asing-masing dari
mereka memiliki pola hidup yang khas dan sesuai dengan pola pikir,
waktu dan tempat dimana mereka berada. Lalu dari hal inilah dapat
ditemukan ciri khas tersendiri dari suatu kelompok warga
yang membedakan kelompok warga satu dengan yang lain.
Ciri khas ini disebut dengan kebudayaan (Koentjaraningrat
2004).
46
Pada kenyatanya, terdapat satu tradisi atau budaya yang sejak
dulu hingga sekarang masih mendarah daging dengan warga
di sebuah desa. Tepatnya di daerah Bungah Gresik Jawa Timur,
yaitu tradisi perayaan Houl sesepuh Desa atau tokoh besar sebuah
Pondok Pesantren. Beliau dikenal dengan nama Mbah Sholeh Tsani.
sebab semangatnya dalam menyiarkan agama Islam di Desa
Bungah, maka warga dan penduduk desa setempat selalu
memperingati hari wafatnya tiap tahun. Tradisi seperti ini disebut
dengan houl. Tradisi ini bisa diibaratkan seperti magnet yang
menarik banyak warga dari berbagai daerah yang mengenal
sosok Mbah Sholeh Tsani. Hingga Pesarean atau makam beliau penuh
dengan pengunjung yang mengirim doa dan tahlil kepadanya.
Acara houl seperti ini berbeda dengan tradisi pada umumnya,
sebab perayaan ini diketahui dengan menggunakan Tanggal
Jawa yang dipakai oleh warga jawa tulen pada umumnya
(Wawancara Subjek 2, Tanggal 21 April 2012). Berbeda dengan tradisi
modern yang dilaksanakan berdasar tanggal nasional seperti
karnaval pada hari kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17
Agustus, dan acara-acara yang lain.
Kerangka Kerja Teoritik
Kebudayaan dan tindakan kebudayaan yaitu segala kegiatan
yang harus dibiasakan oleh manusia dengan proses pembelajaran
atau learned behavior, juga diajukan oleh beberapa ahli antroplogi
terkenal seperti C. Wisserl (1916), C. Kluckhohn (1941) atau A. Hoebel
(A. Davis, 1948). Mereka pernah mengumpulkan sebanyak 160 buah
definisi tentang kebudayaan yang kemudian mereka analisis, dicari
latar belakang, prinsip dan diklasifikasi kedalam beberapa definisi,
lalu hasil penelitian ini diterbitkan dalam buku yang berjudul
Culture, A Critical Review of Concepts and Definitions (1952).
47Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
Pengertian budaya seperti yang dikemukakan Edward B. Tylor
yaitu “culture of civilization is that complex whole which includes
knowledge, beliefe, art, moral, law, custom, and any other capabilities
and habits acquired by man as a member of society” dimana kultur
atau peradaban yaitu kompleksitas meyeluruh yang terdiri dari
pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan, dan
berbagai kapabilitas lainnya serta kebiasaan apa saja yang diperoleh
seorang manusia sebagai bagian dari sebuah warga .
Sedangakan pengertian lain dikemukakan oleh Clifford Geertz,
bahwa budaya tidak difahami sematamata sebagai hasil kreasi, pola
pikir manusia dan segala peristiwa manusiawi lainnya melainkan
juga dari makna yanng tersirat dari balik hasil kreasi, pola pikir dan
segala peristiwa kemanusiaan ini .
Budaya menurut Greetz (Koentjaraningrat, 2004) yaitu
sebuah konsep yang semiotik dan kontekstual. Greetz selanjutnya
mengatakan, dengan meyakini akan kebenaran tesis Wax Weber
bahwa manusia yaitu binatang yang bergantung pada jaringan
jaringan makna yang ditenunya sendiri, “saya (Greetz) menganggap
bahwa manusia dan budaya seperti halnya jaringanjaringan ini
yang memerlukan pemaknaan tersendiri dimana pemaknaannya
tidak didasarkan kepada kaca mata ilmiah yang eksperimental
melainkan berdasar mata kepala yang interpretatif”.
Wujud Kebudayaan
J.J. Honigmann (1959) menyebutkan dalam The World of Man
mengenai tiga gejala kebudayaan yaitu (1) ideas; (2) activition; dan
(3) artifacts. Hal ini, dapat dijelaskan bahwa:
Cultural system yaitu kebudayaan yang merupakan suatu
kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-noma,
peraturanperaturan yang merupakan wujud ideal dari sebuah
kebudayaan, akan tetapi bersifat abstrak sehingga tidak dapat
48
diraba atau difoto. Wujud dari kebudayaan ini kadang dapat kita
temukan dalam bentuk karangan atau tulisan.
Social system, yaitu pola-pola tindakan manusia, misalnya
berinteraksi antar sesama, berhubungan, bergaul, berkomunikasi
dan sebagainya. Rangkaian aktivitas ini dapat kita temukan di
sekitar kita dan bersifat konkret sehingga dapat didokumentasikan
atau diobservasi.
Artifacts, yaitu wujud terakhir dari kebudayaan yang disebut
sebagai kebudayaan fisik. Kebudayaan fisik yaitu suatu hasil fisik
dari aktivitas, perbuatan dan karya cipta dari kecerdasan manusia.
Bersifat paling konkrit daripada dua wujud kebudayaan sebelumnya
dan dapat didokumentasikan dan diobservasi. Bisa berupa benda-
benda peninggalan sejarah dan lain sebagainya.
Ketiga wujud kebudayaan ini saling berkaitan satu sama
lain. Kebudayaan ideal atau adat istiadat memberikan arahan
kepada tindakan dan karya cipta dari pikiran manusia sehingga
turut mempengaruhi kebudayaan fisik yang dihasilkan. Begitu juga
sebaliknya. Kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup
tertentu yang menjauhkan manusia dari lingkungan ilmiahnya
sehingga mempengaruhi pola pikir dan pola perbuatannya.
Koentjaraningrat (2004) berpendapat bahwa kebudayaan yaitu
seluruh sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan warga yang dijadikan manusia dengan
proses belajar. Antropolog lain, Ralph Linton (1945) berkata bahwa
“Culture is a congfiguration of learned behavior and result of behafiour
whose component elements are shared and transmitted by the member of
particular society”
Kebudayaan bukanlah milik satu orang saja. Ia mendapatkannya
justru sebab ia yaitu anggota dari suatu kelompok. Pada suatu
kelompok, disitulah kemudian seseorang mendapatkan konsep-
konsep, seperti belief atau kepercayaan, nilai-nilai, dan cerita-
cerita atau ingatan bersama. Oleh sebab itu individu dalam satu
49Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
warga terbuka kemungkinan untuk memiliki pengalaman
yang relative sama dengan individu lainnya (Halida, R. 2011).
Contohnya yaitu kegiatan rutin keagamaan yang dilaksanakan
oleh kelompok warga tertentu. Kegiatan ritual yang dilakukan
bersama-sama akan menimbulkan perasaan kebersamaan yang erat
antar anggotanya. saat individu melihat bahwa aktifitasnya sama
dengan orang lain, ia akan merasa bahwa orang lain itu memiliki
kesamaan dengan dirinya. Maka dari itu, kebudayaan bisa dibagi
atau shared dari, untuk, dan oleh anggota kelompoknya.
Proses Mempelajari Kebudayaan
Internalisasi. Menurut Koentjaraningrat (1996) proses inter-
nalisasi yaitu proses yang berlangsung sepanjang hidup individu,
yaitu mulai dari ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang
hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala
perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang kemudian membentuk
kepribadiannya.
Sosialisasi. Talcott Parson (Koentjaraningrat, 1996) meng
gambar kan proses mengenai kebudayaan sebagai bagian dari
proses sosialisasi individu. Semua pola tindakan individu-individu
yang menempati berbagai kedudukan dalam warga nya yang
di jumpai sesorang dalam kehidupannya sehari-hari semenjak
dirinya dilahirkan, dicerna olehnya sehingga individu ini pun
akan menjadikan pola-pola tindakan ini sebagai bagian dari
kepribadiannya.
Enkulturasi. Menurut Koentjaraningrat (1996) proses ini
merupakan proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta
sikap terhadap adat, sistem norma, dan semua peraturan yang
terdapat dalam kebudayaan seseorang. Proses ini telah dimulai sejak
awal kehidupan, yaitu dalam lingkungan keluarga, dan kemudian
dalam lingkungan yang semakin lama semakin meluas.
50
Unsur-unsur Kebudayaan
Kebudayaan memiliki unsur-unsur dasar dan universal atau
umum. Unsur-unsur ini diantaranya: bahasa, kepercayaan,
pengetahuan dan teknologi, nilai, norma dan sanksi, simbol,
kesenian (Koentjaraningrat 2004).
Language. Bahasa merupakan jantung bagi sebuah kebudayaan.
Dalam hal ini, bahasa menjadi alat atau sarana utama untuk
mengkomunikasikan, membahas, men-share-kan dan mewariskan
arti-arti kebudayaan melalui interaksi sosial. Kemampuan manusia
untuk mengkomunikasikan makna kebudayaan secara simbolik,
khususnya melalui bahasa, akan membedakan manusia dengan
makhluk yang lain.
Belief. Kepercayaan sangat berkaitan dengan pandangan
manusia tentang bagaimana dunia beroperasi. Kepercayaan yang
dapat berupa interpretasi akan masa lampau, atau penjelasan tetang
masa sekarang ataupun tentang prediksi masa yang akan datang.
Kepercayaan dapat juga timbul berdasar akal sehat (common
sense). Kepercayaan mampu membentuk pengalaman seseorang
baik secara pribadi atau individu maupun bersama atau kelompok.
Norm. Norma memiliki sifatnya berbeda dengan nilai. Jika
nilai itu sifatnya abstrak, maka norma itu bersifat konkrit, berupa
suatu aturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus
dilakukan oleh manusia. Norma mengungkapkan bagaimana
seharusnya manusia bertindak dan berperilaku secara manusiawi
dan sebagai pedoman tiap aktivitas yang dilakukannya. Dalam
norma, ada yang disebut mores atau tata kelakuan, dan folkways
atau kebiasaan. Mores mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari
kelompok manusia dan dipakai sebagai pengawas. Folkways
yaitu perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama.
Art. Salah satu contoh dari kebudayaan fisik atau material
yaitu kesenian. Setiap kebudayaan pasti memiliki cara untuk
51Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
berekspresi, baik menggunakan seni, teknologi atau kepercayaan
kepada yang gaib untuk menunjukan tentang keberadaannya
kepada dunia. Cara pengungkapan (ekspresi) nilai secara artistik ini
disebut seni atau kesenian. Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap
bentuk seni harus dikembangkan dalam kebudayaan. Setiap bangsa
atau warga memiliki ungkapan kesenian yang khas. Melalui
seni, warga dapat mengungkapan perasaannya, harapannya
ataupun cita-citanya.
Science. Untuk membangun dan mengembangkan kebudayaan
fisik dari suatu warga atau bangsa maka membutuhkan
pengetahuan dan teknologi yang mampu membangun lingkungan
fisik, sosial dan psikologi yang khas. Manusia secara intensif
berhubungan dengan alam dengan teknologi. Merujuk dari
pengalamannya ini manusia membangun kebudayaan. Dewasa ini
kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah dicapai oleh
manusia, memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan
umat manusia. Kemajuan yang dicapai ini tidak hanya berdampak
pada cara hidupnya, tetapi juga untuk menentukan teknologi
maupun ilmu pengetahuan selanjutnya.
Value. Jika kepercayaan menjelaskan tentang itu sesuatu, maka
nilai menjelaskan bagaimana seharusnya sesuatu itu terjadi. Nilai
mengacu pada apa atau sesuatu yang oleh manusia atau warga
dianggap paling berharga. Timbulnya nilai berasal dari pandangan
hidup suatu warga . Ada standar kebenaran yang harus
dimiliki oleh nilai, yaitu sesuatu yang diinginkan oleh semua orang
dan layak dihormati.
Symbol. Simbol atau lambang yaitu sesuatu yang mampu
mengekspresikan sebuah makna terdalam dari suatu maksud. Hal ini
terjadi sebab manusia mengalami keterbatasan untuk menyatakan
maksud hati, pikirannya dengan bahasa yang ada. Simbol dapat
berupa benda sehari-hari, benda-benda yang telah memiliki arti
khusus atau juga bahasa maupun gerak tubuh manusia.
52
Menurut Ernest Cassier filsuf Amerika yang berasal dari Jerman,
dalam bertindak manusia sering menggunakan simbol. sebab
itu, manusia sering disebut sebagai makhluk yang menggunakan
simbol-simbol atau animal symbolic. Lewat simbolsimbol ini
manusia akan berkreasi, mencoba mengatasi kesulitan hidup dan
ketidaktahuannya.
Houl sebagai Budaya dan Tradisi
Haul yaitu salah satu tradisi yang melekat dan mendarah
daging dengan warga di Desa Bungah. Houl berasal dari
bahasa arab yang artinya ‘tahun’, istilah lain dari peringatan tahunan
meninggalnya seseorang, misalnya memperingati haul wafat orang
tua atau saudara yang diisi dengan berziarah ke makam Shohibul
Haul, dzikir, membaca tahlil dan berdoa bersama. Tetapi pada
umum nya istilah Haul hanya dihususkan untuk memperingati
wafat nya figurfigur tokoh atau ulama yang sangat dihormati oleh
masya rakatnya. Selain bertujuan mendo’akan, peringatan Haul ini
juga sarat dengan manfaat bagi warga umum dan generasi pe-
nerus para kyai, diantaranya:
1. Meneguhkan perasaan hormat santri dan warga sekitarnya
akan peran dari Shohibul Haul. Pada konteks ini, terutama bagi
santri-santri, menghadiri Houlnya kyai sama artinya dengan
meneguhkan silsilah atau mata rantai keilmuan.
2. Sebagai ajang silaturrahim bagi santri dan para alumni.
Sehingga masing-masing alumnus bisa saling share dan tukar
pengalaman dalam kaitannya dengan perjuangannya menye-
barkan ilmu di daerahnya masing-masing.
3. Mempererat hubungan batin antara alumni dengan badal atau
wakilwakil kyai, yang umumnya yaitu putraputra kyai
sendiri atau kerabat dekatnya.
53Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
4. Pentingnya keteladanan. Pada setiap acara Haul, sebetulnya
secara tersirat mengingatkan kembali kepada figur dan
prestasi yang disandang Sohibul Haul yang bisa dijadikan acuan
keteladanan bagi generasi-generasi berikutnya.
5. Sebagai media da’wah kepada warga umum dan pem
bekalan bagi santri dan alumni. sebab pada umumnya, di-
antara rangkaian acara peringatan Haul ada mauidzoh hasanah,
isinya jelas yaitu, selain menceritakan perjuangan dan kebaikan
Shohi bul Haul agar diteladani, amar ma’ruf nahi munkar dan
pem bekalan bagi generasi muda dalam me neruskan estavet
da’wah para kyai sepuh.
Acara tahlil dan pembacaan doa pada umumnya diselenggara-
kan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari
sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-
100. Untuk selanjutnya acara ini diadakan tiap tahun di hari
kematian seseorang yang disebut dengan Houl. Meskipun dulunya
hanya di peringati dengan sangat sederhana, tetapi lama kelamaan
sebab perkembangan zaman sehingga peringatan Haul ini menjadi
semakin meriah tetapi tujuan dan arti pentingnya tetap sama. Istilah
Haul ini di ambil oleh para ulama dari dalam sebuah hadits riwayat
Baihaqi dalam Syarhus Shudur disebutkan, bahwa Rasulullah saw
setiap setahun sekali berziarah ke makam para syuhada’ perang
Uhud, kemudian Abu Bakar, Umar bin Khotthob dan Utsman bin
‘Affan juga melakukan itu.
عن الواقد قال كان رسول اهلل صلى اهلل عليه وسلم يزور الشهداء بأحد
فى كل حول, وإذا بلغ الشعب رفع صوته فيقول سالم عليكم مبا صبرمت
فنعم عقبى الدار ثم ابو بكر رضي اهلل عنه كل حول يفعل مثل ذلك ثم
عمر ابن اخلطاب ثم عثمان ابن عفان رضي اهلل عنهما. أخرجه البيهقى
54
“Dari al-Waqidi, ia berkata, Rasulullah saw pada setiap setahun
sekali berziarah kemakam para shuhada’ perang uhud, dan saat beliau
sampai di Sya’b, beliau berkata dengan keras “Salamun ‘alaikum bimaa
shobartum fa ni’ma ‘uqbad dar. Abu Bakar ra. juga melakukan seperti
itu setiap tahun, demikian juga Umar bin Khothob ra. dan Utsman bin
Affan ra. “
Metode
Metode penelitian yang dipakai yaitu kualitatif
fenomenologis, sebab pada dasarnya penelitian fenomenologi
berpsinsip a priori dan berangkat dari perspektif filsafat mengenai
apa yang diamati dan bagaimana cara mengamatinya. Premis dasar
dalam penelitian fenomenologis yaitu : Pertama, sebuah peristiwa
akan berarti dan bermakna bagi mereka yang mengamatinya
secara langsung. Kedua, pemahaman objektif dimediasi dengan
pengalaman yang subjektif. Ketiga, pengalaman manusia terdapat
dalam struktur pengalaman itu sendiri dan tidak dikonstruksi oleh
peneliti (Engkus, 2009).
Kekuatan metode penelitian fenomelnologi terletak pada
kemampuan peneliti dalam memasuki bidang persepsi orang lain,
guna memandang kehidupan sebagaimana apa yang dilihatnya,
fenomenologi mendiskripsikan pengalaman. Sebuah deskripsi
fenomenologi sangatlah dekat dengan kealamiahan sehingga
mempertahankan fenomena dan menonjolkan sifat alamiyahnya
(Engkus, 2009).
Metode fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan
yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Sebagai sebuah
pendekatan konstruktifisme dengan metodologi kualitatif, metode
fenomenologi membentangkan langkah–langkah yang harus
diambil sehingga peneliti sampai pada fenomena yang murni.
Disisi lain, fenomenologi juga berusaha memahami kerangka yang
55Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
telah dikembangakan oleh masing–masing individu dari waktu ke
waktu, hingga membentuk tanggapan mereka terhadap peristiwa
dan pengalaman dalam kehidupan.
Hasil dan Diskusi
Penelitian dilaksanakan di Desa Bungah Kabupaten Gresik
yaitu di sebuah Pondok Qomaruddin Jl. Sampurnan Desa Bungah
Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik ± 17 km dari pusat kota Gresik
menuju ke utara, tepatnya 200 m sebelah kantor kecamatan Bungah
Gresik. Di Desa ini terdapat salah satu tradisi perayaan Houl
sesepuh Desa atau keturunan ulama penyiar agama Islam yang
dimakamkan di Desa Bungah, yaitu terkenal dengan sebutan Mbah
Sholeh Tsani, nama asli beliau yaitu KH. Moh. Nawawi.
KH. Moh. Sholeh Tsani bernama kecil Muhammad Nawawi.
Beliau lahir di Desa Rengel, Tuban. Ayahnya bernama Madyani
atau KH. Abu Ishaq dan ibunya bernama Rosyihah binti KH. Moh
Sholih Awwal. Dengan demikian beliau yaitu cucu KH. Moh
Sholih Awwal. Kata “Tsani” dalam bahasa arab berarti “kedua”
yang melekat pada namanya ini untuk membedakan dengan
nama kakeknya yang dikenal dengan nama KH. Moh Sholih Awwal.
Selain itu, di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah
Gresik memang terdapat tiga pemangku berbeda dengan nama
Moh. Sholih.
Dahulu mayoritas warga desa yaitu berprofesi sebagai
petani, namun dengan perkembangan yang pesat hingga sekarang,
kebanyakan besar warga di Desa Bungah membuka Home
Industri, seperti pembuatan Peci atau Kopyah, Baju koko putra,
Rebana dan lain sebagainya. Sebelum terdapat Pondok Pesantren
kecil di tengah desa ini, warga di Bungah bisa dibilang
masih berpengetahuan minim mengenai ilmu agama, lalu setelah
dibangun Pondok Pesantren Qomaruddin pada tahun 1188 H / 1775
56
M yang didirikan oleh KH. Qomaruddin, ilmu pengetahuan umum
dan agama dalam warga ini berkembang dengan pesat
dan membawa kemajuan.
KH. Moh. Sholih Tsani yaitu seorang ulama yang produktif.
Beliau tidak hanya pandai membaca kitab karangan orang lain,
tetapi ia banyak menyusun dan menulis kitab-kitab baru terutama
yang membahas Fiqh, contohnya:
a) Kitabus Syuruth, yang berisi penjelasan tentang syarat-syarat
dan rukun ibadah, mulai dari shalat, zakat, puasa, haji dan
masalah yang berakaitan dengan muamalah.
b) Nadhom Qoshidah lis Sibyah, yang berisi ajaran tauhid untuk
anak-anak dan para Mubtadi’in yang baru mempelajari masalah
tauhid, yang dikemas dengan bentuk Nadhom atau Syiir untuk
memudahkan hafalan
c) Taslilul Awam fii Mas’alatis Syiyam, yang berisi penjelasan khusus
tentang petunjuk praktis tentang pelaksaan puasa.
KH. Moh. Sholih Tsani meninggal pada hari Kamis 24 Jumadil
Ula 1320 H/ 28 Agustus 1902 setelah memimpin pondok Pesantren
Qomaruddin selama kurang lebih 40 tahun. Jenazahnya di makam-
kan di pemakaman khusus para Muassis atau keluarga Pemangku
Pondok Qomaruddin Sampurnan Bungah di tengah Desa Bungah.
Sejarahnya, beliau dikenal oleh warga sebab kegigihannya
dalam membangun dan menyiarkan agama di salah satu desa yang
pada saat itu pengetahuan agamanya bisa dibilang tertinggal. Hingga
setelah beliau mengembangkan Pondok Pesantren Qomaruddin,
maka berkembang pula pengetahuan warga mengenai ilmu
umum dan ilmu agama ini .
Sampai saat ini, ikatan batin antar Kiai dengan ribuan santrinya
ini sangat kuat hingga masih ada komunikasi atau jalinan
silaturrahmi. Bahkan bertahuntahun setelah beliau wafat masih
ada silsilah keilmuan yang diwariskan pada para santri dan
57Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
warga nya yang menghasilkan tradisi Houl atau ziarah ke
makam ulama yang dikagumi warga di Desa Bungah dimana
Mbah Sholeh dimakamkan.
Berawal dari definisi budaya itu sendiri, budaya yaitu suatu
gagasan atau ide dari sekelompok warga yang diakui secara
ber sama (Koentjaraningrat, 2004). Sedangkan menurut Larry A.
Samovar & Richard E. Porter (Koentjaraningrat, 2004). Kebudayaan
dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman,
ke perca yaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu,
peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau ke-
pemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang
atau suatu generasi.
Menggunakan berbagai definisi ini , dapat diperoleh
penger tian mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi
tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang ter-
dapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan ke budayaan
yaitu benda-benda yang diciptakan oleh manusia se bagai makhluk
yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi
sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya di tujukan untuk
membantu manusia dalam melangsungkan ke hidupan.
Dan peringatan Houl yaitu suatu tradisi yang berasal dari
gagasan sekelompok warga yang bersumber dari kepercayaan
dan memiliki nilai yang dipertahankan oleh banyak orang, tidak
hanya individu, tapi hampir seluruh warga mempertahankan
ke biasaan ini dan mewariskan kepada generasi selanjutnya (Jabir,
1984).
Nilai yang dianut oleh warga satu dengan warga lain
juga berbeda seperti tradisi ini yang rutin dilakukan setiap tahun
dimana warga melihat perayaan Houl ini melalui Tanggalan
Jawa yang dianut secara umum sebab mereka menganggap
58
perayaan hari besar ini berbeda dengan perayaan hari besar nasional
pada umumnya (Wawancara Subjek 2, Tanggal 21 April 2012).
Telah dijelaskan juga bahwa terdapat tiga wujud kebudayaan
menurut J.J. Honigmann (1959) dalam bukunya yang berjudul The
World of Man. Cultural System yaitu kebudayaan yang merupakan
suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-noma,
peraturanperaturan yang merupakan wujud ideal dari sebuah
kebudayaan, akan tetapi bersifat abstrak sehingga tidak dapat
diraba atau difoto.
Dalam hal ini Houl juga merupakan salah satu wujud kebudayaan
yang diakui oleh warga dan dilakukan dari generasi satu ke
generasi berikutnya secara turun temurun. Dimana didalamnya
melekatlah norma-norma agama dan nilai yang berkaitan. Hingga
dalam hal ini, tradisi houl bisa dikatakan sebagai adat istiadat
warga desa setempat yang menjadikannya sebagai gagasan
atau ideide yang hidup bersama warga dan memberi jiwa
terhadap warga itu sendiri.
Social system yaitu tindakan berpola dari manusia itu sendiri
yang bisa melalui interaksi, hubungan individu satu dengan individu
lain, warga satu dengan yang lain, bergaul, berkomunikasi
dan sebagainya. Rangkaian aktivitas ini dapat didokumentasikan
atau diobservasi dan bisa ditemukan disekitar kita.
Melalui tema pembahasan tentang Houl, dapat diartikan bahwa
houl yaitu salah satu hasil interaksi manusia dengan sesamanya,
dari detik ke detik, hari ke hari hingga tahun ke tahun. Dimana
acara atau kebiasaan ini dilakukan dengan pola-pola tertentu yang
berdasar tata kelakuan. Maka sebagai kesatuan rangakaian
aktifitas warga , Sistem sosial ini bersifat konkret dan nyata atau
bisa dilihat dan didokumentasikan. Dalam hal ini bisa ditemukan
adat atau kebiasaan warga desa yang mengunjungi makam
atau Pesarean Mbah Sholeh tiap tahunnya, dan terdapat interaksi
59Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
sosial antar warga yang pada akhirnya menjadi rangkaian
aktifitas yang berpola.
Artifacts atau kebudayaan fisik. Kebudayaan fisik yaitu suatu
hasil fisik dari aktivitas dan karya manusia. Kebudayaan fisik ini
bersifat paling konkrit atau nyata daripada dua wujud kebudayaan
sebelumnya dan dapat didokumentasikan dan diobservasi. Bisa
berupa benda-benda peninggalan sejarah dan lain sebagainya.
Mbah Sholeh adah salah satu tokoh yang dianggap istimewa oleh
warga , sebab beliau yaitu tokoh sejarah yang paling dikenal
dan dekat dengan warga desa itu sendiri. Seperti yang telah
dijelaskan bahwa beliau telah menulis berbagai macam kitab yang
pada zaman dahulu dipakai sebagai media pembelajaran para
santri yang belajar dengan beliau di Pondok Pesantren Qomaruddin
(Jabir, 1984). Seperti :
a. Kitabus Syuruth, yang berisi penjelasan tentang syarat-syarat
dan rukun ibadah, mulai dari shalat, zakat, puasa, haji dan
masalah yang berakaitan dengan muamalah.
b. Nadhom Qoshidah lis Sibyah, yang berisi ajaran tauhid untuk
anak-anak dan para Mubtadi’in yang baru mempelajari masalah
tauhid, yang dikemas dengan bentuk Nadhom atau Syiir untuk
memudahkan hafalan
c. Taslilul Awam fii Mas’alatis Syiyam, yang berisi penjelasan khusus
tentang petunjuk praktis tentang pelaksaan puasa.
Peninggalan-peninggalan seperti ini yang dimaksud sebagai
wujud kebudayaan fisik atau Artifact yang bersifat nyata, dapat
didokumentasikan dan dilihat. Selain peninggalan sejarah itu, masih
berdiri dengan kokoh bangunan Pondok Pesantren Qomaruddin
yang telah direnovasi beberapa kali oleh pengasuh pondok setelah
Mbah Sholeh, dimana pada bangunan ini terdapat cerita sejarah
mengenai kepemimpinan dan pengajaran beliau terhadap ratusan
santrinya pada masa itu.
60
Ketiga wujud kebudayaan ini tidak dapat terpisah antara
satu dengan yang lain. Kebudayaan dan adat akan mengatur dan
memberi arah pada warga . Baik pemikiran, ide-ide dan gagasan
yang pada ahirnya akan menghasilkan kebudayaan fisik atau artifak.
Begitu juga sebaliknya, kebudayaan fisik akan membentuk suatu
lingkungan tertentu yang akan mempengaruhi pola-pola perilaku
dan cara berfikirnya.
Peran Kebudayaan dalam warga
Kebudayaan memiliki peran atau makna tersendiri bagi
warga , tidak mungkin manusia melakukan segala sesuatu
tanpa tujuan, apa lagi aktivitas yang terpola ini dilaksanakan
secara turun menurun dan rutin pada tiap tahun. Adat atau
kebudayaan dapat dipakai sebagai:
Identitas diri. Artinya tradisi Houl ini yaitu salah satu
kebiasaan yang melekat dengan warga desa setempat yang
melaksanakannya, dimana tiap pelaksaan rutin ini akan dirasa
berbeda dengan perayaan Houl pada tempat lain. Sehingga timbul
rasa percaya diri mereka saat warga ini turut andil
dalam pelaksanaannya dan tidak pernah mereka merasa dirugikan
atas pelaksanaan acara ini. Dengan kata lain, budaya ini menjadi
media dalam menemukan jati diri mereka yang sebenarnya.
Misalnya banyak orang mengatakan ’Gresik Kota Santri’, maka
disinilah mereka memandang dan menemukan bahwa budaya yang
mendarah daging di Gresik atau di desa mereka lebih mengarah
ke spiritulaitas dan religi hingga ada rasa bangga tersendiri dalam
warga yang menjalaninya dan mendapat makna dari predikat
‘Kota Santri’ ini .
Media Memperkuat Hubungan Sosial warga . Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu tujuan dari tradisi
Haul yaitu sebagai media untuk memperkuat tali silaturrahmi antar
61Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
saudara muslim yang masih memiliki ikatan rantai keilmuan yang
kuat dari Mbah Sholeh dan keturunanya hingga sekarang. Dengan
dilaksanakannya kebudayaan ini, maka akan berkumpul berbagai
macam kelompok warga dari berbagai latar belakang dan
daerah yang berbeda hingga terdapat jalinan kelompok yang kuat
diantara mereka. Pelaksanaan Haul ini terdapat interaksi sosial
antar anggota warga , baik dalam berjualan atau melakukan
transaksi jual beli, silaturrahmi atau Sowan ke Ndalem KH. Ahmad
Muhammad Al Hammad, dan berbagai interaksi lainnya.
Pengajaran terhadap generasi muda. Tradisi yang dilakukan
secara turun temurun ini akan menjadi bekal atau pegangan para
generasi muda dalam menghadapi kemajuan zaman dan dapat
menjadi filter dalam menerima kebudayaankebudayaan baru dari
luar yang datang tanpa diwariskan secara turun temurun. Tradisi
ini juga memberikan pelajaran terhadap generasi muda untuk
mengenal lebih jauh sejarah tentang Tokoh yang paling berperan
dalam kemajuan pendidikan dan agama di daerah mereka.
Menjaga tradisi lama warga . Kebudayaan yang dilaksanakan
tiap tahun ini memiliki makna dalam warga itu sendiri
dimana warga dapat menjadikan kebudayaan ini menjadi
darah daging yang melekat pada semua warga dan setiap
waktu mendekati harihari puncak pelaksanaan ini akan menjadi
hari yang ditunggu-tunggu oleh warga dan kebanyakan
orang.
Dampak dari pelaksanaan Houl Mbah Sholeh Tsani
Tradisi pelaksanaan Haul Mbah Sholeh Tsani ini seperti magnet
yang menarik ribuan warga baik dari daerah sekitar Bungah
Gresik bahkan dari daerah luar jawa, hal ini disebabkan sebab
masih adanya ikatan tongkat estavet keilmuan yang diberikan dari
Mbah Sholeh dan keluarganya pada para Santri ataupun alumni
62
yang pernah menjadi santri dalam perguruannya. Setiap tahun
warga datang ke Makam Mbah Sholeh tanpa diundang atau
diberi tahu dari pihak Ndalem, hingga perayaan tradisi Nyekar atau
berziarah ke Makam ini menimbulkan dampak positif bagi mereka
(Wawancara Subjek 3, Tanggal 23 April 2012), yaitu :
a) Mempererat tali silaturrahmi antar anggota warga yang
berlatarbelakang berbeda satu sama lain, sebab kelompok
masya rakat yang menghadiri Haul ini tidak hanya datang
dari daerah Bungah tapi juga dari luar kota.
b) Perkembangan kemajuan desa, sebab dengan dilaksanakannya
acara Houl, maka Desa akan ramai pengunjung dari berbagai
daerah hingga bisnis home industry warga Desa Bungah
berkembang pesat dan menghasilkan income atau pemasukan
yang sangat meningkat (Wawancara Subjek 3, Tanggal 23 April
2012).
Para generasi muda akan mendapatkan teladan dan pesan yang
ter sirat dari perayaan Houl ini, sebab mereka akan mengetahui
bagai mana sejarah dan perjuangan Ulama besar mereka dalam
menyebarkan dakwah islam di Desa Bungah.
Kesimpulan
Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan itu ibarat sebuah
lensa dimana seperti halnya saat kita menggunakan lensa untuk
meneropong sesuatu kita harus memilih suatu objek tertentu yang
akan dilihat secara fokus. Beberapa orang awam juga mengartikan
kebudayaan merupakan sebuah seni. Padahal sebenarnya ke-
budayaan itu bukan hanya sekedar seni. Kebudayaan melebihi seni
itu sendiri sebab kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam
kehidupan antar manusia.
Kebudayaan bukanlah milik satu orang saja. seseorang men-
dapatkannya justru sebab dirinya yaitu bagian atau anggota
63Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul
dari suatu kelompok. Dalam suatu kelompok, kemudian seseorang
men dapatkan konsep-konsep, seperti belief atau kepercayaan, nilai-
nilai, dan cerita-cerita atau ingatan bersama tentang masa lalu. Oleh
sebab itu individu dalam satu warga terbuka kemungkinan
untuk memiliki pengalaman yang relatif sama dengan individu
lainnya.
Seperti yang telah dipaparkan diatas menganai salah satu
budaya yang masih erat dengan warga , yaitu Houl. Budaya
ini tidak hanya diperingati oleh satu individu saja tapi berbagai
macam kelompok dengan latar belakang berbeda. Dimana dalam
perayaannya terdapat nilai-nilai dan ide-ide serta karya cipta ma-
sya rakat yang diakui secara bersama.
Houl yaitu tradisi yang memiliki tujuan dan makna tersendiri
bagi warga , dimana dengan diadakannya pelaksanaan budaya
yang turun temurun ini, warga dapat mengungkapkan rasa
hormat dan Ta’dhim mereka terhadap salah satu sesepuh atau tokoh
agama yang paling dekat dengan mereka, yaitu Mbah Sholeh Tsani
dari Desa Bungah. Cara ini dapat dengan mudah men-share atau
me nurunkan kebudayaan ini kepada generasi selanjutnya.
Pada intinya, kebudayaan memiliki unsur-unsur dasar dan
universal atau umum. Unsur-unsur ini meliputi bahasa, ke-
percayaan, pengetahuan dan teknologi, nilai, norma dan sanksi,
simbol, kesenian.
64
65Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
keSeNiaN JaraN kepaNG
(StuDi feNOmeNOLOGi Di DuSuN SeNDaNG)
Ika Kurnia Rahayu
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail : nina.faruq@yahoo.com
Mukadimah
Dusun Sendang, sebuah dusun di daerah Malang Selatan,
tepatnya di lereng Gunung Kawi. Di daerah ini terdapat sebuah
kesenian yaitu Kesenian Jaran Kepang. Konon kesenian ini
merupakan sebuah permainan yang secara murni tidak dihasilkan
dari warga Dusun Sendang. Tidak diketahui secara pasti
mengenai permulaan permainan ini, sebab telah disebut oleh
banyak daerah sebagai kekayaan budayanya (Wikipedia, 2012).
Hal ini terjadi sebab para pendahulu tidak mematenkan
permainan ini sebagai seni yang khas dari suatu daerah tertentu,
sehingga bisa dimainkan oleh siapapun dan muncul banyak sekali
versi cerita. Tetapi, diantara berbagai versi ini , pendapat yang
paling sering muncul yaitu bahwa kesenian jarang kepang ini
berasal dari Ponorogo Jawa Timur. Di Jawa Timur seni ini akrab
dengan warga dibeberapa daerah misalnya Blitar, Malang,
Nganjuk, Tulungagung dan banyak daerah-daerah lain. Jika
dilihat dari model permainan ini, yang menggunakan kekuatan
dan kedigdayaan, besar kemungkinan berasal dari daerah-daerah
kerajaan di Jawa (Farabi, 2010).
66
Melihat menariknya kesenian ini maka warga
mengambilnya sebagai sebuah kebudayaan. Walaupun begitu,
kesenian ini memiliki ciri-ciri yang khusus dibandingkan dengan
daerah lain. sebab kebudayaan merupakan sarana hasil karya,
rasa, dan cipta warga (Soemardjan dan Soemardi, 2002), maka
kesenian ini layak untuk dikatakan sebagai sebuah kebudayaan di
dusun ini .
“Jaran Kepang” yaitu seni tari yang dimainkan dengan properti
berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang
(Wikipedia, 2012). Fungsi dari properti kuda ini untuk dinaiki
seolah-olah penari sedang menuggang Kuda. Dalam kepercayaan
warga , “Jaran Kepang” merupakan pertunjukan kesenian
tradisional yang menggunakan kekuatan magic dengan waditra
utamanya berupa kuda-kudaan yang terbuat dari kulit kerbau
atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak); atau terbuat dari
anyaman bambu (Jawa: kepangan pring) yang diberi motif atau hiasan
dan direka seperti kuda.
Kuda-kudaan itu yang tidak lebih berupa guntingan dari sebuah
gambar kuda yang diberi tali melingkar dari kepala hingga ekornya
seolah-olah ditunggangi para penari dengan cara mengikatkan talinya
di bahu mereka. Dalam memainkan seni ini biasanya juga diiringi
dengan alat musik Tradisional, yaitu kethuk, kempul, gong, demung,
kendhang, ketipung, jidor dan kecer (Hadisutrisno, 2009).
Kebanyakan warga yang berada di Dusun Sendang
rata-rata merupakan warga yang masih menganut Islam
Kejawen, dimana mereka tidak menjalani kewajibankewajiban
agama Islam secara utuh misalnya tidak melakukan Sholat dan
puasa secara penuh (Kodiran, 1971). Pemahan orang Jawa Kejawen
ditentukan oleh kepercayaan mereka pada berbagai macam roh-
roh yang tidak kelihatan. Eksistensi ruh dan kekuatan benda-benda
ini dipercayai dapat menolong dan dapat mencelakakan
manusia (Ridwan, Suwito, Chakim, dan Supani, 2008). Mereka
67Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
masih menggunakan acara-acara selamatan dengan menggunaka
berbagai sesaji untuk menolong dan melndungi dari hal-hal yang
bisa mencelakakan mereka.
Kerangka Kerja Teoritik
Pengertian Kebudayaan
Kata “kebudayaan” sama dengan kata “culture”. Kata “ke-
budayaan” berasal dari bahasa Sansekerta buddayah, yaitu bentuk
jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau akal”. Sehingga ke-
budaya-an dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan
dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya se-
bagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti
“data dari budi”. sebab itu mereka membedakan “budaya” dari
“kebudayaan”. Demikianlah “budaya” yaitu “daya dari budi”
yang berupa cipta, karsa dan rasa itu. Dalam istilah Antropologi
Budaya perbedaan itu ditiadakan. Kata “budaya” disini hanya
dipakai sebagai suatu singkatan saja dari “kebudayaan” dalam arti
yang sama (Koentjaraningrat, 1979)
Menurut Ralph Linton, kebudayaan yaitu seluruh cara ke-
hidupan dari warga yang manapun dan tidak hanya mengenai
se bagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh warga
dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Dalam arti cara hidup
masya rakat itu kalau kebudayaan diterapkan pada cara hidup kita
sendiri, maka tidak ada sangkut pautnya dengan main piano atau
mem baca karya sastrawan yang terkenal.
Untuk seorang ahli ilmu sosial, kegiatan seperti main piano itu,
merupakan elemen-elemen belaka dalam keseluruhan kebudayaan
kita. Keseluruhan ini mencakup kegiatankegiatan duniawi seperti
mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari
kebudayaan. Hal ini sama derajanya dengan “hal-hal yang halus
dalam kehidupan”. sebab itu, bagi seorang ahli ilmu sosial tidak
68
ada warga atau perorangan yang tidak berkebudayaan,
bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia
yaitu makhluk berbudaya. Dalam arti mengambil bagian dalam
sesuatu kebudayaan.
Kebudayaan yaitu perjuangan manusia sebagai totalitas dalam
menyempurnakan kondisi-kondisi hidupnya. Kebudayaan nasional
bukanlah sematamata ditandai oleh “watak nasional”, melainkan
perjuangan nasional dari suatu bangsa sebagai totalitas dalam
menyempurnakan kondisi-kondisi hidup nasionalnya. Predikat
kebudayaan yaitu perjuangan dengan membawa konsekuensi
konsekuensi yang mutlak dari sektor-sektornya (Moeljanto dan
Taufiq, 1995).
Kebudayaan yaitu sarana hasil karya, rasa, dan cipta masya-
rakat (Soemardjan dan Soemardi, 2002). Menurut Andreas Eppink,
kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma
sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial,
religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual
dan artistik yang menjadi ciri khas suatu warga .
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan ke
seluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung penge-
tahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
ke mampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai
anggota warga .
Tiga Wujud Kebudayaan
Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan memiliki tiga wujud.
Pertama yaitu wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tidak
dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau
dalam perkataan lain dalam alam pikiran warga warga dimana
kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide dan gagasan-gagasan
manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu warga dan
memebrikan jiwa kepada warga itu
69Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
Kedua, disebut sistem sosial atau sosial system. Mengenai
tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri
dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi,
berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke
detik, dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun, selalu menurut
pola-pola tertentu yang berdasar adat pola kelakuan. Sebagai
rangkaian aktifitas manusiamanusia dalam suatu warga ,
sistem sosial itu bersifat kongkrit, terjadi di sekeliling kita sehari-
hari, bisa diobservasi, difoto dan didokumentasi.
Ketiga, wujud yang ini disebut dengan kebudayaan fisik, dan
tak memerlukan banyak penjelasan. sebab berupa seluruh total
dari hasil fisik dari aktifitass, perbuatan dan karya semua manusia
dalam warga , maka sifatnya paling konkret, dan berupa benda-
benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.
Ketiga wujud dari kebudayaan yang terurai diatas, dalam
kehidupan kenyataan warga tentu tak terpisah antara yang satu
dengan yang lainnya. Kebudayaan ideal dan adat-istiadat mengatur
dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Baik
pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun tindakan dan karya manusia,
menghasilkan kebudayaankebudayaan fisiknya. Sebaliknya, ke
budayaan fisik membentuk satu lingkungan hidup tertentu yang
makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiah-
nya sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan
juga cara berfikirnya (Koentjaraningrat, 1979)
Pengertian Orang Jawa
Mengenai orang jawa banyak pengertan yang disandarkan ke
padanya. Orang jawa yaitu orang yang mendiami bagian tengah
dan timur Pulau Jawa dan memakai bahasa Jawa sebagai bahasa
ibu. Melalui pengertian ini, tentulah sangat mudah memahami
pengertian Orang Jawa. Bisa dikatakan sedikit mengalami perluasan,
sebab penduduk yang memakai bahasa Jawa sebagai bahasa ibu
70
sangat banyak, meskipun secara geografis mereka tidak mendiami
di batas yang telah ditentukan di atas (Widiyartono, 2009).
Secara etimologis, orang Jawa yaitu orang yang berasal dari
Njaba (luar), dalam hal ini njaba beteng (kraton). Jadi orang Jawa
sebetulnya diberlakukan untuk orang-orang yang berdomosili di
luar kraton atau rakyat biasa (Widiyartono, 2009).
Orang jawa dikelompokkan menjadi dua kriteria. Pertama
berdasar golongan sosial dan yang kedua berdasar religi
(agama). Pengelompokkan orang Jawa berdasar golongan
sosialnya dibagi lagi menjadi dua, yakni wong cilik atau orang kecil,
yang terdiri dari para petani atau nereka atau orang-orang yang
berpendapatan rendah, kemudian priyayi, yang terdiri dari pegawai,
intelektual, dan kaum ningrat. Sedangkan kelompok orang Jawa
berdasar Agama, yakni golongan kejawen dan santri.
Pertama, Jawa kejawen yang sering disebut dengan abangan
yaitu warga yang dalam kesadaran dan cara hidupnya
ditentukan oleh tradisi pra-islam. Kaum priyayi tradisional hampir
seluruhnya dianggap sebagai jawa kejawen, walaupun mereka secara
resmi mengaku islam. Kedua, santri yang memahami sebagai islam
atau orientasinya yang kuat terhadap agama islam dan berusaha
untuk hidup menurut ajaran Islam (Koentjaraningrat, 1979).
Alam pikiran dan Pandangan Hidup Orang Jawa
Orang Jawa percaya bahwa Tuhan yaitu pusat alam semesta
dan pusat segala kehidupan sebab sebelumnya semuanya terjadi di
dunia ini yaitu Tuhan yang pertama kali ada. Pusat yang dimaksud
disini dalam pengertian ini yaitu yang dapat memberikan
penghidupan, kesimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga mem-
beri kehidupan dan penghubung dengan dunia atas (Aulia, 2009).
Konsep islam kejawen mengenai Tuhan Yang Maha Esa yang sangat
mendalam ini dituangkan dalam istilah Gusti Allah Ingkang Maha
Kuwaos (Ridwan, et. al., 2008)
71Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
berdasar kritria pemeluk agamanya, ada yang disebut Islam
kejawen dan Islam Santri (Kodiran, 1971). Sebagian besar orang Jawa
termasuk dalam golongan bukan muslim santri (Islam Kejawen)
yaitu yang mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir Islam
dengan pandangan asli mengenai alam kodrati dan alam adikodrati.
Pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman
hidup. Pandangan hidup yaitu sebuah pengaturan mental dari
pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu
sikap terhadap hidup (Aulia, 2009).
Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia
berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikro-
kosmos. Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa yaitu sikap
dan pandangan hidup terhadap alam semesta yang mengandung
kekuatan supranatural dan penuh dengan hal-hal yang bersifat
misterius. Sedangkan mikrokosmos dalam pikiran orang Jawa yaitu
sikap dan pandangan hidup terhadap dunia nyata. Tujuan utama
dalam hidup yaitu mencari serta menciptakan keselarasan atau
keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.
Dalam makrokosmos pusat alam semesta yaitu Tuhan. Alam
semesta memiliki hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang
alam kehidupan orang Jawa dan adanya tingkatan dunia yang
semakin sempurna (dunia atasdunia manusiadunia bawah). Alam
semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu
Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.
Sikap dan pandangan tehadap dunia nyata (mikrokosmos)
yaitu tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya,
susunan manusia dalam warga , tata kehidupan manusia se-
hari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam meng-
hadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini ter-
gantung pada kekuatan batin dan jiwanya.
Bagi orang Jawa, pusat di dunia ada pada raja dan karaton, Tuhan
yaitu pusat makrokosmos sedangkan raja yaitu perwujudan
72
Tuhan di dunia sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan
berbagai kekuatan alam. Jadi raja yaitu pusat komunitas di dunia
seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari Tuhan dengan
karaton sebagai kediaman raja. Karaton merupakan pusat keramat
kerajaan dan bersemayamnya raja sebab raja merupakan sumber
kekuatankekuatan kosmis yang mengalir ke daerah dan membawa
ketentraman, keadilan dan kesuburan (Aulia, 2009).
Kegiatan Religius Orang Jawa Kejawen
Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen yaitu Javanism,
Javaneseness; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur
unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan
yang mendefinisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme
yaitu agama beserta pandangan hidup orang. Javanisme yaitu
agama besarta pandangan hidup orang Jawa yang menekankan
ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nerima
terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan
individu di bawah warga dan warga dibawah semesta
alam (Aulia, 2009 ).
Kemungkinan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha
dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem
khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran
Javanisme yaitu lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi,
mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik
dan sebagainya dengan dasar antropologi Jawa tersendiri, atau
suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan warga
yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi, dan gaya Jawa.
Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara
umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang
dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagimana adanya
dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu kategori keagamaan,
73Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidup yang
diilhami oleh cara berpikir Javanisme.
Sebagian besar dari warga Jawa yaitu Jawa Kejawen atau
Islam abangan, dalam hal ini mereka tidak menjalani kewajiban
kewajiban agama Islam secara utuh misalnya tidak melakukan
Sholat, puasa, tidak bercita-cita naik haji (Kodiran, 1971). Dasar
pandangan mereka yaitu pendapat bahwa tatanan alam dan
warga sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka
menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah
ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya jadi mereka
harus menaggung kesulitan hidupnya dengan sabar. Anggapan-
anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan mereka
pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang
yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan
dan rasa aman (Aulia, 2009)
Pemahan orang Jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan
mereka pada pelbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan.
Eksistensi ruh dan kekuatan benda-benda ini dipercayai dapat
menolong dan dapat mencelakakan manusia (Ridwan, et. al., 2008).
Untuk melindungi semuanya itu, orang Jawa kejawen memberi
sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-
kejadian yang tidak diinginkan dan mempertahankan batin dalam
keadaan tenang. Sesajen yang dipakai biasanya terdiri dari
berbagai hidangan dan perlengkapan dalam upacara (Hadisutrisno,
2009).
Contoh kegiatan religius dalam warga Jawa, khususnya
orang Jawa Kejawen yaitu puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen
memiliki kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya
senin-kamis atau pada hari lahir, semuanya itu merupakan asal
mula dari tirakat. Keitka tirakat, orang dapat menjadi lebih kuat
rohaninya dan kelak akan mendapat manfaat. Orang Jawa kejawen
74
menganggap bertapa yaitu suatu hal yang cukup penting. Dalam
kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabadabad bertapa
dianggap sebagai orang keramat sebab dengan bertapa orang
dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan disiplin tinggi
serta mampu manahan hawa nafsu sehingga tujuantujuan yang
penting dapat tercapai (Widiyartono, 2009).
Kegiatan orang Jawa kejawen yang lainnya yaitu meditasi
atau semedi. Meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-
sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat
yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat,
ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang
melakukan meditasi yaitu untuk mendekatkan atau menyatukan
diri dengan Tuhan (Kadiran, 1971).
Spiritualitas Jawa
Situasi kehidupan “religius” warga jawa sebelum
datangnya Islam sangatlah heterogen (Ridwan, et.al. 2008). Sejak
jaman awal kehidupan Jawa (masa pra HinduBuddha), warga
Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Telah disepakati di
kalangan sejarawan bahwa, pada jaman jawa kuno, warga
Jawa menganut kepercayaan animismedinamisme. Pada saat itu
yang terjadi sebenarnya yaitu : warga Jawa telah memiliki
kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (gaib),
besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat
perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan
gaib lain yang jahat atau roh-roh jahat (Aulia, 2009).
Hindu dan Buddha masuk ke pulau Jawa dengan membawa
konsep baru tentang kekuatan-kekuatan gaib. Kerajaan-kerajaan
yang berdiri memunculkan figur rajaraja yang dipercaya sebagai
dewa atau titisan dewa. Maka berkembanglah budaya untuk patuh
pada raja, sebab raja diposisikan sebagai ‘imam’ yang berperan
sebagai pembawa esensi kedewataan di dunia (Simuh, 1999). Selain
75Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
itu berkembang pula sarana komunikasi langsung dengan Tuhan
(Sang Pemilik Kekuatan), yaitu dengan laku spiritual khusus seperti
semedi, tapa, dan pasa (berpuasa).
Jaman kerajaan JawaIslam membawa pengaruh besar pada
warga , dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari
HinduBuddha ke Islam. Anggapan bahwa raja yaitu ‘Imam’ dan
agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan beralihnya agama
warga sebab beralihnya agama raja, disamping peran aktif
para ulama masa itu. Para penyebar Islam (para wali dan guruguru
tarekat) memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf. Pandangan
hidup warga Jawa sebelumnya yang bersifat mistik (mysticism)
dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islamtasawuf sebagai
keyakinan mereka.
Jaran Kepang (Kuda Lumping)
Jaran kepang atau yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai
Kuda Lumping. Kuda lumping yaitu seni tari yang dimainkan
dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman
bambu atau kepang (Wikipedia, 2012). Kuda lumping merupakan
pertunjukan kesenian tradisional yang menggunakan kekuatan
magic dengan waditra utamanya berupa kuda-kudaan yang terbuat
dari kulit kerbau atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak);
atau terbuat dari anyaman bambu (Jawa: kepangan pring) yang diberi
motif atau hiasan dan direka seperti kuda. Kuda-kudaan itu yang
tidak lebih berupa guntingan dari sebuah gambar kuda yang diberi
tali melingkar dari kepala hingga ekornya seolah-olah ditunggangi
para penari dengan cara mengikatkan talinya di bahu mereka. Dalam
memainkan seni ini biasanya juga diiringi dengan alat musik
Tradisional, yaitu kethuk, kempul, gong, demung, kendhang, ketipung,
jidor dan kecer (Hadisutrisno, 2009).
Tidak diketahui secara pasti mengenai asal-usul permainan
ini, sebab telah disebut oleh banyak daerah sebagai kekayaan
76
budayanya (Wikipedia, 2012). Hal ini terjadi sebab si pencetusnya
tidak mematenkan permainan ini sehingga bisa dimainkan oleh
siapapun dan muncul banyak sekali versi cerita. Tetapi, diantara
berbagai versi ini , pendapat yang paling sering muncul
yaitu bahwa kesenian jaran kepang ini berasal dari Ponorogo Jawa
Timur. Di Jawa Timur seni ini akrab dengan warga dibeberapa
daerah misalnya Blitar, Malang, Nganjuk, Tulungagung dan banyak
daerah-daerah lain. Jika dilihat dari model permainan ini, yang
menggunakan kekuatan dan kedigdayaan, besar kemungkinan
berasal dari daerahdaerah kerajaan di Jawa (Farabi, 2010).
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode wawancara dan observasi. Sesuai dengan sifat penelitian
kualitatif yang terbuka dan luwes, teknik pengumpulan data dalam
penelitian kualitatif sangat beragam disesuaikan dengan masalah,
tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti.
Hasil
Kesenian Jaran Kepang yang ada di dusun Sendang, merupakan
bukan kesenian asli dari dusun Sendang itu sendiri dan merupakan
sebuah kesenian yang berasal dari Ponorogo. sebab merasa bahwa
kesenian Jaran Kepang pertunjukan yang menarik, maka warga
dusun Sendang mengambilnya sebagai sebuah kebudayaan untuk
daerah Sendang sendiri. Walaupun banyak daerah yang menjadikan
kesenian “kuda Lumping” sebagai kebudayaan, tetapi tiap daerah
memiliki ciri khas tersendiri. Di daerah sendang “kuda lumping”
merupakan kesenian yang tergolong agak ekstrim. sebab ,
kesenian di daerah ini hampir mirip dengan debus. Prosesnya pun
terlihat jika dalam permainan pemain makan beling, dalam bahasa
77Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
Indonesia beling yaitu pecahan-pecahan kaca. Pemain makan
arang. Mengupas kelapa dengan menggunakan gigi dan sebagainya
(Wawancara, Subjek 2, 30 April 2012).
Tidak hanya terjadi di dusun Sendang, kesenian jaran kepang
yaitu kesenian yang tidak murni terjadi sebab pemain sendiri.
Kesenian ini ada campur tangan dari makhluk halus yang memasuki
raga sang pemain. Istilahnya dalam bahasa Jawa yaitu nyelang rogo
atau pinjam raga. Maksudnya segala hal yang dilakukan pemain
dalam permainan Jaran Kepang merupakan perbuatan dari makhluk
halus yang nyelang rogonya pemain. Tetapi, berbeda dengan istilah
“kesurupan”. Kesurupan terjadi sebab kemauan sang makhluk
halus ini untuk memasuki jiwa orang yang diinginkannya.
Dalam jaran kepang, makhluk halus itu masuk ke dalam raga sang
pemain sebab dipanggil atau memang sengaja diinginkan untuk
masuk ke dalam tubuh pemain.
Jadi saat pemain terlihat memakan api, arang, kemenyan,
beling dan lainnya itu bukanlah pemain yang melakukannya. Te-
tapi dilakukan oleh makhluk halus tadi yang memasuki raga para
pemain. Saat dalam permainan Jaran kepang, pemain tidak me rasa-
kan sedang menari atau melakukan kegiatan apapun, yang dirasakan
yaitu saat selesai permainan. Pemain merasakan bahwa badannya
terasa sangat capai, seperti selepas melakukan suatu pekerjaan berat
(Wawancara, Subjek 4, 31 April 2012). Oleh sebab itulah permainan
Jaran Kepang diberi batasan waktu. sebab pada meminjam raga
manusia, pasti memiliki batasanbatasan kemampuan fisiknya
(wawan cara, subjek 3, 30 April 2012).
Pertunjukan kesenian Jaran kepang ini lebih sering dilakukan
pada waktu malam hari. Mulai sekitar pukul 19.00 yang mem
pertunjukkan hanya tarian jaranan biasa. Untuk pertunjukkan
debus (lebih menantang) biasanya dimulai pada pukul 21.00 ke atas.
Untuk selesainya pukul maksimal pukul 00.00 (menurut peraturan
78
di daerah ini ). Tetapi, jika memang masih diperlukan untuk
me lanjut kan permainan, maka dilakukan ijin khusus kepada ke-
amanan di daerah ini .
Ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum
pertunjukan Jaran Kepang dipentaskan. Terpenting yaitu meminta
ijin kepada danyang. Danyang yaitu istilah dalam bahasa Jawa,
yang memiliki makna penjaga. Dimana kepercayaan orang Jawa
yaitu tiap-tiap daerah itu ada penunggunya. Danyang merupakan
penunggu di desa ini . Maknanya membinta izin kepada
danyang yaitu meminta do’a supaya pementasan pertunjukan ini
bisa tuntas sampai akhir tanpa ada hambatan apapun.
Setiap daerah memiliki cara untuk meminta ijin sendiri-sendiri.
Di dusun Sendang proses meminta ijin ini bisa dibilang cukup
rumit. sebab proses ijinnya tidak bisa dilakukan di dalam desa itu
sendiri. Untuk dusun Sendang, meminta ijin ini kepada seseorang
bernama Mbah Joko. Kepercayaan warga sekitar, Mbah Joko
inilah yang memangku desa Permanu (salah satu desa yang ada di
Gunung Kawi, penduduk desa ini masih sangat kental memegang
budaya jawa yang erat hubungannya dengan kepercayaan yang ada
dalam agama Hindhu-Budha).
Mbah Joko juga merupakan penunggu Punden yang ada di
Dusun Sendang. Mbah Joko juga ikut dalam permainan Jaran
Kepang ini. Menurut gambuh atau pawang Jaran kepang ini, jika
mbah Joko datang memiliki tanda-tanda tersendiri yang berbeda
dengan tanda-tanda datangnya yang lain. Tanda-tanda Mbah Joko
datang yaitu meminta dapukan Barongan yang diikuti dupa ratus
dan berjalan seperti ular. Ditambah lagi dengan rujak manis dan
dawet
Setelah meminta ijin kepada danyang, hal yang perlu untuk
dipenuhi yaitu menyiapkan sesaji. Sesaji dalam istilah orang jawa
merupakan persembahan. Isi dari sesaji ini diantaranya yaitu
pisang, beras, gula, bunga 3 jenis (yang terdiri dari locari, kanthil
79Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
dan kenanga), rempah-rempah, garam, sirih tembakau, gambir, air
fermentasi dari tape. Tumpeng kecil dan telur (wawancara, subjek
3, 30 April 2012). Sesaji ini ditata dengan rapi di atas nampan
besar kemudian diletakkan di tempat pertunjukkan Jaran kepang
itu digelar.
Meminta ijin dan menyajikan sesaji yaitu dua pokok penting
yang harus dilakukan oleh ketua dari perkumpulan ini.untuk
pemain, hanya menjalankan instruksi dari pelatih dan ketua. Tidak
ada hal-hal khusus yang perlu dilakukan saat akan melakukan
pertunjukkan. Hanya istirahat cukup sebelum pertunjukkan, sebab
pertujukkan ini memerlukan banyak energi (Wawancara,
Subjek 1, 30 April 2012).
Mengeluarkan makhluk halus dari tubuh pemain juga di-
perlukan sebuah prosesi khusus. Dalam kesenian yang ada di Dusun
Sendang ini biasanya melakukan ritual yang pertama, membuat
alas untuk membaringkan pemain yang akan disadarkan. Antara
tikar yang baru, kain kawan, jarik, daun pisang muda, beberapa
hal ini ditumpuk urut. Kemudian ditaburi dengan minyak
serimpi, dan di bagian kepala itu ditancapkan dupa. Setelah itu
pemain dibaringkan, disitu ada azimat khusus yang dibaca (subjek
3, 30 April 2012)
Diskusi
Kebudayaan yaitu sarana hasil karya, rasa, dan cipta masya-
rakat (Soemardjan dan Soemardi, 2002). Kesenian Jaran Kepang
yang ada di dusun Sendang, merupakan kesenian yang pada asalnya
berasal dari Ponorogo dan warga mengambilnya sebagai
sebuah kebudayaan untuk dusun Sendang sendiri. Walaupun Jaran
Kepang sebagai kebudayaan di daerah Sendang berasal dari daerah
Ponorogo, tetapi kesenian ini memiliki ciri khusus dan berbeda dari
daerah-daerah lain. Di dusun sendang jaran Kepang merupakan
80
kesenian yang tergolong agak ekstrim. sebab , kesenian di daerah
ini hampir mirip dengan debus. Hal ini terbukti dengan pemain yang
makan beling dan sebagainya.
Rata-rata di tiap daerah yang memiliki kesenian “Jaran kepang”
menyatakan bahwa kesenian ini ada campur tangan dari makhluk
halus yang memasuki raga sang pemain. Banyak ahli kejawen
yang memiliki pendapat yang sama bahwasanya di dalam dunia
yang satu dan sama ini dihuni oleh beberapa macam kehidupan
(Hadisutrisno, 2009). Istilahnya dalam bahasa Jawa yaitu nyelang
rogo atau pinjam raga. Maksudnya segala hal yang dilakukan
pemain dalam permainan Jaran Kepang merupakan perbuatan
dari makhluk halus yang nyelang rogonya pemain. Tetapi, berbeda
dengan istilah kesurupan. Kesurupan terjadi sebab kemauan
sang “makhluk halus” ini untuk memasuki jiwa orang yang
diinginkannya.
Ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum
pertunjukan Jaran Kepang dipentaskan. Yang paling penting
yaitu meminta ijin kepada danyang. Danyang yaitu istilah dalam
bahasa Jawa, yang memiliki makna penjaga (leluhur). Dalam tradisi
orang kejawen, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan
jika ia sudah meninggal maka disebutnya sebagai leluhur. Istilah
leluhur selalu diaitkan dengan silsilah yang bermuara kepada para
pembuka tanah atau cikal bakal desa (Ridwan, et. al., 2008).
Setelah meminta ijin kepada “danyang”, hal yang perlu untuk
dipenuhi yaitu menyiapkan sesaji. Sesaji dalam istilah orang
jawa merupakan persembahan. Sesaji biasanya berisi berbagai
perlengkapan dalam upacara (Hadisutrisno, 2009). Isi dari sesaji
ini diantaranya yaitu pisang, beras, gula, bunga 3 jenis (yang
terdiri dari locari, kanthil dan kenanga), rempah-rempah, garam,
sirih tembakau, gambir, air fermentasi dari tape. Sesaji ini
ditata dengan rapi di atas nampan besar kemudian diletakkan di
tempat pertunjukkan digelar.
81Kesenian Jaran Kepang ~ Ika
Mengeluarkan makhluk halus dari tubuh pemain juga
diperlukan sebuah prosesi khusus. Dalam kesenian yang ada di
Dusun Sendang ini biasanya melakukan ritual yang pertama,
membuat alas untuk membaringkan pemain yang akan disadarkan.
Antara tikar yang baru, kain kawan, jarik, daun pisang muda.
Kemudian ditaburi dengan minyak serimpi, dan sebagai ritual
terakhir di bagian kepala itu ditancapkan dupa. Hal ini merupakan
sarana permohonan waktu orang mengucapkan do’a, kemenyan
dibakar agar menimbulkan asap yang berbau harum. Kemenyan
bagi orang jawa melambangkan perilaku transdental dan ibadah
kepada Allah SWT yang wajib dipelihara dan dijaga (Hadisutrisno,
2009).
Kesimpulan
Kesenian “Jaran Kepang” pada dasarnya bukan merupakan
kebudayaan dari warga dusun Sendang sendiri. Menurut
keterangan dari subyek, kesenian ini berasal dari daerah Ponorogo.
kesenian ini berhubungan erat warga Islam Kejawen, yang cara
berfikir mereka masih berkaitan dengan agama yang ada sebelum
Islam yaitu Hindu-Budha. warga masih memegang erat
tradisi yang ada dalam Hindu-Budha seperti selamatan, upacara
keagamaan yang menggunakan sesaji. Hal itu bisa dilihat saat
akan ada pertunjukan “Jaran Kepang” ini warga mempercayai
harus menyediakan sesaji, meminta ijin kepada leluhur. Kesenian
ini masih mengakar dari warga sendang, sebab warga
berusaha melestarikan kesenian ini dengan cara mengajarkan secara
turun-temurun kepada generasi selanjutnya.
82
83Eksistensi Permainan ... ~ Irham
ekSiSteNSi permaiNaN
traDiSiONaL warga
kOta maLaNG
Di teNGah GLOBaLiSaSi
Irham Thoriq
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: irham_psy@yahoo.com
Mukadimah
Hidup yaitu suatu permainan (Armytage Ware).
Pada dasarnya kita hidup tidak ubahnya sebagai suatau
permainan, hal inilah yang hendak dikatakan Armytage Ware dalam
salah satu syairnya. Manusia senantiasa berperan sebagi konsumen
permainan dimulai dari masa anak hingga dewasa. Semenjak masa
anak, manusia sudah diperkenalkan permainan, baik permainan
tradisional ataupun permainan modern.
Sebagaimana media sosial yang lain, permainan juga berupa
entitas, maka diapun ada, eksis, meredup dan bahkan menghilang.
Sebagaimana bentuknya, permainan memiliki aneka farian.
beberapa permainan memiliki farina yang eksis lebih lama dan
84
beberapa yang lain punah dalam sekejap. Kepunahan permainan
ini disebabkan membanjirinya permainan yang baru dan
mampu menjadi pemenang dalam menarik perhatian pengguna
permaianan disbanding permainan klasik.
Melalui pengamatan terhadap realitas yang terjadi dikota
Malang, penulis melihat adanya pergeseran permainan-permainan
tradisional kepermainan yang lebih modern yang kerap dimainkan
oleh anak-anak asli Malang.
Secara bahasa permainan tradisional yaitu permainan yang
diwariskan nenek moyang atau sesepuh yang berasal dari daerah
ini , tidak datang dari luar. Permainan tradisional biasanya
bersifat alami, dalam arti alat-alat yang dipakai kebanyakan dari
alam. Seperti bentengan, gobak sodor, sepak tekong, patil lele, engklek,
egrang dan yang lain. Selain bersifat alami permainan tradisional
tidak memiliki kesan mewah dan ramah lingkungan.
Selanjutnya, permainan tradional di kota Malang ini
semakin punah. Selain dunia yang terus berubah, permainan
tradisional akan punah disebab kan semakin maraknya permainan
modern. Permainan modern lebih bersifat western dan bersifat
eksklusif. Dalam arti lain, bisa dinikmati oleh kalangan menengah
atas dengan kompensasi ekonomi yang tinggi. sebab permainan
modern biasanya bersifat teknologi yang komersil.
Bentuk permaianan modern beraneka ragam, seperti halnya
permainan yang bisa dilakukan di dalam rumah saja seperti
Playstationn, atau permainan-permainan di computer, game online
dan lain sebaginya. Selain itu, permainan modern juga sebagai
pelengkap fasilitas yang diberikan di MALL dan super market.
Seperti yang ada di Mall Malang Town Square atau biasa dikenal
dengan nama MATOS kota Mal








