psikologi budaya 4

 




tidak hanya tubuh dan 

keadaan psikisnya, melainkan juga tentang anak-istri, rumah, 

pekerjaan, nenek moyang, teman-teman, milik, dan uangnya. Jika 

semua bagus, diri akan merasa senang dan bangga. Akan tetapi jika 

ada yang kurang baik, rusak, hilang, diri akan merasakan putus asa, 

kecewa dan lain­lain (Sobur, 2003).

Diri sebagai “diri cermin” atau “looking-glass self”, sebab  

seakan-akan seorang melihat dirinya sendiri dalam cermin (Cooley 

dalam Sarwono, 1997). Sedangkan William James menamakan diri 

cermin itu sebagai “diri publik” atau “public self’. Menurut James, ada 

dua jenis diri, yaitu “diri” dan “aku”. Diri yaitu  aku sebagaimana 

125Model Konsep Diri ... ~ Mela

dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai objek (objective self), 

sedangkan aku yaitu  inti dari diri aktif, mengamati, berpikir, dan 

berkehendak (subjektive self).

Diri dapat pula diartikan sebagai keyakinan yang kita pegang 

tentang diri kita sendiri. Kandungan dari keyakinan itu dinamakan 

konsep diri atau self-concept. Adapun penilaian kita tentang diri 

kita atau hasil evaluasi tentang diri kita sendiri disebut dengan self-

esteem (penghargaan diri).

Para psikolog sosial, khususnya psikologi sosial yang 

berorientasi pada sosiologi, konsep diri dikembangkan oleh Charles 

Horton Cooley (1864-1929), George Herbert Mead (1863-1931), dan 

memuncak pada aliran interaksi simbolis, yang tokoh terkemukanya 

yaitu  Herbert Blumer. Dikalangan para psikologi sosial, yakni 

psikologi sosial yang berorientasi pada psikologi, konsep diri 

tenggelam saat  behaviorisme berkuasa. Pada tahun 1943, Gordon 

W. Allport menghidupkan kembali konsep diri. Pada teori motivasi 

Abraham Maslow (1967­1970) dan Carl Rogers (1970), konsep diri 

muncul sebagai tema utama psikologi Humanistik (Sobur, 2003).

Menurut Rogers, konsep diri diartikan sebagai bagian sadar 

dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, yaitu 

“aku” yang merupakan pusat dari referensi pengalaman. Konsep 

diri merupakan kesadaran batin yang berhubungan dengan dan 

membedakan “aku” dari yang bukan “aku”. Secara umum, konsep 

diri dapat diartikan sebagai semua persepsi kita terhadap aspek diri 

yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang 

didasarkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.

Adapun hal-hal yang berhubungan dengan pembentukan 

konsep diri dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

126 

INTERNAL

• Independent Self

Pemahaman tentang diri 

sebagai diri yang kaku, 

utuh dan terpisah dari 

konteks sosial

• Self-Perception Theory

Ide bahwa orang 

terkadang menyimpulkan 

sikap mereka sendiri 

berdasar  perilaku 

yang kelihatan, bukan dari 

keadaan internalnya

• Self-schemas

Bagaimana orang 

berpikir tentang kualitas 

personalnya dalam domain 

kehidupan tertentu

• Possible Self

Skema orang tentang akan 

seperti apa mereka kelak di 

masa depan

• Ideal Self

Atribut personal yang ingin 

dimiliki orang

• Ought Self

Atribut personal yang 

diyakini seharusnya 

dimiliki orang

• Self-Regulation

Cara orang mengontrol dan 

mengarahkan tindakannya

Cybernatic Theory of 

Self-Regulation

Orang 

membandingkan 

peri lakunya dengan 

standar, me nentukan 

apakah sesuai 

standar atau tidak, 

dan melakukan 

penyesuaian sampai 

sesuai standar atau 

justru mengabaikan 

standar

Self-Verivication

Mencari tahu dan 

menginterpretasikan 

situasi yang mengkon-

firmasikan konsep diri 

seseorang

Self-Handicapping

Melakukan tindakan 

yang menimbulkan 

rintangan untuk 

meraih kesuksesan, 

sehingga kegagalan 

dapat diatribusikan 

kepada rintangan itu

EKTERNAL

• Interdependent Self

Pemahaman tentang 

diri sebagai diri yang 

fleksibel, variabel, dan 

terkait dengan konteks 

sosial

• Socialization

Bagaimana seorang 

mendapatkan aturan, 

standar, dan nilai-

nilai keluarganya, 

kelompoknya, dan 

kulturnya

• Reflected Appraisals

Evaluasi diri berdasar  

persepsi dan evaluasi 

dari orang lain

• Social Comparison

Tindakan 

membandingkan 

kemampuan, opini, atau 

opini dengan orang lain

• Social Identity

Bagian dari konsep diri 

individu yang berasal 

dari keanggotaannya 

dalam kelompok sosial

• Ethnic Identity

Pengetahuan  diri 

individu yang 

berhubungan dengan 

keanggotaan dalam 

kelompok etnis tertentu

127Model Konsep Diri ... ~ Mela

• Self-Complexity

Jumlah dimensi yang 

dipakai  orang untuk 

memikirkan dirinya sendiri

• Self-Efficacy

Ekspektasi khusus 

tentang kemampuan kita 

melakukan tugas tertentu

• Private-Self

Conciousness

Tendensi untuk fokus pada 

diri internal

• Self-Enchacement

Kebutuhan untuk 

menganut pandangan 

positif tentang diri sendiri

• Self-Affirmation

Dalam mengatasi 

ancaman spesifik terhadap 

harga dirinya, orang 

mengafirmasikan ulang 

aspek-aspek yang terkait 

dengan dirinya

• Self-Presentation

Usaha sengaja bertindak 

dengan cara tertentu untuk 

menciptakan kesan khusus 

tentang diri

• Self-Discrepancies

Diskrepansi antara diri 

kita yang sesungguhnya, 

yang ideal dengan 

bagaimana yang 

seharusnya menurut 

orang lain

• Working Self-

Concept

Aspek dalam diri yang 

menonjol dalam situasi 

tertentu

• Self Awarness

Merasakan diri sebagai 

objek dari orang lain

• Public Self

Conciousness

Tendensi untuk 

memerhatikan 

bagaimana orang tampil 

di hadapan orang lain

• Self-Evaluation

Maintance Theory

Bereaksi terhadap 

kesuksesan orang 

lain dengan merasa 

ikut bangga atau ikut 

kecewa dan kemudian 

memulihkan perasaan 

dirinya

• Social Comparison

Theory

Ide bahwa orang ingin 

mengevaluasi dirinya 

melalui perbandingan 

dengan orang lain

128 

• Downward Social

Comparisons

Membandingkan ciri 

atau kemampuan diri 

dengan kemampuan 

orang lain yang lebih 

buruk

• Upward Social

Comparisons

Membandingkan ciri 

atau kemampuan diri 

dengan kemampuan 

orang lain yang lebih 

baik

• Related-Attributes 

Simillarity

Kemiripan denganorang 

lain pada atribut yang 

berhubungan dengan 

atribut sasaran, seperti 

latar belakang atau per-

siapan

• Self-Promotion

Menyampaikan 

informasi tentang diri 

sendiri yang positif 

kepada orang lain

• Ingratiation

Memuji orang lain agar 

orang lain menyukai kita

Pemahaman diri (sense of self) atau sering disebut sebagai konsep 

diri (self-concept) merupakan merupakan pemahaman tentang diri 

atau ide tentang diri sendiri (Seifert & Hoffnung, 1994).

Sebenarnya, konsep diri itu terbentuk berdasar  persepsi 

seseorang tentang sikap orang lain terhadap dirinya. Pada seorang 

129Model Konsep Diri ... ~ Mela

anak, diri mulai belajar, berpikir, dan merasakan dirinya seperti apa 

yang telah ditentukan orang lain dalam lingkungannya (Sobur, 2003). 

Itu sebabnya pembentukan konsep diri lebih banyak dipengaruhi 

faktor eksternal dari pada faktor internal seseorang.

Konsep diri juga berhubungan dengan perkembangan 

individuasi dan identitas remaja. Perkembangan identitas selama 

remaja sangat penting, sebab  memberikan suatu landasan bagi per-

kembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa 

(Jones & Hartmann, 1988). Menurut Josselson (1980 dalam Seifert & 

Hoffnung, 1994), proses pencarian identitas merupakan proses di 

mana individu mengembangkan suatu identitas personal atau sense 

of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain, dan hal 

ini disebut dengan individuasi.

Konsep diri terbentuk dalam waktu yang relatif lama, dan pem­

bentukan ini tidak bisa diartikan bahwa reaksi yang tidak biasa dari 

se seorang dapat mengubah konsep diri.

Penggetahuan tentang diri berasal dari banyak sumber, dan 

konsep diri pada dasarnya tersusun dari berbagai tahapan. Taha-

pan yang paling dasar yaitu  konsep diri primer, yaitu konsep diri 

yang terbentuk atas dasar pengalamnnya terhadap lingkungan ter-

dekatnya, yaitu lingkungan rumahnya sendiri yang kemudian di-

per dalam dengan pengalaman-pengalaman yang didapatkan dari 

ling kungan maupun dari kelompok sosial di mana diri tinggal.

Secara umum, pengetahuan tentang diri bersumber dari hal-

hal berikut ini:

1. Sosialisasi 

Keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama seorang 

individu. Sosialisasi merupakan proses bagaimana seseorang 

men dapatkan aturan, standar dan nilai-nilai keluarganya, 

kelompok nya dan kulturnya. Sosialisasi membentuk inti 

pengalaman awal kita, dan frekuensi ini yang akhirnya di­

internalisasi sebagai aspek penting dari konsep diri.

130 

2. Penilaian yang Direfleksikan

“Looking-glass concept” merupakan konsep yang di-

kembang kan oleh C.H Cooley (1902), yakni bahwa orang 

memandang diri mereka sebagaimana orang memandang 

dan merespons mereka (Leary et.al., 2003). Adapun persepsi 

yang direfleksikan atau reflected appraisals yaitu  persepsi kita 

tentang bagaimana orang berinteraksi terhadap kita.

3. Tanggapan dari Orang Lain

Orang terkadang memberi tanggapan yang tegas tentang 

kualitas diri kita, dan proses ini sering dimulai dalam sosialisasi. 

Riset menunjukkan bahwa secara keseluruhan, orang lebih 

menyukai tanggapan atau umpan balik yang objektif tentang 

atribut personal mereka (Festinger, 1954), sebab  tanggapan 

yang objektif dianggap lebih fair dari pada tanggapan berupa 

opini personal.

4. Persepsi Diri

Self-perception Theory atau teori persepsi diri dari Dariel Bem 

(1967, 1972) menyatakan bahwa terkadang orang menyimpul­

kan sikap mereka sendiri berdasar  perilaku mereka yang 

ke lihatan, bukan dari keadaan internalnya.

5. Melabeli Keadaan yang Membangkitkan

Untuk menyimpulkan keadaan dan kualitas personal, 

individu tekadang menyimpulkan dari petunjuk fisiologis. 

Stanley Schachter (1964) menunjukkan bahwa persepsi emoi 

kita bergantung pada dua hal, yakni (1) tingkat kebangkitan 

atau arousal fisiologis kita, dan  (2) label kognitif yang kita 

gunakan, seperti marah atau sedih.

6. Kekhasan Lingkungan

saat  kita berada dalam suatu kelompok yang anggotanya 

memiliki banyak kesamaan dengan kita, maka kita cenderung 

memandang diri kita dalam term identitas personal, yakni karak-

131Model Konsep Diri ... ~ Mela

teristik yang membedakan kita dari orang lain yang banyak ke-

miripannya dengan kita itu. Kita cenderung memandang diri 

kita dalam term keanggotaan kategori (Turner, Oakes, Haslam 

& McGarty, 1994) dan tendensi ini khususnya berlaku untuk 

orang dari kultur yang menghargai nilai-nilai hubungan dengan 

orang lain, seperti di Asia (Kanagawa, Cross, & Markus, 2001).

7. Penilaian Diri Komparatif

Untuk mengevaluasi dimensi dan kualitas diri tertentu, 

terkadang individu membandingakan kemampuan, opini, 

atau emosi dengan orang lain, dan hal ini disebut dengan social 

comparison (perbandinggan sosial).

8. Identitas Sosial

Social identity atau identitas sosial merupakan bagian dari 

konsep diri individu yang berasal dari keanggotaanya dalam 

suatu kelompok sosial dan nilai serta signifiknsi dari emosional 

yang ada dilekatkan dalam keanggotaan itu (Tajfel, 1981).

9. Kultur dan Diri

Riset lintas­kultural menunjukkan bahwa konsep diri itu 

bervariasi, tergantung pada kultur seseorang (Rhee, Uleman, 

Lee & Roman, 1995; Triandis, McCusker, & Hui, 1990).

Menurut De Vito (1997), jika manusia harus mendaftarkan ber-

bagai kualitas yang ingin kita miliki, kesadaran diri pasti menempati 

prio ritas tertinggi. Kemudian, manusia menegaskan bahwa dari 

semua komponen tindak komunikasi, yang paling penting yaitu  

diri (self).

Self-regulation atau regulasi diri yaitu  cara bagaimana indi-

vidu mengontrol dan mengrahkan tindakan diri mereka. Seorang 

indi vidu memiliki banyak informasi tentang dirinya sendiri 

seperti karakteristik pesonal, keinginan serta konsep masa depan 

mereka. Mereka merumuskan tujuan untuk mengejarnya, serta 

menggunakan keahlian sosial dan regulasi diri.

132 

Adapun mengenai motivasi dan diri mumnya, individu mencari 

konsep diri yang akurat, stabil, positif, serta mencari situasi yang 

membantu pencarian itu.

Salah satu strategi seorang individu untuk mengetahui 

seberapa besar kualitas atau kemampuannya yaitu  dengan 

membandingakan dirinya dengan orang lain. Proses perbandingan 

sosial mempengaruhi banyak aspek kehidupan sosial dan setiap 

situasi boleh jadi menimbulkan perbandingan sosial (Staple & 

Tesser, 2001). Social comparison theory (teori perbandingan sosial) 

Leon Festinger (1954), menyatakan bahwa orang termotivasi untuk 

membuat penilaian yang akurat terhadap level kemampuan dan 

sikap mereka sendiri. Adapun terori perbandingan Festinger dapat 

diringkas sebagai berikut:

1. Orang memiliki dorongan (hasrat) untuk mengevaluasi opini 

dan kemampuannya secara akurat.

2. sebab  tidak ada standar fisik langsung, orang mengevaluasi 

dirinya dengan membandingkan dirinya dengan orang lain.

3. Secara umum, orang cenderung membandingkan dirinya 

dengan orang yang setara atau mirip dengan dirinya.

Metode 

Penelitian dilakukan di lingkungan UIN Maulana Malik 

Ibrahim Malang sebab  subjek merupakan mahasiswi Biologi asal 

Sampang, Madura yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar 

kampus. berdasar  latar belakang permasalahan, maka peneliti 

menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. 

Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat 

beragam disseuaikan dengan masalah, hal ini sesuai dengan sifat 

penelitian kualitatif yang terbuka dan luwes. Dalam penelitian ini, 

peneliti menggunakan teknik wawancara dan observasi.

133Model Konsep Diri ... ~ Mela

Hasil 

Subjek yaitu  perempuan berusia 20 tahun yang berasal dari 

Sampang Madura yang sekarang berdomisili di Malang. Subjek 

mendeskripsikan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebab  di 

tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswi semester 5 jurusan 

Biologi, subjek mampu menjalani part time jobs atau bekerja paruh 

waktu di tempat Laundry. Subjek mengaku sebagai individu yang 

mandiri sebab  telah mampu bekerja sambil kuliah kendati orang 

tuanya tidak tahu bahwa subjek telah bekerja paruh waktu saat ini. 

Alasan kenapa subjek kuliah sambil bekerja yaitu  sebab  subjek 

hanya ingin menjadi individu yang mandiri.

Seperti halnya individu pada umumnya, subjek pernah mem-

bandingkan dirinya dengan orang lain. Artinya, sebagai orang yang 

berasal dari Madura dan tinggal bersama orang-orang yang mayo-

ritas berasal dari Jawa Timur pula, subjek pernah mem bandingkan 

dirinya dengan teman kontrakannya yang berasal dari daerah lain, 

salah satunya dari Blitar. Subjek mengaku ada sedikit perbedaan 

cara berperilaku antara orang Madura dengan orang Blitar, 

misalnya dalam hal mengekspresikan emosi. Ia berpendapat bahwa 

“orang Madura memang terkenal keras dalam hal tutur bahasa dan 

ber perilaku, dan memang mayoritas seperti itu”, tuturnya. Namun 

subjek tidak sering membandingkan dirinya dengan teman dari 

lain daerah sebab  subjek menganggap dirinya sebagai “Aku yang 

mandiri”, artinya bahwa dirinya saat ini bukan hasil dari pengaruh 

kebudayaan daerahnya yang mempengaruhi pem bentukan konsep 

dirinya, tetapi lebih pada proses di mana subjek telah menemukan 

identitas pribadinya sendiri. Akan tetapi, ideal nya sebagai seorang 

yang berasal dari Madura, subjek ber pandangan bahwa basic agama 

sangatlah penting ditanamkan dalam setiap jenjang pendidikan. 

“Dunia pesantren menjadi sesuatu yang tidak asing bagi orang-

orang Madura meskipun sekarang telah terjadi cukup banyak 

perubahan terhadap konsep itu”, tuturnya.

134 

Subjek mengatakan bahwa sebagian besar orang dari daerah 

asalnya berprofesi sebagai guru dan banyak juga yang menjadi bidan 

sebab  sekolah-sekolah kebidanan mulai banyak bermunculan di 

sana. Subjek memiliki cita-cita ingin menjadi seorang guru seperti 

mayoritas orang yang ada di daerahnya (wawancara subjek 1, 13 

Oktober 2012).

Diskusi 

Subjek berasal dari Sampang, Madura yang memiliki  latar 

belakang pendidikan agama. Dunia pesantren menjadi sesuatu 

yang tidak asing baginya sebab  sejak kecil anak-anak di sana 

telah dikenalkan dan dididik di lingkungan pesantren. Mayoritas 

penduduk tempat subjek berasal berprofesi sebagai seorang guru 

dan tenaga kesehatan, sebab  sekolah kebidanan telah banyak 

bermunculan di sana.

Subjek yaitu  perempuan berusia 20 tahun yang mengaku 

telah menjadi pribadi yang mandiri, sebab  di tengah kesibukannya 

sebagai seorang mahasiswi, subjek telah mampu membagi waktunya 

untuk belajar sekaligus bekerja paruh waktu dan telah mampu 

menghasilkan uang sendiri. Motivasi untuk menjadi pribadi yang 

mandiri berasal dari dirinya sendiri, di mana subjek tidak mau 

selamanya bergantung atau hanya mengandalkan pemberian orang 

tua, tetapi subjek ingin bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dari 

hasil keringatnya sendiri, sebab  subjek mengaku bahwa orang 

tuanya tidak mengetahui perihal subjek telah kuliah sambil bekerja 

paruh waktu.

Hal ini sesuai dengan konsep Motivasi dan Diri, di mana 

subjek terdorong untuk mencari konsep yang akurat, stabil, dan 

positif serta mencari situasi yang membantu pencarian itu. Subjek 

ingin menjadi pribadi yang mandiri, yang dapat memenuhi 

kebutuhan pribadinya sendiri, maka subjek mencari pekerjaan 

135Model Konsep Diri ... ~ Mela

paruh waktu di samping subjek masih harus mejalani aktivitasnya 

sebagai seorang mahasiswi semester 5. Selain itu, subjek yang telah 

bekerja paruh waktu pada usia 20 tahun juga sesuai dengan konsep 

Perkembangan Dewasa Awal atau masa muda, di mana kriteria 

utama untuk menunjukkan akhir masa remaja dan memasuki masa 

dewasa awal yaitu  kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam 

membuat keputusan.

Kemandirian ekonomi dan terlepas dari orang tua pada masa 

dewasa awal ini berlangsung bertahap. Masa muda (youth) diartikan 

oleh ahli sosiologi Kenneth Kenniston sebagai periode transisi antara 

masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan 

kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Pendeskripsian 

subjek tentang dirinya sebagai seorang perempuan berusia 20 tahun, 

berasal dari Sampang Madura, mahasiswi jurusan Biologi semester 

lima serta bekerja paruh waktu sesuai dengan salah satu aspek diri 

yakni Self-Complexity, di mana beberapa orang memandang diri 

mereka dengan satu atau dua cara yang mendominasi, sedangkan 

yang lainnya memandang dirinya berdasar  berbagai macam 

kualitas (Linville, 1985; Woolfolk, Novalany, Gara, Allen, & Polino, 

1995)

Tinggal di kontrakan bersama orang-orang dari lain 

daerah membuatnya pernah beberapa kali (namun tidak sering) 

membandingan dirinya dengan teman satu rumahnya. Subjek 

berpendapat bahwa terdapat beberapa perbedaan antara dirinya 

dengan teman dari lain daerah dalam beberapa hal, misalnya dalam 

hal tutur bahasa dan berperilaku. Subjek mengaku bahwa orang 

Madura terkenal keras dalam berbicara dan dalam mengekspresikan 

emosinya terutama emosi marah. Subjek juga mengaku bahwa 

dirinya saat ini yaitu  “Aku yang mandiri”, artinya dirinya 

bukan merupakan hasil dari pengaruh budayanya, subjek telah 

menemukan konsep dirinya sendiri secara mandiri.

136 

Subjek juga berpendapat bahwa sebagai orang Madura, 

idealnya individu harus memiliki basic agama dalam setiap jenjang 

pendidikannya. Proses subjek membandingkan dirinya dengan 

teman dari lain daerah sesuai dengan Social Comparison Theory, 

yakni individu ingin mengevaluasi diri melalui perbandingan 

dengan orang lain (Festinger, 1954). Sedangkan pengakuan subjek 

sebagai individu yang mandiri atau “Aku yang mandiri” sesuai 

dengan konsep independent self, artinya bahwa Ia memahami dirinya 

sebagai individu yang kaku, utuh dan terpisah dari pengaruh sosial 

tempat tinggalnya. Selain itu, hal ini juga sesuai dengan konsep 

subjective self dari William James, yaitu aku yaitu  hasil atau inti 

dari diri yang aktif, mengamati, berpikir, dan berkehendak.

Adapun perbedaan yang subjek temukan antara dirinya 

dengan temannya yang berasal dari lain daerah terkait dengan cara 

mengekspresikan emosi marah, hal ini berhubungan dengan masalah 

self-regulation atau regulasi diri masing-masing individu. Self-

regulation mengacu pada cara individu mengatur dan mengontrol 

pemikiran, emosi, dan tindakan mereka dalam situasi sosial.

Hal yang dilakukan subjek juga sesuai dengan Cybernatic 

Theory of Self-Regulation, yakni individu membandingkan 

perilakunya dengan standar, menentukan apakah sesuai standar 

atau tidak, dan melakukan penyesuaian sampai sesuai standar atau 

justru mengabaikan standar (Carver & Scheier, 1998).

 Pendapat subjek yang menyatakan bahwa untuk menjadi 

seorang yang berasal dari Madura yang ideal, maka ia harus 

memliki basic agama di setiap jenjang pendidikannya, hal ini sesuai 

dengan konsep ideal self atau diri yang ideal, yakni merupakan 

atribut personal yang ingin dimiliki seseorang. Selain itu, hal ini 

juga berhubungan dengan ought self, yakni atribut personal yang 

diyakini seharusnya dimiliki seseorang.

Pernyataan subjek yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru 

sebab  mayoritas orang dari daerahnya memiliki profesi yang sama 

137Model Konsep Diri ... ~ Mela

yakni menjadi guru, hal itu sesuai dengan konsep possible selves 

atau diri yang mungkin, yaitu skema orang mengenai akan seperti 

apa diri mereka kelak di masa depan, dan orang memandang masa 

depan dirinya terutama dari segi yang baik-baik saja (Markus & 

Nurius, 1986). 

Kesimpulan 

berdasar  penelitian, maka dapat disimpulkn beberapa hal 

sebagai berikut :

1. Subjek memiliki konsep motivasi diri yang akurat sehingga 

menjadikannya seorang yang mandiri.

2. Subjek yang berasal dari Sampang, Madura melakukan per-

bandingan diri atau self-comparison dengan temannya yang 

berasal dari lain daerah.

3. Subjek menerapkan independent-self yakni dengan menjadi 

pribadi yang utuh dan tidak terpenggaruh dengan lingkungan 

sosial tempat tinggalnya.

4. Subjek memiliki konsep diri yang ideal-self sesuai dengan 

daerah asalnya.

138 

139Kesenian Tayub (Sindir)

keSeNiaN taYuB (SiNDir) 

(StuDi kaSuS Di DeSa wOLuteNGah kecamataN 

kerek kaBupateN tuBaN)

Naila Alfin Najah

Mahasiswi Fakultas Psikologi

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Mukadimah

Setiap daerah pastinya memiliki  kebudayaan sendiri-sendiri 

yang meliputi  kesenian, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan 

atau karya lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai 

anggota suatu warga . Misalnya: tarian daerah, alat-alat yang 

paling sederhana seperti asesoris perhiasan tangan, leher dan 

telinga, alat rumah tangga, pakaian, sistem komputer, non materil 

yaitu  unsur-unsur yang di maksudkan dalam konsep norma-

norma, nilai-nilai, kepercayaan atau keyakinan serta bahasa.

 Norma itu sangat terkait dengan kebudayaan dalam 

warga . Para ahli ilmu budaya sering mengartikan norma 

sebagai tingkah laku. Dimana tingkah laku khusus atau yang selalu 

dilakukan berulang-ulang. Begitu pula kebudayaan di Indonesia 

yang sangat beragam dan itu semua merupakan ciri khas dari 

negara Indonesia yang kaya akan kebudayaan. Masing-masing 

kebudayaan ini memiliki  nilai.

140 

Nilai yaitu  konsep-konsep abstrak yang dimiliki oleh setiap 

individu tentang apa yang dianggap baik atau buruk, benar atau 

salah, patut atau tidak patut. Unsur penting kebudayaan berikutnya 

yaitu  kepercayaan atau keyakinan yang merupakan konsep 

manusia tentang segala sesuatu di sekelilingnya. Jadi kepercayaan 

atau keyakinan itu menyangkut gagasan manusia tentang individu, 

orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi, fisik, 

sosial, dan spiritual.

Beberapa unsur di atas dan keberagaman budaya-budaya, 

peneliti tertarik untuk mengangkat budaya-budaya yang di dalam-

nya terdapat ide atau karya sekaligus suatu adat. Tayub atau tayuban 

yaitu  kesenian tradisional khas suku Jawa, khususnya Jawa 

Tengah dan Jawa Timur. Hampir disemua daerah di kawasan Jawa 

mengenal kesenian tayub yang di kenal sebagai tari pergaulan ini. 

Daerah itu meliputi Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Blora, Malang, 

Blitar, Jombang dan daerah-daerah di sekitarnya. Namun, yang 

selama ini berkembang dengan pesat dan bahkan sampai ke tingkat 

nasional yaitu  tari langgam Tayub dari Kabupaten Tuban (Lela, 

2012)

Adapun manfaat yang akan di peroleh dari mempelajari 

budaya atau observasi ini antara lain dapat mengetahui kebiasaan 

yang pernah dilakukan oleh sesepuh atau nenek moyang pada suatu 

daerah. Hal ini merupakan suatu kegiatan yang dapat menjadikan 

tumbuhnya jiwa nasionalisme dan kebanggaan sebab  bangsa 

yang baik yaitu  bangsa yang sadar akan bangsanya, dan juga 

memperoleh pengertian secara jelas tentang sejarah dan prosesi 

ritual pelaksanaan kebudayaan kesenian Langen tayub (sindir) ini.

Kerangka Kerja Teoritik

Kebudayaan berasal dari bahasa latin “colere” yang kemudian 

diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “to cultivate”. Culture is 

patterns of human activity and the symbolic structures the give such 

141Kesenian Tayub (Sindir)

activity significance, yang berarti kebudayaan yaitu  pola-pola dari 

aktivitas manusia dan struktur simbolis yang menjadikan aktivitas 

itu penting (Koentjoroningrat, 1996).

Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “Buddhayah”  yaitu 

bentuk jamak dari  “buddhi” yang berarti “akal”. Dengan demikian 

kebudayaan dapat diartikan sebagi hal-hal yang bersangkutan 

dengan akal. Budaya yaitu  daya dari buddi yang berupa cipta, 

rasa, dan karsa. Sedangkan kebudayaan adala hasil dari cipta, rasa, 

dan karsa itu (Koentjoroningrat,1996).

Secara umum, istilah kebudayaan mengacu pada semua produk 

kecerdasan manusia baik pada kelompok warga  berupa 

teknologi, seni, tarian, sistem moral, akhlak, etika dan lainnya. 

Kebudayaan yaitu  sejumlah cita-cita, nilai dan standar peri-

laku, kebudayaan yaitu  sebutan persamaan (common denominator), 

yang menyebabkan perbuatan para individu dapat dipahami oleh 

kelompoknya. sebab  memiliki kebudayaan yang sama, orang 

yang satu dapat meramalkan perbuatan orang lain dalam situasi 

tertentu, dan mengambil tindakan yang sesuai. warga  (society) 

dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang mendiami 

tempat tertentu, yang demi kelangsungan hidupnya saling 

tergantung satu sama lain, dan yang memiliki kebudayaan bersama. 

(Koentjaraningrat, 1998).

Semua kebudayaan yaitu  hasil belajar dan bukan warisan 

biologis. Orang mempelajari kebudayaannya dengan menjadi 

besar didalamnya. Ralph Linton menyebut kebudayaan sebagai 

warisan sosial umat manusia. Proses penerusan kebudayaan dari 

generasi yang satu kepada generasi yang lain disebut enkulturasi. 

Kebudayaan dalam arti luas yaitu  keseluruhan hasil perbuatan 

manusia yang bersumber pada kemauan, pemikiran dan 

perasaannya (Koentjaraningrat, 1998). 

142 

Wujud Kebudayaan

Dalam rangka itu, Honingmann (Koenjaraningrat,1996) 

membuat perbedaan atas tiga gejala kebudayaan, yakni (1) ideas, (2) 

activities, dan (2) artifacts.

Adat-istiadat, norma, dan pelaksanaanya. Norma-norma yang 

khusus itu dapat digolongkan menurut pranata-pranata warga  

yang ada. Mengenai pranata sosial kita pelajarai bahwa tiap 

warga  memiliki sejumlah pranata, seperti misalnya pranata 

ilmiah, pendidikan, peradilan, ekonomi, kesenian, keagamaan, 

dan sebagainya. Diuraikan juga bahwa dalam setiap pranata ada 

berbagai kedudukan, dan dalam suatu interaksi sosial, individu 

yang menempati kedudukan ini  memainkan perananya yang 

sesuai. Dalam hal ini tindakanya harus disesuaikan dengan aturan-

aturan yang ada, yakni menurut norma-norma yang jelas dan tegas. 

(Sujarwa, 1999).

Diantara berbagai norma yang ada di dalam suatu warga , 

ada yang dirasakan lebih besar daripada lainnya. Pelanggaran 

terhadap suatu norma yang dianggap tidak begitu berat umumnya 

tidak akan membawa akibat yang panjang, dan mungkin hanya 

menjadi bahan ejekan atau pergunjingan para warga warga . 

Sebaliknya, ada norma-norma yang berakibat panjang apabila di 

langgar, sehingga pelanggarannya bisa jadi ditunut, diadili, dan 

dihukum. Ahli sosiologi W.G. Summer menyebut norma-norma 

golongan yang kedua disebutnya mores. Istilah folkways dapat kita 

terjemahkan dengan “tata cara”, sedang mores dapat diterjemahkan 

dengan “adat-istiadat” dalam arti khusus”.

Norma-norma dari golongan adat-istiadat yang memiliki  

akibat yang panjang juga merupakan “hukum”, walaupun mores 

seperti yang dikonsepsikan oleh Summer hendaknya tidak disamakan 

dengan “hukum”, sebab  norma-norma yang mengatur upacara suci 

tertentu juga tergolong mores (dalam banyak kebudayaan, norma-

143Kesenian Tayub (Sindir)

norma seperti itu dianggap berat, dan pelanggaran terhadapnya 

dapat menyebabkan ketegangan dalam warga  yang berakibat 

panjang, walaupun pelanggaran terhadap norma­norma seperti itu 

belum tentu memiliki  akibat hukum). Dengan demikian perlu 

kita ketahui dengan cermat, perbedaan antara norma-norma yang 

tergolong hokum dan norma-norma yang tergolong hukum adat. 

Perbedaan antara “adat” dan “hukum adat” (yaitu antara ciri-

ciri dasar dari hokum dan hukum adat) sejak lama telah menjadi 

buah pikiran para ahli antropologi. Ada golongan ahli antropologi 

yang beranggapan bahwa dalam warga  yang tak bernegara 

(misalnya kelompok-kelompok pemburu dan peramu, serta para 

peladang yang hidup di daerah yang terpencil), tidak terdapat 

aktivitas hukum, sebab  definisi para ahli mengenai “hukum” 

mereka batasi pada aktivitas-aktivitas hukum seperti yang terdapat 

dalam warga  yang bernegara (yaitu sistem penjagaan tata 

tertib warga  yang sifatnya memaksa, dan diperkuat oleh suatu 

sistem alat kekuasaan yang diorganisasi oleh Negara).

Salah seorang penganut pendirian ini yaitu  A.R. Radcliffe­

Brown, yang mengatakan bahwa warga ­warga  yang 

tidak memiliki hukum seperti itu mampu menjaga tata tertib sebab  

mereka memiliki suatu kompleks norma-norma umum (yaitu adat) 

yang sifatnya mantap dan ditaati oleh semua warganya. Pelanggaran­

pelanggran yang terjadi secara otomatis akan menimbulkan reaksi 

dari warga , sehingga pelanggaranya akan dikenai hukuman. 

(Koentjaraningrat, 1998).

Menurut beberapa pandangan, seperti yang diuraikan oleh C. 

Kluckhon dalam karanganya yang berjudul Universal Categories Of 

Culture (1953), dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka 

yang ada mengenai unsur-unsur kebudayaan universal, unsur-

unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di 

dunia berjumlah tujuh buah, yang dapat disebut sebagai isi pokok 

dari setiap kebudayaan, yaitu (Koentjaraningrat, 1996) :

144 

1. Bahasa

Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. 

Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk 

tanda (kode), yang kemudian disempurnakan dalam bentuk 

bahasa lisan, dan akhirnya menjadi bahasa tulisan.

2. Sistem pengetahuan

Merupakan produk dari manusia sebagai homo sapiens. 

Pengetahuan dapatdiperoleh dari pemikiran sendiri, di 

samping itu dapat juga dari pemikiran orang lain.

3. Organisasi sosial

Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius. 

Dengan akal manusia membentuk kekuatan dengan cara 

menyusun organisasi kewarga an yang  merupakan tempat 

bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

4. Sistem peralatan hidup dan teknologi

Merupakan produksi manusia sebagai homo faber. Ber-

sumber dari pemikirannya yang cerdas serta dibantu dengan 

tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia 

dapat menciptakan sekaligus mempergunakan suatu alat.

5. Sistem mata pencaharian hidup 

Merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus 

menjadi tingkat kehidupan manusia secara umum terus me-

ningkat.

6. Sistem religi dan upacara keagamaan

Merupakan produk manusia sebagai homo religius. Manusia 

yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap 

bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang 

Maha Besar.

7. Kesenian

Merupakan hasil dari manusia sebagai homo esteticus. 

Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka 

145Kesenian Tayub (Sindir)

manusia perlu dan selalu mencari pemuas untuk memenuhi 

kebutuhan psikisnya.

Menurut Van Peursen (Setiadi, 2007), perkembangan ke-

budayaan dapat dibagi atas tiga tahap: Tahap mistis, merupakan 

tahap di mana manusia merasakan dirinya terkepung oleh ke-

kuatan-kekuatan gaib di sekitarnya. Tahap ontologis, merupakan 

sikap manusia yang tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan 

mistis, tetapi secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia 

pada tahap ini mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai 

dasar segala sesuatu (ontologi). Tahap fungsional, Merupakan sikap 

yang menandai manusia modern. Manusia pada tahap ini tidak lagi 

ter pesona dengan lingkungannya dan kepungan kehidupan mistis, 

juga tidak lagi bersikap ontologis. Manusia pada tahap ini berusaha 

mengadakan relasi-relasi baru.

Pendapat umum mengatakan ada dua wujud kebudayaan. (1) 

kebudayaan bendaniah (material) yang memiliki ciri dapat dilihat, 

diraba, dan dirasa sehingga lebih konkret atau mudah dipahami. 

(2) kebudayaan rohaniah yang memiliki ciri dapat  dirasa saja.  Oleh 

sebab  itu, kebudayaan rohaniah bersifat lebih abstrak.

Sedangkan Koentjaraningrat menyebutkan paling sedikit ada 

tiga wujud kebudayaan : (1) Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, 

gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. (2) 

Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia 

dalam warga . (3) Sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Sedangkan menurut teorinya Kluckhom (dalam Koentja-

raningrat, 1998) merumuskan kebudayaan itu meliputi sebagai 

berikut: masalah mengenai hakikat hidup manusia, masalah 

mengenai hakikat karya manusia, masalah mengenai hakikat ke-

dudukan manusia dalam ruang waktu, masalah mengenai hakikat 

hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dan masalah mengenai 

hakikat manusia dengan sesamanya.

146 

Kebudayaan memiliki sifat seperti: kebudayaan beraneka 

ragam, kebudayaan dapat diteruskan secara sosial dengan pe-

lajaran, kebudayaan dijabarkan dalam komponen-komponen bio-

logi, psikologi, dan sosiologi, kebudayaan memiliki  struktur, 

kebudayaan memiliki  nilai, kebudayaan memiliki  sifat statis 

maupun dinamis dan kebudayaan dapat dibagi dalam ber macam-

macam bidang atau aspek (Sujarwa, 1999).

Walaupun budaya menunjuk pada pengetahuan yang dimiliki 

oleh setiap orang di dalam warga , pemilikan makna yang sama 

di dalam kehidupan sehari-hari semua orang merupakan suatu 

proses sosial, bukan proses perorangan. Jika kita membayangkan 

suatu warga  manusia, masing-masing individu memiliki  

konseptualisasi sendiri perihal dunia sosial, dan masing-masing 

individu melaksanakan kegiatan-kegiatan rutin dan menafsirkan 

makna atas dasar konseptualisasi realitas yang bersifat pribadi, kita 

tidak akan dapat meraba proses sosial di mana makna yang dimiliki 

bersama diciptakan dan dipertahankan.

Metode

Penelitian yaitu  suatu kegiatan ilmiah dan konsep-konsep 

yang di kembangkan dan sering di diskusikan dalam mengukur 

kadar ilmiah suatu penelitian antara lain yaitu  konsep validitas, 

relia bilitas, dapat di uji dan di ulangnya penelitian (replikasi), serta 

objek tivitas. (Poerwandari dan Kristi, 1998). Antropologi sendiri 

untuk mencapai itu semua melalui tiga tingkatan (Koentjaraningrat, 

1998), yaitu: 

1. Pengumpulan fakta, artinya: pengumpulan fakta-fakta me-

ngenai kejadian, gejala warga  dan kebudayaannya.

2. Penetuan ciri-ciri umum dan sistem, artinya : merupakan ting-

katan cara berpikir manusia untuk menentukan ciri-ciri umum 

dan sistem dalam himpunan warga  fakta yang di kumpul-

kan dalam suatu penelitian.

147Kesenian Tayub (Sindir)

3. Verifikasi, artinya : melakukan proses pengujian dalam 

kenyataan yang telah dirumuskan yang telah di capai dalam 

kenyataan warga  yang hidup. Dan verifikasi dalam 

antropologi ini bersifat kualitatif.

Istilah metodologi yaitu  sebuah metode yang mencakup 

prinsip-prinsip teoritis maupun kerangka pandangan dan berisi 

serta dipakai  dalam pedoman penelitian. Metode menjelaskan 

sesuatu yang lebih sempit, yakni tentang cara dipergunakan peneliti 

untuk mendapat bukti­bukti yang empiris (Poerwandari dan Kristi, 

1998).

Selanjutnya dalam metode dalam penelitian ini menggunakan 

metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif menghasilkan dan 

mengolah data yang bersifat deskriptif, transkripsi wawancara, 

catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan sebagainya. 

Melalui pengertian ini , penelitian dengan pendekatan kualitatif 

memiliki ciri sebagai berikut: (Poerwandari dan Kristi, 1998).

1. Studi dalam situasi alamiah (naturalistic inqury)

2. Analisis induktif

3. Kontak personal langsung peneliti di lapangan

4. Prespektif holistik

5. Prespektif dinamis, prespektif, perkembngan

6. Orientasi pada kasus unik

7. Netralitas empatik

8. Fleksibelitas desain

9. Peneliti sebagai instrument kunci

Beberapa ciri yang disebutkan dalam penelitian kualitatif itu 

semua membuktikan bahwa untuk mendapatkan data yang benar 

akan kefavalitannya. Wawancara juga termasuk dalam salah satu 

bagian dari metode kualitatif yang mana wawancara ini merupkan 

percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan 

148 

tertentu. Wawancara kualitatif ini di lakukan bila peneliti bermaksud 

untuk memperoleh sebuah pengetahuan tentang makna-makna 

subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang di 

teliti, dan bermaksud melakukan ekspolorasi terhadap suatu isu 

ataupun kenyataan ini , suatu hal yang tidak dapat dilakukan 

melalui pendekatan lain.

Hasil 

Kebudayaan yang di observasi oleh observer yaitu  budaya 

Tayub (sindir). Nama lain atau nama populer di warga  pada 

umumnya sering disebut dengan tarian Langen Tayub. Kebudayaan 

ini terbentuk  dari cerita-cerita mbah-mbah kuno secara turun-

temurun ada yang mengatakan sejak dari penyebaran agama islam 

sampai di kota Tuban yaitu zaman Wali Songo “Sunan Bonang” dan 

ada yang mengatakn sejak masa agama hindu­budha (Wawancara 

1, Jumat, 24 Maret 2012, 09.00 WIB). 

Tarian ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dengan 

diiringi gamelan dan tembang jawa dalam sebuah upacara beberapa 

ritual dalam suatu perkumpulan dan sebagai tontonan. (Observasi, 

tanggal 23 maret 2012).

“Gini mbak saya itu dulunya salah satu penabuh dari 

gambangan, saya ikut manggung kemana terus anak-anak saya tak 

suruh ikut menari pada tarian Langen Tayub (sidir) itu soale anak 

saya seneng joged la dari itulah makanya desa ini banyak warenggono 

(sebutan penari dalam tarian ini ) wong zaman dulu kan belum 

mengerti sekolah itu bagaimana jadi ya anak saya biar ikut saya cari 

uang. (Wawancara subyek I, tanggal 27 Mei 2012, 08.34 WIB).

Melalui beberapa wawancara terhadap tiga nara sumber di 

desa Wolutengah ini, narasumber mengatakan bahwa, tarian ini 

dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dengan diiringi musik 

gamelan, slenthem, gong, kenong, peking dan lain­lain dan tembang jawa 

149Kesenian Tayub (Sindir)

dalam sebuah upacara beberapa ritual dalam suatu perkumpulan 

dan sebagai tontonan (Wawancara I, tanggal 27 Mei 2012, 08.34 

WIB).

Rata-rata yang menjadi warenggono (sebutan bagi penari), dan 

para laki­laki yang menjadi pengiring musiknya itu pada awalnya 

sebab  hobi dan senang dengan kesenian langen tayub ini . 

Terus belajar pada seniornya di perkumpulan seni ini . 

(Wawancara 3, tanggal 27 Mei 2012, 09.34 WIB).

“Biasanya kalangan yang nanggap (menyewa jasa) tarian Langen 

Tayub hanya orang-orang yang ekonominya tergolong mampu 

ataupun petani yang memiliki  hewan ternak sapi sebab  harga 

dari keseluruhan prosesi karawitan (seluruh prosesi Langen Tayub) 

pada tahun 1990 biayanya berkisar ± Rp.1.000.000-, dan pada tahun 

2012 ini, jika yang naggap jauh daerahnya sekitar Rp.7.000.000-, 

kalau dekat Rp.3.500.000­, begitu mbak” (Wawancara II, Jumat, 23 

Maret 2012, 10.24 WIB).

Observasi ini peneliti lakukan dengan metode wawancara 

kualitatif agar data yang peroleh ini benar dan peneliti sendiri 

menjadi mengerti secara langsung tentantang kebudyaan Langen 

Tayub (sindir). Akhirnya, peneliti mewawancarai 3 narasumber 

yang dianggap mengerti dan mendalami kebudayaan ini . 

Wawancara 1, wawancara 2, dan wawancara 3, dilakukan di rumah 

masing-masing narasumber, di desa Wolutengah, kecamatan Kerek 

, kabupaten Tuban. 

Kebudayaan Langen tayub (sindir) ini di laksanakan di berbagai 

tempat tidak hanya di sekitar kecamatan Kerek saja, namun di 

berbagai tempat yang naggap tarian ini (Wawancara 2, tanggal 23 

Maret 2012, 09.44 WIB).

Biasanya penari-penari itu berlatih dirumah, dan belajar 

berdandan dan menari bareng (Wawancara 3, 24 Maret 2012, 08.43 

WIB). “Gini mbak sekarang ini, tarian Langen tayub atau tayubsari 

(sindir) ini biasanya diadakan kalau ada mantenan, sunatan, 

150 

ulang tahun, sebagai sarana pemenuhan janji (nadzar), sebagai 

persembahan leluhur, serta sebagai hiburan atau tontonan saja, 

tergantung yang nanggap” (Wawancara 3, tanggal 24 Maret 2012, 

08.23 WIB)

“Langen Tayub (sindir) yang kami kelola di desa Wolutengah 

ini pertunjukannya sehari semalam, ada yang minta mulai siang 

atau dari pagi hingga malam, tergantung permintaan yang naggap 

begitu” (Wawancara 3, tanggal 24 Maret 2012, 08.34 WIB).

“Tarian ini walaupun di adakan dari siang sampai malam 

tidak mengganggu keamanan atau warga  sekitar, mbak. soale 

biasanya sebelum para penanggap itu naggap kita harus izin dari 

kepala desa yang naggap ini  begitu” (Wawancara 3, 24 Maret 

2012,  08.55 WIB).

Peneliti tertarik pada kebudayaan Tarian Langen Tayub 

atau tayubsari (sindir) sebab  pertunjukan tayub yang berawal 

dari sejarah pada jaman dahulu, didalamnya terdapat beberapa 

unsur yaitu tempat upacara, waktu upacara, peserta upacara, 

perlengkapan upacara, maksud dan tujuan upacara, prosesi 

tariannya yang menarik dan tampak unik. Pada zaman modern ini 

masih saja terkenal di kalangan warga  dan bahkan sampai di 

berbagai daerah-daerah luar Tuban. Terdapat pula anak-anak muda 

yang ingin ikut serta menjadi dalam tarian ini .

“Cukup membanggakan mbak, alhamdulillah hingga sekarang 

makin berkembang sebab  Langen tayub ini di kategorikan sebagai 

salah satu wisata khas tuban yang diakui di kantor kebudayaan 

kabupaten tuban secara resmi” (Penjelasan dari bapak damuri 

wawancara 3, 24 Maret 2012, 08.23 WIB­09.15 WIB).

Kehidupan keseharian warga  Tuban dan khususnya desa 

Wolutengah pada umumnya yaitu  baik. Mereka hidup dalam 

lingkungan yang aman, sejahtera, dan makmur. sebab  letak desa 

Wolutengah dekat dengan persawahan dan lahan­lahan kosong 

yang bisa di katakan cukup plosok. Bapak kepala desa Wolutengah 

151Kesenian Tayub (Sindir)

yaitu bapak lasmidi menyampaikan bahwa mayoritas warga  

yang berdomisili di desa Wolutengah bermata pencaharian sebagai 

petani, penggembala hewan ternak, dan pedagang. Setiap hari 

mereka pergi ke sawah untuk bercocok tanam, menggembala 

hewan ternak di sawah­sawah sekitarnya dan ada yang pergi ke 

pasar untuk berdagang, tetapi ada juga yang berwirausaha dirumah 

masing­masing (Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.44 WIB).

Rasa solidaritas dan sosialisasi antar warga yang satu dengan 

yang lainnya juga sangat baik jika semisal didapati tetangga 

yang hajatan, seperti pernikahan, khitanan, membangun rumah, 

selamatan, dan kematian. Mayoritas warga disini masih kental 

dan percaya dengan adat Jawa kuno seperti tarian Langen Tayub, 

penggunaan hari yang baik menurut hitung­hitungan Jawa dalam 

hajatan warga , mengadakan ritual pewayangan bagi yang 

memiliki anak tunggal, dua wanita atau pria dan syarat­syarat yang 

lain untuk pewayangan (Wawancara 2, 23 Maret 2012, 09.44­10.45).

“Kesenian Langen Tayub ini sampai sekarang bisa dikatakan 

sebagai pekerjaan saya dengan istri saya (Bu Wantikah) ini” 

(Wawancara 3, Sabtu, 24 Maret 2012, 08.23 WIB­09.15 WIB).

Realitas budaya di zaman modern ini, walaupun segala sesuatu 

berjalan dengan canggih, namun warga  Jawa termasuk 

warga  Tuban, khusunya desa Wolutengah tidak akan lepas dari 

tradisi dan budayanya. sebab  setiap daerah memiliki  ciri khas 

tersendiri. Desa wolutengah ini memiliki kebudayaan tarian Langen 

Tayub dan hingga sekarang masih di lestarikan oleh penduduk 

Wolutengah setelah saya melakukan wawancara pada narasumber, 

saya mendapatkan informasi akan sejarah tarian ini . 

Kebudayaan ini terbentuk  dari cerita-cerita mbah-mbah kuno 

secara turun-temurun yang mengatakan sejak dari penyebaran 

agama Islam sampai di kota Tuban yaitu zaman Wali singo “Sunan 

Bonang” dan ada yang mengatkan sejak zaman hindu-budha 

(Wawancara 1, Jumat, 24 Maret 2012, 09.00 WIB). 

152 

“Ngeten (begini) mbak, saya itu dulunya salah satu penabuh 

dari gambangan, saya ikut manggung kemana terus anak-anak saya 

tak suruh ikut menari pada tarian Langen Tayub (sidir) itu soale 

anak saya seneng joged la dari itulah makanya desa ini banyak 

warenggono (sebutan penari dalam tarian ini ) wong zaman 

dulu kan belum mengerti sekolah itu bagaimana jadi ya anak saya 

biar ikut saya cari uang (Wawancara I, tanggal 27 Mei 2012, 08.34 

WIB).

“Seingat saya tahuan 1989 saya mulai mengajak anak saya yang 

bernama Darwari untuk mulai ikut saya manggung, pada saat itu 

kira-kira umur 18 tahun, setelah melihat mbaknya di rumah latihan 

menari terus anak saya, Wantikah, ingin ikut pada tahun 1990 kalau 

tidak salah” ( Jumat, 23 Maret 2012, 09.00-09.35 WIB)

“Mulai tahun 1990 sindir Wolutengah ini mulai di kenal di 

berbagai daerah seperti: Nganjuk, Bojonegoro, Ngawi, Blora, 

Lamongan dan tetntunya orang-orang” Tuban (Jumat, 23 Maret 

2012, 09.00-09.35 WIB).

Setelah peneliti selesai wawancara dengan bapak Damuri, 

sore harinya bersama dengan bapak Damuri dan ibu Wantikah, 

peneliti melihat secara langsung bagaimana prosesi tarian Langen 

Tayubwaktu ada tanggapan di desa padasan (observasi tanggal 24 

maret 2012).

Sebelum tarian dimulai biasanya diawali dengan para 

warenggono (sebutan penarinya) berhias diri dan memakai 

perlengkapannya agar bisa tampil anggun, cantik dan menawan 

dengan menggunakan alat-alat kosmetik, selendang, kebaya jarit 

dan udet. Bersamaan dengan itu para pengiring musik menata alat-

alatnya mempersiapkan semuanya dari segi tempat maupun suara 

alat musik ini , alat-alatnya  yaitu ada Slenthem, Gambang, Gong, 

Kenong, Gendang, Gong, Gender, Demung saron dan Pekingl.

153Kesenian Tayub (Sindir)

saat  semuanya sudah siap, akan ada pemandu dari tarian 

itu yang disebut dengan Pramugari dan mulailah tarian dan musik 

dimainkan serta para Warenggono menyinden. Lagu atau tembang 

yang biasa di lantunkan pada saat tarian Langen Tayub ini yaitu  

Sinom, Kinanti, Manggung, Pangkur, Asmarodono dan lagu permintaan 

dari yang nanggap jika ada.

Tarian ini biasnya dilaksanakan sehari semalam, namun kadang 

juga ada yang mulai sore atau siang. Biasanya istirahat jika pada 

saat­saat waktu sholat maghrib dan isya’ baru mulai kembali pukul 

00.00 WIB. Isi sepanjang prosesi Langen Tayub yaitu hanya dengan 

tarian dan tembang, dan saya Lihat sekilas orang laki-laki yang ikut 

menari (beksa) seperti orang yang mabuk (observasi lapangan).

“Sebenarnya tidak ada makna tersendiri dari tarian Langen 

Tayub maupun alat-alat musik yang mengirinya, disimpulakan 

sebagai hiburan warga  saja, sebab  saya  sama istri saya hanya 

sebagai penerus orang tua saja” (Wawancara 3, Sabtu, 24 Maret 

2012, 08.23 WIB-10.00 WIB).

“Keuntungannya dapat menghibur warga , mencari 

kesenangan, dan dapat memenuhi keinginan anak yang naggap” 

(Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.44­10.45 WIB). Kerugianya 

itu warga  ada yang sampai menjual hewan ternak bagi yang 

kurang mampu tapi ingin nanggap karawitan Langen Tayub ini, 

dan kema’siatan juga, sebab  disini juga agamanya semua islam” 

(Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.44­10.45 WIB).

“Namun selain kerugian ada sebagian warga  yang sangat 

seneng dengan sindir ini ya sampai di shooting, katanya sebagai 

hiburan dan melestarikan budaya leluhur” (Wawancara 2, Jumat, 23 

Maret 2012, 09.44-10.45 WIB.

154 

Diskusi

Setelah melakukan observasi di desa Wolutengah kecamatan 

Kerek kabupaten Tuban terkait dengan kebudayaan tarian Langen 

Tayub (sindir). Peneliti menganalisis bahwa dari observasi ini 

didapati sauatu pengetahuan atau informasi yang belum pernah 

diketahui sebelumnya. Peneliti menggunakan metode wawancara 

kualitatif. Terkait dengan metode peneletiti sesuaikan dengan teori: 

Wawancara kualitatif ini di lakukan bila peneliti bermaksud untuk 

memperoleh sebuah pengetahuan tentang makna-makna subjektif 

yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang di teliti, dan 

bermaksud melakukan ekspolorasi terhadap suatu isu ataupun 

kenyataan ini , suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui 

pendekatan lain” (Kristi, 1998). 

Setelah peneliti mendapatkan informasi yang cukup valid dari 

ke tiga narasumber yang dilaksanakan wawancarai sebelumnya, 

didapatkan informasi dari pemaparan bapak Sucipto tentang sejarah 

Langen Tayub: “Kebudayaan ini terbentuk dari cerita-cerita mbah-

mbah kuno secara turun-temurun ada yang mengatakan sejak dari 

penyebaran agama islam sampai di kota Tuban yaitu zaman Wali 

Songo “Sunan Bonang” dan ada yang mengatakn sejak masa agama 

hindu­budha” (Wawancara 1, Jumat, 24 Maret 2012, 09.00 WIB).

Sesuai dengan salah satu teori arti kebudayaan secara khusus 

“Culture is the system of shared beliefs, values, customs, behaviours, 

and artefacts. That the members of society use to cope their world with 

one another, and that are transmitted to generations through learning”, 

yakni kebudayaan yaitu  sistem yang dimiliki bersama anggota-

anggota dari warga  berupa nilai-nilai, tradisi-tradisi, perilaku-

perilaku, dan benda-benda yang dimiliki bersama dan anggota-

anggota dari komunitas untuk mengatasi kehidupan dunia mereka, 

dan mengatasi satu anggota dengan anggota yang lain, semua ini 

ditransmisikan dari generasi ke generasi.

155Kesenian Tayub (Sindir)

Kebudayaan tayub (sindir) ini awal mulanya merupakan turun­

temurun dari nenek moyang terdahulu yang memiliki  nilai 

tersendiri bagi yang bagi pemilik kebudayaan tarian dan Semua 

kebudayaan yaitu  hasil belajar dan bukan warisan biologis. Orang 

mempelajari kebudayaannya dengan menjadi besar didalamnya.

Linton (dalam Setiadi, 2007) menyebut kebudayaan sebagai 

warisan sosial umat manusia. Proses penerusan kebudayaan dari 

generasi yang satu kepada generasi yang lain disebut enkulturasi. 

Melalui sudut pandang teori ini , ada hubungannya dengan 

hasil obsevasi didapatkan bahwa kebudayaan tarian Tayubsari 

(sindir) ini merupakan hasil belajar dan juga sebab  kegemaran, 

seperti yang disampaikan bapak Lasmidi, “Rata-rata yang menjadi 

warenggono (sebutan bagi penari), dan para laki­laki yang mnjadi 

pengiring musiknya itu pada awalnya sebab  hobi dan senang 

dengan kesenian langen tayub ini . Terus belajar pada seniornya 

di perkumpulan seni ini .” (Wawancara II, tanggal 27 Mei 2012, 

09.34 WIB).

Kebudayaan dalam arti luas yaitu  keseluruhan hasil 

perbuatan manusia yang bersumber pada kemauan, pemikiran dan 

perasaannya. Kebudayaan tarian langen Tayub ini berupa kesenian 

daerah, sebab  tarian Langen Tayub (sindir) ini merupakan hasil 

pengetahuan yang turun-temurun, juga terdapat musik, serta 

menjadi suatu kebiasaan warga .

Hal ini sesuai dengan teorinya Tylor (Koentjaraningrat: 1996), 

bahwa budaya merupakan suatu keseluruhan kompleks yang 

meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, 

hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan 

yang didapat oleh manusia sebagai anggota warga . 

Budaya ini awalnya yaitu  sebuah ide ataupun pemikiran 

manusia yang disepakati bersama dan pasti memiliki  luhur 

bagi yang menjalankannya terus menurus hingga menjadi suatu 

kebiasaan atu bahkan menjadi kebudayaan. Ini semua memang 

156 

benr adanya. Kebudayaan dan warga  yaitu  dua konsep yang 

berkaitan erat, dan seorang ahli antropologi harus mempelajari 

kedua­duanya. Jelaslah, bahwa tidak mungkin ada kebudayaan 

tanpa mayarakat, seperti juga tidak mungkin ada warga  tanpa 

individu. Sebaliknya, tidak ada warga  manusia yang dikenal 

yang tidak berbudaya (Kontjaraningrat, 1996)

Semua kebudayaan yaitu  hasil belajar dan bukan warisan 

biologis. Orang mempelajari kebudayaannya dengan menjadi besar 

didalamnya. Ralph Linton menyebut kebudayaan sebagai warisan 

sosial umat manusia. Proses penerusan kebudayaan dari generasi 

yang satu kepada generasi yang lain disebut enkulturasi.

Hampir semua tindakan manusia merupakan kebudayaan, 

sebab  jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan 

berwarga  yang tidak dibiasakannya dengan belajar (yaitu 

tindakan naluri, reflex, atau tindakan­tindakan yang dilakukan akibat 

suatu proses fisiologi, maupun berbagai tindakan membabibuta), 

sangat terbatas.

Setelah peneliti melakukan wawancara kepada tiga narasumber, 

hasil yang diperoleh yaitu  kesamaan pada informasi yang di 

berikan, yakni kebudayaan tarian Tayub manfaatnya tidak ada tapi 

hanya sebagai tontonan hiburan dan kesenangan warga  saja. 

Namun kebudayaan ini ada sisi negatifnya yaitu dapat menjadi 

sebuah kerugian warga  yang mengundang tarian ini yaitu, 

ada yang sampai menjual hewan ternak bagi yang kurang mampu, 

dan tindangakan negative lain yang tidak sesuai dengan agama, 

sebab  mayoritas penduduk Wolutengah yaitu  beragama islam 

(Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.44­10.45 WIB).

Kesimpulan

Kebudayaan yaitu  kompleks keseluruhan yang meliputi 

pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan dan 

157Kesenian Tayub (Sindir)

lain-lain yang diperoleh manusia dari proses belajar, dan semuanya 

tersusun dalam kehidupan warga . 

Kehidupan keseharian warga  Tuban khususnya warga 

desa Wolutengah pada umumnya yaitu  baik. Mereka hidup dalam 

lingkungan yang aman, sejahtera, dan makmur. Sehingga tercipta 

berbagai macam kebudayaan. Salah satunya yaitu tarian Tayub 

(sindir) secara turun-temurun bisa tetap ada samapi sekarang ini. 

Dan tarian Tayub ini  memiliki  sejarah, tujuan, dan makna 

yang berbeda-beda bagi setiap anggota warga . 

Realita budaya warga  Tuban khususnya di Desa Wolu-

tengah bisa disimpulkan masih mencampur adukkan agama 

dengan adat Jawa kuno. Mereka masih percaya dengan adanya per­

dukunan. Selain itu, warga  Tuban juga memiliki  simbol-

simbol budaya seperti bahasa, keris, dan lainnya yang memiliki  

peran dan makna masing-masing.

Khususnya kesenian tarian langen tayub yaitu  merupakan 

simbol kebudayaan desa Wolutengah dari masa Sunan Bonang (se-

bagai wakil Wali Songo yang bertugas menyebarkan agama islam) 

yang dulu sebagai salah satu dakwah melalui hiburan bagi petani 

dan sampai sekarang menjadi tradisi sampai-sampai menjadi sebuah 

mata pencahariaan dari dari sebagian penduduk desa Wolutengah.

warga  harus melestarikan budaya mereka, agar budaya 

ini  tidak punah. sebab  jika tidak, maka jati diri atau ciri khas 

dari suatu daerah ini  akan hilang. 

158 

159Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul

aNak-aNak Suku teNGGer:

memahami maNuSia SeSuai 

kONtekSNYa

Nurul Hasanah

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail: nurul.hasanah.969@yahoo.com

Dewasa ini, topik perkembangan anak dalam sebuah konteks 

kultural telah banyak diinvestigasi secara teoritik maupun empirik. 

Investigasi dari bidang indigenous psychology dan psikologi budaya 

mengatakan bahwa masa kanak­kanak dikonstuksikan secara sosial 

dan historis, bukan sebuah proses universal dengan sekuensi tahap-

tahap perkembangan atau deskripsi-deskripsi standart. Budaya 

(Edwards et al.) dipahami sebagai sesuatu yang terorganisasi dan 

koheren, namun tidak homogen atau statis dan menyadari bahwa 

sistem dinamik kompleks budaya terus menerus mengalami 

transformasi selama para partisipannya (dewasa maupun anak­

anak) mengasosiasikan atau menegoisasikan makna-makna melalui 

interaksi sosial. Negosisasi dan transaksi ini  melahirkan 

heterogenitas dan variabilitas tanpa henti dalam hal bagaimana 

individu-individu atau kelompok-kelompok individu yang berbeda 

menginterpretasikan nilai-nilai dan makna.

160 

Di Indonesia dengan realitas berbagai etnik dan kondisi sosial 

budaya telah melahirkan generasi dengan karakteristik yang unik. 

Salah satunya yaitu  anak-anak Tengger. Anak-anak Tengger 

dibesarkan dan dikembangkan di lingkungan yang kental dengan 

budaya Tengger. Lingkungan turut membentuk bagaimana dan 

kapan mereka matang. Isu sentral anak-anak Tengger khususnya 

di desa Ranupani yaitu  tentang pendidikan. Pendidikan yang 

difasilitasi di daerah mereka hanya sampai Sekolah Dasar, 

disebabkan oleh keterbatasan fasilitas. Anak-anak Tengger yaitu  

anak-anak unik. Meskipun menyadari variasi yang luas dalam 

budaya Tengger, namun dari pengamatan sementara Peneliti, anak-

anak Tengger cenderung ramah dengan tamu yang datang di daerah 

mereka, suka membantu, dan patuh dengan orang tua. Selain itu 

juga taat beribadah, sangat patuh menjalankan adat-istiadat, jujur, 

dan rajinbekerja.

Mereka hidup sederhana, tenteram, dan damai. Nyaris tanpa 

adanya keonaran, kekacauan, pertengkaran maupun pencurian. 

Suka bergotong royong dengan didukung oleh sikap toleransi yang 

tinggi, disertai sesuatu yang khas, sebab  senantiasa mengenakan 

kain sarung kemanapun mereka pergi. Tidak terbatas laki-laki, 

namun wanitapun juga, yang dewasa maupun anak­anak, semua 

berkain sarung. warga  Tengger masih percaya dengan dengan 

roh halus, benda-benda gaib, tempat-tempat keramat serta berbagai 

mitos. Pengalaman afektif ini  meresonansi makna kultural 

dari budaya Tengger. Meskipun keadaan perasaan di tingkat fisik 

dan biologis mungkin memang universal, makna pengalaman 

afektifnya bisa bersifat spesifik­budaya dan harus diinterpretasi 

dalam konteks sosio-kulturalnya. 

Masa anak-anak yaitu  bagian terpenting dalam perjalanan 

hidup manusia. Pada masa anak-anak manusia masih sangat mudah 

terpengaruh lingkungan. Pengalaman di masa kecil akan senantiasa 

melekat dalam perilaku manusia di kala dewasa. Para pakar 

161Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul

bidang kesehatan dan Psikologi menyatakan bahwa masa anak­

anak merupakan masa yang paling kritis dalam sejarah kehidupan 

selanjutnya menuju gerbang kedewasaan saat  manusia sudah 

memiliki jati dirinya. Anak yaitu  Anugrah. Semua pasangan secara 

fitrahnya sangat mendambakan anugrah ini. Anak dalam keluarga 

merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya. Anak menjadi 

penyejuk saat  orang tua sedang mengalami kegelisahan dan anak 

juga membuat orang tua bergairah mengarungi bahtera kehidupan 

yang penuh tantangan. Anak juga sebagai amanah Allah Swt, yang 

diberikan kepada orang tua, warga  dan bangsa. Nasib dan 

masa depan bangsa di kemudian hari, ditentukan oleh kondisi anak 

bangsa hari ini. 

Anak pada masa sekarang yaitu  cerminan kehidupan pada 

masa depan sebab  di tangan merekalah pada akhirnya corak 

kehidupan di masa depan akan ditentukan. Anak dilahirkan 

dengan membawa segala keberuntungan sesuai dengan zamannya 

sendiri. Untuk menentukan masa depannya tentunya anak-anak 

akan menghadapi berbagai permasalahan sesuai dengan kondisi 

kehidupan yang terus berkembang. Tantangan-tantangan hidup 

yang akan dihadapi oleh anak-anak tidaklah sama dengan berbagai 

tantangan yang pernah dihadapi oleh generasi sebelumnya. Mereka 

akan menghadapi tantangan hidup lebih keras dan kompleks. Anak-

anak memerlukan kesiapan yang lebih kompleks dan bangunan 

karakter yang kuat dalam dirinya sebagai salah satu pengontrol 

dari serbuan budaya baru yang makin bergejolak dan kerusakan 

moral yang makin mencemaskan. 

Pembentukan karakter semakin hari semakin menjadi 

perbincangan. Wacana tentang perubahan warga  yang 

mengarah pada degradasi perilaku sering didiskusikan. Banyak 

remaja yang terlibat aksi tawuran hanya disebab kan alasan­

alasan sederhana, seperti seks pra nikah. Selain itu, korupsi juga 

telah mengakar di seluruh lembaga mulai dari tingkat terkecil 

162 

hingga yang terbesar. Kerusakan moral kini bukan hanya terjadi di 

kalangan birokrasi pemerintahan dan aparat penegak hukum, tetapi 

juga sudah meracuni warga . Pelanggaran moral menyebar 

di berbagai lapisan warga . Sebagai contoh, Komisi Anak 

mencatat, kasus kekerasan terhadap anak yng dilakukan berbagai 

lapisan warga  cenderung meningkat setiap tahun. Jika tahun 

2008 tercatat 1.736 kasus di sejumlah daerah di Tanah Air, tahun 2009 

meningkat menjadi 1.998 kasus. Kasus yang menimpa anak-anak 

ini , sekitar 62,7 persen di antaranya merupakan kekerasan 

seksual. Kronisnya lagi, terkikisnya moral baik ini meracuni dunia 

pendidikan yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir 

karakter bangsa. 

Imam Al­Ghazali menyampaikan bahwa karakter merupakan 

sifat yang tertanam di dalam jiwa dan dengan sifat itu seseorang 

secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan 

dan perbuatan. Menurut bahasa (Singh dan Agwan, 2000), 

karakter yaitu  tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli 

psikologi, karakter yaitu  sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan 

yang mengarahkan tindakan seorang individu. sebab  itu, jika 

pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, 

maka dapat diketahui pula bagaimana individu ini  akan 

bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.

Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak 

tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan 

sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran sebab  

sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya 

dapat disebut dengan kebiasaan. Sinonim dari kata Karakter 

yaitu  etika, moral dan akhlak. Membangun karakter sangat 

penting dalam meningkatkan harga diri anak-anak. Bagaimana 

anak­anak mendefinisikan dan melihat diri mereka dimulai sejak 

awal kehidupan. Pada masa anak­anak, mereka sensitif tentang 

cara orang lain melihat mereka dan akibatnya bagaimana mereka 

163Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul

memandang diri mereka. Penelitian ini akan melihat pembentukan 

karakter anak-anak Tengger dalam mengembangkan kesadaran diri 

mereka yang positif. sebab  di era global dan perkembangan iptek, 

karakter semakin penting. Di Abad 21 ini, karakter merupakan 

komponen penting. Keterampilan kelangsungan hidup untuk 

generasi baru akan lebih menekankan pada karakter. 

Jika dikaitkan pembangunan karakter, maka hubungan antara 

moralitas dan indigenous psychology perlu ditelaah. Penelitian ini 

tidak hanya menjalankan sebuah fungsi analitik (yang menjawab 

pertanyaan “Apakah budaya itu?”), namun memperlakukan budaya 

sebagai karakterristik sebuah kelompok. Dipostulasikan bahwa 

konseptualisasi budaya sebagai entitas yang lebih kurang homogen 

ini memiliki implikasi moral. Menurut antropolog psikologis 

fungsionalis (Edwards & Whiting, 2004; Gallimore, Goldenberg, 

& Weisner, 1993), proses-proses (kultural) yang sama ada di 

seputar anak yang sedang berkembang dan dalam jangka panjang 

mendukung kelangsungan hidup keluarga dan kelompok jika 

mereka menunjukkan kontinuitas saat  menghadapi perubahan 

ekologis dan persaingan sumber daya. Seperti yang dikatakan oleh 

LeVine dan rekan­rekan sejawatnya (1994: 12): 

Sebuah populasi cenderung berbagi lingkungan, sistem-sistem 

simbol untuk mengodenya, dan organisasi serta kode etik untuk 

beradaptasi dengannya (penekanan ditambahkan). Melalui kode-

etik spesifik-populasi dalam praktik-praktik yang diorganisasikan 

secara lokal inilah adaptasi manusia terjadi. Dengan kata lain, 

adaptasi manusia, sebagian besar dapat diatribusikan pada 

bekerjanya organisasi-organisasi sosial tertentu (misalnya, 

keluarga, warga , kerajaan) yang mengikuti skrip-skrip yang 

dipreskripsikan secara kultural (model-model normatif) dalam 

subsistensi, reproduksi, dan ranah-ranah lainnya (komunikasi 

dan regulasi sosial). 

164 

Jadi, dalam upaya memahami perkembangan anak dalam 

sebuah konteks kulturallah para pakar psikologi perlu mendukung 

ilmu perkembangan yang kolaboratif dan interdisipliner, yang 

melintasi batas-batas internasional. Di setiap periode umur masa 

kanak­kanak (Whiting & Edwards, 1988) gaya companionship 

normatif yang sangat berbeda muncul dan dipengaruhi oleh konteks 

di sekitarnya.

Indigenous and Cultural Psychology: Memahami Orang 

dalam Konteksnya 

Indigenous Psychology yaitu  bidang psikologi yang 

ebrusaha memperluas batas dan substansi psikologi umum. 

Meskipun indigenous psychology maupun psikologi umum 

berusaha mengungkapkan fakta­fakta universal, tetapi titik awal 

penelitiannya berbeda. Psikologi umum (Koch & Leary, 1985) 

berusaha menemukan prinsip-prinsip yang terkondekstual, 

mekanis, universal, dan berasumsi bahwa teori­teori psikologi saat 

ini bersifat universal. Akan tetapi indigenous psychology (Kim & 

Berry, 1993; Yang, 2000) mempertanyakan universalitas teori­teori 

psikologi yang sudah ada dan upaya-upaya untuk menemukan 

psychologycal universals dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis. 

Indigenous psychology mempresentasikan sebuah pendekatan yang 

konteks (keluarga, sosial, kultural, dan ekologis) isinya (yakni 

makna, nilai, dan keyakinan) secara eksplisit dimasukkan ke dalam 

desain penelitian. 

Kim dan Berry (1993: 2) mendefinisikan indigenous psychology 

sebagai “the study of human behavior or mind that is native that is not 

transported from other regions, and that is designed for its people”, yakni 

kajian ilmiah tentang perilaku atau pikiran 


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH