ang ini. Adapun jika permainan-
permainan modern ini akan dinikmati, maka pengguna harus
mengeluarkan uang yang cukup banyak.
85Eksistensi Permainan ... ~ Irham
saat bermain timezone misalnya, pengguna harus membeli
kartu yang telah disiapkan. Harga kartu itu bermacam-macam,
mulai dari nominal Rp. 15.000, Rp. 20.000 hingga ratusan ribu.
Inilah yang membedakan yang paling mencolok antara permainan
tradisional dengan modern, dan biaya ini yang akan memberikan
dampak budaya konsumtif dikalangan warga remaja dan
anak-anak.
Tentang dampak permainan modern terhadap budaya
konsumtif, budayawan Agus Sunyoto memberikan argumentasi
“Makanya orang modern itu kepalanya besar. Apalagi sejak kecil sudah
dikenalkan budaya konsumtif, kalau sudah begini apakah ia mampu
mengahadapi realitas hidup, ke depan sulit diajak mandiri tidak mau
kreatif,” katanya penuh heran.
Disisi lain, jika permainan tradisional diperhatikan lebih
cermat, hal ini memiliki banyak manfaat, banyak kalangan telah
menyetujuinya. ”Dalam permainan tradisional anak diajari membangun
rasio dan emosi. Lihat mereka (anak-anak kecil) membuat kuda, kalau tidak
pakai emosi bisa tidak pas dan tidak sesuai kedua kaki kuda yang terbuat
dari tanah liat itu,” kata budayawan asal Surabaya.
Mengingat masa kecilnya ia sering membuat kapal-kapalan
atau mobil-mobilan dari kulit Jeruk maupun gangsingan dengan
tangannya sendiri. Jika bermain sudah bosan dan mulai layu,
tinggal dibuang kulit Jeruk ini . ”itu akan kembali ke tanah. Ini
melambangkan bahwa permainan tradisional ramah lingkungan, dan daya
kreativitas maupun imagi mulai dibangun dan diasah sejak kecil, dan lebih-
lebih kreativitas mereka telah diasah di benak anak-anak,” kisah Mbah
Harryadjie BS.
Namun kebanyakan manfaat dari permainan tradisional ini
justru sekarang jarang sekali ditemukan warga di kota Malang.
Hal ini diungkapan Irawan M. Hum, dosen Antropologi
Universitas Negeri Malang, permainan tradisional mulai dilupakan
warga , disebabkan oleh beberapa hal: Pertama, tidak adanya
86
pengenalan warisan dari generasi lama untuk melestarikan warisan
itu. Disamping juga mulai bermunculan permainan baru yang lebih
efektif dan efisien. Kedua, Pengaruh dari luar seperti datangnya
permainan modern, dan yang terakhir tidak adanya lahan yang
memadai.
Senada dengan Irawan, sekjen Dewan Kesenian Malang
Anthony Wibowo menyayangkan perihal punahnya permainan
tradisional dengan berubahnya waktu. ”Saya prihatin, padahal yang
dibangun dalam permainan tradisional yaitu kerukunan, keguyuban,
dan kerja sama. Dan terlebih lagi yang lebih ditonjolkan yaitu asas
kekeluargaan,” kata pria bercucu tiga ini.
Kepunahan ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya
yaitu perhatian pemerintah yang kurang maksimal terhadap
permainan ini . Hal ini terbukti dengan sedikitnya ruang
yang bisa dijadikan lahan permainan tradisional. Tata letak kota
yang tidak mendukung permainan tradisional dan disebabkan
pula banyaknya industrialisasi dan globalisasi dikota malang.
Industrialisasi dan globalisasi ini terlambangkan banyaknya
pabrik dan Mall dikota Malang. Alasan-alasan inilah yang membuat
permainan tradisional semakin tidak memiliki tempat di kota
malang.
Punahnya permainan tradisional ini dapat disaksikan di
daerah Sumebersari Kecamatan Lowokwaru kota Malang. Melalui
pengamatan peneliti, jarang dan bahkan tidak ada anak-anak yang
mempermainkan permainan tradisional seperti gobak sodor, sepak
tekong, patil lele, dan petak kumpet. Mereka banyak bermain play
station dan game online.
Beberapa kecamatan lain dikota Malang juga mengalami hal
yang sama, jarang dan bahkan tidak ada anak-anak dan remaja
yang memainkan permainan tradisional, semuanya hanyut kedalam
globalisasi yang menjanjikan kegemerlapan dan kegelamoran.
87Eksistensi Permainan ... ~ Irham
Pengaruh globalisasi terhadap permainan ini dilambangkan dengan
banyaknya permainan modern yang sedikit demi sedikit menggeser
penggunaan permainan tradisional.
Latar belakang inilah yang membuat peneliti terlecut untuk
meneliti tentang Eksistensi Permainan Tradisional ditengah
Globalisasi di kota Malang. Hal ini menjadi penting dikarekan
Permainan Modern yang merupakan arus dari globalisasi tidak lagi
menjadi daya untuk membuat kreatifitas anak, dan justru membuat
anak menjadi hedonisme dan konsumerisme. Kekhawatiran
ini juga diungkapkan Agus Sunyoto “salah satu pengaruhnya
yaitu media massa, dan membanjirnya permainan-permainan modern
yang tidak membuat anak didik kurang kreatif dan ketergantungan. Lalu
apa yang diarapkan bangsa kalau anak bangsanya seperti ini”, cetusnya
sembari mengeluh.
Kajian Teori
Awal Mula Manusia Mengenal Permainan
Apa yang membedakan binatang atau hewan dengan manusia
cerdas (Homo Sapiens) dan manusia pekerja (Homo Faber)? Mengingat
hewan begitu juga manusia samasama bekerja untuk hidup
(servivel) dan selama bertahun-tahun telah tumbuh keyakinan,
keinginan berkembang untuk bermain. Tapi manusia berpikir untuk
melahirkan peradaban baru, dan semua negara memiliki peradaban
sendiri-sendiri, seperti halnya permainan. Sejarah permainan
sudah ada dan merupakan gejala yang menggakar dan tumbuh di
tengah-tengah warga . Permainan tidak saja menjangkiti anak-
anak saja tetapi orang dewasa juga akan merasakan kecanduan
untuk menikmati, oleh sebab itulah manusia juga disebut sebagai
manusia bermain (Hartono, 2004).
Piaget (Hartono 2004) pernah menyatakan bahwa sejak
lahir, dalam usia dua tahun, seorang anak sudah mulai bermain.
88
Permainan ini sudah nampak dalam gerakan-gerakan tubuh, kaki,
tangan, dan bagian tubuh lain untuk menyelidiki dunia sekitarnya
dan berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya, seperti dengan
ayah, ibu, dan pembantu.
Menurut Iswinarti, dosen Pascasarjana psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang, manusia sejak bayi sudah menggenal
permainan. Perkenalanya dengan permaianan berupa alat warna
warni yang digantung di atas kepala mereka saat di buaian. Pada
saat itulah bayi menggenal warnawarni untuk pertama kalinya.
Lalu permainan itu berbunyi jika diterpa angin. Untuk bebepapa
kali bunyi itu didenggar oleh anak, maka anak mulai mengenal
bunyi. Saat itu pula bayi mengeksplorasi diri dan merespon orang-
orang di sekelilingnya.
“Anak kecil sejak bayi sudah menggenal permainan, dimulai
dari warna dan bunyi. Permainan itu yaitu salah satu bentuk
ekspresi diri. Makanya anak kecil dikenalkan toys (permainan) yang
edukatif,” ujarnya sambil memberi pengarahan (wawancara. 2010).
Permaianan dalam Prespektif Psikologi
Beberapa ahli Psikologi berpendapat bahwa dalam permainan
tradisional sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa
anak (Boree, 2005). Anak-anak dilatih untuk bisa saling menghargai
bahwa setiap orang memiliki karakter dan nasib yang berbedabeda
pada waktu bermain. Sesama manusia harus hidup tolongmenolong
dengan bergotong-royong. Selain itu, pada setiap tahap permainan
ini anak-anak sudah melatih diri untuk bersikap ulet, jujur, setia
kawan, dan disiplin agar dapat mencapai apa yang dicitacitakan.
Permainan tradisional bisa mengasah kemampuan motorik
anak, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya (Boree,
2005). Selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan,
berkonsentrasi, dan melihat peluang dengan cepat untuk mengambil
keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan seperti dalam
89Eksistensi Permainan ... ~ Irham
permainan Bentengan. Kemudian permainan seperti dakon dapat
merangsang menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan
biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu, agar bisa
mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.
Melihat manfaat-manfaat ini , sebenarnya permainan
tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang.
Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari
permainan modern, juga untuk memacu anak lebih kreatif.
Bagi Piaget, hal ini yaitu periode sensori seorang anak, untuk
menerima dan menyesuaikan objek-objek yang bersentuhan dengan
mereka, sesuai waktu dan tempat. Mereka menggunakan segala
sarana permainan untuk menyatakan imajinasi, pikiran, perasaan,
dan fantasi mereka. Menginjak umur delapan tahun, simbol-simbol
permainan dan terutama kepercayaan mereka mulai dimodifikasi
lewat interaksinya dengan anakanak yang sudah lebih dewasa.
Disini juga sudah mulai terlihat benih pengendalian perasaan,
seperti marah, senang, gembira, kecewa, diam dan sepi (Boree,
2005).
Para remaja juga sangat membutuhkan permainan untuk
aktualisasi diri dan untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Mendekati usia remaja, terjadi perubahan fisik yang sekaligus
membawa kegoncangan dan perubahan psikologis yang besar. Hal
itu terjadi pada remaja pria maupun remaja wanita. Akibat dari
perubahan fisik (Majalah Inovasi, 2010).
Untuk menumbuhkembangkan perkembangan yang ideal
sesuai dengan pertumbuhan otak kanan dan otak kiri, anak
diajarkan sedini mungkin belajar berhitung dengan abacus dan
diperkenalkan permainan. “sebab bermain memiliki nilai manfaat
bagi pertumbuhan anak” kata Iswinarti penuh semanggat.
Masa anak-anak yaitu masa–masa bermain. Permainan juga
merupakan jembatan bagi anak dari belajar secara informal menjadi
formal, “Bermain yaitu proses belajar,” lanjut Iswinarti.
90
Menurut J. Huisinga, seorang ahli sejarah kebudayaan
dan pemikiran terkenal dalam bukunya Homo Ludens (manusia
bermain) memandang bahwa, bermain sebagai keistimewaan yang
membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya, sebab justru
menurutnya manusia yang bermain dalam arti sesungguhnya.
Hewan terkesan bermain, akan tetapi kesan itu terbentuk oleh arah
pandang yang antropomorfis, sebab segala kelakuan hewan yang
tampak sebagai gejala bermain pada hakikatnya merupakan latihan
persiapan untuk kemudian sanggup bertahan hidup (survival)
secara mandiri.
Menurut Fuad Hasan penggarang buku permainan yang
edukatif menyatakan, dunia hewan tidak pernah ada permainan
baru seperti gerak gerik juga beralih secara turun-temurun, baik
yang tampil sebagai kelihaian maupun yang tampak dilakukan
secara kolektif.
Bermain pada awalnya belum dapat perhatian besar dari para
ahli ilmu jiwa anak terutama terhadap perkembangan anak. sebab
ter batasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan. Salah
satu tokoh yang dianggap berjasa untuk meletakkan dasar bermain
yaitu seorang filsuf Yunani yang bernama Plato. Plato dianggap
orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai
praktis dari bermain. Menurut Plato, anak-anak akan lebih mudah
mem pelajari Aritmatika dengan cara membagikan apel kepada
anak-anak. Melalui pemberian alat permainan miniatur balok-balok
kepada anak usia tiga tahun pada akhirnya akan mengantar anak
ter sebut menjadi seorang ahli bangunan. Filsuf lain, Aristoteles ber-
pendapat bahwa anakanak perlu didorong untuk bermain dengan
apa yang akan mereka tekuni di masa depan nanti.
Dalam dunia pendidikan Frobel (abad 18 serta awal abad 19) lebih
menekankan pentingnya bermain dalam belajar sebab ber dasarkan
pengalamanya sebagai guru, dia dia menyadari bahwa ke giatan ber
main dan mainan yang dinikmati anak dapat dipakai untuk men-
91Eksistensi Permainan ... ~ Irham
arik perhatian serta mengembangkan pengetahuan mereka. Jadi
Plato, Aristoteles, Frobel menganggap bermain sebagai ke giatan yang
mem punyai nilai praktis. Artinya, bermain dipakai sebagai media
untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan ter tentu pada
anak. Sayangnya pada masa ini , teori psikologi per kembangan
anak belum memiliki sistematika yang teratur. Akibat nya, apa
yang dikemukankan oleh Frobel, bahwa bermain dapat meningkatkan
bakat, kapasitas serta pengetahuan anak sulit di buktikan.
Pertengahan sampai akhir abad 19 teori evolusi sedang ber-
kembang sehingga pembahasan teori bermain banyak dipengaruhi
oleh paham ini . Bermain berfungsi untuk memulihkan tenaga
se seorang setelah bekerja dan merasa jenuh. Sebelum perang dunia
per tama belum ada jawaban yang memuaskan kenapa terjadi ke
giatan bermain.
Ada beberapa tokoh yang dapat dikategorikan dalam teori
klasik. Mereka menjelaskan mengapa muncul perilaku bermain
serta apa tujuan bermain. Ellis (1999), menyebutkan sebagai armchair
theories sebab melalui riset eksperimental. Teori klasik mengenai
ber main dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu (1), Surplus
Energi dan Teori rekreasi, serta (2), teori rekapitulasi dan praktis.
Herbert spencer seorang filsuf Inggris di abad 19 mengajukan teori
suplus energi dalam bukunya Principles Of Psychology (1972), menge-
mukakan bahwa kegiatan bermain seperti berlari, melompat, ber
gulingan yang menjadi ciri khas kegiatan anak kecil maupun anak
binatang perlu dijelaskan secara berbeda.
Spencer berpendapat bahwa bermain terjadi akibat energi yang
ber lebihan dan hanya berlaku pada manusai serta binatang dengan
tingkat evolusi tinggi. Pada binatang yang memiliki tingkat
evolusi lebih rendah misalnya serangga, katak; energi tubuh lebih
di manfaatkan untuk mempertahankan hidup. Kelompok binatang
dengan tingkat evolusi rendah sangat terbatas sehingga harus
banyak menguras tenaga untuk mempertahankan hidup.
92
Energi berlebihan ini dapat diumpamakan sebagai sistem kerja
air atau gas yang akan menekan ke semua arah untuk mencari
penyaluran. Tekakan akan lebih kuat dan butuh penyaluran
yang lebih banyak bila volume air atau gas sudah melebihi daya
tampungnya. Pada masa ini , teori-teori surplus energi mem-
punyai pengaruh besar terhadap psikologi, namun teorinya di-
rasakan kurang tepat dan mendapat tantangan.
Sebagai contoh, anak biasanya akan cepat-cepat menyelesaikan
tugas kalau dijanjikan boleh bermain setelah tugasnya selesai. Bayi
yang sudah mengantuk seringkali tetap ingin bermain dengan
mainannya. Kedua contoh ini jelas tergambar bahwa bermain
me rupakan suatu insentif, bukan muncul akibat kelebihan energi.
Berlawanan dengan teori surplus energi, maka teori rekreasi
meng ajukan dalil bahwa tujuan bermain yaitu untuk memulihkan
energi yang sudah terkuras saat bekerja. Menurut penyair Jerman,
Moritz Lazarus, kegiatan bekerja menyebabkan berkurangnya
tenaga. Tenaga ini dapat dipulihkan kembali dengan cara tidur atau
me libatkan dalam kegiatan yang sangat berbeda dengan bekerja.
Ber main lawan dari bekerja dan merupakan cara yang ideal untuk
me mulihkan tenaga.
Abad 19, teori evolusi memiliki pengaruh besar tehadap
studi tentang anak. Apa yang dikemukakan Herbert Spencer di-
rasakan terlalu spekulatif tetapi pendapat Charles Darwin di dalam
bukunya Origin of Species, tidak dapat diabaikan begitu saja. Bahwa
manusia merupakan hasil evolusi dari makhluk yang lebih rendah
akhirnya merangsang dan mendorong minat para ilmuwan untuk
mem pelajari perkembangan manusia sejak bayi sampai menjadi
dewasa.
Stanley Hall, seorang professor psikologi dan paedagogi ber-
minat terhadap teori evolusi serta bidang pendidikan, dia juga
mem pelajari perkembangan anak. Menurutnya, bermain dari
teori rekapitulasi dan gagasannya yaitu sebagai berikut: “Anak
93Eksistensi Permainan ... ~ Irham
merupakan mata rantai evolusi dari binatang sampai sampai menjadi
manusia”. Artinya anak menjalankan semua tahapan evolusi, mulai
dari protozoa (hewan bersel satu) sampai menjadi janin. Sejak
konsepsi atau bertemunya sel telur dengan sperma sampai anak lahir,
melampaui beberapa tahap perkembangan yang serupa dengan
urutan perkembangan dari species ikan sampai menjadi species
manusia. Sehingga, perkembangan seseorang akan mengulangi
perkembangan tertentu sehingga penggalaman-pengalaman nenek
moyangnya akan tertampil di dalam kegiatan bermain pada anak
(dalam Miller, 1972 dan Johnson et al, 1999).
Teori rekapitulasi berhasil memberi penjelasan lebih rinci
mengenai tahapan kegiatan beramain yang mengikuti urutan
sama seperti evolusi makhluk hidup. Sebagai contoh, kesenangan
anak untuk bermain air dapat dikaitkan dengan kegiatan ‘nenek
moyang’, species ikan yang dapat kesenangan didalam air. Anak
berkeinginan untuk memanjat pohon dan berayun dari satu dahan
ke dahan lain (Psikologi perkembangan anak).
Bagi para pemuda dan pemudi, permainan dalam pertemuan
antarteman dan antarkelompok yaitu sarana komunikasi
sekaligus peningkatan relasi sosial antarkaum muda. Para pemuda
yang telah melewati masa krisis psikofisik, telah masuk dalam
tahap psikososial, di mana mereka berusaha untuk meningkatkan
relasi sosial horizontal antarsesama kaum muda sekaligus masih
terus menjaga relasi vertikal dengan orang tua, dan mereka yang
dituakan (Cavallaro, 2004).
Meskipun bagi orang dewasa permainan merupakan suatu
relaksasi dan semacam hiburan atau melepaskan ketegangan akibat
tantangan perjuangan hidup maka selayaknya ada perhatian dari
pemerintah untuk mengenalkan kepada generasi bangsa.
94
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif.
Peneliti menggunakan metode dimaksudkan untuk menarasikan
secara jelas keadaan dan dinamika permainan tradisional dimalang,
baik permainan tradisional maupun modern. Hal ini sesuai dengan
tujuan peneliti bahwa perlu mengetahui dampak dan keadaan
situasi permainan tradisional yang ada di kota Malang.
Selain ini kami menggunakan pendekatan kualitatif
fenomenologis. Pendekatan ini sangat cocok untuk mengobservasi
fenomena-fenomena yang terjadi tentang situasi keadaan permainan
tradisional. Pendekatan ini diharapkan menjadi pemaparan yang
jelas antara fonomena yang obserfebel dengan narasi yang peneliti
paparkan.
1. Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipakai peneliti, yakni
observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas dan struktur.
Peneliti menggunakan Fidelitas mengandung arti sejauh
mana bukti nyata dari lapangan disajikan dan penulis akan
menggunakan rekaman audio atau video yang akan memiliki
fidelitas tinggi dalam merekam fakta. Selain itu peneliti juga
menggunakan catatan lapangan meskipun memiliki fidelitas
kurang dibandingakan dengan dimensi rekaman.
Dimensi struktur juga akan peneliti gunakan untuk
menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan
secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut
jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur
perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan
cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi
dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.
95Eksistensi Permainan ... ~ Irham
2. Analisis Data
Membahas hasil penelitian, peneliti secara sistematis akan
melampirkan dan menganalisis transkriptranskrip wawancara,
catatan lapangan dan bahan- bahan lain agar peneliti dapat
menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan,
pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian
pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa
yang dilaporkan.
Dalam penelitian kualitatif ini, analisis data yang akan
dilakukan peneliti selama dan setelah pengumpulan data
tentang permainan tradisional dengan kaitannya permainan
modern. Teknik-teknik seperti analisis domain, analisis
taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam
hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik,
logika, etika, atau estetika yang terdapat dalam permainan
tradisional.
3. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di
daerah yang masih berkembang permainan tradisional di kota
malang. Seperti di kecamatan Sukun, Buring, Dau dan di Dinas
Pariwisata. Selain itu peneliti juga melakukan penelitian di
daerah yang terdapat permainan modern seperti di rental play
station, dan Mall yang menyediakan permainan modern.
Hasil Penelitian
Kota malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur,
di kota Malang modernisasi bergerak lambat namun pasti. Hal
ini mengakibatkan permainan modern berkembang pesat
dengan jenis-jenisnya yang makin variatif, sehingga permainan
tradisional kini semakin tersisih. Permainan modern memang
bisa dimainkan dimana saja dan kapan saja. Mulai dari anak-anak
96
sampai mereka individu dewasa juga kini asyik di depan layar TV,
kom puter, dan handphone (HP) untuk bermain game online dan time
zone yang berada di mall-mall besar. Bahkan di kota malang dalam
hasil pengamatan peneliti para penggemar permainan modern
harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk melengkapi aplikasi
game mereka. Hal ini tidak mengherankan sebab permainan
ini tidak memerlukan tempat khusus dan luas serta bisa dimainkan
sendiri.
Permainan modern saat ini menjadi idola baru bagi anak-anak
dan para remaja di kota Malang. Ironis, permainan modern yang se ba-
gian besar berasal bukan dari negara sendiri, justru semakin di gemari.
Padahal, permainan tradisional dapat menjadi identitas warisan
budaya bangsa ditengah keterpurukan kondisi bangsa saat ini.
Sebagai kota besar yang terus berkembang, Kota Malang
sekarang ini mengalami perubahan tidak hanya dari wajah ling
kungan sekitar dan wajahwajah baru warga yang menempati
rumah silih berganti namun juga jenis permainan yang dulu
popular dimainkan seperti bermain petak umpet, layang-layang,
gasing, egrang dan lain-lain. Semakin berkurangnya lahan untuk
ber main di Kota Malang menjadi titik awal minimnya anakanak
untuk memainkan permainan tradisional.
Lahan terbuka yang selama ini sebagai ruang publik telah
banyak tergusur. Padahal, permainan tradisional ini sama dengan
olah raga rekreasi yang membutuhkan lahan luas, bahkan sudah di-
atur dalam Undang-Undang olahraga Rekreasi. Tapi kalau lahan
yang ada sekarang ini sudah terasa sempit, tentunya memainkan
per mainan tradisional akan terbatas pula.
“Bagaimana mau melestarikan jika tidak tahu jenis-jenis per-
mainan tradisional bila pemerintah tidak menyediakan tempat”
Ucap Hartono, penggial permainan tradisional. Kenyataan ini men-
jadi suatu tamparan bagi generasi sekarang yang telah banyak ber-
ubah seiring berkembangnya teknologi modern.
97Eksistensi Permainan ... ~ Irham
Meskipun sudah hampir punah, namun masih ada yang
peduli dan melestarikan permainan tradisional. Banyak hal yang
di lakukan warga Malang Dalam rangka melestarikan permainan
tradisional. Permainan tradisional di jaman sekarang ini, terasa
menjadi hal sangat langka. Kondisi itulah yang mendorong Ikatan
Guru Taman Kanak-kanak (IGTKI) Kecamatan Buring, berjuang
untuk melestarikannya.
Salah satunya dengan menggelar lomba permainan tradisional
di Kantor Kecamatan Buring pada tanggal 23 oktober 2010. Tak
heran, terlihat banyak anak-anak bermain begitu ceria di halaman
Kantor Kecamatan buring Kota Malang ini. Mereka mengenakan
pakaian kebaya lengkap. saat memasuki lomba, anak-anak ini
tidak menggunakan Bahasa Indonesia, melainkan bercakap dengan
bahasa jawa.
Beberapa anak, terlihat bersembunyi di belakang temannya.
Sedangkan yang lain berusaha memburu. Dalam adegan lain,
mereka juga bernyanyi bersaman tentang nyanyian popular
dimasa lampau, Cublak-cublak Suweng. Itulah salah satu rangkaian
penampilan lomba. ‘’Kami mengharuskan mereka menggunakan
bahasa Ibu, yakni Bahasa Jawa. Bahasa daerah ini , kini juga jarang
dipakai oleh anak-anak, sebab itu harus tetap diperkenalkan’’ ungkap
Agus Sugiarta Sekretaris Panitia Lomba permainan tradisional
Kecamatan buring Kota Malang.
Menurutnya, permainan tradisional seperti itu, sekarang sudah
dimakan zaman hingga menjadi langka. Permainan tradisional ini
telah tergeser oleh permaianan computer, yang biasa disebut game.
‘’Kami tetap harus melestarikan permainan tradisional ini, sebab
merupakan sebagian dari budaya,’’ tambah guru TK Bina Putra 03
Bulukerto Kecamatan Buring ini.
Selain melestarikan budaya, pengenalan sosial, etika,
persahabatan dan kerjasama juga ada dipermaianan anak tradisonal.
Sedangan untuk game online atau permaianan komputerisasi lainya,
98
hanya mengembangkan individual. ’’Ada kerjasama, pertemanan,
hukuman dalam unsur permainan anak tradisional ini. Jadi
permaian anak tradisional mampu memberikan dasar kehidupan
dimasa mendatang,’’ tambah Agus yang menambahkan, bahwa
dunia anak yaitu dunia bermain. Pada permainan itulah anak
perlu melakukan pengenalan hidup dan kehidupan.
Jika permainan tradisional tetap terjaga tentunya bisa menjadi
daya tarik tersendiri bagi suatu daerah, seperti Desa Petungsewu
Kecamatan Dau, Malang. Desa ini menerapkan konsep ecotourism,
dimana semua kebudayaan tradisional desa ditampilkan mulai
dari permainan, tarian, hingga tradisi yang ada. Sebuah langkah
kongkret dalam melestarikan budaya tradisional. Dengan begitu,
kebudayaan tradisional tidak akan digilas zaman sebab dikemas
dalam pertunjukan kebudayaan dan pariwisata.
Tidak hanya itu permainan tradisional yang hampir punah di
Kota Malang ini juga dikhawatirkan oleh para mahasiswa. “kami
khawatir ditengah menjamurnya permainan modern ini permainan
tradisional semakin di tinggalkan” Ungkap Teguh mahasiswa
peternakan Universitas Brawijaya ini. sebab ke kahawatiran inilah
Universitas brawijaya juga mengadakan lomba yang di ikuti para
mahasiswa dalam rangka memperingati hari lahir kampus ini.
Lomba ini diselenggarakan pada 8 - 10 Februari 2010 di Lapangan
Rektorat UB. Banyak macam lomba permainan tradisional yang di
lombakan di antaranya lompat tali, benteng, teklek, peta umpet, dampu
dan masih banyak lomba-lomba yang lain.
Melalui pengamatan penaliti, di Kota Malang ini baik anak-anak
maupun remaja sudah mengalihkan jenis permaianan tradisional
kedalam permainan modern. Permainan modern sekarang tidak
hanya bisa dinikmati oleh para kelas menengah ke atas, namun bisa
juga dinikmati oleh mereka dengan kelas ekonomi menengah. Tidak
hanya itu permainan tradisional juga masuk kedalam pelosok gang-
gang yang meskipun tidak terlalu kota.
99Eksistensi Permainan ... ~ Irham
Memunahnya permainan tradisional ini juga ditanggapi
serius oleh budayawan kota Malang Agus Sinyoto “kalau perlu
permainan tradisional juga di jadikan permainan di sekolah-sekolah, sebab
permainan tradisional mengajarkan permainan group dan kreativitas”
ucap bapak berjenggot tebal ini .
Hal inilah yang menjadikan para penggiat budaya sedikit was
was dengan terancam punahnya permainan tradisional. “Semua
sekarang tertuju kepada permainan modern yang tidak mendidik itu”
ungkapnya dengan nada tinggi. Menurutnya pemerintah harus
menyediakan ruang terbuka hijau yang di dalamnya memuat
seluruh permainan tradisional yang ada.
Pembahasan dan Kesimpulan
Setelah hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan
peneliti di kota malang tentang permainan tradisional bahwa
permainan tradisional mengalami krisis di sebab kan banyanya
permaianan modern yang berkembang pesat di kota berkembang
ini. Permaianan dalam berkembangnya sedikit mengalami kesulitan
sebab tidak tersedianya ruang terbuka hijau. Dikota Malang praktis
hanya alun-alun kota yang merupakan ruang terbuka hijau, itupun
tidak di jadikan tempat sebagai permainan tradisional.
Meskipun banyak kegiatan seperti lomba tentang permainan
tradisional, namun permainan tradisional masih tidak digemari
oleh para anak-anak dan remaja. Selain tidak memiliki lahan
yang luas, mereka lebih memilih permainan modern yang praktis
meskipun secara teori sangat minim manfaat dalam rangka
meningkatkan kreatifitas anak.
Tidak hanya itu, permainan modern dengan Playstation,
gema on line dan yang lain juga masuk kedalam gang-gang dan
perkampungan keci di kota malang. Realitas ini menunjukkan
bahwa modernisasi telah masuk dengan pesat kedalam per
100
kampungan sekalipun yang dampak dari ini permainan
modern semakin ditinggal oleh para anak-anak dan remaja.
Seperti yang di katakana Agus Sunyoto, bahwa agenda men
desak yang harus di lakukan pemerintah yaitu menyediakan ruang
ter buka hijau yang di dalamnya terdapat semua tentang permainan
tradisional. Dengan adanya ruang terbuka ini , warga bisa
meng akses permainan tradisional yang semakin jauh ditinggalkan
oleh warga perkotaan.
Realitas yang terjadi ini dapat disimpulkan bahwa eksistensi
per mainan tradisional mengalami penurunan dan terancam dengan
tidak adanya ruang terbuka hijau dan dengan adanya arus globa-
lisasi yang semakin masuk kedalam alam bawah sadar para anak
anak dan remaja. Permainan modern telah menjadi permainan yang
sangat dibutuhkan oleh para anak-anak dan remaja sebab selain
simple dan juga permainan modern bisa di akses oleh siapaun baik
kelas atas, menengah dan bahkan bawah.
101Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
perpaDuaN aNtara Suku
aceh DaN paDaNG
(StuDi kaSuS Di DeSa paSar Baru kecamataN
BLaNG piDie, kaBupateN aceh Barat DaYa)
Isma Junida
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: Isma.junida@yahoo.co.id
Mukadimah
Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu daerah
yang diberi keistimewaan oleh pemerintah Indonesia terhadap
kebudayaan dan pelaksanaan syariat Islam. Pengakuan Negara
atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir
diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62, TLN 4633). UU Pemerintahan
Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of
Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka
yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan
suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan
sosial, ekonomi, serta politik di Aceh secara berkelanjutan.
Beranekaragaman kebudayaan, tradisi dan adat istiadat yang
terdapat di Aceh sangatlah menarik jika dipelajari lebih lanjut. Blang
Pidie yang merupakan salah satu kecamatan dari kabupaten Aceh
102
Barat Daya (ABDYA) memiliki keunuikan yang khusus dari asal
muasal suku yang berkembang di dalamnya. Bahkan, jika diteliti
secara keseluruhan daerah ini memiliki keunikan dari percampuran
dua suku yang sangat berbeda dari substansi serta asal bentuknya.
Suku Aceh yang bertempat tinggal di kecamatan ini
merupakan suku asli daerah ini . Suku ini memiliki tradisi
serta adat istiadat yang khusus yang telah lama dikembangkan
oleh nenek moyang mereka. Adapun suku Minangkabau sebagai
suku pendatang dari Padang merupakan suku yang juga memiliki
kebudayaan khusus yang membedakan suku mereka dengan
lainnya.
Namun, perpindahan penduduk yang disebabkan adanya
peperangan yang terjadi pada waktu silam serta migrasi yang
dilakukan suku Minangkabau untuk mengadu nasib di Aceh,
membuat mereka menetap di daerah Aceh. Perkembangannya,
kedua suku ini akrab disebut dengan Suku Jamee.
Kerangka Kerja Teoritik
Interaksi Sosial
Secara garis besar, interaksi sosial dapat didefenisikan sebagai
sebuah hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan
antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan
kelompok.
Adapun syarat-syarat terjadinya sebuah interaksi sosial yaitu
sebagai berikut (Soekanto, 2006):
1. Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung
dalam tiga bentuk, yaitu antarindividu, antarindividu dengan
kelompok, antarkelompok yang dapat bersifat langsung dan
tidak langsung.
2. Adanya komunikasi, dimana seseorang memberi arti pada
sebuah perilaku orang lain, dan orang yang bersangkutan
103Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
memberi respon dari penyampaian yang telah dilakukan oleh
orang ini .
Menurut Gilin dan Gillin (dalam Soekanto, 2006), pelaksanaan
sebuah interaksi sosial dapat berbentuk kerja sama (cooperation),
persaingan (competition), akomodasi (acomodation), dan juga dapat
berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict).
Setiap interaksi senantiasa di dalamnya mengimplikasikan
adanya komunikasi antar pribadi. Demikian pola sebaliknya, setiap
komunikasi pribadi senantiasa mengandung interaksi. Sulit untuk
memisahkan antara keduanya, atas dasar itu, Shaw (Ali, 2005)
membedakan interaksi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Interaksi verbal terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan
suatu kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat
arti kulasi, prosesnya terjadi dalam bentuk tukar percakapan
satu sama lain.
2. Interaksi fisik terjadi manakala dua orang atau lebih melakukan
kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa tubuh. Misalnya
ekspresi wajah, posisi tubuh, gerakgerak tubuh dan kontak
mata.
3. Interaksi emosional terjadi manakala melakukan kontak satu
sama lain dengan menggunakan curahan perasaan, misalnya
menge luarkan air mata sebagai tanda sedih, haru, atau bahkan
terlalu bahagia.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial
merupakan kunci utama dari semua kehidupan sosial sebab tanpa
adanya interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama
dan terbentuknya sebuah warga .
warga
warga sebagai unsur berdirinya sebuah kebudayaan,
dalam perkembangan sangat berperan penting dalam meningkatkan
104
dan mengembangkan sebuah kebudayaan, sehingga kebudayaan
ini menjadi sebuah peradaban yang maju dan dikenal
diseluruh penjuru dunia. warga merupakan sebuah istilah
dalam bahasa inggris disebut society (berasal dari bahasa Latin
socius, yang berarti “kawan”) yang sangat lazim dipakai dalam
tulisan-tulisan ilmiah dan bahasa sehari-hari. Dalam arti lain, kata
warga sendiri berasal dari bahasa Arab syaraka, yang artinya
ikut serta, atau berperanserta” (Koentjaraninggrat, 1966).
Sedangkan istilah community dapat diterjemahkan sebagai
“warga setempat”, kata ini menunjuk pada warga sebuah
desa, kota, suku, atau bangsa. Dengan demikian, kriteria yang
utama bagi adanya suatu warga setempat yaitu adanya social
relationship antara anggota suatu kelompok. Jadi, dapat disimpulkan
secara singkat bahwa warga setempat yaitu suatu wilayah
kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial
yang tertentu (Soekanto, 2006).
Secara garis besar, warga setempat berfungsi sebagai
ukuran untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan
hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Empat
kriteria untuk klasifikasi warga , yaitu: (Maclver dan Charles
dalam Soekanto, 2006):
1. Jumlah penduduk.
2. Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk daerah pedalaman.
3. Fungsi-fungsi khusus dari warga setempat terhadap
seluruh warga .
4. Organisasi warga setempat yang bersangkutan.
Jadi, sebuah warga dapat diartikan sebagai sejumlah
penduduk yang mendiami sebuah daerah yang memiliki hubungan-
hubungan khusus dan saling berinteraksi dalam warga
ini .
105Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
Kajian Tentang Kebudayaan
Kebudayaan sangatlah dekat dengan kehidupan kita,
kebudayaan merupakan hasil dari imajinasi warga yang
dituangkan dalam bentuk paling indah. Dua orang antropolog
terkemuka, yaitu Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski
(Brentano’s dalam Soerjono Soekanto, 2006), mengemukakan bahwa
Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam
warga ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
warga itu.
Kata “kebudayaan” berasal dari kata (bahasa Sansekerta)
buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang
berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang
bersangkutan dengan budi atau akal”. Bila dinyatakan secara lebih
sederhana, kebudayaan yaitu segala sesuatu yang dipelajari dan
dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu warga .
Seorang antropolog C. Kluckhkohn (Soekanto, 2006) di dalam
se buah karyanya Universal Categories of Culture menyebutkan tujuh
unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universalis, yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi.
3. Sistem kewarga an.
4. Bahasa.
5. Kesenian
6. Sistem pengetahuan
7. Religi
Kebudayaan dan warga
Definisi klasik kebudayaan yang disusun oleh Sir Edward
Tylor (dalam Horton dan Hunt, 1984) menyebutkan “Kebudayaan
yaitu kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan,
106
kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan
kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota
masayarakat.” Bila dinyatakan secara lebih sederhana, kebudayaan
yaitu segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara
sosial oleh para anggota suatu warga .
Kebudayaan sendiri dapat dibagi ke dalam kebudayaan materi
dan nonmateri. Kebudayaan nonmateri terdiri dari kata-kata
yang dipakai orang, hasil pemikiran, adat istiadat, keyakinan
yang mereka anut, dan kebiasaan yang mereka ikuti. Sedangkan
kebudayaan materi yaitu kebudayaan yang terdiri dari benda-
benda hasil pabrik. Sedangkan warga yaitu suatu organisasi
manusia yang saling berhubungan satu sama lain. Batas-batas
kedua konsep warga dan kebudayaan, tidaklah begitu tegas
(Horton dan Hunt, 1984).
Komunikasi Bahasa dan Komunikasi Simbolik
Beberapa buku dan artikel majalah yang sangat populer telah
menciptakan istilah “bahasa tubuh” untuk perubahan arti yang
diperagakan melalui gerak isyarat dan sikap tubuh (Schelflen, 1973).
Lebih lanjut, meskipun “bahasa tubuh” mungkin merupakan suatu
bentuk komunikasi, itu bukanlah bahasa yang sebenarnya, sebab
bahasa terbatas pada komunikasi simbol.
Kebudayaan sebagai Sistem Norma
Sering kita jumpai bahwa kebudayaan menyangkut aturan
yang harus diikuti, kita mengatakan bahwa kebudayaan bersifat
normatif, dengan kata lain kita mengatakan bahwa kebudayaan
menentukan standar perilaku. Suatu norma budaya yaitu suatu
konsep yang diharapkan ada. Kadang-kadang norma statitis
dianggap sebagai kebudayaan yang “nyata” dan norma kebudayaan
sebagai kebudayaan yang “ideal”. Norma statitis yaitu suatu
ukuran dari perilaku yang sebenarnya, disetujui atau tidak.
107Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
Kebudayaan yaitu suatu sistem norma-norma semacam itu
yang rumit cara-cara merasa dan bertindak yang diharapkan yang
distandardisasi yang dikenal dan diikuti secara umum oleh para
anggota warga . Adapun unsur-unsur kebudayaan itu sendiri
yaitu :
1. Kebiasaan
Kebiasaan (folkways) hanyalah suatu cara yang lazim
yang wajar dan diulangulang dalam melakukan sesuatu oleh
sekelompok orang.
2. Tata kelakuan
Tata kelakuan yaitu gagasan yang kuat mengenai salah
dan yang menuntut tindakan tertentu dari melarang yang lain
(Mores yaitu bentuk jamak dari kata Latin mos, tetapi bentuk
tunggalnya jarang muncul dalam literatur sosiologi).
3. Lembaga
Suatu lembaga yaitu sistem hubungan sosial yang
terorganisasi yang mewujudkan nilainilai dan tata cara umum
tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar warga tertentu.
4. Hukum
Suatu hukum berfungsi untuk memperkuat tata
kelakuan.
5. Nilai
Nilai yaitu gagasan mengenai apakah pengalaman berarti
atau tidak berarti.
Struktur Kebudayaan
Struktur kebudayaan bukanlah hanya akumulasi dari kebiasaan
(folkways) dan tata kelakuan (mores), tetapi suatu sistem perilaku yang
terorganisasi. Hal-hal ini mencakup (Horton dan Hunt, 1984):
108
a. Kebudayaan Khusus (Subcultures) dan Kebudayaan Tandingan
(Counterculture)
Kebudayaan Khusus merupakan pola perilaku yang di
satu pihak berkaitan dengan kebudayaan umum warga
ini , tetapi di pihak lain sangat berbeda dengan pihak
lain. Adapun kebudayaan Tandingan (Counterculture) yaitu
kebudayaan khusus yang berlawanan dengan kebudayaan
induk.
b. Perpaduan Kebudayaan
Sejogjanya, kebudayaan yaitu sistem yang terpadu,
di mana setiap unsur cocok dengan unsur kebudayaan yang
lain. Namun, para teoritis mengatakan bahwa dalam suatu
kebudayaan terpadu yang tenang juga sering ditemukan
pertentangan-pertentangan kelas dan ketidakadilan yang
mengintai.
c. Relativisme Kebudayaan
Relativisme suatu kebudayaan merupakan fungsi dan
arti dari suatu unsur yang merupakan hubungan dengan
lingkungan atau keadaan kebudayaannya. Dalam konsep
relativisme, suatu kebudayaan tidak berarti bahwa semua adat
istiadat memiliki nilai yang sama dan juga tidak mengetahui
bahwa kebiasaan tertentu pasti merugikan.
Kebudayaan Real dan Kebudayaan Ideal
Suatu kebudayaan dikatakan ideal apabila kebudayaan ter-
sebut mencakup tata kelakuan dan kebiasaan yang secara formal
disetujui yang diharapkan diikuti oleh banyak orang (norma-norma
budaya); sedangkan suatu kebudayaan real yaitu kebudayaan
yang mencakup hal-hal yang betul-betul dilaksanakan oleh suatu
warga yang memiliki kebudayaan ini .
109Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
Etnosentrisme
Dalam suatu kebudayaan sering dijumpai etnosentrisme,
dimana kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan
kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik. Levine dan
Campbell (Horton dan Hunt, 1984) menyusun 23 segi “sindroma
etnosentrisme universal”, dimana etnosentrisme merupakan suatu
tanggapan manusiawi yang universal, yang ditemukan dalam
seluruh warga yang dikenal, dalam semua kelompok dan
praktisnya dalam seluruh individu.
Sejalan dengan perkembangannya, etnosentrisme memberikan
pengaruh terhadap pengukuhan nasionalisme dan patriotisme.
Tanpa etnosentrisme, kesadaran nasionl maupun etnik yang penuh
semangat tidak mungkin akan terjadi. Namun, dalam situasi-
situasi tertentu, etnosentrisme dapat meningkatkan kestabilan ke-
budayaan dan kelangsungan hidup kelompok; dalam situasi lain,
etnosentrisme dapat meruntuhkan kebudayaan dan memusnahkan
kelompok.
Xenosentrisme
Shil dan Wilson (Kottak, 2005) mengatakan xenosentrisme
yaitu suatu pandangan yang lebih menyukai hal-hal yang
berbau asing, kebalikan dari etnosentrisme. Faham ini didasar kan
pada daya tarik yang asing dan yang jauh serta yang di bawa dari
pusat kebudayaan yang jauh, yang dianggap jauh dari batas-batas
lingkungan warga sendiri yang kotor.
Gerak Kebudayaan
Manusia dalam perkembangannya selalu mengalami perubahan
dalam berbagai bidang. Suatu kebudayaan manusia juga melakukan
gerak di dalam suatu warga yang menjadi wadah pada ke
budayaan ini , hal ini disebut dengan gerak kebudayaan. Dalam
suatu gerak kebudayaan kita mengenal istilah asimilasi dan akulturasi.
110
a. Asimilasi
Asimilasi merupakan sebuah proses-proses sosial yang
ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-
perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau
kelompok-kelompok manusia serta usaha-usaha untuk
mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental
dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-
tujuan bersama (Soekanto, 2006). Proses asimilasi ini akan
timbul apabila, yaitu:
1. Kelompokkelompok manusia yang berbeda ke budayaan nya;
2. Orangperorangan sebagai warga kelompok tadi saling
bergaul secara langsung dan intesif untuk waktu yang lama
sehingga;
3. Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia
ini masing-masing berubah dan saling me nye suaikan
diri.
Suatu proses asimilasi bisa terjadi apabila terdapat faktor-
faktor pendukung, namun bisa saja tidak terjadi apabila dalam
proses ini terdapat faktor-faktor penghambat asimilasi.
Adapun faktor-faktor yang mendukung asimilasi, yaitu:
1. Toleransi.
2. Kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang.
3. Mengharagai kebudayaan lain.
4. Terbuka.
5. Terdapat persamaan unsur kebudayaan.
6. Adanya perwakilan campuran dan musuh bersama di
luar.
Namun, tidak jarang juga asimilasi ini tidak akan
terjadi apabila terdapat faktor-faktor penghambat, yaitu:
1. Terdapat kehidupan yang terisolasi.
111Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
2. Kurangnya pengetahuan terhadap budaya lainnya.
3. Adanya perasaan takut terhadap budaya lain.
4. Adanya perbedaan ciri fisik dan in-Group feeling yang kuat.
5. Adanya perbedaan kepentingan.
b. Akulturasi
Koentjaraninggrat (dalam Soekanto, 2006) menyebutkan
bahwa akulturasi merupakan sebuah proses yang terjadi
apa bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan
asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing ini dengan lambat laun diterima dan
diolah ke dalam kebudayaan sendiri.
Proses akulturasi dan asimilasi yang berjalan dengan baik
dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan
asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri dengan unsur
kebudayaan sendiri, namun apabila tidak berjalan dengan
baik akan menimbulkan berbagai masalah yang menyebabkan
terjadinya perpecahan pada kehidupan sosial berwarga .
Metode
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
femenologi dengan teknik pengumpulan data dengan observasi dan
wawancara. Pendekatan dengan femenologi berusaha memahami
arti peristiwa dan kaitankaitannya terhadap obyek penelitian yaitu
warga kecamatan Blang Pidie dalam situasi dan realitas kebudayaan.
Obyek penelitian dalam observasi ini mencakup tiga komponen
yaitu kecamatan Blang Pidie (place), warga setempat (actor),
dan perpaduan kebudayaan (aktivitas).
Wawancara yang dipakai yaitu wawancara semiterstruktur
(semistructure interview) yaitu teknik pelaksanaan wawancara lebih
bebas sehingga menemukan permasalahan lebih terbuka, dimana
pihak yang diajak wawancara dalam penelitian ini yaitu warga
kecamatan Blang Pidie dan Kepala Lorong desa Pasar Baru diminta
pendapat dan ide-ide mereka tentang realitas kebudayaan yang
terjadi
Hasil dan Diskusi
Pola Interaksi Sosial
Kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA) merupakan kabupaten
administratif yang otonom sejak tanggal 10 April 2002 melalui
Undang-Undang Nomor 4 tahun 2002 (Wilkipedia, Indonesia).
Sebelumnya kecamatan ini bergabung dengan kabupaten Aceh
Selatan dengan ibu kota kabupaten Tapaktuan. Dilihat dari sudut
pandang geografis, kota ini terletak digugusan pegunungan Bukit
Barisan dan berhadapan dengan Samudera Hindia, kabupaten ini
berbatasan dengan Gayo Luwes arah timur dan utara, Aceh Selatan
dan Samudera Hindia di selatan dan Nagan Raya dari arah barat.
Kabupaten ini terdiri dari 9 kecamatan dan 29 kelurahan.
Adapun kecamatan yang terdapat pada kabupaten Aceh
Barat Daya yaitu kecamatan Babah Rot (1 mukim, dan 7 desa/
kelurahan), Blang Pidie (1 mukim, dan 29 desa/kelurahan), Jeumpa
(4 mukim, dan 10 desa/kelurahan), Kuala Batee (3 mukim, dan 18
desa/kelurahan), Lembah Sabil (3 mukim, dan 12 desa/kelurahan),
Manggeng (1 mukim, dan 29 desa/kelurahan), Setia (2 mukim, dan 6
desa/kelurahan), Susoh (4 mukim, dan 28 desa/kelurahan), Tangan-
Tangan (1 mukim, 21 desa/kelurahan) (Ensiklopedia Aceh, 2005).
berdasar hasil survei Master Wilayah Skema 456 Kabu-
pa ten /Kota (Keadaan Desember 2007), wilayah daerah Blang Pidie
tercatat seluas 893,01 Km yang terdiri dari 29 kelurahan, diantaranya
yaitu Pasar Blang Pidie, Geulumpang Payong, Keude siblah dan
Meudang Ara. Pasar Blang Pidie atau lebih akrab disebut dengan
Pasar Baru merupakan bagian dari wilayah kecamatan Blang Pidie.
Adapun jumlah penduduk yang bermukim pada daerah ini
113Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
lebih kurang sekitar 1000 orang, dan penduduk yang bermukim
di daerah sekitar didominasi oleh para pendatang khususnya
penduduk dari Sumatera Barat, Padang (Wawancara 1, 24 April
2012).
Kecamatan ini didominasi oleh dua suku yaitu suku Aceh dan
suku Padang (Minangkabau). Kedua suku ini memiliki bahasa
yang berbeda antara satu dengan lainnya sehingga sulit untuk
terwujudnya sebuah interaksi sosial. Sebuah komunikasi tidak akan
bisa terjadi, sebab pada sebuah perilaku orang lain, orang yang
bersangkutan tidak memberi respon dari penyampaian yang telah
dilakukan oleh orang ini , disebab kan perbedaan bahasa yang
sulit dimengerti antar kedua suku ini .
Jika ditelusuri dari sejarah, saat berlangsungnya perang
paderi, para pejuang paderi mulai terjepit oleh serangan kolonial
Belanda. Minangkabau pada saat itu yaitu bagian dari kerajaan
Aceh mengirim bantuan balatentara. saat keadaan makin kritis
rakyat terpaksa di eksoduskan, pada saat itu mulailah Rakyat
Minangkabau bertebaran di pantai Barat Selatan Aceh. Aneuk Jamee
di Aceh Barat Daya, menempati di daerah-daerah pesisir yang dekat
dengan laut. Kemungkinan besar yang bisa disimpulkan bahwa
jalur perpindahan nenek moyang dulu yaitu dari jalur ini, yang
sebagian besar dari mereka dulu hidup dari berkebun dan melaut.
berdasar pendapat Gilin dan Gillin (dalam Soekanto,
2006) yang menyebutkan bahwa sebuah interaksi akan terbentuk
salah satunya dengan adanya akomodasi pada sebuah warga .
Menurut Gilin dan Gillin sebuah akomodasi merupakan sebuah
adaptasi yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu untuk
menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitar. Dalam hal ini, kedua
suku yang terdapat pada kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA)
melakukan sebuah akomodasi dalam menentukan bahasa yang
dipakai dalam interaksi sehari-hari. Sehingga pada akhirnya
bahasa padang tetap dipakai dengan berasimilasi dengan bahasa
Aceh yang kemudian menjadi bahasa “Jamee”.
Tidak terdapat perubahan yang besar pada bahasa ini ,
hanya beberapa konsonan dan vokal yang sedikit diubah untuk
menyesuaikan dengan bahasa Aceh. Bahasa Jamee sendiri tersebar
luas hampir diseluruh daerah Blang Pidie diantaranya: Susoh (Jamee
murni), Pasar Baru (Jamee murni), Manggeng (Jamee plural). Pada
daerah tertentu seperti Aceh Barat, bahasa Jamee hanya dituturkan
dikalangan orangtua saja, namun pada daerah Blang Pidie bahasa
ini kerap dipakai sebagai bahasa komunikasi sehari-hari (lingua
Frana).
Komunitas Aneuk Jamee tidak terkonsentrasi pada tempat
tertentu, melainkan menyebar, misalnya dalam suatu kecamatan
tidak semuanya didomisili oleh suku aneuk jamee saja, namun
bercampur dengan Aceh. Perbedaan desa sajalah yang hanya
membedakan komunitas ini . Namun, di desa itu dapat juga
kita jumpai orang berbicara dua bahasa, Aceh dan jamee/minang.
Hal ini disebabkan sebab adanya hubungan famili yang berbahasa
aceh di desa lain.
Pada objek penelitian, penulis menemukan bahwa dari beberapa
komunitas aneuk jamee itu tidak bisa berbahasa aceh, hal ini
berkaitan dengan komunitas dan pergaulan komunitas tempat
tinggalnya. Seperti halnya Pasar Baru, rata-rata penduduknya
memang tidak bisa berbahasa aceh secara baik dan benar,
disebab kan komunitas di kota itu bahasa pergaulannya yaitu
bahasa jamee itu sendiri. Dominan penduduk yang berdomisili
pada daerah ini berasal dari Padang, Sumatera Barat.
berdasar potensi wilayah, kabupaten ABDYA khususnya
kelurahan Pasar Baru memiliki wilayah yang sangat gersang dan tidak
memiliki potensi di bidang pertanian, perairan, dan pertambangan.
Mayoritas mata pencaharian penduduk disini yaitu berdagang.
Sehingga dalam syair Aceh daerah ini sangat populer dengan “nafsu
115Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
minta peng jak ue Blang Pidie” (Syair Rafli “Kisah Gampong Loen).
Banyak dari suku pendatang (Minangkabau) mengadu nasib mereka
dengan berdagang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Organisasi dan lembaga di setiap daerah tentu berbeda,
Blang Pidie memiliki sebutan khusus untuk menyebut organisasi
dan lembaga pada daerahnya. Setiap kecamatan yang terdapat di
Blang Pidie dibagi atas Mukim. Mukim yaitu kesatuan warga
hukum di bawah kecamatan yang terdiri atas gabungan beberapa
Gampong yang memiliki batas wilayah tertentu yang dipimpin
oleh Imeum Mukim atau nama lain dan berkedudukan langsung di
bawah Camat.
Mukim dibagi atas kelurahan dan Gampong. Kelurahan
dibentuk di wilayah kecamatan dengan Qanun Kabupaten/Kota
yang dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya
memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. Kelurahan di
Provinsi Aceh dihapus secara bertahap menjadi Gampong atau nama
lain dalam Kabupaten/Kota. Gampong atau nama lain yaitu kesatuan
warga hukum yang berada di bawah Mukim dan dipimpin
oleh Keuchik atau nama lain yang berhak menyelenggarakan urusan
rumah tangga sendiri.
Secara garis besar, suatu warga berfungsi sebagai ukuran
untuk menggarisbawahi hubungan antara hubunganhubungan
sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Setiap anggota
warga senantiasa selalu ikut berpartisipasi dan terlibat dalam
proses-proses sosial yang terjadi pada suatu warga .
Realitas Budaya yang Terjadi
Perpaduan antarsuku Aceh dan Padang tentu menghasilkan
kebudayaan, tradisi serta adat istiadat yang beraneka ragam. Umum-
nya, sebuah perpaduan kebudayaan tetap akan memunculkan
sebuah kebudayaan yang mendominasi kebudayaan yang tersaingi.
116
Paul B. Horton dan Chester L. Hunt mengatakan bahwa sebuah
kebudayaan dan warga tidak memiliki batas-batas konsep yang
terlalu tegas. Sehingga sungguh sangat memungkinkan terjadinya
perpaduan satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya.
Kebudayaan sendiri terbagi ke dalam kebudayaan materi dan
nonmateri. Kebudayaan materi yang terdapat yang terdapat pada
daerah berbeda denga daerah lainnya. Sebagai daerah yang paling
awal penyebaran islam, daerah Aceh khususnya Blang Pidie banyak
menggunakan tulisan Arab Melayu yang kerap dijumpai di berbagai
papan bangunan. Tulisan Arab Melayu ini merupakan
identitas Aceh sebagai daerah paling awal berkembangnya islam di
Nusantara.
Berbagai tulisan Arab Melayu yang kerap dijumpai di berbagai
papan bangunan merupakan sebuah identitas Aceh sebagai daerah
paling awal masuknya islam di Nusantara. Adapun huruf Arab
Melayu itupun tumbuh dan berkembang dari Wilayah Aceh. Awal
mulanya Islam masuk ke Aceh, terjadilah islamisasi dalam berbagai
bidang kehidupan, seperti seni-budaya dan lain sebagainya. Hal
ini dilakukan untuk memudahkan dan menarik para warga
Aceh dalam memeluk islam. Untuk tulisan Arab-Melayu dibuat
penyesuaian, dan akhirnya huruf Arab ini diberi nama huruf Arab
Melayu (bahasa Aceh: harah Jawoe).
Sejauh ini perkembangan tulisan Jawoe ini hanya dilakukan
oleh Badan Dayah NAD yang pernah melaksanakan penataran
penulisan Arab Melayu pada tahun 2006 dan 2007 dengan salah
seorang nara sumbernya, Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag ini .
Sebenarnya, para guru yang mengasuh mata pelajaran TAI-lah
yang semestinya diberikan bimbingan khusus mengenai penulisan
TAI itu. sebab merekalah yang langsung mengajari muridnya di
kelas. Namun, kegiatan demikian belum terdengar sampai saat ini
(Wawancara 2, 25 April 2012).
117Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
Penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten/Kota berpedoman
pada asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang memiliki
kekhususan dalam asas keislaman. Penyelenggaraan Pemerintahan
Kabupaten/Kota terdiri atas DPRK. Susunan organisasi ini
diatur lebih lanjut dalam Qanun. Dalam hal ini, qanun mengatur
pelaksanaan syariat Islam yang meliputi bidang aqidah, syaria’ah,
dan akhlak (UU No.11 Tahun 2006).
Setiap pemeluk agama Islam di Aceh wajib menaati dan
mengamalkan syari’at Islam. Setiap orang yang bertempat tinggal
atau berada di Aceh wajib menghormati pelaksanaan syari’at Islam.
Pemerintahan Aceh khususnya Pemerintahan Kabupaten atau Kota
menjamin kebebasan, membina kerukunan, menghormati nilai-nilai
agama yang dianut oleh umat beragama dan melindungi sesama
umat beragama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama
yang dianutnya.
Dalam pelaksanaannya, orang-orang yang melanggar syari’at
Islam akan dihukumi cambuk seperti yang dilakukan oleh budaya
timur. Pada saat hukuman akan berlangsung setiap petugas atau
lebih akrab disebut dengan polisi syari’ah menghimbau para warga
untuk menyaksikan secara langsung hukum cambuk ini .
berdasar hasil wawancara dengan kepala lorong setempat
mengatakan bahwa “Selama ini hukuman cambuk diberikan
terhadap sanksi pelaku zina dan pemain judi, untuk kasus yang
terkait dengan pemerintahan masih belum terlaksana dan dihukum
secara syariat” tutur Pak Hamdan selaku kepala lorong daerah
ini .
Hal yang paling unik dijumpai dari suku jamee yaitu tradisi
pada hari Meugang (hari magang). Tradisi ini dikenal dengan tradisi
Mambantai dan Balamang. Kedua tradisi ini selalu dilaksanakan setiap
tahun sebelum ramadhan. Mambantai yaitu tradisi penyembelihan
hewan yang nantinya dimasak untuk keperluan Meugang. Kegiatan
ini dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka berkumpul di sebidang
118
tanah yang cukup luas. Prosesi ini dipimpin oleh seorang pawang
(kadang dipimpin oleh Imam Chik mesjid atau Meunasah ) yang
benar-benar memahami tata cara dan doa dalam penyembelihan
dan dibantu oleh beberapa orang yang bertugas mengikat kaki dan
merebahkan hewan yang akan disembelih dengan posisi menghadap
kiblat. Sampai pada proses pemotongan daging dan siap dimasak
oleh kaum perempuan.
Selain itu, dihari yang sama ada pula tradisi Balamang yang
dilaksanakan oleh hampir semua keluarga disana. Balamang berarti
tradisi memasak lemang. Uniknya Lemang ini dimasak bersama-
sama oleh semua malamang. Malamang perempuan yang ada dalam
keluarga yang biasanya diikuti oleh tiga generasi; nenek, ibu dan
anak perempuan (hasil pengamatan penulis).
Balamang berarti tradisi memasak lemang. Uniknya lemang
ini dimasak bersama-sama oleh malamang perempuan yang
ada dalam keluarga yang biasanya diikuti oleh tiga generasi; nenek,
ibu dan anak perempuan. Mereka mendapat porsi tugas masing-
masing sesuai usia. Nenek dianggap orang yang paling ahlu dalam
memasak lemang. Nenek bertugas sebagai orang yang mengaduk
semua bahan dengan takaran yang sesuai. Selain itu ia juga yang
paling mengerti cara memasukkan beras ke dalam bambu.
Generasi yang lebih muda kebagian tugas mencari, memotong
dan membersihkan bambu untuk memasak lemang. Suatu hal yang
menjadi pantangan bahwa bambu (buluh) tidak boleh dilang kahi
sebab dapat menyebabkan beras ketan yang dimasak di dalam buluh
ini alak akan keluar (menjulur) saat proses pemanggangan
(dibakar di bara api) dalam posisi berdiri bersandar pada besi
tungku. Biasanya bambu dicuci di sungai dengan menggunakan
sabut kelapa untuk mengikis miang yang melekat pada bambu
(buluh) agar tidak gatal lagi. Gerakan menggosok batang bambu
juga ditentukan yaitu satu arah, tidak boleh bolak-balik untuk
mencegah miang tadi melekat kembali. Gerakannya juga tidak
119Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
boleh terlalu keras agar tidak merusak buluh. Generasi kedua ini
juga bertugas memeras santan dengan memisahkan santan dengan
memisahkan santan kental dan encer.
Sedangkan generasi ketiga yaitu generasi yang sudah harus
mempelajari cara memasak lemang. Ia harus memperhatikan dengan
baik setiap prosesnya. Tugasnya lebih ringan, mulai dari mencari
daun pisang, lalu memilih dan memotong daun muda yang tidak
mudah robek untuk dimasukkan ke dalam buluh lemang. Ia juga
harus mencuci beras hingga bersih.
Tata cara serta ketentuan yang berlaku pada suatu adat istiadat
serta tradisi pada daerah ini, harus dilakukan secara runtut dan tidak
diperbolehkan diganti dengan sesuatu apapun. Bahkan menurut
mitos yang berkembang pada warga daerah Pasar Baru Kecamatan
Blang Pidie mengatakan bahwa apabila terdapat salah satu warga
yang tidak melaksanakan tradisi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, kemungkinan akan ditimpa musibah pada keluarganya
dan dijauhkan rezeki serta jodohnya (Wawancara 2, 25 April 2012).
Suku Jamee pada kabupaten ABDYA khususnya daerah Blang
Pidie sangat mengagungkan relativisme kebudayaan. Dimana setiap
orang memiliki pemahaman bahwa setiap kebudayaan memiliki
unsur yang sama dan tidak bisa dipastikan terdapat budaya atau
tradisi yang merugikan. Sehingga dalam perkembangannya,
sangat jarang ada kebudayaan asli yang terhapus pada kedua suku
ini . Suku Aceh tetap melaksanakan tradisi dan adat istiadat
Aceh, begitu pula sebaliknya dengan suku Minangkabau, antar
kedua suku sangat jarang ditemukan pertentangan dan pertikaian
yang berkaitan dengan kebudayaan yang mereka anut.
Levine dan Campbell (dalam Horton dan Hunt, 1984) menya-
takan bahwa dalam suatu kebudayaan sering dijumpai etno
sentrisme, dimana suatu kelompok atau suku menganggap
kebudayaannya yang paling baik. Fenomena yang ditemukan
pada wilayah observasi penulis, antar suku sangat menghormati
120
kebudayaan masing-masing tidak ada yang mendominasi antar
adat istiadat maupun kebiasaan yang terdapat pada daerah
ini . Dalam tradisi bertaji, segala jenis makanan khas kedua
suku dihidangkan, agar kekerabatan dan kerukunan tetap terjalin
dengan baik. Walaupun tanpa etnosentrisme, pengukuhan suatu
kebudayaan tetap akan terjaga pada daerah Blang Pidie.
Kesimpulan
Keanekaragaman kebudayaan di Indonesia tak bisa dipungkiri
adanya asimilasi antara satu suku dengan suku lainnya, antar
budaya dengan budaya lainnya. Aceh sendiri sebagai sebuah
provinsi yang terdapat di Indonesia memiliki berbagai suku, di-
antaranya suku Gayo, Aceh, Melayu, Jamee, dan masih banyak
lain nya. Suku Aneuk Jamee yaitu kombinasi dari budaya Aceh
dan Budaya Minangkabau. Penyebutan Jamee sendiri merupakan
sebuah sebutan penghormatan terhadap tamu atau pendatang yang
menetap di Aceh.
Dalam kehidupan sehari-sehari kedua suku ini me-
lakukan interaksi dengan menggunakan bahasa Jamee. Bahasa
Jamee sendiri merupakan perpaduan antara bahasa Aceh dan
bahasa Padang. Suku yang terdapat pada kabupaten Aceh Barat
Daya (ABDYA) melakukan sebuah akomodasi dalam menentukan
bahasa yang dipakai dalam interaksi sehari-hari. Sehingga pada
akhir nya bahasa padang tetap dipakai dengan berasimilasi
dengan bahasa Aceh yang kemudian menjadi bahasa “Jamee”.
Tidak terdapat perubahan yang besar pada bahasa ini , hanya
bebe rapa konsonan dan vokal yang sedikit diubah untuk menyesua
ikan dengan bahasa Aceh.
Pola kebudayaan antar kedua suku menghasilkan tradisi dan
adat istiadat yang sangat unik, dimana pada setiap tradisi dan
adat istiadat masih memunculkan kebudayaan khas dari ke dua
121Perpaduan Antara Suku ... ~ Isma
suku ini . Tradisi yang sering dilakukan pada kedua suku
ini yaitu tradisi “Bertaji”, yaitu sebuah Ritual makan ber-
sama yang sering dilakukan para warga merupakan bentuk kerja
sama (cooperation) antara dua suku yaitu suku Aceh dan suku
Minang kabau. Ritual bertaji ini menghasilkan perpaduan suku
yang sekarang dikenal dengan Aneuk Jamee. Berbagai jenis makanan
yang dihidangkan dalam ritual ini merupakan perpaduan
makanan khas dari suku Aceh dan Minangkabau. Ritual bertaji ini
juga menjadi momen yang sangat penting bagi suku Minangkabau
untuk melepas rindu pada kampung halamannya.
Tradisi dan adat istiadat tertentu bisa dijumpai pada saat
penyambutan dan peringatan hari besar seperti pada saat penyam-
butan bulan suci Ramadhan dan lebaran Idul Fitri maupun Idul
Adha banyak dari warga setempat melakukan tradisi Balamang
dan Mambantai, yang sampai saat ini masih dilakukan bahkan
tanpa tradisi ini, sebuah perayaan dan peringatan ini tidak
akan berarti apa-apa.
Asimilasi yang terjadi pada kecamatan ini sangat jarang me-
nimbulkan pertikaian dan pertentangan antara kedua suku ter-
sebut. Pemerintahan pada daerah ini benar-benar mengatur
se demikian rupa tatanan kehidupan warga sekitar, sehingga
ke rukunan dan kekerabatan tetap terjalin dengan baik.
122
123Model Konsep Diri ... ~ Mela
mODeL kONSep Diri
mahaSiSwi SampaNG,
maDura
Mela Wijayanti
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: comelljaya@gmail.com
Mukadimah
Memahami tentang diri merupakan tugas dari masing-
masing individu, sebab pemahaman diri berhubungan dengan
perkembangan individuasi dan identitas pada masa remaja.
Perkembangan identitas pada masa remaja sangatlah penting,
sebab hal itu memberikan landasan bagi perkembangan psikososial
dan relasi interpersonal seorang individu (Jones & Hartman dalam
Desmita 2010). Pemahaman konsep diri sebenarnya dimulai sejak
masa kanak-kanak, yakni sejak mereka mulai dapat belajar, berpikir
dan memahami dirinya seperti yang orang lain persepsikan. Tetapi
pencapaian identitas diri umumnya diperoleh pada masa remaja.
Pemahaman tentang konsep diri, dapat diperoleh dari berbagai
sumber. Menurut Atwer (1987), konsep diri dapat diidentifikasi
dalam tiga bentuk, (1) body image, yakni bagaimana seseorang
124
melihat diriny sendiri, (2) ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan
harapan seseorang mengenai dirinya, (3) social self, yakni bagaimana
orang lain melihat dirinya. Faktor eksternal menjadi hal yang
mendominasi dalam perolehan tetang konsep diri pada seorang
individu. sebab sebenarnya, konsep diri itu terbentuk berdasar
persepsi seseorang tentang sikap orang lain terhadap dirinya. Akan
tetapi, pembentukan konsep diri juga dapat berasal dari dalam
individu itu sendiri. Artinya individu menemukan hal-hal apa saja
yang ada pada dirinya dengan cara mengevaluasi semua tentang
dirinya.
Luasnya aspek dari pemahaman dan pengetahuan tentang diri,
membuat peneliti melakukan wawancara terhadap seorang subjek
yang berasal dari suatu daerah yang memiliki ciri khas dalam
hal tertentu dan menarik untuk peneliti jadikan sebagai subjek
penelitian. Untuk lebih jelasnya pemahaman tentang konsep diri,
akan peneliti paparkan dalam atikel ini.
Kerangka Kerja Teoritik
Diri atau self, menurut William James (1890) dalam bukunya
“Principle of Psychology”, merupakan segala sesuatu yang dapat
dikatakan orang tentang dirinya sendiri,








