Cublak-cublak Suweng. Itulah salah satu rangkaian 

penampilan lomba. ‘’Kami mengharuskan mereka menggunakan 

bahasa Ibu, yakni Bahasa Jawa. Bahasa daerah ini , kini juga jarang 

dipakai  oleh anak-anak, sebab  itu harus tetap diperkenalkan’’ ungkap 

Agus Sugiarta Sekretaris Panitia Lomba permainan tradisional 

Kecamatan buring Kota Malang.  

Menurutnya, permainan tradisional seperti itu, sekarang sudah 

dimakan zaman hingga menjadi langka. Permainan tradisional ini 

telah tergeser oleh permaianan computer, yang biasa disebut game. 

‘’Kami tetap harus melestarikan permainan tradisional ini, sebab  

merupakan sebagian dari budaya,’’ tambah guru TK Bina Putra 03 

Bulukerto Kecamatan Buring ini.

Selain melestarikan budaya, pengenalan sosial, etika, 

persahabatan dan kerjasama juga ada dipermaianan anak tradisonal. 

Sedangan untuk game online atau permaianan komputerisasi lainya, 

98 

hanya mengembangkan individual. ’’Ada kerjasama, pertemanan, 

hukuman dalam unsur permainan anak tradisional ini. Jadi 

permaian anak tradisional mampu memberikan dasar kehidupan 

dimasa mendatang,’’ tambah Agus yang menambahkan, bahwa 

dunia anak yaitu  dunia bermain. Pada permainan itulah anak 

perlu melakukan pengenalan hidup dan kehidupan.

Jika permainan tradisional tetap terjaga tentunya bisa menjadi 

daya tarik tersendiri bagi suatu daerah, seperti Desa Petungsewu 

Kecamatan Dau, Malang. Desa ini menerapkan konsep ecotourism, 

dimana semua kebudayaan tradisional desa ditampilkan mulai 

dari permainan, tarian, hingga tradisi yang ada. Sebuah langkah 

kongkret dalam melestarikan budaya tradisional. Dengan begitu, 

kebudayaan tradisional tidak akan digilas zaman sebab  dikemas 

dalam pertunjukan kebudayaan dan pariwisata.

Tidak hanya itu permainan tradisional yang hampir punah di 

Kota Malang ini juga dikhawatirkan oleh para mahasiswa. “kami 

khawatir ditengah menjamurnya permainan modern ini permainan 

tradisional semakin di tinggalkan” Ungkap Teguh mahasiswa 

peternakan Universitas Brawijaya ini. sebab  ke kahawatiran inilah 

Universitas brawijaya juga mengadakan lomba yang di ikuti para 

mahasiswa dalam rangka memperingati hari lahir kampus ini. 

Lomba ini diselenggarakan pada 8 - 10 Februari 2010 di Lapangan 

Rektorat UB. Banyak macam lomba permainan tradisional yang di 

lombakan di antaranya lompat tali, benteng, teklek, peta umpet, dampu 

dan masih banyak lomba-lomba yang lain.

Melalui pengamatan penaliti, di Kota Malang ini baik anak-anak 

maupun remaja sudah mengalihkan jenis permaianan tradisional 

kedalam permainan modern. Permainan modern sekarang tidak 

hanya bisa dinikmati oleh para kelas menengah ke atas, namun bisa 

juga dinikmati oleh mereka dengan kelas ekonomi menengah. Tidak 

hanya itu permainan tradisional juga masuk kedalam pelosok gang-

gang yang meskipun tidak terlalu kota.

99Eksistensi Permainan ... ~ Irham

Memunahnya permainan tradisional ini  juga ditanggapi 

serius oleh budayawan kota Malang Agus Sinyoto “kalau perlu 

permainan tradisional juga di jadikan permainan di sekolah-sekolah, sebab  

permainan tradisional mengajarkan permainan group dan kreativitas” 

ucap bapak berjenggot tebal ini . 

Hal inilah yang menjadikan para penggiat budaya sedikit was­

was dengan terancam punahnya permainan tradisional. “Semua 

sekarang tertuju kepada permainan modern yang tidak mendidik itu” 

ungkapnya dengan nada tinggi. Menurutnya pemerintah harus 

menyediakan ruang terbuka hijau yang di dalamnya memuat 

seluruh permainan tradisional yang ada.

Pembahasan dan Kesimpulan

Setelah hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan 

peneliti di kota malang tentang permainan tradisional bahwa 

permainan tradisional mengalami krisis di sebab kan banyanya 

permaianan modern yang berkembang pesat di kota berkembang 

ini. Permaianan dalam berkembangnya sedikit mengalami kesulitan 

sebab  tidak tersedianya ruang terbuka hijau. Dikota Malang praktis 

hanya alun-alun kota yang merupakan ruang terbuka hijau, itupun 

tidak di jadikan tempat sebagai permainan tradisional.

Meskipun banyak kegiatan seperti lomba tentang permainan 

tradisional, namun permainan tradisional masih tidak digemari 

oleh para anak-anak dan remaja. Selain tidak memiliki  lahan 

yang luas, mereka lebih memilih permainan modern yang praktis 

meskipun secara teori sangat minim manfaat dalam rangka 

meningkatkan kreatifitas anak. 

Tidak hanya itu, permainan modern dengan Playstation, 

gema on line dan yang lain juga masuk kedalam gang-gang dan 

perkampungan keci di kota malang. Realitas ini  menunjukkan 

bahwa modernisasi telah masuk dengan pesat kedalam per­

100 

kampungan sekalipun yang dampak dari ini  permainan 

modern semakin ditinggal oleh para anak-anak dan remaja.

Seperti yang di katakana Agus Sunyoto, bahwa agenda men­

desak yang harus di lakukan pemerintah yaitu  menyediakan ruang 

ter buka hijau yang di dalamnya terdapat semua tentang permainan 

tradisional. Dengan adanya ruang terbuka ini , warga  bisa 

meng akses permainan tradisional yang semakin jauh ditinggalkan 

oleh warga  perkotaan. 

Realitas yang terjadi ini dapat disimpulkan bahwa eksistensi 

per mainan tradisional mengalami penurunan dan terancam dengan 

tidak adanya ruang terbuka hijau dan dengan adanya arus globa-

lisasi yang semakin masuk kedalam alam bawah sadar para anak­

anak dan remaja. Permainan modern telah menjadi permainan yang 

sangat dibutuhkan oleh para anak-anak dan remaja sebab  selain 

simple dan juga permainan modern bisa di akses oleh siapaun baik 

kelas atas, menengah dan bahkan bawah.

101Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

perpaDuaN aNtara Suku 

aceh DaN paDaNG

(StuDi kaSuS Di DeSa paSar Baru kecamataN 

BLaNG piDie, kaBupateN aceh Barat DaYa)

Isma Junida

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail: Isma.junida@yahoo.co.id

Mukadimah

Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu daerah 

yang diberi keistimewaan oleh pemerintah Indonesia terhadap 

kebudayaan dan pelaksanaan syariat Islam. Pengakuan Negara 

atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir 

diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang 

Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62, TLN 4633). UU Pemerintahan 

Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of 

Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka 

yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan 

suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan 

sosial, ekonomi, serta politik di Aceh secara berkelanjutan.

Beranekaragaman kebudayaan, tradisi dan adat istiadat yang 

terdapat di Aceh sangatlah menarik jika dipelajari lebih lanjut. Blang 

Pidie yang merupakan salah satu kecamatan dari kabupaten Aceh 

102 

Barat Daya (ABDYA) memiliki keunuikan yang khusus dari asal 

muasal suku yang berkembang di dalamnya. Bahkan, jika diteliti 

secara keseluruhan daerah ini memiliki keunikan dari percampuran 

dua suku yang sangat berbeda dari substansi serta asal bentuknya.

Suku Aceh yang bertempat tinggal di kecamatan ini  

merupakan suku asli daerah ini . Suku ini memiliki tradisi 

serta adat istiadat yang khusus yang telah lama dikembangkan 

oleh nenek moyang mereka. Adapun suku Minangkabau sebagai 

suku pendatang dari Padang merupakan suku yang juga memiliki 

kebudayaan khusus yang membedakan suku mereka dengan 

lainnya.

Namun, perpindahan penduduk yang disebabkan adanya 

peperangan yang terjadi pada waktu silam serta migrasi yang 

dilakukan suku Minangkabau untuk mengadu nasib di Aceh, 

membuat mereka menetap di daerah Aceh. Perkembangannya, 

kedua suku ini  akrab disebut dengan Suku Jamee.

Kerangka Kerja Teoritik

Interaksi Sosial

Secara garis besar, interaksi sosial dapat didefenisikan sebagai 

sebuah hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan 

antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan 

kelompok.

Adapun syarat-syarat terjadinya sebuah interaksi sosial yaitu  

sebagai berikut (Soekanto, 2006):

1. Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung 

dalam tiga bentuk, yaitu antarindividu, antarindividu dengan 

kelompok, antarkelompok yang dapat bersifat langsung dan 

tidak langsung.

2. Adanya komunikasi, dimana seseorang memberi arti pada 

sebuah perilaku orang lain, dan orang yang bersangkutan 

103Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

memberi respon dari penyampaian yang telah dilakukan oleh 

orang ini .

Menurut Gilin dan Gillin (dalam Soekanto, 2006), pelaksanaan 

sebuah interaksi sosial dapat berbentuk kerja sama (cooperation), 

persaingan (competition), akomodasi (acomodation), dan juga dapat 

berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict).

Setiap interaksi senantiasa di dalamnya mengimplikasikan 

adanya komunikasi antar pribadi. Demikian pola sebaliknya, setiap 

komunikasi pribadi senantiasa mengandung interaksi. Sulit untuk 

memisahkan antara keduanya, atas dasar itu, Shaw (Ali, 2005) 

membedakan interaksi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Interaksi verbal terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan 

suatu kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat 

arti kulasi, prosesnya terjadi dalam bentuk tukar percakapan 

satu sama lain.

2. Interaksi fisik terjadi manakala dua orang atau lebih melakukan 

kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa tubuh. Misalnya 

ekspresi wajah, posisi tubuh, gerak­gerak tubuh dan kontak 

mata.

3. Interaksi emosional terjadi manakala melakukan kontak satu 

sama lain dengan menggunakan curahan perasaan, misalnya 

menge luarkan air mata sebagai tanda sedih, haru, atau bahkan 

terlalu bahagia.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial 

merupakan kunci utama dari semua kehidupan sosial sebab  tanpa 

adanya interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama 

dan terbentuknya sebuah warga .

warga 

warga  sebagai unsur berdirinya sebuah kebudayaan, 

dalam perkembangan sangat berperan penting dalam meningkatkan 

104 

dan mengembangkan sebuah kebudayaan, sehingga kebudayaan 

ini  menjadi sebuah peradaban yang maju dan dikenal 

diseluruh penjuru dunia. warga  merupakan sebuah istilah 

dalam bahasa inggris disebut society (berasal dari bahasa Latin 

socius, yang berarti “kawan”) yang sangat lazim dipakai  dalam 

tulisan-tulisan ilmiah dan bahasa sehari-hari. Dalam arti lain, kata 

warga  sendiri berasal dari bahasa Arab syaraka, yang artinya 

ikut serta, atau berperanserta” (Koentjaraninggrat, 1966).

Sedangkan istilah community dapat diterjemahkan sebagai 

“warga  setempat”, kata ini menunjuk pada warga sebuah 

desa, kota, suku, atau bangsa. Dengan demikian, kriteria yang 

utama bagi adanya suatu warga  setempat yaitu  adanya social 

relationship antara anggota suatu kelompok. Jadi, dapat disimpulkan 

secara singkat bahwa warga  setempat yaitu  suatu wilayah 

kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial 

yang tertentu (Soekanto, 2006). 

Secara garis besar, warga  setempat berfungsi sebagai 

ukuran untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan­

hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Empat 

kriteria untuk klasifikasi warga , yaitu: (Maclver dan Charles 

dalam Soekanto, 2006):

1. Jumlah penduduk.

2. Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk daerah pedalaman.

3. Fungsi-fungsi khusus dari warga  setempat terhadap 

seluruh warga .

4. Organisasi warga  setempat yang bersangkutan. 

Jadi, sebuah warga  dapat diartikan sebagai sejumlah 

penduduk yang mendiami sebuah daerah yang memiliki hubungan-

hubungan khusus dan saling berinteraksi dalam warga  

ini .

105Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

Kajian Tentang Kebudayaan

Kebudayaan sangatlah dekat dengan kehidupan kita, 

kebudayaan merupakan hasil dari imajinasi warga  yang 

dituangkan dalam bentuk paling indah.  Dua orang antropolog 

terkemuka, yaitu Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski 

(Brentano’s dalam Soerjono Soekanto, 2006), mengemukakan bahwa 

Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam 

warga  ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh 

warga  itu.

Kata “kebudayaan” berasal dari kata (bahasa Sansekerta) 

buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang 

berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang 

bersangkutan dengan budi atau akal”. Bila dinyatakan secara lebih 

sederhana, kebudayaan yaitu  segala sesuatu yang dipelajari dan 

dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu warga .

Seorang antropolog C. Kluckhkohn (Soekanto, 2006) di dalam 

se buah karyanya Universal Categories of Culture menyebutkan tujuh 

unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universalis, yaitu:

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.

2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi.

3. Sistem kewarga an.

4. Bahasa.

5. Kesenian

6. Sistem pengetahuan

7. Religi

Kebudayaan dan warga 

Definisi klasik kebudayaan yang disusun oleh Sir Edward 

Tylor (dalam Horton dan Hunt, 1984) menyebutkan “Kebudayaan 

yaitu  kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, 

106 

kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan 

kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota 

masayarakat.” Bila dinyatakan secara lebih sederhana, kebudayaan 

yaitu  segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara 

sosial oleh para anggota suatu warga .

Kebudayaan sendiri dapat dibagi ke dalam kebudayaan materi 

dan nonmateri. Kebudayaan nonmateri terdiri dari kata-kata 

yang dipakai  orang, hasil pemikiran, adat istiadat, keyakinan 

yang mereka anut, dan kebiasaan yang mereka ikuti. Sedangkan 

kebudayaan materi yaitu  kebudayaan yang terdiri dari benda-

benda hasil pabrik. Sedangkan warga  yaitu  suatu organisasi 

manusia yang saling berhubungan satu sama lain. Batas-batas 

kedua konsep warga  dan kebudayaan, tidaklah begitu tegas 

(Horton dan Hunt, 1984).

Komunikasi Bahasa dan Komunikasi Simbolik

Beberapa buku dan artikel majalah yang sangat populer telah 

menciptakan istilah “bahasa tubuh” untuk perubahan arti yang 

diperagakan melalui gerak isyarat dan sikap tubuh (Schelflen, 1973). 

Lebih lanjut, meskipun “bahasa tubuh” mungkin merupakan suatu 

bentuk komunikasi, itu bukanlah bahasa yang sebenarnya, sebab  

bahasa terbatas pada komunikasi simbol.

Kebudayaan sebagai Sistem Norma

Sering kita jumpai bahwa kebudayaan menyangkut aturan 

yang harus diikuti,  kita mengatakan bahwa kebudayaan bersifat 

normatif, dengan kata lain kita mengatakan bahwa kebudayaan 

menentukan standar perilaku. Suatu norma budaya yaitu  suatu 

konsep yang diharapkan ada. Kadang-kadang norma statitis 

dianggap sebagai kebudayaan yang “nyata” dan norma kebudayaan 

sebagai kebudayaan yang “ideal”. Norma statitis yaitu  suatu 

ukuran dari perilaku yang sebenarnya, disetujui atau tidak.

107Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

Kebudayaan yaitu  suatu sistem norma-norma semacam itu 

yang rumit cara-cara merasa dan bertindak yang diharapkan yang 

distandardisasi yang dikenal dan diikuti secara umum oleh para 

anggota warga . Adapun unsur-unsur kebudayaan itu sendiri 

yaitu :

1. Kebiasaan

Kebiasaan (folkways) hanyalah suatu cara yang lazim 

yang wajar dan diulang­ulang dalam melakukan sesuatu oleh 

sekelompok orang.

2. Tata kelakuan

Tata kelakuan yaitu  gagasan yang kuat mengenai salah 

dan  yang menuntut tindakan tertentu dari melarang yang lain 

(Mores yaitu  bentuk jamak dari kata Latin mos, tetapi bentuk 

tunggalnya jarang muncul dalam literatur sosiologi).

3. Lembaga

Suatu lembaga yaitu  sistem hubungan sosial yang 

terorganisasi yang mewujudkan nilai­nilai dan tata cara umum 

tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar warga  tertentu.

4. Hukum

Suatu hukum berfungsi untuk memperkuat tata 

kelakuan.

5. Nilai

Nilai yaitu  gagasan mengenai apakah pengalaman berarti 

atau tidak berarti.

Struktur Kebudayaan

Struktur kebudayaan bukanlah hanya akumulasi dari kebiasaan 

(folkways) dan tata kelakuan (mores), tetapi suatu sistem perilaku yang 

terorganisasi. Hal-hal ini  mencakup (Horton dan Hunt, 1984):

108 

a. Kebudayaan Khusus (Subcultures) dan Kebudayaan Tandingan 

(Counterculture)

Kebudayaan Khusus merupakan pola perilaku yang di 

satu pihak berkaitan dengan kebudayaan umum warga  

ini , tetapi di pihak lain sangat berbeda dengan pihak 

lain. Adapun kebudayaan Tandingan (Counterculture) yaitu  

kebudayaan khusus yang berlawanan dengan kebudayaan 

induk.

b. Perpaduan Kebudayaan

Sejogjanya, kebudayaan yaitu  sistem yang terpadu, 

di mana setiap unsur cocok dengan unsur kebudayaan yang 

lain. Namun, para teoritis mengatakan bahwa dalam suatu 

kebudayaan terpadu yang tenang juga sering ditemukan 

pertentangan-pertentangan kelas dan ketidakadilan yang 

mengintai.

c. Relativisme Kebudayaan

Relativisme suatu kebudayaan merupakan fungsi dan 

arti dari suatu unsur yang merupakan hubungan dengan 

lingkungan atau keadaan kebudayaannya. Dalam konsep 

relativisme, suatu kebudayaan tidak berarti bahwa semua adat 

istiadat memiliki  nilai yang sama dan juga tidak mengetahui 

bahwa kebiasaan tertentu pasti merugikan.

Kebudayaan Real dan Kebudayaan Ideal

Suatu kebudayaan dikatakan ideal apabila kebudayaan ter-

sebut mencakup tata kelakuan dan kebiasaan yang secara formal 

disetujui yang diharapkan diikuti oleh banyak orang (norma-norma 

budaya); sedangkan suatu kebudayaan real yaitu  kebudayaan 

yang mencakup hal-hal yang betul-betul dilaksanakan oleh suatu 

warga  yang memiliki kebudayaan ini .

109Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

Etnosentrisme

Dalam suatu kebudayaan sering dijumpai etnosentrisme, 

dimana kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan 

kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik. Levine dan 

Campbell (Horton dan Hunt, 1984) menyusun 23 segi “sindroma 

etnosentrisme universal”, dimana etnosentrisme merupakan suatu 

tanggapan manusiawi yang universal, yang ditemukan dalam 

seluruh warga  yang dikenal, dalam semua kelompok dan 

praktisnya dalam seluruh individu.

Sejalan dengan perkembangannya, etnosentrisme memberikan 

pengaruh terhadap pengukuhan nasionalisme dan patriotisme. 

Tanpa etnosentrisme, kesadaran nasionl maupun etnik yang penuh 

semangat tidak mungkin akan terjadi. Namun, dalam situasi-

situasi tertentu, etnosentrisme dapat meningkatkan kestabilan ke-

budayaan dan kelangsungan hidup kelompok; dalam situasi lain, 

etnosentrisme dapat meruntuhkan kebudayaan dan memusnahkan 

kelompok.

Xenosentrisme

Shil dan Wilson (Kottak, 2005) mengatakan xenosentrisme 

yaitu  suatu pandangan yang lebih menyukai hal-hal yang 

berbau asing, kebalikan dari etnosentrisme. Faham ini didasar kan 

pada daya tarik yang asing dan yang jauh serta yang di bawa dari 

pusat kebudayaan yang jauh, yang dianggap jauh dari batas-batas 

lingkungan warga  sendiri yang kotor.

Gerak Kebudayaan

Manusia dalam perkembangannya selalu mengalami perubahan 

dalam berbagai bidang. Suatu kebudayaan manusia juga melakukan 

gerak di dalam suatu warga  yang menjadi wadah pada ke­

budayaan ini , hal ini disebut dengan gerak kebudayaan. Dalam 

suatu gerak kebudayaan kita mengenal istilah asimilasi dan akulturasi.

110 

a. Asimilasi

Asimilasi merupakan sebuah proses-proses sosial yang 

ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-

perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau 

kelompok-kelompok manusia serta usaha-usaha untuk 

mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental 

dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-

tujuan bersama (Soekanto, 2006). Proses asimilasi ini  akan 

timbul apabila, yaitu:

1. Kelompok­kelompok manusia yang berbeda ke budayaan nya;

2. Orang­perorangan sebagai warga kelompok tadi saling 

bergaul secara langsung dan intesif untuk waktu yang lama 

sehingga;

3. Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia 

ini  masing-masing berubah dan saling me nye suaikan 

diri.

Suatu proses asimilasi bisa terjadi apabila terdapat faktor-

faktor pendukung, namun bisa saja tidak terjadi apabila dalam 

proses ini  terdapat faktor-faktor penghambat asimilasi. 

Adapun faktor-faktor yang mendukung asimilasi, yaitu:

1. Toleransi.

2. Kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang.

3. Mengharagai kebudayaan lain.

4. Terbuka.

5. Terdapat persamaan unsur kebudayaan.

6. Adanya perwakilan campuran dan musuh bersama di 

luar.

Namun, tidak jarang juga asimilasi ini  tidak akan 

terjadi apabila terdapat faktor-faktor penghambat, yaitu:

1. Terdapat kehidupan yang terisolasi.

111Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

2. Kurangnya pengetahuan terhadap budaya lainnya.

3. Adanya perasaan takut terhadap budaya lain.

4. Adanya perbedaan ciri fisik dan in-Group feeling yang kuat.

5. Adanya perbedaan kepentingan.

b. Akulturasi

Koentjaraninggrat (dalam Soekanto, 2006) menyebutkan 

bahwa akulturasi merupakan sebuah proses yang terjadi 

apa bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan 

asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur-unsur 

kebudayaan asing ini  dengan lambat laun diterima dan 

diolah ke dalam kebudayaan sendiri.

Proses akulturasi dan asimilasi yang berjalan dengan baik 

dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan 

asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri dengan unsur 

kebudayaan sendiri, namun apabila tidak berjalan dengan 

baik akan menimbulkan berbagai masalah yang menyebabkan 

terjadinya perpecahan pada kehidupan sosial berwarga .

Metode

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan 

femenologi dengan teknik pengumpulan data dengan observasi dan 

wawancara. Pendekatan dengan femenologi berusaha memahami 

arti peristiwa dan kaitan­kaitannya terhadap obyek penelitian yaitu 

warga kecamatan Blang Pidie dalam situasi dan realitas kebudayaan. 

Obyek penelitian dalam observasi ini mencakup tiga komponen 

yaitu kecamatan Blang Pidie (place), warga  setempat (actor), 

dan perpaduan kebudayaan (aktivitas).

Wawancara yang dipakai  yaitu  wawancara semiterstruktur 

(semistructure interview) yaitu teknik pelaksanaan wawancara lebih 

bebas sehingga menemukan permasalahan lebih terbuka, dimana 

pihak yang diajak wawancara dalam penelitian ini yaitu  warga  

kecamatan Blang Pidie dan Kepala Lorong desa Pasar Baru diminta 

pendapat dan ide-ide mereka tentang realitas kebudayaan yang 

terjadi 

Hasil dan Diskusi

Pola Interaksi Sosial

Kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA) merupakan kabupaten 

administratif yang otonom sejak tanggal 10 April 2002 melalui 

Undang-Undang Nomor 4 tahun 2002 (Wilkipedia, Indonesia). 

Sebelumnya kecamatan ini bergabung dengan kabupaten Aceh 

Selatan dengan ibu kota kabupaten Tapaktuan. Dilihat dari sudut 

pandang geografis, kota ini terletak digugusan pegunungan Bukit 

Barisan dan berhadapan dengan Samudera Hindia, kabupaten ini 

berbatasan dengan Gayo Luwes arah timur dan utara, Aceh Selatan 

dan Samudera Hindia di selatan dan Nagan Raya dari arah barat. 

Kabupaten ini terdiri dari 9 kecamatan dan 29 kelurahan.

Adapun kecamatan yang terdapat pada kabupaten Aceh 

Barat Daya yaitu  kecamatan Babah Rot (1 mukim, dan 7 desa/

kelurahan), Blang Pidie (1 mukim, dan 29 desa/kelurahan), Jeumpa 

(4 mukim, dan 10 desa/kelurahan), Kuala Batee (3 mukim, dan 18 

desa/kelurahan), Lembah Sabil (3 mukim, dan 12 desa/kelurahan), 

Manggeng (1 mukim, dan 29 desa/kelurahan), Setia (2 mukim, dan 6 

desa/kelurahan), Susoh (4 mukim, dan 28 desa/kelurahan), Tangan-

Tangan (1 mukim, 21 desa/kelurahan) (Ensiklopedia Aceh, 2005).

berdasar  hasil survei Master Wilayah Skema 456 Kabu-

pa ten /Kota (Keadaan Desember 2007), wilayah daerah Blang Pidie 

tercatat seluas 893,01 Km yang terdiri dari 29 kelurahan, diantaranya 

yaitu Pasar Blang Pidie, Geulumpang Payong, Keude siblah dan 

Meudang Ara. Pasar Blang Pidie atau lebih akrab disebut dengan 

Pasar Baru merupakan bagian dari wilayah kecamatan Blang Pidie. 

Adapun jumlah penduduk yang bermukim pada daerah ini  

113Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

lebih kurang sekitar 1000 orang, dan penduduk yang bermukim 

di daerah sekitar didominasi oleh para pendatang khususnya 

penduduk dari Sumatera Barat, Padang (Wawancara 1, 24 April 

2012).

Kecamatan ini didominasi oleh dua suku yaitu suku Aceh dan 

suku Padang (Minangkabau). Kedua suku ini  memiliki bahasa 

yang berbeda antara satu dengan lainnya sehingga sulit untuk 

terwujudnya sebuah interaksi sosial. Sebuah komunikasi tidak akan 

bisa terjadi, sebab  pada sebuah perilaku orang lain, orang yang 

bersangkutan tidak memberi respon dari penyampaian yang telah 

dilakukan oleh orang ini , disebab kan perbedaan bahasa yang 

sulit dimengerti antar kedua suku ini .

Jika ditelusuri dari sejarah, saat  berlangsungnya perang 

paderi, para pejuang paderi mulai terjepit oleh serangan kolonial 

Belanda. Minangkabau pada saat itu yaitu  bagian dari kerajaan 

Aceh mengirim bantuan balatentara. saat  keadaan makin kritis 

rakyat terpaksa di eksoduskan, pada saat itu mulailah Rakyat 

Minangkabau bertebaran di pantai Barat Selatan Aceh. Aneuk Jamee 

di Aceh Barat Daya, menempati di daerah-daerah pesisir yang dekat 

dengan laut. Kemungkinan besar yang bisa disimpulkan bahwa 

jalur perpindahan nenek moyang dulu yaitu  dari jalur ini, yang 

sebagian besar dari mereka dulu hidup dari berkebun dan melaut. 

berdasar  pendapat Gilin dan Gillin (dalam Soekanto, 

2006) yang menyebutkan bahwa sebuah interaksi akan terbentuk 

salah satunya dengan adanya akomodasi pada sebuah warga . 

Menurut Gilin dan Gillin sebuah akomodasi merupakan sebuah 

adaptasi yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu untuk 

menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitar. Dalam hal ini, kedua 

suku yang terdapat pada kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA) 

melakukan sebuah akomodasi dalam menentukan bahasa yang 

dipakai  dalam interaksi sehari-hari. Sehingga pada akhirnya 

bahasa padang tetap dipakai  dengan berasimilasi dengan bahasa 

Aceh yang kemudian menjadi bahasa “Jamee”.

Tidak terdapat perubahan yang besar pada bahasa ini , 

hanya beberapa konsonan dan vokal yang sedikit diubah untuk 

menyesuaikan dengan bahasa Aceh. Bahasa Jamee sendiri tersebar 

luas hampir diseluruh daerah Blang Pidie diantaranya: Susoh (Jamee 

murni), Pasar Baru (Jamee murni), Manggeng (Jamee plural). Pada 

daerah tertentu seperti Aceh Barat, bahasa Jamee hanya dituturkan 

dikalangan orangtua saja, namun pada daerah Blang Pidie bahasa 

ini kerap dipakai  sebagai bahasa komunikasi sehari-hari (lingua 

Frana).

Komunitas Aneuk Jamee tidak terkonsentrasi pada tempat 

tertentu, melainkan menyebar, misalnya dalam suatu kecamatan 

tidak semuanya didomisili  oleh suku aneuk jamee saja, namun 

bercampur dengan Aceh. Perbedaan desa sajalah yang hanya 

membedakan komunitas ini . Namun,  di desa itu dapat juga 

kita jumpai orang berbicara dua bahasa, Aceh dan jamee/minang. 

Hal ini disebabkan sebab  adanya hubungan famili yang berbahasa 

aceh di desa lain. 

Pada objek penelitian, penulis menemukan bahwa dari beberapa 

komunitas aneuk jamee itu tidak bisa berbahasa aceh, hal ini  

berkaitan dengan komunitas dan pergaulan komunitas tempat 

tinggalnya. Seperti halnya Pasar Baru, rata-rata penduduknya 

memang tidak bisa berbahasa aceh secara baik dan benar, 

disebab kan komunitas di kota itu bahasa pergaulannya yaitu  

bahasa jamee itu sendiri. Dominan penduduk yang berdomisili 

pada daerah ini berasal dari Padang, Sumatera Barat.

berdasar  potensi wilayah, kabupaten ABDYA khususnya 

kelurahan Pasar Baru memiliki wilayah yang sangat gersang dan tidak 

memiliki potensi di bidang pertanian, perairan, dan pertambangan. 

Mayoritas mata pencaharian penduduk disini yaitu  berdagang. 

Sehingga dalam syair Aceh daerah ini sangat populer dengan “nafsu 

115Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

minta peng jak ue Blang Pidie” (Syair Rafli “Kisah Gampong Loen). 

Banyak dari suku pendatang (Minangkabau) mengadu nasib mereka 

dengan berdagang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Organisasi dan lembaga di setiap daerah tentu berbeda, 

Blang Pidie memiliki sebutan khusus untuk menyebut organisasi 

dan lembaga pada daerahnya. Setiap kecamatan yang terdapat di 

Blang Pidie dibagi atas Mukim. Mukim yaitu  kesatuan warga  

hukum di bawah kecamatan yang terdiri atas gabungan beberapa 

Gampong yang memiliki  batas wilayah tertentu yang dipimpin 

oleh Imeum Mukim atau nama lain dan berkedudukan langsung di 

bawah Camat.

Mukim dibagi atas kelurahan dan Gampong. Kelurahan 

dibentuk di wilayah kecamatan dengan Qanun Kabupaten/Kota 

yang dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya 

memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. Kelurahan di 

Provinsi Aceh dihapus secara bertahap menjadi Gampong atau nama 

lain dalam Kabupaten/Kota. Gampong atau nama lain yaitu  kesatuan 

warga  hukum yang berada di bawah Mukim dan dipimpin 

oleh Keuchik atau nama lain yang berhak menyelenggarakan urusan 

rumah tangga sendiri.

Secara garis besar, suatu warga  berfungsi sebagai ukuran 

untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan­hubungan 

sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Setiap anggota 

warga  senantiasa selalu ikut berpartisipasi dan terlibat dalam 

proses-proses sosial yang terjadi pada suatu warga .

Realitas Budaya yang Terjadi

Perpaduan antarsuku Aceh dan Padang tentu menghasilkan 

kebudayaan, tradisi serta adat istiadat yang beraneka ragam. Umum-

nya, sebuah perpaduan kebudayaan tetap akan memunculkan 

sebuah kebudayaan yang mendominasi kebudayaan yang tersaingi. 

116 

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt mengatakan bahwa sebuah 

kebudayaan dan warga  tidak memiliki batas-batas konsep yang 

terlalu tegas. Sehingga sungguh sangat memungkinkan terjadinya 

perpaduan satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya.

Kebudayaan sendiri terbagi ke dalam kebudayaan materi dan 

nonmateri. Kebudayaan materi yang terdapat yang terdapat pada 

daerah berbeda denga daerah lainnya. Sebagai daerah yang paling 

awal penyebaran islam, daerah Aceh khususnya Blang Pidie banyak 

menggunakan tulisan Arab Melayu yang kerap dijumpai di berbagai 

papan bangunan. Tulisan Arab Melayu ini  merupakan 

identitas Aceh sebagai daerah paling awal berkembangnya islam di 

Nusantara.

Berbagai tulisan Arab Melayu yang kerap dijumpai di berbagai 

papan bangunan merupakan sebuah identitas Aceh sebagai daerah 

paling awal masuknya islam di Nusantara. Adapun huruf Arab 

Melayu itupun tumbuh dan berkembang dari Wilayah Aceh. Awal 

mulanya Islam masuk ke Aceh, terjadilah islamisasi dalam berbagai 

bidang kehidupan, seperti seni-budaya dan lain sebagainya. Hal 

ini  dilakukan untuk memudahkan dan menarik para warga 

Aceh dalam memeluk islam. Untuk tulisan Arab-Melayu dibuat 

penyesuaian, dan akhirnya huruf Arab ini diberi nama huruf Arab 

Melayu (bahasa Aceh: harah Jawoe). 

Sejauh ini perkembangan tulisan Jawoe ini  hanya dilakukan 

oleh Badan Dayah NAD yang pernah melaksanakan penataran 

penulisan Arab Melayu pada tahun 2006 dan 2007 dengan salah 

seorang nara sumbernya, Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag ini . 

Sebenarnya, para guru yang mengasuh mata pelajaran TAI-lah 

yang semestinya diberikan bimbingan khusus mengenai penulisan 

TAI itu. sebab  merekalah yang langsung mengajari muridnya di 

kelas. Namun, kegiatan demikian belum terdengar sampai saat ini 

(Wawancara 2, 25 April 2012).

117Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

Penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten/Kota berpedoman 

pada asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang memiliki 

kekhususan dalam asas keislaman. Penyelenggaraan Pemerintahan 

Kabupaten/Kota terdiri atas DPRK. Susunan organisasi ini 

diatur lebih lanjut dalam Qanun. Dalam hal ini, qanun mengatur 

pelaksanaan syariat Islam yang meliputi bidang aqidah, syaria’ah, 

dan akhlak (UU No.11 Tahun 2006).

Setiap pemeluk agama Islam di Aceh wajib menaati dan 

mengamalkan syari’at Islam. Setiap orang yang bertempat tinggal 

atau berada di Aceh wajib menghormati pelaksanaan syari’at Islam. 

Pemerintahan Aceh khususnya Pemerintahan Kabupaten atau Kota 

menjamin kebebasan, membina kerukunan, menghormati nilai-nilai 

agama yang dianut oleh umat beragama dan melindungi sesama 

umat beragama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama 

yang dianutnya.

Dalam pelaksanaannya, orang-orang yang melanggar syari’at 

Islam akan dihukumi cambuk seperti yang dilakukan oleh budaya 

timur. Pada saat hukuman akan berlangsung setiap petugas atau 

lebih akrab disebut dengan polisi syari’ah menghimbau para warga 

untuk menyaksikan secara langsung hukum cambuk ini . 

berdasar  hasil wawancara dengan kepala lorong setempat 

mengatakan bahwa “Selama ini hukuman cambuk diberikan 

terhadap sanksi pelaku zina dan pemain judi, untuk kasus yang 

terkait dengan pemerintahan masih belum terlaksana dan dihukum 

secara syariat” tutur Pak Hamdan selaku kepala lorong daerah 

ini .

Hal yang paling unik dijumpai dari suku jamee yaitu  tradisi 

pada hari Meugang (hari magang). Tradisi ini dikenal dengan tradisi 

Mambantai dan Balamang. Kedua tradisi ini selalu dilaksanakan setiap 

tahun sebelum ramadhan. Mambantai yaitu  tradisi penyembelihan 

hewan yang nantinya dimasak untuk keperluan Meugang. Kegiatan 

ini dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka berkumpul di sebidang 

118 

tanah yang cukup luas. Prosesi ini dipimpin oleh seorang pawang 

(kadang dipimpin oleh Imam Chik mesjid atau Meunasah ) yang 

benar-benar memahami tata cara dan doa dalam penyembelihan 

dan dibantu oleh beberapa orang yang bertugas mengikat kaki dan 

merebahkan hewan yang akan disembelih dengan posisi menghadap 

kiblat. Sampai pada proses pemotongan daging dan siap dimasak 

oleh kaum perempuan.

Selain itu, dihari yang sama ada pula tradisi Balamang yang 

dilaksanakan oleh hampir semua keluarga disana. Balamang berarti 

tradisi memasak lemang. Uniknya Lemang ini  dimasak bersama-

sama oleh semua malamang. Malamang perempuan yang ada dalam 

keluarga yang biasanya diikuti oleh tiga generasi; nenek, ibu dan 

anak perempuan (hasil pengamatan penulis).

Balamang berarti tradisi memasak lemang. Uniknya lemang 

ini  dimasak bersama-sama oleh malamang perempuan yang 

ada dalam keluarga yang biasanya diikuti oleh tiga generasi; nenek, 

ibu dan anak perempuan. Mereka mendapat porsi tugas masing-

masing sesuai usia. Nenek dianggap orang yang paling ahlu dalam 

memasak lemang. Nenek bertugas sebagai orang yang mengaduk 

semua bahan dengan takaran yang sesuai. Selain itu ia juga yang 

paling mengerti cara memasukkan beras ke dalam bambu.

Generasi yang lebih muda kebagian tugas mencari, memotong 

dan membersihkan bambu untuk memasak lemang. Suatu hal yang 

menjadi pantangan bahwa bambu (buluh) tidak boleh dilang kahi 

sebab  dapat menyebabkan beras ketan yang dimasak di dalam buluh 

ini  alak akan keluar (menjulur) saat proses pemanggangan 

(dibakar di bara api) dalam posisi berdiri bersandar pada besi 

tungku. Biasanya bambu dicuci di sungai dengan menggunakan 

sabut kelapa untuk mengikis miang yang melekat pada bambu 

(buluh) agar tidak gatal lagi. Gerakan menggosok batang bambu 

juga ditentukan yaitu satu arah, tidak boleh bolak-balik untuk 

mencegah miang tadi melekat kembali. Gerakannya juga tidak 

119Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

boleh terlalu keras agar tidak merusak buluh. Generasi kedua ini 

juga bertugas memeras santan dengan memisahkan santan dengan 

memisahkan santan kental dan encer.

Sedangkan generasi ketiga yaitu  generasi yang sudah harus 

mempelajari cara memasak lemang. Ia harus memperhatikan dengan 

baik setiap prosesnya. Tugasnya lebih ringan, mulai dari mencari 

daun pisang, lalu memilih dan memotong daun muda yang tidak 

mudah robek untuk dimasukkan ke dalam buluh lemang. Ia juga 

harus mencuci beras hingga bersih.

Tata cara serta ketentuan yang berlaku pada suatu adat istiadat 

serta  tradisi pada daerah ini, harus dilakukan secara runtut dan tidak 

diperbolehkan diganti dengan sesuatu apapun. Bahkan menurut 

mitos yang berkembang pada warga daerah Pasar Baru Kecamatan 

Blang Pidie mengatakan bahwa apabila terdapat salah satu warga 

yang tidak melaksanakan tradisi sesuai dengan ketentuan yang 

berlaku, kemungkinan akan ditimpa musibah pada keluarganya 

dan dijauhkan rezeki serta jodohnya (Wawancara 2, 25 April 2012).

Suku Jamee pada kabupaten ABDYA khususnya daerah Blang 

Pidie sangat mengagungkan relativisme kebudayaan. Dimana setiap 

orang memiliki pemahaman bahwa setiap kebudayaan memiliki 

unsur yang sama dan tidak bisa dipastikan terdapat budaya atau 

tradisi yang merugikan. Sehingga dalam perkembangannya, 

sangat jarang ada kebudayaan asli yang terhapus pada kedua suku 

ini . Suku Aceh tetap melaksanakan tradisi dan adat istiadat 

Aceh, begitu pula sebaliknya dengan suku Minangkabau, antar 

kedua suku sangat jarang ditemukan pertentangan dan pertikaian 

yang berkaitan dengan kebudayaan yang mereka anut.

Levine dan Campbell (dalam Horton dan Hunt, 1984) menya-

takan bahwa dalam suatu kebudayaan sering dijumpai etno­

sentrisme, dimana suatu kelompok atau suku menganggap 

kebudayaannya yang paling baik. Fenomena yang ditemukan 

pada wilayah observasi penulis, antar suku sangat menghormati 

120 

kebudayaan masing-masing tidak ada yang mendominasi antar 

adat istiadat maupun kebiasaan yang terdapat pada daerah 

ini . Dalam tradisi bertaji, segala jenis makanan khas kedua 

suku dihidangkan, agar kekerabatan dan kerukunan tetap terjalin 

dengan baik. Walaupun tanpa etnosentrisme, pengukuhan suatu 

kebudayaan tetap akan terjaga pada daerah Blang Pidie.

Kesimpulan

Keanekaragaman kebudayaan di Indonesia tak bisa dipungkiri 

adanya asimilasi antara satu suku dengan suku lainnya, antar 

budaya dengan budaya lainnya. Aceh sendiri sebagai sebuah 

provinsi yang terdapat di Indonesia memiliki berbagai suku, di-

antaranya suku Gayo, Aceh, Melayu, Jamee, dan masih banyak 

lain nya. Suku Aneuk Jamee yaitu  kombinasi dari budaya Aceh 

dan Budaya Minangkabau. Penyebutan Jamee sendiri merupakan 

sebuah sebutan penghormatan terhadap tamu atau pendatang yang 

menetap di Aceh.

Dalam kehidupan sehari-sehari kedua suku ini  me-

lakukan interaksi dengan menggunakan bahasa Jamee. Bahasa 

Jamee sendiri merupakan perpaduan antara bahasa Aceh dan 

bahasa Padang. Suku yang terdapat pada kabupaten Aceh Barat 

Daya (ABDYA) melakukan sebuah akomodasi dalam menentukan 

bahasa yang dipakai  dalam interaksi sehari-hari. Sehingga pada 

akhir nya bahasa padang tetap dipakai  dengan berasimilasi 

dengan bahasa Aceh yang kemudian menjadi bahasa “Jamee”. 

Tidak terdapat perubahan yang besar pada bahasa ini , hanya 

bebe rapa konsonan dan vokal yang sedikit diubah untuk menyesua 

ikan dengan bahasa Aceh.

Pola kebudayaan antar kedua suku menghasilkan tradisi dan 

adat istiadat yang sangat unik, dimana pada setiap tradisi dan 

adat istiadat masih memunculkan kebudayaan khas dari ke dua 

121Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma

suku ini . Tradisi yang sering dilakukan pada kedua suku 

ini  yaitu  tradisi “Bertaji”, yaitu sebuah Ritual makan ber-

sama yang sering dilakukan para warga merupakan bentuk kerja 

sama (cooperation) antara dua suku yaitu suku Aceh dan suku 

Minang kabau. Ritual bertaji ini menghasilkan perpaduan suku 

yang sekarang dikenal dengan Aneuk Jamee. Berbagai jenis makanan 

yang dihidangkan dalam ritual ini  merupakan perpaduan 

makanan khas dari suku Aceh dan Minangkabau. Ritual bertaji ini 

juga menjadi momen yang sangat penting bagi suku Minangkabau 

untuk melepas rindu pada kampung halamannya.

Tradisi dan adat istiadat tertentu bisa dijumpai pada saat 

penyambutan dan peringatan hari besar seperti pada saat penyam-

butan bulan suci Ramadhan dan lebaran Idul Fitri maupun Idul 

Adha banyak dari warga setempat melakukan tradisi Balamang 

dan Mambantai, yang sampai saat ini masih dilakukan bahkan 

tanpa tradisi ini, sebuah perayaan dan peringatan ini  tidak 

akan berarti apa-apa.

Asimilasi yang terjadi pada kecamatan ini sangat jarang me-

nimbulkan pertikaian dan pertentangan antara kedua suku ter-

sebut. Pemerintahan pada daerah ini  benar-benar mengatur 

se demikian rupa tatanan kehidupan warga  sekitar, sehingga 

ke rukunan dan kekerabatan tetap terjalin dengan baik.

122 

123Model Konsep Diri ... ~ Mela

mODeL kONSep Diri 

mahaSiSwi SampaNG, 

maDura

Mela Wijayanti 

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail: comelljaya@gmail.com

Mukadimah

Memahami tentang diri merupakan tugas dari masing-

masing individu, sebab  pemahaman diri berhubungan dengan 

perkembangan individuasi dan identitas pada masa remaja. 

Perkembangan identitas pada masa remaja sangatlah penting, 

sebab  hal itu memberikan landasan bagi perkembangan psikososial 

dan relasi interpersonal seorang individu (Jones & Hartman dalam 

Desmita 2010). Pemahaman konsep diri sebenarnya dimulai sejak 

masa kanak-kanak, yakni sejak mereka mulai dapat belajar, berpikir 

dan memahami dirinya seperti yang orang lain persepsikan. Tetapi 

pencapaian identitas diri umumnya diperoleh pada masa remaja.

Pemahaman tentang konsep diri, dapat diperoleh dari berbagai 

sumber. Menurut Atwer (1987), konsep diri dapat diidentifikasi 

dalam tiga bentuk, (1) body image, yakni bagaimana seseorang 

124 

melihat diriny sendiri, (2) ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan 

harapan seseorang mengenai dirinya, (3) social self, yakni bagaimana 

orang lain melihat dirinya. Faktor eksternal menjadi hal yang 

mendominasi dalam perolehan tetang konsep diri pada seorang 

individu. sebab  sebenarnya, konsep diri itu terbentuk berdasar  

persepsi seseorang tentang sikap orang lain terhadap dirinya. Akan 

tetapi, pembentukan konsep diri juga dapat berasal dari dalam 

individu itu sendiri. Artinya individu menemukan hal-hal apa saja 

yang ada pada dirinya dengan cara mengevaluasi semua tentang 

dirinya.

Luasnya aspek dari pemahaman dan pengetahuan tentang diri, 

membuat peneliti melakukan wawancara terhadap seorang subjek 

yang berasal dari suatu daerah yang memiliki ciri khas dalam 

hal tertentu dan menarik untuk peneliti jadikan sebagai subjek 

penelitian. Untuk lebih jelasnya pemahaman tentang konsep diri, 

akan peneliti paparkan dalam atikel ini.

Kerangka Kerja Teoritik

Diri atau self, menurut William James (1890) dalam bukunya 

“Principle of Psychology”, merupakan segala sesuatu yang dapat 

dikatakan orang tentang dirinya sendiri, 


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH