psikologi budaya 2



 asing-masing dari 

mereka memiliki pola hidup yang khas dan sesuai dengan pola pikir, 

waktu dan tempat dimana mereka berada. Lalu dari hal inilah dapat 

ditemukan ciri khas tersendiri dari suatu kelompok warga  

yang membedakan kelompok warga  satu dengan yang lain. 

Ciri khas ini  disebut dengan kebudayaan (Koentjaraningrat 

2004).

46 

Pada kenyatanya, terdapat satu tradisi atau budaya yang sejak 

dulu hingga sekarang masih mendarah daging dengan warga  

di sebuah desa. Tepatnya di daerah Bungah Gresik Jawa Timur, 

yaitu tradisi perayaan Houl sesepuh Desa atau tokoh besar sebuah 

Pondok Pesantren. Beliau dikenal dengan nama Mbah Sholeh Tsani. 

sebab  semangatnya dalam menyiarkan agama Islam di Desa 

Bungah, maka warga  dan penduduk desa setempat selalu 

memperingati hari wafatnya tiap tahun. Tradisi seperti ini disebut 

dengan houl. Tradisi ini bisa diibaratkan seperti magnet yang 

menarik banyak warga  dari berbagai daerah yang mengenal 

sosok Mbah Sholeh Tsani. Hingga Pesarean atau makam beliau penuh 

dengan pengunjung yang mengirim doa dan tahlil kepadanya.

Acara houl seperti ini berbeda dengan tradisi pada umumnya, 

sebab  perayaan ini  diketahui dengan menggunakan Tanggal 

Jawa yang dipakai oleh warga  jawa tulen pada umumnya 

(Wawancara Subjek 2, Tanggal 21 April 2012). Berbeda dengan tradisi 

modern yang dilaksanakan berdasar  tanggal nasional seperti 

karnaval pada hari kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 

Agustus, dan acara-acara yang lain. 

Kerangka Kerja Teoritik

Kebudayaan dan tindakan kebudayaan yaitu  segala kegiatan 

yang harus dibiasakan oleh manusia dengan proses pembelajaran 

atau learned behavior, juga diajukan oleh beberapa ahli antroplogi 

terkenal seperti C. Wisserl (1916), C. Kluckhohn (1941) atau A. Hoebel 

(A. Davis, 1948). Mereka pernah mengumpulkan sebanyak 160 buah 

definisi tentang kebudayaan yang kemudian mereka analisis, dicari 

latar belakang, prinsip dan diklasifikasi kedalam beberapa definisi, 

lalu hasil penelitian ini  diterbitkan dalam buku yang berjudul 

Culture, A Critical Review of Concepts and Definitions (1952).

47Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

Pengertian budaya  seperti yang dikemukakan Edward B. Tylor 

yaitu  “culture of civilization is that complex whole which includes 

knowledge, beliefe, art, moral, law, custom, and any other capabilities 

and habits acquired by man as a member of society” dimana kultur 

atau peradaban yaitu  kompleksitas meyeluruh yang terdiri dari 

pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan, dan 

berbagai kapabilitas lainnya serta kebiasaan apa saja yang diperoleh 

seorang manusia sebagai bagian dari sebuah warga .

Sedangakan pengertian lain dikemukakan oleh Clifford Geertz, 

bahwa budaya tidak difahami semata­mata sebagai hasil kreasi, pola 

pikir manusia dan segala peristiwa manusiawi lainnya melainkan 

juga dari makna yanng tersirat dari balik hasil kreasi, pola pikir dan 

segala peristiwa kemanusiaan ini .

Budaya menurut Greetz (Koentjaraningrat, 2004) yaitu  

sebuah konsep yang semiotik dan kontekstual. Greetz selanjutnya 

mengatakan, dengan meyakini akan kebenaran tesis Wax Weber 

bahwa manusia yaitu  binatang yang bergantung pada jaringan­

jaringan makna yang ditenunya sendiri, “saya (Greetz) menganggap 

bahwa manusia dan budaya seperti halnya jaringan­jaringan ini  

yang memerlukan pemaknaan tersendiri dimana pemaknaannya 

tidak didasarkan kepada kaca mata ilmiah yang eksperimental 

melainkan berdasar  mata kepala yang interpretatif”.

Wujud Kebudayaan

J.J. Honigmann (1959) menyebutkan dalam The World of Man 

mengenai tiga gejala kebudayaan yaitu (1) ideas; (2) activition; dan 

(3) artifacts. Hal ini, dapat dijelaskan bahwa:

Cultural system yaitu kebudayaan yang merupakan suatu 

kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-noma, 

peraturan­peraturan yang merupakan wujud ideal dari sebuah 

kebudayaan, akan tetapi bersifat abstrak sehingga tidak dapat 

48 

diraba atau difoto. Wujud dari kebudayaan ini kadang dapat kita 

temukan dalam bentuk karangan atau tulisan. 

Social system, yaitu pola-pola tindakan manusia, misalnya 

berinteraksi antar sesama, berhubungan, bergaul, berkomunikasi 

dan sebagainya. Rangkaian aktivitas ini dapat kita temukan di 

sekitar kita dan bersifat konkret sehingga dapat didokumentasikan 

atau diobservasi.

Artifacts, yaitu wujud terakhir dari kebudayaan yang disebut 

sebagai kebudayaan fisik. Kebudayaan fisik yaitu  suatu hasil fisik 

dari aktivitas, perbuatan dan karya cipta dari kecerdasan manusia. 

Bersifat paling konkrit daripada dua wujud kebudayaan sebelumnya 

dan dapat didokumentasikan dan diobservasi. Bisa berupa benda-

benda peninggalan sejarah dan lain sebagainya.

Ketiga wujud kebudayaan ini  saling berkaitan satu sama 

lain. Kebudayaan ideal atau adat istiadat memberikan arahan 

kepada tindakan dan karya cipta dari pikiran manusia sehingga 

turut mempengaruhi kebudayaan fisik yang dihasilkan. Begitu juga 

sebaliknya. Kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup 

tertentu yang menjauhkan manusia dari lingkungan ilmiahnya 

sehingga mempengaruhi pola pikir dan pola perbuatannya. 

Koentjaraningrat (2004) berpendapat bahwa kebudayaan yaitu  

seluruh sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam 

rangka kehidupan warga  yang dijadikan manusia dengan 

proses belajar. Antropolog lain, Ralph Linton (1945) berkata bahwa 

“Culture is a congfiguration of learned behavior and result of behafiour 

whose component elements are shared and transmitted by the member of 

particular society”

Kebudayaan bukanlah milik satu orang saja. Ia mendapatkannya 

justru sebab  ia yaitu  anggota dari suatu kelompok. Pada suatu 

kelompok, disitulah kemudian seseorang mendapatkan konsep-

konsep, seperti belief atau kepercayaan, nilai-nilai, dan cerita-

cerita atau ingatan bersama. Oleh sebab  itu individu dalam satu 

49Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

warga  terbuka kemungkinan untuk memiliki pengalaman 

yang relative sama dengan individu lainnya (Halida, R. 2011).

Contohnya yaitu  kegiatan rutin keagamaan yang dilaksanakan 

oleh kelompok warga  tertentu. Kegiatan ritual yang dilakukan 

bersama-sama akan menimbulkan perasaan kebersamaan yang erat 

antar anggotanya. saat  individu melihat bahwa aktifitasnya sama 

dengan orang lain, ia akan merasa bahwa orang lain itu memiliki 

kesamaan dengan dirinya. Maka dari itu, kebudayaan bisa dibagi 

atau shared dari, untuk, dan oleh anggota kelompoknya.

Proses Mempelajari Kebudayaan 

Internalisasi. Menurut Koentjaraningrat (1996) proses inter-

nalisasi yaitu  proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, 

yaitu mulai dari ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang 

hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala 

perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang kemudian membentuk 

kepribadiannya.

Sosialisasi. Talcott Parson (Koentjaraningrat, 1996) meng­

gambar kan proses mengenai kebudayaan sebagai bagian dari 

proses sosialisasi individu. Semua pola tindakan individu-individu 

yang menempati berbagai kedudukan dalam warga nya yang 

di jumpai sesorang dalam kehidupannya sehari-hari semenjak 

dirinya dilahirkan, dicerna olehnya sehingga individu ini  pun 

akan menjadikan pola-pola tindakan ini  sebagai bagian dari 

kepribadiannya.

Enkulturasi. Menurut Koentjaraningrat (1996) proses ini 

merupakan proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta 

sikap terhadap adat, sistem norma, dan semua peraturan yang 

terdapat dalam kebudayaan seseorang. Proses ini telah dimulai sejak 

awal kehidupan, yaitu dalam lingkungan keluarga, dan kemudian 

dalam lingkungan yang semakin lama semakin meluas.  

50 

Unsur-unsur Kebudayaan

Kebudayaan memiliki  unsur-unsur dasar dan universal atau 

umum. Unsur-unsur ini  diantaranya: bahasa, kepercayaan, 

pengetahuan dan teknologi, nilai, norma dan sanksi, simbol, 

kesenian (Koentjaraningrat 2004).

Language. Bahasa merupakan jantung bagi sebuah kebudayaan. 

Dalam hal ini, bahasa menjadi alat atau sarana utama untuk 

mengkomunikasikan, membahas, men-share-kan dan mewariskan 

arti-arti kebudayaan melalui interaksi sosial. Kemampuan manusia 

untuk mengkomunikasikan makna kebudayaan secara simbolik, 

khususnya melalui bahasa, akan membedakan manusia dengan 

makhluk yang lain.

Belief. Kepercayaan sangat berkaitan dengan pandangan 

manusia tentang bagaimana dunia beroperasi. Kepercayaan yang 

dapat berupa interpretasi akan masa lampau, atau penjelasan tetang 

masa sekarang ataupun tentang prediksi masa yang akan datang. 

Kepercayaan dapat juga timbul berdasar  akal sehat (common 

sense). Kepercayaan mampu membentuk pengalaman seseorang 

baik secara pribadi atau individu maupun bersama atau kelompok.

Norm. Norma memiliki  sifatnya berbeda dengan nilai. Jika 

nilai itu sifatnya abstrak, maka norma itu bersifat konkrit, berupa 

suatu aturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus 

dilakukan oleh manusia. Norma mengungkapkan bagaimana 

seharusnya manusia bertindak dan berperilaku secara manusiawi 

dan sebagai pedoman tiap aktivitas yang dilakukannya. Dalam 

norma, ada yang disebut mores atau tata kelakuan, dan folkways 

atau kebiasaan. Mores mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari 

kelompok manusia dan dipakai  sebagai pengawas. Folkways 

yaitu  perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama.

Art. Salah satu contoh dari kebudayaan fisik atau material 

yaitu  kesenian. Setiap kebudayaan pasti memiliki  cara untuk 

51Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

berekspresi, baik menggunakan seni, teknologi atau kepercayaan 

kepada yang gaib untuk menunjukan tentang keberadaannya 

kepada dunia. Cara pengungkapan (ekspresi) nilai secara artistik ini 

disebut seni atau kesenian. Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap 

bentuk seni harus dikembangkan dalam kebudayaan. Setiap bangsa 

atau warga  memiliki ungkapan kesenian yang khas. Melalui 

seni, warga  dapat mengungkapan perasaannya, harapannya 

ataupun cita-citanya. 

Science. Untuk membangun dan mengembangkan kebudayaan 

fisik dari suatu warga  atau bangsa maka membutuhkan 

pengetahuan dan teknologi yang mampu membangun lingkungan 

fisik, sosial dan psikologi yang khas. Manusia secara intensif 

berhubungan dengan alam dengan teknologi. Merujuk dari 

pengalamannya ini manusia membangun kebudayaan. Dewasa ini 

kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah dicapai oleh 

manusia, memiliki  pengaruh yang besar terhadap kehidupan 

umat manusia. Kemajuan yang dicapai ini tidak hanya berdampak 

pada cara hidupnya, tetapi juga untuk menentukan teknologi 

maupun ilmu pengetahuan selanjutnya.

Value. Jika kepercayaan menjelaskan tentang itu sesuatu, maka 

nilai menjelaskan bagaimana seharusnya sesuatu itu terjadi. Nilai 

mengacu pada apa atau sesuatu yang oleh manusia atau warga  

dianggap paling berharga. Timbulnya nilai berasal dari pandangan 

hidup suatu warga . Ada standar kebenaran yang harus 

dimiliki oleh nilai, yaitu sesuatu yang diinginkan oleh semua orang 

dan layak dihormati. 

Symbol. Simbol atau lambang yaitu  sesuatu yang mampu 

mengekspresikan sebuah makna terdalam dari suatu maksud. Hal ini 

terjadi sebab  manusia mengalami keterbatasan untuk menyatakan 

maksud hati, pikirannya dengan bahasa yang ada. Simbol dapat 

berupa benda sehari-hari, benda-benda yang telah memiliki arti 

khusus atau juga bahasa maupun gerak tubuh manusia.

52 

Menurut Ernest Cassier filsuf Amerika yang berasal dari Jerman, 

dalam bertindak manusia sering menggunakan simbol. sebab  

itu, manusia sering disebut sebagai makhluk yang menggunakan 

simbol-simbol atau animal symbolic. Lewat simbol­simbol ini  

manusia akan berkreasi, mencoba mengatasi kesulitan hidup dan 

ketidaktahuannya.

Houl sebagai Budaya dan Tradisi

Haul yaitu  salah satu tradisi yang melekat dan mendarah 

daging dengan warga  di Desa Bungah. Houl berasal dari 

bahasa arab yang artinya ‘tahun’, istilah lain dari peringatan tahunan 

meninggalnya seseorang, misalnya memperingati haul wafat orang 

tua atau saudara yang diisi dengan berziarah ke makam Shohibul 

Haul, dzikir, membaca tahlil dan berdoa bersama. Tetapi pada 

umum nya istilah Haul hanya dihususkan untuk memperingati 

wafat nya figur­figur tokoh atau ulama yang sangat dihormati oleh 

masya rakatnya. Selain bertujuan mendo’akan, peringatan Haul ini 

juga sarat dengan manfaat bagi warga  umum dan generasi pe-

nerus para kyai, diantaranya:

1. Meneguhkan perasaan hormat santri dan warga  sekitarnya 

akan peran dari Shohibul Haul. Pada konteks ini, terutama bagi 

santri-santri, menghadiri Houlnya kyai sama artinya dengan 

meneguhkan silsilah atau mata rantai keilmuan.

2. Sebagai ajang silaturrahim bagi santri dan para alumni. 

Sehingga masing-masing alumnus bisa saling share dan tukar 

pengalaman dalam kaitannya dengan perjuangannya menye-

barkan ilmu di daerahnya masing-masing.

3. Mempererat hubungan batin antara alumni dengan badal atau 

wakil­wakil kyai, yang umumnya yaitu  putra­putra kyai 

sendiri atau kerabat dekatnya.

53Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

4. Pentingnya keteladanan. Pada setiap acara Haul, sebetulnya 

secara tersirat mengingatkan kembali kepada figur dan 

prestasi yang disandang Sohibul Haul yang bisa dijadikan acuan 

keteladanan bagi generasi-generasi berikutnya.

5. Sebagai media da’wah kepada warga  umum dan pem­

bekalan bagi santri dan alumni. sebab  pada umumnya, di-

antara rangkaian acara peringatan Haul ada mauidzoh hasanah, 

isinya jelas yaitu, selain menceritakan perjuangan dan kebaikan 

Shohi bul Haul agar diteladani, amar ma’ruf nahi munkar dan 

pem bekalan bagi generasi muda dalam me neruskan estavet 

da’wah para kyai sepuh.

Acara tahlil dan pembacaan doa pada umumnya diselenggara-

kan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari 

sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-

100. Untuk selanjutnya acara ini  diadakan tiap tahun di hari 

kematian seseorang yang disebut dengan Houl. Meskipun dulunya 

hanya di peringati dengan sangat sederhana, tetapi lama kelamaan 

sebab  perkembangan zaman sehingga peringatan Haul ini menjadi 

semakin meriah tetapi tujuan dan arti pentingnya tetap sama. Istilah 

Haul ini di ambil oleh para ulama dari dalam sebuah hadits riwayat 

Baihaqi dalam Syarhus Shudur disebutkan, bahwa Rasulullah saw 

setiap setahun sekali berziarah ke makam para syuhada’ perang 

Uhud, kemudian Abu Bakar, Umar bin Khotthob dan Utsman bin 

‘Affan juga melakukan itu.

عن الواقد قال كان رسول اهلل صلى اهلل عليه وسلم يزور الشهداء بأحد 

فى كل حول, وإذا بلغ الشعب رفع صوته فيقول سالم عليكم مبا صبرمت 

فنعم عقبى الدار ثم ابو بكر رضي اهلل عنه كل حول يفعل مثل ذلك ثم 

عمر ابن اخلطاب ثم عثمان ابن عفان رضي اهلل عنهما. أخرجه البيهقى

54 

“Dari al-Waqidi, ia berkata, Rasulullah saw pada setiap setahun 

sekali berziarah kemakam para shuhada’ perang uhud, dan saat  beliau 

sampai di Sya’b, beliau berkata dengan keras “Salamun ‘alaikum bimaa 

shobartum fa ni’ma ‘uqbad dar. Abu Bakar ra. juga melakukan seperti 

itu setiap tahun, demikian juga Umar bin Khothob ra. dan Utsman bin 

Affan ra. “

Metode

Metode penelitian yang dipakai  yaitu  kualitatif 

fenomenologis, sebab  pada dasarnya penelitian fenomenologi 

berpsinsip a priori dan berangkat dari perspektif filsafat mengenai 

apa yang diamati dan bagaimana cara mengamatinya. Premis dasar 

dalam penelitian fenomenologis yaitu : Pertama, sebuah peristiwa 

akan berarti dan bermakna bagi mereka yang mengamatinya 

secara langsung. Kedua, pemahaman objektif dimediasi dengan 

pengalaman yang subjektif. Ketiga, pengalaman manusia terdapat 

dalam struktur pengalaman itu sendiri dan tidak dikonstruksi oleh 

peneliti (Engkus, 2009).

Kekuatan metode penelitian fenomelnologi terletak pada 

kemampuan peneliti dalam memasuki bidang persepsi orang lain, 

guna memandang kehidupan sebagaimana apa yang dilihatnya, 

fenomenologi mendiskripsikan pengalaman. Sebuah deskripsi 

fenomenologi sangatlah dekat dengan kealamiahan sehingga 

mempertahankan fenomena dan menonjolkan sifat alamiyahnya 

(Engkus, 2009).

Metode fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan 

yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Sebagai sebuah 

pendekatan konstruktifisme dengan metodologi kualitatif, metode 

fenomenologi membentangkan langkah–langkah yang harus 

diambil sehingga peneliti sampai pada fenomena yang murni. 

Disisi lain, fenomenologi juga berusaha memahami kerangka yang 

55Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

telah dikembangakan oleh masing–masing individu dari waktu ke 

waktu, hingga membentuk tanggapan mereka terhadap peristiwa 

dan pengalaman dalam kehidupan.

Hasil dan Diskusi

Penelitian dilaksanakan di Desa Bungah Kabupaten Gresik 

yaitu di sebuah Pondok Qomaruddin Jl. Sampurnan Desa Bungah 

Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik ± 17 km dari pusat kota Gresik 

menuju ke utara, tepatnya 200 m sebelah kantor kecamatan Bungah 

Gresik. Di Desa ini  terdapat salah satu tradisi perayaan Houl 

sesepuh Desa atau keturunan ulama penyiar agama Islam yang 

dimakamkan di Desa Bungah, yaitu terkenal dengan sebutan Mbah 

Sholeh Tsani, nama asli beliau yaitu  KH. Moh. Nawawi. 

KH. Moh. Sholeh Tsani bernama kecil Muhammad Nawawi. 

Beliau lahir di Desa Rengel, Tuban. Ayahnya bernama Madyani 

atau KH. Abu Ishaq dan ibunya bernama Rosyihah binti KH. Moh 

Sholih Awwal. Dengan demikian beliau yaitu  cucu KH. Moh 

Sholih Awwal. Kata “Tsani” dalam bahasa arab berarti “kedua” 

yang melekat pada namanya ini  untuk membedakan dengan 

nama kakeknya yang dikenal dengan nama KH. Moh Sholih Awwal. 

Selain itu, di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah 

Gresik memang terdapat tiga pemangku berbeda dengan nama 

Moh. Sholih.

Dahulu mayoritas warga  desa yaitu  berprofesi sebagai 

petani, namun dengan perkembangan yang pesat hingga sekarang, 

kebanyakan besar warga  di Desa Bungah membuka Home 

Industri, seperti pembuatan Peci atau Kopyah, Baju koko putra, 

Rebana dan lain sebagainya. Sebelum terdapat Pondok Pesantren 

kecil di tengah desa ini, warga  di Bungah bisa dibilang 

masih berpengetahuan minim mengenai ilmu agama, lalu setelah 

dibangun Pondok Pesantren Qomaruddin pada tahun 1188 H / 1775 

56 

M yang didirikan oleh KH. Qomaruddin, ilmu pengetahuan umum 

dan agama dalam warga  ini  berkembang dengan pesat 

dan membawa kemajuan.

KH. Moh. Sholih Tsani yaitu  seorang ulama yang produktif. 

Beliau tidak hanya pandai membaca kitab karangan orang lain, 

tetapi ia banyak menyusun dan menulis kitab-kitab baru terutama 

yang membahas Fiqh, contohnya:

a) Kitabus Syuruth, yang berisi penjelasan tentang syarat-syarat 

dan rukun ibadah, mulai dari shalat, zakat, puasa, haji dan 

masalah yang berakaitan dengan muamalah.

b) Nadhom Qoshidah lis Sibyah, yang berisi ajaran tauhid untuk 

anak-anak dan para Mubtadi’in yang baru mempelajari masalah 

tauhid, yang dikemas dengan bentuk Nadhom atau Syiir untuk 

memudahkan hafalan

c) Taslilul Awam fii Mas’alatis Syiyam, yang berisi penjelasan khusus 

tentang petunjuk praktis tentang pelaksaan puasa.

KH. Moh. Sholih Tsani meninggal pada hari Kamis 24 Jumadil 

Ula 1320 H/ 28 Agustus 1902 setelah memimpin pondok Pesantren 

Qomaruddin selama kurang lebih 40 tahun. Jenazahnya di makam-

kan di pemakaman khusus para Muassis atau keluarga Pemangku 

Pondok Qomaruddin Sampurnan Bungah di tengah Desa Bungah.

Sejarahnya, beliau dikenal oleh warga  sebab  kegigihannya 

dalam membangun dan menyiarkan agama di salah satu desa yang 

pada saat itu pengetahuan agamanya bisa dibilang tertinggal. Hingga 

setelah beliau mengembangkan Pondok Pesantren Qomaruddin, 

maka berkembang pula pengetahuan warga  mengenai ilmu 

umum dan ilmu agama ini .

Sampai saat ini, ikatan batin antar Kiai dengan ribuan santrinya 

ini  sangat kuat hingga masih ada komunikasi atau jalinan 

silaturrahmi. Bahkan bertahun­tahun setelah beliau wafat masih 

ada silsilah keilmuan yang diwariskan pada para santri dan 

57Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

warga nya yang menghasilkan tradisi Houl atau ziarah ke 

makam ulama yang dikagumi warga  di Desa Bungah dimana 

Mbah Sholeh dimakamkan.

Berawal dari definisi budaya itu sendiri, budaya yaitu  suatu 

gagasan atau ide dari sekelompok warga  yang diakui secara 

ber sama (Koentjaraningrat, 2004).  Sedangkan menurut Larry A. 

Samovar & Richard E. Porter (Koentjaraningrat, 2004). Kebudayaan 

dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, 

ke perca yaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, 

peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau ke-

pemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang 

atau suatu generasi.

Menggunakan berbagai definisi ini , dapat diperoleh 

penger tian mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi 

tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang ter-

dapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, 

kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan ke budayaan 

yaitu  benda-benda yang diciptakan oleh manusia se bagai makhluk 

yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat 

nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi 

sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya di tujukan untuk 

membantu manusia dalam melangsungkan ke hidupan.

Dan peringatan Houl yaitu  suatu tradisi yang berasal dari 

gagasan sekelompok warga  yang bersumber dari kepercayaan 

dan memiliki  nilai yang dipertahankan oleh banyak orang, tidak 

hanya individu, tapi hampir seluruh warga  mempertahankan 

ke biasaan ini dan mewariskan kepada generasi selanjutnya (Jabir, 

1984).

Nilai yang dianut oleh warga  satu dengan warga  lain 

juga berbeda seperti tradisi ini yang rutin dilakukan setiap tahun 

dimana warga  melihat perayaan Houl ini melalui Tanggalan 

Jawa yang dianut secara umum sebab  mereka menganggap 

58 

perayaan hari besar ini berbeda dengan perayaan hari besar nasional 

pada umumnya (Wawancara Subjek 2, Tanggal 21 April 2012).

Telah dijelaskan juga bahwa terdapat tiga wujud kebudayaan 

menurut J.J. Honigmann (1959) dalam bukunya yang berjudul  The 

World of Man. Cultural System yaitu kebudayaan yang merupakan 

suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-noma, 

peraturan­peraturan yang merupakan wujud ideal dari sebuah 

kebudayaan, akan tetapi bersifat abstrak sehingga tidak dapat 

diraba atau difoto.

Dalam hal ini Houl juga merupakan salah satu wujud kebudayaan 

yang diakui oleh warga  dan dilakukan dari generasi satu ke 

generasi berikutnya secara turun temurun. Dimana didalamnya 

melekatlah norma-norma agama dan nilai yang berkaitan. Hingga 

dalam hal ini, tradisi houl bisa dikatakan sebagai adat istiadat 

warga  desa setempat yang menjadikannya sebagai gagasan 

atau ide­ide yang hidup bersama warga  dan memberi jiwa 

terhadap warga  itu sendiri.

Social system yaitu tindakan berpola dari manusia itu sendiri 

yang bisa melalui interaksi, hubungan individu satu dengan individu 

lain, warga  satu dengan yang lain, bergaul, berkomunikasi 

dan sebagainya. Rangkaian aktivitas ini dapat didokumentasikan 

atau diobservasi dan bisa ditemukan disekitar kita.

Melalui tema pembahasan tentang Houl, dapat diartikan bahwa 

houl yaitu  salah satu hasil interaksi manusia dengan sesamanya, 

dari detik ke detik, hari ke hari hingga tahun ke tahun. Dimana 

acara atau kebiasaan ini dilakukan dengan pola-pola tertentu yang 

berdasar  tata kelakuan. Maka sebagai kesatuan rangakaian 

aktifitas warga , Sistem sosial ini bersifat konkret dan nyata atau 

bisa dilihat dan didokumentasikan. Dalam hal ini bisa ditemukan 

adat atau kebiasaan warga  desa yang mengunjungi makam 

atau Pesarean Mbah Sholeh tiap tahunnya, dan terdapat interaksi 

59Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

sosial antar warga  yang pada akhirnya menjadi rangkaian 

aktifitas yang berpola.

Artifacts atau kebudayaan fisik. Kebudayaan fisik yaitu  suatu 

hasil fisik dari aktivitas dan karya manusia. Kebudayaan fisik ini 

bersifat paling konkrit atau nyata daripada dua wujud kebudayaan 

sebelumnya dan dapat didokumentasikan dan diobservasi. Bisa 

berupa benda-benda peninggalan sejarah dan lain sebagainya. 

Mbah Sholeh adah salah satu tokoh yang dianggap istimewa oleh 

warga , sebab  beliau yaitu  tokoh sejarah yang paling dikenal 

dan dekat dengan warga  desa itu sendiri. Seperti yang telah 

dijelaskan bahwa beliau telah menulis berbagai macam kitab yang 

pada zaman dahulu dipakai  sebagai media pembelajaran para 

santri yang belajar dengan beliau di Pondok Pesantren Qomaruddin 

(Jabir, 1984). Seperti :

a. Kitabus Syuruth, yang berisi penjelasan tentang syarat-syarat 

dan rukun ibadah, mulai dari shalat, zakat, puasa, haji dan 

masalah yang berakaitan dengan muamalah.

b. Nadhom Qoshidah lis Sibyah, yang berisi ajaran tauhid untuk 

anak-anak dan para Mubtadi’in yang baru mempelajari masalah 

tauhid, yang dikemas dengan bentuk Nadhom atau Syiir untuk 

memudahkan hafalan

c. Taslilul Awam fii Mas’alatis Syiyam, yang berisi penjelasan khusus 

tentang petunjuk praktis tentang pelaksaan puasa.

Peninggalan-peninggalan seperti ini yang dimaksud sebagai 

wujud kebudayaan fisik atau Artifact yang bersifat nyata, dapat 

didokumentasikan dan dilihat. Selain peninggalan sejarah itu, masih 

berdiri dengan kokoh bangunan Pondok Pesantren Qomaruddin 

yang telah direnovasi beberapa kali oleh pengasuh pondok setelah 

Mbah Sholeh, dimana pada bangunan ini terdapat cerita sejarah 

mengenai kepemimpinan dan pengajaran beliau terhadap ratusan 

santrinya pada masa itu.

60 

Ketiga wujud kebudayaan ini  tidak dapat terpisah antara 

satu dengan yang lain. Kebudayaan dan adat akan mengatur dan 

memberi arah pada warga . Baik pemikiran, ide-ide dan gagasan 

yang pada ahirnya akan menghasilkan kebudayaan fisik atau artifak. 

Begitu juga sebaliknya, kebudayaan fisik akan membentuk suatu 

lingkungan tertentu yang akan mempengaruhi pola-pola perilaku 

dan cara berfikirnya.

Peran Kebudayaan dalam warga 

Kebudayaan memiliki  peran atau makna tersendiri bagi 

warga , tidak mungkin manusia melakukan segala sesuatu 

tanpa tujuan, apa lagi aktivitas yang terpola ini  dilaksanakan 

secara turun menurun dan rutin pada tiap tahun. Adat atau 

kebudayaan dapat dipakai  sebagai:

Identitas diri. Artinya tradisi Houl ini yaitu  salah satu 

kebiasaan yang melekat dengan warga  desa setempat yang 

melaksanakannya, dimana tiap pelaksaan rutin ini akan dirasa 

berbeda dengan perayaan Houl pada tempat lain. Sehingga timbul 

rasa percaya diri mereka saat  warga  ini  turut andil 

dalam pelaksanaannya dan tidak pernah mereka merasa dirugikan 

atas pelaksanaan acara ini. Dengan kata lain, budaya ini menjadi 

media dalam menemukan jati diri mereka yang sebenarnya. 

Misalnya banyak orang mengatakan ’Gresik Kota Santri’, maka 

disinilah mereka memandang dan menemukan bahwa budaya yang 

mendarah daging di Gresik atau di desa mereka lebih mengarah 

ke spiritulaitas dan religi hingga ada rasa bangga tersendiri dalam 

warga  yang menjalaninya dan mendapat makna dari predikat 

‘Kota Santri’ ini .

Media Memperkuat Hubungan Sosial warga . Seperti yang 

telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu tujuan dari tradisi 

Haul yaitu  sebagai media untuk memperkuat tali silaturrahmi antar 

61Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

saudara muslim yang masih memiliki ikatan rantai keilmuan yang 

kuat dari Mbah Sholeh dan keturunanya hingga sekarang. Dengan 

dilaksanakannya kebudayaan ini, maka akan berkumpul berbagai 

macam kelompok warga  dari berbagai latar belakang dan 

daerah yang berbeda hingga terdapat jalinan kelompok yang kuat 

diantara mereka. Pelaksanaan Haul ini  terdapat interaksi sosial 

antar anggota warga , baik dalam berjualan atau melakukan 

transaksi jual beli, silaturrahmi atau Sowan ke Ndalem KH. Ahmad 

Muhammad Al Hammad, dan berbagai interaksi lainnya.

Pengajaran terhadap generasi muda. Tradisi yang dilakukan 

secara turun temurun ini akan menjadi bekal atau pegangan para 

generasi muda dalam menghadapi kemajuan zaman dan dapat 

menjadi filter dalam menerima kebudayaan­kebudayaan baru dari 

luar yang datang tanpa diwariskan secara turun temurun. Tradisi 

ini  juga memberikan pelajaran terhadap generasi muda untuk 

mengenal lebih jauh sejarah tentang Tokoh yang paling berperan 

dalam kemajuan pendidikan dan agama di daerah mereka.

Menjaga tradisi lama warga . Kebudayaan yang dilaksanakan 

tiap tahun ini memiliki  makna dalam warga  itu sendiri 

dimana warga  dapat menjadikan kebudayaan ini menjadi 

darah daging yang melekat pada semua warga  dan setiap 

waktu mendekati hari­hari puncak pelaksanaan ini akan menjadi 

hari yang ditunggu-tunggu oleh warga  dan kebanyakan 

orang.

Dampak dari pelaksanaan Houl Mbah Sholeh Tsani

Tradisi pelaksanaan Haul Mbah Sholeh Tsani ini seperti magnet 

yang menarik ribuan warga  baik dari daerah sekitar Bungah 

Gresik bahkan dari daerah luar jawa, hal ini disebabkan sebab  

masih adanya ikatan tongkat estavet keilmuan yang diberikan dari 

Mbah Sholeh dan keluarganya pada para Santri ataupun alumni 

62 

yang pernah menjadi santri dalam perguruannya. Setiap tahun 

warga  datang ke Makam Mbah Sholeh tanpa diundang atau 

diberi tahu dari pihak Ndalem, hingga perayaan tradisi Nyekar atau 

berziarah ke Makam ini menimbulkan dampak positif bagi mereka 

(Wawancara Subjek 3, Tanggal 23 April 2012), yaitu :

a) Mempererat tali silaturrahmi antar anggota warga  yang 

berlatarbelakang berbeda satu sama lain, sebab  kelompok 

masya rakat yang menghadiri Haul ini  tidak hanya datang 

dari daerah Bungah tapi juga dari luar kota.

b) Perkembangan kemajuan desa, sebab  dengan dilaksanakannya 

acara Houl, maka Desa akan ramai pengunjung dari berbagai 

daerah hingga bisnis home industry warga  Desa Bungah 

berkembang pesat dan menghasilkan income atau pemasukan 

yang sangat meningkat (Wawancara Subjek 3, Tanggal 23 April 

2012).

Para generasi muda akan mendapatkan teladan dan pesan yang 

ter sirat dari perayaan Houl ini, sebab  mereka akan mengetahui 

bagai mana sejarah dan perjuangan Ulama besar mereka dalam 

menyebarkan dakwah islam di Desa Bungah.

Kesimpulan

Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan itu ibarat sebuah 

lensa dimana seperti halnya saat kita menggunakan lensa untuk 

meneropong sesuatu kita harus memilih suatu objek tertentu yang 

akan dilihat secara fokus. Beberapa orang awam juga mengartikan 

kebudayaan merupakan sebuah seni. Padahal sebenarnya ke-

budayaan itu bukan hanya sekedar seni. Kebudayaan melebihi seni 

itu sendiri sebab  kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam 

kehidupan antar manusia.

Kebudayaan bukanlah milik satu orang saja. seseorang men-

dapatkannya justru sebab  dirinya yaitu  bagian atau anggota 

63Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

dari suatu kelompok. Dalam suatu kelompok, kemudian seseorang 

men dapatkan konsep-konsep, seperti belief atau kepercayaan, nilai-

nilai, dan cerita-cerita atau ingatan bersama tentang masa lalu. Oleh 

sebab  itu individu dalam satu warga  terbuka kemungkinan 

untuk memiliki pengalaman yang relatif sama dengan individu 

lainnya.

Seperti yang telah dipaparkan diatas menganai salah satu 

budaya yang masih erat dengan warga , yaitu Houl. Budaya 

ini tidak hanya diperingati oleh satu individu saja tapi berbagai 

macam kelompok dengan latar belakang berbeda. Dimana dalam 

perayaannya terdapat nilai-nilai dan ide-ide serta karya cipta ma-

sya rakat yang diakui secara bersama.

Houl yaitu  tradisi yang memiliki  tujuan dan makna tersendiri 

bagi warga , dimana dengan diadakannya pelaksanaan budaya 

yang turun temurun ini, warga  dapat mengungkapkan rasa 

hormat dan Ta’dhim mereka terhadap salah satu sesepuh atau tokoh 

agama yang paling dekat dengan mereka, yaitu Mbah Sholeh Tsani 

dari Desa Bungah. Cara ini dapat dengan mudah men-share atau 

me nurunkan kebudayaan ini kepada generasi selanjutnya.

Pada intinya, kebudayaan memiliki  unsur-unsur dasar dan 

universal atau umum. Unsur-unsur ini  meliputi bahasa, ke-

percayaan, pengetahuan dan teknologi, nilai, norma dan sanksi, 

simbol, kesenian.

64 

65Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

keSeNiaN JaraN kepaNG

(StuDi feNOmeNOLOGi Di DuSuN SeNDaNG)

Ika Kurnia Rahayu

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail : nina.faruq@yahoo.com

Mukadimah

Dusun Sendang, sebuah dusun di daerah Malang Selatan, 

tepatnya di lereng Gunung Kawi. Di daerah ini terdapat sebuah 

kesenian yaitu Kesenian Jaran Kepang. Konon kesenian ini 

merupakan sebuah permainan yang secara murni tidak dihasilkan 

dari warga  Dusun Sendang. Tidak diketahui secara pasti 

mengenai permulaan permainan ini, sebab  telah disebut oleh 

banyak daerah sebagai kekayaan budayanya (Wikipedia, 2012).

Hal ini terjadi sebab  para pendahulu tidak mematenkan 

permainan ini sebagai seni yang khas dari suatu daerah tertentu, 

sehingga bisa dimainkan oleh siapapun dan muncul banyak sekali 

versi cerita. Tetapi, diantara berbagai versi ini , pendapat yang 

paling sering muncul yaitu  bahwa kesenian jarang kepang ini 

berasal dari Ponorogo Jawa Timur. Di Jawa Timur seni ini akrab 

dengan warga  dibeberapa daerah misalnya Blitar, Malang, 

Nganjuk, Tulungagung dan banyak daerah-daerah lain. Jika 

dilihat dari model permainan ini, yang menggunakan kekuatan 

dan kedigdayaan, besar kemungkinan berasal dari daerah-daerah 

kerajaan di Jawa (Farabi, 2010).

66 

Melihat menariknya kesenian ini maka warga  

mengambilnya sebagai sebuah kebudayaan. Walaupun begitu, 

kesenian ini memiliki ciri-ciri yang khusus dibandingkan dengan 

daerah lain. sebab  kebudayaan merupakan sarana hasil karya, 

rasa, dan cipta warga  (Soemardjan dan Soemardi, 2002), maka 

kesenian ini layak untuk dikatakan sebagai sebuah kebudayaan di 

dusun ini .

“Jaran Kepang” yaitu  seni tari yang dimainkan dengan properti 

berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang 

(Wikipedia, 2012).  Fungsi dari properti kuda ini  untuk dinaiki 

seolah-olah penari sedang menuggang Kuda.  Dalam kepercayaan 

warga , “Jaran Kepang” merupakan pertunjukan kesenian 

tradisional yang menggunakan kekuatan magic dengan waditra 

utamanya berupa kuda-kudaan yang terbuat dari kulit kerbau 

atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak); atau terbuat dari 

anyaman bambu (Jawa: kepangan pring) yang diberi motif atau hiasan 

dan direka seperti kuda.

Kuda-kudaan itu yang tidak lebih berupa guntingan dari sebuah 

gambar kuda yang diberi tali melingkar dari kepala hingga ekornya 

seolah-olah ditunggangi para penari dengan cara mengikatkan talinya 

di bahu mereka. Dalam memainkan seni ini biasanya juga diiringi 

dengan alat musik Tradisional, yaitu kethuk, kempul, gong, demung, 

kendhang, ketipung, jidor dan kecer (Hadisutrisno, 2009).

Kebanyakan warga  yang berada di Dusun Sendang 

rata-rata merupakan warga  yang masih menganut Islam 

Kejawen, dimana mereka tidak menjalani kewajiban­kewajiban 

agama Islam secara utuh misalnya tidak melakukan Sholat dan 

puasa secara penuh (Kodiran, 1971). Pemahan orang Jawa Kejawen 

ditentukan oleh kepercayaan mereka pada berbagai macam roh-

roh yang tidak kelihatan. Eksistensi ruh dan kekuatan benda-benda 

ini  dipercayai dapat menolong dan dapat mencelakakan 

manusia (Ridwan, Suwito, Chakim, dan Supani, 2008). Mereka 

67Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

masih menggunakan acara-acara selamatan dengan menggunaka 

berbagai sesaji untuk menolong dan melndungi dari hal-hal yang 

bisa mencelakakan mereka.

Kerangka Kerja Teoritik

Pengertian Kebudayaan

Kata “kebudayaan” sama dengan kata “culture”. Kata “ke-

budayaan” berasal dari bahasa Sansekerta buddayah, yaitu bentuk 

jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau akal”. Sehingga ke-

budaya-an dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan 

dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya se-

bagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti 

“data dari budi”. sebab  itu mereka membedakan “budaya” dari 

“kebudayaan”. Demikianlah “budaya” yaitu  “daya dari budi” 

yang berupa cipta, karsa dan rasa itu. Dalam istilah Antropologi 

Budaya perbedaan itu ditiadakan. Kata “budaya” disini hanya 

dipakai sebagai suatu singkatan saja dari “kebudayaan” dalam arti 

yang sama (Koentjaraningrat, 1979)

Menurut Ralph Linton, kebudayaan yaitu  seluruh cara ke-

hidupan dari warga  yang manapun dan tidak hanya mengenai 

se bagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh warga  

dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Dalam arti cara hidup 

masya rakat itu kalau kebudayaan diterapkan pada cara hidup kita 

sendiri, maka tidak ada sangkut pautnya dengan main piano atau 

mem baca karya sastrawan yang terkenal.

Untuk seorang ahli ilmu sosial, kegiatan seperti main piano itu, 

merupakan elemen-elemen belaka dalam keseluruhan kebudayaan 

kita. Keseluruhan ini mencakup kegiatan­kegiatan duniawi seperti 

mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari 

kebudayaan. Hal ini sama derajanya dengan “hal-hal yang halus 

dalam kehidupan”. sebab  itu, bagi seorang ahli ilmu sosial tidak 

68 

ada warga  atau perorangan yang tidak berkebudayaan, 

bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia 

yaitu  makhluk berbudaya. Dalam arti mengambil bagian dalam 

sesuatu kebudayaan.

Kebudayaan yaitu  perjuangan manusia sebagai totalitas dalam 

menyempurnakan kondisi-kondisi hidupnya. Kebudayaan nasional 

bukanlah semata­mata ditandai oleh “watak nasional”, melainkan 

perjuangan nasional dari suatu bangsa sebagai totalitas dalam 

menyempurnakan kondisi-kondisi hidup nasionalnya. Predikat 

kebudayaan yaitu  perjuangan dengan membawa konsekuensi­

konsekuensi yang mutlak dari sektor-sektornya (Moeljanto dan 

Taufiq, 1995).

Kebudayaan yaitu  sarana hasil karya, rasa, dan cipta masya-

rakat (Soemardjan dan Soemardi, 2002). Menurut Andreas Eppink, 

kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma 

sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, 

religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual 

dan artistik yang menjadi ciri khas suatu warga .

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan ke­

seluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung penge-

tahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan 

ke mampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai 

anggota warga .

Tiga Wujud Kebudayaan

Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan memiliki tiga wujud. 

Pertama yaitu  wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tidak 

dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau 

dalam perkataan lain dalam alam pikiran warga warga  dimana 

kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide dan gagasan-gagasan 

manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu warga  dan 

memebrikan jiwa kepada warga  itu

69Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

Kedua, disebut sistem sosial atau sosial system. Mengenai 

tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri 

dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, 

berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke 

detik, dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun, selalu menurut 

pola-pola tertentu yang berdasar  adat pola kelakuan. Sebagai 

rangkaian aktifitas manusia­manusia dalam suatu warga , 

sistem sosial itu bersifat kongkrit, terjadi di sekeliling kita sehari-

hari, bisa diobservasi, difoto dan didokumentasi.

Ketiga, wujud yang ini disebut dengan  kebudayaan fisik, dan 

tak memerlukan banyak penjelasan. sebab  berupa seluruh total 

dari hasil fisik dari aktifitass, perbuatan dan karya semua manusia 

dalam warga , maka sifatnya paling konkret, dan berupa benda-

benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.

Ketiga wujud dari kebudayaan yang terurai diatas, dalam 

kehidupan kenyataan warga  tentu tak terpisah antara yang satu 

dengan yang lainnya. Kebudayaan ideal dan adat-istiadat mengatur 

dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Baik 

pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun tindakan dan karya manusia, 

menghasilkan kebudayaan­kebudayaan fisiknya. Sebaliknya, ke­

budayaan fisik membentuk satu lingkungan hidup tertentu yang 

makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiah-

nya sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan 

juga cara berfikirnya (Koentjaraningrat, 1979)

Pengertian Orang Jawa

Mengenai orang jawa banyak pengertan yang disandarkan ke­

padanya. Orang jawa yaitu  orang yang mendiami bagian tengah 

dan timur Pulau Jawa dan memakai bahasa Jawa sebagai bahasa 

ibu. Melalui pengertian ini, tentulah sangat mudah memahami 

pengertian Orang Jawa. Bisa dikatakan sedikit mengalami perluasan, 

sebab  penduduk yang memakai bahasa Jawa sebagai bahasa ibu 

70 

sangat banyak, meskipun secara geografis mereka tidak mendiami 

di batas yang telah ditentukan di atas (Widiyartono, 2009).

Secara etimologis, orang Jawa yaitu  orang yang berasal dari 

Njaba (luar), dalam hal ini njaba beteng (kraton). Jadi orang Jawa 

sebetulnya diberlakukan untuk orang-orang yang berdomosili di 

luar kraton atau rakyat biasa (Widiyartono, 2009).

Orang jawa dikelompokkan menjadi dua kriteria. Pertama 

berdasar  golongan sosial dan yang kedua berdasar  religi 

(agama). Pengelompokkan orang Jawa berdasar  golongan 

sosialnya dibagi lagi menjadi dua, yakni wong cilik atau orang kecil, 

yang terdiri dari para petani atau nereka atau orang-orang yang 

berpendapatan rendah, kemudian priyayi, yang terdiri dari pegawai, 

intelektual, dan kaum ningrat. Sedangkan kelompok orang Jawa 

berdasar  Agama, yakni golongan  kejawen dan santri.

Pertama, Jawa kejawen yang sering disebut dengan abangan 

yaitu  warga  yang dalam kesadaran dan cara hidupnya 

ditentukan oleh tradisi pra-islam. Kaum priyayi tradisional hampir 

seluruhnya dianggap sebagai jawa kejawen, walaupun mereka secara 

resmi mengaku  islam. Kedua, santri yang memahami sebagai islam 

atau orientasinya yang kuat terhadap agama islam dan berusaha 

untuk hidup menurut ajaran Islam (Koentjaraningrat, 1979).

Alam pikiran dan Pandangan Hidup Orang Jawa

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan yaitu  pusat alam semesta 

dan pusat segala kehidupan sebab  sebelumnya semuanya terjadi di 

dunia ini yaitu  Tuhan yang pertama kali ada. Pusat yang dimaksud 

disini dalam pengertian ini yaitu  yang dapat memberikan 

penghidupan, kesimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga mem-

beri kehidupan dan penghubung dengan dunia atas (Aulia, 2009). 

Konsep islam kejawen mengenai Tuhan Yang Maha Esa yang sangat 

mendalam ini dituangkan dalam istilah Gusti Allah Ingkang Maha 

Kuwaos (Ridwan, et. al., 2008) 

71Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

berdasar  kritria pemeluk agamanya, ada yang disebut Islam 

kejawen dan Islam Santri (Kodiran, 1971). Sebagian besar orang Jawa 

termasuk dalam golongan bukan muslim santri (Islam Kejawen) 

yaitu yang mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir Islam 

dengan pandangan asli mengenai alam kodrati dan alam adikodrati. 

Pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman 

hidup. Pandangan hidup yaitu  sebuah pengaturan mental dari 

pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu 

sikap terhadap hidup (Aulia, 2009).

Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia 

berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikro-

kosmos. Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa yaitu  sikap 

dan pandangan hidup terhadap alam semesta yang mengandung 

kekuatan supranatural dan penuh dengan hal-hal yang bersifat 

misterius. Sedangkan mikrokosmos dalam pikiran orang Jawa yaitu  

sikap dan pandangan hidup terhadap dunia nyata. Tujuan utama 

dalam hidup yaitu  mencari serta menciptakan keselarasan atau 

keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos. 

Dalam makrokosmos pusat alam semesta yaitu  Tuhan. Alam 

semesta memiliki hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang 

alam kehidupan orang Jawa dan adanya tingkatan dunia yang 

semakin sempurna (dunia atas­dunia manusia­dunia bawah). Alam 

semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu 

Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

Sikap dan pandangan tehadap dunia nyata (mikrokosmos) 

yaitu  tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, 

susunan manusia dalam warga , tata kehidupan manusia se-

hari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam meng-

hadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini ter-

gantung pada kekuatan batin dan jiwanya.

Bagi orang Jawa, pusat di dunia ada pada raja dan karaton, Tuhan 

yaitu  pusat makrokosmos sedangkan raja yaitu  perwujudan 

72 

Tuhan di dunia sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan 

berbagai kekuatan alam. Jadi raja yaitu  pusat komunitas di dunia 

seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari Tuhan dengan 

karaton sebagai kediaman raja. Karaton merupakan pusat keramat 

kerajaan dan bersemayamnya raja sebab  raja merupakan sumber 

kekuatan­kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah dan membawa 

ketentraman, keadilan dan kesuburan (Aulia, 2009).

Kegiatan Religius Orang Jawa Kejawen

Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen yaitu  Javanism, 

Javaneseness; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur­

unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan 

yang mendefinisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme 

yaitu agama beserta pandangan hidup orang. Javanisme yaitu 

agama besarta pandangan hidup orang Jawa yang menekankan 

ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nerima 

terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan 

individu di bawah warga  dan warga  dibawah semesta 

alam (Aulia, 2009 ).

Kemungkinan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha 

dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem 

khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran 

Javanisme yaitu  lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, 

mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik 

dan sebagainya dengan dasar antropologi Jawa tersendiri, atau 

suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan warga  

yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi, dan gaya Jawa. 

Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara 

umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang 

dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagimana adanya 

dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu kategori keagamaan, 

73Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidup yang 

diilhami oleh cara berpikir Javanisme.

Sebagian besar dari warga  Jawa yaitu  Jawa Kejawen atau 

Islam abangan, dalam hal ini mereka tidak menjalani kewajiban­

kewajiban agama Islam secara utuh misalnya tidak melakukan 

Sholat, puasa, tidak bercita-cita naik haji (Kodiran, 1971). Dasar 

pandangan mereka yaitu  pendapat bahwa tatanan alam dan 

warga  sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka 

menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah 

ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya jadi mereka 

harus menaggung kesulitan hidupnya dengan sabar. Anggapan-

anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan mereka 

pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang 

yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan 

dan rasa aman (Aulia, 2009)

Pemahan orang Jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan 

mereka pada pelbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan. 

Eksistensi ruh dan kekuatan benda-benda ini  dipercayai dapat 

menolong dan dapat mencelakakan manusia (Ridwan, et. al., 2008). 

Untuk melindungi semuanya itu, orang Jawa kejawen memberi 

sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-

kejadian yang tidak diinginkan dan mempertahankan batin dalam 

keadaan tenang. Sesajen yang dipakai  biasanya terdiri dari 

berbagai hidangan dan perlengkapan dalam upacara (Hadisutrisno, 

2009).

Contoh kegiatan religius dalam warga  Jawa, khususnya 

orang Jawa Kejawen yaitu  puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen 

memiliki  kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya 

senin-kamis atau pada hari lahir, semuanya itu merupakan asal 

mula dari tirakat. Keitka tirakat, orang dapat menjadi lebih kuat 

rohaninya dan kelak akan mendapat manfaat. Orang Jawa kejawen 

74 

menganggap bertapa yaitu  suatu hal yang cukup penting. Dalam 

kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabad­abad bertapa 

dianggap sebagai orang keramat sebab  dengan bertapa orang 

dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan disiplin tinggi 

serta mampu manahan hawa nafsu sehingga tujuan­tujuan yang 

penting dapat tercapai (Widiyartono, 2009).

Kegiatan orang Jawa kejawen yang lainnya yaitu  meditasi 

atau semedi. Meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-

sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat 

yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat, 

ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang 

melakukan meditasi yaitu  untuk mendekatkan atau menyatukan 

diri dengan Tuhan (Kadiran, 1971).

Spiritualitas Jawa

Situasi kehidupan “religius” warga  jawa sebelum 

datangnya Islam sangatlah heterogen (Ridwan, et.al. 2008). Sejak 

jaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu­Buddha), warga  

Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Telah disepakati di 

kalangan sejarawan bahwa, pada jaman jawa kuno, warga  

Jawa menganut kepercayaan animisme­dinamisme. Pada saat itu 

yang terjadi sebenarnya yaitu : warga  Jawa telah memiliki 

kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (gaib), 

besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat 

perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan 

gaib lain yang jahat atau roh-roh jahat (Aulia, 2009).

Hindu dan Buddha masuk ke pulau Jawa dengan membawa 

konsep baru tentang kekuatan-kekuatan gaib. Kerajaan-kerajaan 

yang berdiri memunculkan figur raja­raja yang dipercaya sebagai 

dewa atau titisan dewa. Maka berkembanglah budaya untuk patuh 

pada raja, sebab  raja diposisikan sebagai ‘imam’ yang berperan 

sebagai pembawa esensi kedewataan di dunia (Simuh, 1999). Selain 

75Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

itu berkembang pula sarana komunikasi langsung dengan Tuhan 

(Sang Pemilik Kekuatan), yaitu dengan laku spiritual khusus seperti 

semedi, tapa, dan pasa (berpuasa).

Jaman kerajaan Jawa­Islam membawa pengaruh besar pada 

warga , dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari 

Hindu­Buddha ke Islam. Anggapan bahwa raja yaitu  ‘Imam’ dan 

agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan beralihnya agama 

warga  sebab  beralihnya agama raja, disamping peran aktif 

para ulama masa itu. Para penyebar Islam (para wali dan guru­guru 

tarekat) memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf. Pandangan 

hidup warga  Jawa sebelumnya yang bersifat mistik (mysticism) 

dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islam­tasawuf sebagai 

keyakinan mereka.

Jaran Kepang (Kuda Lumping)

Jaran kepang atau yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai 

Kuda Lumping.  Kuda lumping yaitu  seni tari yang dimainkan 

dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman 

bambu atau kepang (Wikipedia, 2012). Kuda lumping merupakan 

pertunjukan kesenian tradisional yang menggunakan kekuatan 

magic dengan waditra utamanya berupa kuda-kudaan yang terbuat 

dari kulit kerbau atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak); 

atau terbuat dari anyaman bambu (Jawa: kepangan pring) yang diberi 

motif atau hiasan dan direka seperti kuda. Kuda-kudaan itu yang 

tidak lebih berupa guntingan dari sebuah gambar kuda yang diberi 

tali melingkar dari kepala hingga ekornya seolah-olah ditunggangi 

para penari dengan cara mengikatkan talinya di bahu mereka. Dalam 

memainkan seni ini biasanya juga diiringi dengan alat musik 

Tradisional, yaitu kethuk, kempul, gong, demung, kendhang, ketipung, 

jidor dan kecer (Hadisutrisno, 2009).

Tidak diketahui secara pasti mengenai asal-usul permainan 

ini, sebab  telah disebut oleh banyak daerah sebagai kekayaan 

76 

budayanya (Wikipedia, 2012). Hal ini terjadi sebab  si pencetusnya 

tidak mematenkan permainan ini sehingga bisa dimainkan oleh 

siapapun dan muncul banyak sekali versi cerita. Tetapi, diantara 

berbagai versi ini , pendapat yang paling sering muncul 

yaitu  bahwa kesenian jaran kepang ini berasal dari Ponorogo Jawa 

Timur. Di Jawa Timur seni ini akrab dengan warga  dibeberapa 

daerah misalnya Blitar, Malang, Nganjuk, Tulungagung dan banyak 

daerah-daerah lain. Jika dilihat dari model permainan ini, yang 

menggunakan kekuatan dan kedigdayaan, besar kemungkinan 

berasal dari daerah­daerah kerajaan di Jawa (Farabi, 2010).

Metode 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan 

metode wawancara dan observasi. Sesuai dengan sifat penelitian 

kualitatif yang terbuka dan luwes, teknik pengumpulan data dalam 

penelitian kualitatif sangat beragam disesuaikan dengan masalah, 

tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti. 

Hasil

Kesenian Jaran Kepang yang ada di dusun Sendang, merupakan 

bukan kesenian asli dari dusun Sendang itu sendiri dan merupakan 

sebuah kesenian yang berasal dari Ponorogo. sebab  merasa bahwa 

kesenian Jaran Kepang pertunjukan yang menarik, maka warga  

dusun Sendang mengambilnya sebagai sebuah kebudayaan untuk 

daerah Sendang sendiri. Walaupun banyak daerah yang menjadikan 

kesenian “kuda Lumping” sebagai kebudayaan, tetapi tiap daerah 

memiliki ciri khas tersendiri. Di daerah sendang “kuda lumping” 

merupakan kesenian yang tergolong agak ekstrim. sebab , 

kesenian di daerah ini hampir mirip dengan debus. Prosesnya pun 

terlihat jika dalam permainan pemain makan beling, dalam bahasa 

77Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

Indonesia beling yaitu  pecahan-pecahan kaca. Pemain makan 

arang. Mengupas kelapa dengan menggunakan gigi dan sebagainya 

(Wawancara, Subjek 2, 30 April 2012).

Tidak hanya terjadi di dusun Sendang, kesenian jaran kepang 

yaitu  kesenian yang tidak murni terjadi sebab  pemain sendiri. 

Kesenian ini ada campur tangan dari makhluk halus yang memasuki 

raga sang pemain. Istilahnya dalam bahasa Jawa yaitu  nyelang rogo 

atau pinjam raga. Maksudnya segala hal yang dilakukan pemain 

dalam permainan Jaran Kepang merupakan perbuatan dari makhluk 

halus yang nyelang rogonya pemain. Tetapi, berbeda dengan istilah 

“kesurupan”. Kesurupan terjadi sebab  kemauan sang makhluk 

halus ini  untuk memasuki jiwa orang yang diinginkannya. 

Dalam jaran kepang, makhluk halus itu masuk ke dalam raga sang 

pemain sebab  dipanggil atau memang sengaja diinginkan untuk 

masuk ke dalam tubuh pemain.

Jadi saat pemain terlihat memakan api, arang, kemenyan, 

beling dan lainnya itu bukanlah pemain yang melakukannya. Te-

tapi dilakukan oleh makhluk halus tadi yang memasuki raga para 

pemain. Saat dalam permainan Jaran kepang, pemain tidak me rasa-

kan sedang menari atau melakukan kegiatan apapun, yang dirasakan 

yaitu  saat selesai permainan. Pemain merasakan bahwa badannya 

terasa sangat capai, seperti selepas melakukan suatu pekerjaan berat 

(Wawancara, Subjek 4, 31 April 2012). Oleh sebab  itulah permainan 

Jaran Kepang diberi batasan waktu. sebab  pada meminjam raga 

manusia, pasti memiliki batasan­batasan kemampuan fisiknya 

(wawan cara, subjek 3, 30 April 2012).

Pertunjukan kesenian Jaran kepang ini lebih sering dilakukan 

pada waktu malam hari. Mulai sekitar pukul 19.00 yang mem­

pertunjukkan hanya tarian jaranan biasa. Untuk pertunjukkan 

debus (lebih menantang) biasanya dimulai pada pukul 21.00 ke atas. 

Untuk selesainya pukul  maksimal pukul 00.00 (menurut peraturan 

78 

di daerah ini ). Tetapi, jika memang masih diperlukan untuk 

me lanjut kan permainan, maka dilakukan ijin khusus kepada ke-

amanan di daerah ini .

Ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum 

pertunjukan Jaran Kepang dipentaskan. Terpenting yaitu  meminta 

ijin kepada danyang. Danyang yaitu  istilah dalam bahasa Jawa, 

yang memiliki makna penjaga. Dimana kepercayaan orang Jawa 

yaitu  tiap-tiap daerah itu ada penunggunya. Danyang merupakan 

penunggu di desa ini . Maknanya membinta izin kepada 

danyang yaitu  meminta do’a supaya pementasan pertunjukan ini 

bisa tuntas sampai akhir tanpa ada hambatan apapun.

Setiap daerah memiliki cara untuk meminta ijin sendiri-sendiri. 

Di dusun Sendang proses meminta ijin ini bisa dibilang cukup 

rumit. sebab  proses ijinnya tidak bisa dilakukan di dalam desa itu 

sendiri. Untuk dusun Sendang, meminta ijin ini kepada seseorang 

bernama Mbah Joko. Kepercayaan warga  sekitar, Mbah Joko 

inilah yang memangku desa Permanu (salah satu desa yang ada di 

Gunung Kawi, penduduk desa ini masih sangat kental memegang 

budaya jawa yang erat hubungannya dengan kepercayaan yang ada 

dalam agama Hindhu-Budha).

Mbah Joko juga merupakan penunggu Punden yang ada di 

Dusun Sendang. Mbah Joko juga ikut dalam permainan Jaran 

Kepang ini. Menurut gambuh atau pawang Jaran kepang ini, jika 

mbah Joko datang memiliki tanda-tanda tersendiri yang berbeda 

dengan tanda-tanda datangnya yang lain. Tanda-tanda Mbah Joko 

datang yaitu  meminta dapukan Barongan yang diikuti dupa ratus 

dan berjalan seperti ular. Ditambah lagi dengan rujak manis dan 

dawet

Setelah meminta ijin kepada danyang, hal yang perlu untuk 

dipenuhi yaitu  menyiapkan sesaji. Sesaji dalam istilah orang jawa 

merupakan persembahan. Isi dari sesaji ini  diantaranya yaitu  

pisang, beras, gula, bunga 3 jenis (yang terdiri dari locari, kanthil 

79Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

dan kenanga), rempah-rempah, garam, sirih tembakau, gambir, air 

fermentasi dari tape. Tumpeng kecil dan telur (wawancara, subjek 

3, 30 April 2012). Sesaji ini  ditata dengan rapi di atas nampan 

besar kemudian diletakkan di tempat pertunjukkan Jaran kepang 

itu digelar.

 Meminta ijin dan menyajikan sesaji yaitu  dua pokok penting 

yang harus dilakukan oleh ketua dari perkumpulan ini.untuk 

pemain, hanya menjalankan instruksi dari pelatih dan ketua. Tidak 

ada hal-hal khusus yang perlu dilakukan saat akan melakukan 

pertunjukkan. Hanya istirahat cukup sebelum pertunjukkan, sebab  

pertujukkan ini  memerlukan banyak energi (Wawancara, 

Subjek 1, 30 April 2012). 

Mengeluarkan makhluk halus dari tubuh pemain juga di-

perlukan sebuah prosesi khusus. Dalam kesenian yang ada di Dusun 

Sendang ini biasanya melakukan ritual yang pertama, membuat 

alas untuk membaringkan pemain yang akan disadarkan. Antara 

tikar yang baru, kain kawan, jarik, daun pisang muda, beberapa 

hal ini  ditumpuk urut. Kemudian ditaburi dengan minyak 

serimpi, dan di bagian kepala itu ditancapkan dupa. Setelah itu 

pemain dibaringkan, disitu ada azimat khusus yang dibaca (subjek 

3, 30 April 2012)

Diskusi

Kebudayaan yaitu  sarana hasil karya, rasa, dan cipta masya-

rakat (Soemardjan dan Soemardi, 2002). Kesenian Jaran Kepang 

yang ada di dusun Sendang, merupakan kesenian yang pada asalnya 

berasal dari Ponorogo dan warga  mengambilnya sebagai 

sebuah kebudayaan untuk dusun Sendang sendiri. Walaupun Jaran 

Kepang sebagai kebudayaan di daerah Sendang berasal dari daerah 

Ponorogo, tetapi kesenian ini memiliki ciri khusus dan berbeda dari 

daerah-daerah lain. Di dusun sendang jaran Kepang merupakan 

80 

kesenian yang tergolong agak ekstrim. sebab , kesenian di daerah 

ini hampir mirip dengan debus. Hal ini terbukti dengan pemain yang 

makan beling dan sebagainya. 

Rata-rata di tiap daerah yang memiliki kesenian “Jaran kepang” 

menyatakan bahwa kesenian ini ada campur tangan dari makhluk 

halus yang memasuki raga sang pemain. Banyak ahli kejawen 

yang memiliki pendapat yang sama bahwasanya di dalam dunia 

yang satu dan sama ini dihuni oleh beberapa macam kehidupan 

(Hadisutrisno, 2009). Istilahnya dalam bahasa Jawa yaitu  nyelang 

rogo atau pinjam raga. Maksudnya segala hal yang dilakukan 

pemain dalam permainan Jaran Kepang merupakan perbuatan 

dari makhluk halus yang nyelang rogonya pemain. Tetapi, berbeda 

dengan istilah kesurupan. Kesurupan terjadi sebab  kemauan 

sang “makhluk halus” ini  untuk memasuki jiwa orang yang 

diinginkannya.

Ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum 

pertunjukan Jaran Kepang dipentaskan. Yang paling penting 

yaitu  meminta ijin kepada danyang. Danyang yaitu  istilah dalam 

bahasa Jawa, yang memiliki makna penjaga (leluhur). Dalam tradisi 

orang kejawen, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan 

jika ia sudah meninggal maka disebutnya sebagai leluhur. Istilah 

leluhur selalu diaitkan dengan silsilah yang  bermuara kepada para 

pembuka tanah atau cikal bakal desa (Ridwan, et. al., 2008).

Setelah meminta ijin kepada “danyang”, hal yang perlu untuk 

dipenuhi yaitu  menyiapkan sesaji. Sesaji dalam istilah orang 

jawa merupakan persembahan. Sesaji biasanya berisi berbagai 

perlengkapan dalam upacara (Hadisutrisno, 2009). Isi dari sesaji 

ini  diantaranya yaitu  pisang, beras, gula, bunga 3 jenis (yang 

terdiri dari locari, kanthil dan kenanga), rempah-rempah, garam, 

sirih tembakau, gambir, air fermentasi dari tape. Sesaji ini  

ditata dengan rapi di atas nampan besar kemudian diletakkan di 

tempat pertunjukkan digelar.

81Kesenian Jaran Kepang ~ Ika

Mengeluarkan makhluk halus dari tubuh pemain juga 

diperlukan sebuah prosesi khusus. Dalam kesenian yang ada di 

Dusun Sendang ini biasanya melakukan ritual yang pertama, 

membuat alas untuk membaringkan pemain yang akan disadarkan. 

Antara tikar yang baru, kain kawan, jarik, daun pisang muda. 

Kemudian ditaburi dengan minyak serimpi, dan sebagai ritual 

terakhir di bagian kepala itu ditancapkan dupa. Hal ini merupakan 

sarana permohonan waktu orang mengucapkan do’a, kemenyan 

dibakar agar menimbulkan asap yang berbau harum. Kemenyan 

bagi orang jawa melambangkan perilaku transdental dan ibadah 

kepada Allah SWT yang wajib dipelihara dan dijaga (Hadisutrisno, 

2009). 

Kesimpulan

Kesenian “Jaran Kepang” pada dasarnya bukan merupakan 

kebudayaan dari warga  dusun Sendang sendiri. Menurut 

keterangan dari subyek, kesenian ini berasal dari daerah Ponorogo. 

kesenian ini berhubungan erat warga  Islam Kejawen, yang cara 

berfikir mereka masih berkaitan dengan agama yang ada sebelum 

Islam yaitu Hindu-Budha. warga  masih memegang erat 

tradisi yang ada dalam Hindu-Budha seperti selamatan, upacara 

keagamaan yang menggunakan sesaji. Hal itu bisa dilihat saat  

akan ada pertunjukan “Jaran Kepang” ini warga  mempercayai 

harus menyediakan sesaji, meminta ijin kepada leluhur. Kesenian 

ini masih mengakar dari warga  sendang, sebab  warga  

berusaha melestarikan kesenian ini dengan cara mengajarkan secara 

turun-temurun kepada generasi selanjutnya.

82 

83Eksistensi Permainan ... ~ Irham

ekSiSteNSi permaiNaN 

traDiSiONaL warga  

kOta maLaNG

Di teNGah GLOBaLiSaSi

Irham Thoriq

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail: irham_psy@yahoo.com

Mukadimah

Hidup yaitu  suatu permainan (Armytage Ware). 

Pada dasarnya kita hidup tidak ubahnya sebagai suatau 

permainan, hal inilah yang hendak dikatakan Armytage Ware dalam 

salah satu syairnya. Manusia senantiasa berperan sebagi konsumen 

permainan dimulai dari masa anak hingga dewasa. Semenjak masa 

anak, manusia sudah diperkenalkan permainan, baik permainan 

tradisional ataupun permainan modern.

Sebagaimana media sosial yang lain, permainan juga berupa 

entitas, maka diapun ada, eksis, meredup dan bahkan menghilang. 

Sebagaimana bentuknya, permainan memiliki aneka farian. 

beberapa permainan memiliki farina yang eksis lebih lama dan 

84 

beberapa yang lain punah dalam sekejap. Kepunahan permainan 

ini  disebabkan membanjirinya permainan yang baru dan 

mampu menjadi pemenang dalam menarik perhatian pengguna 

permaianan disbanding permainan klasik.

Melalui pengamatan terhadap realitas yang terjadi dikota 

Malang, penulis melihat adanya pergeseran permainan-permainan 

tradisional kepermainan yang lebih modern yang kerap dimainkan 

oleh anak-anak asli Malang.

Secara bahasa permainan tradisional yaitu  permainan yang 

diwariskan nenek moyang atau sesepuh yang berasal dari daerah 

ini , tidak datang dari luar. Permainan tradisional biasanya 

bersifat alami, dalam arti alat-alat yang dipakai  kebanyakan dari 

alam. Seperti bentengan, gobak sodor, sepak tekong, patil lele, engklek, 

egrang dan yang lain. Selain bersifat alami permainan tradisional 

tidak memiliki kesan mewah dan ramah lingkungan. 

Selanjutnya, permainan tradional di kota Malang ini  

semakin punah. Selain dunia yang terus berubah, permainan 

tradisional akan punah disebab kan semakin maraknya permainan 

modern. Permainan modern lebih bersifat western dan bersifat 

eksklusif. Dalam arti lain, bisa dinikmati oleh kalangan menengah 

atas dengan kompensasi ekonomi yang tinggi. sebab  permainan 

modern biasanya bersifat teknologi yang komersil.

Bentuk permaianan modern beraneka ragam, seperti halnya 

permainan yang bisa dilakukan di dalam rumah saja seperti 

Playstationn, atau permainan-permainan di computer, game online 

dan lain sebaginya. Selain itu, permainan modern juga sebagai 

pelengkap fasilitas yang diberikan di MALL dan super market. 

Seperti yang ada di Mall Malang Town Square atau biasa dikenal 

dengan nama MATOS kota Mal


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH