manusia yang native
(asli), yang tidak ditransportasikan dari wilayah lain, dan yang
dirancang untuk warga nya. Sepuluh karakteristik indigenous
psychology yaitu sebagai berikut:
165Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
Pertama, indigenous psychology menekankan psikologis dalam
konteks keluarga, sosial, politik, filosofis, historis, religius, kultural,
dan ekologis. Kedua, berlawanan dengan miskonsepsi populer,
indigenous psychology bukanlah studi tentang orang pribumi
(native), kelompok etnikatau orang yang hidup di negara-negara
Dunia Ketiga. Penelitian-penelitian tentang indigenous telah sering
dipersamakan dengan studi antropologis terhadap orang “eksotik”
yang hidup di pedalaman. indigenous psychology dibutuhkan untuk
semua kelompok kultural, pribumi, dan etnik, termasuk negara-
negara yang sedang berkembang secara ekonomis.
Ketiga, indigenous tidak mengafirmasi atau menghalangi
pemakaian metode tertentu. Indigenous psychology yaitu bagian
dari tradisi ilmu pengetahuan yang salah satu aspek pentingnya
pekerjaan ilmiah yaitu menemukan metode-metode yang tepat
untuk fenomena yang sedang diinvestigasi. Boulding (1980)
mencatat bahwa, “dalam warga ilmiah ada keragaman metode
yang besar, dan salah satu masalah yang masih harus dihadapi
ilmu pengetahuan yaitu perkembangan metode yang tepat yang
berkorespondensi dengan bidang-bidang epistemologis yang
berbeda”.
Keempat, diasumsikan bahwa hanya orang pribumi atau insider
(orang dalam) di sebuah budaya yang dapat memahami fenomena
indigenous dan kultural dan bahwa seorang outsider (orang luar)
hanya bisa memiliki pemahaman yang terbatas. Meskipun seseorang
lahir dan dibesarkan di sebuah warga tertentu bisa memiliki
insights tentang fenomena indigenous, tetapi hal ini mungkin tidak
selalu terjadi. Kelima,indigenous psychology berbeda dengan psikologi
naif Heider (1958). Heider (1958: 2) mencatat bahwa di bidang
perilaku interpersonal “the ordinary person has agreat and profound
understanding of himself and other people which, though unformulated or
vaguely conceived, enables him to interact in more or less adaptive ways”.
166
Keenam, konsep-konsep indigenous telah dianalisis sebagai
contoh-contoh indigenous psychologies. Konsep philotimo di Yunani
(orang yang “sopan, berbudi, dapat diandalkan, bangga”, dalam
Triandis, 1972), anasakti di India (“non-detachment”, dalam Pande
& Naidu, 1992), amae Jepang (“in-dulgent dependence”, dalam Doi,
1973), Kapwa di Filiphina (“identitas yang sama dengan orang lain”,
dalam Enriquez, 1993), dan Jungdi Korea (“kelekatan dan afeksi
yang mendalam”, dalam Choi, Kim, & Choi, 1993) telah dianalisis
dan berbagai sindroma terkait budaya) telah diintroduksikan (Yap,
1974).
Ketujuh, banyak pakar indigenous psychology yang mencari
bukubuku filsafat atau keagamaan untuk menjelaskan fenomena
indigenous. Mereka menggunakan Philosophical treaties (seperti
Confusian Classics) atau buku keagamaan (Al-Qur’an atau Wedha)
sebagai penjelasan fenomena psikologis.
Kedelapan, indigenous psychology (Kim dan Berry, 1993)
diidentifikasi sebagai bagian tradisi ilmu budaya. Berbeda dengan
ilmu fisika, biologi, orang lain, dan dirinya (Bandura, 1997; Kim &
Berry, 1993). Oleh sebab kita yaitu agen perubahan, maka kita
yaitu subjek dan sekaligus objek penelitian.
Kesembilan, indigenous psychology menganjurkan pengaitan
antara humanitas (misalnya, filsafat, sejarah, agama, dan kesastraan,
yang difokuskan pada pengetahuan analitis, analisis empirik, dan
verifikasi). Kesepuluh, Enriquez (1993) mengidentifikasi dua titik
awal penelitian dalam indigenous psychology: indigenization from
without dan indigenization from whitin. Indigenization from without
melibatkan mengambil teori, konsep, dan metode psikologi yang
sudah ada dan memodifikasi mereka agar cocok dengan konteks
budaya lokalnya.
167Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
Landasan Ilmiah Indigenous and Cultural Psychology:
Pendekatan Transaksional
Psikologi muncul (Boring, 1921) sebagai sebuah disiplin
yang independen pada 1879 saat Wilhelm Wundt mendirikan
laboratorium psikologi di Leipzig. Banyak ahli mengatakan (Kim
& Berry, 1993) bahwa teoriteori psikologi merefleksikan nilai
nilai, tujuan, dan isuisu Amerika Serikat dan bahwa mereka tidak
dapat digeneralisasikan pada warga -warga lainnya.
Para ahli lain mempertanyakan validitas internal psikologi umum.
Menggunakan model fisika Newtonian, psikologi umum berusaha
mengembangkan teroi-teori yang objektif, abstrak, dan universal
dengan mengeluarkan aspek-aspek subjektif fungsi manusia (yaitu
kesadaran, agency, makna, dan keyakinan). Meskipun konsep-
konsep agency dan kesadaran sentral dalam teori-teori yang
dikembangkan oleh Wilhelm Wundt dan William James, teori-teori
selanjutnya telah mencoret mereka. Koch (1985: 25) mengatakan
bahwa behaviorisme “menandai transisi dalam psikologi Amerika
antara warna indigenous dan substansi indigenous”.
Meskipun psikologi didirikan dan dikembangkan di Eropa,
psikologi menjadi terindigenisasi dan terinstitusionalisasi di
Amerika Serikat.
Teori-teori psikologi yang sudah ada tidak universal sebab
mereka mengeliminasi kualitas-kualitas yang memungkinkan orang
untuk memahami, memprediksi, dan mengontrol lingkungannya.
Bandura (1999: 21) mengatakan bahwa “ironis bahwa ilmu tentang
fungsi manusia harus menanggalkan kapabilitas-kapabilitas orang
yang membuat mereka unik dalam kekuatannya untuk membentuk
lingkungan dan menentukan takdirnya”. Dalam model transaksi
(Bandura, 1997, 1999; Kim, 2000), perilaku manusia dapat dijelaskan
dalam kaitannya dengan tujuan yang ditetapkan bagi dirinya,
keterampilan-keterampilan yang dikembangkannya, keyakinan
168
bahwa perilakunya dapat mempengaruhi hasil, dan hasil yang
menentukan tindakannya.
Bandura (1999: 23), mengikhtisarkan teori sosial kognitif yang
memfokuskan pada kapabilitas orang yang mengembangkan diri,
beradaptasi, dan berubah, dan mengidentifikasi empat fitur agency
manusia: internationality, forethought, self-reactiveness, dan self-
reflectiveness. Bandura mengatakan bahwa orang “mengonstruksikan
pikiran tentang arah tindakannya di masa depan agar pas dengan
situasi yang senantiasa berubah, mengases nilai-nilai yang mungkin
fungsional, mengorganisasikan dan melaksanakan opsi-opsi yang
dipilih secara strategis, mengevaluasi keadekuatan pemikirannya
berdasar efek-efek yang dihasilkan oleh tindakannya dan
melakukan perubahan apapun yang mungkin dibutuhkan”.
Melalui model transaksional (Bandura, 1997; Kim, 1999), kualitas
kua litas subjektif (misalnya, agency intensi, makna, keyakinan, dan
tujuan) yaitu hubungan kausal yang menghubungkan lingkungan
dengan perilaku. Model ini (bandura, 1997), penting untuk ditelaah
bagai mana seorang individu mempersepsi atau menginterpretasikan
sebuah kejadian atau situasi tertentu (Hubungan kausal 1). Informasi
ini dapat diperoleh melalui self-report. Langkah kedua melibatkan
mengakses bagaimana persepsi ini mempengaruhi, memotivasi,
dan mengarahkan perilaku individu (Hubungan kausal 2). (lihat
Gambar 1)
kausal yang menghubungkan lingkungan dengan perilaku. Model ini (bandura, 1997),
penting untuk ditelaah bagaimana seorang individu mempersepsi atau
menginterpretasikan sebuah kejadian atau situasi tertentu (Hubungan kausal 1).
Informasi ini dapat diperoleh melalui self-report. Langkah kedua melibatkan mengases
bagaimana persepsi ini mempengaruhi, memotivasi, dan mengarahkan perilaku individu
(Hubungan kausal 2). (lihat Gambar 1)
Diadaptasi dari Kim (1999)
Gambar 1.Model Transaksional
Untuk memahami seseorang, perlu untuk mengetahui masa lalunya. Seseorang
yang mengalami amnesia (artinya tanpa masa lalu) tidak dapat memiliki pemahaman
tentang identitas pribadinya. Seseorang tanpa masa depan (misalnya dihukum penjara
seumur hidup) akan mengalami kesulitan untuk hidup di masa kini. Untuk memahami
seseorang, kita perlu tahu masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depannya. Serupa
dengan itu, untuk memahami suatu budaya, kita perlu memahami sejarahnya, dan
aspirasi masa kini dan masa depan warga nya (lihat gambar 2).
Refleksi
Kreativitas
Masa Lalu
Masa Kini
Masa Depan
Bekas Realitas Kemungkinan
Memori Keterampilan
Gambar 2. Perubahan Kultural
Agen
Tujuan
Intensi
Keyakinan
Self-report
Lingkungan
Kejadian
Situasi
Dapat diobservasi
Perilaku
Tindakan
Kinerja
Dapat diobservasi
Hub.
Kausal
Hub.
Kausal
1 2
1 2
Diadaptasi dari Kim (1999)
Gambar 1.Model Transaksional
169Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
Untuk memahami seseorang, perlu untuk mengetahui masa
lalunya. Seseorang yang mengalami amnesia (artinya tanpa masa
lalu) tidak dapat memiliki pemahaman tentang identitas pribadinya.
Seseorang tanpa masa depan (misalnya dihukum penjara seumur
hidup) akan mengalami kesulitan untuk hidup di masa kini. Untuk
memahami seseorang, kita perlu tahu masa lalu, masa kini, dan
aspirasi masa depannya. Serupa dengan itu, untuk memahami
suatu budaya, kita perlu memahami sejarahnya, dan aspirasi masa
kini dan masa depan warga nya (lihat gambar 2).
kausal yang menghubungkan lingkungan dengan perilaku. Model ini (bandura, 1997),
penting untuk ditelaah bagaimana seorang individu mempersepsi atau
menginterpretasikan sebuah kejadian atau situasi tertentu (Hubungan kausal 1).
Informasi ini dapat diperoleh melalui self-report. Langkah kedua melibatkan mengases
bagaimana persepsi ini mempengaruhi, memotivasi, dan mengarahkan perilaku individu
(Hubungan kausal 2). (lihat Gambar 1)
Diadaptasi dari Kim (1999)
Gambar 1.Model Transaksional
Untuk memahami seseorang, perlu untuk mengetahui masa lalunya. Seseorang
yang mengalami amnesia (artinya tanpa masa lalu) tidak dapat memiliki pemahaman
tentang identitas pribadinya. Seseorang tanpa masa depan (misalnya dihukum penjara
seumur hidup) akan mengalami kesulitan untuk hidup di masa kini. Untuk memahami
seseorang, kita perlu tahu masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depannya. Serupa
dengan itu, untuk memahami suatu bud ya, kita perlu memahami sejarahnya, dan
aspirasi masa kini an masa depan warga nya (lihat g ar 2).
Refleksi
Kreativitas
Masa Lalu
Masa Kini
Masa Depan
Bekas Realitas Kemungkinan
Memori Keterampilan
Gambar 2. Perubahan Kultural
Agen
Tujuan
Intensi
Keyakinan
Self-report
Lingkungan
Kejadian
Situasi
Dapat diobservasi
Perilaku
Tindakan
Kinerja
Dapat diobservasi
Hub.
Kausal
Hub.
Kausal
1 2
1 2
Gambar 2. Perubahan Kultural
Budaya yang telah dibangun bagi dirinya bisa memiliki makna
yang berbeda bagi anak-anak mereka. Jika budaya yang diciptakan
oleh dan untuk orang dewasa diterapkan pada anakanak mereka,
maka budaya itu dapat dipersepsi sebagai penjara. Jika budaya
yang telah diciptakan orang dewasa tidak kompatibel dengan
aspirasi anak-anak mereka, maka anak-anak mereka mungkin
akan memodifikasi budaya itu. Konflikkonflik generasional (Kim
et al, 2000) muncul sebab orang dewasa menggunakan masa lalu
untuk memahami masa kini dan menggunakan masa lalu untuk
membentuk masa depan. Di lain pihak remaja tidak memiliki masa
lalu yang sama dengan orang tuanya, oleh sebab generasi yang lebih
muda tidak terikat pada masa lalu, mereka dapat mengeksplorasi
masa deppan dengan lebih bebas dan lebih kreatif.
170
Parenting dari etnis atau Perspektif budaya
Sebagai agen sosialisasi primer (Hughes, 2003), orang tua
memainkan peran penting dalam perkembangan anak identitas
mereka melalui sosialisasi ras. Pada pemeriksaan Afrika Amerika,
Dominika, dan Puerto Rico, Hughes (2003) menemukan bahwa
ketiga kelompok ras lebih cenderung untuk membahas unsur-
unsur budaya dari masalah ras bias dalam setiap tahun tertentu.
perbedaan muncul saat Dominikan dan Puerto Rico diidentifikasi
dengan identitas etnis mereka lebih kuat dari Afrika Amerika
meskipun allgroups merasa sama-sama kuat tentang bersosialisasi
anak mereka ke dalam budaya mereka. Lintas-budaya perbandingan
sikap orang tua telah menemukan perbedaan sikap orang tua oleh
etnis. Beberapa penelitian menunjukkan (Jambunathan, Burts, &
Pierce, 2000) bahwa lebih Amerika dan Asia Afrika Amerika ibu
dapat mendukung hukuman fisik dibandingkan dengan kelompok
etnis lain.
Studi lain menemukan (Kotchick & Forehand, 2002) bahwa
Cina tua lebih fokus pada pengendalian dan prestasi dari putih
tua. saat pelatihan anakanak (Schulze, Harwood, Schoelmerich,
& Leyendecker, 2002) untuk tugas-tugas perkembangan universal
seperti toilet training, ibu kulit putih lebih cenderung untuk
menggunakan childcentered Pendekatan dengan membiarkan anak
mengeksplorasi, sedangkan ibu Puerto Rico lebih cenderung
menggunakan pendekatan orang tua-dipandu, di mana ibu berhati-
hati terhadap struktur pengalaman belajar.
Penelitian tentang efektivitas diri orang tua (Coleman &
Karraker, 1998), persepsi efektivitas mereka dalam mereka peran
telah orang tua juga menunjukkan perbedaan dengan etnis.
Misalnya, dalam literatur Ulasan oleh Coleman dan Karraker (1998),
studi lain telah menemukan hubungan antara orang tua rendah
selfefficacy dan pendapatan rendah di Amerika Afrika ekonomi
171Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
menekanka dan keluarga kulit putih. Dalam keluarga kulit putih,
hal ini Temuan itu juga terkait dengan depresi.
Character Building
Pengertian Karakter
Akar kata “karakter” dapat dilacak dari kata Latin “kharakter”,
“kharassein”, dan “kharax”, yang maknanya “tools for marking”, “to
engrave”, dan “pointed stake”. Kata ini mulai banyak dipakai
(kembali) dalam bahasa Prancis “caractere” pada abad ke-14 dan
kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi “character”,
sebelum akhirnya menjadi bahasa Indonesia “karakter”. Dalam
Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak;
sifatsifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang daripada yang lain.
Karakter dalam bahasa Yunani (T. Musfiroh: 2008) berarti
“to mark” atau menandai atau memfokuskan bagaimana meng-
aplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah
laku. Karakter mengacu pada sikap (attitudes), perilaku (behaviors),
motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Pengertian Karakter
disampaikan oleh berbagai ahli. Imam al-Ghazali menjelaskan
bahwa karakter merupakan sifat yang tertanam di dalam jiwa dan
dengan sifat itu seseorang secara spontan dapat dengan mudah
memancarkan sikap, tindakan dan perbuatan. Karakter (Sumarno
S.) yaitu sifat yang mewujud dalam kemampuan daya dorong dari
dalam dan keluar untuk seseorang menampilkan perilaku terpuji
dan mengandung kebajikan.
Menurut dimensi Islam (Hamzah Ya’qub, 1988: 11), karakter
yaitu akhlak (al-akhlaq) jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti,
perilaku, tingkah laku, atau tabiat. Sinonim dari kata akhlak ini
yaitu etika, moral dan karakter.
172
Melalui Hadits (HR. Ahmad), Rosulullah SAW bersabda
“Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.
“Akhlak” yang dimiliki oleh nabi Muhammad Saw. Maupun para
nabi dan rasul yang lain yaitu : Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah,
Ma’shum. Seperti juga dalam al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 21), “Sebaik-
baik kamu yaitu yang paling baik akhlaknya: Seseungguhnya telah
ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Menurut Jakoep Ezra, MBA, CBA, seorang ahli Character,
“Karakter yaitu kekuatan untuk bertahan dimasa sulit”. Tentu saja
yang dimaksud yaitu karakter yang baik, solid, dan sudah teruji.
Karakter yang baik diketahui melalui “respon” yang benar saat
kita mengalami tekanan, tantangan & kesulitan.
Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun
karakter (character building) yaitu proses mengukir atau memahat
jiwa sedemikian rupa, sehingga “berbentuk” unik, menarik, dan
berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Ibarat sebuah
huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan
yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat
dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/
belum berkarakter atau “berkarakter” tercela).
Tentang proses pembentukkan karakter ini dapat disebutkan
sebuah nama besar: Helen Keller (1880-1968). Wanita luar biasa ini
–ia menjadi buta dan tuli di usia 19 bulan, namun berkat bantuan
keluarganya dan bimbingan Annie Sullivan (yang juga buta dan
setelah melewati serangkaian operasi akhirnya dapat melihat secara
terbatas) kemudian menjadi manusia buta-tuli pertama yang lulus
cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904– pernah berkata,
“Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience
of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition
inspired, and success achieved.”
173Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
Kalimat itu boleh jadi merangkum sejarah hidupnya yang
sangat inspirasional. Lewat perjuangan panjang dan ketekunan
yang sulit dicari tandingannya, ia kemudian menjadi salah seorang
pahlawan besar dalam sejarah Amerika yang mendapatkan
berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional atas
prestasi dan pengabdiannya (lihat homepage www.hki.org). Helen
Keller yaitu model manusia berkarakter (terpuji). Dan sejarah
hidupnya mendemonstrasikan bagaimana proses membangun
karakter itu memerlukan disiplin tinggi sebab tidak pernah
mudah dan sesaat atau instan. Diperlukan refleksi (Andrias, 2006)
mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral)
dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis,
refleksi, dan praktik. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat
semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau
tabiat seseorang.
Apakah faktor genetik ini memiliki pengaruh yang dominan
membentuk karakter anak , dan bagaimana pula hubungan dengan
kebebasan manusia (ikhtiar) dalam membangun karakternya? Cattel
berkeyakinan, satu pertiga perubahan kepribadian dipengaruhi oleh
faktor genetik dan dua pertiga yang lain dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Namun E. Fromm tidak menyakini bahwa karakter
akan statis dimasa usia lima tahun, dan kenyataan selanjutnya bahwa
karakter manusia bisa mengalami perubahan. Namun kita katakan
bahwa faktor genetik bukanlah sebuah faktor yang menghalangi
pengaruh pendidikan.
Oleh sebab nya, kita tidak melihat dan tidak pula mendengar
seorang ibu melarang anaknya untuk mendapatkan pendidikan
atau pengajaran, dia akan mempermasalahkan terhadap apa yang
diinginkan anaknya atas keberhasilan, bahwasannya pasti tidak akan
tercapai, disebab kan ia beranggapan bahwa si anak telah terwarisi
sifat dan akhlaknya. Jadi, selain faktor genetik sebagai faktor yang
berpengaruh, juga terdapat faktor lainnya yang sangat bekerja aktif
174
pada diri manusia, diantara yang terpenting yaitu : pendidikan,
kondisi keluarga, warga , ekonomi, budaya, makanan, udara,
iklim dan sebagainya. Dari faktor-faktor ini (Abu, 2007) dapat
disingkat dengan sebuah kata, yaitu: lingkungan.
Dimensi Psikologis dan Perkembangan Anak Pan-
dangan Perspektif Sejarah dan Masa Anak-anak (Dulu
dan Kini)
Masa anak-anak yaitu masa yang unik sehingga sulit untuk
kita bayangkan bahwa masa ini tidak selalu dianggap
berbeda dengan masa dewasa. Pada abad Pertengahan di Eropa,
hukum biasanya tidak membedakan kriminalitas anak-anak dan
kriminalitas dewasa. Mereka diperlakukan sebagai miniatur orang
dewasa.
Sepanjang sejarah, pada filosofi telah melakukan spekulasi
mendalam tentang karakteristik anak-anak dan bagaimana mereka
seharusnya dibesarkan. Bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi kuno
memiliki pandangan yang kaya tentang perkembangan anak.
Lebih kini dalam sejarah Eropa, tiga pandangan filosofis yang
berpengaruh menggambarkan anak-anak dalam istilah dosa asal,
tabula rasa, dan kebaikan alami (bawaan):
a. Menurut pandangan dosa asal (original sin view), yang
secara khusus muncul selama Abad Pertengahan, anak-anak
dipandang lahir ke dunia ini sebgai makhluk jahat. Tujuan dari
merawat anak yaitu memberikan penyelamatan, mengahpus
dosa dari kehidupan si Anak.
b. Mendekati akhir abad ke-17, pandangan tabula rasa dicetuskan
oleh ahli filosofi Inggris John Locke. Ia membantah bahwa
anak-anak tidak buruk sejak lahir, melainkan seperti “papan
kosong”. Locke percaya bahwa pengalaman masa anakanak
sangat menentukan karakteristik seseorang saat dewasa
175Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
ia menyarankan para orang tua untuk menghabiskan waktu
bersama anak-anak mereka dan membantu menjadi anggota
warga yang berguna.
c. Pada abad ke-18, pandangan kebaikan alami (innate goodness
view) ditawarkan oleh ahli filosofi Prancis kelahiran Swiss
JeanJacques Rousseau. Ia menekankan bahwa anakanak pada
dasarnya baik. sebab anak-anak pada dasarnya baik, kata
Rousseau, mereka seharusnya diizinkan tumbuh secara alami,
dengan seminimal mungkin pengawsan dan batasan dari rang
tua.
Saat ini pandangan Barat mengenai anak-anak menyatakan
bahwa masa anakanak merupakan masa yang unik dan sangat
hidup, yang meletakkan dasar penting bagi tahuntahun dewasa
dan jelas berbeda dari tahuntahun dewasa ini . Pendekatan
terkini mengenai masa anakanak mengidentifikasikan periode yang
berbeda di mana anak menguasai keterampilan dan tugas tertentu
yang menyiapkan mereka memasuki kedewasaan. Masa anakanak
tidak lagi dilihat sebagai periode menunggu yang tidak nyaman di
mana orang dewasa harus bertoleransi terhadap kebodohan anak
anak.
Era modern (Cairns, 1983, 2006) dalam mempelajari anak
dimulai dengan munculnya beberapa perkembangan penting di
akhir tahun 1800-an. Sejak itu studi perkembangan anak (Lerner,
2002, 2006; Thomas, 2005) berubah menjadi ilmu yang berkelas,
dengan teori-teori utama dan teknik serta metode studi yang elegan,
membantu menyusun pemikiran kita tentang perekmbangan
anak. Era baru ini dimulai selama 25 tahun terakhir abad ke-19,
saat perubahan penting terjadi – dari pendekatan filosofis yang
pasti terhadap psikologi manusia ke pendekatan yang melibatkan
eksperimen dan pengamatan sistematis.
176
Studi langsung terhadap anak dan aliran informasi mengenai
anak tidak pernah melambat sejak saat ini. Teori evolusioner
dikembangkan oleh Gesell. Pandangannya yang amat provokatif
terhadap perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh teori
evolusi Charles Darwin. Gesell menyatakan bahwa karakteristik
anak tertentu pada dasarnya “berkembang” sejalan dengan umur
sebab adanya cetak biru biologis dan kematangan. Penganut teori
evolusioner lainnya yaitu G. Stanley Hall (1904) menyatakan
bahwa perkembangan anak mengikuti jalan evolusi yang alami
yang dapat diungkapkan dengan studi anak. Ia membuat teori
bahwa perkembangan anak melalui tahapantahapan, dengan motif
dan kemampuan yang berbeda di tiap tahap.
Tahapan juga merupakan ciri dari gambaran Sigmund Freud
mengenai perkembangan anak. Menurut teori Psikoanalisis Freud,
anak jarang menyadari motif dan alasan dari perilaku mereka dan
sebagian besar dari kehidupan mental mereka tidak disadari. Ide
Freud sejalan dengan ide Hall, menekankan pengaruh konflik dan
biologis terhadap perkembangan, meskipun Freud menekankan
bahwa pengalaman seorang anak dengan orang tuanya selama 5
tahun pertama kehidupan merupakan penentu yang penting bagi
perkembangan kepribadian lebih lanjut. Freud membayangkan
anak berjalan melalui serangkaian tahap, penuh dengan konflik
antara dorongan biologis dan tuntutan sosial. Sejak awal abad ke20,
teori Freud telah memiliki pengaruh dalam studi perkembangan
kepribadian dan sosialisasi anak.
Pandangan lain bersaing dengan teori Behaviorisme John
Watson (1928) menyatakan bahwa anak dapat dibentuk menjadi apa
pun yang diinginkan warga dengan meneliti dan mengubah
lingkungannya. Ia sangat percaya pada pengamatan perilaku anak
yang sistematis di bawah kondisi yang terkontrol. Watson juga
memiliki pandangan provokatif tentang cara membesarkan anak.
177Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
Ia menyatakan bahwa orang tua terlalu lembut pada anakanak.
Berhentilah terlalu sering memeluk dan tersenyum pada bayi,
katanya pada para orang tua. saat Watson sedang mengamati
pengaruh lingkungan pada perilaku anak dan Freud sedang
menggali kedalaman pikiran tidak sadar untuk menemukan tanda
mengenai pengalaman awal kita dengan orang tua kita, yang lain
lebih peduli pada perkembangan pikiran sadar anak – yaitu, pikiran-
pikiran saat anak dalam keadaan sadar. James Mark Baldwin
(Cairns, 1998, 2006) merupakan pelopor dalam studi pikiran anak.
James Mark Baldwin memberikan istilah “Epistemologi genetik” pada
studi mengenai bagaimana pengetahuan anak berubah sepanjang
jalan perkembangan mereka. Istilah genetik pada saat itu yaitu
sinonim untuk “perkembangan,” dan istilah epistemologi berarti
“asal-usul studi tentang pengetahuan”.
Ide Baldwin pertama kali ditawarkan pada tahun 1800an.
Kemudian pada abad ke20, Psikolog Swiss Jean Piaget menggunakan
dan menjelajahi banyak buah pikiran Baldwin, secara antusias
mengamati perkembangan anak-anaknya sendiri dan menciptakan
eksperimen yang pintar untuk meneliti bagaimana anak berpikir.
Piaget menjadi tokoh besar dalam psikologi perkembangan.
Menurut Piaget, anak berpikir dengan cara yang berbeda secara
kualitatif dengan orang dewasa.
Perkembangan Anak, konteks Sosial-Budaya: Budaya,
Etnis, dan Status Sosial-Ekonomi
Sekolah dan keluarga hanyalah dua konteks penting
perkembangan. Sebuah konteks (Matsumoto, 2004; Secada, 2005)
yaitu sebuah latar belakang, dan setiap perkembangan anak terjadi
dalam latar belakang yang beragam-termasuk rumah, sekolah,
kelompok teman sebaya, peribadatan, lingkungan tempat tinggal,
warga , kota dan negara. Tiap latar belakang ini dipengaruhi
178
oleh faktor sejarah, sosial, dan ekonomi. Masing-masing dapat
mencerminkan pengaruh budaya, etnis, dan status sosial-ekonomi.
Budaya atau “culture” (Cole, 2005, 2006; Shweder dkk, 2006)
mencakup pola perilaku, kepercayaan, dan produk lain dari
sekelompok khusus orang yang diturunkan dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Produk ini dihasilkan dari interaksi
anatara kelompok-kelompok orang dan lingkungan mereka selama
bertahun-tahun. Suatu kelompok budaya dapat sebesar negara
Amerika atau sekecil negara Itali yang etrisolasi. Berapa pun
besarnya, budaya kelompok ini mempengaruhi identitas,
pembelajaran, dan perilaku sosial para anggotanya.
Etnis (Ethnicity) berarti karakteristik yang berakar pada
warisan budaya, termasuk kebangsaan, ras, agama, dan bahasa.
(Kata etnis berasal dari kata dalam bahasa Yunani untuk “bangsa.”)
Etnis (Phinney, 2003; UmanaTylor & Fine, 2004) penting untuk
perkembangan suatu “identitas etnis” , yakni makna keanggotaan
dalam suatu kelompok etnis, berdasar bahasa yang dipakai
bersama, agama, adat, nilai-nilai, sejarah dan ras. Identitas etnis
mencerminkan keputusan sadar untuk mengidentifikasikan diri
dengan kelompok nenek moyang.
Ras dan etnis kadang membingungkan. Ras (Corsini, 1999)
merupakan pengelompokam manusia secara kontroversial
berdasar karakteristik biologis yang nyata maupun tidak nyata
seperti warna kulit dan golongan darah. Etnis (Chun, Organista,
& Marin, 2003) seseorang dapat mencakup rasnya juga banyak
karakteristik lain. Setiap kelompok etnis (Banks, 2006; Pang, 2005)
tentu saja memiliki keanekaragamannya sendiri. saat menjelaskan
mengenai anak-anak dari kelompok-kelompok etnis yang harus
diingat yaitu tiap kelompok bersifat heterogen.
Di sisi lain (Leyendecker dkk, 2005), menurut sejarah, imigran
dan kelompok etnis non-kulit putih setidaknya memiliki setidak-
nya satu ciri yang sama: mereka menemukan diri mereka berada di
179Anak-anak Suku Tengger ~ Nurul
urutan terbawah dari pengelompokan sosial. Kelompok ini
diwakili secara tidak proporsional oleh kaum miskin dan kurang
berpendidikan. Anggota etnis minoritas cenderung memilliki status
sosial-ekonomi yang rendah.
Status sosial-ekonomi (socioeconomi status-SES) merupakan
pengelompokan manusia dengan karakteristik pekerjaan, pen-
didikan, dan ekonomi yang sama. Status sosial-ekonomi menyiratkan
ketidak adilan tertentu. Secara umum, anggota warga memiliki
(1) pekerjaand negan bermacam-macam gengsi, dan beberapa orang
me miliki akses lebih dibandingkan yang lain terhadap pekerjaan
yang statusnya lebih tinggi; (2) tingkat pencapaian pendidikan yang
berbeda, dan beberapa orang memiliki akses lebih dibandingkan
yang lain terhadap pendidikan tinggi; (3) sumber daya ekonomi
yang berbeda; dan (4) tingkat kekuasaan yang berbeda untuk
mem pengaruhi lembaga-lembaga warga . Perbedaan dalam
ke mampuan mengontrol sumber daya dan untuk berpartisipasi
dalam mendapatkan reward sosial ini memberikan peluang yang
tidak seimbang bagi anak.
Fakta (Banks, 2006; Cushner, 2006; Diaz, Pelletier, & Provenzo,
2006; Sheets, 2005) bahwa banyak individu minoritas berada di
urutan terbawah tingkat sosialekonomi memberikan prioritas
pada lembaga-lembaga sosial. Sekolah, pelayanan sosial, sarana
kesehatan fisik dan mental, dan program lain perlu memberikan
pelayanan yang lebih baik pada etnis minoritas (Koppelman, 2005).
Beberapa efek yang ebrbahaya dari kemiskinan pada anak terjadi
sebab kemiskinan ini berefek pada kehidupan anak di rumah.
Di sisi lain, sebab sangat banyak kelompok etnis minoritas yang
miskin.
180
181Tradisi Upacara Adat Jamasan ~ Sariyati
traDiSi upacara aDat
JamaSaN puSaka
Sariyati Idni Ridho
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Malang
e-mail: sariyatiidzniridho999@yahoo.com
Mukadimah
Indonesia terkenal dengan semboyannya yakni, Bhineka Tunggal
Ika yang berarti “Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua”, yang mana
di Negara Indonesia terdapat banyak suku dengan kebudayaan dan
adat istiadat yang berbeda-beda. Kebudayaan ini menjadi ciri
khas dari setiap suku yang ada di Indonesia dan sudah menjadi tradisi
turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang terdahulu.
Adapun kebudayaan itu sendiri dimaknai sebagai keseluruhan
dari hasil manusia berwarga yang berisi tindakan-tindakan
terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota warga
yang meliputi kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat-kebiasaan, dan kepandaian lainnya (Tylor, 1924).
Di Jawa Timur saja misalnya, setiap kabupaten, kecamatan,
ataupun desa memiliki kebudayaan masing-masing yang unik di
mana kebudayaan ini menjadi symbol atau pun kebanggaan
tersendiri bagi warga sekitarnya. Tulisan ini tidak akan
182
mengulas kebudayaan daerah Jawa Timur secara keseluruhan
namun akan mengulas salah satu kebudayaan yang ada di kabupaten
Nganjuk yakni Upacara Adat Jamasan Pusaka.
Kajian Teoritik
Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata Sanskerta “Buddhayah” yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau
“akal”. Jadi kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan
dengan budi dan akal”. Sedang istilah cultur sama artinya dengan
kebudayaan, yaitu berasal dari kata Latin colere yang berarti
mengolah atau mengerjakan –tanah- (Koentjaraningrat, 1990).
Kebudayaan (cultur) merupakan suatu komponen penting dalam
kehidupan warga , khususnya struktur sosial. Kebudayaan
dapat juga diartikan sebagai suatu cara hidup (ways of life) (Shadily,
1993).
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan
kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta warga . Rasa
dan cipta dapat juga disebut sebagai kebudayaan rohaniah (spiritual
atau immaterial culture). Kebudayaan dari segi material mengandung
karya, yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan benda-benda
atau perbuatan manusia yang berwujud materi. Sedang dari segi
spiritual, mengandung cipta yang menghasilkan ilmu pengetahuan.
Mengapa setiap manusia yang hidup dalam warga memiliki
kebudayaan? hal itu terjadi sebab kebudayaan merupakan sarana
bagi manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.
Roucek dan Warren (Syani, 2007) mengatakan bahwa
kebudayaan bukan hanya seni dalam hidup, tetapi juga benda-benda
yang terdapat di sekeliling manusia yang dibuat oleh manusia.
Selain itu kebudayaan juga berfungsi mengatur manusia agar
dapat memahami bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku,
183Tradisi Upacara Adat Jamasan ~ Sariyati
berbuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam warga .
Kebudayaan dapat dipandang sebagai suatu kumpulan pola-
pola tingkah laku manusia yang bersandar pada daya cipta dan
keyakinannya untuk keperluan hidup dalam warga .
Koentjaraningrat (1990) menerangkan bahwa wujud
kebudayaan itu ada tiga, yaitu:
1. Wujud ideal dari kebudayaan.
Kebudayaan di sini sifatnya abstrak dan tidak dapat diraba.
Lokasinya berada di dalam alam fikiran warga warga
dimana kebudayaan warga ini hidup. Warga
warga menyatakan gagasan mereka melalui sebuah
tulisan, jadi lokasi kebudayaan ideal berada dalam karangan
atau bukubuku karya para warga warga ini .
Kemudian gagasan-gagasan ini menjadi suatu sistem,
para ahli Antropologi dan Sosiologi menyebutnya sebagai
sistem budaya (cultural system) sedangkan dalam bahasa
Indonesia menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini, sebagai
adat atau adat-istiadat (dalam bentuk jamaknya).
2. Wujud sistem sosial yaitu berupa tindakan berpola dari
manusia itu sendiri. Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas
manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul antara
satu dengan yang lainnya dari waktu ke waktu menurut pola
pola tertentu yang berdasar adat tata kelakuan.
3. Wujud ketiga yaitu kebudayaan fisik, yang mana tidak
memerlukan penjelasan lebih lanjut sebab merupakan hasil
fisik dari seluruh aktivitas, perbuatan dan semua hasil karya
manusia dalam warga yang sifatnya paling nyata dan
berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,
difoto, atau yang lainnya.
184
Ketiga wujud kebudayaan di atas saling berkaitan satu sama
lain. Kebudayaan dan adat-istiadat mengatur dan mengarahkan
tindakan ataupun karya manusia. Ide-ide, tindakan maupun karya
manusia ini menghasilkan bendabenda kebudayaan fisik
dan sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan
hidup tertentu yang semakin lama semakin menjauhkan manusia
dari lingkungan alamiahnya, sehingga mempengaruhi pola-pola
tindakan dan cara berfikir manusia itu sendiri.
Nilai-nilai sosial
Dalam suatu kebudayaan terdapat nilai-nilai dan norma-
norma sosial yang merupakan faktor pendorong bagi manusia
untuk bertingkah laku dan mencapai kepuasan tertentu dalam
kehidupan sehari-hari. Nilai merupakan patokan perilaku sosial
yang melambangkan baik-buruk, benar-salahnya suatu obyek
dalam hidup berwarga . Jadi nilai merupakan perlambangan
harapan-harapan bagi manusia dalam warga (Syani, 2007).
Menurut Huky, ada beberapa fungsi umum dari nilai-nilai
sosial, yaitu:
1. Nilai-nilai yang menyumbangkan seperangkat alat yang siap
dipakai untuk menetapkan harga sosial dari pribadi dan
kelompok.
2. Caracara berfikir dan bertingkah laku secara ideal dalam
sejumlah warga diarahkan atau dibentuk oleh nila-nilai.
3. Nilai-nilai merupakan penentu terakhir bagi manusia dalam
memenuhi peranan-peranan sosialnya.
4. Nilainilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya
mengikat tertentu.
5. Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan
anggota kelompok dan warga .
185Tradisi Upacara Adat Jamasan ~ Sariyati
Norma-norma sosial
Seperti yang sudah disebutkan di atas antara nilai dan
norma selalu berkaitan. Perbedaan secara umumnya, norma
mengandung sanksi yang relatif tegas terhadap pelanggarnya.
Shadily (1993) menyatakan bahwa normanorma sosial itu meliputi
kode-kode sosial termasuk kode-etik, kode-moral, kode-agama,
kode-kehakiman dan sebagainya. Norma-norma ini dalam
warga biasanya dinyatakan dalam bentuk kebiasaan, tata
kelakuan, dan adatistiadat atau hukum adat. Pada awalnya norma
terbentuk secara tidak sengaja, tetapi melalui proses yang relatif
lama, kemudian tumbuhlah berbagai aturan yang diakui bersama
secara sadar oleh warga warga setempat (Syani, 2007).
Alvin L. Bertrand (Koentjaraningrat, 1990) mendefinisikan norma
sebagai suatu standar-standar tingkah laku yang terdapat dalam
semua warga , norma sebagai suatu bagian dari kebudayaan
non-materi, norma-norma ini menyatakan konsepsi-konsepsi
teridealisasi dari tingkah laku. Norma dimaksudkan agar dalam
suatu warga terjadi hubungan-hubungan yang lebih teratur
antar manusia sebagaimana yang diharapkan bersama.
Sistem-sistem norma biasanya hanya sebagian individu
yang mengetahui. Hanya beberapa individu saja yang biasanya
mengetahui seluk-beluk sistem norma dalam suatu pranata atau
beberapa pranata yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Beberapa individu yang ahli mengenai sistem norma dalam
warga biasanya disebut dengan “ahli adat”. Warga warga
lainnya tidak mengetahui tentang adat, hanya sedikit warga yang
mengetahui dan kepada ahli adat warga warga meminta
nasehat ataupun tentang hal lainnya. Namun dalam warga
yang kompleks jumlah pranata semakin banyak dan jumlah norma
dari setiap pranata juga semakin banyak sehingga seorang ahli adat
dalam suatu warga sederhana tidak dapat menguasai seluruh
186
pengetahuan mengenai semua sistem norma dalam kehidupan
warga . Maka dari itu ada ahli-ahli khusus mengenai norma-
norma dalam warga ini yang biasanya disebut dengan
“ahli adat” (Koentjaraningrat, 1990).
Seorang ahli sosiologi, W.G. Sumner menggolongkan norma
menjadi dua, yakni:
1. Mores atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “adat-
istiadat”.
Norma-norma dari golongan adat-istiadat memiliki
akibat berupa “hukum”, namun tidak tepat untuk menyamakan
mores dengan “hukum” menurut konsepsi Sumner. Menurut
Sumner norma-norma yang mengatur upacara suci tertentu
juga termasuk mores sebab dalam banyak kebudayaan
norma-norma ini dianggap berat. Padahal pelanggaran-
pelanggaran terhadap norma-norma upacara suci ini
belum tentu memiliki akibat hukum. Maka dari itu kita
perlu mengetahui secara lebih jelas, apa perbedaan antara
norma-norma yang kita sebut dengan “hukum” atau “hukum
adat”.
2. Folkways atau disebut dengan “tata cara”.
Golongan kedua ini tidak mengkhususkan pada definisi
tentang hukum tetapi hanya pada hukum dalam warga
bernegara dengan suatu sistem alat-alat kekuasaan. Menurut
B. Malinowski, berdasar prinsip yang olehnya disebut the
principle of reciprocity, semua aktivitas kebudayaan berfungsi
untuk memenuhi suatu rangkaian hasrat dari manusia.
Berbagai macam aktivitas kebudayaan ini memiliki
fungsi memenuhi hasrat naluri manusia untuk secara timbal
balik member kepada, dan menerima dari sesamanya. Diantara
aktivitas-aktivitas kebudayaan yang berfungsi serupa yakni
hukum sebagai unsur kebudayaan yang universal.
187Tradisi Upacara Adat Jamasan ~ Sariyati
Diskusi
Upacara Adat Jamasan Pusaka
Bangsa Indonesia terkenal kaya akan sumber daya alamnya,
selain itu Indonesia juga kaya akan budayanya. Hal ini
dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya keberagaman suku
yang ada di Indonesia, sehingga menciptakan budaya ataupun adat-
istiadat yang bermacam-macam. Budaya itu sendiri merupakan
hasil dari keseluruhan tindakan manusia dalam berwarga ,
meliputi kemampuan manusia untuk menghasilkan benda-
benda atau perbuatan manusia yang dapat menghasilkan ilmu
pengetahuan. Setiap manusia yang hidup berwarga selalu
memiliki kebudayaan sebab kebudayaan merupakan sarana bagi
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jamasan Pusaka merupakan upacara adat desa Ngliman,
kecamatan Sawahan, kabupaten Nganjuk yang sudah menjadi
tradisi yang bersifat sakral dan adiluhung. Sebagai salah satu
budaya bangsa, keberadaan Jamasan Pusaka selalu diupayakan
kelestariannya bahkan ditingkatkan sosialisasinya serta disesuaikan
pelaksanaannya dengan perkembangan situasi serta kondisi pada
saat ini.
Jamasan Pusaka sendiri berarti mencuci atau membersihkan
pusaka (dijamas), dalam pelaksanaan upacara ini juga ditentukan
harinya, ada tiga hari pilihan dalam pelaksanaannya, yakni: jum’at
legi, jum’at wage, dan senen wage pada bulan Muharam (syuro), yang
bertempat di gedung Pusaka Desa Ngliman.
Sebelum dilaksanakan penjamasan, diadakan arak-arakan
terlebih dahulu (kirab) oleh serombongan petugas yang terdiri dari
Subha Manggala (cucuk lampah), seorang prajurit (sesepuh desa)
yang membawa dupa, putri domas, diikuti para prajurit songsong
pembawa payung untuk memayungi pusaka yang dibawa oleh
sesepuh, kemudian prajurit pembawa judang (tumpeng), pasukan
188
dengan kesenian Mungdhe, dan terakhir diikuti para prajurit. Yang
mana dari keseluruhan rombongan ini menggambarkan
prajurit kerajaan pada saat itu. Keberangkatan kirap pusaka diawali
dari makam Ki Ageng Ngliman ke utara sampai gerdon (jembatan
kecil) kemudian kembali lagi sampai akhirnya sampai ke Gedung
Pusaka, kemudian baru prosesi jamasan dimulai dengan susunan
acara sebagai berikut:
1. Pembukaan
2. Laporan pembawa pusaka
3. Penyerahan pusaka dari prajurit kepada Bupati Nganjuk
4. Laporan penerimaan pusaka
5. Persembahan Tari Bondan
6. Laporan kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kab. Nganjuk
7. Sambutan Bupati Nganjuk
8. Do’a
9. Penutup kemudian dilanjutkan prosesi Jamasan Pusaka
Prosesi Jamasan Pusaka terlebih dahulu dimulai dengan
penyerahan pusaka dari Bupati Nganjuk kepada sesepuh desa yang
akan menjamas pusaka. Kemudian dimulailah prosesi penjamasan,
sesepuh menjamas pusaka dengan menggunakan air jeruk nipis dan
buah pace (mengkudu).
Benda pusaka yang berkaitan erat dengan acara ini, di-
antaranya:
1. Kendi Pusaka
Bentuk dan besarnya tidak berbeda dengan kendi-kendi
yang kita kenal pada umumnya, terbuat dari tanah liat tingginya
kira-kira 25 cm. Kendi ini dikeluarkan satu tahun sekali saat
upacara Jamasan Pusaka dilaksanakan, sedangkan pada hari-
hari biasa kendi ini disimpan di gedung makam Kyai
Ngliman.
189Tradisi Upacara Adat Jamasan ~ Sariyati
2. Senjata Pusaka
Pusaka yang dipakai untuk upacara ini berjumlah
empat buah, masing-masing bernama Kyai Srambat, Kyai
Endel, dan Kyai Kembar berjumlah dua buah yang bentuk dan
panjangnya sama.
3. Wayang Kayu
Diantaranya Wayang Kayul, Wayang Klitik atau Wayang
Krucil, jumlahnya ada tiga, yakni: Eyang Bondan, Eyang Joko
Truno, dan Eyang Betik.
Selain benda-benda pusaka yang disebutkan di atas masih ada
perlengkapan lain, misalnya: kembang setaman, warangan, minyak
wangi (cendana), blandongan (tempat merendam pusaka), payung
agung berjumlah lima buah, dan padupan untuk membakar dupa.
Setelah prosesi penjamasan selesai sebagai penutup diadakan
selametan (syukuran) bersama di Gedung Pusaka yang diikuti oleh
segenap warga warga dan para undangan yang hadir. Sedang
pada malam harinya diadakan tasyakuran dan pagelaran wayang
kulit semalam suntuk. Dan dalam kenyataannya upacara ini
didukung dengan lingkungan alam yang indah, udara pegunungan
yang sejuk, warga yang ramah lingkungan serta ramah di
dalam tata pergaulan berwarga .
Kebudayaan memiliki beberapa wujud, diantaranya yang
pertama yakni kebudayaan ideal yang bersifat abstrak (tidak
dapat diraba). Kebudayaan ini dinyatakan dalam beberapa
gagasan yang dituangkan dalam suatu tulisan kemudian gagasan
ini menjadi sebuah sistem, yang mana para ahli antropologi
menyebutnya sebagai sistem budaya atau pun adat-istiadat, seperti
kebudayaan suatu daerah misalnya saja upacara adat Jamasan
Pusaka dari kabupaten Nganjuk yang telah menjadi adat-istiadat
atau budaya daerah setempat.
190
Wujud keduanya yakni sistem sosial yang merupakan tindakan
berpola dari manusia berdasar tata kelakuan yang bersifat
nyata dan terjadi di sekeliling kita, dapat diobservasi, difoto dan
didokumentasikan, seperti halnya Upacara Adat Jamasan Pusaka
dari Nganjuk yang dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali
pada bulan muharram (syuro), pelaksanaannya dapat diobservasi
ataupun didokumentasikan.
Wujud ketiganya yakni kebudayaan fisik yang merupakan
hasil dari aktivitas-aktivitas manusia yang bersifat nyata dan
berupa benda-benda atau hal-hal lain yang dapat dilihat, diraba
dan sebagainya. Begitu juga Upacara Adat Jamasan Pusaka dari
Nganjuk yang merupakan hasil karya ataupun aktivitas-aktivitas
nenek moyang terdahulu bersifat nyata dan tetap dipertahankan
kelestariannya hingga sekarang.
Sebuah kebudayaan daerah, misalnya dalam upacara adat
jamasan pusaka juga mengandung norma-norma sosial sebagai
aturan bagi warga warga setempat dalam pelaksanaan
upacara ini . Namun biasanya hanya sebagian saja orang yang
mengetahui tentang sistem norma ataupun asal-usul dari sistem
norma ini dan orang yang mengetahui sistem norma ini
biasanya disebut dengan ahli adat dan biasanya banyak dari warga
masyaraka yang meminta nasehat kepadanya, seperti halnya dalam
upacara adat jamasan pusaka dimana para sesepuh desa yang
mengetahui sistem norma dalam pelaksanaan upacara ini .
Norma digolongkan menjadi dua macam menurut W.G. Sumner
yakni mores (adat-istiadat) dan folkways (tata cara). Pada upacara
adat jamasan pusaka juga mengandung unsur-unsur kebudayaan itu
sendiri, diantaranya adanya bahasa sebagai sarana interaksi, ilmu
pengetahuan, adanya sistem religi dan juga kesenian.
Upacara Adat Jamasan Pusaka merupakan kebudayaan
turun-temurun dari nenek moyang yang terus dipertahankan ke-
lestariannya, meskipun sekarang teknologi sudah berkembang
191Tradisi Upacara Adat Jamasan ~ Sariyati
pesat namun para warga warga nya tetap mengupayakan ke
lestariannya dan juga bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan
Budaya sehingga upacara adat ini tidak hanya warga setempat saja
yang mengetahui tetapi diharapkan dengan adanya sosialisasi ter-
sebut juga bisa menarik minat wisatawan dan ini merupakan budaya
yang menarik untuk disaksikan dimana didukung dengan keadaan
ling kungan yang sejuk sebab berada di daerah pegunungan yang
ber dekatan dengan objek wisata air terjun sedudo dan juga dihuni
oleh warga setempat yang ramah.
Kesimpulan
Kebudayaan merupakan hasil dari keseluruhan tindakan
manusia dalam berwarga , meliputi kemampuan manusia
untuk menghasilkan benda-benda atau perbuatan manusia yang
dapat menghasilkan ilmu pengetahuan. Setiap manusia yang hidup
berwarga selalu memiliki kebudayaan sebab kebudayaan
merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, seperti halnya Upacara Adat Jamasan Pusaka yang me-
rupakan hasil karya atau tindakan dari nenek moyang terdahulu,
dimana masih tetap dipertahankan keberadaannya dan selalu
dilaksanakan setiap tahunnya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang se-
makin berkembang dalam Upacara Adat Jamasan Pusaka tetap mem-
pertahankan tradisi atau tata cara yang sama tanpa ada perubahan
dalam prosesi pelaksanaannya. Upaya untuk me lestarikannya
yaitu dengan mengadakan sosialisasi dan kerjasama dengan Dinas
Pariwisata dan Budaya Kabupaten Nganjuk.
192
193Tradisi Pemakaman Perawan ... ~ Siti
traDiSi pemakamaN
perawaN DaN perJaka
(StuDi kaSuS: DeSa paJuraNGaN
kecamataN GeNDiNG)
Siti Aisyah
Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
e-mail: dodolkucur@gmail.com
Mukadimah
Indonesia yaitu bangsa yang terkenal dengan keanekaragaman
dan keunikannya. Terdiri dari berbagai suku bangsa, yang
mendiami belasan ribu pulau. Masing-masing suku bangsa memiliki
keanekaragaman budaya tersendiri. Di setiap budaya ini
terdapat nilai-nilai sosial dan seni yang tinggi (pengaruh budaya
asing terhadap bangsa indonesia, 2010). hal itu menunjukkan bahwa
kebudayaan sangat berperan penting untuk suatu bangsa, daerah,
dan tempat.
Menurut Meinarno, Widianto dan Halinda (2011) Kebudayaan
merupakan salah satu unsur yang dimilikin oleh suatu warga ,
misalnya suku-suku bangsa di Indonesia yang memiliki kebudayaan
sendiri yang berbeda dengan suku-suku bangsa lain. Melalui
kebudayaan ini , dapat terlihat ciri khas tiap-tiap bangsa.
Seperti halnya Di daerah Probolinggo Desa Pajurangan tepatnya
dusun Sekolahan pernah terdapat sebuah budaya yang sangat
194
menarik dan unik dan Budaya yang berbeda dengan budaya lain
yang memberi ciri khas tersendiri pada daerah ini .
Dalam banyak budaya di dunia, kematian yaitu sesuatu
yang sakral sehingga diperlukan sebuah upacara khusus untuk
menghormati atau mengenang mereka yang mati (10 Ritual
Pemakaman Unik di Dunia, 2012). Ini menunjukkan bahwa
budaya dalam tradisi pemakaman merupakan suatu hal yang
berpengaruh dan memiliki peran dalam kebudayaan suatu daerah
untuk menunjukkan gaya dan cara daerah ini melakukan
pemakaman. Pemakaman seorang yang meninggal dengan status
Perjaka ataupun perawan memiliki kekhasan tradisi tersendiri.
Pemakaman merupakan suatu tempat penguburan, memakamkan
jenazah atau orang telah meninggal. Dikatakan pada warga
Simalungun memiliki ciri khas dalam acara ritual pemakaman
(Girsang, 2009).
Sebuah pesta besar dan menggelar berbagai upacara adat.
Sebuah pemakaman patutnya dihormati walaupun dalam keadaan
berduka (Girsang, 2009). Ritual Pemakaman Perawan dan Perjaka
merupakan suatu ritual yang lebih menonjolkan pada status
Perawan dan Perjaka Almarhum. Wacana kontroversial tentang
pendidikan muncul di Provinsi Jambi. Untuk dapat melanjutkan
pindidikan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), calon siswa
harus masih perawan dan perjaka (Januar, 2010). Ini membuktikan
bahwa perjaka dan perawan merupakan status sosial yang sangat
mempengaruhi kehidupan tiap-tiap individu. Pada pemakaman
sekalipun status sosial ini masih sangat berpengaruhi.
Kerangka Teoritik
Kebudayaan merupakan salah satu unsur yang dimilikin oleh
suatu warga , misalnya suku-suku bangsa di Indonesia yang
memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dengan suku-suku
195Tradisi Pemakaman Perawan ... ~ Siti
bangsa lain. Melalui kebudayaan ini , dapat terlihat ciri khas
tiap-tiap bangsa. (Meinarno, Widianto, Halinda, 2011). Sedangkan
menurut Brata (2007) Kata buddayah ini berasal dari kata budhi
yang berarti ‘akal’.
Manusia memiliki unsur-unsur potensi budaya, yaitu pikiran
(cipta), rasa, dan kehendak (karsa). Hasil dari ketiga potensi
budaya itulah yang kemudian dapat disebut kebudayaan (Brata,
2007). Edward B. Taylor (2012) berpendapat bahwa kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh
seseorang sebagai anggota warga .
Meinarno (2011) menyatakan bahwa Kebudayaan bukanlah
milik seorang saja, namun kebudayaan itu didapatkannya justru
melalui suatu kelompok. Melalui hal ini , manusia dapat
mengkonsep. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan memiliki
andil terhadap perkembangan kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan
tidak selalu sesuatu yang tampil, berwujud, dan indah. Segala
yang hadir disekitar manusia yaitu bagian dari kebudayaan yang
datang secara berkelanjutan.
Kebudayaan juga bukanlah sekumpulan hal yang terpisah satu
sama lainnya. Namun sebaliknya, kebudayaan merupakan satu
kesatuan dari banyak hal, termasuk sistem warga (terintegrasi).
Menurut Cuhen (1992) kebudayaan merupakan keseluruhan
tingkah-laku dan kepercayaan yang dipelajari merupakan ciri
anggota suatu warga tertentu.
Kebudayaan dan warga
Menurut Cuhen (1992) warga ialah sekelompok manusia
yang hidup bersama dalam suatu periode waktu tertentu, mendiami
suatu daerah. Pada akhirnya mulai mengatur diri mereka sendiri
menjadi suatu unit sosial yang berbeda dari kelompok-kelompok
196
lain. Anggota-anggota warga menganut suatu kebudayaan.
Kebudayaan dan warga tidak mungkin hidup terpisah satu
sama lain. Didalam sekelompok warga akan terdapat suatu
kebudayaan
Wujud Kebudayaan
Kebudayaan tidak dapat dilihat atau dipegang sebab berada
di dalam pikiran abstrak. Akan tetapi, hasil kebudayaan itu dapat
dilihat dan dideteksi (dipantau) dengan pancaindra manusia. Me-
nurut Koentjaraningrat (2009) wujud kebudayaan dapat dilihat
sebagai berikut :
1. Wujud kebudayaan yang merupakan kesatuan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan.
2. Wujud kebudayaan merupakan kesatuan aktivitas serta
tindakan berpola yang .dilakukan manusia dalam suatu
warga tertentu.
3. Wujud kebudayaan dapat dilihat melalui benda-benda hasil
karya manusia
Brata (2007) berpendapat Letak geografis yaitu sebagai
berikut:
1. Kebudayaan pusat yaitu kebudayaan yang memiliki rujukan
dan kiblat bagi mayoritas etnis.
2. Kebudayaan pinggiran berarti kebudayaan ini berada
jauh dari pusat kekuasaan. Kebudayaan pinggiran hidup di
tengah-tengah rakyat jelata.
Unsur-unsur Kebudayaan
Buku Universal Catagories of Culture memberikan penjelasan dari
Koentjaraningrat (dalam Cuhen, 1992) bahwa di dunia ini terdapat
tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. Ketujuh unsure
kebudayaan itu, yaitu sebagai berikut :
197Tradisi Pemakaman Perawan ... ~ Siti
1. Sistem religi, yang meliputi sistem kepercayaan, sistem nilai,
pandangan hidup, komunikasi keagamaan, atau upacara ke-
agamaan.
2. Sistem kewarga an dan organisasi sosial, yang mencangkup
ke kerabatan, asosiasi (perkumpulan), sistem kenegaraan, dan
sistem kesatuan hidup.
3. Sistem pengetahuan, yang meliputi pengetahuan tentang flora
dan fauna, waktu, ruang, bilangan, tubuh manusia, dan peri
laku antar sesama manusia.
4. Bahasa, yang berbentuk lisan ataupun tulisan
5. Kesenian yang meliputi seni patung/pahat, relief lukis dan
gambar, seni rias, vokal, musik, bangunan, kesusastraan, atau
drama.
6. Sistem mata pencaharian hidup/sistem ekonomi, yang me liputi
ber buru, mengumpulkan makanan, bercocok tanam, peter-
nakan, perilaku, dan perdagangan.
7. Sistem teknologi, antara lain produksi, distribusi, transportasi,
per alatan komunikasi, peralatan konsumsi dalam bentuk
wadah, pakaian, perhiasan, tempat berlindung (perumahan),
atau senjata.
Sifat Kebudayaan
Walaupun setiap warga memiliki kebudayaan yang
saling berbeda satu sama lain, namun setiap kebudayaan memiliki
sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua budaya di manapun
juga. Dikemukakan oleh Cuhen (1992) Sifat hakikat kebudayaan
ini yaitu sebagai berikut:
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia,
2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya
suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya
usia generasi yang bersangkutan.
198
3. Kebudayaan diperoleh oleh manusia dan diwujudkan tingkah
laku nya.
4. Kebudayaan mencangkup aturan-aturan yang berbisikan
kewajibankewajiban, tindakantindakan yang diterima dan
ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-
tindakan yang diizinkannya.
Sedangka menurut Maryati dan Suryawati (2004) Sifatsifat
kebudayaan yaitu sebagai berikut :
1. Kebudayaan bersifat Universal, akan tetapi perwujudan
kebudayaan memiliki ciri-ciri khusus yang sesuai dengan
situasi maupun lokasinya. warga dan kebudayaan yaitu
dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini mengakibatkan
bahwa setiap warga parsi memiliki kebudayaan.
2. Kebudayaan bersifat stabil dan dinamis. Setiap kebudayaan
pasti mengalami perubahan dan perkembangan walaupun
kecil dan seringkali tidak dirasakan oleh anggota-anggotanya.
3. Kebudayaan mengisi dan menentukan jalannya kehidupan
manusia walaupun jarang disadari oleh manusia itu sendiri.
Kebudayaan merupakan atribut manusia. Namun, tidak
mungkin seseorang mengetahui dan meyakini seluruh
unsure kebuyaannya. Betapa sulitnya bagi seseorang untuk
mengetahui seluruh unsur-unsur kebudayaan yang didukung
oleh warga .
Terdapat sifat dan karekteristik kebudayaan yang dinyatakan
oleh Cuhen (1992):
1. Abstrak, yaitu kebudayaan dalam arti yang sesungguhnya.
Abstrak dalam kebudayaan merupakan sistem ide atau sistem
gagasan yang ada di dalam pikiran manusia.
2. Menuntun dan mengarahkan manusia berarti kebudayaan itu
dapat menjadi penuntun, pengarah, pedoman, dan terkadang
199Tradisi Pemakaman Perawan ... ~ Siti
menjadi alat pemaksa bagi sikap serta perilaku warga .
Dalam kehidupan, warga bersikap dan berperilaku sesuai
peratuarn yang menjadi kesepakatan bersama. Biasanya, orang
yang menyimpang dari kebudayaan warga nya akan
mendapat sanksi sosial.
3. Dimiliki oleh manusia berarti bahwa kebudayaan itu hanya
dimiliki oleh manusia. Hal ini disebabkan kajian antropologi
yaitu kajian tentang manusia dan kebudayaannya.
4. Dimiliki oleh warga berarti kebudayaan itu tidak dimiliki
secara individu (perseorang), tetapi dimiliki secara kolektif
(warga ).
5. Diwariskan berarti suatu kebudayaan dapat diwariskan dari
satu generasi kepada berikutnya. Kebudayaan diwariskan dari
generasi tua kepada generasi yang lebih muda.
6. Berubah berarti kebudayaan itu dapat berubah seiring
perjalanan waktu, pengaruh lingkungan, serta pengaruh
warga .
Faktor–faktor yang Mempengaruhi Kebudayaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebudayaan menurut
Fischer (dalam Maryati dan Suryawati, 2004) yaitu sebagai berikut
ini:
1. Faktor kisaran geografis: sesuatu corak budaya sekelompok
warga .
2. Faktor induk bangsa: Ada dua pandangan yang berbeda dari
faktor ini, pandangan barat dan pandangan timur. Pandangan
barat berpendapat bahwa perbedaan induk bangsa dari beberapa
kelompok warga memiliki pengaruh terhadap suatu
corak kebudayaan. berdasar pandangan barat, umumnya
tingkat peradaban didasarkan atas ras. Namun, pandangan
timur berpendapat bahwa peranan induk bangsa bukanlah
200
sebagai faktor yang mempengaruhi kebudayaan. Kenyataannya
dalam sejarah, budaya timur sudah lebih dulu lahir dan cukup
tinggi daripada budaya barat.
3. Faktor saling kontak antarbangsa: akibat adanya hubungan
antarbangsa ini, dapat atau tidaknya suatu bangsa mem-
pertahankan kebudayaannya tergantung dari pengaruh ke-
budayaan asing. Jika lebih kuat kebudayaan asli dapat ber tahan,
dan begitu pula sebaliknya. Namun, dalam kontak antarbangsa
ini yang banyak terjadi yaitu adanya ke seimbangan yang me-
lahirkan budaya campuran.
Fungsi-fungsi Kebudayaan
Manusia dan warga selalu menghadapi kekuatan-ke-
kuatan yang tidak selalu menguntungkan dirinya. Berikut me-
rupakan beberapa fungsi kebudayaan bagi warga menurut
Maryati dan Suryawati (2004):
1. Hasil karya Manusia melahirkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan.
2. Karsa warga yang merupakan perwujudan norma dan
nilai-nilai sosial dapat menghasilkan tata tertib dalam pergaulan
kewarga an.
3. Di dalam kebudayaan juga terdapat pola-pola perilaku (patterns
of behavior) yang merupakan cara-cara warga untuk
bertindak atau berperilaku yang sama dan harus diikuti oleh
warga ini . Kebudayaan yaitu suatu garis-garis
pokok tentang perilaku yang menetapkan peraturan-peraturan
mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang seharusnya
dilakukan apa yang dilarang, dan sebagianya.
Mekanisme Perubahan Kebudayaan
Cuhen (1992) menyatakan meskipun banyak orang yang
enggan melepaskan tradisinya, nilai-nilai, dan kebudayaan atau
201Tradisi Pemakaman Perawan ... ~ Siti
adat-istiadat mereka sehubungan dengan kebudayaan baru, namun
semua kebudayaan akan selalu mengalami perubahan penting
dalam suatu periode tertentu. Tantangan terhadap perubahan
itu sering terjadi apabila perubahan-perubahan itu ternyata
menyebabkan penyimpangan besar terhadap nilai-nilai tradisional
dan adat-istiadat.
Adapun cara-cara perubahan kebudayaan menurut Meinarno
(2011), yakni difusi, akulturasi, dan adanya penemuan-penemuan,
serta perubahan tak terduga.
Difusi, yakni peminjaman kebiasaan antar-kebudayaan.
Pertukaran informasi dan produk sudah berlangsung sejak lama,
bahkan mungkin sejak manusia ada. Difusi mungkin terjadi secara
langsung saat dua kebudayaan saling tukar sebab satu dan lain
hal. Difusi juga dapat berlangsung secara tidak langsung. Gejala
difusi dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Redfield, Linton, dan Herskovitz, (1936, dalam Kottak
2004, 2006) memberikan pendapat bahwa akulturasi merupakan
pertukaran fiturfitur kebudayaan yang terjadi mana kala sebuah
kelompok berhubungan terus-menerus langsung dari tangan
pertama. Dampak dari kontak terus-menerus ini membuka
peluang perubahan pada kedua kebudayaan. Kedua kelompok tetap
berbeda namun sebagian dari kebudayaan keduanya berubah.
Mekanisme perubahan ketiga yaitu penemuan. Penemuan
merupakan kreativitas untuk memecahkan masalah (Kottak,
2004, 2006). Globalisasi merupakan serangkaian proses yang di
dalamnya terdapat difusi dan akulturasi. Globalisasi bekerja untuk
melakuakan perubahan terhadap warga dan Negara.
Problematika Kebudayaan
Dikemukakan oleh Herimanto dan Winarto (2010) Hidup
manusia akan berinteraksi dengan manusia lain, warga ber-
hubungan dengan warga lain. Kebudayaan yang ada ikut pula
202
mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup
manusia sebagai pemilik kebudayaan.
1. Pewaris kebudayaan
Pewaris kebudayaan yaitu proses pemindahan,
penerusan, pemilikian, dan pemakaian kebudayaan dari
generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat
vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu
kepada generasi berikutnya untuk dipakai , dan selanjutnya
diteruskan kepada generasi yang akan datang.
2. Perubahan Kebudayaan
Penyebaran kebuda yaan dapat memunculkan masalah:
perubahaan akan merugikan manusia jika bersifat regress
(kemunduran) bukan progress (kemajuan)
3. Penyebaran kebudayaan
Metode
Ditinjau dari pendapat Esterberg (dalam Sugiyono, 2011) Metode
dalam penelitian ini menggunakan metode Kualitatif. Metode
kualitatif dipakai untuk untuk kepentingan yang berbeda bila
dibandingkan dengan metode kuantitatif. Sedangkan pendekatan
dalam penelitian ini menggunakan pendekatan femenologi dengan
teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara.
Obyek penelitian dalam observasi ini mencakup tiga komponen
yaitu desa Pajurangan dusun sekolahan (place), warga setempat
(actor), dan perpaduan tradisi (aktivitas). Penelitian ini menggunakan
wawancara semiterstruktur (semistructure interview) yaitu teknik
pelaksanaan wawancara lebih bebas dan tidak menggunakan
pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan
lengkap untuk pengumpulan datanya. Sehingga menemukan
permasalahan lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara
dalam penelitian ini yaitu warga Desa Pajurangan dusun sekolahan
203Tradisi Pemakaman Perawan ... ~ Siti
dan Penjaga Makam setempat diminta pendapat dan ide-ide mereka
tentang realitas tradisi yang terjadi.
Hasil
Sebuah tradisi yang menurut peneliti sangat unik. Tradisi
yang terdapat unsur mistis ini menimbulkan banyak tanda tanya.
Pemakaman yang memiliki ciri khas tersendiri, makam seorang
wanita yang meninggal dalam keadaan masih perawan atau laki
laki yang masih perjaka dan belum menikah yang nantinya makam
ini ditanami sebatang pohon tebu yang masih muda dan pohon
pisang yang masih belum memiliki jantung pisang (wawancara
Subjek II, 07 April 2012 jam 19.03).
Tradisi yang dianggap sebagai perjodoh antara si almarhumah
dengan jodohnya yang masih belum sempat bertemu sebab
takdirnya yang tidak memperijinkan. Tradisi yang dulunya di
percaya warga dapat menenangkan arwah si almarhum yang masih
perawan atau perjaka itu sehingga tidak menggagu dan meminta
jodoh terus menerus (Wawancara Subjek I, 06 April 2012 Jam
14.13).
Sejak tradisi ini mulai ada, penduduk sangat mendukung
dan semuanya melakukan tradisi ini jika ada sanak keluarga
yang meninggal dalam keadaan perawan atau perjaka dan belum
menikah. Mayoritas warga yang ada disana dahulunya
melakukan tradisi ini. Baik itu keluarga kaya, miskin, kalangan atas,
bawah,cantik, tampan ataupun jelek semuanya mengikuti tradisi ini
(wawancara III Subjek, 08 April 2012 jam 08.38 ).
Tradisi tanam pohon tebu dan pisang di pemakaman ini
dilakuakan pada saat ada seorang Wanita meninggal dalam keadaan
yang masih perawan dan belum menikah dan seorang lakilaki
yang meninggal dalam keadaan masih perjaka dan belum menikah
berapa pun usianya dan siapapun dia (wawancara Subjek III, 08
204
April 2012 jam 08.38). Tradisi ini terjadi dari mulai pemakaman
hingga 100 hari usia pemakamannya, yang nantinya pohon tebu
ataupun pohon pisang ini akan dicabut sebab telah dianggap
perjodohannya selesai (Wawancara Subjek III, Minggu 08 April 2012
Jam 08.30 WIB).
Tradisi ini memiliki banyak misteri, dari mulai keunikannya
hingga perjodohan antara sebatang pohon dengan makam almarhum
almarhumah yang meninggal dalam keadaan belum jodohnya
(Wawancara Subjek I, 06 April 2012 jam 14.13). Entah itu hanya
mitos, atau khayalan belak









