tidak hanya tubuh dan
keadaan psikisnya, melainkan juga tentang anak-istri, rumah,
pekerjaan, nenek moyang, teman-teman, milik, dan uangnya. Jika
semua bagus, diri akan merasa senang dan bangga. Akan tetapi jika
ada yang kurang baik, rusak, hilang, diri akan merasakan putus asa,
kecewa dan lainlain (Sobur, 2003).
Diri sebagai “diri cermin” atau “looking-glass self”, sebab
seakan-akan seorang melihat dirinya sendiri dalam cermin (Cooley
dalam Sarwono, 1997). Sedangkan William James menamakan diri
cermin itu sebagai “diri publik” atau “public self’. Menurut James, ada
dua jenis diri, yaitu “diri” dan “aku”. Diri yaitu aku sebagaimana
125Model Konsep Diri ... ~ Mela
dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai objek (objective self),
sedangkan aku yaitu inti dari diri aktif, mengamati, berpikir, dan
berkehendak (subjektive self).
Diri dapat pula diartikan sebagai keyakinan yang kita pegang
tentang diri kita sendiri. Kandungan dari keyakinan itu dinamakan
konsep diri atau self-concept. Adapun penilaian kita tentang diri
kita atau hasil evaluasi tentang diri kita sendiri disebut dengan self-
esteem (penghargaan diri).
Para psikolog sosial, khususnya psikologi sosial yang
berorientasi pada sosiologi, konsep diri dikembangkan oleh Charles
Horton Cooley (1864-1929), George Herbert Mead (1863-1931), dan
memuncak pada aliran interaksi simbolis, yang tokoh terkemukanya
yaitu Herbert Blumer. Dikalangan para psikologi sosial, yakni
psikologi sosial yang berorientasi pada psikologi, konsep diri
tenggelam saat behaviorisme berkuasa. Pada tahun 1943, Gordon
W. Allport menghidupkan kembali konsep diri. Pada teori motivasi
Abraham Maslow (19671970) dan Carl Rogers (1970), konsep diri
muncul sebagai tema utama psikologi Humanistik (Sobur, 2003).
Menurut Rogers, konsep diri diartikan sebagai bagian sadar
dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, yaitu
“aku” yang merupakan pusat dari referensi pengalaman. Konsep
diri merupakan kesadaran batin yang berhubungan dengan dan
membedakan “aku” dari yang bukan “aku”. Secara umum, konsep
diri dapat diartikan sebagai semua persepsi kita terhadap aspek diri
yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang
didasarkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.
Adapun hal-hal yang berhubungan dengan pembentukan
konsep diri dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
126
INTERNAL
• Independent Self
Pemahaman tentang diri
sebagai diri yang kaku,
utuh dan terpisah dari
konteks sosial
• Self-Perception Theory
Ide bahwa orang
terkadang menyimpulkan
sikap mereka sendiri
berdasar perilaku
yang kelihatan, bukan dari
keadaan internalnya
• Self-schemas
Bagaimana orang
berpikir tentang kualitas
personalnya dalam domain
kehidupan tertentu
• Possible Self
Skema orang tentang akan
seperti apa mereka kelak di
masa depan
• Ideal Self
Atribut personal yang ingin
dimiliki orang
• Ought Self
Atribut personal yang
diyakini seharusnya
dimiliki orang
• Self-Regulation
Cara orang mengontrol dan
mengarahkan tindakannya
Cybernatic Theory of
Self-Regulation
Orang
membandingkan
peri lakunya dengan
standar, me nentukan
apakah sesuai
standar atau tidak,
dan melakukan
penyesuaian sampai
sesuai standar atau
justru mengabaikan
standar
Self-Verivication
Mencari tahu dan
menginterpretasikan
situasi yang mengkon-
firmasikan konsep diri
seseorang
Self-Handicapping
Melakukan tindakan
yang menimbulkan
rintangan untuk
meraih kesuksesan,
sehingga kegagalan
dapat diatribusikan
kepada rintangan itu
EKTERNAL
• Interdependent Self
Pemahaman tentang
diri sebagai diri yang
fleksibel, variabel, dan
terkait dengan konteks
sosial
• Socialization
Bagaimana seorang
mendapatkan aturan,
standar, dan nilai-
nilai keluarganya,
kelompoknya, dan
kulturnya
• Reflected Appraisals
Evaluasi diri berdasar
persepsi dan evaluasi
dari orang lain
• Social Comparison
Tindakan
membandingkan
kemampuan, opini, atau
opini dengan orang lain
• Social Identity
Bagian dari konsep diri
individu yang berasal
dari keanggotaannya
dalam kelompok sosial
• Ethnic Identity
Pengetahuan diri
individu yang
berhubungan dengan
keanggotaan dalam
kelompok etnis tertentu
127Model Konsep Diri ... ~ Mela
• Self-Complexity
Jumlah dimensi yang
dipakai orang untuk
memikirkan dirinya sendiri
• Self-Efficacy
Ekspektasi khusus
tentang kemampuan kita
melakukan tugas tertentu
• Private-Self
Conciousness
Tendensi untuk fokus pada
diri internal
• Self-Enchacement
Kebutuhan untuk
menganut pandangan
positif tentang diri sendiri
• Self-Affirmation
Dalam mengatasi
ancaman spesifik terhadap
harga dirinya, orang
mengafirmasikan ulang
aspek-aspek yang terkait
dengan dirinya
• Self-Presentation
Usaha sengaja bertindak
dengan cara tertentu untuk
menciptakan kesan khusus
tentang diri
• Self-Discrepancies
Diskrepansi antara diri
kita yang sesungguhnya,
yang ideal dengan
bagaimana yang
seharusnya menurut
orang lain
• Working Self-
Concept
Aspek dalam diri yang
menonjol dalam situasi
tertentu
• Self Awarness
Merasakan diri sebagai
objek dari orang lain
• Public Self
Conciousness
Tendensi untuk
memerhatikan
bagaimana orang tampil
di hadapan orang lain
• Self-Evaluation
Maintance Theory
Bereaksi terhadap
kesuksesan orang
lain dengan merasa
ikut bangga atau ikut
kecewa dan kemudian
memulihkan perasaan
dirinya
• Social Comparison
Theory
Ide bahwa orang ingin
mengevaluasi dirinya
melalui perbandingan
dengan orang lain
128
• Downward Social
Comparisons
Membandingkan ciri
atau kemampuan diri
dengan kemampuan
orang lain yang lebih
buruk
• Upward Social
Comparisons
Membandingkan ciri
atau kemampuan diri
dengan kemampuan
orang lain yang lebih
baik
• Related-Attributes
Simillarity
Kemiripan denganorang
lain pada atribut yang
berhubungan dengan
atribut sasaran, seperti
latar belakang atau per-
siapan
• Self-Promotion
Menyampaikan
informasi tentang diri
sendiri yang positif
kepada orang lain
• Ingratiation
Memuji orang lain agar
orang lain menyukai kita
Pemahaman diri (sense of self) atau sering disebut sebagai konsep
diri (self-concept) merupakan merupakan pemahaman tentang diri
atau ide tentang diri sendiri (Seifert & Hoffnung, 1994).
Sebenarnya, konsep diri itu terbentuk berdasar persepsi
seseorang tentang sikap orang lain terhadap dirinya. Pada seorang
129Model Konsep Diri ... ~ Mela
anak, diri mulai belajar, berpikir, dan merasakan dirinya seperti apa
yang telah ditentukan orang lain dalam lingkungannya (Sobur, 2003).
Itu sebabnya pembentukan konsep diri lebih banyak dipengaruhi
faktor eksternal dari pada faktor internal seseorang.
Konsep diri juga berhubungan dengan perkembangan
individuasi dan identitas remaja. Perkembangan identitas selama
remaja sangat penting, sebab memberikan suatu landasan bagi per-
kembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa
(Jones & Hartmann, 1988). Menurut Josselson (1980 dalam Seifert &
Hoffnung, 1994), proses pencarian identitas merupakan proses di
mana individu mengembangkan suatu identitas personal atau sense
of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain, dan hal
ini disebut dengan individuasi.
Konsep diri terbentuk dalam waktu yang relatif lama, dan pem
bentukan ini tidak bisa diartikan bahwa reaksi yang tidak biasa dari
se seorang dapat mengubah konsep diri.
Penggetahuan tentang diri berasal dari banyak sumber, dan
konsep diri pada dasarnya tersusun dari berbagai tahapan. Taha-
pan yang paling dasar yaitu konsep diri primer, yaitu konsep diri
yang terbentuk atas dasar pengalamnnya terhadap lingkungan ter-
dekatnya, yaitu lingkungan rumahnya sendiri yang kemudian di-
per dalam dengan pengalaman-pengalaman yang didapatkan dari
ling kungan maupun dari kelompok sosial di mana diri tinggal.
Secara umum, pengetahuan tentang diri bersumber dari hal-
hal berikut ini:
1. Sosialisasi
Keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama seorang
individu. Sosialisasi merupakan proses bagaimana seseorang
men dapatkan aturan, standar dan nilai-nilai keluarganya,
kelompok nya dan kulturnya. Sosialisasi membentuk inti
pengalaman awal kita, dan frekuensi ini yang akhirnya di
internalisasi sebagai aspek penting dari konsep diri.
130
2. Penilaian yang Direfleksikan
“Looking-glass concept” merupakan konsep yang di-
kembang kan oleh C.H Cooley (1902), yakni bahwa orang
memandang diri mereka sebagaimana orang memandang
dan merespons mereka (Leary et.al., 2003). Adapun persepsi
yang direfleksikan atau reflected appraisals yaitu persepsi kita
tentang bagaimana orang berinteraksi terhadap kita.
3. Tanggapan dari Orang Lain
Orang terkadang memberi tanggapan yang tegas tentang
kualitas diri kita, dan proses ini sering dimulai dalam sosialisasi.
Riset menunjukkan bahwa secara keseluruhan, orang lebih
menyukai tanggapan atau umpan balik yang objektif tentang
atribut personal mereka (Festinger, 1954), sebab tanggapan
yang objektif dianggap lebih fair dari pada tanggapan berupa
opini personal.
4. Persepsi Diri
Self-perception Theory atau teori persepsi diri dari Dariel Bem
(1967, 1972) menyatakan bahwa terkadang orang menyimpul
kan sikap mereka sendiri berdasar perilaku mereka yang
ke lihatan, bukan dari keadaan internalnya.
5. Melabeli Keadaan yang Membangkitkan
Untuk menyimpulkan keadaan dan kualitas personal,
individu tekadang menyimpulkan dari petunjuk fisiologis.
Stanley Schachter (1964) menunjukkan bahwa persepsi emoi
kita bergantung pada dua hal, yakni (1) tingkat kebangkitan
atau arousal fisiologis kita, dan (2) label kognitif yang kita
gunakan, seperti marah atau sedih.
6. Kekhasan Lingkungan
saat kita berada dalam suatu kelompok yang anggotanya
memiliki banyak kesamaan dengan kita, maka kita cenderung
memandang diri kita dalam term identitas personal, yakni karak-
131Model Konsep Diri ... ~ Mela
teristik yang membedakan kita dari orang lain yang banyak ke-
miripannya dengan kita itu. Kita cenderung memandang diri
kita dalam term keanggotaan kategori (Turner, Oakes, Haslam
& McGarty, 1994) dan tendensi ini khususnya berlaku untuk
orang dari kultur yang menghargai nilai-nilai hubungan dengan
orang lain, seperti di Asia (Kanagawa, Cross, & Markus, 2001).
7. Penilaian Diri Komparatif
Untuk mengevaluasi dimensi dan kualitas diri tertentu,
terkadang individu membandingakan kemampuan, opini,
atau emosi dengan orang lain, dan hal ini disebut dengan social
comparison (perbandinggan sosial).
8. Identitas Sosial
Social identity atau identitas sosial merupakan bagian dari
konsep diri individu yang berasal dari keanggotaanya dalam
suatu kelompok sosial dan nilai serta signifiknsi dari emosional
yang ada dilekatkan dalam keanggotaan itu (Tajfel, 1981).
9. Kultur dan Diri
Riset lintaskultural menunjukkan bahwa konsep diri itu
bervariasi, tergantung pada kultur seseorang (Rhee, Uleman,
Lee & Roman, 1995; Triandis, McCusker, & Hui, 1990).
Menurut De Vito (1997), jika manusia harus mendaftarkan ber-
bagai kualitas yang ingin kita miliki, kesadaran diri pasti menempati
prio ritas tertinggi. Kemudian, manusia menegaskan bahwa dari
semua komponen tindak komunikasi, yang paling penting yaitu
diri (self).
Self-regulation atau regulasi diri yaitu cara bagaimana indi-
vidu mengontrol dan mengrahkan tindakan diri mereka. Seorang
indi vidu memiliki banyak informasi tentang dirinya sendiri
seperti karakteristik pesonal, keinginan serta konsep masa depan
mereka. Mereka merumuskan tujuan untuk mengejarnya, serta
menggunakan keahlian sosial dan regulasi diri.
132
Adapun mengenai motivasi dan diri mumnya, individu mencari
konsep diri yang akurat, stabil, positif, serta mencari situasi yang
membantu pencarian itu.
Salah satu strategi seorang individu untuk mengetahui
seberapa besar kualitas atau kemampuannya yaitu dengan
membandingakan dirinya dengan orang lain. Proses perbandingan
sosial mempengaruhi banyak aspek kehidupan sosial dan setiap
situasi boleh jadi menimbulkan perbandingan sosial (Staple &
Tesser, 2001). Social comparison theory (teori perbandingan sosial)
Leon Festinger (1954), menyatakan bahwa orang termotivasi untuk
membuat penilaian yang akurat terhadap level kemampuan dan
sikap mereka sendiri. Adapun terori perbandingan Festinger dapat
diringkas sebagai berikut:
1. Orang memiliki dorongan (hasrat) untuk mengevaluasi opini
dan kemampuannya secara akurat.
2. sebab tidak ada standar fisik langsung, orang mengevaluasi
dirinya dengan membandingkan dirinya dengan orang lain.
3. Secara umum, orang cenderung membandingkan dirinya
dengan orang yang setara atau mirip dengan dirinya.
Metode
Penelitian dilakukan di lingkungan UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang sebab subjek merupakan mahasiswi Biologi asal
Sampang, Madura yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar
kampus. berdasar latar belakang permasalahan, maka peneliti
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat
beragam disseuaikan dengan masalah, hal ini sesuai dengan sifat
penelitian kualitatif yang terbuka dan luwes. Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan teknik wawancara dan observasi.
133Model Konsep Diri ... ~ Mela
Hasil
Subjek yaitu perempuan berusia 20 tahun yang berasal dari
Sampang Madura yang sekarang berdomisili di Malang. Subjek
mendeskripsikan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebab di
tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswi semester 5 jurusan
Biologi, subjek mampu menjalani part time jobs atau bekerja paruh
waktu di tempat Laundry. Subjek mengaku sebagai individu yang
mandiri sebab telah mampu bekerja sambil kuliah kendati orang
tuanya tidak tahu bahwa subjek telah bekerja paruh waktu saat ini.
Alasan kenapa subjek kuliah sambil bekerja yaitu sebab subjek
hanya ingin menjadi individu yang mandiri.
Seperti halnya individu pada umumnya, subjek pernah mem-
bandingkan dirinya dengan orang lain. Artinya, sebagai orang yang
berasal dari Madura dan tinggal bersama orang-orang yang mayo-
ritas berasal dari Jawa Timur pula, subjek pernah mem bandingkan
dirinya dengan teman kontrakannya yang berasal dari daerah lain,
salah satunya dari Blitar. Subjek mengaku ada sedikit perbedaan
cara berperilaku antara orang Madura dengan orang Blitar,
misalnya dalam hal mengekspresikan emosi. Ia berpendapat bahwa
“orang Madura memang terkenal keras dalam hal tutur bahasa dan
ber perilaku, dan memang mayoritas seperti itu”, tuturnya. Namun
subjek tidak sering membandingkan dirinya dengan teman dari
lain daerah sebab subjek menganggap dirinya sebagai “Aku yang
mandiri”, artinya bahwa dirinya saat ini bukan hasil dari pengaruh
kebudayaan daerahnya yang mempengaruhi pem bentukan konsep
dirinya, tetapi lebih pada proses di mana subjek telah menemukan
identitas pribadinya sendiri. Akan tetapi, ideal nya sebagai seorang
yang berasal dari Madura, subjek ber pandangan bahwa basic agama
sangatlah penting ditanamkan dalam setiap jenjang pendidikan.
“Dunia pesantren menjadi sesuatu yang tidak asing bagi orang-
orang Madura meskipun sekarang telah terjadi cukup banyak
perubahan terhadap konsep itu”, tuturnya.
134
Subjek mengatakan bahwa sebagian besar orang dari daerah
asalnya berprofesi sebagai guru dan banyak juga yang menjadi bidan
sebab sekolah-sekolah kebidanan mulai banyak bermunculan di
sana. Subjek memiliki cita-cita ingin menjadi seorang guru seperti
mayoritas orang yang ada di daerahnya (wawancara subjek 1, 13
Oktober 2012).
Diskusi
Subjek berasal dari Sampang, Madura yang memiliki latar
belakang pendidikan agama. Dunia pesantren menjadi sesuatu
yang tidak asing baginya sebab sejak kecil anak-anak di sana
telah dikenalkan dan dididik di lingkungan pesantren. Mayoritas
penduduk tempat subjek berasal berprofesi sebagai seorang guru
dan tenaga kesehatan, sebab sekolah kebidanan telah banyak
bermunculan di sana.
Subjek yaitu perempuan berusia 20 tahun yang mengaku
telah menjadi pribadi yang mandiri, sebab di tengah kesibukannya
sebagai seorang mahasiswi, subjek telah mampu membagi waktunya
untuk belajar sekaligus bekerja paruh waktu dan telah mampu
menghasilkan uang sendiri. Motivasi untuk menjadi pribadi yang
mandiri berasal dari dirinya sendiri, di mana subjek tidak mau
selamanya bergantung atau hanya mengandalkan pemberian orang
tua, tetapi subjek ingin bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dari
hasil keringatnya sendiri, sebab subjek mengaku bahwa orang
tuanya tidak mengetahui perihal subjek telah kuliah sambil bekerja
paruh waktu.
Hal ini sesuai dengan konsep Motivasi dan Diri, di mana
subjek terdorong untuk mencari konsep yang akurat, stabil, dan
positif serta mencari situasi yang membantu pencarian itu. Subjek
ingin menjadi pribadi yang mandiri, yang dapat memenuhi
kebutuhan pribadinya sendiri, maka subjek mencari pekerjaan
135Model Konsep Diri ... ~ Mela
paruh waktu di samping subjek masih harus mejalani aktivitasnya
sebagai seorang mahasiswi semester 5. Selain itu, subjek yang telah
bekerja paruh waktu pada usia 20 tahun juga sesuai dengan konsep
Perkembangan Dewasa Awal atau masa muda, di mana kriteria
utama untuk menunjukkan akhir masa remaja dan memasuki masa
dewasa awal yaitu kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam
membuat keputusan.
Kemandirian ekonomi dan terlepas dari orang tua pada masa
dewasa awal ini berlangsung bertahap. Masa muda (youth) diartikan
oleh ahli sosiologi Kenneth Kenniston sebagai periode transisi antara
masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan
kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Pendeskripsian
subjek tentang dirinya sebagai seorang perempuan berusia 20 tahun,
berasal dari Sampang Madura, mahasiswi jurusan Biologi semester
lima serta bekerja paruh waktu sesuai dengan salah satu aspek diri
yakni Self-Complexity, di mana beberapa orang memandang diri
mereka dengan satu atau dua cara yang mendominasi, sedangkan
yang lainnya memandang dirinya berdasar berbagai macam
kualitas (Linville, 1985; Woolfolk, Novalany, Gara, Allen, & Polino,
1995)
Tinggal di kontrakan bersama orang-orang dari lain
daerah membuatnya pernah beberapa kali (namun tidak sering)
membandingan dirinya dengan teman satu rumahnya. Subjek
berpendapat bahwa terdapat beberapa perbedaan antara dirinya
dengan teman dari lain daerah dalam beberapa hal, misalnya dalam
hal tutur bahasa dan berperilaku. Subjek mengaku bahwa orang
Madura terkenal keras dalam berbicara dan dalam mengekspresikan
emosinya terutama emosi marah. Subjek juga mengaku bahwa
dirinya saat ini yaitu “Aku yang mandiri”, artinya dirinya
bukan merupakan hasil dari pengaruh budayanya, subjek telah
menemukan konsep dirinya sendiri secara mandiri.
136
Subjek juga berpendapat bahwa sebagai orang Madura,
idealnya individu harus memiliki basic agama dalam setiap jenjang
pendidikannya. Proses subjek membandingkan dirinya dengan
teman dari lain daerah sesuai dengan Social Comparison Theory,
yakni individu ingin mengevaluasi diri melalui perbandingan
dengan orang lain (Festinger, 1954). Sedangkan pengakuan subjek
sebagai individu yang mandiri atau “Aku yang mandiri” sesuai
dengan konsep independent self, artinya bahwa Ia memahami dirinya
sebagai individu yang kaku, utuh dan terpisah dari pengaruh sosial
tempat tinggalnya. Selain itu, hal ini juga sesuai dengan konsep
subjective self dari William James, yaitu aku yaitu hasil atau inti
dari diri yang aktif, mengamati, berpikir, dan berkehendak.
Adapun perbedaan yang subjek temukan antara dirinya
dengan temannya yang berasal dari lain daerah terkait dengan cara
mengekspresikan emosi marah, hal ini berhubungan dengan masalah
self-regulation atau regulasi diri masing-masing individu. Self-
regulation mengacu pada cara individu mengatur dan mengontrol
pemikiran, emosi, dan tindakan mereka dalam situasi sosial.
Hal yang dilakukan subjek juga sesuai dengan Cybernatic
Theory of Self-Regulation, yakni individu membandingkan
perilakunya dengan standar, menentukan apakah sesuai standar
atau tidak, dan melakukan penyesuaian sampai sesuai standar atau
justru mengabaikan standar (Carver & Scheier, 1998).
Pendapat subjek yang menyatakan bahwa untuk menjadi
seorang yang berasal dari Madura yang ideal, maka ia harus
memliki basic agama di setiap jenjang pendidikannya, hal ini sesuai
dengan konsep ideal self atau diri yang ideal, yakni merupakan
atribut personal yang ingin dimiliki seseorang. Selain itu, hal ini
juga berhubungan dengan ought self, yakni atribut personal yang
diyakini seharusnya dimiliki seseorang.
Pernyataan subjek yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru
sebab mayoritas orang dari daerahnya memiliki profesi yang sama
137Model Konsep Diri ... ~ Mela
yakni menjadi guru, hal itu sesuai dengan konsep possible selves
atau diri yang mungkin, yaitu skema orang mengenai akan seperti
apa diri mereka kelak di masa depan, dan orang memandang masa
depan dirinya terutama dari segi yang baik-baik saja (Markus &
Nurius, 1986).
Kesimpulan
berdasar penelitian, maka dapat disimpulkn beberapa hal
sebagai berikut :
1. Subjek memiliki konsep motivasi diri yang akurat sehingga
menjadikannya seorang yang mandiri.
2. Subjek yang berasal dari Sampang, Madura melakukan per-
bandingan diri atau self-comparison dengan temannya yang
berasal dari lain daerah.
3. Subjek menerapkan independent-self yakni dengan menjadi
pribadi yang utuh dan tidak terpenggaruh dengan lingkungan
sosial tempat tinggalnya.
4. Subjek memiliki konsep diri yang ideal-self sesuai dengan
daerah asalnya.
138
139Kesenian Tayub (Sindir)
keSeNiaN taYuB (SiNDir)
(StuDi kaSuS Di DeSa wOLuteNGah kecamataN
kerek kaBupateN tuBaN)
Naila Alfin Najah
Mahasiswi Fakultas Psikologi
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Mukadimah
Setiap daerah pastinya memiliki kebudayaan sendiri-sendiri
yang meliputi kesenian, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan
atau karya lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai
anggota suatu warga . Misalnya: tarian daerah, alat-alat yang
paling sederhana seperti asesoris perhiasan tangan, leher dan
telinga, alat rumah tangga, pakaian, sistem komputer, non materil
yaitu unsur-unsur yang di maksudkan dalam konsep norma-
norma, nilai-nilai, kepercayaan atau keyakinan serta bahasa.
Norma itu sangat terkait dengan kebudayaan dalam
warga . Para ahli ilmu budaya sering mengartikan norma
sebagai tingkah laku. Dimana tingkah laku khusus atau yang selalu
dilakukan berulang-ulang. Begitu pula kebudayaan di Indonesia
yang sangat beragam dan itu semua merupakan ciri khas dari
negara Indonesia yang kaya akan kebudayaan. Masing-masing
kebudayaan ini memiliki nilai.
140
Nilai yaitu konsep-konsep abstrak yang dimiliki oleh setiap
individu tentang apa yang dianggap baik atau buruk, benar atau
salah, patut atau tidak patut. Unsur penting kebudayaan berikutnya
yaitu kepercayaan atau keyakinan yang merupakan konsep
manusia tentang segala sesuatu di sekelilingnya. Jadi kepercayaan
atau keyakinan itu menyangkut gagasan manusia tentang individu,
orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi, fisik,
sosial, dan spiritual.
Beberapa unsur di atas dan keberagaman budaya-budaya,
peneliti tertarik untuk mengangkat budaya-budaya yang di dalam-
nya terdapat ide atau karya sekaligus suatu adat. Tayub atau tayuban
yaitu kesenian tradisional khas suku Jawa, khususnya Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Hampir disemua daerah di kawasan Jawa
mengenal kesenian tayub yang di kenal sebagai tari pergaulan ini.
Daerah itu meliputi Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Blora, Malang,
Blitar, Jombang dan daerah-daerah di sekitarnya. Namun, yang
selama ini berkembang dengan pesat dan bahkan sampai ke tingkat
nasional yaitu tari langgam Tayub dari Kabupaten Tuban (Lela,
2012)
Adapun manfaat yang akan di peroleh dari mempelajari
budaya atau observasi ini antara lain dapat mengetahui kebiasaan
yang pernah dilakukan oleh sesepuh atau nenek moyang pada suatu
daerah. Hal ini merupakan suatu kegiatan yang dapat menjadikan
tumbuhnya jiwa nasionalisme dan kebanggaan sebab bangsa
yang baik yaitu bangsa yang sadar akan bangsanya, dan juga
memperoleh pengertian secara jelas tentang sejarah dan prosesi
ritual pelaksanaan kebudayaan kesenian Langen tayub (sindir) ini.
Kerangka Kerja Teoritik
Kebudayaan berasal dari bahasa latin “colere” yang kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “to cultivate”. Culture is
patterns of human activity and the symbolic structures the give such
141Kesenian Tayub (Sindir)
activity significance, yang berarti kebudayaan yaitu pola-pola dari
aktivitas manusia dan struktur simbolis yang menjadikan aktivitas
itu penting (Koentjoroningrat, 1996).
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “Buddhayah” yaitu
bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti “akal”. Dengan demikian
kebudayaan dapat diartikan sebagi hal-hal yang bersangkutan
dengan akal. Budaya yaitu daya dari buddi yang berupa cipta,
rasa, dan karsa. Sedangkan kebudayaan adala hasil dari cipta, rasa,
dan karsa itu (Koentjoroningrat,1996).
Secara umum, istilah kebudayaan mengacu pada semua produk
kecerdasan manusia baik pada kelompok warga berupa
teknologi, seni, tarian, sistem moral, akhlak, etika dan lainnya.
Kebudayaan yaitu sejumlah cita-cita, nilai dan standar peri-
laku, kebudayaan yaitu sebutan persamaan (common denominator),
yang menyebabkan perbuatan para individu dapat dipahami oleh
kelompoknya. sebab memiliki kebudayaan yang sama, orang
yang satu dapat meramalkan perbuatan orang lain dalam situasi
tertentu, dan mengambil tindakan yang sesuai. warga (society)
dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang mendiami
tempat tertentu, yang demi kelangsungan hidupnya saling
tergantung satu sama lain, dan yang memiliki kebudayaan bersama.
(Koentjaraningrat, 1998).
Semua kebudayaan yaitu hasil belajar dan bukan warisan
biologis. Orang mempelajari kebudayaannya dengan menjadi
besar didalamnya. Ralph Linton menyebut kebudayaan sebagai
warisan sosial umat manusia. Proses penerusan kebudayaan dari
generasi yang satu kepada generasi yang lain disebut enkulturasi.
Kebudayaan dalam arti luas yaitu keseluruhan hasil perbuatan
manusia yang bersumber pada kemauan, pemikiran dan
perasaannya (Koentjaraningrat, 1998).
142
Wujud Kebudayaan
Dalam rangka itu, Honingmann (Koenjaraningrat,1996)
membuat perbedaan atas tiga gejala kebudayaan, yakni (1) ideas, (2)
activities, dan (2) artifacts.
Adat-istiadat, norma, dan pelaksanaanya. Norma-norma yang
khusus itu dapat digolongkan menurut pranata-pranata warga
yang ada. Mengenai pranata sosial kita pelajarai bahwa tiap
warga memiliki sejumlah pranata, seperti misalnya pranata
ilmiah, pendidikan, peradilan, ekonomi, kesenian, keagamaan,
dan sebagainya. Diuraikan juga bahwa dalam setiap pranata ada
berbagai kedudukan, dan dalam suatu interaksi sosial, individu
yang menempati kedudukan ini memainkan perananya yang
sesuai. Dalam hal ini tindakanya harus disesuaikan dengan aturan-
aturan yang ada, yakni menurut norma-norma yang jelas dan tegas.
(Sujarwa, 1999).
Diantara berbagai norma yang ada di dalam suatu warga ,
ada yang dirasakan lebih besar daripada lainnya. Pelanggaran
terhadap suatu norma yang dianggap tidak begitu berat umumnya
tidak akan membawa akibat yang panjang, dan mungkin hanya
menjadi bahan ejekan atau pergunjingan para warga warga .
Sebaliknya, ada norma-norma yang berakibat panjang apabila di
langgar, sehingga pelanggarannya bisa jadi ditunut, diadili, dan
dihukum. Ahli sosiologi W.G. Summer menyebut norma-norma
golongan yang kedua disebutnya mores. Istilah folkways dapat kita
terjemahkan dengan “tata cara”, sedang mores dapat diterjemahkan
dengan “adat-istiadat” dalam arti khusus”.
Norma-norma dari golongan adat-istiadat yang memiliki
akibat yang panjang juga merupakan “hukum”, walaupun mores
seperti yang dikonsepsikan oleh Summer hendaknya tidak disamakan
dengan “hukum”, sebab norma-norma yang mengatur upacara suci
tertentu juga tergolong mores (dalam banyak kebudayaan, norma-
143Kesenian Tayub (Sindir)
norma seperti itu dianggap berat, dan pelanggaran terhadapnya
dapat menyebabkan ketegangan dalam warga yang berakibat
panjang, walaupun pelanggaran terhadap normanorma seperti itu
belum tentu memiliki akibat hukum). Dengan demikian perlu
kita ketahui dengan cermat, perbedaan antara norma-norma yang
tergolong hokum dan norma-norma yang tergolong hukum adat.
Perbedaan antara “adat” dan “hukum adat” (yaitu antara ciri-
ciri dasar dari hokum dan hukum adat) sejak lama telah menjadi
buah pikiran para ahli antropologi. Ada golongan ahli antropologi
yang beranggapan bahwa dalam warga yang tak bernegara
(misalnya kelompok-kelompok pemburu dan peramu, serta para
peladang yang hidup di daerah yang terpencil), tidak terdapat
aktivitas hukum, sebab definisi para ahli mengenai “hukum”
mereka batasi pada aktivitas-aktivitas hukum seperti yang terdapat
dalam warga yang bernegara (yaitu sistem penjagaan tata
tertib warga yang sifatnya memaksa, dan diperkuat oleh suatu
sistem alat kekuasaan yang diorganisasi oleh Negara).
Salah seorang penganut pendirian ini yaitu A.R. Radcliffe
Brown, yang mengatakan bahwa warga warga yang
tidak memiliki hukum seperti itu mampu menjaga tata tertib sebab
mereka memiliki suatu kompleks norma-norma umum (yaitu adat)
yang sifatnya mantap dan ditaati oleh semua warganya. Pelanggaran
pelanggran yang terjadi secara otomatis akan menimbulkan reaksi
dari warga , sehingga pelanggaranya akan dikenai hukuman.
(Koentjaraningrat, 1998).
Menurut beberapa pandangan, seperti yang diuraikan oleh C.
Kluckhon dalam karanganya yang berjudul Universal Categories Of
Culture (1953), dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka
yang ada mengenai unsur-unsur kebudayaan universal, unsur-
unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di
dunia berjumlah tujuh buah, yang dapat disebut sebagai isi pokok
dari setiap kebudayaan, yaitu (Koentjaraningrat, 1996) :
144
1. Bahasa
Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens.
Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk
tanda (kode), yang kemudian disempurnakan dalam bentuk
bahasa lisan, dan akhirnya menjadi bahasa tulisan.
2. Sistem pengetahuan
Merupakan produk dari manusia sebagai homo sapiens.
Pengetahuan dapatdiperoleh dari pemikiran sendiri, di
samping itu dapat juga dari pemikiran orang lain.
3. Organisasi sosial
Merupakan produk dari manusia sebagai homo socius.
Dengan akal manusia membentuk kekuatan dengan cara
menyusun organisasi kewarga an yang merupakan tempat
bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
Merupakan produksi manusia sebagai homo faber. Ber-
sumber dari pemikirannya yang cerdas serta dibantu dengan
tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia
dapat menciptakan sekaligus mempergunakan suatu alat.
5. Sistem mata pencaharian hidup
Merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus
menjadi tingkat kehidupan manusia secara umum terus me-
ningkat.
6. Sistem religi dan upacara keagamaan
Merupakan produk manusia sebagai homo religius. Manusia
yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap
bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang
Maha Besar.
7. Kesenian
Merupakan hasil dari manusia sebagai homo esteticus.
Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka
145Kesenian Tayub (Sindir)
manusia perlu dan selalu mencari pemuas untuk memenuhi
kebutuhan psikisnya.
Menurut Van Peursen (Setiadi, 2007), perkembangan ke-
budayaan dapat dibagi atas tiga tahap: Tahap mistis, merupakan
tahap di mana manusia merasakan dirinya terkepung oleh ke-
kuatan-kekuatan gaib di sekitarnya. Tahap ontologis, merupakan
sikap manusia yang tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan
mistis, tetapi secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia
pada tahap ini mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai
dasar segala sesuatu (ontologi). Tahap fungsional, Merupakan sikap
yang menandai manusia modern. Manusia pada tahap ini tidak lagi
ter pesona dengan lingkungannya dan kepungan kehidupan mistis,
juga tidak lagi bersikap ontologis. Manusia pada tahap ini berusaha
mengadakan relasi-relasi baru.
Pendapat umum mengatakan ada dua wujud kebudayaan. (1)
kebudayaan bendaniah (material) yang memiliki ciri dapat dilihat,
diraba, dan dirasa sehingga lebih konkret atau mudah dipahami.
(2) kebudayaan rohaniah yang memiliki ciri dapat dirasa saja. Oleh
sebab itu, kebudayaan rohaniah bersifat lebih abstrak.
Sedangkan Koentjaraningrat menyebutkan paling sedikit ada
tiga wujud kebudayaan : (1) Sebagai suatu kompleks dari ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. (2)
Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia
dalam warga . (3) Sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Sedangkan menurut teorinya Kluckhom (dalam Koentja-
raningrat, 1998) merumuskan kebudayaan itu meliputi sebagai
berikut: masalah mengenai hakikat hidup manusia, masalah
mengenai hakikat karya manusia, masalah mengenai hakikat ke-
dudukan manusia dalam ruang waktu, masalah mengenai hakikat
hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dan masalah mengenai
hakikat manusia dengan sesamanya.
146
Kebudayaan memiliki sifat seperti: kebudayaan beraneka
ragam, kebudayaan dapat diteruskan secara sosial dengan pe-
lajaran, kebudayaan dijabarkan dalam komponen-komponen bio-
logi, psikologi, dan sosiologi, kebudayaan memiliki struktur,
kebudayaan memiliki nilai, kebudayaan memiliki sifat statis
maupun dinamis dan kebudayaan dapat dibagi dalam ber macam-
macam bidang atau aspek (Sujarwa, 1999).
Walaupun budaya menunjuk pada pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap orang di dalam warga , pemilikan makna yang sama
di dalam kehidupan sehari-hari semua orang merupakan suatu
proses sosial, bukan proses perorangan. Jika kita membayangkan
suatu warga manusia, masing-masing individu memiliki
konseptualisasi sendiri perihal dunia sosial, dan masing-masing
individu melaksanakan kegiatan-kegiatan rutin dan menafsirkan
makna atas dasar konseptualisasi realitas yang bersifat pribadi, kita
tidak akan dapat meraba proses sosial di mana makna yang dimiliki
bersama diciptakan dan dipertahankan.
Metode
Penelitian yaitu suatu kegiatan ilmiah dan konsep-konsep
yang di kembangkan dan sering di diskusikan dalam mengukur
kadar ilmiah suatu penelitian antara lain yaitu konsep validitas,
relia bilitas, dapat di uji dan di ulangnya penelitian (replikasi), serta
objek tivitas. (Poerwandari dan Kristi, 1998). Antropologi sendiri
untuk mencapai itu semua melalui tiga tingkatan (Koentjaraningrat,
1998), yaitu:
1. Pengumpulan fakta, artinya: pengumpulan fakta-fakta me-
ngenai kejadian, gejala warga dan kebudayaannya.
2. Penetuan ciri-ciri umum dan sistem, artinya : merupakan ting-
katan cara berpikir manusia untuk menentukan ciri-ciri umum
dan sistem dalam himpunan warga fakta yang di kumpul-
kan dalam suatu penelitian.
147Kesenian Tayub (Sindir)
3. Verifikasi, artinya : melakukan proses pengujian dalam
kenyataan yang telah dirumuskan yang telah di capai dalam
kenyataan warga yang hidup. Dan verifikasi dalam
antropologi ini bersifat kualitatif.
Istilah metodologi yaitu sebuah metode yang mencakup
prinsip-prinsip teoritis maupun kerangka pandangan dan berisi
serta dipakai dalam pedoman penelitian. Metode menjelaskan
sesuatu yang lebih sempit, yakni tentang cara dipergunakan peneliti
untuk mendapat buktibukti yang empiris (Poerwandari dan Kristi,
1998).
Selanjutnya dalam metode dalam penelitian ini menggunakan
metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif menghasilkan dan
mengolah data yang bersifat deskriptif, transkripsi wawancara,
catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan sebagainya.
Melalui pengertian ini , penelitian dengan pendekatan kualitatif
memiliki ciri sebagai berikut: (Poerwandari dan Kristi, 1998).
1. Studi dalam situasi alamiah (naturalistic inqury)
2. Analisis induktif
3. Kontak personal langsung peneliti di lapangan
4. Prespektif holistik
5. Prespektif dinamis, prespektif, perkembngan
6. Orientasi pada kasus unik
7. Netralitas empatik
8. Fleksibelitas desain
9. Peneliti sebagai instrument kunci
Beberapa ciri yang disebutkan dalam penelitian kualitatif itu
semua membuktikan bahwa untuk mendapatkan data yang benar
akan kefavalitannya. Wawancara juga termasuk dalam salah satu
bagian dari metode kualitatif yang mana wawancara ini merupkan
percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan
148
tertentu. Wawancara kualitatif ini di lakukan bila peneliti bermaksud
untuk memperoleh sebuah pengetahuan tentang makna-makna
subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang di
teliti, dan bermaksud melakukan ekspolorasi terhadap suatu isu
ataupun kenyataan ini , suatu hal yang tidak dapat dilakukan
melalui pendekatan lain.
Hasil
Kebudayaan yang di observasi oleh observer yaitu budaya
Tayub (sindir). Nama lain atau nama populer di warga pada
umumnya sering disebut dengan tarian Langen Tayub. Kebudayaan
ini terbentuk dari cerita-cerita mbah-mbah kuno secara turun-
temurun ada yang mengatakan sejak dari penyebaran agama islam
sampai di kota Tuban yaitu zaman Wali Songo “Sunan Bonang” dan
ada yang mengatakn sejak masa agama hindubudha (Wawancara
1, Jumat, 24 Maret 2012, 09.00 WIB).
Tarian ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dengan
diiringi gamelan dan tembang jawa dalam sebuah upacara beberapa
ritual dalam suatu perkumpulan dan sebagai tontonan. (Observasi,
tanggal 23 maret 2012).
“Gini mbak saya itu dulunya salah satu penabuh dari
gambangan, saya ikut manggung kemana terus anak-anak saya tak
suruh ikut menari pada tarian Langen Tayub (sidir) itu soale anak
saya seneng joged la dari itulah makanya desa ini banyak warenggono
(sebutan penari dalam tarian ini ) wong zaman dulu kan belum
mengerti sekolah itu bagaimana jadi ya anak saya biar ikut saya cari
uang. (Wawancara subyek I, tanggal 27 Mei 2012, 08.34 WIB).
Melalui beberapa wawancara terhadap tiga nara sumber di
desa Wolutengah ini, narasumber mengatakan bahwa, tarian ini
dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dengan diiringi musik
gamelan, slenthem, gong, kenong, peking dan lainlain dan tembang jawa
149Kesenian Tayub (Sindir)
dalam sebuah upacara beberapa ritual dalam suatu perkumpulan
dan sebagai tontonan (Wawancara I, tanggal 27 Mei 2012, 08.34
WIB).
Rata-rata yang menjadi warenggono (sebutan bagi penari), dan
para lakilaki yang menjadi pengiring musiknya itu pada awalnya
sebab hobi dan senang dengan kesenian langen tayub ini .
Terus belajar pada seniornya di perkumpulan seni ini .
(Wawancara 3, tanggal 27 Mei 2012, 09.34 WIB).
“Biasanya kalangan yang nanggap (menyewa jasa) tarian Langen
Tayub hanya orang-orang yang ekonominya tergolong mampu
ataupun petani yang memiliki hewan ternak sapi sebab harga
dari keseluruhan prosesi karawitan (seluruh prosesi Langen Tayub)
pada tahun 1990 biayanya berkisar ± Rp.1.000.000-, dan pada tahun
2012 ini, jika yang naggap jauh daerahnya sekitar Rp.7.000.000-,
kalau dekat Rp.3.500.000, begitu mbak” (Wawancara II, Jumat, 23
Maret 2012, 10.24 WIB).
Observasi ini peneliti lakukan dengan metode wawancara
kualitatif agar data yang peroleh ini benar dan peneliti sendiri
menjadi mengerti secara langsung tentantang kebudyaan Langen
Tayub (sindir). Akhirnya, peneliti mewawancarai 3 narasumber
yang dianggap mengerti dan mendalami kebudayaan ini .
Wawancara 1, wawancara 2, dan wawancara 3, dilakukan di rumah
masing-masing narasumber, di desa Wolutengah, kecamatan Kerek
, kabupaten Tuban.
Kebudayaan Langen tayub (sindir) ini di laksanakan di berbagai
tempat tidak hanya di sekitar kecamatan Kerek saja, namun di
berbagai tempat yang naggap tarian ini (Wawancara 2, tanggal 23
Maret 2012, 09.44 WIB).
Biasanya penari-penari itu berlatih dirumah, dan belajar
berdandan dan menari bareng (Wawancara 3, 24 Maret 2012, 08.43
WIB). “Gini mbak sekarang ini, tarian Langen tayub atau tayubsari
(sindir) ini biasanya diadakan kalau ada mantenan, sunatan,
150
ulang tahun, sebagai sarana pemenuhan janji (nadzar), sebagai
persembahan leluhur, serta sebagai hiburan atau tontonan saja,
tergantung yang nanggap” (Wawancara 3, tanggal 24 Maret 2012,
08.23 WIB)
“Langen Tayub (sindir) yang kami kelola di desa Wolutengah
ini pertunjukannya sehari semalam, ada yang minta mulai siang
atau dari pagi hingga malam, tergantung permintaan yang naggap
begitu” (Wawancara 3, tanggal 24 Maret 2012, 08.34 WIB).
“Tarian ini walaupun di adakan dari siang sampai malam
tidak mengganggu keamanan atau warga sekitar, mbak. soale
biasanya sebelum para penanggap itu naggap kita harus izin dari
kepala desa yang naggap ini begitu” (Wawancara 3, 24 Maret
2012, 08.55 WIB).
Peneliti tertarik pada kebudayaan Tarian Langen Tayub
atau tayubsari (sindir) sebab pertunjukan tayub yang berawal
dari sejarah pada jaman dahulu, didalamnya terdapat beberapa
unsur yaitu tempat upacara, waktu upacara, peserta upacara,
perlengkapan upacara, maksud dan tujuan upacara, prosesi
tariannya yang menarik dan tampak unik. Pada zaman modern ini
masih saja terkenal di kalangan warga dan bahkan sampai di
berbagai daerah-daerah luar Tuban. Terdapat pula anak-anak muda
yang ingin ikut serta menjadi dalam tarian ini .
“Cukup membanggakan mbak, alhamdulillah hingga sekarang
makin berkembang sebab Langen tayub ini di kategorikan sebagai
salah satu wisata khas tuban yang diakui di kantor kebudayaan
kabupaten tuban secara resmi” (Penjelasan dari bapak damuri
wawancara 3, 24 Maret 2012, 08.23 WIB09.15 WIB).
Kehidupan keseharian warga Tuban dan khususnya desa
Wolutengah pada umumnya yaitu baik. Mereka hidup dalam
lingkungan yang aman, sejahtera, dan makmur. sebab letak desa
Wolutengah dekat dengan persawahan dan lahanlahan kosong
yang bisa di katakan cukup plosok. Bapak kepala desa Wolutengah
151Kesenian Tayub (Sindir)
yaitu bapak lasmidi menyampaikan bahwa mayoritas warga
yang berdomisili di desa Wolutengah bermata pencaharian sebagai
petani, penggembala hewan ternak, dan pedagang. Setiap hari
mereka pergi ke sawah untuk bercocok tanam, menggembala
hewan ternak di sawahsawah sekitarnya dan ada yang pergi ke
pasar untuk berdagang, tetapi ada juga yang berwirausaha dirumah
masingmasing (Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.44 WIB).
Rasa solidaritas dan sosialisasi antar warga yang satu dengan
yang lainnya juga sangat baik jika semisal didapati tetangga
yang hajatan, seperti pernikahan, khitanan, membangun rumah,
selamatan, dan kematian. Mayoritas warga disini masih kental
dan percaya dengan adat Jawa kuno seperti tarian Langen Tayub,
penggunaan hari yang baik menurut hitunghitungan Jawa dalam
hajatan warga , mengadakan ritual pewayangan bagi yang
memiliki anak tunggal, dua wanita atau pria dan syaratsyarat yang
lain untuk pewayangan (Wawancara 2, 23 Maret 2012, 09.4410.45).
“Kesenian Langen Tayub ini sampai sekarang bisa dikatakan
sebagai pekerjaan saya dengan istri saya (Bu Wantikah) ini”
(Wawancara 3, Sabtu, 24 Maret 2012, 08.23 WIB09.15 WIB).
Realitas budaya di zaman modern ini, walaupun segala sesuatu
berjalan dengan canggih, namun warga Jawa termasuk
warga Tuban, khusunya desa Wolutengah tidak akan lepas dari
tradisi dan budayanya. sebab setiap daerah memiliki ciri khas
tersendiri. Desa wolutengah ini memiliki kebudayaan tarian Langen
Tayub dan hingga sekarang masih di lestarikan oleh penduduk
Wolutengah setelah saya melakukan wawancara pada narasumber,
saya mendapatkan informasi akan sejarah tarian ini .
Kebudayaan ini terbentuk dari cerita-cerita mbah-mbah kuno
secara turun-temurun yang mengatakan sejak dari penyebaran
agama Islam sampai di kota Tuban yaitu zaman Wali singo “Sunan
Bonang” dan ada yang mengatkan sejak zaman hindu-budha
(Wawancara 1, Jumat, 24 Maret 2012, 09.00 WIB).
152
“Ngeten (begini) mbak, saya itu dulunya salah satu penabuh
dari gambangan, saya ikut manggung kemana terus anak-anak saya
tak suruh ikut menari pada tarian Langen Tayub (sidir) itu soale
anak saya seneng joged la dari itulah makanya desa ini banyak
warenggono (sebutan penari dalam tarian ini ) wong zaman
dulu kan belum mengerti sekolah itu bagaimana jadi ya anak saya
biar ikut saya cari uang (Wawancara I, tanggal 27 Mei 2012, 08.34
WIB).
“Seingat saya tahuan 1989 saya mulai mengajak anak saya yang
bernama Darwari untuk mulai ikut saya manggung, pada saat itu
kira-kira umur 18 tahun, setelah melihat mbaknya di rumah latihan
menari terus anak saya, Wantikah, ingin ikut pada tahun 1990 kalau
tidak salah” ( Jumat, 23 Maret 2012, 09.00-09.35 WIB)
“Mulai tahun 1990 sindir Wolutengah ini mulai di kenal di
berbagai daerah seperti: Nganjuk, Bojonegoro, Ngawi, Blora,
Lamongan dan tetntunya orang-orang” Tuban (Jumat, 23 Maret
2012, 09.00-09.35 WIB).
Setelah peneliti selesai wawancara dengan bapak Damuri,
sore harinya bersama dengan bapak Damuri dan ibu Wantikah,
peneliti melihat secara langsung bagaimana prosesi tarian Langen
Tayubwaktu ada tanggapan di desa padasan (observasi tanggal 24
maret 2012).
Sebelum tarian dimulai biasanya diawali dengan para
warenggono (sebutan penarinya) berhias diri dan memakai
perlengkapannya agar bisa tampil anggun, cantik dan menawan
dengan menggunakan alat-alat kosmetik, selendang, kebaya jarit
dan udet. Bersamaan dengan itu para pengiring musik menata alat-
alatnya mempersiapkan semuanya dari segi tempat maupun suara
alat musik ini , alat-alatnya yaitu ada Slenthem, Gambang, Gong,
Kenong, Gendang, Gong, Gender, Demung saron dan Pekingl.
153Kesenian Tayub (Sindir)
saat semuanya sudah siap, akan ada pemandu dari tarian
itu yang disebut dengan Pramugari dan mulailah tarian dan musik
dimainkan serta para Warenggono menyinden. Lagu atau tembang
yang biasa di lantunkan pada saat tarian Langen Tayub ini yaitu
Sinom, Kinanti, Manggung, Pangkur, Asmarodono dan lagu permintaan
dari yang nanggap jika ada.
Tarian ini biasnya dilaksanakan sehari semalam, namun kadang
juga ada yang mulai sore atau siang. Biasanya istirahat jika pada
saatsaat waktu sholat maghrib dan isya’ baru mulai kembali pukul
00.00 WIB. Isi sepanjang prosesi Langen Tayub yaitu hanya dengan
tarian dan tembang, dan saya Lihat sekilas orang laki-laki yang ikut
menari (beksa) seperti orang yang mabuk (observasi lapangan).
“Sebenarnya tidak ada makna tersendiri dari tarian Langen
Tayub maupun alat-alat musik yang mengirinya, disimpulakan
sebagai hiburan warga saja, sebab saya sama istri saya hanya
sebagai penerus orang tua saja” (Wawancara 3, Sabtu, 24 Maret
2012, 08.23 WIB-10.00 WIB).
“Keuntungannya dapat menghibur warga , mencari
kesenangan, dan dapat memenuhi keinginan anak yang naggap”
(Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.4410.45 WIB). Kerugianya
itu warga ada yang sampai menjual hewan ternak bagi yang
kurang mampu tapi ingin nanggap karawitan Langen Tayub ini,
dan kema’siatan juga, sebab disini juga agamanya semua islam”
(Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.4410.45 WIB).
“Namun selain kerugian ada sebagian warga yang sangat
seneng dengan sindir ini ya sampai di shooting, katanya sebagai
hiburan dan melestarikan budaya leluhur” (Wawancara 2, Jumat, 23
Maret 2012, 09.44-10.45 WIB.
154
Diskusi
Setelah melakukan observasi di desa Wolutengah kecamatan
Kerek kabupaten Tuban terkait dengan kebudayaan tarian Langen
Tayub (sindir). Peneliti menganalisis bahwa dari observasi ini
didapati sauatu pengetahuan atau informasi yang belum pernah
diketahui sebelumnya. Peneliti menggunakan metode wawancara
kualitatif. Terkait dengan metode peneletiti sesuaikan dengan teori:
Wawancara kualitatif ini di lakukan bila peneliti bermaksud untuk
memperoleh sebuah pengetahuan tentang makna-makna subjektif
yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang di teliti, dan
bermaksud melakukan ekspolorasi terhadap suatu isu ataupun
kenyataan ini , suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui
pendekatan lain” (Kristi, 1998).
Setelah peneliti mendapatkan informasi yang cukup valid dari
ke tiga narasumber yang dilaksanakan wawancarai sebelumnya,
didapatkan informasi dari pemaparan bapak Sucipto tentang sejarah
Langen Tayub: “Kebudayaan ini terbentuk dari cerita-cerita mbah-
mbah kuno secara turun-temurun ada yang mengatakan sejak dari
penyebaran agama islam sampai di kota Tuban yaitu zaman Wali
Songo “Sunan Bonang” dan ada yang mengatakn sejak masa agama
hindubudha” (Wawancara 1, Jumat, 24 Maret 2012, 09.00 WIB).
Sesuai dengan salah satu teori arti kebudayaan secara khusus
“Culture is the system of shared beliefs, values, customs, behaviours,
and artefacts. That the members of society use to cope their world with
one another, and that are transmitted to generations through learning”,
yakni kebudayaan yaitu sistem yang dimiliki bersama anggota-
anggota dari warga berupa nilai-nilai, tradisi-tradisi, perilaku-
perilaku, dan benda-benda yang dimiliki bersama dan anggota-
anggota dari komunitas untuk mengatasi kehidupan dunia mereka,
dan mengatasi satu anggota dengan anggota yang lain, semua ini
ditransmisikan dari generasi ke generasi.
155Kesenian Tayub (Sindir)
Kebudayaan tayub (sindir) ini awal mulanya merupakan turun
temurun dari nenek moyang terdahulu yang memiliki nilai
tersendiri bagi yang bagi pemilik kebudayaan tarian dan Semua
kebudayaan yaitu hasil belajar dan bukan warisan biologis. Orang
mempelajari kebudayaannya dengan menjadi besar didalamnya.
Linton (dalam Setiadi, 2007) menyebut kebudayaan sebagai
warisan sosial umat manusia. Proses penerusan kebudayaan dari
generasi yang satu kepada generasi yang lain disebut enkulturasi.
Melalui sudut pandang teori ini , ada hubungannya dengan
hasil obsevasi didapatkan bahwa kebudayaan tarian Tayubsari
(sindir) ini merupakan hasil belajar dan juga sebab kegemaran,
seperti yang disampaikan bapak Lasmidi, “Rata-rata yang menjadi
warenggono (sebutan bagi penari), dan para lakilaki yang mnjadi
pengiring musiknya itu pada awalnya sebab hobi dan senang
dengan kesenian langen tayub ini . Terus belajar pada seniornya
di perkumpulan seni ini .” (Wawancara II, tanggal 27 Mei 2012,
09.34 WIB).
Kebudayaan dalam arti luas yaitu keseluruhan hasil
perbuatan manusia yang bersumber pada kemauan, pemikiran dan
perasaannya. Kebudayaan tarian langen Tayub ini berupa kesenian
daerah, sebab tarian Langen Tayub (sindir) ini merupakan hasil
pengetahuan yang turun-temurun, juga terdapat musik, serta
menjadi suatu kebiasaan warga .
Hal ini sesuai dengan teorinya Tylor (Koentjaraningrat: 1996),
bahwa budaya merupakan suatu keseluruhan kompleks yang
meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan,
hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan
yang didapat oleh manusia sebagai anggota warga .
Budaya ini awalnya yaitu sebuah ide ataupun pemikiran
manusia yang disepakati bersama dan pasti memiliki luhur
bagi yang menjalankannya terus menurus hingga menjadi suatu
kebiasaan atu bahkan menjadi kebudayaan. Ini semua memang
156
benr adanya. Kebudayaan dan warga yaitu dua konsep yang
berkaitan erat, dan seorang ahli antropologi harus mempelajari
keduaduanya. Jelaslah, bahwa tidak mungkin ada kebudayaan
tanpa mayarakat, seperti juga tidak mungkin ada warga tanpa
individu. Sebaliknya, tidak ada warga manusia yang dikenal
yang tidak berbudaya (Kontjaraningrat, 1996)
Semua kebudayaan yaitu hasil belajar dan bukan warisan
biologis. Orang mempelajari kebudayaannya dengan menjadi besar
didalamnya. Ralph Linton menyebut kebudayaan sebagai warisan
sosial umat manusia. Proses penerusan kebudayaan dari generasi
yang satu kepada generasi yang lain disebut enkulturasi.
Hampir semua tindakan manusia merupakan kebudayaan,
sebab jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan
berwarga yang tidak dibiasakannya dengan belajar (yaitu
tindakan naluri, reflex, atau tindakantindakan yang dilakukan akibat
suatu proses fisiologi, maupun berbagai tindakan membabibuta),
sangat terbatas.
Setelah peneliti melakukan wawancara kepada tiga narasumber,
hasil yang diperoleh yaitu kesamaan pada informasi yang di
berikan, yakni kebudayaan tarian Tayub manfaatnya tidak ada tapi
hanya sebagai tontonan hiburan dan kesenangan warga saja.
Namun kebudayaan ini ada sisi negatifnya yaitu dapat menjadi
sebuah kerugian warga yang mengundang tarian ini yaitu,
ada yang sampai menjual hewan ternak bagi yang kurang mampu,
dan tindangakan negative lain yang tidak sesuai dengan agama,
sebab mayoritas penduduk Wolutengah yaitu beragama islam
(Wawancara 2, Jumat, 23 Maret 2012, 09.4410.45 WIB).
Kesimpulan
Kebudayaan yaitu kompleks keseluruhan yang meliputi
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan dan
157Kesenian Tayub (Sindir)
lain-lain yang diperoleh manusia dari proses belajar, dan semuanya
tersusun dalam kehidupan warga .
Kehidupan keseharian warga Tuban khususnya warga
desa Wolutengah pada umumnya yaitu baik. Mereka hidup dalam
lingkungan yang aman, sejahtera, dan makmur. Sehingga tercipta
berbagai macam kebudayaan. Salah satunya yaitu tarian Tayub
(sindir) secara turun-temurun bisa tetap ada samapi sekarang ini.
Dan tarian Tayub ini memiliki sejarah, tujuan, dan makna
yang berbeda-beda bagi setiap anggota warga .
Realita budaya warga Tuban khususnya di Desa Wolu-
tengah bisa disimpulkan masih mencampur adukkan agama
dengan adat Jawa kuno. Mereka masih percaya dengan adanya per
dukunan. Selain itu, warga Tuban juga memiliki simbol-
simbol budaya seperti bahasa, keris, dan lainnya yang memiliki
peran dan makna masing-masing.
Khususnya kesenian tarian langen tayub yaitu merupakan
simbol kebudayaan desa Wolutengah dari masa Sunan Bonang (se-
bagai wakil Wali Songo yang bertugas menyebarkan agama islam)
yang dulu sebagai salah satu dakwah melalui hiburan bagi petani
dan sampai sekarang menjadi tradisi sampai-sampai menjadi sebuah
mata pencahariaan dari dari sebagian penduduk desa Wolutengah.
warga harus melestarikan budaya mereka, agar budaya
ini tidak punah. sebab jika tidak, maka jati diri atau ciri khas
dari suatu daerah ini akan hilang.
158
159Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
aNak-aNak Suku teNGGer:
memahami maNuSia SeSuai
kONtekSNYa
Nurul Hasanah
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: nurul.hasanah.969@yahoo.com
Dewasa ini, topik perkembangan anak dalam sebuah konteks
kultural telah banyak diinvestigasi secara teoritik maupun empirik.
Investigasi dari bidang indigenous psychology dan psikologi budaya
mengatakan bahwa masa kanakkanak dikonstuksikan secara sosial
dan historis, bukan sebuah proses universal dengan sekuensi tahap-
tahap perkembangan atau deskripsi-deskripsi standart. Budaya
(Edwards et al.) dipahami sebagai sesuatu yang terorganisasi dan
koheren, namun tidak homogen atau statis dan menyadari bahwa
sistem dinamik kompleks budaya terus menerus mengalami
transformasi selama para partisipannya (dewasa maupun anak
anak) mengasosiasikan atau menegoisasikan makna-makna melalui
interaksi sosial. Negosisasi dan transaksi ini melahirkan
heterogenitas dan variabilitas tanpa henti dalam hal bagaimana
individu-individu atau kelompok-kelompok individu yang berbeda
menginterpretasikan nilai-nilai dan makna.
160
Di Indonesia dengan realitas berbagai etnik dan kondisi sosial
budaya telah melahirkan generasi dengan karakteristik yang unik.
Salah satunya yaitu anak-anak Tengger. Anak-anak Tengger
dibesarkan dan dikembangkan di lingkungan yang kental dengan
budaya Tengger. Lingkungan turut membentuk bagaimana dan
kapan mereka matang. Isu sentral anak-anak Tengger khususnya
di desa Ranupani yaitu tentang pendidikan. Pendidikan yang
difasilitasi di daerah mereka hanya sampai Sekolah Dasar,
disebabkan oleh keterbatasan fasilitas. Anak-anak Tengger yaitu
anak-anak unik. Meskipun menyadari variasi yang luas dalam
budaya Tengger, namun dari pengamatan sementara Peneliti, anak-
anak Tengger cenderung ramah dengan tamu yang datang di daerah
mereka, suka membantu, dan patuh dengan orang tua. Selain itu
juga taat beribadah, sangat patuh menjalankan adat-istiadat, jujur,
dan rajinbekerja.
Mereka hidup sederhana, tenteram, dan damai. Nyaris tanpa
adanya keonaran, kekacauan, pertengkaran maupun pencurian.
Suka bergotong royong dengan didukung oleh sikap toleransi yang
tinggi, disertai sesuatu yang khas, sebab senantiasa mengenakan
kain sarung kemanapun mereka pergi. Tidak terbatas laki-laki,
namun wanitapun juga, yang dewasa maupun anakanak, semua
berkain sarung. warga Tengger masih percaya dengan dengan
roh halus, benda-benda gaib, tempat-tempat keramat serta berbagai
mitos. Pengalaman afektif ini meresonansi makna kultural
dari budaya Tengger. Meskipun keadaan perasaan di tingkat fisik
dan biologis mungkin memang universal, makna pengalaman
afektifnya bisa bersifat spesifikbudaya dan harus diinterpretasi
dalam konteks sosio-kulturalnya.
Masa anak-anak yaitu bagian terpenting dalam perjalanan
hidup manusia. Pada masa anak-anak manusia masih sangat mudah
terpengaruh lingkungan. Pengalaman di masa kecil akan senantiasa
melekat dalam perilaku manusia di kala dewasa. Para pakar
161Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
bidang kesehatan dan Psikologi menyatakan bahwa masa anak
anak merupakan masa yang paling kritis dalam sejarah kehidupan
selanjutnya menuju gerbang kedewasaan saat manusia sudah
memiliki jati dirinya. Anak yaitu Anugrah. Semua pasangan secara
fitrahnya sangat mendambakan anugrah ini. Anak dalam keluarga
merupakan kekayaan yang tiada tara nilainya. Anak menjadi
penyejuk saat orang tua sedang mengalami kegelisahan dan anak
juga membuat orang tua bergairah mengarungi bahtera kehidupan
yang penuh tantangan. Anak juga sebagai amanah Allah Swt, yang
diberikan kepada orang tua, warga dan bangsa. Nasib dan
masa depan bangsa di kemudian hari, ditentukan oleh kondisi anak
bangsa hari ini.
Anak pada masa sekarang yaitu cerminan kehidupan pada
masa depan sebab di tangan merekalah pada akhirnya corak
kehidupan di masa depan akan ditentukan. Anak dilahirkan
dengan membawa segala keberuntungan sesuai dengan zamannya
sendiri. Untuk menentukan masa depannya tentunya anak-anak
akan menghadapi berbagai permasalahan sesuai dengan kondisi
kehidupan yang terus berkembang. Tantangan-tantangan hidup
yang akan dihadapi oleh anak-anak tidaklah sama dengan berbagai
tantangan yang pernah dihadapi oleh generasi sebelumnya. Mereka
akan menghadapi tantangan hidup lebih keras dan kompleks. Anak-
anak memerlukan kesiapan yang lebih kompleks dan bangunan
karakter yang kuat dalam dirinya sebagai salah satu pengontrol
dari serbuan budaya baru yang makin bergejolak dan kerusakan
moral yang makin mencemaskan.
Pembentukan karakter semakin hari semakin menjadi
perbincangan. Wacana tentang perubahan warga yang
mengarah pada degradasi perilaku sering didiskusikan. Banyak
remaja yang terlibat aksi tawuran hanya disebab kan alasan
alasan sederhana, seperti seks pra nikah. Selain itu, korupsi juga
telah mengakar di seluruh lembaga mulai dari tingkat terkecil
162
hingga yang terbesar. Kerusakan moral kini bukan hanya terjadi di
kalangan birokrasi pemerintahan dan aparat penegak hukum, tetapi
juga sudah meracuni warga . Pelanggaran moral menyebar
di berbagai lapisan warga . Sebagai contoh, Komisi Anak
mencatat, kasus kekerasan terhadap anak yng dilakukan berbagai
lapisan warga cenderung meningkat setiap tahun. Jika tahun
2008 tercatat 1.736 kasus di sejumlah daerah di Tanah Air, tahun 2009
meningkat menjadi 1.998 kasus. Kasus yang menimpa anak-anak
ini , sekitar 62,7 persen di antaranya merupakan kekerasan
seksual. Kronisnya lagi, terkikisnya moral baik ini meracuni dunia
pendidikan yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir
karakter bangsa.
Imam AlGhazali menyampaikan bahwa karakter merupakan
sifat yang tertanam di dalam jiwa dan dengan sifat itu seseorang
secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan
dan perbuatan. Menurut bahasa (Singh dan Agwan, 2000),
karakter yaitu tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli
psikologi, karakter yaitu sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan
yang mengarahkan tindakan seorang individu. sebab itu, jika
pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui,
maka dapat diketahui pula bagaimana individu ini akan
bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak
tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan
sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran sebab
sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya
dapat disebut dengan kebiasaan. Sinonim dari kata Karakter
yaitu etika, moral dan akhlak. Membangun karakter sangat
penting dalam meningkatkan harga diri anak-anak. Bagaimana
anakanak mendefinisikan dan melihat diri mereka dimulai sejak
awal kehidupan. Pada masa anakanak, mereka sensitif tentang
cara orang lain melihat mereka dan akibatnya bagaimana mereka
163Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
memandang diri mereka. Penelitian ini akan melihat pembentukan
karakter anak-anak Tengger dalam mengembangkan kesadaran diri
mereka yang positif. sebab di era global dan perkembangan iptek,
karakter semakin penting. Di Abad 21 ini, karakter merupakan
komponen penting. Keterampilan kelangsungan hidup untuk
generasi baru akan lebih menekankan pada karakter.
Jika dikaitkan pembangunan karakter, maka hubungan antara
moralitas dan indigenous psychology perlu ditelaah. Penelitian ini
tidak hanya menjalankan sebuah fungsi analitik (yang menjawab
pertanyaan “Apakah budaya itu?”), namun memperlakukan budaya
sebagai karakterristik sebuah kelompok. Dipostulasikan bahwa
konseptualisasi budaya sebagai entitas yang lebih kurang homogen
ini memiliki implikasi moral. Menurut antropolog psikologis
fungsionalis (Edwards & Whiting, 2004; Gallimore, Goldenberg,
& Weisner, 1993), proses-proses (kultural) yang sama ada di
seputar anak yang sedang berkembang dan dalam jangka panjang
mendukung kelangsungan hidup keluarga dan kelompok jika
mereka menunjukkan kontinuitas saat menghadapi perubahan
ekologis dan persaingan sumber daya. Seperti yang dikatakan oleh
LeVine dan rekanrekan sejawatnya (1994: 12):
Sebuah populasi cenderung berbagi lingkungan, sistem-sistem
simbol untuk mengodenya, dan organisasi serta kode etik untuk
beradaptasi dengannya (penekanan ditambahkan). Melalui kode-
etik spesifik-populasi dalam praktik-praktik yang diorganisasikan
secara lokal inilah adaptasi manusia terjadi. Dengan kata lain,
adaptasi manusia, sebagian besar dapat diatribusikan pada
bekerjanya organisasi-organisasi sosial tertentu (misalnya,
keluarga, warga , kerajaan) yang mengikuti skrip-skrip yang
dipreskripsikan secara kultural (model-model normatif) dalam
subsistensi, reproduksi, dan ranah-ranah lainnya (komunikasi
dan regulasi sosial).
164
Jadi, dalam upaya memahami perkembangan anak dalam
sebuah konteks kulturallah para pakar psikologi perlu mendukung
ilmu perkembangan yang kolaboratif dan interdisipliner, yang
melintasi batas-batas internasional. Di setiap periode umur masa
kanakkanak (Whiting & Edwards, 1988) gaya companionship
normatif yang sangat berbeda muncul dan dipengaruhi oleh konteks
di sekitarnya.
Indigenous and Cultural Psychology: Memahami Orang
dalam Konteksnya
Indigenous Psychology yaitu bidang psikologi yang
ebrusaha memperluas batas dan substansi psikologi umum.
Meskipun indigenous psychology maupun psikologi umum
berusaha mengungkapkan faktafakta universal, tetapi titik awal
penelitiannya berbeda. Psikologi umum (Koch & Leary, 1985)
berusaha menemukan prinsip-prinsip yang terkondekstual,
mekanis, universal, dan berasumsi bahwa teoriteori psikologi saat
ini bersifat universal. Akan tetapi indigenous psychology (Kim &
Berry, 1993; Yang, 2000) mempertanyakan universalitas teoriteori
psikologi yang sudah ada dan upaya-upaya untuk menemukan
psychologycal universals dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis.
Indigenous psychology mempresentasikan sebuah pendekatan yang
konteks (keluarga, sosial, kultural, dan ekologis) isinya (yakni
makna, nilai, dan keyakinan) secara eksplisit dimasukkan ke dalam
desain penelitian.
Kim dan Berry (1993: 2) mendefinisikan indigenous psychology
sebagai “the study of human behavior or mind that is native that is not
transported from other regions, and that is designed for its people”, yakni
kajian ilmiah tentang perilaku atau pikiran









